Ke Mana Saja Selama Ini

Halo, perkenalkan, ini saya. Kamu? Ya, kamu adalah orang yang ‘terdampar’ di posting-an kali ini, dan terpaksa membaca. Baiklah, tak apa. Bacalah sesukamu.

Halo, mau bergabung dengan saya? Ya, saya yang saat ini sedang ‘sibuk’ berpikir ‘ke mana saja saya selama ini?’ Ke mana saja saya selama ini, sampai melewatkan guru SD favorit. Sejuta alasan yang menyalahkan waktu sampai saya tak sempat mengunjungi beliau.

Gila memang! SMP tiga tahun. SMA tiga tahun. Kuliah empat tahun kurang satu bulan. Indonesia Mengajar satu tahun. Kerja di Jakarta satu tahun. Sampai Oktober 2013, kemarin sore, saya baru menyadarinya saat berkunjung ke rumah beliau.

Seperti apa ya, beliau sekarang? Tua karena usia itu pasti. Masih ingat saya, muridnya? Entahlah. Apakah ‘seheboh’ yang diceritakan Keke, bahwa beliau merindukan murid-muridnya? Beliau kangen murid-muridnya? Beliau senang dikunjungi? Bagaimana kalau beliau tidak ingat saya muridnya? Muridnya yang mengaku-aku? Aaaakkkk… Ke mana baju SD merah putih saya? Haruskah saya berkostum SD dulu?

Batin ini makin berbicara sendiri mengacau. Meracau.

Het, jangan tidur, lho!” kata Keke membuyarkan monolog batin saya yang tidak jelas selama perjalanan menuju rumah beliau.

Hehe, enggaklah”.

Benar juga, ya, kata Keke. Beberapa puluh tahun yang lalu, sebelum bangunan-bangunan di sepanjang jalan ini berdiri, beliau harus melewatinya setiap hari untuk mengajar di SD Ungaran II dengan vespa birunya. Mungkin, saat itu, sejauh mata memandang hanyalah sawah yang membentang. Salut untuk beliau.

Pukul 14.30, saya dan Keke sampai di rumah beliau. Rumahnya tampak sepi. Beberapa kali mengetuk jendela dan pintu, tak ada jawaban. Pantang menyerah juga kami. Kami menunggu. Tak terbayang rasanya kalau tak jadi bertemu beliau. Kapan lagi? Mau waktu yang mana lagi?

Teras rumah beliau

Teras rumah beliau

Untunglah ada tetangga yang membantu menelepon. Ternyata beliau sedang tidur. Tak lama kemudian, muncullah sosok beliau membuka pintu.

Bapaaaaaak..!”

Heeeeeeei ..!”

Senyuman lebar dan ramah menyambut kami. Bagi saya, beliau masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah selain, perawakan yang lebih kurus dan usia yang bertambah. Tapi tak masalah.

Menit berikutnya, kami bertiga sudah hanyut dalam cerita. Bergantian bercerita. Beliau bercerita. Saya bercerita. Keke bercerita. Walau Keke adalah murid beliau yang paling rajin berkunjung ke rumah beliau, beliau tak tampak bosan sedikitpun.

Saya tertawa saja. Puas sekali sore itu tertawa mendengar cerita-cerita beliau. Tak hanya cerita, beliau juga tak henti-hentinya memberikan nasihat, doa, harapan, … Semuanya. Pokoknya, serasa kembali lagi duduk di bangku SD, di kelas beliau yang selalu menyenangkan dan tak membosankan.

Gimana? Lagi-lagi batin saya mencoba bertanya sepulang dari rumah beliau. Lega, senang, gembira, antusias, tambah semangat. Campur aduk. Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang bisa mengunjungi beliau, ya? Padahal, bisa saja di masa pensiunnya, beliau setiap hari menantikan kedatangan murid-muridnya yang ingat padanya.

Tentang Beliau
Beliau adalah Bapak Wadzim
Mengajar di SD N Ungaran II
Ciri khas beliau adalah vespa biru
Dulu, begitu vespa birunya memasuki gerbang, kami, murid-muridnya, langsung berhamburan menyambut beliau. Heboh. Ada yang berlari di belakangnya, ada pula yang minta bonceng sampai parkiran hihi…

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: