Yang ‘Heboh’, Yang Mulai Ditinggalkan

Aku sudah mengenal dunia tata rias pengantin sejak kecil. Pengetahuan tentang tata rias pengantin tidak kudapat dari kedua orang tuaku, tetapi dari tante dan nenekku. Nenekku mempunyai salon khusus untuk kecantikan dan tata rias pengantin. Tanteku membantu nenekku sebagai asistennya. Letak salonnya di pinggir jalan raya yang ramai oleh lalu lalang kendaraan. Jadi, tidak salah jika salon nenekku selalu ramai pengunjung.

Aku besar tanpa pengasuh. Kedua orang tuaku bekerja. Jadi, sepulang sekolah, aku selalu dititipkan di salon nenekku. Bisingnya suara hair dryer, bau hair spray yang menusuk hidung, serta wanginya shampoo dan conditioner sudah tidak asing lagi bagiku. Hiburanku di sana hanya satu, warni-warni baju daerah dan aksesoris yang tergantung rapi di etalase kaca. Bentuknya yang kotak dan tembus pandang mirip akuarium, membuatku leluasa untuk memandang isinya. Ya, dalam imajinasi seorang anak kecil yang polos, aku hanya berandai-andai jika setiap hari aku bisa memakai semua baju dan perhiasan itu, pasti sudah mirip putri di negeri dongeng.

Lucunya, impian itu terwujud paling tidak sebulan dua kali di akhir pekan. Ya, dalam sebulan, aku bisa dua kali memakai baju daerah yang mini, seukuran tubuhku, dan membawa sebuah kipas. Aku sering diminta nenekku untuk menjadi ‘patah’ atau anak kecil pendamping pengantin yang diriasnya. Tugasku hanya satu, bersanding di pelaminan bersama si pengantin sambil terus mengipasinya sepanjang acara pernikahan. Pegal sih tapi aku senang bisa duduk dekat dengan pengantin perempuan yang cantik. Selain itu, kadang aku bertemu dengan pengantin yang baik hati. Dia tidak tega melihatku mengipasinya seharian, sehingga menyuruhku berhenti dan mengambil makanan yang tersedia. Coba, siapa yang tidak senang?

Hanya berawal dari duduk di sampingnya saja, aku bisa membayangkan betapa ‘hebohnya’ yang namanya pengantin, terutama pengantin perempuan. Walaupun aku hanya menjadi ‘patah’, aku juga harus bangun pagi seperti si pengantin. Bayangkan, acara pernikahan baru digelar pukul 11.00 siang, tetapi semua harus bangun dan siap dirias selepas subuh, pukul 04.00 pagi. Wow! Dalam antrian menunggu giliran dirias, aku selalu tak berkedip memandang si pengantin perempuan yang sedang dirias. Pengantin perempuan selalu mendapat giliran perdana untuk dirias, periasnya pun berbeda. Mungkin karena banyaknya aksesoris atau perhiasan yang harus dikenakan dan spesial, maka si pengantin perempuan selalu diutamakan. Dari ujung rambut yang harus disasak sedemikian rupa, sampai terakhir, dia harus mengenakan ‘selop’ yang penuh payet dan serasi dengan bajunya, aku takjub. Cantik!

Ketrampilan si perias, baju, kain adat, perhiasan logam, dan bunga-bungaan seperti mantra ajaib yang mengubah si pengantin yang semula biasa saja menjadi cantik menawan. Bahkan ada yang bilang kalau pengantin perempuan dikatakan cantik kalau dia berhasil ‘manglingi’ atau tidak dikenali seperti biasa oleh siapa saja yang melihatnya. Kalian percaya?

Aku mempercayainya. Bagiku baju, kain adat, perhiasan logam, dan bunga-bungaan yang dipakai oleh si pengantin perempuan merupakan potret mahakarya Indonesia. Setiap perempuan Indonesia terlahir cantik. Nenek moyang dan segala sesuatu yang dihasilkannya di masa lampau mewariskan seperangkat budaya pernikahan daerah yang membuat perempuan Indonesia makin cantik saat mengenakannya.

‘Hebohnya’ apa saja yang dipakai pengantin perempuan mempunyai cerita tersendiri. Disadari atau tidak, banyak ‘tangan-tangan tersembunyi’ yang ikut berperan di dalamnya. Itulah salah satu ciri khas sebuah mahakarya. Banyak yang terlibat untuk melahirkan sesutu yang agung. Tak hanya si perias, dari supir truk, penjahit, pemasang payet, sampai pemahat logam, semuanya berperan. Bayangkan, untuk mendapatkan bunga melati yang wangi dan segar saat disematkan di rambut pengantin perempuan, nenekku harus berburu di pasar pagi, saat truk-truk pengangkut sayur dan bunga dari berbagai daerah berdatangan. Baju-baju yang penuh detil payet harus dipesan dan dijahit serapi mungkin beberapa bulan sebelumnya. Kain-kain adat yang akan dipakai harus dirawat sedemikan rupa agar warna, tekstur, dan warnanya tidak rusak. Logam-logam perhiasan yang penuh ornamen dan harus tersemat di pakaian harus digosok sedemikian rupa sampai berkilau.

Sayangnya, seiring waktu berjalan, terjadi pergeseran budaya. Apa yang aku lihat saat aku kecil, tidak aku temukan lagi saat aku dewasa. ‘Hebohnya’ perhiasan yang dipakai pengantin perlahan ditinggalkan. Orang-orang lebih memilih sesuatu yang instan, tiruan, dan tidak menyusahkan. Nampaknya adat bukan lagi menjadi sebuah hal yang harus dilestarikan. Kini, orang-orang menganggap adat sebagai sebuah pilihan. Pilihan yang apabila merepotkan akan ditinggalkan dan apabila tidak merepotkan akan masih dipertimbangkan dengan sesuatu yang lebih modern agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Sedih memang, tapi ini kenyataan. Kini, siapa lagi yang akan melestarikan kalau bukan kita sendiri, sang pemilik mahakarya bangsa?

Uang yang dikalungkan pun menjadi aksesoris tambahan pengantin di Pulau Bawean

Uang yang dikalungkan pun menjadi aksesoris tambahan pengantin di Pulau Bawean

*Tulisan ini terinspirasi dari foto ‘Aksesoris, Perhiasan Pengantin’ karya Heintje Hery dan ‘Anak Daro’ karya Febri dalam ‘Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia’
*Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition ‘Apresiasi Potret Mahakarya Indonesia’ – ‘Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia’ yang diselenggarakan oleh Dji Sam Soe

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: