Tidak Ada Mimpi yang Terlambat

Setelah mendapat kabar gembira dari Bu Yundrie, perwakilan dari Indonesia Mengajar, saya langsung dihubungkan dengan Mbak Nini, perwakilan dari Indosat yang akan membantu keberangkatan saya untuk acara Global Youth Summit di Costa Rica. Surat pernyataan bahwa saya terpilih sebagai delegasi Indonesia dari Indosat pun sudah saya terima melalui email.

Walaupun demikian, saya grogi juga sebenarnya. Bayangan betapa jauhnya Costa Rica dan proses pengurusan Visa yang akan berbelit sempat menghantui saya. Maklum, ini adalah kali pertama saya pergi ke luar negeri. Sendirian pula.

Dengan paspor, saya sama sekali tidak khawatir karena memang sebelumnya saya sudah punya. Maklum, sejak mahasiswa, saya sudah ‘rajin’ mengikuti seleksi pertukaran mahasiswa atau short course program di luar negeri. Lucunya, dari sekian seleksi yang saya ikuti, belum ada satupun yang diterima. Rekor saya belum pernah ke luar negeri pun belum terpecahkan.

Beberapa kali, teman saya mengajak travelling ke Singapura atau Malaysia. Katanya, sekedar untuk ‘isi-isi’ paspor daripada hanya kosong melompong. Tetapi saya tolak dengan alasan mimpi saya bisa ke luar negeri adalah karena beasiswa, tidak membayar sendiri. Terdengar egois, ya? Hehe😀. Tetapi sekali lagi, namanya juga mimpi. Itu mimpi saya dan saya sebagai pemimpi, saya percaya saya bisa mewujudkannya.

Ulang tahun demi ulang tahun saya lalui dengan ‘ritual’ menatap paspor yang masih kosong melompong. Kapan, ya? Kapan, ya? Kapan, ya? Saya benar-benar pemimpi yang tidak sabar. Sempat putus asa juga untuk melanggar mimpi saya sendiri. Terpikir, saya iyakan saja kalau ada ajakan travelling ke luar negeri. Tapi lagi-lagi, hati kecil saya selalu protes, apakah mimpi itu hanya akan berakhir demikian? Hanya demi memecahkan rekor pernah ke luar negeri? Duh!

Ternyata mimpi saya terjawab di 30 Juli 2013. Usia saya 25 tahun, 3 bulan, 21 hari. Saya menjadi delegasi dari Indonesia. Saya mengikuti Global Youth Summit di Costa Rica. 9-11 September 2013. Indosat akan membantu semuanya. Saya hanya duduk manis, bermodal paspor yang saya buat sejak saya kuliah.

Tuhan menjawab mimpi saya.

Ternyata, tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah mimpi!

Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan selalu mendengar doa kita. Jika Tuhan belum mengabulkan apa yang kita minta sekarang, tenanglah, Tuhan hanya sedang mengurutkan babak-babak terbaik yang akan hadir dalam hidup kita … (Hety, sang Pemimpi)

1 comment
  1. Halo Ka Hety, GYS lalu kami mengikuti via online. Beberapa kali gabung di webinar dan google hangouts-nya. Senang jika bisa berjejaring dengan kaka.

    Salam,
    Pendidikan Politik Muda, Garut
    @penpolmuda_GRT

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: