Tuhan Menciptakan Anugerah, Tuhan Tidak Menciptakan Sampah

Tuhan menciptakan anugerah, Tuhan tidak menciptakan sampah. Ya, itu adalah sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa semua yang ada di dunia ini berharga, pun sampah. Sampah hadir di dunia setelah manusia melakukan kegiatan produksi dan konsumsi akan suatu sumber daya. Sayangnya, setelah mendapatkan manfaat yang besar, manusia lupa. Lupa untuk mengolah dan lupa bertanggung jawab untuk menempatkan kembali sumber daya yang sudah dipakainya ke tempat yang benar. Maka, terjadilah sampah.

Di mana sampah-sampah ini akan ditempatkan kemudian? Ya, di tempat sampah. Tapi sebelum kita menengok jauh ke luar, yuk, kita mulai dari lingkungan yang terdekat, yaitu rumah, tempat tinggal kita. Kita cek bersama! Di ruang kerja ada tempat sampah. Di kamar mandi ada tempat sampah. Di dapur ada tempat sampah. Di teras belakang ada tempat sampah. Di teras depan ada tempat sampah. Wow, ternyata banyak juga, ya, jumlah tempat sampah yang ada di rumah kita. Dalam satu rumah saja misalnya, terdapat lima tempat sampah. Bagaimana dengan satu kompleks perumahan? Bagaimana dengan satu kecamatan? Bagaimana dengan satu kelurahan? Satu kabupaten? Dan satu Jakarta? Banyak sekali, bukan? Apa yang terjadi jika tempat sampah-tempat sampah satu Jakarta berkumpul beserta isinya? Bayangkan, seberapa besar tempat sampah yang diperlukan untuk menampung semuanya? Sepertinya, tidak kurang dari satu tahun, Jakarta bisa membuat gunung sampah. Mengerikan, bukan?

Cerita di atas sebenarnya merupakan gambaran bahwa setiap manusia menghasilkan sampahnya masing-masing. Perdetik, permenit, perjam, perhari, sampah-sampah terus diproduksi tiada henti. Jenisnya pun macam-macam. Ada sampah dari sisa-sisa sayuran, kulit buah, biji buah, kertas, kain, botol, kaca, plastik pembungkus makanan dan minuman, besi yang sudah tidak terpakai, kaleng, dan sebagainya. Wow, banyak sekali bukan? Perbedaan jenis sampah ini membuat cara penanganannya pun berbeda. Sehingga, untuk mempermudah, sampah dibedakan menjadi dua, yaitu sampah organik dan sampah nonorganik.

Sampah organik adalah sampah dari sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang berasal dari alam dan dapat diuraikan secara alami. Hasil penguraiannya biasanya berupa kompos. Contoh sampah organik adalah daun kering, sisa-sisa sayuran dan buah, dan sampah dapur lainnya. Sedangkan, sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui dan biasanya berasal dari olahan industri. Sampah anorganik tidak dapat didaur ulang secara alami. Untuk mengolahnya diperlukan penanganan khusus. Contoh sampah anorganik adalah plastik, kaleng, kaca, dan sebagainya.

Dengan jenis penyusun yang berbeda, maka cara penanganannya pun berbeda. Sampah organik biasanya akan didaur ulang secara alami oleh alam melalui proses pembusukan. Proses pembusukan sampah ini akan menghasilkan kompos yang bermanfaat untuk nutrisi tanah dan tumbuhan. Nantinya, kita kenal sebagai pupuk kompos. Sedangkan, sampah nonorganik karena membutuhkan waktu yang lama untuk penghancuran, akan diolah menjadi barang-barang daur ulang atau jika didaur ulang membutuhkan teknologi yang canggih sehingga tidak mencemari lingkungan sekitarnya.

Pengetahuan tentang perbedaan jenis sampah seperti yang diungkapkan di atas sudah sering sekali diperdengarkan oleh dinas terkait di level pemerintahaan maupun aktivis dan pegiat lingkungan di level masyarakat. Bahkan, di lingkungan sekolah pun ada satu mata pelajaran yang bernama Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) untuk mengenalkan pendidikan lingkungan kepada anak sejak dini. Di beberapa daerah, PLH masuk dalam kurikulum sekolah yang akan masuk penilaian di akhir semester. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan tentang sampah sepertinya hanya berujung pada wacana dan buku semata. Belum ada aksi nyata yang berdampak signifikan terhadap pengurangan sampah.

Sebagai salah satu bukti penanganan sampah di Jakarta, saya akan berbagi cerita. Ada cerita menarik tentang penanganan sampah di daerah tempat tinggal saya. Kebetulan saya tinggal di daerah Jakarta Selatan. Di sana ada kawasan perumahan elite dan perkampungan biasa. Tempat tinggal saya termasuk dalam kawasan perkampungannya. Kedua kawasan itu dihubungkan dengan jalan yang dapat dilalui siapa saja. Tidak sekalipun portal pembatas ditutup karena akan menyulitkan para pengguna jalan lainnya. Ada satu hal menarik dari kawasan perumahan dan perkampungan yang ingin saya ceritakan menyangkut sampah.

Di kawasan perumahan, secara teratur, akan ada truk sampah yang datang dan berkeliling ke kompleks perumahan untuk mengangkut sampah. Sampah-sampah yang akan diangkut pun sudah tertata rapi dalam bungkusan plastik hitam besar yang diletakkan di depan pagar rumah. Semuanya serba terjadwal. Truk datang pada hari-hari yang sudah ditentukan, pada jam yang sama, dan sampah pun sudah siap diangkut. Pemandangan di pagi hari seperti itu selalu membuat saya terpesona. Mirip di luar negeri di mana semuanya bersih dan teratur.

Sebaliknya, di kawasan perkampungan, kita tidak akan menemui truk pengangkut sampah. Sampah-sampah yang menumpuk di depan rumah warga akan diangkut dengan gerobak sampah. Sistemnya sama. Setiap pagi, gerobak sampah yang ditarik oleh bapak pengangkut sampah akan datang ke rumah-rumah warga untuk mengangkut sampah yang sudah terkumpul di depan rumah. Untuk masalah sampah ini, tidak hanya tukang pengangkut sampah dan gerobaknya saja yang berperan. Ada pemulung yang selalu bergantian datang, tidak kalah pagi, untuk memilah botol plastik, kaca, atau sampah besi yang nantinya dapat dijual lagi sebagai sebuah komoditas.

Gerobak pengangkut sampah

gerobak pengangkut sampah

Berkeliling mencari sampah yang bisa dibawa

Berkeliling mencari sampah yang bisa dibawa

Jika kita cermati lebih dalam, walaupun cara pengangkutan sampah antara kawasan perumahan dan kawasan perkampungan berbeda, cara penanganan sampahnya tetap sama, yaitu semua sampah yang terkumpul langsung diangkut dan dikumpulkan secara massal dengan sampah-sampah lainnya. Belum ada mekanisme untuk pemilahan sampah, minimal untuk pemilahan sampah organik dan anorganik. Sepertinya, kesadaran untuk pemilahan sampah belum ada. Membuang sampah hanya diidentikkan dengan membuangnya begitu saja, lalu menciptakan sampah, dibuang lagi, dan seterusnya.

Sebenarnya, tidak hanya di lingkungan tempat tinggal saja pengetahuan tentang pemilahan sampah belum diterapkan. Di lingkungan publik atau tempat-tempat umum sekalipun, sudah disediakan tempat sampah dengan dua warna yang berbeda sebagai langkah awal untuk pemilahan sampah. Tetapi menariknya, orang-orang yang membuang sampah di tempat sampah itu terkesan tidak peduli. Mereka tetap membuang sampah tanpa melihat penggolongannya. Walaupun tidak bisa kita pungkiri, kesadaran mereka untuk membuang sampah dapat kita apresiasi sebagai langkah awal yang baik untuk menjaga kebersihan.

Tempat sampah anorganik dan organik

Tempat sampah anorganik dan organik

Bagi saya, fenomena yang saya ceritakan di atas sangat unik. Pengetahuan tentang sampah seperti pemilahan sampah menjadi sampah organik dan sampah anorganik sebenarnya sudah ada, tetapi belum diterapkan dengan baik untuk menjadi sebuah kebiasaan menjaga kebersihan. Dulu saat mengajar mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di tingkat Sekolah Dasar, saya cukup merasa bersalah juga. Dinas Pendidikan setempat sudah meramu satu buku yang lengkap berisi pengetahuan mengenai lingkungan hidup. Implementasinya, belum semua warga sekolah menerapkan perilaku hidup bersih, misalnya membuang sampah di tempatnya.

Terkait kebijakan di level pemerintahan pun, apakah dengan pengadaan tempat sampah organik dan sampah anorganik di lingkungan publik atau tempat-tempat umum sudah disertai juga dengan kebijakan pengangkutan sampah yang dibedakan juga? Karena jika sudah dipilah, tetapi saat pengumpulan sampah justru dijadikan satu, maka pemilahan sampah tidak berarti.

Terlepas dari semua itu, kebiasaan untuk menjaga kebersihan dan peduli pada sampah dapat kita mulai dari diri kita sendiri. Ya, jadikan diri kita sebagai pelopor untuk peduli pada sampah. Misalnya dengan menerapkan gerakan 3 R dalam kehidupan sehari-hari yaitu Reuse, Reduce, dan Recycle atau dalam bahasa Indonesia kita artikan sebagai ‘gunakan kembali’, ‘kurangi’, dan ‘daur ulang’. Walaupun cakupannya masih kecil, siapa sangka jika kebiasaan tersebut berhasil menular dan dilakukan oleh dua, tiga, empat, lima, bahkan semua warga Jakarta. Jakarta saya, Jakarta anda, Jakarta kita, pasti bersih. Kalau Jakarta bersih pasti akan mendatangkan anugerah kepada kita semua. Karena, sekali lagi, ya, Tuhan menciptakan anugerah, Tuhan tidak menciptakan sampah…

poster

976706_266346373503617_1426483796_o

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: