Cerita Bapak Supir

Bagi saya, pergi bersama supir kantor itu seru. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, beliau bagai kakek petualang yang kenyang pengalaman. Maklum, pengalamannya menjadi supir, bermula dari supir angkut barang industri kimia lintas pulau. Jadi, bepergian kemana saja, pasti selalu ada cerita dalam setiap perjalanannya. Kocak dan jenaka. Walaupun terkadang di akhir cerita, saya pasti ketiduran di dalam mobil.

Sabtu lalu adalah perjalanan kami dari Jakarta menuju kawasan industri di Tangerang. Ada sebuah pabrik pulpen yang harus kami survei untuk acara kantor di akhir Juni nanti. Nah, Ketika melewati pintu tol, Si Bapak Supir memilih jalur di mana beberapa mobil terlihat antri. Saya dan teman saya pun spontan bertanya, “Lho, Pak, kenapa nggak lewat GTO aja? Kan bapak punya kartunya?” Si Bapak supir pun hanya tertawa ringan. Sepertinya, pertanyaan yang kami ajukan bukan masalah besar baginya dan mulailah si Bapak bercerita tentang balada membayar tol manual dan Gardu Tol Otomatis alias GTO.

www.bumn.go.id

Bagi kita yang muda, perkembangan, inovasi, dan kemajuan itu bertujuan untuk memudahkan kehidupan manusia. Bisa jadi saat jalan tol diciptakan, yang bisa ‘terjangkau’ pada masa itu adalah membayar tol secara manual. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, jalan tol yang semula hanya satu bisa menjadi dua, tiga, empat, dan seterusnya. Cara pembayaran tol pun ikut berubah, dari yang semula membayar secara manual kepada petugas, kini beralih menjadi otomatis dengan GTO. Intinya, semua perubahan itu bertujuan untuk memudahkan manusia.

Sayangnya, tidak bagi Si Bapak supir. Beliau lebih memilih dan senang membayar tol secara manual. Padahal di laci dashboard mobilnya terselip kartu GTO.

Tahu mengapa? Walaupun GTO cepat dan minim antri, terkadang struk tolnya tidak keluar. Padahal si Bapak supir sudah melakukan tata cara GTO dengan benar. Nah, kata pak supir, GTO memang mudah dan praktis tetapi hal itu yang justru mempersulit dirinya karena beliau harus menyertakan struk di tiap perjalanan, termasuk tol, kepada bendahara kantor.

Kalau sudah begitu, tomboklah dia. Sudah terjadi berulang kali dan dia menyerah. Baginya, bayar tol manual walaupun antri tetap is the best!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: