Resign

Saya baru tahu kalau dalam dunia kerja, kita bisa mengajukan surat pengunduran diri dari kantor tempat kita bekerja. Heh? Kemana saja saya, ya? Hehe. Itulah yang ada di pikiran saya saat saya masih kecil. Bagi saya, tidak bekerja kembali itu hanya bisa didapatkan melalui tiga hal, yaitu pensiun, dipecat atau di-PHK, dan kematian orang yang bersangkutan. Mungkin karena lingkungan keluarga saya, rata-rata bekerja sebagai PNS dimana semuanya ‘tampak’ adem ayem tanpa gonjang-ganjing.

Seiring saya dewasa dan memasuki ‘hiruk-pikuk’ dunia kerja, saya mulai mengerti bahwa pendapat saya saat saya masih kecil itu terlalu naif dan polos. Saya belajar dan mulai mengerti mengenai hak dan kewajiban pekerja. Mengajukan pengunduran diri dari tempat pekerja bisa digolongkan ke dalam hak pekerja. Memberhentikan atau memecat pekerja yang sudah tidak kooperatif lagi dengan tempat bekerja juga merupakan hak sebuah kantor atau institusi tempat yang bersangkutan bekerja. Jadi, semacam kepastian dan ‘hukuman’ yang setimpal, namun terbungkus dalam kata ‘hak’.

Kebetulan, ada seorang teman yang satu departemen dengan saya di kantor mengajukan resign. Kemarin adalah hari terakhirnya. Secara teman saya itu cukup ‘heboh’ dan ‘menghibur’ di kantor, jadilah hari ini, hari pertama dia tidak ada di kantor, suasana kantor tampak ‘berbeda’, terutama ruangan saya. Ya, kami (saya dan tim) memang kehilangan. Tapi, hari ini kami berusaha untuk membiasakan diri. Ya, kami semua sepakat, ini hanya soal kebiasaan saja.

Saya jadi ingat. Seorang teman yang juga masih satu departemen dengan saya pernah bercerita bahwa dia sering melihat orang ‘datang dan pergi’. Ya, maklum saja, teman saya ini sudah hampir 7 tahun bekerja di kantor ini dan memulai semuanya dari nol. Uniknya, dia selalu menitikkan air mata saat melihat satu demi satu orang ‘pergi’ dari kantor. Ya, termasuk teman saya yang kemarin resign itu.

Semula saya tak percaya. Tapi, kemarin, dengan mata-kepala sendiri, saya menyaksikkan dia menitikkan bulir demi bulir air mata. Dia hanya menatap monitor komputer tanpa mau berpaling. Kebetulan, meja saya bersebelahan dengan mejanya. Jadi, saya bisa melihat jelas dia menangis. Saat foto perpisahan pun dia menangis. Saat semua berpose dan berkata ‘cheers…‘, dia tak kuasa membendung air matanya.

IMG_7521

Saya pun ikut mengharu biru juga walau tak sampai menitikkan air mata. Memang, tak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya berubah dan berganti. Temporal bukan permanen. Sedih sesaat boleh, berkepanjangan jangan. Merasa kehilangan boleh tapi jangan diendapkan. Karena percayalah, yang terbaik dari semua itu adalah ‘Pertunjukkannya harus tetap berjalan!’

PS.
Ini lirik lagu Sherina ‘Ku Bahagia’ yang sengaja saya tulis di farewell greeting card untuknya,
Walau makan susah, walau hidup susah, walau tuk senyum pun susah. Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan, oh kubahagia …

2 comments
  1. Bukik said:

    Saya sekali meninggalkan dan dua kali ditinggalkan
    Tapi sudah terlatih sejak jadi dosen, ketika para magangers lulus meninggalkan kampus……..sampai beberapa tahun kemudian masih bermimpi jadi satu tim lagi😀

    Like

  2. Hety A. Nurcahyarini said:

    Pake acara nangis nggak, Pak? hehe
    Rekan kerja bener-bener bisa jadi saudara.
    Saat mereka pergi, kita merasa kehilangan ..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: