Pedagang Inspirasi

Bingung karena merasa tidak ada satupun inspirasi yang singgah ke otakmu? Haruskah pergi ke tempat-tempat mewah nan mahal yang menawarkan sejuta kenyamanan agar inspirasi itu bisa datang? Jawabannya, tidak.

Bagi saya, Jakarta itu bagai kota yang menawarkan berbagai cerita. Tinggal pilih saja, mau cerita mengharu biru atau bahagia sejahtera? Semuanya ada. Cerita itu ada di sekeliling kita, warga Jakarta, tinggal kita menyadarinya atau tidak.

Di lingkungan saya, ada yang saya sebut dengan pedagang inspirasi 24 jam. Dalam satu hari, mereka tak henti-hentinya memberikan nilai moral yang menyadarkan saya, walaupun si pedagang juga berjualan apa yang mereka jual, bukan nilai moral.

Tukang Roti
Huaaaheeem! Tet Tot Teet, Roti-roti!”
Suara auman saya beradu dengan suara jingle pedagang roti di lingkungan kos. Saya pun terbangun. Dengan mata yang nyaris belum terbuka dengan benar, saya mencari jam tangan saya. Oh, jam 5 pagi! Saya tertegun sejenak, mengagumi si pedagang roti.

Ada yang bilang, “Rezeki itu akan datang ke orang yang bangun pagi“. Di saat saya yang kata majalah marketing adalah generasi dunia Y, yang aktif dan membawa perubahan, saya masih dalam kemalasan bangun pagi. Kalah telak dengan pedagang roti.

Tukang gado-gado
Makan siang di kantor adalah bagian dari tugas Office Boy (OB). Saya tinggal mengucapkan apa yang ingin saya makan siang itu. Maka, urusan pembelian makanan akan ditanggung oleh OB kantor. Saya tinggal duduk manis dan bersiap makan siang ontime jam 12 teng!

Tapi tidak kali ini. Saya ingin keluar kantor mencari makan siang sendiri sambil menghilangkan penat sesaat. Hari itu hari Jumat, jam 12 siang. Bertepatan dengan waktu ibadah solat Jumat. Betapa kagetnya saya ketika saya mampir ke pedagang gado-gado. Ditolaknya dengan halus permintaan satu bungkus gado-gado saya dengan alasan si Bapak takut terlambat solat Jumat karena sudah jam 12. Bahkan, lihat saja, stok gado-gado terlihat masih banyak. Tak ada raut ketakutan kehilangan rezeki dari wajah si Bapak.

Nyes! Saya tersentuh. “Rezeki memang takkan lari kemana bagi orang yang mau berusaha dan … ingat akan pencipta-Nya!”

Tukang Siomay
Kalau pagi hari yang saya dengar adalah jingle pedagang roti, maka malam harinya, yang terdengar adalah suara tek tak, tek tok pedagang siomay. Mulanya, saya menganggap hal ini tidak wajar. Bayangkan, pukul 10 malam, saya masih bisa mendengar si pedagang meneriakkan, “Siomay-siomay!” Di Jogja, tidak ada pedagang siomay yang masih menjajakan siomay-nya pukul 10 malam.

Saya salut. Saya yang bisa pulang kerja pukul 8 malam gara-gara lembur, masih saja sering mengeluh. Sedangkan si pedagang siomay, mau pukul berapa pun masih tetap lincah mengayuh sepeda dan menjajakan siomaynya.

Teringat kata-kata mama, Yo kuwi jenenge urip lan nyambut gawe, kabeh dilakoni. Bot, abote wong nggolek duit!” (Itu namanya hidup dan bekerja, semua dijalani. Berat-beratnya orang mencari uang).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: