Hutang Kebahagiaan

Kemarin pagi, bangun tidur, saya langsung membuka laptop Acer saya dan mulai membayar hutang! Ya, membayar hutang! Jangan heran bagaimana bisa saya melakukannya. Ceritanya, saya sudah bersedia membantu teman saya untuk mengisi kuisioner dalam rangka mengumpulkan data untuk tesisnya. Namanya juga saya, saya yang lupa dan mudah terlena. Singkat cerita, teman saya memberikan batasan waktu sampai hari Minggu. Saya pun menyanggupinya. Deg! Sekarang sudah hari Selasa. Seolah diingatkan oleh alarm manusiawi dalam hati kecil, saya terbangun tiba-tiba dan tanpa disuruh, membuka laptop, dan mulai mengisi kuisioner.

Attach file. Send.

Maaf mas, terlambat. Ini saya kirimkan. Terima kasih.”
Begitu isi singkat email yang saya kirim menyertai kuisioner dan rasa bersalah tidak menepati janji.

Fiuh, lega rasanya. Walau terlambat, saya masih ada pembenaran dalam hati, “Good job, Het! Better late than never kan?”

Saya hanya meringis. Mengiyakan pembenaran hati. Yang semula seperti beban, kini menjadi kebahagiaan. Mungkin, jika saya mengerjakannya jauh-jauh hari seperti yang sudah dijanjikan, saya akan lebih cepat merasakan kebahagiaan saya. Simple kan? Kebahagiaan karena sudah menepati janji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: