Curhat Makan Siang

Saya 25 dan belum menikah. Saya dibesarkan bertahun-tahun di lingkungan di mana perempuan juga turut ambil bagian dalam perekonomian keluarga (baca: bekerja). Mama, kakak, budhe, tante, saudara, apapun jenis pekerjaannya, semuanya bekerja. Hal itu yang kemudian mendorong pemikiran saya, bahwa kelak saya berkeluarga, saya tetap harus bekerja.

Sekali lagi, saya memang belum menikah. Jadi saya kurang paham bagaimana perasaan perempuan yang sudah menikah tetapi tidak bekerja. Di kalangan lingkar pertemanan, banyak teman perempuan saya yang akhirnya memilih untuk seperti itu setelah mereka menikah. Salah satu alasannya, si suami kerja berpindah, tidak tetap.

Sungguhpun demikian, kalau memang itu adalah sebuah pilihan yang terbaik, saya tak pernah ikut campur melarang. Toh itu kehidupan mereka, bukan kehidupan saya.

Satu hal yang bagi saya kurang berkenan, adalah ketika si suami (si laki-laki) menceritakan dengan bangganya bahwa betapa mulianya perempuan yang memilih untuk berkerja di rumah (as known as ibu rumah tangga). Bahkan, dia juga mengatakan bahwa beban ibu rumah tangga lebih berat jika dibandingkan dengan wanita yang bekerja (as known as wanita karir). Entah kesimpulan dari mana, dangkal sekali.

Mungkin itu adalah salah satu bentuk hegemoni laki-laki atas perempuan. Yang merupakan cabang-cabang dari budaya patriarki. Ya, dengan mengatakan bahwa perempuan yang mengabdikan dirinya di sektor domestik lebih mulia. Toh, itu adalah sebuah predikat agar si perempuan tetap ‘ter-nina bobok-kan’, merasa nyaman (comfort zone), eksis di sektor domestik, tanpa ada keterlibatan di sektor publik sama sekali. Dengan begitu, tetap saja, laki-laki yang menjadi juara. Tetap bercokol kokoh di sektor publik dan domestik. Ah, patriarki!

(Glek! Terlalu berat ya? Semoga pembahasan di atas tidak merusak makan siang kalian hehe =P)

Sekali lagi, saya 25 dan belum menikah, kelak, saya pun ingin menikah. Sungguhpun tidak tahan ingin berontak dari kesimpulan dangkal teman laki-laki saya itu, saya putuskan untuk menuliskannya di sini. Perdebatan yang tak berujung hanya sia-sia. Lagi pula saya belum menikah, bargaining position saya tentunya lebih lemah dalam perdebatan dengan topik ‘Rumah Tangga’.

Yang bangga dengan profesi wanita karir dan kelak tetap mengutamakan keluarga (cinta suami, cinta anak), boleh merapatkan barisan dengan saya. Mau jadi Ibu rumah tangga atau wanita karir, itu adalah pilihan dan keduanya mulia titik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: