Metromini: Kisahnya Seklasik ‘Body’ Busnya

Menyetop laju bus metromini yang akan membawamu pulang itu seperti membeli kucing dalam karung. Kamu benar-benar tidak tahu bus metromini macam apa yang dalam sekejap berhenti ketika kamu melambaikan tangan.

Malam ini, inilah bus metromini ‘jodoh’ saya.

Berbekal tatapan awas dan sedikit keberuntungan, saya akhirnya duduk di tempat duduk samping pintu bus. Bus memang tidak begitu penuh, tidak juga begitu lenggang. Hanya satu-dua tempat duduk yang kosong. Salah satunya, tempat saya duduk sekarang.

Di samping saya adalah seorang bapak paruh baya, usianya sekitar yah, di atas ayah saya. Guratan di wajahnya lebih mengindikasikan beliau tua di jalanan. Tua karena rumitnya kehidupan. Kulitnya legam karena kerja keras, bukan perawatan. Tangan kirinya menenteng tas plastik berisi helm. Tangan kanannya berpegangan erat pada besi bus. Ya, bus saat ini memang sedang melaju kencang di tengah kemacetan. Supirnya memang sedikit edan.

Oh, tampak tangan si bapak lecet terkelupas. Daging tangannya memerah bercampur darah yang sudah kering. Darah yang sudah kering, membingkai ‘apik’ tangan si bapak. Merasa tangannya menjadi objek tatapan saya, si Bapak pun melepaskan genggamannya pada besi bus. Dilepaskannya begitu saja dan disembunyikannya pada jaket parasut hitam yang beliau kenakan.

Saya tebak, si bapak baru saja mengalami kecelakaan. Ah, jahat sekali saya menatap tangan si Bapak. Berlebihan memang, sehingga si Bapak merasa tidak nyaman. Sama sekali tak ada kata yang keluar, tapi begitulah bahasa tatapan kadang lebih kejam dan menyakitkan.

Tak kapok, tatapan saya mencari objek lain dalam bus. Anak muda yang katanya tulang punggung negara di masa depan, sedang berdiri di tengah bus dengan gitar kebanggaan. Solois. Dia bernyanyi, bernyanyi, dan bernyanyi. Lagunya tak jelas. Penumpang memberikan receh lebih karena kasihan, bukan karena berhasil menikmati lagu untuk menemani perjalanan. Begitu selesai, turunlah si pengamen dari bus. Walau tak semua penumpang memberikan recehan, mungkin si pengamen mendesah riang ‘lumayan’, daripada tak mendapat uang sama sekali yang berujung kata makian.

Bus melaju semakin kencang. Kencangnya sampai menggerakkan sekrup atau lempeng aluminium badan bus. Bunyinya nyaring tapi sayangnya kalah dengan dentuman musik yang disetel sang supir. Walau sedikit edan, ternyata sang supir pengertian juga. Dimatikannya musik ketika ada pengamen yang naik bus untuk bernyanyi, mengiba recehan penumpang. Dinyalakannya kembali ketika pengamen turun. Solidaritas jalanan!

Tulisan ini belum berakhir. Sang supir belum dapat ‘jatah’ pembahasan. Sang supir berusia muda, seusia saya. Walaupun jika diadakan perbandingan usia, pasti dialah yang lebih tampak dewasa. Ya, dewasa karena jalanan. Berani taruhan, dia terpilih menjadi supir pun karena menang nyali, bukan keahlian. Ya, itulah potret supir metromini ‘tembakan’ yang mendominasi angkutan rakyat ibu kota. Kecelakaan atau kematian memang bagian dari takdir. Tapi jika boleh memilih, kita tak akan memilih nyawa seluruh isi metromini berada di tangan supir macam itu. Lucunya, pejabat terkait diam saja. Hanya satu-dua razia yang membuat jera. Selanjutnya, beraksi kembali ketika terjadi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan bus metromini. Ah!

Saya bisa gila sendiri sampai menuliskan cerita ini. Penuh sumpeknya bus metromini yang hilir mudik di ibukota sama sekali belum mengetuk hati para elite yang duduk di kursi kekuasaan. Sesungguhnya, bus metromini, angkutan kerakyatan yang selalu sumpek penumpang yang menggerakkan roda-roda perekonomian. Tapi apa mau dikata, sudah bekerja penuh peluh menggerakkan roda perekonomian untuk negara, mereka tetap harus ‘dipaksa’ bertaruh nyawa dengan transportasi massa, bernama metromini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: