Kisah Sendok

Halo namaku sendok. Sedikit mirip ya, dengan ‘simbok’ (‘simbok’ adalah ibu dalam bahasa Jawa). Sama-sama enam huruf, sama-sama ‘o’ dan ‘k’ di belakang, dan sama-sama melahirkan. Ya, akulah benda yang melahirkan berjuta-juta suapan di dunia, sampai manusia-manusia itu tumbuh menjadi besar dan akhirnya meninggal.

Halo namaku sendok. Kisah kasih mengiringi setiap kisahku. Kamu percaya?

Halo namaku sendok. Aku dibeli orang, eh, sepasang pengantin baru yang sedang membangun kehidupan. Disayangnya aku, diikutsertakan aku dalam acara-acara jamuan atau sekedar arisan. Aku menjadi saksi kisah mereka sampai mereka memiliki keturunan.

Halo namaku sendok. Keluarga kecil itu akhirnya menjadi keluarga besar, beranak-pinak. Akulah yang selalu menemani suapan-suapan mereka. Sampai akhirnya, aku tak lagi menemani sang ibu. Aku berpindah tangan, menemani si anak yang kini hidup di perantauan.

Halo namaku sendok. Hidupku berubah, tak lagi di rumah. Tapi kasih itu tetap terasa. Tak ada keluarga, tapi pertemanan sama hangatnya. Aku menemani suapan-suapan pertemanan yang terjalin akrab. Aku tak lagi bertuan. Semua yang membutuhkan, akan mengambilku.

Halo namaku sendok. Di depanku, kisah lain selalu menungguku. Walau tak tahu siapa tuanku kini, aku bahagia, aku menjadi saksi pertumbuhan manusia di dunia. Ya, berkat suapanku.

**
Terinspirasi saat pindah dari Jogja dan membawa sendok mama.
Kepada sendok-sendok di dunia, benda mati, saya berterima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: