Konsumen Galau

Petang itu, pulang dari kantor, saya mampir ke warung nasi padang di belakang kosan. Bermaksud memilih lauk, saya pun memandang ‘etalase’ warung nasi padang. Takjub saya. Biasanya, di waktu yang sama, berbagai lauk masih terjajar rapi walau hanya satu atau dua yang sisa. Dari rendang, kikil, telur dadar, beraneka olahan ikan, dan berbagai olahan ayam. Kecewa memang karena yang ada dalam pandangan saya hanya 4 macam lauk, ayam bakar, ikan emas, ikan tongkol, dan ikan nila. Lainnya, tak ada.

Dalam takjub saya sekian menit itu, tiba-tiba, spontan saja saya berkomentar. Tapi anehnya, hanya sebatas hati saja, sama sekali tak bersuara. Bibir saya pun tak bergerak komat-kamit mengucap kata.

“Tumben, Bang, jam segini sudah habis.”
“Eh, tak sopan sekali sepertinya saya mengucapkan kata-kata itu?”
“Lho, memang salah? Apa yang salah? Biasanya juga bilang begitu.”
“Ya, kali ini dan seterusnya jangan, deh. Enggak baik.”
“Lho??”
“Enggak sadar, ya? Kalau dagangan si Abang jam segini habis, berarti berkah di dia. Dagangannya laris dan dia senang. Kenapa kita justru menjadi tidak senang dan mengharapkan dagangannya tidak laku hanya gara-gara kita jadi enggak kebagian lauk? Egois!”

Perang komentar dalam hati itu berakhir ketika si Abang bertanya, “Mau pake lauk apa, Neng?”

Saya bingung, tenggelam dalam 4 pilihan, dan hanya berkomentar polos tanpa dosa, “Apa ya, Bang, yang enak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: