Kompromi Hujan dengan Jemuran

Hujan itu air. Air itu basah. Basah itu dingin. Dingin itu lembab. Lembab itu tak kering. Tak kering itu tak indah, apalagi bajuuuuu..

Sejak diitemukannya baju sebagai penutup tubuh manusia, saya percaya bahwa baju bisa berfungsi sebaik-baiknya ketika baju itu kering. Ketika baju itu basah, yah, tak ada fungsinya lagi. Ya kan?

Di musim hujan seperti ini, saya sering berkompromi dengan hujan. Ritual yang saya lakukan adalah, ketika akan menjemur baju, saya menengadahkan kepala ke atas selama beberapa menit, sambil berguman sendiri, memandang langit biru yang kadang-kadang menipu. Mungkin matahari tahu saya sedang berkompromi, sehingga, tiba-tiba saja dia mengeluarkan ‘kode’ yang membuat mata saya memincing, seakan mengiyakan harapan saya kalau hari ini pasti cerah dan keringlah baju saya.

Yes, cerah kok!” kata saya optimis yakin.

Tapi memang benar adanya kalau harapan jarang sama dengan kenyataan. Begitu sore tiba, langit menjadi mendung. Sialnya, saya sedang tak ada di rumah untuk segera menyelamatkan jemuran saya.

Di tempat saya berada, saya hanya bisa menatap langit yang seakan menertawai saya. “Oke, kamu menang langit. Terima kasih sudah menurunkan hujan rahmat semesta alam ini!”

Bajuku sayang, bajuku malang. Tak kering lagi kau hari ini. Kita akan coba peruntungan lagi esok hari. Semoga langit tak menipu lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: