Sustainable Mining Bootcamp: 1st Day Note

Nov 4, 2012

Tak bertanya, tak pernah tahu

Hari itu, saya tiba di terminal 3 bandara Soetta pukul 01.30. Padahal sesuai kencan, kami baru akan berkumpul pada pukul 02.30. Sebenarnya, ada niat untuk datang lebih awal, tapi sungguh tak seawal ini. Tak menyangka si bapak taksi bisa secepat itu mengantarkan saya menembus sisa-sia Malam Minggu Jakarta yang katanya riuh.

Terminal 3 tidak sesepi yang saya bayangkan. Ada beberapa calon penumpang dan penjemput yang duduk di kursi tunggu. Sebagian besar menunggu sambil merebahkan badan di kursi. Tidur pasti. Bayangkan, jam-jam tidur biologis manusia harus melawan dinginnya udara. Tentu kantuk yang tetap akan menang. Walapun demikian, saya tetap saja merasa sendiri di terminal 3 ini. Tak satupun peserta Sustainable Mining Bootcamp menampakkan batang hidungnya. Entahlah, bagi saya yang tidak hadir dalam Technical Meeting, itu adalah sebuah resiko. Saya benar-benar tak tahu dengan siapa nanti akan terbang menuju Batu Hijau.

Menit-menit berlalu. Orang-orang lebih banyak yang berdatangan ke terminal 3 daripada yang meninggalkan terminal 3. Di depan saya, dengan jarak satu deret kursi tunggu, ada sekelompok orang yang berkumpul dan asyik bercerita. Intuisi saya mengatakan bahwa, mungkin mereka adalah orang-orang peserta Sustainable Mining Bootcamp. Tapi, saya terlanjur lelah untuk bertanya. Saya mencoba tidak percaya dengan intuisi saya. Saya tetap duduk dan mengamati orang-orang di terminal 3.

Pengamatan saya cukup unik, lho! Sesuai dengan ketentuan, disebutkan bahwa peserta dianjurkan untuk menggunakan sepatu sport/kets. Maka, bukan muka yang saya pandang pertama. Saya mengamati orang-orang yang berdatangan dari sepatunya. Jika dia menggunakan sepatu sport/kets, hipotesis saya, mereka adalah peserta Sustainable Mining Bootcamp. Tapi, lagi-lagi, karena malasnya saya, saya memutuskan untuk tidak bertanya.

Lucu juga rasanya mengingat semua itu. Pukul 04.15, kami, peserta Sustainable Mining Bootcamp, sudah saling berjalan dalam rombongan dengan backpack yang menghiasi punggung kami menuju ruang check in bandara. Sesekali saya tertawa sendiri dengan sikap saya tadi. Orang yang bersepatu kets berwarna pink ternyata bernama Olivia. Dua orang berkerudung yang sedari tadi asyik mengobrol adalah Titis dan Putri. Orang yang asyik menghisap rokok, yang saya kira backpacker ulung, adalah Dian. Terakhir, rombongan yang asyik mengobrol di depan saya tadi adalah Rohib CS. Mereka adalah orang-orang yang hadir dalam Technical Meeting. Sehingga, tidak mengherankan jika mereka sudah lebih dulu akrab.

Ah, andai tadi saya tak malas bertanya, pasti menunggu di terminal 3 dini hari akan lebih menyenangkan dan cukup efektif untuk mengusir kantuk yang menyerang. Bercanda bersama sesama peserta Sustainable Mining Bootcamp tentu akan menambah warna tersendiri. Sudahlah, yang penting sekarang kami sudah saling mengenal. So, here we go. Batu Hijau, we will come!! #batuhijauBC

PS.
Kepergian kali ini adalah kepergian ter-simple dalam hidup saya. Rekor baru, mungkin. Saya adalah tipikal orang dengan barang bawaan berjibun saat bepergian. Tapi kali ini, untuk kepergian seminggu ke Batu Hijau, saya hanya membawa satu backpack dan satu tas tenteng. Saya baru menyadarinya ketika bertemu dengan peserta Sustainable Mining Bootcamp yang lain yang membawa koper.

Sebenarnya, saya sudah packing baju-baju saya ke dalam carier besar. Namun, di menit-menit terakhir saya bongkar dan saya ‘pepatkan’ ke dalam backpack hitam. Entahlah, ada angin apa, saya menjadi ‘simple’ dan bisa ‘make a deal’ dengan backpack dan tas tenteng🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: