Juri Bahasa Jawa

Ini unik. Pertemuan saya dengan tiga bocah laki-laki di perumahan sebelah tadi pagi masih membekas sampai sekarang. Selain karena ketiga bocah itu mengingatkan pada murid-murid saya di Bawean. Ah, apa kabar ya, mereka sekarang?

Memang sengaja mengakrab, saya mendekati tiga bocah yang sedang duduk-duduk di pinggir pembatas jalan.
Hai?” sapa saya renyah, ramah.
Ketiganya hanya saling berpandang, heran.
Bazarnya di mana, sih?” tanya saya lagi tanpa memedulikan ekspresi keheranan ketiga bocah itu.
Di sana dan di sana, Mbak,” jawab salah satu bocah sambil berganti tangan menunjuk arah utara dan selatan.
Makasih yo!” jawab saya santai dengan logat Jawa yang sengaja saya gunakan.

Belum sempat saya mengayuh pedal sepeda untuk berbalik arah, salah seorang bocah justru balik bertanya pada saya.
Lho, Mbak, kowe wong endi?” tanyanya.
(Artinya: Lho, Mbak, kamu orang mana?)
Aku wong kene, kae omahku cerak mesjid,” jawab saya.
(Artinya: Aku orang sini. Itu lho, rumahku dekat masjid)
Ah, ngapusi. Boso jowomu kok aneh sih, Mbak?” komentar salah satu bocah.
(Artinya: Ah, bohong. Bahasa Jawamu kok aneh sih, Mbak?)
Hahaha, sumpah, saya hanya bisa tertawa. Ada apakah gerangan dengan bahasa Jawa saya? Jelas-jelas saya orang Jogja. Tapi bagai petir di siang terik, saya kaget mendengar komentar salah satu bocah yang baru saya kenal pagi itu.
Lho kuwi, ngguyune wae aneh. Bedo. Wong endi e, Mbak?” tanya bocah lain masih belum percaya.
(Artinya: Nah itu, tertawanya saja aneh. Beda. Kamu orang mana sih, Mbak?)
Makin keraslah saya tertawa. Karena penasaran, saya pun bertanya lagi, “Emang boso Jowoku kenopo?”
(Artinya: Memang bahasa Jawaku kenapa?)
Bedo, Mbak. Wes ngaku wae. Mbak e dudu wong kene yo?”
(Artinya: Beda, Mbak. Sudah ngaku aja. Mbak bukan orang sini ya?)
Walah, iki lho aku numpak pit. Omahku ki cerak. Cerak mesjid kae, lho. Reti ta?” jawab saya sambil memperlihatkan sepeda yang masih saya naiki.
(Artinya: Haduh, ini lho aku aja naik sepeda. Rumahku tu deket. Deket masjid itu, lho. Tau kan?)

Percakapan saya dengan tiga bocah itu pun masih terus berlanjut. Tak ada lima menit, kami sudah akrab. Mereka mengajak saya bercanda dengan serentetan tebak-tebakan yang bagi saya sangat saya rindukan, semenjak umur saya menjadi dewasa. Khas bocah sekali. Melihat mereka bertiga begitu riang, saya pun turut senang.

Selama gowes pulang menuju rumah, saya masih terngiang-ngiang. Ah, masak bahasa Jawa saya terdengar aneh? Padahal, menurut teman-teman saya yang asli Jakarta, aksen Jawa saya masih kental. Belum lagi nada bicara saya yang sangat ‘njawani’ sekali. Tapi apa daya, bergaul dengan tiga bocah Jawa tadi, bahasa Jawa saya justru dikatakan aneh. Mereka benar-benar seperti juri Bahasa Jawa.

Apa logat saya masih kental dengan Bahasa Bawean selama di penempatan setahun kemarin ya? Dont know! Yang jelas, papa saya juga setuju dengan pendapat ketiga bocah itu. Papa hanya tertawa ketika mendengar cerita saya. Katanya, “Ah, sudah, Dek, kalau terima telpon dari teman papa, kamu pakai bahasa Indonesia aja, bahasa Jawamu tuh aneh.” Okay, skakmat buat saya! Ada yang mau mendengar saya berbahasa Jawa?? =3

1 comment
  1. nakinaak said:

    inaak mauuuuuuu!! mau dengeeer,,,,
    sumpah melu ngekek aku mocone wkwkwkw

    njuk nak inaak piye yo? saya org Jogjaah!
    tp sehari2 pake bhs Indonesia, krn bapak asli Bali dan Ibu dari Jawa Timur, dari kecil ngomongnya pake bhs Indonesia, wkwkwk

    aku yo pengen sinau ben iso boso jowooooo… wkwkkw

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: