Jodoh

Mungkin ini yang dinamakan jodoh. Jodoh yang kata orang, ada di tangan Tuhan. Ternyata, jodoh itu saya temukan dengan mata telanjang saya, tanpa kacamata, malam ini. Bagaimana tidak, setelah sekian bulan menghilang, tiba-tiba dia hadir.
Sontak, saya langsung berseru sambil menunjuk ke arah yang dituju, “Mama, ternyata di situ!”

Sekali lagi, jodoh. Pusing kepala ini memikirkannya. Sudah cocok, sudah pas, lalu menghilang. Dicari, tak ketemu. Saking berkesannya, sampai susah untuk dilupakan. Kata teman-teman, “Sudah, ikhlaskan saja. Kalau jodoh, tak kemana!” Bagi saya, kalimat sederhana itu justru seperti pematah semangat terjitu. Antara sadar segera melupakan atau ikhlas penuh harapan terpendam.

Lagi-lagi, jodoh. Menurut kalian jodoh di sini apa? Sampai di paragraf ketiga, jangan-jangan kalian masih salah sangka. Bukan, ini bukan romansa hubungan antara laki-laki dan perempuan. Hey, saya sedang berbicara mengenai tempat makan favorit keluarga saya. Sudah berbulan-bulan menghilang tanpa jejak dan pesan, malam ini, tak ada angin, tak ada hujan, saya berhasil menemukannya. Wow, ini pasti akan menjadi kabar gembira untuk papa.

Jangan dibayangkan, tempat makan favorit keluarga saya ini elite. Ruang ber-AC, pramusaji berseragam, paket-paket makanan kelas atas, furniture modern mengkilap, tidak. Jauhkan bayangan itu sekarang. Tempat makan favorit keluarga saya tergolong kaki lima. Letaknya di jalan Pangeran Mangkubumi. Walaupun kaki lima, masakannya sangat enak dan suasananya sangat bersahaja (satu hal yang tidak mungkin saya dapat di tempat makan lain).

Warung kaki lima ini juga menjadi saksi sejarah keluarga saya. Dari kakak saya TK, kemudian saya lahir, dari keluarga saya ‘jajan’ di sana naik motor Suzuki Chrystal berempat, sampai ‘jajan’ sekeluarga naik mobil. Berbagai moment spesial juga dirayakan di sana, sekedar traktir-traktir kakak saya lulus kuliah sampai papa ulang tahun. Sebaliknya, keluarga saya pun menjadi saksi sejarah warung kaki lima ini. Dari si pemilik punya anak kecil sampai anaknya beranjak dewasa, menjadi asisten ayahnya. Dari hanya bermodal motor, sampai bisa membawa mobil untuk mengangkut dagangan. Ya, semuanya terasa sangat spesial, seperti nasi goreng yang selalu tertulis di menu warung kaki lima ini.

Sayangnya, tiba-tiba, warung kaki lima ini pindah karena gusuran. Ini prediksi saya. Buktinya, sekarang di belakang lokasi eks warung kaki lima, berdiri bangunan megah. Tak ada kabar, tak ada pesan. Keluarga saya pelan-pelan mulai mengikhlaskan kehilangan tempat makan favorit. Sampai akhirnya, malam ini, saya berhasil menemukan warung itu lagi secara tidak sengaja. Bentuknya masih sama, masih khas di pinggir trotoar jalan raya. Penjualnya pun masih sama, masih bisa saya kenali. Kalau malam ini saya sekedar lewat, bersorak, besok-besok saya akan datang bersama keluarga saya untuk jajan. Tunggu ya, Pak!

Ditulis dengan aduhai bahagianya
22/07/2012
22:54

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: