Bunga

Saya jatuh cinta pada bunga saat duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Bukan. Bukan saat guru saya meminta saya untuk menggambar bunga. Bukan pada saat itu. Melainkan pada saat saya menonton telenovela Maria Marcedes bersama pengasuh saya. Eh! Okay, saya ralat kalau tidak mungkin pengasuh saya bisa dikritik habis-habisan oleh pakar pemerhati anak. Pengasuh saya memang penggemar berat telenovela. Jadi lebih tepatnya, saya, hety kecil, menemani pengasuh saya menonton telenovela. Saya yang polos, saya yang belum tahu apa-apa, hanya menatap layar kaca adegan demi adegan tanpa mengetahui makna cerita yang sebenarnya.

Kala itu, dari semua adegan, yang menarik saya hanyalah bunga. Mungkin insting keperempuan saya sudah bekerja saat itu. Digambarkan, setiap pagi pekerjaan yang dilakukan si ibu kaya raya di ruang keluarga hanya menata bunga saja. Bunga dipegang, digunting, dibetulkan letaknya sedemikian rupa pada vas yang tak kalah menawan. Bunga pada setiap adegan, hari demi hari, pun berganti-ganti. Kadang kuning, pink, putih, merah, dan seterusnya. Mata saya yang masih polos berbinar memimpikannya.

Semakin saya dewasa, saya tahu ternyata bunga memiliki makna. Bunga bukan lagi suatu benda yang hanya digunting, ditata oleh si ibu kaya raya di telenovela yang saya lihat saat saya masih TK. Bunga sudah diberi label, makna, simbol, dan istilah-istilah lain yang hanya dipahami oleh orang dewasa. Beruntungnya saya, sekolah di daerah Kotabaru, kawasan penjual bunga. Setiap pagi, selama 6 tahun duduk di Sekolah Dasar, saya selalu melewati toko-toko penjual bunga. Ah! Indahnya bunga-bunga itu di pagi hari, seakan menyemangati saya berangkat ke sekolah.

Dan, lagi-lagi bunga. Saya terpaku saat bingkisan bunga itu diberikan untuk saya. Entah, walau saya tidak tahu mengapa dia memberikan saya bunga. Cintakah? Atau iseng belaka. Saya tetap merasa sebagai anak TK polos yang merasa makna bunga sudah dipolitisasi oleh orang dewasa.

Yah, bunga tetap saja bunga. Saya salah jika menilai terlalu lebay makna bunga. Bunga dalam upacara pernikahan atau kematian, bunga yang sakral. Harusnya saya biasa saja. Toh, ternyata bunga juga bukan kontrak atau sebuah jaminan orang itu akan di sisi saya selamanya. Ya kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: