Panggil Saya Ibu Keti

“Bu Keti!”
“Itu Bu Keti!”
“Bu Keti datang!”
“Bu Keti, Bu Ketiiiiii…”

Begitulah cara anak-anak itu menyambut saya dari kejauhan. Saya yang tergopoh-gopoh berjalan sambil memegang payung hijau bermotif bunga hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Merasa mendapat sambutan yang hangat, anak-anak itu semakin bersahutan memanggil nama saya sampai riuh. Ketika saya sudah dekat pun, mereka masih menyapa saya riang, khas anak-anak sekali. “Bu Ketiiiiiii,” kata seorang anak sambil tersenyum manja kepada saya.

Siapakah anak-anak itu?

berfoto bersama di kantor guru

Mereka adalah anak-anak di Dusun Burnei (bukan Brunei Darussalam negara tetangga kita lho!). Dinamakan Dusun Burnei karena di sana banyak tumbuh pohon Burnei yang buahnya kecil-kecil seperti cherry dan sedikit asam jika dimakan.

Setiap hari Senin, Selasa, dan Rabu, saya mengajar di kelas bantu MTs Nurul Amin di Dusun Burnei. Disebut kelas bantu karena di Dusun Burnei sendiri sebenarnya tidak ada MTs (Madrasah Tsanawiyah, sekolah Islam setaraf SMP), hanya ada MI (Madrasah Ibtida’iyah, sekolah Islam setaraf SD). MTs Nurul Amin sebenarnya terletak di Dusun Gandariyah. Karena hampir semua murid MTs berasal dari Dusun Panyalpangan dan Dusun Burnei, dan terlalu jauh jika harus bersekolah ke Dusun Gandariyah, maka dibuatlah kelas bantu di Dusun Burnei, meminjam gedung MI. Anak-anak di Dusun Burnei itulah yang tidak pernah absen menyambut kedatangan saya di hari saya mengajar. Mereka bisa mengenali saya dengan mudah dari payung hijau motif bunga-bunga yang selalu saya pakai.

Ketika saya mengajar anak-anak MTs, kepala-kepala mungil itu selalu menyembul dari balik jendela yang saya biarkan terbuka. Entah sekedar ingin melihat saya mengajar, ingin ikut serta belajar, atau hanya mencari perhatian saja. Sebenarnya, saya tak terlalu mempermasalahkannya. Hanya saja, ketika mereka mulai memanggil saya dengan nama ‘Ibu Keti’, rasanya ingin tersenyum, menahan tawa. Saya merasa lucu sendiri. Seingat saya, saya pernah berkenalan dan menyebut dengan jelas bahwa nama saya adalah, ‘Hety’. Tapi lagi-lagi, mereka hanya meringis tanpa rasa bersalah dan berguman, ‘Bu Keti’. So, resmi sudah, saya lebih dikenal dengan nama ‘Ibu Keti’ daripada ‘Ibu Hety’ di Dusun Burnei.

Saya dan Anak anak MTs Burnei

Murid-murid MTs Nurul Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: