Kebun Binatang Kehidupan

Selamat datang di kebun binatang kehidupan. Selama hampir setahun ini, banyak hal yang terjadi. Selama setahun ini juga, banyak hal yang bisa dipelajari, seperti ‘berdamai’ dengan binatang-binatang yang ditakuti. Habis mau bagaimana lagi? Hidup sendiri sama dengan harus bisa menghadapi hal-hal yang tidak disukai. Sebagai orang yang takut kucing, takut anjing, dan keluarga besar ayam (ayam jago, ayam betina, dan anak ayam), saya mempunyai kisah tersendiri.

>> Anjing
Berangkat ke sekolah, dihadang anjing? Sering. Sampai-sampai, saya harus berputar arah untuk sampai ke sekolah. Dikejar anjing? Pernah! Walaupun beragama Islam, penduduk Bawean ada yang memelihara anjing. Tujuannya, untuk mengusir babi hutan yang sering merusak lahan pertanian. Anak-anak di sekolah sampai memberikan tips kepada saya agar tidak dikejar anjing. “Bu Hety pura-pura membawa batu. Bu Hety jangan lari. Bu Hety jongkok. Bu Hety diam jadi patung,” begitu nasihat anak-anak saya ketika tahu gurunya dikejar anjing ketika berangkat ke sekolah.

>>Anga Putih Leher Panjang
Bagi saya, angsa putih leher panjang sangat ganas. Walaupun demikian, banyak penduduk yang memeliharanya. Beberapa kali, saya sempat mengalami tragedi dengan si angsa putih leher panjang. Saya selalu nyaris dicium angsa. Ya, selalu. Selain itu, saya juga pernah dihadang sekawanan angsa yang mengincar kaki saya? Yup! Sudah langganan, saya sampai hapal. Pokoknya, ketika leher si angsa sudah menjulur ke depan, mereka pasti sudah siap untuk mengejar saya. Herannya, orang-orang hanya berkata, “Ambil batu, Bu. Lempar!”. Bagaimana saya bisa mengambil batu jika saya sudah panic to the max gara-gara dikerjar angsa???

>>Ayam
Dikagetin ayam? Ya. Ini bagian yang tidak saya suka. Sering sekali ayam melintas di jalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Saya yang sedang naik motor terpaksa harus mengerem mendadak untuk memberi kesempatan pada si ayam.

Selain itu, ayam di sini adalah ayam yang agresif dan tak pantang menyerah. Ketika sedang mencuci piring di luar, tanpa ba-bi-bu, si ayam langsung menyerbu memperebutkan sisa-sisa makanan. Tinggal saya, yang takut ayam, jejeritan. “Hush, hush ayam!” begitu usir saya. Tapi dasar ayam agresif dan tak pantang menyerah, si ayam justru semakin tertantang untuk mendekati saya. Huwaaa. Akhirnya, langkah terakhir yang saya tempuh adalah mengusir ayam dengan air. Ibu asuh saya hanya geleng-geleng kepala, “Airnya habis, Het. Kamu nanti tidak jadi cuci piring!”

>>Kucing
Kucing yang tak takut air? Saya bisa menemukannya di sini. Bagi yang sudah kenal saya, pasti tahu kalau saya sangat anti dengan hewan yang satu ini. Di daerah penempatan, saya harus bisa survive dengan keberadaan kucing. Beraneka cara sudah saya coba ketika kucing mulai mendekat mengharap belas kasihan saya. Cara yang paling ekstreem, saya siram air (kabarnya, kucing takut air). Sialnya, si kucing justru semakin intens mendekati saya. Huwaaa!

Satu kisah lagi tentang binatang yang namanya berawalan huruf ‘K’ ini. Dulu, di awal penempatan, kamar saya belum ada pintunya. Hanya sehelai korden sebagai penutupnya. Suatu pagi,saat bangun tidur, saya jantungan setengah mati. Ketika membuka mata, di samping saya sudah ada kucing abu-abu yang dengan anggun nangkring di sisi saya. Kontan, saya terlonjak kaget. Si kucing merespon kekagetan saya hanya dengan mengeong tanpa dosa dan langsung melompat turun tempat tidur. @@$%^%&**((!

>>Tikus
Kamar kemasukan tikus? Jujur, saya tak pernah berhadapan dengan hewan ini. Di Jogja, ketika ada tikus masuk ke rumah, saya langsung mengandalkan mama dan kakak saya untuk mengusirnya. Di daerah penempatan? Jangan tanya! Hewan ini berhasil membangunkan saya pukul 2 dini hari. Cit, cit, cit, begitu bunyinya. Terpaksa, dengan mata setengah terpejam saya mem-packing semua barang saya dan menaikkannya ke atas lemari. Lantai kamar bersih. Silakan pak tikus berlarian ke sana-ke mari, saya tak peduli. Saya ber-positive thinking, si tikus tak akan naik ke tempat tidur. Zzz…

>>Tokek
Kamar kemasukan tokek? Selama ini, saya kira saya hidup sendiri di kamar yang berukuran 2 x 2,5 m ini. Ternyata, saya salah besar. Ada seorang makhluk yang ditakdirkan Tuhan untuk menemani hari-hari saya. Dialah Tokek. Hewan yang mempunyai bakat menyanyi, “…Ckckck, tokek, ckckck, tokek…” ini hidup nyaman, tentram, damai di belakang almari baju saya, tanpa saya pungut uang sewa. Catat!

>>Kadal
Ada kadal nyebrang jalan? Saya kadang masih bertanya-tanya dalam hati. Di manakah sebenarnya saya ditempatkan selama setahun ini, di Baweankah atau di taman safari? Bagaimana tidak, ketika naik motor menembus hutan, pasti saya berpapasan dengan kadal kecil. Orang Bawean menyebutnya ‘barekai’. Ketika saya bercerita kepada orang-orang, mereka malah berkata santai,” Bu Hety belum ketemu yang besar sih?”. Heh? Saya hanya melongo.

>>Monyet
Selain kadal, ada juga monyet. Tetangga saya banyak yang memelihara monyet. Sebenarnya, kasihan juga saya. Kandangnya sangat tidak berperikehewanan. Bayangkan, rumahnya hanya terbuat dari kayu seukuran kaleng roti. Di siang hari, mereka hanya dibiarkan bergelantungan ke sana-ke mari dengan rantai yang selalu setia mengikat lehernya.

Ada certia lucu. Di samping sekolah, ada rumah yang memelihara monyet. Setiap pagi berangkat ke sekolah, si monyet selalu keluar dari kandangnya dan hanya menatap saya yang melintas di depan kandangnya. Saya selalu iseng berkata kepada si monyet, “Selamat pagi, Nyet!” Hehe.

Hampir sama dengan kadal. 75% wilayah Pulau Bawean adalah hutan. Hutan yang masih sangat alami. Layaknya ada gula ada semut, maka tak salah jika, ada pohon ada monyet. Kadang-kadang, ketika melintasi hutan, pasti ada monyet yang melintas. Kadang-kadang sendirian, kadang-kadang bersama-sama layaknya keluarga monyet yang hendak tamasya.

>>Tongo
Sebenarnya, masih ada. Masih ada serangga aneh yang setia masuk kamar tanpa permisi? Kecoa, capung, nyamuk, semut, dan Tongo. Oh, ya, Tongo. Belum lengkap jika tidak saya perkenalkan. Bagi saya, Tongo ada UFA alias Unidentified Animal. Tidak tahu pasti bagaimana wujud si Tongo. Dia hanya meninggalkan gigitan ganas yang membekas di kulit. Warnanya hitam, seperti tahi lalat.

Dulu, di Jogja, saya mengenal hewan yang serupa. Namanya Tengu. Hewan kecil kasat mata. Jika sudah menggigit di kulit, hanya meninggalkan bekas kemerahan yang bermata. Baik Tongo dan Tengu, sama-sama menghasilkan gatal yang luar biasa.

Minyak kayu putih, balsam, minyak kampak, bedak gatal, lotion gatal, salep, tak ada yang mempan. Saya sampai berprasangka, mungkin si Tongo hanya dilawan dengan kesabaran. Kesabaran orang yang digigitnya untuk tidak menggaruk.

Demikian, kebun binatang kehidupan pengajar muda. Satu tahun mengajar, berbagai hewan telah menginspirasi kehidupan saya di daerah penempatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: