Tentang Ulang Tahun Papa Maret Lalu

Tentang ulang tahun papa Maret lalu…

Ini kali kedua, saya memberikan kejutan untuk papa di hari ulang tahunnya. Saya dan kakak bersekongkol mengirimkan kue ulang tahun secara sembunyi-sembunyi ke kantor papa. Hasilnya? Tetap sama! Walaupun kejutan kue rahasia ini sudah terjadi untuk kedua kalinya (berturut-turut, 2011 dan 2012), papa tetap mengucap terima kasih tiada tara pada saya dan kakak. Yah, bagi saya dan kakak, apalah arti semua itu dibanding melihat senyum bahagia papa di tengah teman-temannya di kantor. Priceless!

Kejutan kue rahasia itu semoga bisa menjadi pengganti kehadiran saya dan kakak. Kakak di Jakarta, tak bisa pulang ke Jogja. Sedang saya, masih dalam masa penugasan yang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Sejadi-jadinya, ulang tahun papa di bulan Maret hanya bisa menjadi momen perenungan saya tentang papa.

Bagi saya, papa adalah laki-laki istimewa. Entah, di mana dulu mama bisa menemukan papa. Kata mama, itu adalah suatu kebetulan. Kebetulan yang kemudian saya artikan sebagai perjodohan ala Siti Nurbaya. Wow, hebatnya orang-orang terdahulu, ya. Atas nama kepercayaan dan kebetulan mereka bisa hidup bersama dalam waktu yang lama, sampai saat ini.

“Perjodohan itu cinta ya, Ma?”, “Kebetulan itu cinta ya, Ma?”. Dua pertanyaan bodoh yang tak akan pernah saya ajukan pada mama. Tak berani saya, sumpah! Tapi, saya sudah berjanji pada diri saya untuk menemukan jawabannya sendiri seiring perjalanan hidup saya.

Kembali lagi pada papa. Papa itu apa adanya. Ya, papa memang bukan makhluk sempurna. Ada juga kesalahan dan kekurangan. Tapi tetap saja, bagi saya, papa segalanya. Hey,ini bukan sekedar gara-gara karena papa saya bisa terlahir di dunia lho. Ini juga bukan sekedar perintah agama untuk menghormati orang tua. Namun, secara sadar, saya benar-benar mengagumi sosok papa.

Semua hal ini saya temukan secara proses, dari saya lahir ke dunia ini sampai saya 24 tahun. Perjalanan yang begitu panjang sampai saya bisa merangkai satu demi satu jawaban. Jawaban-jawaban ini seperti puzzle yang harus saya satukan. Dan sampai saya menulis ini pun, saya masih merangkai puzzle.

Ya, puzzle kehidupan tentang seorang papa. Papa, maafkan atas segala kebohongan-kebohongan. Maafkan atas segala pembrontakan-pembrontakan ‘kecil’ itu. Maafkan atas segala keras kepala, keegoisan, dan semuanya. Terima kasih atas segala kisah-kisah itu. Walau baru kali ini, saya benar-benar memahami setiap detil artinya. Sungguh, yang papa lakukan pada anak perempuanmu nomor dua ini sangat berarti.

Papa, waktu terus berjalan, tak tahu sampai kapan.Usia terus berubah. Saya bahkan kini bukan gadis kecilmu yang biasa kamu gendong untuk membuatnya tertidur. Untuk waktu yang tersisa kini, saya berjanji untuk terus membahagiakanmu pada setiap kesempatan.

Terakhir yang papa lakukan adalah, membiarkan anak perempuanmu memilih apa yang dia yakini. Walaupun saya tahu, papa agak kecewa. Tapi sungguh, papa benar-benar berjiwa besar untuk akhirnya melepaskan anak perempuanmu ini. Kalau bukan karena papa, anak perempuanmu tidak bisa melihat dan merasakan hal-hal luar biasa di sini. Sekali lagi, terima kasih pa.

Selamat Ulang Tahun Papa.
Jumat, 16 Maret 2012

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: