Sabar Selalu Menang

Saya pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Lebih tidak mengenakkan lagi karena saat itu saya bersama papa. Saya bukan lagi gadis kecil papa yang jago menangis dan merajuk. Saya juga tidak bisa lagi berlindung di balik punggung papa ketika ada yang tidak saya suka. Lebih dari itu, saya sudah menjadi anak papa yang dewasa. Tidak hanya usia, tetapi juga dewasa dalam menghadapi segala suasana. Benar-benar, siapa sangka hari itu menjadi ujian kedewasaan saya dihadapan papa.

Ceritanya, saya sedang menemani papa membeli handphone di sebuah outlet resmi sebuah merk handphone terkemuka. Kedatangan kami disambut baik oleh dua mbak-mbak pramuniaga. Mereka melayani saya dan papa sesuai SOP yang berlaku di outlet itu. Semua tampak berjalan lancar sampai tiba-tiba datang laki-laki berjaket hitam selegam kulit dan frame kacamatanya. Tanpa ba bi bu, si laki-laki serba hitam langsung ‘nimbrung’ ketika kami sedang bertransaksi jual beli.

Tak ada yang salah, jika si laki-laki serba hitam tadi adalah supervisor atau orang yang dituakan untuk mengawasi para pramuniaga. Tak ada yang salah juga, jika si laki-laki serba hitam tadi turut campur dalam transaksi. Hanya satu hal yang mengganggu saya dan papa. Gaya bicara si laki-laki hitam sangat cepat dan terkesan menggurui. Dia sangat mendominasi. Terbukti, akhirnya, kedua mbak-mbak pramuniaga pun memilih diam dan menyingkir pelan. Takut, mungkin.

Pertama, saya abaikan saja. Tapi lama-kelamaan saya sebal juga melihat papa diperlakukan seperti itu oleh laki-laki serba hitam. Bagaimana bisa ya seorang orang tua dilayani dengan gaya bicara yang cepat dan terkesan menggurui? Tidak ada sopan santun sedikitpun terhadap pembeli. Hey, katanya, pembeli adalah raja atau di outlet ini sudah berganti, penjual adalah raja semena-mena yang menindas pembelinya? Ah, saya tebak si laki-laki serba hitam mangkir dari training ketika ada kelas ‘bagaimana melayani pembeli’.

Saya pun berusaha keras menetralkan suasana. Saya tanyakan hal-hal remeh temeh soal aplikasi handphone kepada si laki-laki serba hitam. Sekedar mengalihkan suasana saja agar dia tidak terus mengintimidasi papa. Reaksinya pun tetap sama. Dengan gaya bicara cepat dan menggurui, si laki-laki serba hitam menjawab pertanyaan saya. Saya hanya bisa melempar senyum kepadanya.

Okay, batin saya. Ini bukan perang mulut. Tak ada guna mulut dibalas mulut, kata dibalas kata. Si laki-laki serba hitam memang harus diberi pelajaran. Sore ini, dihadapan papa, akan saya ajarkan pelajaran kesabaran dan senyuman. Ayo, siapa tahan?

Setiap si laki-laki serba hitam mengeluarkan kata-kata yang menggurui dan mengintimidasi, saya hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan berkata “Oh, ya?”. Seperti api yang dikipasi, si laki-laki serba hitam makin menjadi. Dan lagi-lagi jurus senyuman dan ‘Oh, ya?’ saya lemparkan bertubu-tubi kepadanya.

Sudah saya bilang kan? Saya sebut ini permainan ‘Ayo, siapa tahan?’ Si laki-laki serba hitam akhirnya diam. Dia meminta kedua mbak-mbak pramuniaga untuk ‘finishing’ transaksi. Saya bersyukur dapat membuat laki-laki itu pergi. Setidaknya pergi dari hadapan saya dan papa. Fiuh, di mana pun, sabar akan selalu menang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: