Yoga (bagian 2)

saya dan Yoga

Yoga. Lagi-lagi ini cerita tentang Yoga. Adik angkat kedua saya itu ternyata berhasil membuat saya terharu. Bagaimana tidak terharu, ternyata tadi pagi di TK, dia sedang bersedih. Setelah ditanya temannya mengapa bersedih, Yoga menjawab, “Mbak Hety mau pulang. Kalau mbak Hety pulang, nanti sudah tidak ada lagi yang memberiku jajan-jajan.”

Semula, saya hanya tersenyum simpul ketika ibu angkat saya bercerita begitu. Ibu tahu dari Yaya, teman sekelas Yoga, yang melapor padanya. Senyum simpul saya tiba-tiba berubah menjadi rasa haru ketika ibu angkat saya menambahkan, “Kok bisa ya, Het? Ternyata, nakal-nakal begitu, si Yoga masih bisa berpikir juga, ya? Dia bisa sedih karena Hety sudah mau pulang.”

Deg. Ya, Yoga yang hemat kata-kata dan masih malu-malu dengan saya itu akhirnya bisa merasa kehilangan. Mungkin, dia tidak berani mengekspresikannya di rumah, di depan bapak, ibu, dan kakaknya. Di sekolah, di depan teman-temannya, tumpahlah perasaannya.

Malam itu, ketika bapak dan ibu pergi, saya, Yoga, dan Fatma menonton TV bersama. Kami menggelar tikar dan tidur di depan TV bertiga. Yoga, yang berada di tengah, di antara saya dan Fatma, masih asyik menonton TV, saat saya dan Fatma tertidur. Entah, tiba-tiba, saat mata saya terpejam, saya merasa ada yang menatap saya lekat sekali. Spontan, saya pun tersadar oleh tatapan itu. Ketika saya membuka mata, saya memergoki Yoga sedang menatap saya sedari tadi saya tidur. Dia pun langsung sibuk, pura-pura mengalihkan pandangannya. “Kenapa, Ga? Ayo tidur, sudah malam!” kata saya. Yoga pun menuruti perkataan saya dan buru-buru menutup matanya. Dalam hati, saya hanya berkata, “Tenang, Ga, mbak Hety masih di sini tiga bulan lagi bareng Yoga!”

Selamat tidur, Yoga!

1 comment
  1. haha. baca tulisanmu tentang Yoga jadi inget dulu pas saya di Karimun mbak. Dulu kami juga tinggal bareng anak si empu rumah, namanya Ilham. Bedanya, Ilham nuakal minta ampun. haha. Sampe sepatu temenku ada yang dikencingin. Tapi, pas kami udah pulang ke Jawa, dianya nangis sejadi-jadinya. ga mau kami pulang. Konon, karna ada kami lah, dia mau solat magrib di mejid tiap sore. bahahaha. Anak-anak tetap anak-anak, dengan sgala polahnya yang kadang tak terduga.😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: