Mata Dunia

Suatu ketika, seorang teman pernah berkata kepada saya, “Het, kamu kalau pake jilbab tuh warnanya selalu yang ngejreng-ngejreng ya?”. Mendengar pernyataan yang separuh pertanyaan itu, saya hanya menjawab dengan tersenyum memamerkan sederetan gigi, “Hehe..”.

Het, aku suka kalau kamu pake celana kremmu itu. Modis abis, “ kata seseorang kepada saya. Saya pun membalas pujiannya dengan tersenyum. Hidung saya kembang-kempis bangga.

Wah, Hety tumben-tumbenan pake rok segala. Kemana celananya, Het?,” kata teman saya pada suatu kesempatan. Ternyata, antara meledek dan bertanya itu beda tipis ya. Saya tidak tahu dia meledek atau bertanya kepada saya, sehingga saya hanya meringis saja. Saya merasa tak perlu membalasnya dengan kata-kata.

Sejak kejadian itu dan beberapa kejadian yang mengikutinya, saya menjadi ‘agak’ risih dan menambah jatah bercermin menjadi beberapa menit. “Gila!” batin saya, “Tak disangka, mereka memperhatikan saya. Padahal siapa saya? Ah, hanya manusia tak penting!”. Lagi-lagi, saya pun menatap tajam manusia dalam cermin, “Siapa mereka ya? Bisa-bisanya mereka berkata seperti itu. Memangnya mereka pengamat fashion?”.

Kejadian seperti itu mungkin tidak hanya menimpa saya saja, tetapi juga orang lain. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba ada orang berkomentar mengenai penampilan kita. Sebenarnya, masih banyak hal-hal yang dapat mereka pandang dengan kedua panca indranya. Tetapi entah mengapa mereka lebih suka memandang apa yang kita kenakan. Baju, sepatu, gelang, kalung, pin, jilbab, gaya rambut, dan sebagainya. Menanggapi hal itu, kita, sebagai seseorang yang dipandang menunjukkan reaksi yang bermacam-macam. Ada yang langsung merasa down, tidak percaya diri, malu, tapi ada juga lho yang tetap cuek bebek seolah tidak terjadi apa-apa.

Yuk, kita renungkan sejenak. Kadang, kita memakai baju atau berpenampilan sesuka hati kita. Kita suka, kita merasa cocok, ya kita pakai. Tapi ingat, karena kita makhluk sosial, hidup di tengah-tengah orang lain, tidak hanya satu pasang mata saja yang akan memandang kita. Semua orang yang berinteraksi dengan kita pasti memandang apa yang kita pakai. Semua orang di dunia, ekstreemnya, mata dunia. Selain itu, ada pula seperangkat peraturan sosial atau norma yang berlaku di sana. Sehingga, apa yang kita pakai tidak dapat kita lepaskan dari penilaian orang lain terhadap diri kita.

Okay, ada yang pernah berkata, ‘be your self’ atau ‘jadilah dirimu sendiri’. Tapi tetap saja ya, kita harus pandai-pandai menempatkan diri kita. Jangan sampai kita memakai apa yang kita suka tetapi kita menjadi dijauhi orang lain karena ketidaknyamanan yang ditimbulkannya. So, that’s why i called this story, mata dunia.

Empat Tipe Mata Dunia, Kita dan Mereka

Pertanyaan : “Het, kamu kalau pake jilbab tuh warnanya selalu yang ngejreng-ngejreng ya?”.
Jawab : “Hehe, tapi tetep cantik kan?”
(Meminta persetujuan)

Pertanyaan : “Het, aku suka kalau kamu pake celana kremmu itu. Modis abis!“
Jawab : “Iya nih, aku juga suka modelnya!”
(Suka sama suka)

Pertanyaan : “Wah, Hety tumben-tumbenan pake rok segala. Kemana celananya, Het?”
Jawab : “Iseng aja. Kenapa? Aneh ya?”
(Mencoba sesuatu yang baru)

Pertanyaan : “Duh, Het, pake rok hari ini. Kok kayak apa gitu ya, aku ngelihatnya?”
Jawab : “Iya nih, belum ada yang kering celanaku. Aku juga ngrasa aneh, pinjam celanamu, ada?”
(Ketidakpedean)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: