Suatu Sore Bersama Yaya

Bertemu Yaya sore itu seperti mimpi. Saya memang belum pernah mengenal Yaya sebelumnya, walaupun sudah hampir delapan bulan saya menjadi guru di sini. Pertemuan kami sungguh tidak disengaja. Sore itu, di persimpangan jalan, saat sedang berjalan menuju sekolah, saya melihat seorang anak perempuan dan adik kecil laki-lakinya sedang asik menangkap capung di antara pepohonan.

“Bu Hety!” sapa anak perempuan itu tanpa malu-malu memanggil saya.
“Hallo. Tak ngajia, bekna?,” tanya saya tanpa menyebutkan nama si anak. Bukan tanpa alasan saya bertanya mengapa anak perempuan itu tidak berangkat mengaji. Di kampung saya, melihat anak-anak bermain pukul tiga sore memang sungguh pemandangan yang ajaib. Di kampung saya, pukul satu siang, sepulang sekolah, anak-anak harus berangkat mengaji di Diniyah (MDU). Mereka baru pulang kembali ke rumah pukul lima sore.

Bukannya menjawab pertanyaan yang saya ajukan, anak perempuan itu justru heran mendengar saya berbahasa Bawean dengannya, “Oh, ibu sudah bisa bahasa Bawean, ya?”.
Sambil tersenyum geli melihat ekspresi keheranan anak perempuan itu, saya pun berbahasa Bawean lagi kepadanya. Yah, sedikit unjuk gigilah, “Apae kapola bekna? Tak ngajia Diniyah?” (Artinya: Apa yang sedang kamu lakukan? Tidak berangkat mengaji di Diniyah?).

Puas mendengar saya berbahasa Bawean, anak perempuan itu pun baru menjawab pertanyaan yang sedari tadi saya ajukan, “Tidak, Bu. Tidak berangkat ngaji. Ibu mau kemana?”

“Ke sekolah. Noro’a bekna?” jawab saya singkat sekaligus menawarinya kalau ingin ikut ke sekolah.

Jawabannya, sungguh tak saya duga, “Noro’a, Bu, ke sekolah!” Dia mengiyakan ajakan saya. Dia ingin ikut saya ke sekolah.

Jadilah sore itu, saya ditemani oleh anak perempuan yang baru saya kenal di jalan, berjalan santai menuju sekolah.

Sekolah masih sepi ketika saya datang. Anak-anak yang akan saya beri les Matematika juga belum datang. Sambil menunggu, saya dan anak perempuan itu duduk di atas pondasi bangunan yang katanya dulu akan dibangun ruang kelas baru dan ruang perpustakaan. Tapi apa boleh buat, janji tinggallah janji, rumput keburu meninggi. Anak-anak lebih senang menduduki pondasi itu.

Olala, rupanya, anak perempuan itu bernama Nur Hayati. Di rumah, ayahnya memanggilnya Yati. Di sekolah, teman-temannya memanggilnya Yaya. Ketika ditanya dia ingin saya memanggil apa? Dia hanya menjawab, “Terserah ibu saja.”

Yaya, begitu akhirnya saya memanggilnya. Ketika saya bertanya soal cita-cita, Yaya hanya menjawab singkat sambil tersipu malu, “Tak tahu, Bu.” Setelah saya rayu, akhirnya Yaya mengaku juga. Cita-cita Yaya sederhana, dia ingin layar ke Surabaya untuk melihat pemandangan di sana dan menjadi dokter untuk adik-adiknya. Dengan polos, dia pun bercerita sering diolok-olok temannya karena bercita-cita ingin layar ke Surabaya. “Kenapa ya, Bu? Tidak salah kan ya, Bu?”. “Tidak ada yang salah dengan cita-cita, Yaya. Gantungkan cita-citamu setinggi langit,” jawab saya menenangkannya.

Obrolan kami mengalir seperti air. Dari pengakuan Yaya, saya baru tahu kalau hari itu dia belum makan nasi sejak hari Senin (saya bertemu Yaya hari Kamis). Hanya jajanan dan makanan-makanan ringan yang masuk ke perutnya. Begitu pula alasan mengapa dia masih memakai seragam sekolah saat bermain menangkap capung bersama adik laki-lakinya. Yaya juga bercerita tentang keluarganya. Di rumah, Yaya diasuh oleh nenek dan ayahnya. Ibunya sedang berada di Sangkapura (ibukota kecamatan). Adiknya dua, laki-laki semua. Dengan polos, Yaya bercerita tentang hal yang ditakutinya, apalagi kalau bukan hantu. Ketika di rumah sendiri, setelah mandi sore, Yaya pun sampai ketakutan untuk mengambil handuk. Saking takutnya, Yaya sudah berusaha untuk membaca doa agar dijauhkan dari godaan setan, tapi tetap saja, ketakutannya tak mereda. Saya pun terpingkal mendengarnya. Agar imbang, saya berbagi cerita juga dengan Yaya. Saya katakan bahwa saya takut dengan kucing. Kali ini, Yaya yang tertawa sejadi-jadinya, “Hahaha, di rumah saya banyak kucing, Bu. Kucing di rumah saya panggilannya cing cing cing.”

Seru sekali sore itu. Seru dan lucu. Berbicara dengan Yaya benar-benar seperti sedang belajar bahasa Indonesia dengan ejaan yang disempurnakan (EyD). Pemilihan kata-katanya baku sekali, mirip teks percakapan di buku pelajaran bahasa Indonesia. Tapi saya salut. Yaya terlihat berusaha keras untuk tetap konsisten berbahasa Indonesia. Mungkin dia takut saya tidak mengerti apa yang dia katakan jika berbahasa Bawean.

“Bu, kemarin, ibu tidak dengar, ya? Saya memanggil-manggil ibu lho?” tanya Yaya tiba-tiba.
“Oh, ya? Ibu tidak dengar mungkin,” jawab saya.
“Tidak. Ibu dengar kok. Ibu berkata ‘hallo’. Maaf ya, Bu, sebenarnya saya ingin memberi ibu sesuatu kemarin,” celoteh Yaya.
“Lho, memberi apa?” tanya saya penasaran.
“Bunga mawar untuk ibu Hety. Tapi karena ibu keburu pergi, ya sudah, saya buang, deh,” celoteh Yaya lagi, “Tapi besok, saya akan berikan lagi kejutan untuk bu Hety.”
“Apa, Ya?” tanya saya.
“Ada aja, “ jawab Yaya penuh arti.

Sampai saya menulis cerita ini, Yaya sudah tiga kali mampir ke rumah. Dia senang sekali ketika saya mempersilakannya meminjam buku di ‘perpustakaan mini’ saya di rumah. Tidak hanya satu yang dia baca, tapi dua. Sore ini, Yaya kembali mengeluarkan permintaan iseng yang mengejutkan saya, “Bu, saya minta fotonya untuk kenang-kenangan, ya?”. Saya pun hanya tertawa mendengar permintaan Yaya.

Yaya, oh Yaya. Yaya termasuk anak yang pemberani di antara teman-temannya yang lain. Yaya tidak pernah malu untuk bertanya atau sekedar mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Kepolosannya bersatu dengan rasa keingintahuannya yang besar. Lihat saja ketika Yaya berusaha keras berbicara dengan bahasa Indonesia dengan saya, gurunya. Mungkin Yaya tidak ingin saya bingung jika dia berbicara dengan bahasa Bawean.

Sebagai guru, saya selalu mengapresiasi apa yang dilakukan oleh murid saya. Saya ingin membangun komunikasi yang baik antara seorang murid dengan gurunya. Ketika Yaya bercerita, saya pancing Yaya dengan berbagai pertanyaan, dari hal-hal kecil sekalipun. Tujuannya, agar Yaya dapat terus bercerita. Kita, orang dewasa, tidak boleh menertawakan apa yang diucapkan oleh anak-anak. Justru kepolosan anak-anak itu adalah salah satu wujud kejujuran yang nyata. Selain itu, kita bisa menjadi pendengar yang baik bagi murid-murid kita. Sehingga, murid-murid kita merasa dihargai keberadaannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: