Raksasa di antara Si Mungil

Kalau sekolah sedang sepi (sepi artinya tidak ada guru yang datang), saya sering ‘mampir’ ke kelas satu untuk mengintip apa yang sedang dilakukan oleh anak-anak itu. Melihat saya datang, biasanya mereka langsung tersipu malu, sambil berkata, “Bu Hety, Bu Hety… .“

Sekian bulan saya berada di Bawean, anak-anak itu masih saja menganggap saya tidak mengerti bahasa Bawean. Sejadi-jadinya saya geli sendiri. Bayangkan, ketika saya bertanya kepada salah satu di antara mereka, biasanya mereka langsung spontan menjawab pertanyaan saya dengan bahasa Bawean. Temannya yang lain pun langsung saling menyenggol siku dan berkata, “Ibunya tak ngerti,” dengan logat Bawean yang khas. Saya pun hanya tersenyum, merasa lucu. Andai anak-anak itu tahu kalau ibu gurunya sudah paham bahasa Bawean.

Bagi saya, anak-anak kelas satu itu istimewa. Mereka senang sekali ketika saya menggoreskan angka 100 di buku tulisnya. Duh, senangnya bukan main. Selain itu, mereka senang sekali ketika berhasil berdekatan dengan saya. Asal tahu saja ya, kursi dan meja guru di ruang kelas satu memang berukuran sama dengan yang dipakai oleh murid-muridnya, mini. Maka, ketika saya duduk di sana, biasanya mereka langsung mengerubungi saya. Saya dengan ukuran tubuh yang sedemikian rupa serasa menjadi raksasa di antara anak-anak kecil itu. Rasanya? Jangan ditanya. Merasa unik, lucu, seru, dan ada saja aliran ajaib yang pasti membuat saya bahagia dan bersyukur duduk di antara mereka. Ah, kelas satu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: