Dayang

Dayang. Seumur-umur saya mendengar dayang hanya dua kali. Pertama, di sebuah dongeng yang saya temukan di buku bahasa Indonesia SD. Saat itu, guru saya tidak henti-hentinya mengulang dongeng itu di kelas. Namanya Dayang Ipu. Kedua, setelah saya agak besar dan mengenal cerita rakyat. Tersebutlah sebuah tokoh bernama Dayang Sumbi pada cerita legenda Tangkuban Perahu.

Setelah itu sudah, hanya sampai di situ. Tapi, sampai saya duduk di bangku SMA, nama Dayang menjadi bagian dalam hari-hari saya. Ya, begitulah. Bagaimana tidak? Dia adalah sahabat saya.

Saya tak bisa melupakan sore itu. Sore di rumah Dayang. Sore terakhir sebelum esok hari Dayang meninggalkan Jogja dalam waktu yang lama. Kami duduk berdua di ‘lincak’ (kursi dari bambu). Pandangan kami lurus liar ke depan. Menatap jalan raya yang penuh kendaraan bermesin dan beroda.

Kami berdua sama-sama tak menyangka, inilah perjalanan hidup. Dulu, dengan seragam putih biru SMA 1 yang khas, kami sering bercanda, sekarang kami berdua sama-sama menatap masa depan sebagai dua orang dewasa. Tiba-tiba, kami tertawa. Seorang bapak paruh baya sedang jogging sore melintas tepat di hadapan kami. Kami pun baru sadar kalau kami sempat membisu, tak berkata. Haha. Mungkin pikiran kami sama. Bagaimana tidak tertawa, saya dan Dayang memang kompak dalam hal diet, menguruskan berat badan, dan sebagainya. Kebisuan sore itu, akhirnya pecah hanya gara-gara bapak paruh baya yang jogging sore dihadapan saya dan Dayang.

Semakin hari, semakin lama, saya dan Dayang makin apa adanya. Kami terbuka mengungkapkan apa yang ada. Perasaan, sakit hati, kegalauan. Bahkan, saya pernah lho mengurai air mata saat makan bersama Dayang di warung mie ayam! Nasihat-nasihat dari Dayang pun mengalir panjang seperti mie ayam yang sedang kita makan.

Sore itu, sejadi-jadinya, saya benar-benar tampil apa adanya di depan Dayang, tak dandan. Jilbab segitiga yang saya kaitkan sedemikian rupa, kaos oblong hitam, jaket angkatan IPS saat SMA, jeans, dan tak lupa sandal jepit. Merasa konyol dan ‘tidak Hety banget’, saya minta maaf kepada Dayang. Bukan maksud saya, menganggap hari pertemuan terakhir ini tidak spesial. Dayang pun tertawa. Sahabat itu bukan ‘fashion police’. Apapun bajumu, kamu tetap sahabatku.

Kami pun saling bercerita. Mengingat jaman SMA dan betapa, betapa perjalanan panjang ini sampai kami kini duduk berdua sebagai dua orang dewasa. Kegelisahan, kegalauan, ketakutan, kebanggaan, kebahagiaan, mengalir dari mulut kami berdua. Entah, kehidupan macam apa yang akan menyapa kami di masa datang.

Day, sore itu, kita duduk bersama sebagai dua puluh tiga. Beberapa bulan dari sekarang, angka itu akan berubah. Kita akan sama-sama dua puluh empat. Bulan April yang menjanjikan banyak harapan untuk ke depan akan datang, semoga. Tetap tabah, tetap semangat, baik-baik ya di sana.

Your beloved friend, Hety.

2 comments
    • Hety A. Nurcahyarini said:

      hahaha, yg alay-alay begini yang bikin kangen :”)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: