Jogja, Aku Kembali

(Tulisan ini telat. Telat sekali. Tapi saya tak peduli).

Setelah delapan bulan, akhirnya, “Jogja, Jogja, Jogja!” jerit hati saya kegirangan yang hanya diwakilkan oleh raut sumringah di wajah saya. Minggu, 25 Desember 2011, untuk pertama kalinya setelah delapan bulan, saya menginjakkan kaki di Jogja. Maaf ya kalau saya terlalu antusias, ini kepergian terlama saya.

Sisa-sisa gerimis menyambut kedatangan saya di bandara. Dimana-mana basah. Udara malam yang dingin kompak dengan aroma segar yang khas setelah hujan. Bandara ramai malam itu. Saya sedang kurang beruntung karena tak mendapatkan trolley untuk mengangkut carier dan satu tas mahaberat yang berisi buah tangan dari tetangga di Bawean. Ngomong-ngomong soal buah tangan, saya jadi ingat kejadian satu hari sebelum saya meninggalkan Bawean.

Karena kamar saya sedang mirip kapal pecah, saya memutuskan untuk meletakkan tas merah segiempat saya di depan kamar. Saya bermaksud merapikan kamar sebelum kepergian saya ke Jogja. Kasur saya gulung. Buku-buku saya rapikan di kardus. Baju-baju saya lipat rapi. Keesokharinya, betapa terkejutnya saya ketika melihat isi tas itu yang bertambah. Ada kerupuk, ada keripik, ada beras, ada gula jawa (orang bawean lebih senang menyebutnya gula merah), dan lain-lain. Pokoknya, saya bisa membuat warung nasi goreng berjalan karena semua bahan sudah ada di tas saya, tinggal modal pengggorengan saja hehe. Para tetangga saya benar-benar ‘lempar oleh-oleh sembunyi tangan’. Saya pun hanya bisa mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada mereka sambil tersenyum semanis mungkin.

Oh ya, kembali lagi ke Jogja. Saya benar-benar merindukan Jogja setelah sekian lama. Tagline kota Jogja yang khas ‘Yogyakarta berhati nyaman’ memang bener-bener saya buktikan. Tidak hanya yang bagus-bagus, tetapi juga kesemrawutan kota Jogja pun saya rindukan. Kedatangan saya ke Jogja memang bertepatan dengan liburan akhir tahun. Tapi saya tak peduli. Saya menikmati terjebak macet di daerah Patuk, daerah bakpia yang diburu wisatawan. Saya menikmati terjebak kemacetan di daerah Malioboro. Saya menikmati kepadatan Pasar Beringharjo. Saya menikmati kepadatan Taman Pintar. Saya menikmati, saya menikmati, saya menikmati… JOGJA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: