Celoteh Bocah: Bunga Desa VS Bunga Bangkai

Hari ini, saya dan murid-murid saya belajar bahasa Indonesia mengenai ‘Makna Konotasi’ dan ‘Makna Denotasi’. Saya mengajak mereka untuk membandingkan kalimat bersama, seperti ‘Isla menanam bunga di halaman’, ‘Ani menjadi bunga desa’, ‘Meja itu berwarna hijau’, Penjahat itu diajukan ke meja hijau’, ‘Mahmud memakai celana hitam, dan ‘Kakaknya terjerumus ke dunia hitam’. Saya pun bertanya, “Mana yang makna konotasi? Mana yang makna denotasi?” Sebelum mereka menjawab, mereka pasti bertanya terlebih dahulu mengenai artinya. Inul pun mengangkat tangan dan bertanya dengan logat Baweaannya yang khas, “Bu, bunga desa apa, Bu?” Saya pun menjawab, “Bunga desa itu orang yang tercantik, paling terkenal, Nul.” “Ooo, begitu. Berarti kalau orang yang paling jelek namanya bunga bangkai, ya, Bu. Dia menjadi bunga bangkai di desanya hahaha… ,” komentar Inul bangga sambil tertawa terbahak-bahak karena merasa telah berhasil menemukan makna konotasi bikinannya sendiri. Saya pun melongo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: