Cinta, Ini Soal Rasa

Lagi-lagi ini tentang cinta. Memang cinta itu diciptakan dari apa? Besi baja anti karat? Campuran tepung terigu, kuning telur, dan gula? Atau jangan-jangan hanya dari sejumput garam dan sesendok merica? Pahit menggigit, pedas menyengat. Hmm…

Saya menulis ini dengan tersenyum pahit atas pengalaman kecut saya. Eh sebaliknya, tersenyum kecut atas pengalaman pahit saya. Walaupun itu pengalaman pahit, saya tak henti-hentinya mengucap syukur, karena dari sanalah saya bisa belajar merasakan.

Bagi saya, cinta adalah belajar merasakan. Ya, belajar merasakan sayang, belajar merasakan peduli, belajar merasakan berkasih-kasih, belajar merasakan benci, belajar merasakan curiga, belajar merasakan sebal, belajar merasakan sakit hati, belajar merasakan makan hati, dan lain-lain. Hmm, rumit juga ya? Saya pernah lho, dikritik teman saya habis-habisan karena saya menganggap bahwa, “Tidak masalah kamu rasional atau tidak rasional tentang cinta, selama kamu merasa nyaman dengan itu, why not?”. Tentu saja dengan sejuta rasa yang saya sebutkan di atas, kalau kamu merasa nyaman, sekali lagi saya ucapkan, “Why not?”.

(Pernah) ketika saya jatuh cinta dengan seorang laki-laki, semangat saya semangat baja. Saya bisa melakukan hal apapun di sekeliling saya dengan semangat ’45. Ekstreemnya, saya luar biasa produktif. Tapi, tidak bisa dipungkiri juga sih, ketika saya patah hati, saya seperti ikan koi yang kehabisan air di akuarium. Saya lemah.

Walaupun lemah dan pasti terluka karena patah hati, hebatnya saya tetap bisa belajar. Saya bisa belajar bagaimana seharusnya menjadi perempuan pintar agar tidak melulu dipermainkan laki-laki, saya bisa belajar bagaimana seorang perempuan harus bersikap, dan yang lebih saya suka adalah referensi patah hati saya menjadi bertambah. Referensi patah hati? Maksudnya? Ya. Jadi, kalau sewaktu-waktu saya patah hati lagi, saya harus bisa bangkit lebih cepat dari sebelumnya. Istilah kerennya, ‘tahap recovery’ saya lebih cepat karena saya sudah memiliki catatan medis patah hati tersendiri hehe.

Lain halnya dengan ini. Saya pernah dibuat sengsara oleh seorang laki-laki di luar sana. Emosi dan kondisi psikis saya kacau. Tapi saya masih cinta dia. Teman-teman saya banyak yang protes. Menurut mereka, laki-laki itu sudah tidak pantas ‘nangkring’ di hati saya. Jadi, selayaknya saya harus mengusir dia jauh-jauh dari kehidupan saya, segera!

Karena saya penurut, lambat laun saya bisa melupakan laki-laki itu. Teman-teman saya pun bersorak. Tapi siapa yang menduga, saya dan laki-laki itu kembali lagi bersama?

Di situlah saya kembali lagi belajar. Kalau urusan perasaan itu adalah urusan saya dengan orang yang saya rasakan. Walaupun teman-teman saya itu baik, mampu menguatkan saya ketika saya menderita, toh saya lagi yang menentukan perasaan saya.

Sampai saat ini, saya tidak takut akan menderita karena irasional atau rasional dengan cinta. Bagi saya semua itu tantangan tersendiri. Saya siap menangis dan terkekekeh-kekeh sendiri, karena bagi saya cinta adalah belajar merasakan.

setelah merasakan berikan senyuman


Cinta: atas nama rasa asin, pahit, asam, dan manis yang bikin ketagihan. Mari belajar merasakan J.
P.S. Saya menulis ini dengan status single happy, ‘free’ dalam segala sudut pandang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: