Dulu Tapi Sekarang

Dulu, ada orang yang pernah bilang sama kamu, ”Feel lucky aja bisa bareng ma kamu lagi”. Tapi sekarang, dia menghindar karena baginya, kamu adalah kutukan.

Dulu, ada orang yang pernah bilang sama kamu, ”Aku mau kemana aja en apa aja mau asal sama kamu”. Tapi sekarang, dia paling anti deket-deket sama kamu.

Dulu ada orang yang pernah bilang sama kamu, “Enggak ada yang mudah, harus optimis, enggak mau menyiakan-nyiakan semua ini”. Tapi sekarang, dia menjadi sebegitu pesimisnya kayak napasnya tinggal separuh.

Siapa salah berubah? Haruskah dulu, dia harus diambil sumpahnya sebelum berkata-kata seperti itu?

Siapa salah percaya? Jadi, semua itu bohong atau kenyataan yang sudah lama berlalu?

Kata teman saya, tidak ada yang harus disalahkan. Dulu memang dia seperti itu. Itu memang benar. Itu semua kenyataan. Itu juga bukan suatu rekayasa atau kebohongan karena memang itulah yang dia rasakan pada saat itu (saya garis bawahi, pada saat itu). Enggak ada yang salah satu pun di dunia ini kalau sekarang dia berubah. Terima saja kenyataan. That’s all.

Yah, saya pikir mungkin ada benarnya juga. Dulu, memang itu yang dia rasakan. Tapi sekarang? Ya, inilah yang dia rasakan sekarang. Ini hanya soal waktu.

Mungkin saja, dulu dia berkata-kata terlalu dalam tanpa memikirkan dampaknya. Sampai membekas. Sampai orang yang diajak bicara percaya. Sampai orang yang diajak bicara gila. Tapi seperti kata teman saya tadi, semuanya sudah berlalu. Tugas bagi saya sekarang adalah membersihkan bekas kata-kata itu.

Kata-Katanya Seperti Ditulis dengan Tinta
Bagi saya, semua kata-katanya yang terucap seperti sudah tertulis dengan tinta pulpen. Tugas berat bagi saya untuk menghilangkannya. Tinta pulpen kalah dengan tipe-X. Jadi, saya harus menghapus kata-kata itu dengan tipe-X. Tapi masalahnya, di manakah saya dapat menemukan tipe-X yang ampuh? Masih menjadi misteri bagi saya sampai saat ini..

Kesimpulan Berharga
Lewat tulisan ini, saya hanya belajar atau kalian, yang membaca tulisan ini, bisa turut belajar. Kadang, kita tidak sadar dalam mengucapkan kata-kata. Semua tampak meluncur deras begitu saja dari bibir kita. Jika memang tidak, sebaiknya jangan. Jangan mengumbar kebohongan karena semua itu bukan jawaban. Berkatalah sesuai apa yang mampu kita lakukan. Kalau tidak, sudah tahu kan ending-nya? Menyakitkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: