Pada Sebuah Tambal Ban

Numpang curhat! Ini sebenarnya kejadian yang menimpa saya di awal tahun 2011 yang lalu. Tak terasa ya. sekarang sudah di penghujung tahun tahun 2011. So, ini hanya sedikit nostalgia.

Kejutan pertama yang saya terima di awal tahun 2011 adalah ban motor saya bocor.

Kejutan itu tepat setelah saya bangun tidur di rumah eyang saya pukul 5 pagi, hari Sabtu, tanggal 1 Januari 2011. Oke, setelah berkemas dan pamit kepada ‘keluarga besar’ (saya memang merayakan tahun baru di rumah eyang bersama saudara sepupu saya dari yang masih SD sampai yang kuliah, komplet!), saya siap menerima kenyataan yaitu: harus menuntun motor saya ini ke tambal ban terdekat. Sepupu saya bilang dengan santainya, tambal ban terdekat berjarak 1,5 km. “1,5 km, oh my God?!” batin saya.

Sepanjang jalan menuntun motor, saya berusaha ‘terlihat’ riang walaupun sebenarnya saya merasa otot lengan dan kaki saya tertarik semua. Ugh! Separuh bersyukur karena sukses ‘pembakaran kalori’ dadakan, di sisi lain saya mengutuk sandal wedges kesayangan saya. Bentuk sol sandalnya yang tinggi membuat saya harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menuntun motor.

Andai saja saya memakai sandai jepit pasti kaki saya tidak tersika seperti ini. Kenapa tadi tidak pinjam sandal jepit punya saudara saya ya? Ah! Bodohnya saya! Tidak terpikir sih. Duh gimana sih, katanya resolusi 2011 mau perbaikan diri? Duh, malah oon gini. Beragam kalimat menyalahkan dan pembelaan muncul dalam hati saya. Saya merasa di sidang oleh hati saya sendiri.

20 menit kemudian, di depan saya sudah ada sebuah warung yang menjual bensin, rokok, jasa pigura, dan tentu saya tambal ban! Kedatangan saya disambut senyuman penuh arti oleh seorang ibu sambil menyilakan saya duduk. Sepertinya si ibu sudah terbiasa menyambut tamunya yang ‘ngos-ngosan’ menuntun motor. Tanpa ba-bi-bu, saya langsung menyerahkan motor saya kepada si bapak pemilik bengkel yang keluar dari pintu kamarnya setelah dipanggil oleh si ibu pemilik senyum penuh arti tadi. Saya pun pasrah menunggu, duduk di sebuah bangku panjang yang agak oleng kaki-kakinya.

Tak jauh dari bangku panjang tempat saya duduk, ada seorang nenek yang duduk sendiri di sebuah kursi dan tampak sedang asik mengunyah sirih. Pandangannya selalu lurus ke depan, ke arah jalan yang tak sepi-sepinya dilalui kendaraan bermotor. Bising sih bagi saya, tapi ternyata si nenek tetap asik saja begitu. Kedatangan saya pun tak dihiraukannya, padahal saya sudah melempar senyum termanis saya yang sudah bercampur ‘ngos-ngosan’ menuntun motor. Sesekali si nenek hanya menolehkan pandangannya ke arah sekelompok bapak-bapak yang sedang menyelesaikan piguranya di sudut ruangan. Wajar saja sih, si nenek itu menoleh ke arah bapak-bapak itu, saya pun juga menoleh kok. Pemandangan sekelompok bapak-bapak itu ‘agak’ ajaib.

Dari sekelompok bapak-bapak yang sedang menyelesaikan piguranya itu, ada seorang bapak yang sedang berdendang sambil bermain gitar. Entah sekedar caper (cari perhatian) atau memang dia sedang menghibur bapak-bapak yang lain. Sense of music saya sama sekali tidak tergugah, jadi saya tidak berkomentar apakah si bapak lolos ke tahap berikutnya atau tidak, eh emang Indonesian Idol? Hehe, maksud saya, apakah suara si bapak bagus atau tidak. Habisnya saya geli sih. Hayoh tebak, si bapak bernyayi apa? Haha. Si bapak bernyanyi lagunya Gaby yang …. .

Gedubrak! :p

Lagunya terus saja berulang begitu saja, tiada henti. Empat puluh lima menit saya menunggu tambal ban berlalu ditemani oleh lagu Gaby ala si bapak. Anehnya, mendengar nyanyian si bapak, bukan perasaan saya yang terkenang-kenang kembali oleh masa lalu bersama mantan pacar saya (ups!), tetapi saya justru terkenang-kenang pada setiap momen ban motor saya bocor di jalan. Silakan anda boleh tertawa. Memang enggak matching sih, lagu cinta kok bisa mengingatkan momen ban motor saya bocor, tapi memang begitu adanya.

Bocor Pertama
Saya ingat persis, ban motor saya untuk pertama kalinya bocor di XXI jalan Solo. Ceritanya, saat itu saya habis nonton bersama teman-teman saya. Tak disangka-sangka, ketika akan keluar dari portal parkir, pas sekali ketika teman saya sudah naik ke boncengan langsung “Pessssssssst….”. Bannya kempes seketika. Teman saya yang lain, yang berada di belakang motor saya, kontan bilang, “Het, Het, banmu bocor tuh!”. Entah ada angin apa, si teman saya itu langsung sigap dan berujar lagi, “Het, tenang, di pojokan situ ada tambal ban kok, aku pernah, udah kamu nunggu di sini aja ya, sini motormu, aku aja yang bawa ke sana, kamu pake motorku dulu aja”. Saya dan teman yang saya boncengkan hanya melongo. Blas. Kami belum sempat berkata-kata. Seolah terhipnotis, saya menurut saja. Beberapa menit kemudian, teman saya sudah muncul dengan motor saya yang bannya sudah ‘normal’ lagi. Yippie! Senang sekali rasanya. (Thanks a lot darl, Rahma Lillahi Sativa  ).

Bocor Kedua
Ban motor saya bocor untuk kedua kalinya ya di bengkel ini. Ya, di sini, tempat tambal ban ini. Saat itu saya akan pergi dengan sepupu-sepupu saya ke acara Clothing Festival di UNY. Lucunya, ketika saya dan sepupu saya menyadari kalau ban motor saya bocor, pas sekali kami sedang berada di jalan di depan tambal ban ini. Tapi, saat itu tambal ban ini tampak biasa saja, tidak ada yang menarik perhatian saya. Dan tak disangka beberapa waktu kemudian, ban saya bocor lagi di sini. Olala!

Bocor Ketiga
Ban motor saya bocor untuk ketiga kalinya di pertigaan Jalan Jendral Sudirman. Setelah berhenti di lampu merah, saya pun memacu motor saya. Tapi tiba-tiba pas di depan Mc Donald, motor saya oleng. Pengendara di belakang saya macam-macam reaksinya. Ada yang mengklakson saya tanpa ampun, tetapi ada juga yang memperingatkan saya, “Mbak, bannya bocor!”. Dari tengah badan jalan, saya pun mencoba menepi dengan cara konvensional: menyalakan lampu reting dan melihat spion. Fiuh. Untung saja. Nyaris mati saya (haha lebay ya?) Hiyaaa.. Untungnya, di depan saya, tinggal menuntun beberapa meter sudah ada deretan tambal ban. Saya tinggal memilih. Yippie! Thanks God!

Bocor Keempat
Saya ingat, ban motor saya bocor untuk keempat kalinya persis pasca Indonesia menang 2-1 atas Malaysia. Kejadiaannya di dekat rumah saya, jam 10 malam, saat saya menemani papa jajan sate di jalan Wates. Baru beberapa meter keluar dari rumah, pas di tanjakan, langsung deh “Pessssssssst….”. “Dek, dek, turun dulu, bannya bocor,” kata papa saya. Untung saja ada tetangga saya yang bisa menambal ban. Akhirnya, saya dan papa menuntun motor dan berbalik arah ke arah tetangga saya. Sesampai di rumah tetangga saya yang jago menambal ban papa dengan polosnya berkata,”Dek pulang ya, ambil motor mama, papa tunggu di sini.” Akhirnya, jam 10 malam saya berjalan kaki sendirian pulang untuk mengambil motor mama di rumah dan menjemput papa yang sudah stand by di rumah tetangga saya.

Bocor Kelima
Kelima, ya di bengkel inilah ban motor saya bocor untuk kelima kalinya. Ditemani lagu Gaby ala si bapak tentunya haha. Nice moments to remember😀.

Selamat tahun baru 2012. Semoga ban motor saya tidak bocor di awal tahun!

1 comment
  1. theda said:

    Ahahahah jangan sampe bocor pas turun or naik gunung ya het..ga cuma ngos2an..semaput tar :p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: