Patah Hati #1

Edisi drama adu pinalti Indonesia vs Malaysia

Seperti biasa, perut saya langsung mual-mual seketika ketika melihat sesuatu yang memelas. Memelas? Ya, memelas. Memelas karena keadaan yang sudah tidak menguntungkan. Memelas penuh harap. Memelas agar keadaan bisa jadi lebih baik. Apa pun bisa menyebabkan saya seperti itu, termasuk melihat pertandingan sepak bola sekalipun.

Okay, saya akui, saya memang bukan fans nomer satu sepak bola. Saya bukan gibol alias gila bola. Jika seluruh penggemar bola di dunia diminta berbaris mengantri dan berhitung, mungkin saya berada di urutan ke sekian. Tapi entah mengapa ketika saya menonton pertandingan sepak bola di TV, saya benar-benar terbawa suasana. Apakah karena saya memang tipikal orang yang sensitif?

Cerita bermula ketika saya jatuh cinta dengan tim U-23 Indonesia di ajang Sea Games. Saya tidak pernah absen menonton pertandingannya, baik lewat TV di rumah atau lewat TV tetangga sekalipun. Jangan dikira tanpa aral melintang ya, selalu saja ada yang terjadi. Misalnya, tiba-tiba TV di rumah rewel, tiba-tiba listrik mati, dan bahkan yang paling ekstreem, tiba-tiba, tidak ada angin tidak ada hujan, saluran TV di rumah diacak. Kalau sudah begitu saya akan mengutukinya habis-habisan dan mencari TV tetangga yang bisa menyala dengan ‘benar’ sebagai pelarian.

Berada di grup A, grup yang didominasi oleh raksasa-raksasa sepak bola Asia Tenggara, ternyata bukan halangan. Kematangan tim U-23 Indonesia terbukti dengan keberhasilan mereka masuk ke final. Lawan yang semula disegani, Vietnam dan Thailand, berguguran. Walaupun Indonesia sempat kalah melawan Malaysia, ternyata lawan yang menunggu di final adalah Malaysia (lagi). Sepertinya, kedua negara serumpun ini memang ‘berjodoh’ di ajang sepak bola.

Malam itu, sepanjang pertandingan, saya merinding. Mulut saya tak henti-hentinya berkomentar dan perut saya mual-mual. Skor 1-1 yang tercipta justru semakin membuat perut saya bergejolak hebat. Saya harap-harap cemas, dua kali pertambahan waktu, hampa. Saya melas membayangkan adu pinalti untuk menentukan juara. Rasa-rasanya ingin menutup mata saja. Toh, mata saya juga sudah tidak bisa diajak kompromi. Saya mengantuk. Tapi karena saya terlanjur cinta, saya tidak mau melewatkan ‘big match’ ini. Saya paksakan untuk tetap membuka mata. Membuka mata melihat aksi kedua tim beradu pinalti. Eksekusi Tibo okay, Gunawan gagal, Egi okay, Abdul Rahman okay, Ferdinand gagal. Huwaaaaaa… Malam itu saya ingin berteriak sejadi-jadinya. Lemas. Akhirnya, kenyataan terberat yang harus saya terima adalah Indonesia kalah dalam drama adu pinalti dengan Malaysia. Oh!

Keesok harinya, saya bersyukur listrik di rumah mati. Dengan begitu saya tidak dapat melihat pemberitaan kekalahan Indonesia melawan Malaysia. Padahal sebelumnya, asal tahu saja, saya rela mandi pukul 5 pagi, agar saya dapat melihat berita dan infotainment sepak terjang tim U-23 Indonesia di ajang Sea Games. Maklum, media benar-benar mengekspos keberadaan tim U-23 Indonesia, lebih-lebih saat mereka berhasil memenangi beberapa pertandingan (hampir sama dengan nasib Gonzales ‘El Loco’, Irvan Bachdim, dan Bambang Pamungkas CS yang di-blow up media habis-habisan, sampai-sampai main sinetron segala). Bapak angkat saya, yang tidur sepanjang pertandingan, pun ikut-ikut berkomentar dengan polosnya, “Tadi malam Indonesia kalah ya, Het?”, “Berapa-berapa, Het?”, “Terus berarti kalah ya, Het?”. Belum lagi murid-murid saya yang bertanya sepanjang pelajaran, “Bu, Indonesia kalah ya?”. Teman saya juga tidak ketinggalan. Saat bertemu saya, dia langsung nyerocos tanpa dosa membahas pertandingan itu. Huwaaaaaa… tambah remuk hati saya.

Sudahlah, mungkin saya harus lebih tegar menerima kenyataan. Anggap saja, patah hati saya ini terjadi karena saya menaruh harapan terlalu besar pada Indonesia untuk memenangi pertandingan melawan Malaysia. Tapi saya tetap boleh bermimpi kan suatu saat Indonesia dapat mengalahkan Malaysia? Telak!

P.S.
Dear Tim U-23 Indonesia, kita hanya perlu bersabar ‘sedikit’ lagi, agar medali emas itu milik kita. Jangan sedih. Walau tak jadi juara, saya tetap cinta kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: