Yoga!

Yoga. Kenalkan, adik saya. Usia 6 tahun. Sekarang sedang senang-senangnya bermain, lebih-lebih tahun ini ketika dia secara resmi duduk di TK A. Katanya, dia senang sekali karena teman-temannya bertambah banyak. Saya hanya tertawa ketika dia mengatakannya beberapa hari yang lalu dengan bahasa Indonesia yang agak terbata-bata. Maklum, anak-anak di sini lebih fasih berbahasa Bawean daripada bahasa Indonesia.

Pada awalnya, memang ada jarak di antara saya dan Yoga. Mungkin karena saya masih terasa asing baginya. Tapi lambat laun, saya dan Yoga dekat. Kalau diingat, saya dan Yoga dekat karena nasi goreng, tahu tempe goreng tepung, tumis kangkung, telur dadar bawang, saos tomat, dan ‘pentol’ (sejenis bakso-baksoan dari ikan tongkol dan tepung kanji). Asal tahu saja, semua itu ‘ramuan’ ajaib a.k.a (as known as) masakan saya lho.

Hahaha. Mungkin ada yang tertawa membaca note ini. Silakan. Boleh percaya boleh tidak. Saya memang berhasil ‘mencuri’ hati Yoga dengan masakan yang saya masak di dapur ibu. Syukurlah, Yoga selalu suka. Saya selalu ingat saat-saat dia mencicipi masakan saya. Setelah gigitan pertama dan tertelan, dia akan mengatakan “Nyamaaaaaaan” dengan cengiran polosnya. Kalau sudah begitu, lega rasanya. Ibarat kuis, saya berhasil mendapatkan satu poin dan akan bersemangat menambah poin lagi dan lagi, dan lagi, dan lagi. Jadi rumusnya, saya makin dekat dengan Yoga karena akumulasi rasa sukanya terhadap masakan saya. Semakin Yoga suka masakan saya berarti dia makin suka saya hahaha. Catet!

Ada cerita lucu soal Yoga. Walau dia masih kecil untuk mengenal hitungan angka, dia sangat fasih dalam menghitung uang jajan. Uniknya lagi, setiap kali meminta uang jajan kepada ibu dan bapak, dia tidak mau jika diberi selembar uang Rp 2.000,00 dan uang receh Rp 500,00. Dia menolak. Dia hanya mau diberi jajan berupa uang seribuan yang bergambar Pattimura itu. Alasannya cukup singkat, dia tidak mau repot dengan uang kembalian. Ckckck.

Selain itu, Yoga punya istilah sendiri untuk menabung uangnya di celengan ayam. Dia mengatakan menabung itu ‘memberi makan ayam’. Suatu hari, saat ibu sedang menghitung uang Rp 100.000,00 dan Rp 50.000,00 dalam kondisi baru, Yoga berkata, “Ibuuu, cantik sekali uang-uang ini. Aku minta yang berwarna merah ya, Bu, untuk memberi makan ayamku. Kalau tidak boleh, aku minta yang berwarna biru saja”. Siapa yang tidak geli mendengar ucapan Yoga. Walaupun masih kecil, dia mampu berpikir unik yang membuat orang dewasa tertawa jika mendengarnya.

Yoga dan Rizky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: