“Het, Satnite Kamu Ngapain?”

*(‘Satnite’ means ‘Saturday night’, dalam bahasa Indonesia ‘Malam Minggu’)

Begitulah. Banyak yang bertanya. Rupanya banyak yang penasaran dengan kehidupan Malam Minggu saya di sini. “Malam Minggu di sana biasanya pada pergi kemana?”. Selanjutnya, itu adalah pertanyaan lain yang biasanya menyusul.

Saya tersenyum melihat antusiasme teman-teman menanyakan Malam Minggu saya di sini. Kalau boleh menengok ke belakang sebentar, biasanya Malam Minggu menjadi ajang pulang malam, kumpul-kumpul ber-haha hihi bersama teman-teman satu rumpian, atau malah menginap di rumah teman. Ritualnya biasanya didahului dengan makan bareng atau jalan-jalan. Mal, rumah makan, adalah incaran. Hari Senin sampai Sabtu adalah hari tebar-tebar janji kepada teman-teman. Beribu rencana pasti dikompromikan.

Sekarang? hehe. Saya tertawa sebentar sebelum mengetik kata selanjutnya. Sekarang? Tidak ada mall. Tidak ada rumah makan. Jadi apa yang saya lakukan? Saya di rumah. Saya hanya di rumah (dulu, saya tidak bangga mengatakan kalau Malam Minggu saya habis di rumah, tapi, sekarang, dengan bangga saya mengatakan, Malam Minggu saya habis di rumah #confession).

Malam Minggu, saya akan ada di rumah. Available. Saya akan siap di ruang tamu. Menyambut ‘malaikat-malaikat kecil’ saya untuk belajar membaca. Ba-bi-bu-be-bo. Ca-ci-cu-ce-co. Da-di-du-de-do. Fa-fi-fu-fe-fo. Ha-hi-hu-he-ho, dan seterusnya… . Sungguh, Malam Minggu yang istimewa. Saya belum pernah merasakan Malam Minggu yang seperti ini sebelumnya. Rumpian-rumpian bersama teman-teman berganti menjadi pengetahuan mengenai bentuk-bentuk huruf dan cara membacanya. Haha hihi bersama teman-teman berganti menjadi tawa ketika ‘malaikat-malaikat kecil’ saya berhasil membaca huruf demi huruf dalam sebuah kata.

“Lepang, Bu,” kata mereka kemudian. Itu adalah tanda kalau ‘malaikat-malaikat kecil’ saya sudah kelelahan. ‘Lepang’ adalah ‘capai’/’capek’ dalam bahasa Bawean. Kalau sudah begitu, mereka akan pamit untuk pulang.

Begitulah saya berkisah tentang Malam Minggu saya. Saya tidak peduli akan dicap sebagai anak tidak gaul, anak rumahan, anak kuper (kuper=kurang pergaulan) gara-gara Malam Minggu saya habis di rumah. Sekali lagi saya tidak peduli. Bagi saya, melihat ‘malaikat-malaikat kecil’ saya bisa membaca adalah suatu kebahagiaan tersendiri di Malam Minggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: