Ibu Guru dan Anaknya Sama-sama Lucu

27 Juli 2011

TKP: Ruang kelas 6 saat istirahat

Sampai pukul 09.20, kami sudah belajar IPA dan bahasa Inggris. Pukul 09.20 adalah waktu mereka istirahat. Sebelum istirahat, tepatnya pukul 08.45, kami belajar bahasa Inggris. Kami belajar huruf. Ya, belajar huruf dalam bahasa Inggris tentunya.

Awalnya, mereka tampak malu-malu untuk mengucapkan lafalnya. Mungkin lafal atau pengucapannya terdengar asing bagi mereka yang seumur hidup belum pernah keluar dari Pulau Bawean. Tapi, saya tegaskan, “Ayoooo… tidak usah malu-malu”.

Untuk mempermudah, saya menggunakan lagu ABC (baca: ei-bi-sie). Saya tahu anak-anak suka musik. Saya tahu di lingkungan rumah mereka, mereka lebih akrab dengan lagu-lagu dangdut koplo daripada lagu anak-anak yang ceria dan penuh suka cita. Jadi, saya bilang saja, “Ini lagu oleh-oleh Ibu dari Jakarta”.

“A B C D E F G H I J K L M N O P
Q R S T U and V W and X Y Z
Now you’ve heard my ABC
Tell me what you think of me…”

Lalu saya berkata, “Ayo tes suara, aaaaaa…” sambil kedua tangannya di samping mulut. Mereka pun serempak menirukan, “Aaaaaa…”. Dan kami pun bernyanyi bersama.

Nyanyian kami terhenti saat salah satu dari anak berkata dengan lantang di kelas, “Buuuk, istirahat”. (note: Sttt, jangan salah, mereka sangat terampil membaca jam istirahat dan peka dengan kata-kata istirahat). Saya pun melihat jam tangan dan ternyata jam masih menunjukkan pukul 09.15. “Ini lhoh, di jam tangan ibu masih menunjukkan pukul 09.15, “ kata saya sambil menunjukkan jam ke arah anak tadi. “oh iya ya bu,” jawab anak itu sambil menyengir polos.

Nah, sambil menunggu waktu istirahat, saya berniat menambah perbendaharaan lagu mereka dengan menyanyikan lagu jempol ala Pengajar Muda (diajarkan saat sesi Pramuka di Pelatihan). Saat saya nyanyikan lagu itu mereka berkata, “Buuuu, di TK pernah”. “Ah masak, coba bagaimana?” kata saya dengan nada menantang ingin pembuktian. Mereka pun bernyanyi, saya mengiringi, dan ada satu anak bernama Halil yang menirukan suara gendang. Entah ada angin apa, tawa saya tiba-tiba pecah, “Gyahahahahahahahaha.” Saya tertawa melihat kepolosan Halil beserta ekspresi mukanya yang dengan santainya menambahkan suara gendang saat kami semua menyanyikan lagu jempol. Anak-anak pun heran melihat saya yang tertawa lepas. Mereka pun tertawa sambil berkata, “Wah ibu, bisa tertawa seperti itu juga ya”. Mendengar kalimat itu, saya pun tertawa lagi. Tertawa tulus, tertawa lepas. Bukan tertawa karena lucu kali ini, melainkan tertawa bahagia. Hati saya bahagia ternyata anak-anak di kelas memperhatikan saya walau hanya beberapa menit, yaitu saat saya sedang tertawa.

1 comment
  1. kebahagian seorang pendidik adalah ketika bisa membuat anak didiknya menikmati pelajaran yang awalnya terasa sulit, jika aku ada di posisimu belum tentu aku bisa membuat mereka tersenyum bahagia #sayairi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: