Masih Relevankah Kartini menjadi Pahlawan?

Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menyampaikan latar belakang seorang Kartini dengan gagasan emansipasinya. Kita ketahui bersama bahwa Kartini lahir dan dibesarkan di golongan priyayi. Tentu saja pada waktu itu, kehidupan para priyayi dan keluarganya sangatlah berbeda dengan kehidupan rakyat jelata. Perempuan dari golongan priyayi tidak sama dengan perempuan yang berasal dari keluarga yang biasa saja/rakyat jelata. Yang menjadi persamaan di antara mereka adalah faktor biologis, yaitu mereka sama-sama dilahirkan sebagai seorang perempuan.

Dari sini, muncul pernyataan yang menarik, jangan-jangan gagasan emansipasi itu hanya berasal dari pemikiran perempuan dari golongan priyayi atas kaumnya (perempuan).

Pada waktu itu, perempuan yang aktif memperjuangkan haknya relatif sedikit. Sebenarnya, tidak hanya Kartini saja, ada di Bandung, dan di Padang. Sehingga, mereka lebih dapat disebut sebagai enlighten (pencerahan). Mereka memberikan pencerahan dan pemikiran-pemikiran baru yang sebelumnya sama sekali tidak tersentuh dan pada akhirnya dapat memperbaiki nasib kaum perempuan menjadi lebih baik.

Sampai sekarang, Kartini masih dapat kita sebut sebagai pahlawan. Semangat Kartini yang patut kita teladani adalah pemikrannya, bukan apa yang telah dilakukannya. Melalui pemikiran-pemikiran yang Kartini tulis kepada sahabatnya, Ny. Abandonen di Belanda, Kartini mencurahkan apa yang terjadi di lingkungannya. Sesungguhnya, perjuangan emansipasi dan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan di Indonesia tidak bisa dilakukan seperti pembrontakan kaum feminis radikal di Eropa yang menuntut revolusi.

Saya tidak setuju dengan pernyataan bahwa peringatan hari Kartini yang jatuh pada 21 April dengan lomba-lomba yang ‘berbau’ perempuan justru semakin mendomestikasi peran perempuan. Karena sesungguhnya, lomba-lomba yang diselenggarakan seperti lomba memakai kain, lomba memakai kebaya, lomba memasak, lomba memakai sanggul, lomba merias wajah, dan lain-lain, justru saya anggap sebagai cara untuk menghormati Kartini. Menghormati Kartini di sini berarti menghormati tradisi yang kita miliki. Ambil saja contoh lomba memakai sanggul dan kebaya, berarti kita menghormati tradisi Kartini yang pada waktu itu masih mengenakan kebaya dan sanggul. Tidak benar pernyataan bahwa lomba-lomba tersebut diselenggarakan namun justru semakin mendomestikasi perempuan. Menghormati Kartini sama artinya dengan menghormati tradisi.

Selamat Hari Kartini…
21 April 2011
😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: