Sweet Escape

Ini hari ketiga pelarian manis saya (jangan tanya saya kemana). Hahaha, sejak kapan pelarian itu manis? Toh, saya hanya meminjam kata itu dari kakak saya, vokalis No Doubt, Gwen Stefani.

Jujur ya, pelarian itu buruk. Karena buktinya, saya pernah dinasehati oleh teman-teman saya. Walau tidak dalam waktu yang bersamaan, mereka kompak berkata “Hety mau sampai kapan kamu lari, dihadepin dong.”

Bagaimana mau menghadapi? Saya masih kuat berlari kok (*sombong). Saya masih kuat berlari menjauhi masalah-masalah yang membuat saya sedih. Yah, walau akibatnya, tau sendiri. Saya tampak sangat tidak gentlewoman, chicken, dan serentetan sebutan lainnya yang artinya sama, yaitu saya tidak kuat menghadapi kenyataan.

Okay, kalau saya dilarang untuk melakukan pelarian diri, saya sudah menemukan gantinya. Saya akan sembunyi. “Yee, itu mah sama aja noooooon,” kata hati saya. “Emang gue pikirin,” jawab saya singkat, padat, dan jelas.

Sesekali saya begitu menikmati saat-saat berharga ini. The only one reason that makes me happy is saya benar-benar bisa jauh dari masalah yang membuat saya sedih.

Tapiiiiiiiiiiiiii… sesekali juga saya begitu takut bin kesepian. Bagaimana tidak??

Saya sendiri. Saya jadi merindukan teman-teman yang selalu membuat saya ber-haha hihi. Bagi saya, teman adalah harta berharga. Mereka tampak seperti baju, sepatu, dan tas. Jika pintar padu padan, mereka akan tampak sangat ‘matching’ dengan kita. Sure!

Saya diam. Saja jadi sesekali merindukan pekerjaan/aktivitas yang saya tinggalkan (‘sesekali’ lo, bukan ‘seringkali’, ‘sesekali’ means ‘rindu satu kali’). Saya juga merindukan teguran papa saya gara-gara hobi pergi-pergi saya yang enggak ketulungan, “Hety, mbok di rumah, kok tiap hari pergi?”

Walaupun satu alasan lawan dua alasan, bagi saya, yang menang tetap yang satu alasan., yaitu saya hanya benar-benar ingin jauh dari masalah yang membuat saya sedih. That’s all.

Tidak tahu juga sampai kapan saya akan terus begini. Sembunyi. Nasihat teman yang terakhir tercatat di otak saya adalah “Jangan segitunya, Het, dan bla bla bla bla bla bla… aku cuma kasih saran, tapi terserah kamu, pilih yang bikin dirimu nyaman.”

……….
She just sat there and did nothing.

She looked as if she was about to cry.

She seems to have her own world filled with her own sorrow.

She doesn’t seem to notice everyone around her.

Every time I see her, she seems like struggling to breathe the air as much as she can.

Like, she tries to gather her strength or something…

……….

Demikian curhat saya, do i look like so desperate enough?? ahaha!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: