“Selamat Hari Ibu”, eh “Selamat Hari Kebangkitan Perempuan”

(Tulisan saya kali ini (bagi beberapa orang), memang ‘mungkin’ agak kontroversial dalam hubungan ‘perperempuanan’ dan ‘perlaki-lakian’. Harap maklum, saya sedang sakit hati dan sisi ‘betina tangguh’ dalam diri saya sedang ‘On’ (sebenarnya, saya tidak perlu mencantumkan kata-kata ‘harap maklum’, tidak ada yang perlu dimaklumi, saya bangga menjadi perempuan, dan tentunya sebagai perempuan, saya berhak bersuara atas nama perempuan). Tapi sungguh, saya juga mendambakan perdamaian di sana).

Tanggal 22 Desember kemarin kalender di kamar saya tertulis “HARI IBU”. Apa benar Hari Ibu? Saya bertanya-tanya saja. Setelah saya cek, status Twitter, Facebook, dan Yahoo Messenger (YM) teman-teman saya juga tertulis begitu. Status mereka intinya, betapa mereka mencintai, memuja, dan menyayangi ibunya. Oh, wow! Tapi…. seiring bergantinya hari, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29 Desember, akhirnya hilang juga status teman-teman saya itu. Ah, sayang ya, Hari Ibu hanya satu kali dalam satu tahun.

Pikiran saya tentang Hari Ibu terus melayang-layang. Hmmm, tiba-tiba, ada hal yang menggelitik otak saya untuk berpikir, “Aneh enggak sih ketika orang-orang mengaku ‘sayang ibunya’ tapi di sisi lain, dia sering menyakiti perempuan?” Saking tergelitiknya otak saya untuk berpikir, saya bahkan tertarik untuk mengadakan riset kecil-kecilan mengenai apa makna Hari Ibu untuk para laki-laki yang (sering/sedang/pernah) menyakiti perempuan (banyak bukan laki-laki yang seperti itu? Ups! =P).

Hahaha. Ide gila itu muncul tiba-tiba dalam otak saya setelah saya melihat beberapa yah, let say ‘kesedihan’ atau ‘kemalangan’ begitu, yang dialami perempuan dalam sebuah kotak ajaib temuan si Mister J.L. Baird dan Mister C.F. Jenkins, bernama TV.

# Ibarat pidato, kalimat berikut adalah opening speech saya sebelum saya menulis sebuah ide gila yang berhasil menggelitik otak saya: “Dalam rangka Hari Ibu (walau sudah lewat beberapa hari) menurut saya, perempuan itu kuat, perempuan akan memiliki kekuatan baru, hasrat baru, harapan baru, kehidupan baru yang lebih baik tentunya, setelah disakiti laki-laki..

Okay, ada yang setuju dengan pendapat saya? Angkat tangan..

Cerita Pertama
Ada seorang perempuan, ibu-ibu begitulah, tinggal di sebuah desa. Dia adalah seorang pemetik bunga di kebun mawar milik tetangganya. Selain memetik, dia juga bersedia untuk menjualkan mawar-mawar yang sudah dipetik itu kepada seorang pengepul di pasar. Setiap hari, pasar bunga mawar itu hanya buka pukul 6 pagi sampai pukul 8 pagi. Padahal untuk sampai di pasar saja si ibu harus berjalan kaki meniti jalan setapak beraspal yang berliku. Mengingat jarak rumahnya dan pasar cukup jauh, tidak terbayang bagaimana si ibu berjalan… Diburu waktu, diburu uang, dan diburu kelelahan…

Itu belum cukup!! Sebenarnya si ibu sangat jauh lebih kuat. Saya trenyuh mendengarnya. Dia bercerita bahwa dia ditinggalkan suaminya ketika dia sedang mengandung anak ketiga (sampai anak ketiganya kini sudah besarpun, suaminya tak pernah kembali). Saat itu, dia sedih (saya yakin pasti lebih dari itu, yang dia rasakan). Dia juga tidak terbayang bagaimana dengan biaya persalinan, suaminya pergi begitu saja (saya ulangi lagi, dia tidak terbayang!!!).

Kata-kata si ibu selanjutnya yang membuat saya merinding, “Mau bagaimana lagi, ini memang berat, tapi saya harus menjalaninya, demi dua anak saya lainnya.

Sosok si ibu yang kuat, si ibu yang tabah, dan si ibu yang pantang menyerah sering membuat ketiga anak perempuannya menangis. Mereka sering merasa bersalah kepada ibu mereka jika mereka sedang ‘out of control’ meminta dibelikan ini dan itu. Mungkin bagi kita wajar, anak perempuan yang sedang tumbuh memang sedang senang-senangnya bermain masak-masakan, bermain boneka, dan tertawa bersama teman-temannya. Tetapi Salut!! Si anak sadar betul bagaimana si ibu banting tulang untuk menghidupi mereka. Si anak akan merasa bersalah jika dia merengek untuk dibelikan mainan. Si anak benar-benar meneladani sikap ibunya. Saya terharu.

Cerita Kedua
Ada seorang ibu beranak satu yang memutuskan untuk menjadi TKW di Arab Saudi. Baginya ini merupakan keputusan yang berat karena dia harus meninggalkan anaknya yang masih kecil dan suami tercintanya (saya tidak mengerti, apakah laki-laki yang terbukti tidak dapat memberikan nafkah bagi keluarganya lagi masih layak untuk dicintai. Ups!). Dua tahun berjalan, alangkah terkejutnya dia ketika kembali ke Indonesia. Suaminya menghamili sahabatnya sendiri.

Dalam kondisi seperti itu, keluarga besar si Ibu justru mengeluarkan ancaman. Dia tidak akan dianggap sebagai anak kandungnya lagi jika mengiyakan keinginan si suami untuk berpoligami. Walaupun saya hanya melihat dari kotak TV, saya bisa merasakan betapa beratnya masalah yang dihadapi si ibu. Dia menceritakan semuanya dan tidak sanggup untuk membendung air matanya (sesekali wawancara dihentikan sejenak, agar si ibu dapat menyeka air matanya).

Dalam ceritanya, akhirnya si ibu memutuskan untuk pergi dari desanya. Ia memutuskan untuk merantau bersama anaknya ke Jakarta dengan modal seadanya.

Kemudian, entahlah, ini semacam ‘stupid question’ atau bukan. Si reporter kemudian bertanya dengan polosnya, “Sebenarnya apa yang membuat ibu sedih seperti ini?

Nah, ini dia, jawaban si ibu, sungguh membuat hati saya ikut tercabik-cabik dan mengutuk berat tindakan suaminya. “Saya tidak menyangka suami saya tega berbuat seperti itu dengan sahabat saya sendiri. Padahal andai dia tahu, saya menjadi TKW di Arab Saudi itu setiap hari mempertaruhkan nyawa saya selama dua tahun. Bisa-bisanya dia membalas saya seperti ini…” Oh, God! Saya terbayang berita-berita di televisi tentang penyiksaan TKW. Brrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…

Mungkin si reporter yang kebetulan laki-laki ini turut merasa bersalah juga. Kemudian dia bertanya lagi sebagai usaha penebusan rasa bersalahnya (mungkin), “Lalu, apa yang membuat ibu kuat dan bertahan selama ini?

Si ibu menjawab, “Anak saya mas.” Si ibu kemudian memeluk anaknya dan meneteskan air mata. “Saya harus bekerja keras untuk anak saya. Saya tidak mau anak saya besok menderita seperti saya. Kalau besok saya meninggal, anak saya mau ikut dengan siapa? Yang terpenting sekarang, saya hidup dengan benar, saya tidak mau macam-macam, biar besok ketika saya meninggal saya bisa mempertanggung jawabkan semua.

Huwaaaa, pecah tangis dalam hati saya.

Entahlah. Laki-laki adalah si pembuat masalah dalam kehidupan perempuan. Hanya itu kesimpulan yang bisa saya ambil dalam dua ‘cerita kenyataan’ tadi. Saya yakin di luar sana masih banyak masalah yang dihadapi perempuan ‘hanya’ gara-gara laki-laki. Tapi bukankah perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki ya? (teringat filosofi Adam dan Hawa). Tapi mengapa seperti ini? Laki-laki yang ‘katanya’ kuat justru menyakiti perempuan yang ‘katanya’ lemah. Apakah dalam ‘kamus kemanusiaan’, kuat itu harus didefinisikan sebagi kuat karena dia ‘telah’ terbukti berhasil menyakiti yang lemah? Apakah kuat itu harus seperti itu? Sebagai perempuan saya sedih. Ya, sedih!

Oh, hello? Bagaimana kemudian dengan Hari Ibu? Apakah si suami yang telah menyakiti istrinya tadi tahu tentang Hari Ibu? Bukankah, ibu itu perempuan juga ya? Ah, ya ya ya. Lucu! Banyak orang mengaku “sayang ibu” tanggal 22 Desember kemarin, tetapi tetep saja dia menyakiti perempuan. Hey bukankah ibu itu perempuan juga ya??

Siapa sekarang yang terbukti pintar dan tidak pintar?
Siapa sekarang yang bodoh dan terbukti tidak bodoh?

Saya jadi teringat, ada teman yang pernah menasehati saya seperti ini, “Het, sebenernya cewek itu diciptakan lemah, diciptakan memerlukan tempat bergantung, tapi dalam kondisi sekarang yang seperti ini (bermasalah dengan laki-laki).. kita enggak bisa berharap dengannya (laki-laki).. So, mari kita (perempuan) bertahan…

Yes, absolutely!! Benar nesehat teman saya itu. Dalam dua ‘cerita kenyataan’ tadi juga ternyata si ibu BERTAHAN. Si Ibu KUAT walau sama-sama ditinggalkan suaminya (Suaminya: laki-laki yang dulu katanya mencintainya). Ah, saya jadi berpikir, betapa meruginya si suami itu. Coba lihat sekarang. Kalau dia menyadari ternyata sekarang istrinya adalah orang yang TERKUAT, TERBAIK, TERMULIA, TERSABAR, TERTABAH, dan TERHEBAT dalam merawat anak-anaknya di dunia ini, pasti si suami akan menyesal telah meninggalkan si istri. PASTI.

Selamat “Selamat Hari Ibu”, eh “Selamat Hari Kebangkitan Perempuan!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: