Perempuan Bisa Bertahan

Pada suatu siang, saya duduk-duduk di sofa dekat Front Office (FO) Fisipol UGM untuk menunggu teman. Kampus tampak sepi. Mungkin karena hari ini adalah hari terakhir ujian semester dan tentu saja pasti sudah ada sebagian ‘penduduk kampus’ yang pulang kampung. Saya sendirian saja di situ. Sesekali terdengar suara bapak-bapak dan ibu-ibu karyawan Fisipol yang bercanda ria, benar-benar tidak ada pekerjaan.

Lima belas menit berlalu. Tiba-tiba ada seorang perempuan yang turut duduk di sofa bersama saya. Dia tampak ‘agak’ sedikit repot dengan tas yang menempel dibahunya dan kertas-kertas dalam map yang ada di tangannya. Karena tidak ada kesibukan, saya pun iseng mengamati gerak-gerik perempuan itu.

Dari kertas-kertas dan map yang merepotkan si perempuan, saya tebak dia mahasiswa S2 yang baru saja bimbingan. Mungkin karena setengah panik tidak bisa merapikan kertas-kertas itu, dia memutuskan untuk duduk di sofa bersama saya.

Si perempuan itu peka ternyata. Si perempuan itu tahu ada yang mengamatinya. Saya pun mengeluarkan jurus andalan. Saya hanya tersenyum simpul tanpa dosa sedikitpun ketika dia balas menatap saya dan si perempuan pun kembali sibuk.

Dia kini memegang handphone dan meninggalkan kertas-kertas yang telah berhasil dia kemasi dalam tasnya. Dia pun berkata-kata. Saya pun mendengarnya. Tidak berdosa kan? Di ruang yang sesepi itu, jika ada yang berbicara pasti terdengar.

… Iya mas, kamu sekarang dimana?… Iya, tadi aku tuh baru bimbingan… Antri… Iya, tadi handphonenya tak matiin pas giliranku… Iya, bimbingannya tadi banyak… Iya, enggak, aku tuh di kampus… Dosennya tadi nyuruh aku ke kampus… Kampus yang lama itu lhoh… Ya, udah kalau enggak percaya, sekarang aku tuh di kampus… Tadi handphonenya aku matiin… Ya, udah sekarang gimana? Jadi enggak… Ya, kan motornya bisa dititipin… Kita bisa ketemu disana… Iya… Mas, kan nyampe sana duluan… Apa? Udah makan?… Lah, aku kan enggak tau tadi… Ya, udah, mas kan bisa nemenin aku makan aja, mas pesen minum aja… Iya… Yaudah… Jadi enggak?… Aku kan cuma nawarin mas… Tadi kan aku lagi bimbingan, jadi enggak bisa nerima telpon… Ya, udah, aku udah nawarin mas, kalau besok ngajak-ngajak lagi, aku enggak mau, mumpung aku bisa sekarang, besok-besok kalau aku enggak bisa nggak usah maksa, aku enggak mau… Ya, udah gimana? Kalau mas nyampe sana duluan, aku dipesenin duluan ya, hmm, apa ya….”

Hihi, naluri keisengan saya semakin tinggi. Saya tidak sabar menunggu, menu apa yang diucapkan oleh perempuan itu…

Tetapi tiba-tiba…

Dia tiba-tiba menutup handphone-nya dengan sebal. Saya tidak tau apa yang tepatnya terjadi. Saya hanya mendengar suara perempuan itu, sedangkan suara si laki-laki di ujung telepon sana tidak jelas, suaranya lebih mirip suara vuvuzela*, “ngeenggggggg“.

Dengan cepat perempuan tadi mengemasi semua barangnya. Agak kesal. Dan berlalu dari sofa begitu saja. Saya pun berbisik pelan, spontan, “perempuan bisa bertahan”. Ya, bertahan atas kertas-kertas yang sukar dikemas dalam map dan bertahan dari intimidasi si laki-laki di ujung telepon sana, hanya karena makan siang!!!

PI alias Pojok Ingatan:
*kalau sekarang kalian mencari “sofa dekat Front Office (FO) Fisipol UGM” dijamin, kalian tidak dapat menemukannya kembali. Tempat itu kini tinggal kenangan karena Fisipol UGM sedang renovasi gedung besar-besaran.
*Vuvuzela: masih ingat vuvuzela? Vuvuzela adalah alat musik tradisional Afrika Selatan yang turut menyemarakkan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan kemarin. Bunyinya yang melengking sering dianggap sebagai pengganggu jalannya permainan dan konsentrasi pemain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: