Pekerjaan=Beban???

Pernahkah kalian mendapat suatu pekerjaan dan kalian ingin muntah sejadi-jadinya? Entah karena tingkat kerumitannya, batas waktu pengumpulan alias deadline, format pengerjaan, tuntutan ini dan itu, dan lain-lain.

Pernah?
Okay, lanjutkan membaca tulisan ini.

Orang bijak akan selalu bilang, “Loves ur job”. Tapi, malam ini, saya mulai mempertanyakan kata-kata orang bijak itu. Bagaimana kita bisa mencintai sesuatu, kalau sesuatu itu cuma bikin kita stress dan tertekan?

Awal yang Baik, Akhir yang Buruk
Ibarat Film, ini bukan happy ending story. Ketika kita berniat untuk bekerja, pasti ada motivasi di belakangnya, entah uang, gelar, prestis, gengsi, dan lain-lain. Semua hal itu akhirnya membuat kita buta alias tidak bisa melihat, mungkin tuli juga. Kita lupa menanyakan dan memahami jobdesk pekerjaan kita. Komitmen, kontrak, loyalitas, langsung kita telan mentah-mentah. Kita terlalu berekspektasi terlalu tinggi, bak spekulan saham yang sudah handal. Dan bisa ditebak akhirnya, kita ‘dedel duel’ dibombardir pekerjaan kita.

Komedi Putar itu Berputar
Bagi saya, perumpamaan yang berputar itu tidak melulu roda. Hidup lebih mirip komedi putar di pasar malam. Semakin berputar, semakin pusing kita. Seperti hidup yang selalu kita keluhkan, “Duh, pusing aku!”. Mungkin ada saatnya pekerjaan dambaan kita itu sedang krisis, deadline di mana-mana. Tuntutan ini dan itu. Sampai-sampai kita merasa amat sangat tertekan. Tapi tenanglah seperti kata Ipang, “Lelah ini hanya sementara.” Pekerjaan itu ada kalanya juga dapat kita ‘jinakkan’.

Masalahnya, kapan pekerjaan itu menjadi monster deadline yang menakutkan, kapan pula pekerjaan itu hanya menjadi remote TV, tinggal ‘klik’, beres deh. It s ur choice, guys! Hihihi

Monster Stress:
– Saya pernah melihat ayah saya bergadang semalam suntuk berhari-hari ketika menyelesaikan laporan proyek kantornya. Benar-benar tidak bisa diganggu. Emosinya pun menjadi labil. Sedikit ada gangguan saja, ibarat kita menginjak ekor kucing. Grrrrrrrrr…. . Antara sedih dan bangga. Saat itu, saya hanya berpositif thinking, ayah saya pekerja keras. Tapi saya tetap bersedih hati karena asap rokok tak berhenti mengepul. Ya, bagi ayah saya, deadline, lembur, stress sama dengan rokok.
– Tetangga eyang saya mempunyai anak perempuan. Sudah memiliki anak dan mapan. Kata keluarga besar saya (eyang saya sendiri, papa, mama, om, tante) dia adalah perempuan cerdas. Walaupun bukan lulusan perguruan tinggi, pekerjaannya berhubungan dengan pengiriman barang dalam skala besar di pelabuhan, baik domestik maupun mancanegara. Dia sangat fasih dan akrab dengan istilah-istilah pengiriman barang di pelabuhan (saya kurang begitu paham, jadi saya tidak dapat menyebutkannya sebagai contoh =p). Dia pernah bercerita kepada mama, papa, dan saya, ketika stress dengan pekerjaannya, dia bisa mengalami gangguan pencernaan selama berhari-hari (BAB, maaf). Dan katanya itu sangat menyiksanya. Aku kasihan kepadanya. TT,

Oh, What a a life!
Sekali lagi, pekerjaan=beban???

2 comments
  1. dira said:

    Pekerjaan = Beban = Belajar = Bermain = Enjoy = Penyiksaan = Iseng2 daripada nganggur = menjalankan kewajiban menafkahi keluarga = tidak ada pilihan lain = pengembangan diri = jalanin aja lah..

    Hasilnya bisa macem2, tergantung siapa yang menghitung persamaan itu, hehe..

    Like

  2. yazid said:

    ada benarnya juga kalau pekerjaan menjadi sebuah beban hidup. namun, ketika sebuah pekerjaan itu dilakukan untuk/demi menghidupi diri sendiri dan keluarga yang dicintai, ‘mungkin’ gelar ‘beban’ akan sedikit terkikis :p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: