Kesetaraan Gender dan Warung Lotek

Tulisan ini bukan bermaksud untuk meng-under estimate para bapak-bapak atau laki-laki di luar sana, khususnya di kampung saya. Sungguh saya tidak bermaksud demikian. Di sini saya hanya ingin share atas kebanggaan hati saya melihat para laki-laki yang sudah mau tanggap dengan peran para perempuan.

Di kampung saya, ada ibu penjual lotek. Beberapa kali saya membeli lotek itu, si ibu selalu yang melayani saya. Bahkan, beberapa kali saya membeli lotek di sana, saya belum pernah melihat sang bapak, suami si ibu penjual lotek, menampakkan batang hidungnya. Sibuk mungkin.

Tetapi kejadian kemarin siang, benar-benar di luar dugaan saya. Untuk pertama kalinya, ketika saya ke sana untuk membeli lotek, saya melihat suami si ibu penjual lotek di warungnya. Sebenarnya, bukan kehadiran sang bapak yang membuat saya terkejut bukan main, melainkan apa yang sedang dilakukan sang bapak di warung lotek milik istrinya.

Taddaaaa… Beliau sedang menghaluskan bumbu dengan cobek alias sedang “melakukan” aktivitas dari tahapan membuat lotek. Setelah memesan sambil menahan senyum, saya duduk dan mengamati gerak-gerik sang bapak selama membuat lotek. Memang tidak seluwes dan segesit istrinya. Tapi yah lumayanlah untuk pelajaran kesetaraan gender di kampung saya hehe.

Pada menit selanjutnya, mungkin, karena sedari tadi saya hanya mengamati keadaan yang ganjil dan jarang saya saksikan, kemudian muncul rasa cemas pada diri saya. “Apakah lotek buatan sang bapak dapat seenak buatan si ibu?”

Hahaha. Maaf, maaf beribu maaf. Bukan maksud saya menyindir atau meng-under estimate lotek buatan sang bapak. Tapi bagaimana pun, lidah saya yang protes. Lidah saya mengirimkan sinyal negatif kepada otak dan hati saya, dan timbullah prasangka berlebihan itu. Pembelaan saya, ya karena saya terbiasa makan lotek buatan si ibu, bukan sang bapak.

Kecemasan saya akhirnya berakhir. Saya dapat bernapas lega, legaaaa sekali. Dari pintu dalam, si ibu tergopoh-gopok menghampiri ‘etalase tradisionalnya’ dan sang bapak pun mundur teratur, seakan tahu diri, pertunjukkan tunggalnya membuat lotek-yang membuat saya cemas bukan main-selesai sudah.

Si ibu akhirnya membuatkan lotek pesanan saya. Karena penasaran dengan apa yang akan dilakukan sang bapak selanjutnya, saya pun tetap mengamati gerak-gerik beliau. Dan, betapa terkejutnya saya. Sang bapak kembali lagi melakukan aksinya lagi yang benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan gender. Tau apa yang dilakukan beliau? Mengupas terong!

Bagi yang belum mengenal ‘Gender’:
Gender adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan yang terkait dengan aspek ruang, waktu, dan peristiwa. Gender lebih menunjuk kepada relasi dimana laki-laki dan perempuan saling berinteraksi, sehingga fokus kajiannya tidak melulu pada perempuan, tetapi juga peran laki-laki.

2 comments
  1. Cesty said:

    jadi ingat essay genpol yang belum bikin sama sekali😐

    Like

  2. ahfi said:

    hahahhaha. . . lumayan cerita ini
    tapi klo aku lebih suka terongnya g di kupas, langsung di potong kecil2 trus di goreng hemm nyam nyam. . .
    lanjutkan ceritanya het

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: