Snack Box Syndrome

'Si Kotak'Awal bulan yang lalu, saya sempat mengalami trauma dengan snack box yang berlogo salah satu toko kue terkenal di kota ini. Gara-gara trauma itu, saya jadi bisa mengenal karakter orang hehe. Ya begitulah, awalnya saya juga tidak percaya. Tapi siapa yang tahu, ternyata karakter orang dapat kita lihat hanya dari kotak snack atau yang lebih elite ‘snack box’. Percaya?

Hmm, ini bukan masalah ‘isi’ dari snack box itu. Isinya sudah jelas, saya percaya kue-kue itu bernutrisi tinggi dan ‘yummy’. Bukan pula masalah dengan ‘bahan-bahan’ yang digunakan untuk membuat kue itu. Saya percaya tepung terigunya dipilih yang berkualitas agar ketika dipanggang dalam oven, kue itu menjadi mengembang sempurna dan menggemaskan. Pada akhirnya, saya juga percaya kalau kue itu akan dinikmati oleh semua orang yang membelinya.

Kembali lagi pada cerita tentang trauma saya pada snack box. Trauma saya itu muncul ketika saya diberi snack box oleh teman saya. Setelah mengucap terima kasih pada si pemberi snack box, saya meletakkannya di meja sebelah, dekat dengan meja komputer saya. Beberapa waktu berlalu begitu saja tanpa saya menyentuh dan mencicipi kue-kue yang ada di dalam snack box itu. Bukannya tidak tertarik atau tidak lapar, saya hanya ingin mencicipi kue itu nanti saat waktu makan siang tiba.

Tiba-tiba, ada seseorang yang saya kenal tidak cukup akrab membuka snack box milik saya yang saya letakkan di sebelah meja saya tadi. Tidak main-main, dia langsung mencomot kue yang ada di dalam snack box itu, ‘sett’. Mungkin beberapa detik setelahnya, malaikat baru menyadarkannya bahwa kue beserta snack box itu bukan miliknya. Dengan muka ‘innocent’, dia baru menanyakan apakah kue dan snack box itu milik saya.

Yah, buat apa boleh, apa boleh buat. Sebagai manusia normal, melihat manusia lain telah memegang makanan dan tampak sangat menginginkannya, saya serta merta mempersilakan orang tadi untuk mengambil kue yang telah dia pegang tanpa permisi tadi. Bahkan, saya mempersilakannya untuk mengambil semua kue yang ada di dalam snack box itu. Tapi, pada akhirnya dia hanya mengambil satu kue dan mengatakan pujian terima kasih ‘basa-basi’ kepada saya, “Kamu kok baik sih?”. Dasar!, batin saya^^”.

Kejadian hari itu tidak akan saya anggap menarik sampai pada akhirnya kejadian itu berulang menimpa saya lagi untuk kedua kalinya. Tek, tek, tek, saya mendengar ada langkah kaki yang mendekati meja saya dan ‘set’, belum lagi saya menoleh untuk melihat siapa yang menghampiri meja saya, snack box di sebelah meja saya sudah ‘melayang’ diambil dan diamati isinya oleh seseorang yang mendekat tadi. Melihat moment yang tidak terduga itu, saya hanya dapat berucap sebijaksana mungkin,”Silakan, ambil saja kuenya.”

Bagaimana saya tidak mempersilakan dia untuk mengambil kue yang terdapat di dalam snack box tadi kalau saya melihat orang itu nampak sangat ingin dan sudah memegangnya pula. Tetapi anehnya, dia membatalkan niatnya untuk mengambil kue milik saya dan dia hanya mengambil kacang kering yang terbungkus rapi dalam plastik kecil. Wew! Ada apa gerangan? Saya hanya berprasangka kenapa orang ini tidak jadi mengambil kuenya, padahal, saya sebagai pemilik kue saja sudah mempersilakannya. Hmm, usut punya usut, setelah terlibat dalam pembicaraan beberapa menit dengannya, dia bercerita kalau dia sedang melakukan program pengurusan badan alias ‘diet’. Dia menganggap, jika dia memutuskan untuk makan kue saya tadi, dia takut kue itu mengandung banyak asupan kalori yang dapat membuatnya terlihat ‘semakin bulat’ alias ‘gendut’. Haduh!^^” Saya hanya dapat tersenyum simpul mendengarkan ceritanya. Rupanya dia sedang ‘diet’ sehingga dia hanya memilih ‘kacang’ dari pada ‘kue’ dari dalam snack box milik saya. Belum sempat saya memuji betapa besar tekadnya untuk melakukan ‘diet’, dia mengembalikan lagi bungkusan kacang yang dia ambil tadi setelah dimakan beberapa olehnya. Pada akhirnya, saya hanya terdiam sejenak dan geleng-geleng kepala melihat orang itu pergi meninggalkan ruangan saya.

Cerita saya ini bukan berarti saya tidak ikhlas-tulus hati memberi orang lain sekotak kue dengan menceritakannya kepada publik. Tidak berarti juga saya ingin memperpanjang masalah dengan orang-orang yang terlibat dalam cerita saya tadi. Toh, buktinya, saya masih menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang tadi. Saya hanya ingin berbagi dan sungguh pelajaran ‘sopan-santun’ yang menarik untuk kita semua, khususnya bagi saya. Cerita ini juga mengingatkan saya akan nasehat mama sejak saya balita bahwa, jangan sampai kita bertengkar hanya karena makanan!

Hahahaha, tahu tidak? Begitu mendengar cerita ini, teman saya hanya berkata santai, ‘Lain kali kalau punya makanan dimasukin tas aja, Het.” ^^”

**Gambar di atas adalah ‘Si Kotak’. Saya tidak dapat membayangkan jika snack box atau lunch box di masa depan bentuknya dibuat seperti ini. Pasti akan semakin mengundang perhatian orang, sampai-sampai orang itu mengambilnya dan ‘tidak sadar’ kalau itu bukan miliknya. Selanjutnya, akan banyak orang yang gondok seperti saya hehehe…^^”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: