Kalau Kerupuk Bisa Ngomong

Beberapa minggu yang lalu, saya sempat melihat tayangan Kick Andy di Metro TV. Walaupun itu tayangan kesukaan saya, sebenarnya saya tidak berencana sama sekali untuk menonton tayangan itu. Saya sedang “stay tune” di stasiun TV tetangga untuk melihat acara kesukaan saya yang yang lain, Take Me Out Indonesia (bayangkan, di saat-saat seperti ini, acara “kontak jodoh” tentu lebih menarik dibanding acara “bincang-bincang”^_^).

Hanya kebetulan ketika stasiun TV tetangga itu sedang iklan, saya mengganti-ganti channel TV, dan tad-daa… ternyata Kick Andy di Metro TV baru mulai (sepertinya saya bukan penggemar tayangan Kick Andy yang baik hehehe).

Karena terlanjur memencet remote dan channel TV sudah berganti, saya pun melanjutkan rasa penasaran saya mengenai topik yang diangkat pada malam itu.

Seperti biasa, acara Kick Andy yang dipandu Andy F. Noya itu membahas dan menghadirkan orang-orang pantang menyerah di negeri ini. Tidak peduli tua-muda, gaya hidup urban-jadul, bermuatan politis-apolitis, terkenal-tidak terkenal, sudah jadi “orang”/pejabat/birokrat/tokoh masyarakat-rakyat jelata, dan begitulah. Kadang, saking campur-campurnya acara ini, pemirsa yang menyaksikkan di studio bisa terharu menitikkan air mata sekaligus tertawa lepas melihat kepolosan sang tokoh yang dihadirkan di Kick Andy.

Kick Andy malam itu benar-benar membuat saya berpaling dari acara kesukaan saya yang lain, Take Me Out Indonesia. Saya benar-benar merasa “Wow” dan semakin membuat saya malu terhadap diri saya sendiri.

Malam itu, Kick Andy menghadirkan orang-orang dari kalangan biasa, bukan pejabat atau orang terkenal, tapi lebih dari itu, orang-orang yang bisa berbicara tentang hidup.

Mereka adalah para difabel dari berbagai profesi informal. Dengan segala keterbatasan yang ada, mereka bertahan hidup dan terus berusaha agar dapat hidup lebih layak di hari esok. Mereka pun sempat berujar, ”Prinsipnya, lebih baik bekerja daripada mengemis di jalan dan meminta-minta belas kasihan dari orang lain”.

Tokoh pertama adalah pengusaha kerupuk. Walaupun mengalami cacat fisik, beliau memasarkan sendiri kerupuk dagangannya dengan mengendarai sepeda motor keliling kota Jakarta. Cita-cita beliau sungguh mulia, jika besok perusahaan kerupuk miliknya sudah maju, beliau ingin mengajak para difabel lainnya untuk bekerja bersamanya. Tuhan memang adil, berkat usaha beliau dari nol dan semangat pantang menyerah untuk tetap bekerja keras, sampai kini dagangan kerupuk miliknya berkembang dan laris manis dipasarkan di warung-warung di pinggir kota Jakarta.

Tokoh kedua adalah pedagang kerupuk keliling yang tuna netra. Setiap hari, beliau berjalan kaki sambil memikul kerupuk berkeliling dari perkampungan sampai perumahan elite di Jakarta. Walaupun tidak dapat melihat, beliau sudah hapal betul rute jalan yang harus dilaluinya. Beliau juga tidak takut kalau-kalau ada orang yang berniat jahat dan menipunya.

Melihat tayangan itu, saya jadi merasa malu terhadap diri saya sendiri. Saya yang seperti ini saja masih hobi mengeluh ini-itu dan kadang lupa bahwa di luar sana masih banyak yang nasibnya tidak seberuntung kita.

Saya jadi berandai-andai, mungkin jika kerupuk-kerupuk yang didagangkan beliau-beliau itu dapat bicara, mereka pasti akan bercerita panjang lebar mengenai kehidupan ini. Setidaknya agar kita tahu betapa kerasnya kehidupan para pedagang kerupuk itu.

Kerupuk, oh kerupuk…

Saya pun membayangkan lagi, sering saya melihat para pedagang kerupuk yang berjalan kaki atau yang bersepeda sekalipun. Tidak main-main, tak terbayang rasanya membocengkan kotak almunium raksasa atau toples kerupuk raksasa. Atau yang pernah saya lihat di pasar, ibu-ibu penjual kerupuk. Duduk beralas tikar di samping kanan-kirinya ditemani dua plastik besar kerupuk.

Sebenarnya, tanpa harus diwawancarai di Kick Andy pun, seharusnya saya dapat memetik pelajaran berharga terhadap semua orang-orang yang pantang menyerah di negeri ini. Hffff…

Dan malam itu berakhir dengan saya tidak jadi menonton Take Me Out Indonesia…^^

1 comment
  1. hai het..tadi pas mau ngirim mesej ke kamu, liat link ini..hehe iya, emang lebih baik bekerja daripada minta belas kasihan orang..apalagi anak HI..kan prinsipnya “between aid and independent”..hakhak
    tukeran link yuk het..totallybela.wordpress.com

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: