Salah satu efek abis nonton adalah menulis. Ini tentang film Keluarga Cemara dan (sedikit) nostalgia cerita keluarga saya.

*

Sebagai generasi 90-an, televisi (TV) adalah sahabat saya. Apalagi hari Minggu. Kala itu, banyak sekali tayangan (terutama kartun!) yang bikin betah berlama-lama di depan TV, sampai jadi musuh mandi. Eh gimana maksudnya? Iya, pasti dapet komplain dari mama, “Hayoh, sana mandi dulu, jangan nonton TV terus!”

Pun jadi musuh mandi, ada kalanya juga, mama dan papa justru merekomendasikan beberapa acara TV yang ‘mendidik’. Eng, ‘mendidik’ versi mereka yaa… Sebut aja, sinetron ‘Si Doel Anak Sekolahan’ atau ‘Keluarga Cemara’. Hum hum, dua acara itu adalah acara favorit orang tua saya yang sebisa-bisanya mereka selalu mengajak saya dan Mbak nonton bareng.

Papa dan mama memang penggemar acara-acara TV ‘non-hedon’ alias ‘yang tidak menjual kemewahan’. Berulang kali, kalau ada kalimat atau ucapan pemain dari dua sinetron itu yang menurut mereka inspiring, kompak mereka berkata pada saya dan Mbak, “Tuh, dengerin!”. Saya sih manggut-manggut saja kala itu, tak banyak mengerti sebenarnya hehe.

Daaaaan … siapa sangka, setelah ‘Si Doel Anak Sekolahan’ (saya skip enggak nonton), giliran ‘Keluarga Cemara’ yang diangkat ke layar lebar tahun 2019 ini. Yeah, sejak tahun 2018, penonton udah diajak tak sabar menantikan lewat cuplikan video atau gambar nostalgia. Yes, cerita Keluarga Cemara memang hits pada masanya. Jadi, hanya lewat sepenggal lirik “Harta yang paling berharga adalah … ” saja orang sudah tahu pasti KELUARGA CEMARA!

Jalan cerita Keluarga Cemara versi bioskop kali ini enggak jauh beda sama di TV (cerita sebelumnya). Walau ada beberapa penyesuaian agar nampak ‘kekinian’ slash relevan dengan zaman sekarang. Misal, dari Abah yang tukang becak menjadi driver Gojek. Pun demikian, keluarga Cemara masih berusaha menggambarkan potret keluarga miskin yang bahagia, mampu hidup apa adanya, menerima cobaan dengan tabah, kreatif dengan keterbatasan, ikatan antaranggota keluarga yang kuat …, pokoknya yang serba positif, menurut saya. ‘Sempurna’!

Pas nonton di bioskop kemarin, sebenarnya, saya telat masuk studio sekian menit. Saat duduk, adegan sudah tentang Abah yang membagi-bagikan pesangon kepada para pekerjanya. Walau enggak mengikuti dari awal bagaimana Abah jatuh miskin, kalimat seorang pekerja, “Abah kan sedang ada masalah, kenapa masih ngasih uang ke kami?” cukup memberikan gambaran bahwa hidup Abah sedang berubah drastis dari semula kaya menjadi miskin.

Oh ya, dulu, saat saya kecil, yang saya tangkap dari cerita Keluarga Cemara adalah potret kemiskinan sebuah keluarga tukang becak yang dihadapi dengan riang. Semua sikap yang ditunjukkan keluarga Abah mirip dengan pelajaran PPKN yang diajarkan Ibu Guru di sekolah. Penuh keteladanan. Sekarang, setelah saya dewasa, di film, saya lebih melihat ke pentingnya pola asuh anak dalam sebuah keluarga. Bagi saya, konflik antara Abah dan Euis yang ditampilkan di (hampir) sepanjang film lebih kental daripada masalah kemiskinan yang harus mereka hadapi itu sendiri. Ibarat, dengan pola asuh yang benar, anak dapat tumbuh dengan baik dan ‘tahan banting’ dengan kondisi apapun. Enggak salah jika #KembalikeKeluarga jadi tagar promosi film ini di media sosial. Ya, keluarga memang penting, keluarga adalah pondasi utama, tempat berpulang juga.

Sayangnya, walau enggak secara substansi drastis mempengaruhi jalannya cerita, ada beberapa hal yang mengganggu saya sepanjang film. Setelah gambaran kondisi miskin yang telaten dibangun sejak awal film (ditipulah, jobless, makan dengan lauk seadanya, dll), keluarga Abah tetap digambarkan punya akses internet. Walau sempat diinfokan bahwa rumah Abah tidak bersinyal sehingga telepon harus diletakkan di atas pohon (detailnya: rumah pohon dan bahkan HP-nya dimasukkan dalam plastik), tetap saja agak janggal bagi saya.

Gambaran ini mengingatkan saya saat bertugas di sebuah pulau yang sama sekali tidak ada sinyal. Untuk mendapatkan sinyal, HP harus digantung di tempat dan ketinggian tertentu. Pun nanti ada sinyal (satu atau dua bar/strip) tetap saja tidak kuat untuk internetan, hanya sinyal telpon-sms saja. Jadi, visualisasi saya masih campur aduk saat melihat Euis bisa bebas mengakses internet di atas rumah pohon.

Yaaa sebenarnya, enggak salah juga sih miskin tapi bisa punya akses internet. Positive thinking. Bisa jadi di suatu negara, saking terjangkaunya internet, semua lapisan masyarakat dari level ekonomi manapun bisa mengakses. Selain itu, saya jadi ingat cerita teman saya, seorang peneliti, yang berkeliling Indonesia untuk kepentingan risetnya. Temuannya, bahwa semiskin-miskinnya orang Indonesia yang dia wawancarai, pasti punya HP. Serta, seorang teman yang bekerja di UNHCR, lembaga PBB khusus pengungsi, menyebutkan bahwa kebutuhan vital pengungsi di kamp pengungsi selain sandang, pangan, papan, juga akses internet! Tujuannya agar mereka bisa tetap mendapat akses informasi dan berkomunikasi.

Ah, maafkan kalau saya jadi terlalu detail. Saya hanya menyampaikan beberapa hal yang janggal membuat kening saya berkerut sesaat selama film berlangsung. Menarik ya, ada pergeseran sosial ekonomi, di mana ternyata akses internet atau pulsa sudah menjadi kebutuhan pokok saat ini. Lagian, dalam cerita, Si Abah kan jadi driver Gojek? Gimana ceritanya, driver Gojek tanpa akses internet? Heu heu.

Oh ya, nyinyir terakhir, soal soundtrack atau lagu yang diputar sesekali selama film. Lagu-lagunya menarik, sejenis lagu di film Petualangan Sherina (2000) yang mampu menambah kesan dramatis dan mengharu biru adegan. Sayangnya, menurut saya, karakter lagunya enggak begitu kuat dan kurang greget kalau mau disandingkan dengan lagu-lagu ‘Sahabat Kecil’-nya Ipang dan ‘Ku Bahagia’-nya Sherina di film Laskar Pelangi (2008). Padahal saya baru sadar, BCL yang menyanyikan salah satu lagunya.

Jadiiii … terlepas dari semua itu, menurut saya, tetep nontonlah! Nice to see yaaa jika kamu masuk generasi penonton sinetron Keluarga Cemara di TV. Itung-itung nostalgia dengan jalan cerita yang adem. Pun, film ini baru buat kamu, enggak apa-apa juga, ajak seluruh anggota keluarga untuk duduk manis dan menonton film ini bersama.

So, happy watching! Mumpung masih anget di bioskop.

*

Keluarga Cemara
Tanggal rilis: 3 Januari 2019 (Indonesia)
Skor IMDB: 8,2/10

Advertisements

‘Bumblebee’ adalah film bioskop pertama yang saya tonton setelah ‘puasa nonton’ empat bulan lamanya. Untungnya, saya enggak asing lagi dengan karakter robotnya karena pernah menemani sepupu-sepupu kecil saya nonton di TV kabel beberapa tahun lalu. Entah itu film ‘Transformers’ seri ke berapa.

Oh ya lupa, bagi yang belum tahu, ‘Bumblebee’ atau ‘B-127’ itu robot berwarna kuning yang merupakan bagian dari Autobot, di mana Autobot adalah bagian dari ‘keluarga besar’ Transformers yang dikisahkan hidup di planet Saibertron. Ada dua kelompok besar yang tinggal di planet itu yaitu Autobot (dipimpin oleh Optimus Prime) dan Decepticons (dipimpin oleh Megatron).

Maaf ya, di bagian ini saya mulai menyerah menjelaskan karena ada berbagai jenis robot Transformers yang bisa berubah menjadi mobil. Sepertinya, saya lebih hafal silsilah keluarga Mickey Mouse daripada nama-nama robot Transformers ini.

Dibuka dengan kondisi chaos akibat perang antarrobot, banyak efek yang membuat saya kaget dan menutup mata (yes, pemirsa, saya orangnya kagetan). Saya enggak siap dengan adegan pembuka yang seperti itu. Film mulai berjalan smooth ketika masuk adegan di bumi yang menampilkan kehidupan seorang remaja perempuan di California dan tentara Amerika yang lagi latihan perang di hutan tahun 1987. Jadul-jadul gimana gitu.

Kehidupan si remaja perempuan yang digambarkan tidak bahagia menjadi bumbu dalam film. Betapa dia sangat tersiksa dan belum bisa berdamai dengan keluarga barunya, setelah ayahnya meninggal. Rebellion, khas anak muda. Kondisi ini diperparah dengan teman-temannya yang rajin mem-bully sepanjang waktu karena kondisinya yang ‘berbeda’ dari pergaulan anak kebanyakan. Tidak punya mobil, kerja paruh waktu, dan asyik sendiri dengan kegiatan permontiran yang maskulin.

Jujur, 114 menit film ‘Bumblebee’ ini justru mengingatkan saya pada film Lindsay Lohan berjudul ‘Herby Fully Loaded’ (2005) dan film animasi ‘Baymax’ a.k.a ‘Big Hero 6’ (2014). Jika kamu pernah nonton dua film itu, berasa juga kan? Mirip-mirip! Menurut saya, banyak adegan yang wajar, maksudnya ya kalau ketemu robot ya memang seperti itu. Apalagi adegan ‘klasik’ saat tokoh utama di ujung rasa frustasinya justru menemukan mobil bekas di tumpukan rongsokan yang akhirnya menjadi …, eh no spoiler deng! :p

‘Kalau robot bisa ngomong’ memang bukan topik andalan yang dibahas di film robot kebanyakan. Maklumlah, ya. Karena di film-film robot, robot memang sudah diatur sedemikian rupa untuk bisa ngomong dan berinteraksi dengan manusia. Justru, yang menarik adalah bagaimana hubungan manusia dengan robot-robot itu menjadi sedemikian emosionalnya. Sadar nggak sih? Mau dibuat bagaimanapun alur cerita film robot-manusia, mereka enggak pernah mengingkari adanya perasaan. Ya, sebut aja film ‘Bicentennial Man’ (1999) dan ‘Wall-E’ (2008).

Kalau kamu punya contoh film lain, boleh …

Dari saling menemukan, asing enggak kenal, pelan-pelan mulai berkomunikasi, berpetualang bersama, saling berkorban, bonding yang kuat, dan tiba saatnya berpisah. Manusia yang tercipta dengan ‘rasa’ mampu mengekspresikan semuanya: sedih, marah, kecewa, bahagia. Robot? Walau terdiri dari mesin dan kabel, nyatanya robot juga bisa mengenali ‘perasaan’ yang ‘dibawa’ manusia. Ini seperti menepis anggapan bahwa di era digitaliasasi, di mana robot dan Artificial Intelligence (AI) mendominasi, dunia semakin bermental mesin dan ‘enggak ramah’. Topik ini pernah menjadi bahasan di kelas saya saat membahas Digitalisasi dan Demokrasi beberapa waktu lalu.

Selain hubungan manusia-robot, film ini juga sarat nilai keluarga. Saya geli sendiri dengan ‘drama’ antara ibu-anak yang mirip saya di masa lalu. Ibu yang enggak sabar mendengar apa maunya anak, dan anak yang cenderung ingin maunya dituruti. Belum lagi, ayah tiri yang berusaha menarik perhatian anak-anaknya demi keharmonisan keluarga. Terlepas dari ‘drama’ antara ibu-anak yang sengit dan seakan enggak berujung, ada kejadian manis di mana saat si anak lari dari rumah diam-diam, si anak tetap teringat pesan sang Ibu untuk selalu menomorsatukan keamanan saat berkendara dengan mengggunakan helm 🙂

Bagi saya, ‘Bublebee’ adalah film keluarga dengan pendekatan sci-fic, action, sekaligus adventure yang menarik. Walau bukan penggemar Transformers, film ini lumayan menghibur dengan cuplikan-cuplikan musik, dari up beat sampai slow, terutama saat Bumblebee mencoba berkomunikasi.

So, happy watching!

*

Bumblebee
Tanggal rilis: 19 Desember 2018 (Indonesia)
Skor IMDB:7,4/10
Rotten Tomatoes: 94%

Target Blogging tahun 2019. Kalau ada efek blink-blink, pengen deh saya tambahin, biar lebih dramatis haha.

Setelah cukup ambisius melewati tantangan 30 hari ngeblog bareng Blogger Perempuan, saya rasanya kayak abis race 12 kilometer. Ngos-ngosan haha! Maksudnya, saya jadi lebih gercep ngetik dari sebelumnya. Urusan alur dan struktur yang berantakan, saya tinggal, bisa di-edit kemudian, pas tulisannya udah jadi dan siap tayang.

Soal cerita yang mau dipilih juga. Walau kadang masih stuck enggak ada ide, sekarang jadi lebih aware sama apa yang terjadi sama diri saya. Bahwa semuanya bisa ditulis lho, mau cerita yang udah lalu atau sekadar berkhayal. Dan lagi-lagi, ngeblog jadi semacam healing buat saya. Saya bisa duduk, buka laptop, dan diam sesaat, menstrukturkan apa yang sudah dan sedang terjadi pada diri saya. Itu saya lakukan perhari. Rasa-rasanya, sebelumnya, saya tenggelam dalam rutinitas, kerja – main – pulang – tidur – dan tetiba udah kerja lagi. Bayangkan! Ini jadi semacam ‘me time‘ dan ajang refleksi diri lewat tulisan.

Kalau ada yang lucu, saya bisa tertawa sendiri. Kalau ada yang nekat, saya meng-gila-gilakan diri saya dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Kalau soal masa depan, saya jadi lebih tahu diri. Maksudnya, khayalan saya jadi SMART: Specific, Measureable, Attainable, Relevant, Time. Hahaha, udah kayak aturan main bikin goal setting yang diajarin para coach/fasilitator.

Good Luck!

Enggak banyak ba bi bu deh. Target blogging tahun 2019 saya adalah … JENG-JENG!
Nulis pengalaman traveling atau program yang pernah saya ikuti.”

Jujur, ada beberapa tuh yang belum sempat saya tulis dan saya suka menyesal karena belum sempat saya tulis. Misal, ke Kamboja, Paris, Austria, Hambrug, Jerman, Malaysia, hmmm … baik soal traveling atau program beasiswa/fellowship/youth exchange yang saya ikuti. Dengan apa yang saya dapatkan selama ini, saya pengen mewujudkan rasa syukur saya dengan menulis di blog. Harapannya, sharing pengalaman saya lewat blog bisa bermanfaat untuk orang lain.

Foto-foto yang ada di handphone atau laptop tuh banyak. Kalau lagi selow dan lihat-lihat, bisa terkenang-kenang sendiri. Bisa sih sebenarnya diunggah di Instagram, tapi apalah arti foto dan Instagram ya? Nulis di sana terbatas untuk caption semata. Toh, mayoritas orang juga lebih suka lihat gambar daripada baca caption. So, selagi saya masih mengamini kalimatnya Pram: “Menulis adalah pekerjaan keabadian“, saya akan bulatkan tekad untuk di blog.

Duar, duar, duar *efek kembang api.

Sah? Sah!!

Kalau pas buka Safari, biasanya langsung muncul dashboard dan ‘Frequently Visitedsection. Bisa jadi, kalau ada orang yang nebeng browsing bisa langsung mendeteksi apa aja situs yang sering kita buka. Kok berasa jadi aib ya? Hahaha. Tenang aja, selama yang kita browsing enggak neko-neko *kedip genit.

Pernah tuh suatu kali, ada temen nebeng browsing. Pas dia buka Safari. Klik. Muncullah logo-logo situs toko yang sering saya buka. Kebetulan, saya lagi cari suatu model baju. Sebelum dia komentar, saya udah nyengir duluan. Maksud kode, harap maklum dan enggak usah banyak protes :p.

Tapi enggak cuma laptop pribadi juga deng. Komputer atau laptop di kantor juga demikian. Saking banyaknya file online di GDrive, yang muncul di dashboard adalah logo-logo file yang selama ini kita pakai. Bukannya aib, kalau ini mah malah memudahkan karena jadi gampang diakses.

Sumber: Canva

Buat full time officer dan part time blogger kayak saya, berikut lima situs yang rajin saya kunjungi:

Gmail.com
Berhubung email kantor dan email pribadi ada di Gmail, jadilah Gmail adalah situs yang saya kunjungi setiap hari. Wajarlah ya, email kantor isinya kerjaan, email pribadi isinya kerjaan juga email dari teman atau kolega.

Yahoo.com
Sejarahnya, dulu, bikin email Yahoo karena bisa chatting-an pakai Yahoo Messenger (YM). Duh, ketahuan banget kan saya generasi tahun berapa? Walau YM kini udah punah, saya tetep setia pakai fasilitas emailnya. Sayang-sayang euy, saya ada beberapa grup di Yahoo Groups. Selain itu, saya pakai email di Yahoo untuk sesuatu yang nonpersonal dan cenderung ke langganan Newsletter.

Youtube.com
Berhubung saya adalah anak kos, Youtube adalah teman setia ahaha. Saya ada sih TV, tapi malas betul merangkainya, belum bonus kesetrum pasang antene. Kalau lagi pengen nonton TV, biasanya saya streaming aja. Tapi lagi-lagi ya, Youtube ini menawarkan segala. Termasuk, kalau saya mau cari film kartun/animasi. Nggak perlu deh nongkrongin jam tayang kayak nonton TV. Tinggal ketik video apa yang ingin kita tonton.

Merriam-Webster.com
Seperti yang tertulis di deskripsinya, situs ini adalah American’s most-trusted online dictionary. Kalau lagi mau cari penjelasan suatu kata, saya tinggal ketik dan pilih mau dijelaskan secara harfiah (dictionary/kamus) atau padanan katanya (Thesaurus). Ini membantu banget kalau kita lagi mau nulis bahasa Inggris.

dan yang terakhir … tadda … Canva!
hahaha. Sebagai orang yang awam tentang dunia perdesainan, Canva ini membantu banget untuk bikin desain. Tinggal pilih dah, mau desain apa, ukuran berapa. Hasil akhirnya selalu memuaskan! Itu bagi saya ya. Buat temen-teman yang jago desain, mereka berkomentar miring, “Pakai Canva, ya?” Disindir begitu, saya hanya mampu tersipu malu ehehe.

Apa situs yang sering kamu kunjungi? Tulis di kolom komentar ya!

Happy browsing!

Saya bohong banget kalau ngaku enggak doyan belanja. Saya suka belanja, terutama baju, rok, dan kerudung. Haha, dasar cewek ya! Tapi percayalah, belanja enggak memandang gender kok. Beberapa teman cowok juga doyan belanja, terutama barang elektronik. Ya, ya ya …

Munculnya berbagai toko maupun marketplace online menandai pesatnya dunia e-commerce di Indonesia. Sekarang, udah enggak zaman bingung mau beli baju di mana. Tinggal browsing aja di internet dan bakal nemu berbagai spesifikasi produk. Pun, dengan harga. Satu produk yang sama bisa punya harga yang berbeda di antara toko online. Tinggal konsumennya aja nih yang cerdas dan teliti sebelum membeli.

Saking gampangnya belanja online, ada yang bilang belanja online hanya untuk orang-orang yang malas atau mager. Ada benernya sih, karena sejak ada toko online, saya pun jadi enggak terlalu bernafsu untuk jalan-jalan atau belanja ke mall. Alih-alih menyoroti kemalasan, saya justru ingin menekankan pada kemudahan yang ditawarkan oleh belanja online. Cari – pilih – bandingkan – transfer – tunggu – barang datang. Lebih efektif kan?

Saking seringnya belanja online, saya sering enggak sadar sama kebiasaan baru ini. Tiap pulang ke Jogja dan nemenin mama jalan-jalan ke mall, mama heran saya enggak terlalu antusias masuk ke outlet satu ke outlet lainnya. Mama pun tanya ke kakak saya, mengapa saya demikian. Kakak saya pun dengan santai menjawab, “Hety udah kebanyakan belanja online Mam. Udah nggak minat dia. Di online lebih lengkap haha.” Mama pun hanya manggut-manggut dan sejak saat itu, tiap kali terdeteksi saya pakai baju baru, mama tanya, “Beli online ya, Dek?” Hwkwkwkwkwkw.

Tapi enggak seru nih kalau cuma cerita tentang belanja online tanpa menyebutkan tempat belanja online favorit. Siapa tahu kita bisa tukeran rekomendasi toko yaa ~

Cuss. Lima situs belanja favorit.

Hijabenka
Situs ini menjual baju-baju muslim, dari pakaian, bawahan, outer, kerudung, mukena, sepatu, dan lain-lain. Saya suka belanja di sini karena fashion item-nya lumayan update dan modelnya enggak pasaran. Beberapa kali beli baju di sini, teman saya selalu tanya, saya beli baju di mana. Soal harga, pantengin aja. Ada kalanya, situs ini menawarkan diskon khusus yang bikin harganya dari lurus jadi miring hihi.

Berrybenka
Induknya Hijabenka. Kalau Hijabenka menjual pakaian muslim, maka Berrybenka lebih umum. Testimoninya sama kayak yang saya berikan untuk Hijabenka karena mereka kayak adek-kakak. Saya juga sering belanja di sini.

*Baik Hijabenka atau Berrybenka punya packaging yang unik. Kalau ada momen khusus, box packagingnya didesain sedemikian rupa sehingga menarik dan bisa dipakai ulang.

Zalora
Situs ini menawarkan berbagai fashion item yang lengkap untuk laki-laki dan perempuan. Saya suka beli sepatu di sini karena pilihannya banyak banget. Saking banyaknya, situsnya juga memudahkan dengan metode filter. Jadi kalau males lihat banyak gambar, tinggal disortir aja sesuai keinginan kita. Misal, heels, 39, cream – enter, dan taddaaa … tinggal pilih deh.

Shopee
Walaupun Si Shoppee ini udah lama ada di dunia e-commerce, saya baru tergoda buat beli di sini tahun ini. Alasannya sederhana, saya agak bingung dengan sitem navigasi atau control panel websitenya. Banyak banget dan rawan tersesat. Berhubung, temen-temen kos saya sering belanja di sini, ketularanlah saya. Lebih-lebih ada godaan free ongkos kirim. Hmm, sedap! Alhamdulillah, pengalaman pertama beli di sini tidak mengecewakan. Jadi bisa repurchase! hihi

JD.ID
Punya pengalaman baik pas beli headphone Sony di JD.ID. Sesuai moto tokonya, produk yang saya dapat pun beneran ori dan packagingnya keren (baca: memenuhi standar pengiriman barang elektronik). Pengirimannya juga cepat. Pokoknya memuaskan! Saking memuaskannya, saya takut banget kalau mau buka situs ini. Saya takut enggak bisa berhenti belanja. Hadeh! (-_-)”

Kalau situs belanja favorit kamu apa? Tulis di kolom komen yaa ~

Saya kasih judul ‘Happy Five’ karena saya mau share hal-hal sederhana yang ternyata bisa bikin bahagia. Saya yakin setiap orang pasti punya standar bahagianya masing-masing. Standar orang satu dengan yang lainnya pun bisa berbeda. Jadi enggak boleh maksa ya!

Saya jadi inget ada karakter/cerita dari Amerika yang judulnya ‘Happiness is …’. Si pengarang berusaha memberikan definisi tentang kebahagiaan melalui gambar. Cek aja di Google atau Instagram. Di Instagram sendiri (sampai tulisan ini dibuat) sudah ada 4.648 post tentang ‘Happiness is …’. Contoh ya, ‘Happiness is going back home‘, ‘Happiness is finding the perfect shower temperature‘, ‘Happiness is singing alone‘. Nah, unik kan?

Sumber: Happiness is …(http://lastlemon.com)

Saya sendiri juga punya lima hal sederhana yang ternyata bikin saya bahagia alias ‘Happy Five’. Baca yuk, ‘Happy Five’ versi saya. Siapa tahu kita sama! ^^/

Satu. Jadi tukang foto
Siapa sih yang enggak seneng difoto dan hasilnya bagus? Rasanya, hampir semua orang suka difoto dan bakal pilih foto yang paling bagus buat diunggah ke media sosial. Saya pun juga demikian. Tapi ternyata ada yang lebih membahagiakan selain difoto, yaitu memfoto. Iya, jadi tukang fotonya! Saya baru sadar, setelah beberapa kali memfoto teman-teman saya. Enggak nyangka mereka excited banget dengan hasil jepretan saya. Pun hanya pakai handphone. Melihat mereka happy dengan hasil fotonya, saya pun ketularan happy juga :”)

Dua. Anak didik sukses
Huhu haha … It sounds sooo old and yeah, that’s me! Entah kenapa, selalu haru kalau lihat ada anak atau teman yang bisa meraih prestasi atau naik satu level dalam tangga kehidupannya. Rasanya, nyess banget. Bermula dari ngobrol sama anak magang, mereka tanya, kita jawab, dan voila! Mereka berhasil mencapainya. Eh, tapi bukan berarti saya pengen diekspos jasanya ya. Sama sekali enggak. Saya lebih suka jadi supporter yang menenangkan degup jantung mereka di balik layar ciee …

Tiga. Ngobrol sama orang random
Semakin hari, saya semakin sedih dengan segala bentuk prasangka. Bukankah lebih baik bertanya daripada berasumsi? Sebagai langkah kecil, saya selalu mengajak orang ngobrol. Obrolan pendek tapi paling enggak bisa membuka ruang interaksi. Petugas pintu bus Transjakarta, bapak penjual tisu, penjual ketoprak, tukang burjo, apapun deh. Pun lagi enggak jajan misalnya, minimal saya mengucapkan terima kasih kepada petugas pintu bus Transjakarta atau jika pas pesan ojek online, saya chat dengan ucapan salam pembuka dengan memanggil nama, misal, “Selamat pagi Bapak XXX, saya posisi sesuai peta ya Pak.” Buat orang tipe ekstrovert kayak saya, ternyata itu bikin happy.

Empat. Jalan-jalan atau nonton sendirian
Empat tahun yang lalu, saya pernah punya resolusi tahunan untuk ‘nonton bioskop sendiri’ dan akhirnya setelah berjuang meyakinkan diri sendiri, saya berhasil nonton bioskop sendiri haha. Film pertama yang saya tonton sendiri adalah ‘Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar’. Please, jangan diketawain ya. Dulu, saya paling nggak pede jalan sendiri, apalagi nonton sendiri. Sejak zaman sekolah, saya rela nahan lapar, daripada jajan di kantin sendirian. Entah ini, ekstrovert macam apa. Sampai empat tahun yang lalu, seorang teman mendorong saya agar lebih pede walau sendiri. Hasilnya, sejak saat itu, berani nonton sendiri dan bisa se-happy nonton rame-rame bareng teman. Terutama nonton kartun yaa ~. Soalnya ada teman saya yang ngantuk kalau saya ajak nonton kartun huhu.

Lima. Menjahit
Berbekal pelajaran PKK pas SMP, ternyata, saya bisa happy kalau lagi menjahit. Walau jahitan saya enggak rapi, suka terharu sendiri melihat kain bolong bisa menyatu kembali haha. Kalau lagi uring-uringan sendiri, saya pasti langsung cari baju-baju atau kaos kaki yang bolong buat dijahit. Aktivitas ini jadi semacam healing yang bisa bantu saya fokus, diam sejenak, dan happy lagi. Cuma satu orang yang geleng-geleng kepala sama kelakuan saya: Mama! Mama pasti komentar, “Ini pasti kamu jahit sendiri ya?” Dari nadanya, kayaknya pengen betulin jahitan saya yang enggak simetris semua hahaha. Memang sih jahitan saya nggak serapi jahitan mama yang pakai mesin jahit. Saya hanya mampu mesam-mesem :”).

Empat bulan di Jerman, kemarin, kulit saya alhamdulillah baik-baik saja. Untuk badan, saya jadi rajin pakai lotion. Sedangkan buat muka, saya jarang make up-an di sana. Malu! Saya enggak mau muka Asia saya ‘cemong’ sendirian. Hampir semua teman sekelas perempuan saya, semuanya polosan saat di kelas. Saya amati, kita baru ‘kompakan’ pakai make up kalau ada acara penting, seperti kunjungan ke lembaga atau gala dinner sama mitra.

Saking jarangnya ‘berwarna’ ya mata, pipi, bibir, pernah, sesekali saya pakai lipstik warna plum-nya Zoya. Teman saya spontan bilang, “Hey Hety, you look nice. Your lips! Keep it.” Dibilang begitu, hidung saya kembang-kempis :3 Lagi, saya pakai lipstik pink-nya Wardah. Teman saya lainnya langsung kepengen dan nanya-nanya tentang lipstik saya. Berasa jadi spoke-person-nya Wardah hahaha. Kayaknya lipstik brand lokal Indonesia laku nih di sini.

Sumber: Canva

Walaupun kesempatan studi kali ini adalah beasiswa, mental saya tetep anak kos Jakarta :p. Semua pengeluaran dicatat dan enggak mau foya-foya, dan nabung! Bahkan urusan make up pun, sebisa mungkin saya beli kalau udah abis aja. Pernah suatu kali saya naksir lipstik dari brand lokal di sini. Benar-benar ujian keimanan saya dipertaruhkan! Saya pilih buru-buru kabur dari toko itu. Daaaaag … (-.-)”

Buat yang lagi mau berangkat ke luar negeri, stay di sana, dan bingung mau bawa apa, ini contekan singkat dari saya. Saya pilihin lima produk aja ya. Sebenernya, saya cuma bawa make up yang biasa saya pakai di Indonesia. Standarlah ya, kayak pelembab, foundation, bedak, eyeliner, blush on, maskara, … Pokoknya yang simple! Prinsipnya, saya enggak mau ribet sendiri di negeri orang ehehe.

Oh ya, saya tinggal di Jerman dari bulan Agustus – Desember. Di bulan Agustus kemarin, Jerman masih menyisakan panas. Matahari baru tenggelam pukul 7 ke atas saking cerahnya. Tapi masuk November, langsung berubah drastis. Berangin-berangin dingin, hujan, dan akhirnya mendung-mendung kelabu. Jadilah, saya memutuskan untuk banyakin produk pelembab muka dan lipbalm biar kulitnya enggak kering.

Sariayu Martha Tilaar – Mawar – Natural Skin Moisturizer
Ini ringan banget di muka. Biasanya pakai ini setelah mandi.

Sariayu Martha Tilaar – Tinted Moisturizer – 01 Light
Favorit! Kalau mau pergi, setelah pakai Moisturizer yang mawar, saya baru pakai ini. Hasilnya matte, ringan, dan coverage-nya oke. Muka saya jadi enggak kering dan bye bedak! *Kalau ke acara malam hari, saya baru tambahin bedak.

Vaseline – Repairing Jelly (warna biru)
Favorit! Berperan ganda, bisa buat handcream sama lipbalm. Pas lagi berangin dan dingin-dinginnya, kulit saya jadi gampang banget kering walau udah pakai lotion setelah mandi. Perubahan yang paling kentara adalah di punggung tangan. Selain kering, jadi agak keriput. Jadilah, saya selalu bawa ini buat oles-oles tangan selama berkegiatan di luar dan manjur banget bikin kulit langsung lembab!

Maybeline – The Magnum Barbie
Please ya, walau namanya ‘magnum’ ini bukan ice cream. Krik. Walau cuma pakai Moisturizer dan Tinted Moisturizer, muka saya udah lembab dan enggak perlu bedakan lagi karena hasilnya matte banget. Jadilah, pakai Maybeline – The Magnum Barbie ini buat finishing touch. Biar enggak kelihatan muka bangun tidur haha

Sariayu Martha Tilaar – Facial Mask – Mawar
Naksir sama masker ini karena cocok untuk kulit normal kering, kayak jenis kulit saya. Bentuknya krim, jadi praktis tinggal oles-oles ke muka, setelah dibersihin. Masker jadi benda wajib yang saya bawa kalau traveling lebih dari seminggu karena bisa jadi ajang ‘me time‘. HeEh, salah satu me me time favorit saya adalah maskeran! hihi

Mungkin ada yang nanya, kenapa saya pilih Sariayu. Saya pilih Sariayu karena selama ini produknya ringan di muka saya. Dan lagi-lagi, saya enggak mau ribet jika suatu hari ada efek-efek yang ditimbulkannya. Beberapa produk foundation atau BB Cream dari beberapa brand, bikin kulit saya jadi ‘tebel’ alias berat. Bersihin mukanya jadi butuh usaha ekstra. Padahal pas di luar gitu lho … Mending waktunya buat jalan-jalan daripada bersihin muka. Yha kan? Lhoh!! :p

%d bloggers like this: