Agustus Yang Tiga Satu

Senin lagi, setelah delapan hari tidak melakukan ‘ritual’ berangkat setengah delapan ke kantor (penugasan ke daerah oleh kantor kadang membuat saya linglung sejenak menghadapi Jakarta).

Klik. Gembok pagar kosan berhasil terkunci. Membalikkan badan, kini beradu pandang dengan para tukang ojek konvensional (no GoJek, no Grabbike) yang meminta saya melambai tangan, tanda minta diantar. Sorry Pak, that is in your dream only.

Saya melangkah cepat, meniti gang-gang yang tersembunyi di balik punggung gedung-gedung perkantoran Sudirman. Pukul setengah delapan tapi matahari sudah tinggi. Apa semua bersuka cita melepas Agustus yang tiga satu ini?

Getir. Apa yang akan terjadi di penghujung Agustus? Tiga satu bukan angka yang cukup cantik di kalender. Sebagai angka terakhir (yang kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak), patutlah dia dicurigai. Hari ini Senin lagi. Lengkap sudah!

Memasuki kompleks Mayapada, hawa Senin sudah sangat terasa. Orang-orang kantoran itu cukup klimis dengan setelan abu putih atau hitam putih. Permainan warna penanda serius. Memang tidak cocok bercanda dengan hari Senin, katanya.

(Sejenak bersyukur, Mayapada bukan kantor saya. Saya hanya numpang lewat, membuat short cut untuk menuju jalan Raya Sudirman).

Delapan kurang lima. Memulai hari dengan bertemu Transjakarta gratis adalah anugerah. Klaim pribadi, bisa jadi ini hari saya. Lumayan untuk penghiburan nyali yang ciut menghadapi Senin, tiga satu pula.

Teman-teman di kantor menyadari kehadiran saya lagi. Senyum, sapa, peluk, dan pertanyaan-seperti, “Bagaimana Natuna?” seperti roda yang berputar tanpa henti, mengulang. Serba sama. Senang dengan sumringah mereka menyambut kita. Apalagi saat ada Kit Kat Green Tea oleh-oleh dari Batam. Senyuman mereka melebar dua centi.

Agustus yang tiga satu mulai berjalan. Audiensi dengan para mahasiswa magang, pembuatan laporan keuangan perjalanan, exit interview, berbagi cerita dengan teman-teman, makan siang bersama, farewell salah satu officer, perayaan ulang tahun officer, pembuatan surat pengantar, dan aktivitas kantoran lainnya yang sepertinya akan menyerupai job desc jika saya ceritakan di sini.

Ternyata, Agustus yang tiga satu tidak seseram yang saya bayangkan. Ini hanya ketakutan sesaat, mengingat, Agustus kali ini seperti lintasan maraton. Serba cepat. Pun menyeramkan, Agustus tiga satu juga memberikan kejutan. Kaktus tanaman saya yang tumbuh sehat, ulang tahun ketujuh blog, teman-teman yang menyenangkan, atasan yang proaktif mengajak diskusi, serta hal lain yang membuat saya beryukur diberi usia panjang.

Sudah kenalan dengan kaktus kesayangan? Sapa kaktus saya kalau lagi mampir ke kantor IM.

Sudah kenalan dengan kaktus kesayangan? Sapa kaktus saya kalau lagi mampir ke kantor IM.

Makan rame-rame adalah penyemangat!

Makan rame-rame adalah penyemangat!

Farewell Yudhy, graphic designer IM. Walau sudah tidak bekerja di IM sebagai officer, masih bisa 'terikat' sebagai relawan. IM banget!

Farewell Yudhy, graphic designer IM. Walau sudah tidak bekerja di IM sebagai officer, masih bisa ‘terikat’ sebagai relawan. IM banget!

Teman baru! Menyambut mahasiswa UNJ yang akan PPL di IM selama 3 bulan.

Teman baru! Menyambut mahasiswa UNJ yang akan PPL di IM selama 3 bulan.

Jadi, izinkan lebih pede menyambut bulan baru. Selamat datang September satu! :D

RPG, Rumah Harapan

Atas rekomendasi dan networking salah seorang relawan #RUBIBawean (thanks to: @AstaDewanti), akhirnya, Senin (10/8) pagi itu, kami berhasil beraudiensi dengan kepala dinas dan beberapa staf Dinas Kesehatan, Situbondo.

Saya yang biasanya ribet soal pakaian, berusaha tetap cool dengan skenario yang kami susun bersama. Karena rencana saya sebelumnya adalah pulang kampung ke Bawean, saya tak menyiapkan setelan formal plus (sekedar) flat shoes agar ‘terlihat’ layak untuk bertamu ke sebuah instansi. Biarlah jeans dan sandal gunung ini menjadi Outfit Of The Day (OOTD) saya hari ini.

Audiensi dengan kepala dinas dan beberapa staf Dinas Kesehatan Situbondo (please, jangan lihat outfit saya). (foto: @emtibyan)

Audiensi dengan kepala dinas dan beberapa staf Dinas Kesehatan Situbondo (please, jangan lihat outfit saya). (foto: @emtibyan)

Berfoto bersama pengurus Rumah Pemulihan Gizi (RPG) Balita dan para ibu (foto: @emtibyan)

Berfoto bersama pengurus Rumah Pemulihan Gizi (RPG) Balita dan para ibu (foto: @emtibyan)

Tampak depan, bangunan RPG warna-warni.

Tampak depan, bangunan RPG warna-warni.

Salah satu ruang pemeriksaan di RPG.

Salah satu ruang pemeriksaan di RPG.

Relawan #RUBIBawean berinteraksi dengan para petugas dan para ibu.

Relawan #RUBIBawean berinteraksi dengan para petugas dan para ibu.

Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan latar belakang kehadiran, kami diantar oleh Ibu Rina ke Rumah Pemulihan Gizi (RPG), yang letaknya di belakang gedung Dinas Kesehatan. RPG adalah sebuah inisiatif atas pendirian rumah ‘singgah’ yang menyediakan fasilitas pelayanan dan pemulihan kesehatan bagi balita yang kekurangan gizi. Peresmian RPG pada 13 Februari 2014 di kabupaten Situbondo juga sejalan dengan program pemerintah pusat yang mewajibkan pendampingan balita selama 1.000 hari sejak dilahirkan.

Saat berkunjung ke sana, saya sempatkan berinteraksi dengan dua orang ibu yang membawa anak-anaknya untuk berobat dan menjalani terapi di RPG. Dua orang ibu itu sama-sama mengaku terbantu dengan keberadaan RPG. Anak-anak mereka yang semula divonis sakit, pelan-pelan menunjukkan perkembangan berarti. Mereka bersedia bersabar untuk menjalani proses pengobatan dengan datang ke RPG beberapa kali dalam seminggu.

(foto: @emtibyan)

(foto: @emtibyan)

(foto: @emtibyan)

(foto: @emtibyan)

(foto: @emtibyan)

(foto: @emtibyan)

Saya pun juga berkesempatan untuk mengobrol lebih jauh dengan I bu Rina tentang suka duka mengurus RPG selama ini. Menurut Ibu Rina, tantangan terbesar adalah mengajak keluarga yang anaknya menderita sakit untuk dibawa ke RPG. Keluarga, khususnya para ibu, masih banyak yang belum percaya bahwa pengobatan dan terapi yang diberikan RPG mampu menyembuhkan anak-anak mereka. Semuanya berproses. Semakin rutin berkunjung ke RPG dan si anak menunjukkan perkembangan, barulah para ibu mulai percaya dan berdatangan.

Selain itu, tantangan juga hadir pada pola budaya yang masih tradisonal pada sebagian besar masyarakat Situbondo, seperti pola hidup sehari-hari. Tanpa disadari, perempuanlah yang mempunyai kontribusi besar pada pola hidup sebuah keluarga. Bayangkan, mulai dari melakukan pekerjaan di ranah domestik, mengandung, melahirkan, sampai mengasuh dan membesarkan anak pada sebuah keluarga. Berangkat dari fakta ini, maka perempuan harus didorong dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mendapatkan pendidikan maupun akses informasi.

Obrolan dengan Ibu Rina mengingatkan saya pada obrolan dengan Ibu Dewi di Gresik (masih ingat kan, cerita saat saya mengunjungi SMA Muhammadiyah 1 Gresik). Tanpa janjian, di dua kabupaten yang berbeda, mereka sama-sama membicarakan isu perempuan dengan saya. Saya pun teringat saya pernah jatuh cinta dengan mata kuliah Studi Gender di kampus. Semua tentang gender, saya ‘sikat’ habis, baik di jurusan sendiri maupun jurusan tetangga yang satu fakultas. Yeah, kalau dulu hanya sekedar modul dan diskusi bangku kuliahan, saya tersadar, saat inilah, saya menghadapi kondisi nyata di lapangan.

Rumah Pemulihan Gizi (RPG) Balita
Lokasi: Dinas Kesehatan Situbondo
Jalan Panglima Besar Jenderal Sudirman no.14
Situbondo Jawa Timur 68312

Merdeka Untuk Berbagi

Dengan kemarin, resmi sudah saya dua kali berturut-turut, bertujuh belas agustusan tanpa upacara di ibu kota. Apakah sama dengan kamu? Ternyata, selain upacara bendera, masih banyak kegiatan lain yang bermanfaat untuk memaknai kemerdekaan republik ini.

Tahun 2014 lalu, bersama alumni Pengajar Muda, kami melakukan napak tilas kemerdekaan dengan mengunjungi dua museum dan satu monumen di Jakarta. Mengadopsi konsep Amazing Race, kami membagi diri dalam kelompok dan saling berkompetisi untuk sampai di lokasi tujuan melalui clue yang diberikan. Sebagai bukti jika sudah sampai di tempat yang ditentukan dan menjawab pertanyaan yang diajukan, kami berfoto, lalu mengirimkannya melalui Whatsapp. Benar-benar Amazing Race yang kekinian.

Lagi-lagi, tanggal 17 Agustus 2015 kemarin, saya tidak melakukan upacara bendera. Kali ini, bersama teman-teman relawan, kami melakukan kegiatan berbagi buku yang terkumpul sebagai donasi. Mengusung konsep kolaborasi, pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan memberikan kontribusi sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Grabtaxi dan grabbike mengantarkan para relawan dari Indonesia Berkibar dan Nusantara Bertutur membawa buku-buku dari Femina ke beberapa Rumah Belajar Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) dan Sekolah Dasar. Adapun Rumah Belajar dan Sekolah Dasar tujuan kami ada 6, yaitu Rumah Belajar Duri Kepa, Rumah Belajar Cengkareng, Rumah Belajar Manggarai, Rumah Belajar Cipinang, SD N Slipi 01, dan SD N Karet Tengsin.

Sesungguhnya, bagian yang paling saya sukai dari kegiatan kerelawanan seperti ini adalah kesempatan bertemu orang-orang baru, sekaligus mengunjungi tempat-tempat baru. Bagi saya, bertemu orang baru dan berada di tempat baru adalah dua hal yang selalu bisa membuat saya ‘lebih hidup’ dalam menjalani kehidupan. Wujudnya macam-macam, mulai dari teman baru, networking lintas sektor, pengalaman, ilmu baru, sampai melintasi jalan yang belum pernah saya lewati. Sederhana, bukan?

Jadi, ‘petualangan’ tujuh belas agustusan saya, Senin (17/8) kemarin, dimulai dari Kantor Majalah Femina yang terletak di Jalan HR Rasuna Said (persis di depan Masjid Al-Bayyinah, Setiabudi). Saat tiba di sana pukul 07.30 WIB, sudah banyak relawan dan bapak-bapak driver Grabtaxi dan Grabbike yang berkumpul. Kami langsung membagi diri dalam kelompok-kelompok berdasarkan Rumah Belajar dan Sekolah Dasar yang akan dikunjungi. Tak lupa juga, membagi kardus-kardus yang berisi buku kepada masing-masing kelompok.

Bersama Tony dan Carol dari Grabtaxi-Grabbike, serta Pak Suharto dari Taksi Express.

Bersama Tony dan Carol dari Grabtaxi-Grabbike, serta Pak Suharto dari Taksi Express.

Pagi itu, bersama Carol dan Tony dari Grabtaxi-Grabbike, serta Pak Suharto dari Taksi Express, saya akan berkunjung ke Rumah Belajar YCAB di Manggarai. Walaupun jarak Kantor Femina dengan Manggarai dekat, saya tetap antusias karena belum pernah berkunjung ke Rumah Belajar ini sebelumnya. Antusiasme saya bertambah ketika bertemu dengan Pak Suharto. Diam-diam, Pak Suharto adalah seorang selebriti di kalangan driver ibu kota yang terkenal karena kejujurannya (penasaran kan? baca cerita tentang Pak Suharto di sini).

Pak Suharto bercerita dengan antusias sepanjang perjalanan.

Pak Suharto bercerita dengan antusias sepanjang perjalanan.

Sepanjang perjalanan, Pak Suharto menceritakan pengalamannya menjadi driver taksi di ibu kota. Lengkap! Sampai-sampai, saya merasa sedang liputan ‘live’ untuk sebuah acara TV. Maklum, saya di dalam taksi seorang diri. Carol dan Tony memutuskan untuk naik Grabbike ke lokasi.

Sekitar pukul 08.35 WIB, saya dan teman-teman sampai di Rumah Belajar YCAB Manggarai. Kami disambut oleh Mbak Rini dan Mbak Victoria, para pengajar di Rumah Belajar Manggarai. Selain mengantar buku, kami juga mengobrol dan berinteraksi dengan anak-anak yang belajar di Rumah Belajar itu.

Selamat datang di Rumah Belajar Manggarai (foto: Tony).

Selamat datang di Rumah Belajar Manggarai (foto: Tony).

Menyortir buku bersama para pengajar Rumah Belajar Manggarai (foto: Carol)

Menyortir buku bersama para pengajar Rumah Belajar Manggarai (foto: Carol)

Beberapa murid peserta kejar paket di Rumah Belajar Manggarai (foto: Tony).

Beberapa murid peserta kejar paket di Rumah Belajar Manggarai (foto: Tony).

Layaknya sekolah, Rumah Belajar itu adalah tempat anak-anak yang kurang mampu untuk menuntut ilmu. Selain kejar paket, ada juga kursus komputer dan bahasa Inggris. Baik sekolah maupun kursus dikenakan kursus dengan biaya yang sangat terjangkau, yaitu Rp 10.000,00 perbulan.

Saling menuliskan semangat dalam Student Day 2015.

Saling menuliskan semangat dalam Student Day 2015.

Saat berbagi cerita, tantangan terbesar yang dihadapi para pengajar adalah memotivasi para siswa untuk terus mau belajar. Berbagai hal terus diupayakan termasuk membuat Kelas Inspirasi mini dan sesi berbagai pengalaman. Nah, jika teman-teman ingin datang dan berbagi dengan murid-murid di sini, para pengajar akan menyambut dengan suka cita.

Pose andalan. Tanda siap berpetualang dan berbagi.

Pose andalan. Tanda siap berpetualang dan berbagi.

Bisa bertemu dengan orang-orang ‘ajaib’, dari orang yang ingin ‘sekedar’ berbagi, driver taksi yang berintegritas tinggi, serta guru yang semangat mengajar di hari kemerdekaan republik tercinta ke-70, membuat saya belajar. Ada satu hal yang harus disyukuri. Pekik merdeka kini bukan lagi tentang bebas dari belenggu penjajahan antarbangsa melainkan merdeka karena kita masih diberikan kesempatan untuk berbagi apa yang kita punya dengan sesama. Merdeka untuk berbuat kebaikan, istilah saya. Terdengar indah dan tidak muluk, kan?

Rumah Belajar YCAB Manggarai
Lokasi: Jalan Dr. Saharjo Gang Rambutan No. 42 RT 004/RW 07 Manggarai Selatan Tebet Jakarta

The Right Moment Part 3: Say ‘Hi’ to Situbondo!

Situbondo oleh Wikipedia
Kabupaten Situbondo adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur, Indonesia dengan pusat pemerintahan dan ibukota terletak di Kecamatan Situbondo. Kota ini terletak di daerah pesisir utara pulau Jawa, dikelilingi oleh perkebunan tebu, tembakau, hutan lindung Baluran dan lokasi usaha perikanan. Dengan letaknya yang strategis, di tengah jalur transportasi darat Jawa-Bali, kegiatan perekonomiannya tampak aktif. Situbondo mempunyai pelabuhan Panarukan yang terkenal sebagai ujung timur dari Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan di pulau Jawa yang dibangun oleh Daendels pada era kolonial Belanda.

Minggu (9/8)

Satu mobil bertujuh + satu driver. Ada yang bilang, "Travelling is not about the destination it's about the journey." Bener, sih! (foto: @AstaDewanti)

Satu mobil bertujuh + satu driver. Ada yang bilang, “Travelling is not about the destination it’s about the journey.” Bener, sih! (foto: @AstaDewanti)

03.30 WIB. Welcome to Situbondo! Situbondo?? Saya asing dengan kota ini. Pun mengenal @Tunjungdmrjt di FGIM 2015 yang asli Situbondo dan bangga dengan ke-Situbondo-annya, saya tetap tidak merasa kenal. Pernah sih, dengar namanya (selain dari cerita nasionalis ala @Tunjungdmrjt tentunya) dari pelajaran Geografi di sekolah. Oh ya, dari berita di TV juga! Kecelakaan maut bus yang mengantarkan anak-anak sekolah dari karya wisata ke Bali beberapa tahun yang lalu (pemberitaan yang berulang-ulang kala itu, membuat saya merinding dan teringat sampai sekarang). Sudah, sampai di situ saja nama Situbondo ‘ramah’ di telinga dan memori saya.

Terbayang, kalau dini hari ini, saya menginjakkan kaki di Situbondo, saya masih tidak percaya. Iya, masih di tanah Jawa, sih, tapi ya, gitu. Kota yang seperti apa sih, Situbondo itu? Saya belum sempat melihat-lihat pemandangan sepanjang perjalanan Gresik – Situbondo tadi malam (kami berangkat dari Gresik pukul 19.30 WIB, selepas Isya, dengan mobil rental). Pemandangan terakhir yang saya lihat adalah Paiton dengan gemerlap lampunya yang memesona di malam hari, eh itu pun belum masuk daerah Situbondo, ding. Jauh.

Oke, anggap saja, saya semacam … jet lag.

Situbondo dini hari itu, di depan sebuah rumah …

Puji syukur, akhirnya, kami sampai juga. Sumringah. Untungnya, saya dan teman-teman relawan #RUBIBawean sudah mulai terbiasa dengan jam tidur yang berantakan ini sejak hari Jumat. Atas nama travelling, katanya. Sambutan hangat dari tuan rumah (@Tunjungdmrjt’s family), kami balas juga dengan tak kalah semangat. Bahkan, kami meminta maaf berulang karena merepotkan dengan sesuatu yang terjadi mendadak dan di luar rencana ini.

Pukul 11.00 WIB, terlihat ‘bentukan’ asli kami (hei, berapa jam kalian tidur?). Kami yang semangat, cerewet, usil dan aktif dengan ‘aksi bully’, dan keceriaan lainnya. Kapal ke Bawean? Eng, sudah lupa, tuh! Kami sepakat, ini bukan tempat dan waktu untuk kecewa. Ini tempat untuk menjalankan misi lain yang tak kalah menyenangkan. Kembali lagi ke Bawean memang masih menjadi impian. Penundaan dua kali ini justru membuat kami semakin penasaran. Bahkan, saya ditanya, “Het, dengan kondisi kayak gini, justru bikin kita makin penasaran. Kayak apa sih Bawean itu? Kamu kok bisa di sana setahun?” Saya hanya tersenyum, mengapresiasi semangat para relawan sekaligus mengikhlaskan misi pribadi ‘The Right Moment’.

Desa Kebangsaan
Baca cerita tentang Desa Kebangsaan.

Baluran dan Pantai Bama
Baca cerita tentang Baluran dan Pantai Bama.

Thanks to Situbondo untuk hari Minggu, atas perjalanan dan teman-teman yang menyenangkan :).

Baca cerita sebelumnya, The Right Moment Part 1: Count Me In #RUBIBawean
Baca cerita sebelumnya, The Right Moment Part 2: Plan F, Friendship

Pesona Taman Nasional Baluran

Mimpi apa saya bisa ke Baluran kemarin? Cubit pipi.

Sudah dari sononya, rencana adalah sesuatu yang cita-citakan, disusun, dan dibicarakan berulang-ulang. Urusan diwujudkan atau tidak itu urusan belakangan. Begitu, kan?

Dengan lima Pengajar Muda angkatan II yang ditugaskan ke Bawean, rencana trip ke Baluran itu sudah ada. Dalam rentang waktu 2011-2012, kami membicarakannya sebagai sebuah seremoni perjalanan bersama atas nama persahabatan yang sudah terbina. Nyatanya, itu sebuah rencana yang sampai tahun 2015, belum terlaksana juga.

Dan, percaya atau tidak, hal yang sama juga terjadi di lingkar pertemanan yang lain. Teman main ini, teman main itu, teman SD, teman kos. Lagi-lagi, Baluran. Baluran tetap menjadi destinasi yang ‘sepertinya’ asyik dikunjungi beramai-ramai bersama teman. Padahal, kalau ditanya, saya pun mikir juga. Pesona Baluran yang ‘katanya’ mirip Afrika itu seperti apa wujudnya. Semua orang membicarakannya sebagai sebuah tempat yang wajib dikunjungi.

Oke, saya berusaha membayangkan tayangan TV dengan setting hutan belantara Afrika. Discovery channel, The God Must Be Crazy, The Madagaskar, The Wild Thornberrys, ehI set my expectation highly.

Adalah seorang teman, putra daerah Situbondo, yang selalu berpromosi tentang Baluran. Bagi saya, ini seperti RLBK alias Rencana Lama Bersemi Kembali. Menggaet empat teman lain, akhirnya, kami merencakan akan melakukan trip ke Baluran pada sebuah akhir pekan di bulan Desember 2015. Kami sudah membicarakan rencana ini di … Twitter!

Merak! Beginilah cara @Tunjungdmrjt berpropaganda tentang Baluran. Langsung screenshot!

Merak! Beginilah cara @Tunjungdmrjt berpropaganda tentang Baluran. Langsung screenshot!

Nyatanya, skenario berubah. Setelah gagal berlayar ke Pulau Bawean dan berganti kunjungan ke sebuah taman baca di Situbondo, Baluran masuk dalam list tempat yang akan dikunjungi untuk menghabiskan hari Minggu (9/8). Mumpung sudah sampai di Situbondo, katanya. Jadi, jodoh saya dengan Baluran tidak terjadi di bulan Desember, Agustus!

Saya tersenyum. Ingin rasanya melapor pada teman-teman saya, para pembuat rencana, tentang Baluran dan bahwa Minggu siang (9/8) ini, saya akan ke Baluran. Sedih sih, gagal pergi bersama mereka, tapi dengan lingkar pertemanan yang lain. Semoga mereka bisa menerima (Apa salah saya, punya sekian lingkar pertemanan yang selalu saya iya-kan setiap ada ajakan bepergian? Ah!).

Pukul 11.00 WIB, saya berangkat dari rumah teman di Situbondo menuju Baluran. Bulan Agustus benar-benar kemarau. Sepanjang perjalanan, kering. Masuk ke area hutan (area setelah pom bensin terakhir) banyak pepohonan yang menggugurkan daunnya, menyisakan dahan ranting yang kokoh. Indah memang pemandangannya. Cocok untuk syuting video klip hehe. Sayang, saya dan teman-teman tak sempat berfoto di sana.

Finally, welcome to Baluran!

Finally, welcome to Baluran!

Pukul 14.00 WIB, akhirnya kami sampai di Taman Nasional Baluran (tiga jam, agak lama memang karena kami sempatkan mampir ke Desa Kebangsaan). Kami membeli tiket di area bangunan-bangunan, dekat pintu gerbang utama. Ada beberapa petugas dan pengunjung lain yang juga membeli tiket. Tidak cukup ramai sih, tapi tidak bisa dikatakan sepi juga. Mungkin karena hari itu Minggu siang.

Pusat Informasi sekaligus tempat pembelian tiket masuk ke Taman Nasional Baluran.

Pusat Informasi sekaligus tempat pembelian tiket masuk ke Taman Nasional Baluran.

Karcis perorang termasuk mobil. Karcis masuk kendaraan roda 4 (hari libur) Rp 15.000,00, karcis masuk (hari libur) Rp 7.500,00, dan karcis pengamatan flora dan fauna Rp 10.000,00.

Karcis perorang termasuk mobil. Karcis masuk kendaraan roda 4 (hari libur) Rp 15.000,00, karcis masuk (hari libur) Rp 7.500,00, dan karcis pengamatan flora dan fauna Rp 10.000,00.

Setelah membeli tiket, kami melanjutkan kembali perjalanan menyusuri jalanan dengan pemandangan samping kanan kiri pepohonan. Jalan yang lumayan berbatu itu hanya satu, tinggal diikuti saja, jadi tidak perlu khawatir tersesat. Ini adalah area Taman Nasional Baluran.

Setelah kurang lebih 8 kilo meter perjalanan, lepas dari hutan, akan terhampar padang rumput atau sabana luas. Dengan kondisi kering, saya mulai bisa membayangkan apa yang dikatakan orang-orang sebagai ‘Afrika’-nya Indonesia.

Kalau beruntung, ada beberapa hewan di sana, mulai dari monyet, rusa, kijang, burung merak, dan kerbau. Kebanyakan pengunjung akan antusias dan mencoba menangkap momen itu dengan kameranya masing-masing.

Iconis. Setiap pengunjung pasti berhenti dan berfoto di sini.

Iconis. Setiap pengunjung pasti berhenti dan berfoto di sini.

Pengunjung Taman Nasional Baluran.

Pengunjung Taman Nasional Baluran.

Tidak ada aktivitas yang bisa kita lakukan bersama hewan-hewan itu, kecuali berfoto. Memberi makan jelas dilarang keras di wilayah ini. Pengunjung pun tidak boleh membuang sampah sembarangan untuk ikut serta menjaga kelestarian hewan dan tumbuhan di sini.

Tong sampah hijau di hamparan padang rumput luas yang menarik perhatian saya.

Tong sampah hijau di hamparan padang rumput luas yang menarik perhatian saya.

Beberapa fasilitas, seperti musola dan toilet yang ada di Taman Nasional Baluran.

Beberapa fasilitas, seperti musola dan toilet yang ada di Taman Nasional Baluran.

Gardu pandang, bisa melihat seantero Taman Nasional Baluran dari sini. Hati-hati, tangganya curam.

Gardu pandang, bisa melihat seantero Taman Nasional Baluran dari sini. Hati-hati, tangganya curam.

Serunya piknik di Baluran. Thanks to @Tunjungdmrjt's mom for the meals (foto: @astadewanti)

Serunya piknik di Baluran. Thanks to @Tunjungdmrjt’s mom for the meals (foto: @astadewanti)

Selain berjalan menanjak untuk sampai di gardu pandang, para pengunjung juga bisa piknik di sini. Seperti yang saya lakukan dengan teman-teman. Tidak perlu khawatir, di Taman Nasional ada beberapa fasilitas seperti pedagang makanan/minuman, mushala, dan toilet.

Jangan Lupa, Pantai Bama …

Bama beach with its monkies.

Bama beach with its monkies.

Setelah puas memandang hamparan bentang alam Afrika di tanah Jawa, ada baiknya melanjutkan perjalanan ke Pantai Bama. Melihat sunset menjadi agenda yang tidak bisa dilewatkan. Kebetulan, letak Pantai Bama tidak jauh dari Taman Nasional Baluran. Masih mengambil rute jalan yang sama dan mengikuti petunjuk papan jalan, maka dalam beberapa menit, sampailah di Pantai Bama.

Ada beberapa cottage yang bisa digunakan untuk menginap di Pantai Bama. Bisa juga jika ingin bermalam dengan tenda di tepi pantai. Seperti Baluran, di Pantai Bama juga ada beberapa fasilitas seperti pedagang makanan/minuman, mushala, dan toilet.

Cottage di pantai Bama.

Cottage di pantai Bama.

Menurut saya, Pantai Bama tergolong pantai yang tenang dan sepi. Entah, apakah karena saya sudah sore jelang magrib saat tiba di sana. Sebagai hiburan, ada monyet-monyet cukup ‘nekat’ berkeliaran di area pantai dan siap menyambut pengunjung yang datang.

Pukul 19.00 WIB, saya dan teman-teman meninggalkan Taman Nasional Baluran. Jalan setapak memang tidak menyediakan lampu penerang jalan. Berbekal lampu mobil, kami menyusuri jalanan untuk menuju pintu keluar gerbang Taman Nasional Baluran.

Betapa surprise-nya kami, saat melihat hewan-hewan itu bersosialisasi dengan cara mereka sendiri di tengah kegelapan malam. Pemandangan yang tidak kami saksikan di siang hari, ternyata ada di malam hari. Kami yang berada di dalam mobil, berusaha untuk tetap tenang. Rasanya seperti safari night.

Jadi, setelah seharian menghabiskan waktu di Baluran, saya tersenyum-senyum sendiri. Finally, Baluran yang kata orang-orang itu, bisa saya kunjungi sendiri. Bentang alamnya memang memanjakan mata karena yang seperti ini jarang kita jumpai. Ah, Baluran, sampai jumpa lagi! :)

PS.
Foto-foto dalam tulisan saya jelas jauh beda dengan foto-foto di Google saat kamu mencoba mencari informasi tentang Baluran. Saya pun demikian saat browsing, ekspektasi saya menjadi tinggi. Nyatanya, menikmati Baluran langsung menjadi lebih menghadirkan pengalaman personal ketimbang di balik lensa kamera.

Taman Nasional Baluran
Lokasi: Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Indonesia

Desa Kebangsaan, Desa Wisata di Situbondo

Pintu gerbang utama menuju Desa Kebangsaan

Pintu gerbang utama menuju Desa Kebangsaan

Desa Kebangsaan terletak di Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Desa ini baru diresmikan sebagai desa wisata pada 2 Mei 2015 lalu. Letaknya tidak jauh dari gerbang menuju Taman Nasional Baluran. Sesuai namanya, Desa Kebangsaan sarat dengan nilai-nilai positif yang bisa menjadi teladan dan daya tarik wisata. Adapun daya tarik wisatanya meliputi pemberdayaan ekonomi lokal masyarakat melalui industri skala rumah tangga nata de coco, pengolahan susu sapi, sampai pada toleransi antarumat beragama yang dibuktikan dengan keberadaan beberapa rumah ibadah sekaligus.

Oh ya, sebagai desa tujuan wisata, ada beberapa rumah yang menawarkan diri sebagai home stay. Kemarin Minggu (9/8), saya menyempatkan diri mampir. Saya berkeliling mengikuti jalanan area desa, yang ternyata berujung di pantai. Tidak banyak orang yang saya temui selain penduduk asli dan dua turis bule yang sedang berjalan kaki di area Desa Kebangsaan.

Ada museumnya juga, lho, Museum Desa Kebangsaan.

Ada museumnya juga, lho, Museum Desa Kebangsaan.

Tidak banyak informasi tentang Desa Kebangsaan yang saya dapat kemarin, selain apa yang saya tulis di atas. Sebenarnya ada museum Desa Kebangsaan. Sayangnya, saat ke sana, museum itu tutup. Saya juga tidak sempat memfoto deretan rumah-rumah yang ada di sana.

Sejauh ini, jika dibandingkan dengan desa wisata-desa wisata yang ada di DI Yogyakarta, Desa Kebangsaan juga tidak kalah bagusnya dengan kerapian tata letak desanya. Jadi, jangan lupa mampir saat ke Situbondo, ya! Nice to see :).

Desa Kebangsaan
Lokasi : Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo

The Right Moment Part 2: Plan F, Friendship

Gado-gado kacang tanah,
Kalau nggak jodo ya mau gimanah .. (@AstaDewanti)

Makan gado-gado nambah gorengan,
Meski nggak jodo, asal barengan .. (@Nan3W)

Semula, #RUBIBawean akan diadakan pada awal bulan Juni lalu. Berhubung tingginya ombak Laut Jawa dan tidak ada kapal yang berani berlayar, akhirnya tim #RUBIBawean batal berangkat ke Pulau Bawean. Jadwal pun disusun ulang, dipilih dua bulan kemudian dengan pertimbangan kondisi cuaca dan posisi bulan dari BMKG. Cukup valid, bukan? Akhirnya, para relawan sepakat memilih tanggal 7-10 Agustus 2015 untuk kembali (lagi) ke Pulau Bawean.

Sabtu (8/8)

Perjalanan bandara Juanda – Gresik pada dini hari memang melelahkan. Pukul 02.00 WIB lebih, saya dan teman-teman relawan #RUBIBawean tiba di Gresik dan menginap di rumah seorang relawan Dhurung Elmo (thanks to: Mbak Rida). Dalam beberapa jam ke depan, pukul 09.00 WIB, kapal Natuna Express akan membawa kami ke Pulau Bawean. Jadi, terbayang, siapa yang berani tidur nyenyak pada dini hari itu?

Pukul 07.30 WIB, kami sudah siap berangkat lagi ke pelabuhan Gresik. Mata panda atau kantung mata masih ada, menyisakan kantuk semalam. Nanti bisa lanjut tidur lagi di kapal, bela kami. Pagi itu, ada seorang relawan Dhurung Elmo lain (thanks to: @ChyBlnPurnama) yang berbaik hati ‘mengangkut’ kami serombongan untuk ke pelabuhan dengan mobilnya. Senyum kami cerah menyambut kedatangannya. Tapi …

Hari ini nggak ada kapal. Baru saja ada info dari pihak pelabuhan!”

Kalimatnya datar, tanpa ba bi bu, dan jelas. Fakta, kan? Mau diramu dengan pilihan kata yang lain pun, intinya tetap sama. Tidak ada kapal. Saya langsung teringat pembicaraan via telepon dengan mama semalam saat tiba di bandara Juanda. Memang janji saya untuk selalu mengabarkan mama keberadaan saya di muka bumi ini. “Duh, Dek, hati-hati. Katanya, ke Natuna, kok kamu malah mau ke Bawean. Jauh, Dek.”

Saya sudah cerita di tulisan sebelumnya. Tugas saya hanya berusaha, bukan merasa (lalu mengomel, meratapi nasib, dan menyalahkan keadaan). Surabaya memang menjadi pintu gerbang ‘The Right Moment’ saya untuk ke Bawean, tapi pagi ini, pintu gerbang itu nyatanya tertutup atas nama ketiadaan kapal. Mau dikatakan apa lagi? Ternyata kali ini bukan ‘The Right Moment’ saya. Feeling mama benar adanya.

Hei, lihat sisi positifnya. Di sini, saya sedang bersama orang-orang baru, teman-teman baru, keluarga baru. Memang bisa dihitung dengan jari berapa lama kita saling kenal. Tapi bukanlah lama perkenalan tidak menentukan kedekatan sebuah hubungan?

Plan A switched. Let’s do Plan F. Friendship.

Sebagai penghibur hati, relawan Dhurung Elmo (thanks to: @ChyBlnPurnama dan @OmIrwaan) mengajak kami untuk menjemput buku-buku yang dikumpulkan oleh siswa-siswa SMA Muhammadiyah 1 Gresik. Dia juga berjanji untuk mengantarkan kami ke pelabuhan. Yah, setidaknya, untuk melihat pelabuhan (please, jangan ditertawakan. Ini menjadi sedikit sentimentil untuk kami Tim #RUBIBawean). Walau secara kostum saya dan teman-teman tidak matching untuk standar kostum bertemu instansi resmi, biarlah. Siapa tahu bertemu guru dan beberapa murid bisa menjadi hiburan.

Siapa sangka, sambutan guru-guru di sana sehangat sinar matahari Gresik hari itu. Kami diajak duduk di ruang rapat sekolah dan mengobrol dengan sosok guru, bernama Dewi Musdalifah, admin Humas sekolah sekaligus pegiat sastra Gresik. Rupanya, Ibu Dewi sangat menantikan kesempatan untuk bisa sharing dengan para Pengajar Muda. Saking inginnya, beliau sudah punya fantasi rasa sendiri, “Ngobrol dengan guru lalu dengan Pengajar Muda pasti rasanya seperti makan nasi lalu makan spaghetti.”

Walaupun kali ini baru bertemu relawan Indonesia Mengajar dan saya, Pengajar Muda angkatan II yang sudah purna tugas, Ibu Dewi tetap antusias mengobrol, bahkan bisa dikatakan, dengan ilmu sastra dan kepenulisannya, kami yang belajar hari itu dengan Ibu Dewi.

Di bangku sekolah, perempuan umumnya lebih rajin daripada laki-laki, apalagi dalam soal menulis. Tapi, semakin lama, jumlah penulis atau sastrawan perempuan tidak banyak. Mengapa? Karena perempuan kurang ulet, perempuan terkendala norma dalam masyarakat. Padahal, menulis bagi perempuan itu penting. Perempuan atau sosok ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Kalau perempuan saja tidak menulis, perempuan mau menyampaikan nilai ke anak-anaknya dengan cara apa?” Itulah gagasan Ibu Dewi yang disampaikan kepada kami.

Bagi Ibu Dewi, menulis adalah sebuah terapi. Ibu Dewi pernah menunggui muridnya menulis sampai 2 jam. Semula, sebelum menulis, muridnya hanya menangis. Ternyata, si murid memiliki kisah yang selama ini disembunyikannya dan belum pernah diungkapkan pada siapa pun.

Selalu happy 'main-main' ke sekolah. Bagi saya, suasana sekolah itu khas sekali. Walau dalam foto ini, @Tunjungdmrjt dan @emtibyan usil (Foto: @Nan3W)

Selalu happy ‘main-main’ ke sekolah. Bagi saya, suasana sekolah itu khas sekali. Walau dalam foto ini, @Tunjungdmrjt dan @emtibyan usil (Foto: @Nan3W)

#RUBIBawean bersama Ibu Dewi Musdalifah (Foto: @AstaDewanti)

#RUBIBawean bersama Ibu Dewi Musdalifah (Foto: @AstaDewanti)

Gagal berlayar, cukup beraksi di depan kapal. Saya mengabadikan aksi mereka. Melihat relawan #RUBIBawean happy, saya pun happy (Pelabuhan Gresik)

Gagal berlayar, cukup beraksi di depan kapal. Saya mengabadikan aksi mereka. Melihat relawan #RUBIBawean happy, saya pun happy (Pelabuhan Gresik)

Setelah puas mengobrol di sekolah dan mampir pelabuhan, akhirnya, kami memutuskan untuk berangkat ke Situbondo malam itu. Situbondo dipilih karena ada rumah salah satu relawan (thanks to: @Tunjungdmrjt), sekaligus ada taman baca di Rumah Pemulihan Gizi (RPG) di Dinas KEsehatan Situbondo yang bisa diaktivasi (thanks to: @AstaDewanti).

Apakah kami menyimpang? Toh, tema #RUBIBawean adalah ‘Pengelolaan Taman Baca’. Daripada kami reschedule tiket dan tidak mendapatkan apa-apa sekembali ke Jakarta, lebih baik kami menjalankan rencana yang lain, rencana yang spontan, tapi tetap bisa dipertanggung jawabkan. Oke, dalam hidup, kita memang tidak bisa mundur, hidup selalu maju, lurus ke depan, tapi ingatlah, selalu ada kesempatan di depan sana untuk belok kanan atau kiri yang membuat kita sampai juga ke destinasi. Ini tentang beda jalan, sama tujuan.

Sampai jumpa di Situbondo!

Baca tulisan sebelumnya, The Right Moment Part 1: Count Me In #RUBIBawean