Bad Münstereifel, Jerman (18 Agustus 2018).

Tak pernah lupa. Dulu, di bangku sekolah, guru-guru saya yang sangat ‘njawani’ itu selalu bercanda kalau ‘Jerman’ artinya ‘jejer Kauman’ atau bisa juga ‘jejer Sleman’. ‘Jejer’ adalah Bahasa Jawa yang berarti ‘sebelah’. Jadi, arti selengkapnya, ‘sebelah Kauman’ atau ‘sebelah Sleman’. Kauman dan Sleman merupakan nama-nama daerah yang ada di Yogyakarta.

Guyonan tanpa maksud mem-bully negara Jerman itu merupakan guyonan yang populer. Maklum, kala itu, bisa pergi ke luar negeri merupakan suatu yang ‘wah’ di lingkungan saya. Tak pernah terpikir caranya. Kalau sudah pernah ke luar Indonesia, sepertinya gimana gitu. Jadilah, guyonan itu bersemi, seperti ‘Purwokerto – Purto Rico’, ‘Kroya – Korea’, dan yaa … begitulah. Mungkin di tempat kamu juga ada kan yang begitu??

Lepas dari bangku kuliah dan beranjak dewasa, merantau ke luar Yogyakarta menjadi salah satu babak hidup saya. Entah mengapa, jika sedang diberi kesempatan ke luar negeri, guyonan plesetan nama-nama negara itu bisa bermunculan kembali di kepala saya tanpa diundang. Padahal, kalau saya ingat, dulu, saya termasuk anak yang mahal tertawa alias tidak tertawa sama sekali saat guru-guru saya mulai dengan plesetan nama-nama negara. Di mana lucunya? Tapi entah kenapa, ingatan semacam itu bisa mengendap di kepala. Bahkan, sampai detik ini saya tulis di blog. Apakah ini yang namanya kualat dengan guru-guru saya?? Duh! Sungkem Bapak Ibu Guru, nyuwun pangapunten! (Bapak Ibu Guru, saya minta maaf).

Dan … episode kali ini, ‘Jerman’ alias ‘jejer Kauman’ menggema kembali di kepala saya. “Pak, Bu guru, Hety ke Jerman,” saya mencoba berbicara sendiri dalam hati, meredakan gema ‘jejer Kauman’ di kepala. Ajaib. Baru kali ini, ‘jejer Kauman’ justru membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Saya tahan, hidung saya jadi kembang-kempis. Saya salah tingkah. Kualat kali kedua!

Jujur, bagi saya, Jerman belum pernah jadi rencana. Bahkan, tak pernah. Kalau ditanya dari soal melanjutkan studi sampai jalan-jalan, yang saya sebut adalah cita-cita saya, seperti Australia, Inggris, Disneyland Hongkong, Tokyo Disneyland, Shanghai Disneyland, … Hush!

Kalau nyatanya saya bisa ke Jerman, sungguh, ini seperti keinginan Tuhan. Jalan yang ditunjukkan Tuhan. Saya diminta untuk menjalaninya sebagai bentuk rasa syukur. Alhamdulillah. Saya jadi ingat salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Beliau pernah berkata, “Saat doaku dikabulkan, aku bersyukur karena itulah keinginanku. Saat doaku tidak dikabulkan aku lebih bersyukur karena itulah keinginan Allah.”

Ya, bisa jadi, untuk saat ini, Tuhan belum ingin saya ke Disneyland, Australia, atau Inggris untuk melanjutkan studi, melainkan ke Jerman. Setidaknya, tidak untuk saat ini. Besok, bisa jadi. Tuhan selalu menyelipkan harapan. Itulah yang membuat saya bahagia.

Baiklah. Biarlah kini Jerman seperti sebuah pintu jati kokoh yang terbuka. Pintu yang tak pernah saya ketuk, lirik saja tidak, tapi pintu ini seakan dengan nada yang sangat menyenangkan menyilakan saya untuk masuk, “Selamat berpetualang, Hety!

Ah, Jerman!

Advertisements

Siang tadi (2/6), saya berkunjung ke #NamakuPram di Dia.Lo.Gue Art Space di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Ramai. Untuk ukuran pameran, siang hari, Kemang, bulan puasa, saya acungi jempol. Banyak yang cinta Pram, ternyata, atau jangan-jangan sekadar penasaran gara-gara Iqbal ‘Dilan’ akan menjadi Minke dalam Bumi Manusia.

Oke. Koreksi. Di pameran ini, tidak ada Iqbalnya sama sekali kok hihi.

Saya tidak akan bermaksud sok tahu di sini. Sadar diri, saya baru membaca Bumi Manusia dua tahun lalu. Bumi Manusia adalah satu-satunya buku Pram yang (baru) saya baca, tamat. Beberapa ‘quote’ menarik bahkan sampai saya tweet dengan tagar #BumiManusia, berharap tidak lupa. Saking terkesannya.

#NamakuPram benar-benar menuntun saya untuk berkenalan dengan Pram. Saya sempat membatin dalam hati, “Maaf ya Pak Pram, saya baru membaca satu bukumu.” Selain tampilan rekam jejak, buku-buku, foto-foto, dan berbagai dokumen, menurut saya, bagaimana seorang Pram berjibaku dengan tulisan-tulisannya, juga digambarkan dalam sebuah diorama yang berisi ‘setting’ ruang kerja Pram. Dikatakan di keterangan, ada tiga mesin ketik di dalam ruang kerjanya. Jika salah satu tulisan macet, buntu, maka Pram akan berganti ke mesin ketik yang lain dan melanjutkan cerita lainnya. Sepertinya, tak ada kata berhenti bagi Pram.

Namaku Pram 2

Namun dari semua yang dipamerkan, bagian terfavorit saya di #NamakuPram adalah membaca berbagai kartu pos yang dikirimkan anak-anaknya untuk Pram saat diasingkan di Pulau Buru. Kartu posnya sudah menguning dimakan usia tapi rindu seorang anak pada ayahnya masih berasa. Sungguh! Saya haru melihat tulisan tangan anak-anak Pram beraneka rupa dengan celoteh khas anak-anak yang bercerita tentang kesehariannya di rumah dan sekolah.

Ini dulu catatan dari perjalanan hari ini. Saya masih terkenang-kenang, sekaligus dihantui. Sebelum pergi ke #NamakuPram secara sadar saya putuskan untuk membuang buku harian yang sudah saya tulis sejak SD. Akibatnya, sepulang dari #NamakuPram, saya seperti ‘dimarahi’ Pram. Bukankah menulis adalah sebuah pekerjaan untuk keabadian? Akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Selamat menyambut Minggu.

28 April 2018
Duh, gimana ya cara jelasin LSM ke adik-adik nanti? LSM adalah aktor selain pemerintah dan perusahaan profit di kehidupan kita sehari-hari. Hmm, kok aneh sih? Hmm … apa ya yang gampang? Lembaga yang memberikan bantuan kepada masyarakat, eh enggak juga sih. Duh, apa ya? Masak sih udah bertahun-tahun kerja enggak bisa jelasin ke anak-anak? Pakai bahasa yang sederhana gitu. Apa yaaa? Gimana sih, Het? Zzz.

Bertanya sendiri dan dijawab sendiri. Akhirnya, kesal dengan diri sendiri. Begitulah hari-hari saya jelang Kelas Inspirasi Goes to LPKA Tengerang. Tidak mau menyerah begitu saja, saya mencoba mencari cara lain. Aha! Termakan iklan ‘Tanya Google Aja’ saya pun memutuskan untuk membuka browser di Handphone. Tik tik tik tik … Jempol saya menari cepat di layar.

‘C a r a m e n g e n a l k a n L S M k e p a d a a n a k – a n a k’.

Loading pepersekian detik lalu muncul:

‘Mungkin maksud Anda adalah: cara mengenalkan ALAM kepada anak-anak’

Gedubrak! Enggak ada referensinya sama sekali. Saya tersenyum getir. Keki. Belum adakah orang yang berbagi cara di internet untuk menjelaskan LSM kepada anak-anak? Atau nampaknya Tuhan tidak membiarkan saya ‘mencontek’ begitu saja dari Google.

Baiklah, kita cari cara lain (lagi). Saya pun memutuskan ‘cara sosial’ yaitu membuka interaksi dan bertanya kepada sahabat saya yang juga bergelut dengan dunia development slash pemberdayaan masyarakat.

Oke, saya minta maaf kalau kalian mulai kesal dengan saya yang tidak kreatif ini. Eits, tunggu dulu. Saya adalah orang yang percaya bahwa keilmuan dapat dipertajam dengan diskusi dengan teman. Fatal kalau hanya kita sendiri yang jumawa mengklaim sebuah keilmuan.

Terdengar suara sumbang dari ujung sana, “Aish, Het, kamu cuma ngeles aja.”

*

Oke, tulisan di atas adalah teaser betapa deg-degannya saya untuk Kelas Inspirasi!! Iya, Kelas Inspirasi! Kegiatan selama satu hari di mana para relawan atau profesional akan datang ke SD (Sekolah Dasar) untuk mengenalkan profesi mereka kepada anak-anak di sekolah itu.

Lhoh, bukannya kamu pernah ikut ya, Het? Coba baca di sini

Iya, beda. Dulu, saya hanya orang di balik layar. Sekarang, saya mencoba untuk menjadi salah satu inspirator atau pengajar. Ciee …

Hei, masih grogi juga??

HeEh!! Ini beda. Kelas Inspirasi kali ini bukan di SD seperti biasanya, melainkan di LPKA di Tangerang. Adik-adik di sini istimewa!

Pantes, dari tadi ribut sendiri, eh.

30 April 2018
Hari Inspirasi. Hari yang dinantikan tiba. Pukul 6.00 tepat, saya sudah menginjakkan kaki di stasiun Tanah Abang. Jujur, saya takut terlambat. Lalu lintas di Jakarta itu tidak bisa ditebak. Sesuai jadwal, para relawan sepakat untuk berkumpul di depan Gedung LPKA Tangerang pukul 8.00. Saya memutuskan untuk nail KRL dengan rute dari Stasiun Tanah Abang, transit di Stasiun Duri, lalu ambil ke arah Tangerang, dan berhenti di Stasiun Tanah Tinggi, stasiun terdekat dari LPKA Tangerang.

Akhirnya, saya tiba pukul 7.00 lebih sedikit. Siapa sangka bisa secepat ini. Karena masih ada waktu, saya memutuskan untuk mencari sarapan. Percayalah mengajar itu butuh energi, Komandan! Dan … Maklum anak kos. Semakin pagi berangkat, semakin bisa ditebak kalau yang bersangkutan enggak sarapan hehe.

Pukul 07.30, ternyata, teman-teman relawan sudah berkumpul. Dari tas yang dibawa, mereka sudah siap dengan amunisinya (baca: laptop, kertas manila, alat pewarna, ular tangga, dadu, …). Kami tinggal menunggu instruksi saja dari petugas berseragam untuk masuk ke gedung LPKA. Walau semula di jadwal tertulis mengajar pukul 09.00, nyatanya pukul 09.30 kami baru bisa masuk ke LPKA. Katanya, ada beberapa adik yang sedang menjalani ujian. Sehingga, kami harus menunggu beberapa saat.

Dokumentasi: Relawan Fotografer

Oh ya, untuk masuk LPKA, beberapa barang harus dititipkan. Mungkin gambarannya seperti yang ada di film-film. Di pintu masuk, ada banyak petugas berseragam serta loker tempat penitipan barang. Karena kami tidak boleh memotret selama acara berlangsung, handphone kami pun diminta untuk dititipkan. Jadi, di Kelas Inspirasi kali ini, pendokumentasian kegiatan hanya dilakukan oleh tiga relawan fotografer yang sudah ditunjuk sebelumnya.

Kejutan pertama yang kami terima pagi itu adalah kelompok yang berubah. Semula, kami dibagi berdasarkan kelas (SD, SMP, SMA, SMK). Nyatanya, pagi itu, 91 adik-adik yang berkumpul di aula diminta berhitung untuk membuat tujuh kelompok baru dan tad-daa … jadilah kelompok adik-adik baru yang akan menerima kehadiran 23 kakak-kakak inspirator yang mukanya mulai pucat pasi karena berarti skenario di kelas juga akan berubah.

Penasaran Dengan Kelompok Saya?
Kelompok saya terdiri dari tiga kakak inspirator (termasuk saya), sebelas atau dua belas adik, serta satu fasilitator. Sesuai pembagian, kami menempati ruang kelas SMK di LPKA. Letak ruang kelasnya agak di belakang. Sehingga, bisa membuat kelompok saya ‘jalan-jalan’ di lingkungan gedung LPKA. Oh ya, sepanjang berjalan di koridor, nampak bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam, pegawai LPKA, sedang asyik di ruangan. Kalau boleh dibandingkan, suasananya enggak jauh berbeda dengan kantor-kantor pemerintahan pada umumnya.

Tak banyak yang bisa saya jelaskan tentang ruang-ruang yang ada di LPKA, selain di pintu dan jendela yang ‘dilengkapi’ jeruji. Ruang-ruang kelas yang berlangit-langit tinggi di LPKA menandakan bangunan itu adalah bangunan tua peninggalan Belanda, sedangkan di sisi gedung LPKA yang lain, bangunan yang lebih modern juga berdiri. Di tengah bangunan LPKA, ada taman-taman sekaligus lahan sempit untuk bertani. Saya tebak, di sanalah praktik tanam-menanam diajarkan. Di sini, adik-adik memang diajarkan beraneka ketrampilan yang harapannya bisa dipraktikkan secara mandiri kelak, misal bertani, bengkel, sablon, cukur rambut, dan lain-lain.

Oke, balik ke kelas, ya. Inspirator pertama di kelompok saya adalah Kak Razie. Kak Razie menularkan ‘virus’ pengusaha ke adik-adik. Semuanya asyik menyimak karena saat ditanya ternyata ada beberapa orangtua mereka yang berprofesi sebagai pedagang. Adik-adik pun ada yang ingin menjadi pengusaha. Mereka tak malu-malu untuk mengaku, “Itu lho Kak, saya ingin jual kue-kue, seperti risol,” atau ada juga yang begini, “Saya ingin jadi tukang cukur, Kak. Lihat tuh, gaya rambut teman-teman. Saya buat keren semua,” yang sontak disambut tawa oleh seisi kelas.

Inspirator kedua adalah Kak Windy. Sebagai seorang perancang busana, Kak Windy mengajarkan adik-adik teknik membuat kain shibori dan tie dye. Adik-adik antusias. Katanya, mereka tak menyangka bisa segampang itu membuatnya. “Ini kan yang dijual di distro-distro. Besok saya buat sendiri, ah!”

Giliran saya tiba, inspirator terakhir. Semua yang saya siapkan buyar. Bye kertas manila! Suasana kelas sudah panas, adik-adik yang diujung mana suaranya seakan-akan menantikan apa yang saya bawa.

Halo, saya Hety, pekerjaan saya adalah staf LSM.”

Dokumentasi: Pak HH

Hening.

Staf LSM adalah … Coba kalian pandang sekeliling kalian, masalah sosial apa saja yang kalian temukan … bla bla bla … .” Siapa sangka, saat saya bercerita, terlebih, saat memberikan contoh bidang kesehatan, ada yang tiba-tiba mengangkat tangan mencari perhatian dan berkomentar, “Kak, ibu saya juga staf LSM. Dia bantu-bantu di Posyandu.”

Krak! Kebekuan pecah. Saya mendapat momentum. Ternyata mereka familiar juga. Saya pun melanjutkan cerita dengan lebih lancar lagi. Hidung saya kembang-kempis saking bersemangatnya.

Sesi di kelas kami ditutup dengan memberikan kesempatan pada adik-adik untuk bertanya pada kami bertiga. Mereka boleh memilih. Saya terharu karena ada pertanyaan yang ditujukan kepada saya, yaitu kapan saya memutuskan untuk bekerja di LSM dan tentang Kelas Inspirasi.

Jika ada kesempatan, saya bersedia untuk ‘hadir’ di antara adik-adik itu lagi. Kemarin belum cukup. Walau hanya beberapa jam di sana, saya menyaksikan sendiri adik-adik itu mempunyai keinginan yang ingin mereka wujudkan. Keinginan, mimpi, cita-cita, normal, kan? Perkara bagaimana caranya itu urusan nanti. Buktinya mereka bersedia (dan berani) mengutarakannya pada kami, para relawan pengajar. Harapan itu ternyata masih ada. Jika saat ini mereka sedang berada di jalan yang lain, jalan yang tidak biasa, bukan berarti mereka tidak punya kesempatan. Saya percaya mimpi-mimpi merekalah yang akan menuntun mereka untuk kembali.

Sampai jumpa lagi, hai adik!

Cerita sebelumnya : Jalan-jalan ke Rammang-Rammang. Bisa baca di sini.

Pukul lima sore, saya sudah diantar kembali sampai di Pod House. Rasanya riang gembira karena enggak nyangka bisa seseru ini walau jalan-jalan sendiri (sekali lagi makasih banyak teman-teman di Makassar).

Berhubung besok sore saya sudah pulang ke Jakarta, saya mulai mengabsen apa yang belum saya lakukan di Makassar.

Check List:
Kenyang perut Mie Titi
Kenyang perut Pallubasa Serigala
Kenyang mata dan batin pemandangan Rammang-Rammang
Kenyang perut Konro Karebosi, Es Pisang Ijo, dan Jalangkote

Apa ya yang belum?

Saya ingat, mama pesan untuk dicarikan oleh-oleh Makassar. Bukan yang cruchy-crunchy melainkan yang lucu-lucu (pemirsa, kode ini artinya mama minta dibelikan sesuatu yang khas, bukan camilan, kain misalnya). Jadilah, malam itu, saya memutuskan untuk berjalan kaki ke Pusat Oleh-Oleh Unggul (toko) yang letaknya tidak jauh dari Pod House (tidak jauh versi saya ya, kalau dicek di Google Map jaraknya 800 m).

Dari Pod House yang ada di Jalan Penghibur, saya belok kanan mengarah ke Jalan Somba Opu. Kalau dibayangkan, Jalan Somba Opu ini merupakan jalan yang terletak di belakang Jalan Penghibur. Di Jalan Somba Opu, banyak juga toko oleh-oleh khas Makassar, sebenarnya. Tapi atas rekomendasi teman saya, yang paling lengkap adalah Toko Unggul yang ada di Jalan Pattimura, ujung Jalan Somba Opu. Jadilah, saya jalan kaki ke sana (kebayang kan pemirsa jalannya? Dia semacam pertigaan gitu).

Khusyuk memilih kain untuk mama, saya tidak sempat memotret kenampakan Toko Unggul. Seperti layaknya toko oleh-oleh versi komplet sih. Dari aksesoris sampai camilan, semuanya ada. Kalau tanya, camilan apa yang khas dari Makassar? Maka, jawabannya adalah Kacang Disko. Tapi lagi-lagi kata teman saya (orang Jawa Timur yang dinas di Makassar), Kacang Disko ini rasanya seperti kacang pada umumnya. Hanya namanya saja yang berbeda. Jadilah, saya membeli kue kering rasa nanas dan kopi (mirip kue lebaran) untuk teman-teman kantor dan kain khas untuk mama.

Pisang Epek
Pulang dari membeli oleh-oleh, saya jalan kaki lagi melalui rute yang sama, Jalan Pattimura – Jalan Somba Opu – Jalan Penghibur. Tidak perlu takut karena kamu akan berjumpa dengan orang-orang dan pedagang di pinggir trotoar. Apalagi kalau sudah sampai di Jalan Penghibur. Di malam hari, Jalan Penghibur menjadi ramai dengan lapak-lapak pedagang. Yang dijual hampir sama semua, Pisang Epek dan minuman dari kelapa (santan).

p_20170920_201747.jpg

Pisang Epek ini merupakan jajanan khas di Pantai Losari. Kalau dilihat, bentuknya mirip pisang bakar yang diberi gula merah cair. Manis!

Malam itu, saya sengaja mampir ke salah satu lapak di pinggir Jalan Penghibur. Agak sulit mencari tempat yang kosong karena rata-rata datang dalam rombongan. Setelah mendapat dua kursi (satu untuk saya, satu untuk tas belanjaan ciee.. ), saya pun memesan Pisang Epek original (enggak pakai tambahan keju, coklat, dan selai).

Sembari makan, para pengamen datang silih berganti dengan lagu yang sama, Akad – Payung Teduh. Ya, saat saya ke Makassar, lagu itu sedang naik daun di Jakarta dan ternyata di Makassar juga sama. Jadi, malam itu saya tutup dengan mengucapkan selamat kepada Payung Teduh, lagunya nge-hits :).

Benteng Fort Rotterdam

Museum Benteng Fort Rotterdam

Patung di depan pintu masuk Museum Benteng Fort Rotterdam.

Keesokan harinya, bangun tidur, saya langsung sadar ini hari terakhir di Makassar. Ada dua destinasi yang belum saya kunjungi, yaitu Benteng Fort Rotterdam dan Masjid Apung Amirul Mukminin. Dua destinasi ini sayang untuk dilewatkan karena keduanya sama-sama terletak di Jalan Penghibur, hanya letaknya ujung ke ujung.

Setelah packing dan sarapan, saya jalan kaki ke Benteng Fort Roterdam melalui Jalan Penghibur. Mengapa jalan kaki? Bagi saya, saat ada kesempatan berkunjung ke luar kota, saya selalu menyempatkan berjalan kaki untuk melihat keadaan kotanya lebih dekat. Saya ingin merasakan suasana kotanya. Selain itu, jarak Pod House ke Benteng Fort Roterdam cukup dekat (versi saya ya, kalau dicek di Google Map jaraknya 1 km). Dengan udara pagi pukul 10.00-an rasanya masih layaklah, ya. Enggak panas-panas banget.

Kompleks bangunan Museum Benteng Fort Rotterdam mengingatkan saya pada Benteng Vrederburg di Jogja serta sebuah museum yang ada di Malaka, Malaysia (saya lupa namanya). Hanya saja, kompleksnya lebih besar dan lebih luas. Saya berkeliling ke setiap kompleks museum. Ada yang gratis dan berbayar. Tenang, pun berbayar, masih masuk dalam kategori murah kok.

Area bangunan Benteng Fort Rotterdam di Makassar.

Bangunannya khas sekali ya!

Tampak belakang.

Ada guide yang menerangkan sejarah museum kepada pengunjung.

Sebenarnya, museum punya potensi besar untuk jadi arena belajar sejarah yang menyenangkan. Sayangnya, saya sering sedih jika datang ke museum. Bukan karena terkenang-kenang perjuangan pahlawan, namun melihat kondisi museum. Ruangan tempat memajang benda-benda sejarah ‘seakan’ dibiarkan gelap dan pengap. Selain itu, beberapa aksi vandalisme cuka nampak. Tembok-tembok bangunan museum penuh corat-coret. Untung saja kemarin, Museum Benteng Fort Rotterdam sedang ramai. Banyak rombongan anak sekolah bersama gurunya yang datang. Saya pun bersemangat untuk berkeliling dan tidak berasa ‘spooky’ hiii …

Suasana di dalam museum.

Corat-coret di dinding bangunan museum ini merusak keindahan museum.

Masjid Apung Amirul Mukminin

Masjid Apung Amirul Mukminin.

Oh ya, setelah puas berjalan kaki dari Benteng Fort Rotterdam, saya menyisakan sore di masjid terapung untuk solat ashar. Masjid terapung ini namanya Amirul Mukminin. Mengapa harus masjid ini? Yaa .. karena masjid ini masih berada di Jalan Penghibur (Pantai Losari). Jadi, sekalian saja disinggahi. Selain itu, masjid ini juga direkomendasikan oleh beberapa Bapak Gojek yang mengantar-jemput saya selama di Makassar.

Akhirnya, pukul empat sore, saya jalan kaki kembali ke Pod House dan memesan mobil via aplikasi online untuk ke bandara. Jalan kaki ini sambil membakar kalori kuliner Makassar yang sukses saya santap kemarin ya hehe. So, bye bye Makassar! Dengan senang hati kalau ‘diminta’ kembali 🙂

Yeay or Nay?
Overall, yang saya sukai dari perjalanan singkat ke Makassar ini adalah …
Kawasan Pantai Losari yang sepertinya didesain untuk menjadi pusat pariwisata. Di sepanjang jalan Pantai Losari, kita dapat menjumpai hotel (hostel), tempat makan, supermarket mini, serta kawasan pedesrian yang nyaman untuk jalan kaki, bercengkrama, lari-lari, duduk-duduk ditemani semilir angin pantai. Misal kamu ingin liburan selama tiga harian, kawasan Pantai Losari ini paslah untuk kamu pilih.

Oh ya, menutup seri cerita jalan-jalan ke Makassar, ada yang bertanya, mengapa judulnya Makassar Dengan Dua ‘S’. Alasannya, satu, gara-gara dinas ke Makassar, saya baru ngeh kalau menulis ‘Makassar’ itu dengan dua huruf ‘s’. Kedua, ada dua es yang terkenal di Makassar, yaitu Es Pallu Butung dan Es Pisang Ijo. Keduanya favorit saya. Dhoeng! Eh, gimana?? Enggak nyambung ya?? Heu. Judulnya demikian karena benar-benar merepresentasikan pengalaman personal saya saat berkunjung pertama kali ke Makassar.

Jadi, apa pengalamanmu saat jalan-jalan ke Makassar?? Bagi di kolom komentar ya! :).

Bye bye Makassar!

Baca cerita sebelumnya di sini:
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 1
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 2
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 3

Hari ketiga di Makassar berarti hari pertama full-day liburan. Yeay!

Kok tiba-tiba saat saya menulis ‘full-day liburan’ rasanya gimana gitu ya? Semoga Pak Bos enggak baca hihi.

Dari awal saya sudah mencoret Toraja dalam daftar liburan saya di Makassar kali ini. Di samping jauh, sepertinya biayanya akan semakin besar, apalagi saya solo travelling. Kalau jalannya rame-rame kan ongkosnya bisa dibagi-bagi. Jadilah, ada beberapa opsi lain yang bisa dijadikan pilihan, antara lain: Rammang-Rammang, Taman Nasional Bantimurung, Taman Laut Taka Bonerate, dan Maliono.

Setelah berdiskusi dengan teman saya, akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke Rammang-Rammang (see, betapa random-nya saya, bisa jalan-jalan tanpa perencanaan sebelumnya). Rammang-Rammang merupakan salah satu destinasi wisata alam populer di Makassar. Pemandangan alamnya, katanya, tidak ada duanya. Coba deh browsing. Saya yakin akan banyak referensi tentangnya.

Oh ya, saya tahu Rammang-Rammang sekitar dua tahun lalu. Kalau itu, teman saya (seorang travel blogger) menceritakan tentang destinasi ini saat kami bertemu di blogger gathering Potret Mahakarya Indonesia. Siapa sangka baru kesampaian di tahun 2017 ini dan teman saya sudah meninggal. Al-fatihah untuk beliau (suwun ya Mas, ceritanya).

Untuk mencapai Rammang-Rammang, jalurnya cukup mudah dan terjangkau. Saya cukup terbantu, teman saya yang orang Makassar bersedia mengantar saya dengan mobil. Sehingga saya tidak kesulitan karena dia hapal jalannya. Jika tidak ada mobil pribadi, kamu bisa menggunakan Go-Car atau Grab-Car. Saya ingat, saat di Pod House, sempat ada bule yang ingin ke Rammang-Rammang. Mereka pun memesan mobil lewat aplikasi online. Mungkin, salah satu faktor yang yang bisa dipertimbangkan adalah saat kamu mencari kendaraan untuk kembali, dari Rammang-Rammang ke Makassar (kota). Saat kembali akan lebih sulit mencari kendaraan daripada saat kamu datang dari Makassar (kota) ke Rammang-Rammang.

Hari itu, saya bersyukur cuaca di Makassar sangat bersahabat. Panas yes tapi asal tidak hujan saja yang bisa menghalangi kami jalan-jalan. Ada payung sih, tapi … Ya, gitulah.

Dari parkiran mobil berupa tanah lapang berumput, kami menuju dermaga kecil, tempat beberapa perahu bersandar. Hah? Perahu? Untuk apa? Bagi kamu yang belum tahu, Rammang-Rammang menawarkan kenampakkan alam sungai/danau yang ‘dikepung’ bebatuan tua. Kita harus naik perahu untuk menikmati keindahannya. Ada beberapa objek yang ditawarkan selama kita berlayar. Kita bisa meminta bapak kapal (nahkoda) untuk singgah sejenak di setiap tempat.

Dora, The Explorer, edisi Rammang-Rammang.

Pemangangan yang dapat dinikmati dari atas kapal.

Selamat datang di Rammang-Rammang. Kali pertama melihat pemandangan ini, rasanya pengen nyanyi Mahadewi-nya Padi, “Hamparan langit maha sempurna …”

Kemarin, kami singgah di Kampung Berua, yang terdiri dari Situs Pasaung, Padang Ammarrung, dan Gua Kelelawar. Di sana merupakan persawahan luas yang dikelilingi oleh perbukitan. Begitu turun dari kapal, bawaannya langsung pengen jalan-jalan mengeksplorasi padang rumput dan persawahan yang luas ini. Di beberapa sisi, ada bukit batu atau tebing yang harus kamu lalui dengan sabar (tidak disarankan pakai heels di sini ya, Ladies!).

Dari kenampakkan alamnya, wisata Rammang-Rammang sangat cocok untuk dikunjungi di pagi atau sore hari. Kalaupun siang hari, teriknya matahari akan sangat berasa walau udaranya cukup sejuk. Konon katanya, saking indahnya, kawasan ini sering dijadikan sebagai lokasi syuting film. Hayuk tebak film apa?

Setelah kapal menepi, sempatkan singgah. Kamu akan menemukan pemandangan seperti ini.

Setengah hari jalan-jalan di Rammang-Rammang ternyata cukup menguras energi dan membuat naga-naga di perut berdansa dengan irama krucuk-krucuk. Apalagi saya dan teman-teman juga memasuki gua yang menguji ketrampilan kami memanjat. Lepas dari kawasan Rammang-Rammang, kami langsung kembali lagi ke tengah kota untuk makan siang. Tujuan kami tetap kuliner khas Makassar dan terpilihlah … jreng!!

Konro Karebosi!!

Konro Karebosi yang kami singgahi terletak di Jalan G. Lompobattang No.41 Makassar. Lokasi ini cukup terkenal dan selalu direkomendasikan.

Konro Karebosi adalah makanan khas Makassar yang menggunakan daging sapi sebagai olahan utamanya. Ada dua jenis Konro, yaitu Konro bakar dan konro biasa atau konro kuah. Rasanya mantap hehe. Maksudnya, Konro bakar merupakan daging sapi empuk yang berlumur bumbu. Penampakkannya sih seperti bumbu kacang sate Madura. Rasanya cenderung manis. Sedangkan, konro biasa atau konro kuah, lebih gurih karena seperti daging sapi empuk dengan sup rempah. Dua-duanya juara, kamu harus coba semua.

Konro Karebosi yang berkuah. Kuahnya seger banget. Pemirsa harus coba ya!

Kontro Karebosi versi bakar. Bumbu kacangnya mirip bumbu sate. Rasa manis – gurihnya bikin nagih!

Harga
Satu porsi konro harganya 50.000-an. Harga yang cukup logis untuk sajian daging sapi nan empuk dan rasa rempahnya yang yummy.

Es Pisang Ijo dan Es Palu Butung Muda Mudi

Kamu masih kuat makan, Het?”
Iyaaaa, kan aku belum ketemu kesukaanku, es pisang ijo hehe.”

Jadilah, kami meluncur ke Muda-Mudi di Jalan Rusa No. 45 A. Di sana, kami memesan satu porsi Pisang Ijo, satu porsi Pallu Butung, dan dua Jalangkote. Pisang Ijo yes, Pallu Butung yes, Jalangkote?? Jalangkote itu seperti kue pastel tapi ukurannya lebih besar. Di Muda-Mudi, Es Pisang Ijo dan Es Pallu Butung disajikan dingin (yaiyyalah!) dan Jalangkote disajikan hangat-hangat (layaknya abis digoreng). Yummy semua!

Sebelah kiri yang ada ijo-ijonya itu namanya Es Pisang Ijo. Sedangkan, di samping kanan adalah Es Pallu Butung.

Harga
Oh ya, satu porsi es harganya 22.000. Tapi semuanya worth it, kok.

Over all, Yeay or Nay?
Konro Karebosi harus dicoba. Es Pisang Ijo, Es Pallu Butung harus dicoba juga karena …
e n a k b a n g e t.

Eits, ini belum edisi final. Masih ada satu cerita lagi tentang Makassar. Tunggu yaa …

Catet alamatnya, nih:
Konro Karebosi
Jalan G. Lompobattang No.41 Makassar

Es Pisang Ijo & Es Pallu Butung
Muda-Mudi di Jalan Rusa No. 45 A Makassar

Baca cerita sebelumnya di sini:
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 1
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 2

Yeay, akhirnya jalan-jalan juga!
(Kalimat pertama ini ditulis dengan penuh antusias)

Nggak banyak sih, cuma dua hari. Tapi … Dua hari ini adalah dua hari yang saya syukuri. Mengapa? Karena:
Satu. Akhirnya, berhasil menginjakkan kaki di tanah Sulawesi untuk pertama kali.
Dua. ‘Bakat ngilang’ akhirnya tersalurkan lewat solo travelling ke Makassar ini (ini pun hasil extend dinas ke luar kota! hihi)

Pun mau lima hari, sebenarnya bisa. Karena dinasnya hanya Senin dan Selasa, saya hanya perlu cuti dua hari (Rabu dan Jumat), saya sudah bisa menikmati liburan selama ke lima hari sampai Minggu. Karena hari Kamis adalah hari libur. Indah bukan?

Sayangnya, dengan bijak dan sadar diri, saya memilih untuk extend dua hari saja, Rabu dan Kamis. Ini pun kata seorang teman saat saya masuk ke kantor di hari Jumat, “Het, bos kemarin nanya formulir cutimu!”

Ups!

Singkat cerita, setelah seharian mengurus acara kantor, di sore hari saya pindah hotel. Dari Jalan Andi Mappanyukki saya naik Gojek ke Jalan Penghibur. Enggak begitu jauh sih, biaya Gojek-nya Rp 6.000,00 saja. Jalan Penghibur merupakan jalan yang ada di pinggir Pantai Losari.

Hari Kedua di Makassar

Sepotong senja untuk pacarku, halah. Salah satu yang bikin semangat adalah melihat matahari terbenam. Tanda dimulainya petualangan di Makassar. Saya siap!

Nginep di mana?
Pod House
Jalan Penghibur No.58-59 Makassar 90111

Mengapa? Ini rekomendasi dari seorang temannya teman. Katanya, tempatnya lucu dan pas di pinggir Pantai Losari. “Aman juga, Het, buat solo traveller kayak kamu,” promosi teman saya meyakinkan.

Berbekal saran itu, akhirnya, saya browsing. Benar saja, selain harganya yang pas buat saya, foto-foto yang ada di internet juga tampak menyenangkan.

Nggak heran, pas sampai sana di hari Selasa, spontan saya langsung bilang ke resepsionis,”Huwaaa, semuanya mirip dengan yang ada di foto!”. Kakak yang sedang berjaga di desk resepsionis hanya tersenyum saja melihat aksi spontanitas saya. “Iya, Kak, soalnya, biasanya yang di foto di internet sama yang aslinya berbeda,” tambah saya.

Diminum dulu welcoming drink-nya, Kak,” kata resepsionis meredakan kenorakan saya. Hahaha.

Di Pod House ada beberapa tipe kamar. Ada kamar yang sendiri, satu bed ukuran single dan menyatu dengan kamar mandi dalam, serta ada juga kamar keroyokan alias satu ruangan dengan beberapa tempat tidur tingkat.

Bangun tidur kuterus melihat kamar mandi hahaha. Tenang, walau sekatnya kaca, ada tirai penutupnya kok.

Dengan pertimbangan keamanan ‘barang-barang kantor’ yang saya bawa, saya pilih satu kamar sendiri yang luas kamarnya mengingatkan saya pada kamar kosan saya di Jakarta. Kamar pilihan saya ini, letaknya di lantai 4. Untuk mencapainya, dari meja resepsionis di lantai dasar, saya harus naik tangga manual. Tidak ada lift ya, pemirsa!! Jadilah, dengan backpack dan tote bag (serempong itu), saya naik tanggal dan mengatur nafas. Tuk wak, tuk wak!

Di tiap peralihan lantai, ada quote-quote seperti ini. Naik tangganya jadi semangat deh hihi.

Hiburan di kamar lantai 4 adalah kamar ini selantai dengan teras yang langsung menghadap ke Pantai Losari. Uhuy! Di teras ini, kalau sore, akan berubah fungsi menjadi cafe yang ramai pengunjung (tidak hanya penghuni hotel) untuk makan-minum atau sekadar mengobrol.

Bisa duduk-duduk santai di sini.

Pemandangan Pantai Losari dari teras lantai 4 Pod House.

Oke, balik lagi. Setelah meletakkan beban hidup tas dan mengagumi dinding kamar (percaya atau enggak, perlu satu menit untuk merasakan betapa lucunya kamar ini), saya segera mandi karena seorang teman sudah berjanji akan menjemput saya malam itu.

Anjing-anjing yang lucu di dinding kamar.

Cuss!! Waktunya makan!!

Pallubasa Serigala
Jalan Serigala Mamajang Dalam Mamajang Makassar
Buka: 10.00-21.00 WITA

Saya diajak teman saya (yang orang asli Makassar) untuk makan malam di Warung Pallubasa di Jalan Serigala (makanya, terkenalnya jadi ‘Pallubasa Serigala’).

Sambil menunggu pesanan saya diantar, teman saya memulai ‘dongengnya’ tentang sejarah warung ini. Konon katanya, warung ini dulu adalah warung tenda di pinggir jalan. Karena semakin berkembang dan ramai pengunjung, akhirnya, warungnya dipindah ke bangunan yang lebih permanen. Uniknya, bekas tenda warung di pinggir jalan tetap dibiarkan berdiri.

Warung tenda ini adalah warung aslinya. Di seberang warung tenda ini ada ruko yang dijadikan untuk rumah makan Pallubasa seperti yang kita kenal sekarang.

Iseng saya tanya, “Kalau udah pindah ke sini, kenapa tendanya masih ada? Buat apa?”
Buat cuci piring, Het,” kata teman saya enteng. Entah benar atau tidak, saya sudah enggak fokus menanggapi teman saya karena pesanan kami akhirnya tiba di meja.

Gimana, Het, enak?” tanya teman saya memastikan.
Enak-enak,” jawab saya antusias. Ya, gimana enggak antusias coba kalau ini Pallubasa pertama saya. Palu yang lain yang saya kenal hanyalah Palubutung (es).

Saking enaknya, dari dulu, orang selalu bela-belain antri, Het, kalau makan di sini. Kebayang kan, dulu warungnya masih warung tenda di pinggir jalan. Tapi kelelahan kita pas antri terbayar lunas setelah kita makan di sini. Pun pernah ya, dagingnya abis, kuahnya aja deh enggak apa-apa, udah enak banget pake nasi,” kata teman saya yang membuat saya tertawa.

Buat kamu yang belum pernah makan Pallubasa, saya bantu mendeskripsikan. Jangan lupa sapu tangan kalau ngeces, please.

Bentuk makanan Pallubasa ini mirip sup alias makanan berkuah banyak dengan potongan daging sapi yang empuk. Salah satu hal yang membuat enak adalah kuahnya yang sangat kaldu sapi sekali. Gurih, gurih gimana gitu. Sepertinya, memang tidak dibuat asin alias agak tawar supaya orang bisa membuat cita rasanya sendiri dengan menambahkan garam yang sediakan di meja.

Ini dia Pallubasa Serigala yang disajikan dengan mangkok ukuran mini (mirip mangkok Soto Kudus). Yang kuning itu adalah telur.

Saat memesan, kamu juga akan ditanya pakai telur atau enggak. Maksudnya, kalau kamu ingin pakai telur, di Pallubasa kamu akan ditambahkan telur. Enggak digoreng, enggak direbus, lho! Telur akan langsung dipecah dan dituangkan di Pallubasa kamu yang disajikan hangat-hangat. Sumpah, enggak amis!

Harga
Saya lupa berapa harga satu porsi Pallubasa. Notanya hilang. Kalau tidak salah, dua porsi Pallubasa, dua porsi nasi, dan dua teh hangat Rp 70.000,00-an.

Yeay or Nay?
Yes! Saya akan merekomendasikan kamu untuk mampir ke sini kalau sedang di Makassar. Bagaimana tidak, Makassar adalah surganya kuliner dan semua orang mengamini hal ini. Saat mampir ke sana kemarin, warungnya ramai pengunjung. Rata-rata yang datang adalah rombongan. Jadi, enggak perlu ragu, mampir yaaa …

*
Ini belum berakhir. Masih ada hari ketiga dan keempat! Bersambung ke cerita selanjutnya. Pemirsa sabar ya 🙂
Baca cerita sebelumnya di sini.

Bagian favorit saya setiap naik bus Transjakarta adalah memandang ke luar jendela. Entah saat saya mendapatkan bangku atau berdiri, entah mau memandang ke sebelah kiri atau kanan, entah perjalanan siang atau malam. Rasa-rasanya, ada saja yang terjadi di ibukota yang sayang untuk dilewatkan. Pun, di dalam bus.

Malam kemarin, dalam perjalanan pulang, seperti biasa, saya menatap Jakarta dari kaca bus. Kalau malam, kelap-kelipnya lampu gedung atau kendaraan bisa jadi hiburan juga. Tiba-tiba, saat bus meninggalkan Halte Pacenongan, saya melihat dua orang yang nampak sedang berunding di pinggir jalan raya. Keduanya berhenti begitu saja. Dari posisi mobil yang berurutan, bisa diduga hal yang paling sering terjadi di Jakarta, … . Yes, tepat sekali! Senggolan kendaraan!

Dari dalam bus, keduanya nampak serius berbicara dan beradu argumen. Siapa yang salah? Siapa yang menabrak siapa? Sambil sesekali saling memperlihatkan badan mobil yang ‘terluka’. Duh!

Tiba-tiba, ingatan saya tertuju pada sebuah iklan yang sering saya lihat di TV saat saya masih kanak-kanak. Situasinya mirip! Tak lama kemudian, terdengar suara “Don’t worry, be happy!” Ya, iklan Garda Oto di TV. Apa kabar ya Garda Oto sekarang??

* *

Ternyata, Garda Oto bukan melulu soal “Don’t worry, be happy!”. Ada yang terbaru dari itu. Garda Oto yang merupakan produk unggulan dari Asuransi Astra yang memberikan perlindungan menyeluruh untuk mobil, kini di tahun 2017, bertransformasi ke dunia digital untuk memfasilitasi para digital users.

Perjalanan Asuransi Astra versi Doodle Art yang ditampilkan saat Garda Oto Digital Launching kemarin. Jadi seru karena tamu yang hadir bisa ikut mewarnai bersama.

Ya, 10 Oktober 2017 kemarin, Asuransi Astra meluncurkan saluran layanan baru dengan nama Garda Oto Digital di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Selain meluncurkan Garda Oto Digital, di saat yang sama, Asuransi Astra juga meluncurkan kembali dua aplikasi mobile-nya, yaitu Garda Mobile Otocare v3.0 dan Garda Mobile Medcare v2.0.

“Inovasi telah menjadi denyut nadi kami, menjadi semangat kami untuk membangun dan menentukan standar baru dalam industri. Garda Oto Digital adalah saluran layanan baru kami yang mengedepankan teknologi digital dalam pemasarannya, sehingga akan memudahkan pelanggan dalam mendapatkan perlindungan untuk mobil mereka, ” Rudy Chen, CEO Asuransi Astra.

Lalu, apa itu Garda Oto Digital? Garda Oto Digital merupakan layanan penjualan produk asuransi kendaraan bermotor Garda Oto yang dapat dibeli secara online melalui kanal Gardaoto.com. Kehadiran Garda Oto Digital sesungguhnya semakin melengkapi platform digital Asuransi Astra yang terdiri dari berbagai aplikasi, seperti Garda Mobile Otocare, Garda Mobile Medcare, Garda Mobile HRakses, Garda Mobile CRAkses, Garda Mobile Otosales, dan Garda Mobile Otosurvey. Lengkap ya!

Semua ini merupakan bukti bahwa Asuransi Astra mengamini kemajuan teknologi yang terjadi dewasa ini dengan terus berinovasi. Salah satu inovasi di sini diterjemahkan sebagai kemudahan bagi pelanggan untuk mengakses produk Garda Oto melalui layanan Garda Oto Digital. Kemudahan inilah yang kemudian dijadikan sebagai sebuah jargon ‘makin gampang’.

Mengapa makin gampang? Bagi pelanggan Garda Oto Digital, ada tiga kelebihan yang membuat urusan klaim ini menjadi semakin mudah, yaitu:
1. Gampang untuk memilih lokasi klaim
Mau di kantor, di rumah, atau di mana pun, klaim yang diajukan pelanggan makin gampang dengan layanan survei di lokasi pilihan pelanggan (home survey).

Dokumentasi: Instagram @garda.oto

2. Gampang untuk antar jemput kendaraan
Jika kemacetan menjadi salah satu alasan, kini tidak lagi. Layanan antar jemput kendaraan menuju bengkel dari lokasi pilihan pelanggan dan antar kembali dari bengkel ke lokasi pelanggan bisa dilakukan (delivery service).

Dokumentasi: Instagram @garda.oto

3. Gampang untuk memantau status klaim
Dengan Garda Mobile Otocare, pelanggan dapat dengan mudah memantau status perbaikan kendaraan.

Dokumentasi: Instagram @garda.oto

Tidak sampai di situ saja, untuk menarik pelanggan mencoba layanan baru ini, Garda Oto juga menyediakan masa promo program, yaitu selama 10 Oktober – 31 Desember 2017. Selama masa promo program, pelanggan Garda Oto Digital bisa mendapatkan banyak bonus, antara lain:
1. Hadiah langsung E-Toll On Board Unit (untuk pembelian tipe perlindungan komprehensif)
2. Hadiah langsung Spin to Win Samsung Galaxy Note 8 (untuk pembelian tipe perlindungan komprehensif)
3. Hadiah langsung voucher Optik Melawai (untuk pembelian tipe proteksi TLO dan komprehensif selama bulan Oktober)
4. Cicilan 0% dengan kartu kredit BCA, Bank Mandiri dan Permata Bank

Menarik, kan?

Walaupun demikian, sebagai layanan baru, layanan Garda Oto Digital baru bisa diakses oleh seluruh pengguna mobil di area Jakarta (pembelian di area Jakarta). Nah, kalau masih penasaran, yuk cari informasi lagi. Untuk informasi lengkap tentang Garda Oto Digital bisa cek langsung di gardaoto.com. Cuss!

Garda Oto Digital, Makin Gampang Klaimnya, Banyak Bonusnya!

* *

Tiba-tiba, rasanya ingin berbisik pada kedua orang di pinggir jalan tadi, “Bapak pakai Garda Oto Digital, deh!”

%d bloggers like this: