Sabtu, 21 Februari 2015

(Sabar, cuy! Belum ganti hari. Hihi)

Masih tentang Lounge Blue Sky.

Pertanyaannya masih sama. Di bagian sebelah mana Soetta-kah Lounge Blue Sky itu?

Perjalanan Karet Sudirman – Soetta, Cengkareng bagai simbsalabim. Cepat! Nampaknya, hari Sabtu kemarin, orang-orang Jakarta sedang malas-malasnya ‘memenuhi’ jalanan dengan mobilnya. Jadi beruntunglah, saya.

Pukul 11 lebih 15 menit, taksi order via aplikasi grab taxi sudah menanti manis di depan kos. Tidak sampai satu jam perjalanan, pukul 12 kurang, saya sudah memasuki area terminal 1. Mata saya langsung jelalatan membaca tulisan-tulisan yang terpampang si sepanjang bangunan terminal. Dan, voila.. ketemu!

Alih-alih langsung menuju Lounge Blue Sky, saya justru tertarik dengan segerombolan koper warna coklat yang tertata rapi, penanda sedang didata. Tidak jauh dari pemandangan koper, ada juga beberapa rombongan yang menyemut membentuk lingkaran masing-masing, mengenakan batik biru kuning mentereng.

Nah, itu dia! Rombongan umroh saya dari Jakarta, yeay!

Noted:

Inilah salah satu resiko bepergian sendirian. Selain harus sadar diri bahwa kita pergi sendiri, kita juga harus bisa mengenali lingkungan sekitar untuk berafiliasi agar tidak merasa asing sendiri.

Halo, saya Hety, “ kata saya mantab, memperkenalkan diri pada si pendata koper dan koordinator umroh.
Dengan siapa?” tanya si pendata koper, to the point.
Saya sendiri,” jawab saya mantap plus senyum mengembang seperti layar kapal terkena angin lautan.

Detik berikutnya, si pendata koper sudah terlibat pembicaraan dengan si koordinator umroh. Mereka berdua memang mundur beberapa langkah dari keberadaan saya. Syukurlah, dengan telinga selebar gajah dan kepekaan suara nyamuk nging-nging, saya masih bisa mendengar percakapan dua orang itu .

Intinya, mereka mengkhawatirkan kesendirian saya dalam perjalanan kali ini. Perjalanan pertama kali. Saya harus benar-benar stay dalam rombongan, tidak boleh ke mana-mana sendiri, serta karena saya perempuan muda, harus dalam pengawasan yang lebih tua slash pengawasan ibu-bapak. Done, saya dititipkan.

Bukan perkara mudah untuk menentukan siapa yang bisa diajak berkenalan di kondisi bandara yang ramai seperti ini. Hampir semua orang yang mengenakan batik biru kuning mentereng dikelilingi orang orang-orang yang berbaju bebas (baca: keluarga). Mereka tampak sibuk mengucapkan kalimat pamitan. Sesekali mereka tertawa tapi juga curi-curi kesempatan untuk mengusap ujung mata dengan tisu yang tergenggam berantakan di jari tangan.

Oh, mama, papa, mbak Yen. Ini beneran, Hety pergi sendirian, ya? Saya berguman random, mengenang keluarga di Jogja.

Saya mencoba menajamkan radar. Tengok ke kanan dan ke kiri mencari orang seumuran yang bisa diajak bertegur sapa. Bip bip bip, bunyi radar dalam imajinasi muncul, menandakan saya tak menemukan orang seumuran.

Yeah, walau kadang umur 26 dianggap sudah cukup umur dan dewasa, nampaknya tidak berlaku di sini. Di sini, saya termasuk anak kecil. Anak kecil yang (sesungguhnya) tidak boleh pergi sendiri. Saya mulai memahami apa yang dirumpikan oleh si pendata koper dan koordinator umroh tadi. Saya masih kecil, masih muda, belum menikah, dan tidak boleh pergi sendiri. Entah, mengapa rasanya berbeda. Biasanya, dicap masih muda adalah sebuah kebahagiaan tapi kali ini, nampak seperti disepelekan.

Tante, sini, saya potretkan!” sapa pertama saya pada tiga orang ibu-ibu seusia mama. Oke, strategi SKSD Palapa mulai dijalankan. SKSD adalah Sok Kenal Sok Dekat padahal tidak tahu apa-apa :p.

Aaaw, boleeeeh,” seru para ibu kompak, gembira.

Selesai klik sana, klik sini, saya pun memperkenalkan diri.

Ya, ampun! Sendiri? Masih muda sekali, ya? Pantes, kelihatan banget. Di bawah 30 pasti. Belum menikah, ya? Ikut seneng ternyata masih ada anak muda yang uangnya nggak cuma buat foya-foya. Udah, sini aja, ikut kita bertiga aja. Suka foto-foto, kan? Nanti gantian. Kalau sama kita, harus foto. Jangan kaget, ya. Kita bertiga sahabatan sejak SMA. Ini ceritanya, kami reuni.”

Hasil jepretan Tante Ade.

Hasil jepretan Tante Ade.

Di luar dugaan, respon ketiga tante bagai taburan confetti, heboh dan meriah. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan tiga tante baik hati yang suka foto. Hush-hush, buang jauh rasa kesepian. Kalau sudah diniatkan, tidak ada yang namanya pergi sendirian, adanya hanya teman dan keluarga baru yang menyenangkan.

Thanks to Tante Ade, Tante Wulan, dan Tante Ratna.
Kalau Cinderela cuma punya satu ibu peri, saya punya tiga tante peri baik hati hihi :)

Sabtu, 21 Februari 2015

My cute white gamis, brown socks, and black flat shoes.

My cute white gamis, brown socks, and black flat shoes.

Hari Sabtu yang lalu rasanya seperti mimpi. Seperti yang sudah-sudah, sesuatu yang semula hanya mampu saya bayangkan slash saya andaikan, benar-benar menjadi hari yang harus saya jalani. Cubit-cubit pipi, pijit-pijit jari tangan. Auow, sakit! Ternyata, saraf saya masih bisa mengirimkan sinyal ke otak untuk mengidentifikasikan sensasi rasa nyeri. Yeah, hari ini memang benar-benar terjadi (baca: kenyataan).

Jangan lupa, ya, Mbak. Berkumpul di Lounge Blue Sky jam 12.00.”

Takut? Iya.

Ini memang bukan kali pertama saya harus ke bandara sendiri. Ini juga bukan kali pertama saya bepergian sendiri. Bahkan, saya termasuk orang yang cukup ‘nekat’ untuk menjelajah tempat baru sendirian tanpa kawan (teringat, Januari kemarin, saya tersesat malam-malam di Palembang untuk menuju Jembatan Ampera sendirian).

Di bagian sebelah mana Soetta-kah Lounge Blue Sky itu?

Saya sudah siap tersesat. Saya juga sudah siap muka innocent, modal bertanya ke satpam bandara terdekat. Sayangnya, ketidaktahuan letak Lounge Blue Sky hanyalah ketakutan semu. Tidak ada.

Lebih dari itu, saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri. Kepergian kali ini benar-benar dilalui dengan serangkaian seremoni kegrogian yang luar biasa beberapa hari sebelumnya. Pamitan keluarga, grogi. Ditanya teman, grogi. Mengajukan cuti, grogi. Packing pun, grogi.

Maklum. Kepergian pertama yang bermula dari percakapan random dua orang perempuan yang mendambakan kedamaian hati. Tuhan (sepertinya) ikut mendengar rumpian kami dan tidak sampai satu tahun, Tuhan ‘menuliskan’ tiket perjalanan saya untuk menemuinya.

EY 475 Jakarta – Abu Dhabi
EY 313 Abu Dhabi – Jeddah

Siapa yang tidak bahagia bisa bertamu ke rumah Tuhan?

Di sinilah kemudian, saya menemukan teori kerelaan. Siapa yang tidak senang jalan-jalan? Jalan-jalan berarti rela melepaskan hati untuk bersenang-senang sekaligus siap kehilangan. Sesungguhnya, saat jalan-jalan, banyak hal di luar kendali kita yang harus siap direlakan. Kepulangan kita, misalnya.

Berniat pulang pun bukan jaminan. Tidak pernah ada yang tahu tujuan kepulangan kita sesungguhnya. Rumah yang mana? Takdir sudah memberikan alamatnya sendiri tentang rumah, tentang kepulangan.

Lalu, apa yang perlu ditakutkan? Kepulangan itulah bagian terpenting yang harus direlakan.

Astaudi ‘ukumullahalladzii laa tadzii u’ wa daaiu’hu.
Aku titipkan kalian kepada Allah yang tidak akan hilang titipan-Nya.
(HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah)

So, here we go, bissmillahirrohmanirrohim, stairway to heaven like Led Zeppelin’s song.

Kalau sering berkunjung ke website Korea Tourism Organization di http://www.visitkorea.or.id/kto/, pasti sudah tidak asing lagi dengan gambar ini. Gambar apakah ini?

Imagine Your Korea

Imagine Your Korea

Ya, gambar berupa kalimat ‘Imagine Your Korea’ ini merupakan slogan baru pariwisata Korea. Baru-baru ini, pemerintah Korea meluncurkan slogan ‘Imagine Your Korea’ sebagai strategi promosi pariwisata Korea ke dunia. Inilah salah satu bentuk keseriusan pemerintah Korea dalam mengelola pariwisata di negaranya, yang terbukti mampu mendatangkan banyak devisa.

Imagine Your Korea’ tidak dipilih begitu saja tanpa alasan. Sebagai sebuah identitas, slogan ini mempunyai misi, nilai, dan budaya tersendiri yang ingin disampaikan kepada orang-orang yang berkunjung ke Korea. ‘Imagine Your Korea’ terdiri dari tiga kata yang memiliki artinya masing-masing, yaitu Imagine, Your, dan Korea.

Imagine
Kata ‘imagine’, yang dalam bahasa Indonesia berarti bayangkan, mengajak orang-orang di seluruh dunia untuk datang ke Korea dan menikmati keanekaragaman destinasi pariwisata Korea secara langsung, baik yang modern maupun yang sarat dengan budaya lokal.

Misalnya saja, jika sebelumnya orang-orang itu hanya menikmati pemandangan alam Korea dari drama Korea yang ditontonnya di televisi, maka saat berkunjung ke Korea, orang-orang dapat berada di tempat yang sama dengan lokasi drama Korea itu. Mereka diajak untuk menciptakan pengalaman dan kisahnya sendiri.

Hal ini, saya rasakan sendiri saat berkunjung ke Pulau Nami untuk bernostalgia dengan drama Korea terkenal, Winter Sonata, bersama teman-teman. Tempat-tempat yang menjadi lokasi syuting diberi tanda khusus agar para wisatawan dapat mengabadikan momen di sana, seperti dalam film.

Salah satu 'spot' di Pulau Nami dengan background poster besar film Winter Sonata.

Salah satu ‘spot’ di Pulau Nami dengan background poster besar film Winter Sonata.

Your
Kata ‘your’, yang dalam bahasa Indonesia berarti kepemilikan atau –mu, merupakan bentuk keterlibatan wisatawan dalam memberikan pendapat dan testimoni terhadap destinasi wisata yang dikunjungi selama di Korea.

Korea merupakan negara yang ramah dan terbuka dengan wisatawan. Wisatawan seakan dimanjakan dengan mudahnya sistem transportasi, penunjuk jalan, peta wisata, serta tourist information center. Informasi yang disampaikan pun lengkap dalam dua bahasa, yaitu Korea dan Inggris. Sehingga, walaupun tidak bisa berbahasa Korea, wisatawan tidak perlu khawatir tersesat.

Fasilitas-fasilitas itu sengaja diberikan agar wisatawan merasa menjadi bagian dari Korea dan tidak merasa asing. Dengan kenyamanan yang dinikmati, harapannya para wisatawan dapat menceritakan hal-hal baik yang dialaminya selama di Korea. Hal ini perting, terlebih, saat ini Korea telah berkembang menjadi salah satu negara tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan yang bepergian sendiri tanpa ada perantara khusus. Wisatawan seperti ini ini sering disebut dengan Free Independent Traveler(FIT).

Di tempat wisata, pasti dengan mudah dapat kita temukan 'tourist information center'.

Di tempat wisata, pasti dengan mudah dapat kita temukan ‘tourist information center’.

Bahasa Inggris dan bahasa Korea berpadu, memudahkan para wisatawan asing untuk membaca petunjuk.

Bahasa Inggris dan bahasa Korea berpadu, memudahkan para wisatawan asing untuk membaca petunjuk.

Korea
Sedangkan, Korea menjelaskan Korea sebagai sebuah negara yang kaya dengan berbagai macam destinasi pariwisata, dari alam, budaya, sampai yang serba canggih dan modern.

Oh ya, kabar gembiranya, saat ini, video promosi pariwisata ‘Imagine Your Korea The Movie – 4D’ tayang di beberapa jaringan Blitz Megaplex, seperti Grand Indonesia (Jakarta), Central Park (Jakarta), Mall of Indonesia (Jakarta) dan Paris Van Java (Bandung). Video ini tayang sesaat sebelum film di bioskop diputar. Destinasi wisata Korea yang mucul dalam video itu antara lain Suwon Hwaseong, Dongdaemun Design Plaza, jalan Garosu-gil di Sinsa-dong, Taekwondowon di Muju, dan Pulau Jeju.

Penasaran dengan videonya?

Cek keseruan video ‘Imagine Your Korea‘ di sini https://www.youtube.com/watch?v=PlSu1ZQCKy8

\^^/

Para penggerak daerah (peserta FKPD 2015) bersama panitia dari Indonesia Mengajar (Dokumentasi: Citra)

Para penggerak daerah (peserta FKPD 2015) bersama panitia dari Indonesia Mengajar (Dokumentasi: Citra)

Pada bulan Desember 2014, Indonesia Mengajar menyelenggarakan Forum Kemajuan Pendidikan Daerah (FKPD) di Purwakarta, Jawa Barat. Ini adalah kali kedua Indonesia Mengajar menyelenggarakan forum serupa. Sebelumnya, forum yang mempertemukan Indonesia Mengajar dengan para penggerak daerah ini dinamakan Local Sustainable Education Improvement (LSEI).

Dengan mengusung format yang sama, FKPD diselenggarakan selama dua hari (15-16/12) dan dihadiri oleh para penggerak daerah, baik di level kabupaten, kecamatan, maupun desa penempatan Pengajar Muda. FKPD merupakan ajang silaturahmi antarpenggerak daerah sekaligus forum bertukar ide dan gagasan untuk menumbuhkan inisiatif daerah. Inisiatif daerah merupakan hal yang menjadi perhatian besar bagi Indonesia Mengajar.

Di hari pertama, peserta FKPD dari 15 kabupaten penempatan Pengajar Muda melakukan pemetaan aset, potensi, amunisi, sekaligus tantangan yang sesuai dengan kondisi daerahnya. Setiap kabupaten didampingi oleh seorang fasilitator yang membantu merumuskan gagasan-gagasan yang muncul dan menuliskannya di kertas plano. Di akhir sesi, setiap peserta bisa berkeliling dan membaca yang dituliskan oleh peserta dari daerah lain. Tidak sampai di situ saja, setiap peserta juga bisa saling bertanya dan berdiskusi mengenai kondisi daerahnya.

Sedangkan di hari kedua, para peserta diajak untuk berpikir lebih strategis. Aset, potensi, amunisi, dan tantangan daerah yang sudah dirumuskan oleh peserta, diaplikasikan dalam kebijakan-kebijakan terkait pendidikan di daerah. Di sinilah, inisiatif-inisiatif daerah bermunculan. FKPD mengajak para penggerak daerah percaya diri dalam mewujudkan mimpinya di bidang pendidikan. Jadi, daerah tidak hanya mengandalkan keberadaan Pengajar Muda di daerah yang bertugas selama satu tahun saja, tetapi juga aktor-aktor lokal yang dapat diajak untuk berkolaborasi. Adapun inisiatif daerah yang muncul antara lain TBB Cerdas (Tulang Bawang Barat), Bengkalis Mengajar (Bengkalis), Pemuda Penggerak Desa (Halmahera Selatan), Angkatan Pelopor (Maluku Tenggara Barat), serta Jaring Kreativitas (Paser).

Selama dua hari penyelenggaraan FKPD, ternyata tidak ada kendala bahasa antarpeserta. Walaupun berasal dari daerah yang berbeda, nyatanya, keakraban antarpeserta justru dapat terjalin dengan mudah. Hal ini disebabkan karena masing-masing peserta memiliki cerita tersendiri mengenai pendidikan di daerahnya dan antusias saat mendengar cerita dari daerah lain. Selain itu, mereka sama-sama mengakui bahwa kehadiran Pengajar Muda di daerahnya, menambah warna tersendiri dalam dinamika pendidikan di daerah.

Tentang Indonesia Mengajar indonesiamengajar.org

@adcndra's doc.

@adcndra’s doc.

Bertengger dengan dua kaki seperti ini terasa menyenangkan. Inilah cara terbaik kami untuk berdiri. Sedikit mirip manusia, ya? Mereka berkaki dua juga, kan? Tapi jangan tanya, hanya untuk bediri di kabel seperti ini, mereka harus latihan berbulan-bulan. Yaaa, ada sih yang bisa, hanya beberapa. Mereka mencoba keras berjalan di atas kabel dengan bantuan tongkat di dalam tenda yang besar. Tak hanya manusia, kadang mereka juga mengajak beberapa teman kami untuk beratraksi. Sirkus, katanya namanya.

Dengan iming-iming makanan dan suara riuh tepukan tangan, kami tak kepengen, tuh. Tak ada yang menandingi waktu bersantai seperti ini. Langit bagai layar televisi bagi kami, tak pernah membosankan. Kabel ini pun sudah mirip sofa empuk. Bersisian dengan saudara dan teman, kami menjadi saksi pergantian hari. Apakah ini yang disebut kebebasan?

Laporan dari atas sini, masih saja manusia selalu tampak sibuk dengan urusannya. Mungkin, itulah bedanya dengan kami. Kami juga bisa sibuk saat dalam misi penerbangan ke Barat atau Utara. Walaupun demikian, selalu ada waktu untuk duduk manis dan tak ‘tampak’ hanyut dalam kesibukan. Tak perlu menelan pil, duduk bercakap bersisian bersama saudara dan teman sudah cukup menenangkan.

Sungguh, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Aktivitas berlebihan hanya berujung pada kelelahan, bukan? Jadi sederhanakan waktumu. Tidak akan ada waktu jika memang tidak disempatkan. Dunia dengan detail penciptaannya sungguh sayang untuk dilewatkan.

Dongeng untuk Jakarta dari burung-burung Australia

PS.
Thanks @adcndra for the photo (^^)V

Ibu kos bertingkah. Bukan tingkah baru sih, tapi makin lama saya semakin punya imajinasi sendiri tentangnya. Jadi alih-alih dibawa ke hati, saya anggap ini sebagai lucu-lucuan saja hidup di ibukota. Lumayan, hiburan gratis!

Sudah bukan rahasia lagi di kalangan penghuni kos kalau ibu kos tidak bisa tersenyum. Bahkan, saat jadi anak baru di kosan, penghuni lama langsung berpesan, “Jangan kaget ya, Tante orangnya enggak bisa senyum.” Pilihannya, antara jaim (jaga image) atau default face dari sono-nya sudah begitu. Jadi, mau dikatakan apa lagi.. seperti lirik lagu Raisa.

Justru, semakin Tante tidak tersenyum, semakin tinggi rasa penasaran dan usaha saya untuk membuat Tante tersenyum. Setiap menemui Tante untuk membayar uang kosan misalnya, sikap ramah dan murah senyum selalu saya obral. Ditanggapi atau tidak, saya tak peduli.

Akhirnya, usaha yang saya lakukan setiap bulan berbuah manis. Suatu hari di akhir 2014, saat membayar uang kosan, Tante tersenyum saat menghitung uang yang saya bayarkan. “Hmm, bisa tersenyum gara-gara uang, rupanya,” batin saya.

Sayangnya, teori itu tidak bertahan lama. Di bulan-bulan selanjutnya, Tante kembali lagi dengan wajah datar, tanpa senyum, bahkan cenderung galak (eh!). Saat menghitung uang kosan yang saya bayarkan pun, tidak ada senyum sama sekali.

Nah, rupanya, kali ini, ada lagi tingkah Tante yang baru saya sadari. Kemarin, saat membayar uang kosan dengan uang plus keramahan yang saya obral, Tante tetap dingin seperti biasa.

Ini, Tante uangnya,” kata saya renyah dan membiarkan Tante menghitung uang.
Iya,” jawab Tante pendek, dingin, dan … sekenanya.
Terima kasih, ya, Tante,” pancing saya super ramah.
“…”
Krik.
Hening.
Oke. Ucapan terima kasih saya sama sekali tak dibalas.

Sebenarnya, saya sama sekali tidak mempermasalahkan siapa yang seharusnya berterima kasih. Di luar hal itu, saya berprinsip, kita harus memberikan balasan positif kepada orang yang sudah ‘berusaha’ mengucapkan terima kasih. Sebagai bentuk penghargaan kepada orang itu, berkata, ‘ya,’ atau ‘sama-sama’ saja sudah cukup menyenangkan.

Ada lho, di dunia ini, orang yang nggak bisa bilang ‘terima kasih.’ Ya, kan?

Satu Juta Terima Kasih Ala Paman Gober
Sejak kejadian itu, tiba-tiba, saya teringat komik Donald Bebek, edisi nostalgia, yang pernah saya baca.

Salah satu edisi Donald Bebek yang saya punya.

Salah satu edisi Donald Bebek yang saya punya.

Diceritakan, Donald Bebek merugikan Paman Gober yang terkenal kaya raya itu. Kwak, Kwik, Kwek, keponakan Donald, pun khawatir karena ternyata Paman Gober mengirimkan Donald ke penjara. Sebenarnya, Paman Gober sadar, Donald tidak mampu membayar ganti rugi dengan uang karena tidak sekaya dirinya. Akhirnya, Paman Gober datang ke kantor polisi dan meminta polisi untuk mengganti hukuman Donald. Tahukah apa hukuman itu?

Satu juta terima kasih. Ya, Donald harus mengucapkan terima kasih kepada Paman Gober sebanyak satu juta kali.

Kontan, di balik jeruji besi, Donald beraksi dan mengucapkan satu juta terima kasih kepada Paman Gober. Sayangnya, belum sampai satu juta kali, Paman Gober sudah tidak tahan lagi dengan suara Donald.

Cukup, cukup, cukup!” katanya kewalahan menghentikan suara Donald yang berisik.

Akhirnya, Donald pun dibebaskan dan Kwak, Kwik, Kwek pun bersorak gembira.

Itu adalah salah satu cerita Donal Bebek favorit saya. Cerita itu selalu mengingatkan saya kalau terima kasih itu seperti gula. Kalau cukup, manis. Kalau kebanyakan, jadi kemanisan dan tidak enak. Jadi, apresiasilah orang yang sudah ‘berusaha’ mengucapkan terima kasih kepada kita. Bahkan, setiap bahasa di dunia ini punya kaidah masing-masing dalam menjawab ucapan terima kasih.

Cerita ‘Satu Juta Terima Kasih’ juga selalu mengingatkan saya kalau ucapan terima kasih itu tidak ternilai harganya. Bahkan, ucapan ‘terima kasih,’ sesungguhnya tidak akan tergantikan oleh uang dan barang. Lucunya, makin ke sini, saya justru sering mendengar, “Terimalah hadiah ini, sebagai bentuk ucapan terima kasih atas kebaikan Saudara yang telah membantu kami.” Fiuh.

Terima Kasih, Gratis Sih!
Masih tentang terima kasih. Saya benar-benar tak bosan membahas topik ini. Kalau terima kasih sesungguhnya adalah sikap ketulusan yang non-uang dan non-barang, lalu apa syarat terima kasih? Berbayarkah?

Bus Transjakarta gratis.

Bus Transjakarta gratis.

Pemandangan tidak biasa terjadi di dunia per-bus-an. Sejak beberapa waktu lalu, pemerintah kota Jakarta mengoperasikan bus gratis yang didukung oleh beberapa perusahaan besar (terbukti di dalam bus banyak tempelan logo/iklan). Busnya sama seperti bus Transjakarta koridor 1, besar dan bersih.

Yang berbeda, bus gratis ini melewati jalur kendaraan biasa, bukan jalur Transjakarta. Di kaca depan ada tulisan ‘GRATIS.’ Jadi, jangan heran ketika ada beberapa penumpang yang menyetop bus ini dari tepi jalan (trotoar). Bus ini akan dengan senang hati berhenti dan membuka pintu depannya.

Sepanjang saya naik dari kawasan Karet, mayoritas penumpang turun di depan Ratu Plaza. Bahkan, bus yang semula lumayan ramai itu menjadi lenggang. Sebagai penumpang yang juga turun di Ratu Plaza, saya turut dalam antrian untuk turun di pintu depan bus.

Makasih, ya, Pak.”
Terima kasih, Pak.”
Bapak, terima kasih.”

Berbagai versi ucapan terima kasih satu persatu diucapkan oleh penumpang sebelum turun. Karena berada di antrian paling belakang, saya geli sendiri menyaksikkan kejadian pagi itu. Semua penumpang ramah, bapak driver dan kondekturnya pun juga ramah. Mereka berdua tersenyum dan mengangguk untuk membalas ucapan terima kasih yang bertubi-tubi dari para penumpang.

Ya, saya percaya karma. Saya percaya hukum alam. Aturannya, ketika kita sudah bertingkah baik, maka balasan yang kita terima adalah hal-hal baik juga. Tapi dalam kasus ini, apakah para penumpang itu berterima kasih karena diberi layanan gratis? Hush, prasangka saya. Terbayang, saat di Kopaja, Metromini, Transjakarta, bahkan angkot sekali pun, saya belum pernah menjumpai orang yang berterima kasih saat diturunkan di tempat yang diminta.

Mungkin, sudah saatnya kita mendefiniskan ulang ucapan terima kasih. Bisa jadi setiap orang mempunyai versi ucapan terima kasihnya masing-masing sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Lalu, bagaimana ucapan terima kasih versimu?

Selamat menikmati ucapan terima kasih di sekeliling kita sebelum berubah menjadi … terima snack! :D

Gambar Edisi Donald Bebek dari sini
Gambar Transjakarta gratis dari sini

Saehaebok manhi badeuseyo!
(Selamat tahun baru!).

Pada permulaan tahun seperti ini, orang-orang pasti disibukkan dengan resolusi tahunan mereka. Resolusi tahunannya bisa berisi macam-macam, mulai dari mimpi, cita-cita, keinginan, sampai target pribadi yang harus terwujud di tahun 2015. Apakah kamu salah satunya?

Membuat resolusi tahunan itu selalu asyik, apalagi kalau kita menulis mimpi ingin mengunjungi suatu tempat pada tahun itu, seperti travelling! Ya, travelling. Siapa yang tidak suka travelling?

Memasukkan agenda travelling ke dalam resolusi tahunan ternyata seru, lho! Selain perencanaan travelling (itinerary) menjadi lebih matang, kita juga menjadi lebih bersemangat menabung demi bisa berlibur ke destinasi impian.

Travelling ke luar negeri, misalnya. Jangan khawatir jika tahun ini adalah kali pertama kamu travelling ke luar negeri. Biasanya banyak tantangan dan sensasi seru bagi orang yang travelling ke keluar negeri untuk pertama kali.

Ini seperti kisah saya saat memutuskan untuk pergi ke Korea tahun lalu. Ya, ini adalah travelling pertama saya ke luar negeri. Dengan modal memesan tiket promo di akhir tahun 2013, akhirnya, bulan Oktober 2014, saya berhasil mewujudkan travelling pertama ke luar negeri dengan biaya sendiri.

Kalau ditanya bagaimana rasanya, saya akan menjawab, rasanya campur aduk. Pertama, ngeri karena saya dan keempat teman saya memutuskan untuk berlibur tanpa agen perjalanan wisata. Kedua, excited karena akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di negara yang selama ini hanya saya pelajari di buku teks kuliah HI.

So, bagaimana kisah travelling saya ke Korea?

Unforgetable!

Booklet panduan wisata Korea sangat memudahkan kita menemukan destinasi wisata.

Booklet panduan wisata Korea sangat memudahkan kita menemukan destinasi wisata.

Ternyata rasa kengerian saya tidak terbukti. Walaupun berlibur tanpa agen perjalanan wisata, saya dan teman-teman bisa menentukan destinasi mana saja yang akan kami kunjungi. Caranya, cukup mudah! Selain bertanya langsung kepada teman-teman yang pernah berkunjung ke Korea, kami juga mencari berbagai informasi tentang Korea di internet.

Nah, salah satu website yang kami intip adalah website Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta yang beralamat di http://www.visitkorea.or.id. KTO adalah organisasi pariwisata Korea yang menyediakan berbagai informasi mengenai budaya dan pariwisata Korea.

Laman website KTO Jakarta

Coba, buka saja laman website KTO. Semua tentang pariwisata Korea ada di sana. Mulai dari kondisi geografis Korea, kenampakkan alam, cara berkunjung ke Korea, informasi wisata, objek wisata di Korea, sampai kupon diskon yang dapat dimanfaatkan di beberapa gerai pusat perbelanjaan di Korea. Selain itu, yang istimewa, ada layanan KTO Mobile App dan Visit Korea Mobile App yang dapat diunduh di ponsel secara cuma-cuma.

Tadda … Akhirnya, saya dan keempat teman saya berhasil menyusun itinerary dari tanggal 30 Oktober – 6 November 2014. Walaupun hanya di Seoul, kami puas bisa travelling di Korea, mulai dari berwisata alam, budaya, sampai menikmati lingkungan sosial Seoul yang serba modern dan canggih.

Pelajaran yang saya ambil saat mencari informasi travelling ke Korea di internet adalah ternyata banyak sekali orang-orang yang menuliskan pengalaman travelling ke Korea di blog pribadinya. Hal ini sangat membantu saat kita akan membuat itinerary.

Restoran yang direkomendasikan untuk dikunjungi, yang saya temukan di ulasan seseorang saat travelling ke Korea.

Restoran yang direkomendasikan untuk dikunjungi, yang saya temukan di ulasan seseorang saat travelling ke Korea.

Walaupun jika dibandingkan, itinerary satu dengan yang lainnya pasti berbeda. Uniknya, terlihat jelas bahwa setiap orang tahu cara menciptakan pengalaman travelling-nya sendiri saat di Korea, misalnya K-Pop, drama Korea, shopping, fashion, wisata budaya, dan teknologi.

Jika travelling ke Korea masuk dalam checklist resolusi 2015, wujudkan segera! Jangan ragu untuk menciptakan pengalamanmu sendiri. Travelling to Korea, imagine your Korea!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,123 other followers

%d bloggers like this: