Makin ke sini, makanan tidak melulu menjadi jawaban saat kita lapar. Makanan bisa menjadi ajang gengsi, sensasi, atau sekedar pemuas rasa penasaran. Minimal, setelah kita makan suatu jenis makanan, kita bisa berbagi cerita ke orang lain tentang makanan itu atau restoran/rumah makan yang menyajikannya. Pokoknya, harus ada ceritanya!

Seperti kali ini, saya dan teman-teman sekantor rela berdesak-desakan di KRL dari Jakarta menuju Depok untuk mencicipi Godzilla Burger. Agak impulsif juga seperti tidak ada tempat hangout di Jakarta sepulang kerja. Tapi seperti yang saya jelaskan di atas, dalam kasus ini, saya dan teman-teman penasaran dengan Godzilla Burger. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, saya melihat liputannya di acara kuliner di salah satu stasiun TV swasta.

Nama tempatnya adalah Dino Steak & Pasta House. Dari nama tempatnya, sudah ketahuan ragam menu yang ditawarkan. Jelas tidak ada kalau kamu mencari ‘pecel lele’ atau ‘pecel ayam’. Lihat saja daftar menunya kalau tidak percaya. Dari semua menu western food yang ditawarkan, yang saya rekomendasikan untuk dicoba adalah Godzilla Burger.

Godzilla Burger adalah salah satu signature menu di sini. Godzilla burger adalah 1 kg beef burger yang disusun tingkat lima dengan patty dan disajikan dengan 200 gram kentang goreng plus onion rings. Tidak perlu khawatir dengan makanan sebanyak itu, si pemilik cukup pengertian dengan menghadirkan tiga saus untuk menambah varian rasa, saos pedas, saos tomat, dan mayones.

Eh, tapi yakin bisa kuat makan burger sebanyak itu? Jika kamu memesan Godzilla Burger, tidak hanya burgernya saja yang harus kamu habiskan, tetapi juga kentang goreng dan onion rings yang memenuhi nampan. HeEh, burgernya disajikan dalam nampan, bukan piring. Catet!

Nah, kalau jawabannya kuat, langsung aja lapor ke pramusaji, kamu ikut Godzilla Burger Challenge. Godzilla Burger Challenge ini seru karena kamu harus menghabiskan burger dan ‘teman-temannya’ dalam waktu tiga puluh menit. Jika kamu berhasil, maka kamu tidak perlu membayar. Sebaliknya, jika gagal, kamu harus membayar sesuai harga yang tercantum di daftar menu. Gimana, tertantang?

Walaupun pulang kerja dari Jakarta langsung ke Depok, saya dan teman-teman masih kalem dan memesan makanan bersama-sama. Kami tidak mengambil tantangan karena ingin menikmati burger dengan khusyuk tanpa tergesa-gesa (pembelaan kami). Nyatanya, satu Godzilla Burger bisa kami habiskan berlima sambil bercerita santai tentang ini dan itu.

Tempatnya seru untuk hangout rame-rame.

Tempatnya seru untuk hangout rame-rame.

Rasa
Oh ya, soal rasa, ini bisa menjadi sangat subjektif. Kalau saya, saya lebih memilih burger dari merk lain. Mungkin karena fokusnya adalah kuantitas dan nama produk, soal cita rasa menjadi kurang ‘nendang’. Selain itu, kentang goreng dan onion rings-nya tidak begitu recommended. Campuran tepung terigunya terlalu banyak sehingga menyebabkan gorengan keras.

Harga
Satu Godzilla Burger dijual dengan harga Rp 86.500,00. Cukup ekonomis, kan? Ajak saja teman-teman untuk memesan bersama, terbayang kamu bisa menghemat berapa? hehe.

Saya yakin, kamu pasti masih penasaran dengan cerita saya? Nggak cukup membaca tulisan ini, kamu harus ke sana dan memesan Godzilla Burger. Cuss! Temukan di Dino Steak & Pasta House di Jalan Margonda Raya no.438 (bisa jalan kaki dari stasiun Pondok Cina).

Selamat satu minggu!

Malam ini adalah malam anniversary dengan kosan baru. Yeah, genap satu minggu menempati kosan di gang satu nomor satu. Hei, ini bukan setting-an! Kata Ibu kos, alamatnya memang begitu.

Satu minggu yang lalu, di saat orang lain berlibur dan pulang kampung, saya justru pindahan. Ada untungnya juga pindahan saat long weekend seperti kemarin. Selain sepi, ada sisa waktu untuk recovery (percayalah, pindahan itu lelah hehe).

Oh ya, ini adalah kali keempat saya pindah. Jadi, kalau ditanya rasa, yaa … begitulah! Saya selalu excited dengan tempat baru. Walaupun begitu, ada juga beberapa orang yang justru mendadak stress saat pindah. Wajar sih, antara susah move on dan banyaknya barang yang harus dikemasi.

Sebagai persembahan malam anniversary dengan kosan yang baru, berikut tips pindahan dari saya yang, yah, siapa tahu berguna bagi anak perantuan di mana pun kalian berada.

Kata teman sekosan, barang-barang saya banyak banget karena hobi saya mengoleksi 'printilan'. Katanya, yang saya butuhkan bukan kosan, tapi rumah. Bakal full furnish, deh! haha.

Kata teman sekosan, barang-barang saya banyak banget karena hobi saya mengoleksi ‘printilan’. Katanya, yang saya butuhkan bukan kosan, tapi rumah. Bakal full furnish, deh! haha.

Pertama
Sediakan kardus atau tas plastik berukuran besar untuk storage barang-barang kita. Pengalaman pindahan empat kali, saya lebih nyaman mengemasi barang-barang dengan tas plastik berukuran besar. Saya membeli tas plastik ini di Pasar Kebayoran Lama bergambar Mickey Mouse dan Teddy Bear (mereka sudah ikut saya pindahan tiga kali, lho! #catet #penting). Sedangkan, kalau kardus, saya selalu bertanya ke Indomaret atau Alfamaret samping kosan. Apakah ada kardus yang bisa diminta gratis atau berbayar.

Kedua
Jangan menceraikan barang-barang. Kamu pernah nonton film Toy’s Story? Kamu percaya bahwa barang-barang bisa berbicara? Kalau saling berpisah, mereka pasti sedih hihi. Enggak, deng. Maksudnya, mengemasi barang-barang kita dalam satu golongan akan memudahkan kita saat akan menata kembali di tempat yang baru. Baju, baju semua. Buku, buku semua.

Ketiga
Seperti ajaran guru Matematika, kerjakan dari hal yang paling mudah. Begitu pula dengan pindahan. Kemasi barang-barang dari barang yang paling sering kita gunakan. Setelah itu, coba lihatlah sekelilingmu. Kalau ada barang (hayo, ngaku!), itulah barang-barang sisa. Bagi saya, pilihannya ada dua. Kalau masih cinta, segera kembali, eh kemasi. Sedangkan, kalau memang sudah biasa saja daripada hanya menambah beban kehidupan, lebih baik berikan ke orang yang membutuhkan atau garage sale sekalian.

Selalu ingat, pindahan itu ribet, jadi jangan ditambah ribet dengan pikiran-pikiran kita sendiri. Percaya atau enggak, empat kali pindahan, selalu saya lakukan sendiri (tidak termasuk transportasi mobil box, ya…). Ada beberapa teman yang menawarkan bantuan tapi bagi saya, pindahan adalah personal moment dengan barang-barang kita. Lebih dari itu, mengingat betapa banyaknya barang-barang saya, pindahan bagai stock opname (emang toko?). Masa untuk mengingat apa saja yang dipunya (dan yakin masih berani merasa kurang?? #Selftalk)

New day has come

Siapa yang enggak kenal Pintu Ajaib?

Pintu ajaib adalah salah satu alat (canggih) milik Doraemon, berupa pintu berwarna pink yang bisa membawa kita ke mana pun sesuai tujuan. Sejak pertama kali menonton film Doraemon, Pintu Ajaib menjadi salah satu alat yang sukses membuat saya iri dan tak berhenti berandai-andai memilikinya. Saking pengennya, Pintu Ajaib selalu mendapat peran saat saya bermain dengan teman-teman. Pokoknya, Pintu Ajaib berhasil membuat saya dan teman-teman berimajinasi dalam setiap permainan kami.

Itu dulu, masa kanak-kanak. Seiring bertambah usia (dan tetap konsisten menjadi penonton setia film Doraemon), pemikiran saya naik satu tingkat. Saya tidak lagi kagum pada Pintu Ajaib milik Doraemon tetapi kagum dengan sang pencipta Doraemon dan Pintu Ajaibnya. Bisa ya, kepikiran membuat sesuatu yang tidak mungkin di dunia nyata tapi justru diiyakan dan menghibur banyak orang di dunia fantasi. Yah, itulah imajinasi.

Lama tak berandai-andai dengan Pintu Ajaib, Sabtu (7/5) lalu, kambuh lagi. Saya tak tega melihat wajah pucat pasi mama melihat jam. 15.25 WIB. Satu jam tiga puluh lima menit lagi, pesawat tujuan Jakarta-Jogja akan berangkat dari bandara Halim Perdanakusuma. Tapi kenyataannya, mama masih berada di rumah. Rumah kakak di daerah Halim memang tidak jauh dari bandara tapi lain cerita kalau tertahan hujan dan petir yang kompak ‘tampil’ sore itu. Sebagai penganut aliran ‘2-3 jam harus berada di bandara/stasiun sebelum jadwal keberangkatan’, ini adalah masalah besar bagi mama.

Saya tak tega. Saya tahu rasanya. Cemas, panik, dan pikiran pasti sudah melambung jauh (baca: asumsi). Saya hanya bisa menenangkan mama dengan satu senyuman dan kata-kata klasik, “Tenang, Ma. Kekejar kok pasti.”

Akhirnya, setelah petir selesai menderu dan masih menyisakan hujan, kakak mengantar mama ke bandara dengan taksi. Saya ditahan menjaga rumah sebentar dan dilarang pulang sebelum hujan reda. Di keheningan rumah dan bunyi hujan, saya teringat Doraemon dan Pintu Ajaibnya. Ah, memang itu hanya khayalan semata, tidak bisa diharapkan untuk benar-benar ada. Walau tak benar-benar ada, berkhayal pada Doraemon dan Pintu Ajaib nyatanya cukup menghibur. Saya hanya ingin berprasangka baik pada cuaca sore itu. Please, jangan ganggu penerbangan mama ke Jogja.

16.40 WIB, bus transjakarta, gerimis
Bip bip, Whatsapp dari mama yang terkirim 16.11 WIB baru terbaca
Dik, hati-hati yo..”

PS.
Menulis cerita ini di penghabisan hari. Hari yang (katanya) tertanggal sebagai mother’s day versi internasional. Cerita ini sebuah persembahan untuk mama. Mama yang selalu mengingatkan untuk tidak mepet-mepet jam dan jangan ngoyo di setiap detik kehidupan saya. Matur sembah nuwun, mama!

Kalau dihitung-hitung, ini kali kesekian melewati kawasan Manggarai, Jakarta. Tidak bisa terhitung saking seringnya. Kawasan ini cukup khas untuk diingat, baik saat melintas naik busway, kereta, mobil, atau motor (baca: gojek/grab bike, bohong, kalau saya naik motor sendiri di Jakarta hehe). Tengok saja, ada stasiun Manggarai, halte busway Manggarai, Pasaraya Manggarai, pasar Manggarai, sungai Manggarai, terowongan, serta perkampungan padat pinggir kali nan sarat penduduk. Nah, justru yang seperti itu kan yang mudah dikenali?

Dengan ’kekhasannya’ itu, berbagai komunitas tumbuh dan berkembang subur di Manggarai. Hampir semua bergerak di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Misalnya saja, pendirian perpustakaan atau taman baca, aktivitas kegiatan belajar dan bermain bersama anak-anak, pelatihan/kursus, maupun penguatan kapasitas ekonomi dengan memberdayakan ibu-ibu yang tinggal di sana. Saya jadi ingat, beberapa tahun yang lalu, saat kawasan Manggarai dilanda banjir, banyak sekali komunitas yang terjun untuk ikut membantu, termasuk kegiatan belajar dan bermain. Trauma healing untuk anak-anak, katanya.

Hari Minggu (27/3) kemarin, akhirnya, saya bisa menengok Manggarai lagi. Percuma saja sering lewat tapi jarang singgah. Lagi-lagi, ini tentang betapa ‘khasnya’ kawasan Manggarai itu. Sesederhana apapun yang kamu lakukan, sangat berarti bagi orang-orang di sana. Saya mengiyakan ajakan Asti (@granasti) untuk mengajar anak-anak di sana. Rupanya, Asti dan teman-temannya sudah rutin datang ke Manggarai setiap hari Minggu pagi (tanpa embel-embel nama komunitas, hanya menyanggupi undangan ketua Karang Taruna). Kebetulan Minggu kemarin, Asti membutuhkan teman untuk menemani mengajar karena teman-teman yang lain sedang berhalangan hadir.

Seperangkat 'alat kesenangan' kami bersama anak-anak di hari Minggu.

Seperangkat ‘alat kesenangan’ kami bersama anak-anak di hari Minggu.

Kegiatan belajar dan bermain berlangsung di mushola. Sederhana tapi strategis karena banyak orang lalu lalang di depannya. Maklum, letaknya di pinggiran gang. Musholanya juga terbuka, siapapun bisa melihat apa yang kami lakukan. Senang, banyak anak-anak yang datang. Mereka bagai semut yang menemukan tumpahan gula di dapur, langsung menyebar, mengundang semut-semut lain. Mereka antusias dengan meja kayu panjang yang di atasnya sudah tersedia kertas-kertas gambar serta pensil warna aneka rupa. Anak-anak yang lewat di depan mushola tidak tahan melihat teman-temannya asyik mewarnai. Mereka mendekat, duduk bergabung, dan menit berikutnya tertular virus keasyikan.

Dua jam nyatanya tidak cukup. Kegiatan mewarnai, menulis, mendongeng, lalu belajar Matematika membuat kami harus tinggal 30 menit lebih lama dari biasanya. Siapa yang tega untuk mengakhiri keasyikan anak-anak itu? Kami hanya bisa menenangkan anak-anak dengan ucapan, “Minggu depan datang lagi ya, jam 9 sudah siap di mushola.”

Selesai kegiatan, merapikan peralatan, rasanya masih ada ‘sisa-sisa’ keberadaan anak-anak itu. Walau hanya dua jam lebih 30 menit, segala tindak-tanduk anak-anak itu terekam jelas dalam memori saya sebagai seorang dewasa. Ada rasa haru, ada juga pilu. Saya sempat berbagi cerita dengan Asti dan Asti pun mengiyakan. Atas segala sesuatu yang terjadi saat weekdays, bagi kami –pekerja perantauan Jakarta– potret hari Minggu di Manggarai bersama anak-anak selalu bisa membuat lebih bersyukur dan lebih bijak.

Dongeng andalan Asti di depan anak-anak adalah Putri dan Naga Sakit Gigi.

Dongeng andalan Asti di depan anak-anak adalah Putri dan Naga Sakit Gigi.

Siapa bilang foto bagus hanya milik fotografer yang jago foto? Blogger juga harus bisa, lho! Selain ketrampilan menulis, ternyata seorang blogger juga dituntut untuk memiliki ketrampilan menyajikan foto yang bagus sebagai daya tarik tulisan.

Mengapa harus foto yang bagus yang ditampilkan di blog kita? Sederhana. Pada dasarnya, orang menyukai gambar atau foto yang bagus. Dengan banyaknya orang yang menyukai foto yang kita unggah, secara tidak langsung, kita dapat meningkatkan traffic pengunjung blog kita. Istilah kerennya, gain attraction of followers.

Lalu bagaimana dengan akun media sosial lainnya, seperti Instagram? Hihi, mulai penasaran, kan? Sam-ma!

Berbeda dengan blog, untuk Instagram, peningkatan jumlah followers sebenarnya bukan indikator utama yang harus kita kejar. Walaupun followers kita sedikit, kita tetap bisa mengklaim bahwa banyak orang yang menyukai foto yang kita unggah dengan menghitung banyaknya orang yang me-like foto kita. Selain itu, untuk gain attraction di Instagram, kita harus mengikuti trend yang sedang berjalan. Misalnya, tren foto Outfit Of The Day (OOTD) dengan tagar #OOTD.

Nah, kalau sudah begitu, pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah …

Bagaimana sih cara menghasilkan foto yang bagus di media sosial kita (terutama di blog dan instagram)? Bagaimana agar foto kita mendapat ‘like’ yang banyak di Instagram? Di acara Capture Your Moment with Lulu Elhasbu, Indonesia Fashion Week 2016 Sabtu (12/3) kemarin, Lulu Elhasbu membagikan tips dan triknya.

Eh, kenal dengan Lulu Elhasbu kan? Hehe.

Tone warna
Tone warna foto berperan dalam identitas (karakter) kita di media sosial. Tone warna foto sebaiknya sama (seragam) dan konsisten. Saat mengunggah foto di Instagram, misalnya. Pastikan foto tersebut mencerminkan siapa diri kita. Kita ingin dikenal sebagai apa?

Coba, deh. Yuk, cek semua foto yang ada di akun Instagram kita. Bagaimana tipe foto yang sering kita unggah selama ini? Kita cenderung mengunggah foto dengan warna-warna terang seperti Dian Pelangi dan Lulu El Hasbu atau kita cenderung mengunggah foto dengan warna hitam putih?

Masih gado-gado (baca: campur-campur)? Coba sekarang mulai tentukan arah. Seperti penjelasan di paragraf sebelumnya, penentuan identitas berguna agar kita mudah dikenali dengan ciri khas kita yang unik dan berbeda dari yang lain.

Warna baju saat berfoto OOTD
Saat berfoto OOTD, perhatikan warna baju yang kita gunakan. Penting untuk pandai dalam mempadu padankan warna baju. Warna baju akan berpengaruh pada tone warna foto. Seunik apapun model baju yang kita gunakan, jika warna bajunya kurang tepat, foto yang dihasilkan untuk OOTD pun menjadi tidak maksimal. Catet, ya!

Lokasi foto atau latar belakang foto
Ternyata, warna baju yang kita gunakan untuk foto OOTD pun akan berpengaruh pada pemilihan lokasi foto. Baju dengan warna terang (bright) cocok untuk berfoto di mana saja. Sedangkan, untuk baju berwarna gelap, sebaiknya menghindari lokasi atau latar belakang foto yang ramai. Selain itu, jika ingin berfoto untuk OOTD, pilihlah latar belakang foto yang minimalis agar bisa fokus pada baju yang kita gunakan.

Kamera
Kamera adalah tool yang kita gunakan untuk menghasilkan foto (Yaiyyalah!). Di zaman yang serba canggih seperti sekarang, kamera yang ada di ponsel pintar pun bisa menghasilkan foto yang bagus. Hasilnya juga tidak kalah dengan kamera DLSR.

Editing
Nah, ini dia yang paling penting dari semua. Proses editing membuat foto biasa menjadi istimewa, ibarat martabak pakai telor tiga hehe. Tidak perlu bersusah-susah, kita dapat menggunakan bantuan aplikasi editing secara cuma-cuma. Tinggal unduh saja di ponsel pintar kita. Ada berbagai aplikasi editing foto yang tersedia. Beberapa yang direkomendasikan Lulu Elhasbu adalah Filterstorm dan VSCO.

Eh, ngomong-ngomong soal OOTD, ada bonus tips foto OOTD dari Lulu Elhasbu… Asyik, kan?

Koreksi angle
Koreksi angle bisa kita ketahui sendiri atau minta opini orang lain. Cara yang paling sederhana adalah berdiri di depan cermin dan lihat siluet tubuh kita. Kita juga bisa menilai pose apa yang cocok untuk kita.

Lagi, lagi soal baju
Saat menggunakan gamis, abaya, atau baju panjang, sebaiknya berdiri dengan posisi kaki disilangkan. Hal ini bertujuan agar kain gamis atau abaya yang kita gunakan terlihat jatuh dan tidak mengembang seperti kalau kita hanya berdiri tegak.

Pose
Setelah mengoreksi angle di depan cermin, biasanya kita akan tahu mana pose yang cocok untuk berfoto. Jangan takut salah pose. Justru prinsipnya adalah ‘practises make perfect’. Semakin sering berlatih, maka kita akan semakin lihai untuk memainkan kepala, pundak, dan kaki saat berpose di depan kamera.

Rumusnya, baju dan pose itu bersahabat
Baju yang kita pakai ternyata menentukan pose tangan yang kita lakukan. Jangan melipat tangan di depan dada apabila kita menggunakan baju dengan aksen di dada. Hal ini akan membuatnya semakin bertupuk dan tidak indah. Selain itu, perhatikan posisi jari kita. Saat tangan berpose, letakkan jari seindah mungkin agar dapat tergambar cantik dalam foto.

Nah, seru banget, kan Tips dan Trik dari Lulu Elhasbu? Yuk, mulai praktik. Blogger yang biasanya hanya duduk manis ‘sembunyi’ di balik monitor, sekali-sekali boleh dong, ber-OOTD-ria hihi. Ditunggu yaaa…

Capture Your Moment with Lulu Elhasbu. Mini stage. Saturday, March 12, 2016. 16.00-17.00. Wardah. Co[L]ordination. Indonesia Fashion Week 2016.

Ini kali kedua saya menulis cerita tentang kebun binatang (cerita pertama tentang kebun binatang Ragunan, baca di sini). Jalan-jalan ke kebun binatang dan menulis ceritanya adalah bagian dari usaha untuk ikut menjaga kebun binatang di Indonesia. Mengapa? Kebun binatang itu menyimpan potensi besar. Selain sebagai tempat wisata, bisa juga sebagai tempat orang-orang belajar untuk (lebih) mengenal Indonesia. Bayangkan saja, Indonesia dengan segala kekayaan flora dan faunanya, kira-kira didisplay di mana, ya? Melihat Cendrawasih tidak harus datang ke Papua, melihat orang utan tidak perlu berpetualang di hutan Kalimantan, melihat species Rusa Bawean, tidak perlu menyebrang jauh ke pulau Bawean. Semua … ada di kebun binatang!!

Sayangnya, usaha pengelolaan kebun binatang di Indonesia belum maksimal. Terbukti, beberapa kebun binatang di Indonesia sering tidak terawat. Mulai dari kasus sengketa tanah, kondisi kebun binatang yang kotor, sampai hewan yang tidak diberi makan dan mati. Pun di luar kasus-kasus itu, ada juga kebun binatang di Indonesia yang terawat dan bagus. Selain kebun binatang, ada juga cagar alam dan suaka margasatwa yang dikhususkan untuk melindungi flora fauna dari ancaman kepunahan.

Jadi, simak terus ya, jalan-jalan saya ke kebun binatang di seluruh Indonesia! Amin. Yuhuu!

* * *

Selamat datang di kebun binatang Bandung.

Selamat datang di kebun binatang Bandung.

Kamu warga Bandung? Atau sekedar pelancong di akhir pekan? Saya yakin, bagi pelancong akhir pekan, kebun binatang masuk dalam daftar tempat yang ‘enggan’ dikunjungi saat ke Bandung. Kebun binatang jelas kalah pamor dengan kafe-kafe lucu atau distro-distro keren khas Bandung.

Saya, salah satunya. Beberapa kali ke Bandung, baru kemarin (17/1), akhirnya, saya mampir ke kebun binatang yang katanya dibangun pada zaman penjajahan Belanda ini. Kalau alasannya akses, tidak juga tuh. Boleh dibilang, letak kebun binatang Bandung cukup strategis, antara kampus ITB, sungai Cikapundung (area Taman Sari), dan Masjid Salman.

Bermodal parkir kendaraan di area parkir Masjid Salman, saya membulatkan niat untuk mengunjungi kebun binatang Bandung. Tidak terlalu jauh berjalan kaki sambil ‘menikmati’ cita rasa hari Minggu di Bandung yang ramai lalu lalang kendaraan. Penasaran, seperti apa sih kebun binatang Bandung itu? (PS. Teman saya cukup kaget saat saya minta diantar ke kebun binatang Bandung. Destinasi yang anti mainstream,katanya hehe).

Tiket masuk kebun binatang Bandung, Rp 20.000,00.

Tiket masuk kebun binatang Bandung, Rp 20.000,00.

Sebelum masuk ke area kebun binatang, pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk. Tiket masuk kebun binatang Bandung terbilang ‘lumayan’, Rp 20.000,00. Mahal atau murah, sih? Hmm, mahal dan murah sebenarnya relatif. Berhubung saya penganut paham ‘don’t judge a zoo, by its ticket’ jadi let’s see saja lah sampai berjumpa dengan para penghuninya (baca: binatang).

Siapa tahu, tiket yang kita bayarkan digunakan untuk ‘subsidi’ membeli makanan binatang. Tiket mahal tapi binatangnya sehat dan enak dilihat kan menarik. Kecuali, tiket mahal dan kebun binatang tidak terawat. Hewan-hewannya ngenes dan melas. Baru deh, boleh protes.

Hari itu, kebun binatang Bandung ramai oleh pengunjung lokal (Bandung dan sekitarnya). Terlihat dari logat mereka bicara. Mayoritas yang datang adalah keluarga (satu set lengkap: orang tua dan anak-anaknya). Pemandangannya menyenangkan. Nampak beberapa orang tua yang sedang menerangkan binatang-binatang di dalam kandang kepada anak-anaknya.

Ibarat siaran TV, kebun binatang adalah siaran langsung (live), sedangkan buku-buku adalah siaran tunda. Mana asyiknya belajar binatang hanya melalui buku? Ya, nggak kids? hehe.

Anak-anak senang bisa memberi makan binatang.

Anak-anak senang bisa memberi makan binatang.

Beruang madu.

Beruang madu.

Buaya, salah satu penghuni kebun binatang.

Buaya, salah satu penghuni kebun binatang.

Rusa Sambar.

Rusa Sambar.

Wau wau Jawa dan kandangnya.

Wau wau Jawa dan kandangnya.

Kuda nil dan kolam air milonya hehe.

Kuda nil dan kolam air milonya hehe.

Udara di kawasan kebun binatang Bandung cukup panas untuk bulan Januari. Untungnya, banyak pohon tinggi yang menghalangi sinar matahari. Untuk menikmati kebun binatang dan melihat-lihat koleksi binatangnya, kita cukup berjalan di jalan setapak (path) yang sudah diatur sedemikian rupa. Walaupun, boleh dibilang kondisinya tidak begitu bagus. Beberapa conblock/cavling rusak dan menyisakan tanah becek (PS. So, gunakan sandal yang nyaman. Tidak disarankan untuk menggunakan heels, ya Ladies)

Menurut informasi, luas kebun binatang Bandung adalah 13,5 Ha, tapi tenang, berjalan berkeliling area kebun binatang tidak berasa. Alih-alih capek, pemandangan area kebun binatang justru membuat saya miris. Konstruksi kandang yang sudah lapuk terlihat di hampir semua kandang binatang. Beberapa pengunjung juga asyik memberi makan binatang tanpa ada larangan dari petugas (entah itu sebenarnya diperbolehkan atau tidak, tapi ada papan larangannya). Ada beberapa kandang, khususnya kandang ular dan burung, yang terbuat dari kaca plastik. Kondisi kaca plastik yang tidak bening justru menyulitkan pengunjung untuk melihat langsung binatang yang ada di dalam kandang. Selain itu, area kebun binatang juga kotor oleh sampah sisa makanan dan minuman pengunjung yang berserakan.

Kandang yang terbuat dari kaca plastik menyulitkan pengunjung untuk tahu melihat kandang.

Kandang yang terbuat dari kaca plastik menyulitkan pengunjung untuk tahu melihat kandang.

Terlepas dari semua kondisi itu, para pengunjung tetap menikmati suasana kebun binatang. Hiburan merakyat, katanya. Selain melihat binatang, ada playground yang berisi mainan anak-anak, penjual makanan dan minuman, sepeda bebek mengelilingi danau, naik gajah dan naik unta, serta area yang bisa digunakan untuk piknik sambil menggelar tikar. Miriplah dengan kebun binatang Ragunan di Jakarta.

Kebun binatang dan taman ria. Banyak mainan anak-anak di sana.

Kebun binatang dan taman ria. Banyak mainan anak-anak di sana.

Hiburan: naik gajah.

Hiburan: naik gajah.

Naik unta keliling kandang.

Naik unta keliling kandang.

Jalan-jalan ke kebun binatang Bandung kali ini membuat saya lega (akhirnya bisa mampir) sekaligus berdoa. Semoga saya lekas dipertemukan dengan komunitas yang bergerak di per-kebun binatang-an. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli dengan masa depan kebun binatang di Indonesia?

Ini kali pertama saya naik Gili Iyang ke Bawean. Kalau dibandingkan beberapa tahun yang lalu, tentu berbeda. Dulu, zaman saya, hanya ada Express Bahari (3 jam perjalanan) dan Tungkal (8 jam perjalanan). Kedua kapal itu hanya berlayar tiga kali dalam seminggu secara bergantian (FYI. hari Jumat sama sekali tidak ada kapal).

Gili Iyang berukuran lebih besar dari Express Bahari dan Tungkal. Gili Iyang mengingatkan saya pada kapal Bukit Raya yang saya naiki beberapa waktu lalu saat penugasan ke Pulau Serasan, Natuna (via Pontianak). Karena ukurannya yang besar, saat berada di dalamnya, kita tidak merasakan apa-apa, pun saat kapal memecah ombak Laut Jawa (katanya, cuaca sedang bagus dan ombak relatif tenang). Hanya telinga kita yang harus beradaptasi dengan deru mesin kapal yang konsisten selama 10 jam perjalanan.

Saya dan teman-teman berada di dek tengah (di dalam sebuah kapal ada beberapa dek). Dek adalah sebuah ruangan berukuran luas (hall) yang berisi puluhan rangkaian tempat tidur tingkat bersusun (mirip meja belajar), toilet, dan mushola. Sistem yang berlalu di sini adalah siapa cepat dia dapat. Jadi, nomor tempat duduk eh, tempat tidur tidak berlaku. Hawa di dek pun relatif panas. Terlebih saat jendela di sisi-sisi selasar kapal ditutup terpal karena hujan. Sungguh bagai ruang sauna! Orang-orang sibuk mengipasi dirinya masing-masing. Beberapa bapak-bapak bahkan nekat bertelanjang dada saking gerahnya (aaak, tutup mata!).

Dua tingkat. Mirip meja belajar, kan?

Dua tingkat. Mirip meja belajar, kan?

Selang beberapa menit kapal meninggalkan pelabuhan Gresik, kami berkumpul untuk makan malam. Menunya, apalagi kalau bukan Nasi Krawu (yang tadi titip Mas @OmIrwaan). Bagi kami, belum berasa sampai Gresik kalau tidak makan Nasi Krawu. Enaknya Nasi Krawu berbanding lurus dengan kebahagiaan kami malam itu. Kami yang sudah dekat layaknya saudara, ber-haha-hihi seakan tak percaya sudah berada di dalam kapal menuju Bawean. Saya pun, tak sabar melihat kampung halaman. One step closer, katanya. Bismillah.

Sabtu (5/12)

Kapal Gili Iyang, pagi itu, yang berhasil membawa kami berlayar dari Pelabuhan Gresik menuju Pelabuhan Sangkapura, Bawean.

Kapal Gili Iyang, pagi itu, yang berhasil membawa kami berlayar dari Pelabuhan Gresik menuju Pelabuhan Sangkapura, Bawean.

06.30 WIB
Akhirnya … Bawean! Kapal sudah bersandar. Para penumpang berduyun-duyun turun dan sibuk mengangkuti barang-barangnya. Kami juga. Kami tak sabar untuk turun dan menginjakkan kaki ke Bawean (FYI. relawan #RUBIBawean untuk pertama kalinya, sedangkan saya untuk kedua kalinya sejak tahun 2012). Nyatanya, kami memilih untuk menunggu, sampai jalur pintu keluar tidak sepadat tadi.

Ini yang disebut 'barang-barang'. Semua dibongkar muat keluar kapal.

Ini yang disebut ‘barang-barang’. Semua dibongkar muat keluar kapal.

Begitu turun dari kapal, sambutan dari teman-teman Pengajar Muda angkatan X luar biasa. Kalau boleh saya ingat, tidak henti-hentinya rasa syukur sekaligus kata-kata penyambutan yang penuh penekanan, “Akhirnya sampai juga, ya, ke Bawean!”

Disambut suka cita (dokumentasi: PM Bawean)

Disambut suka cita (dokumentasi: PM Bawean)

Seperti perjanjian di awal, saya berpisah dengan rombongan relawan #RUBIBawean. Rombongan naik mobil pick up untuk istirahat dan bersiap acara #RUBIBawean pukul 12.00 WIB nanti. Bersama Deti, saya naik motor menuju dusun penempatan saya dulu, yang sekarang menjadi tempat bertugas Deti, Panyalpangan!

Sepanjang perjalanan, saya tak henti-hentinya menoleh ke kanan dan ke kiri. Kamera pocket ada di tangan kanan. Klik sana – klik sini. Setelah 3 tahun saya tinggalkan, semuanya berubah. Tak hanya pemandangan, saya pun mengamati jalanan, mencoba mengingat-ingat jalanan mana saja yang dulu berlubang. Tapi tak ada, jalanan benar-benar mulus dan bagus. Ini baru perjalanan dari pelabuhan Sangkapura ke Panyalpangan, kan? Saya semakin penasaran!

Menuju Panyalpangan, Deti sengaja melewati arah jalan lain yang pada zaman saya jalannya masih harus dilewati dengan kesabaran. Bahkan, saya tidak mau melewati jalan itu karena menembus hutan. Kini? Kami menanjak mulus tanpa halangan. Hanya harus terampil memainkan gigi motor sedemikian rupa karena tanjakan yang lumayan curam. “Deti, jalannya bagus banget sekarang!”

Seperti di dusun Pengajar Muda lainnya, begitu memasuki pemukiman penduduk, sapa ramah anak-anak terdengar begitu nyaringnya, “Ibuuuuuk!” Bersahut-sahutan dari rumah satu ke rumah lainnya yang kami lalui. Saya dan Deti hanya mampu membalas dengan senyum lebar dan menjawab cepat, “Iyaaaaaa!”

Sampai akhirnya, di sebuah ‘Dhurung’ ada sekelompok anak SMA berseragam. Salah satu dari mereka mengenali saya, “Bu Hety!” Deti menghentikan motornya. Si anak berjalan mendekati saya dan mengajak berjabat tangan. Dia adalah Ending! Murid saya yang pada zamannya sangat jago berolahraga, voli, takraw, sepak bola, all! Saya surprise kini anak itu sudah besar, sudah ABG, eh bahkan lebih. Tidak seperti saat SD dulu, kini, dia terlihat lebih matang dan trendi ala-ala personel band (rambut diatur sedemikian rupa dengan gel, klimis, menjulang ke atas), “Ending rambutmu kenapa?”

Bu Hety, bu Hety, bu Hety!” Ibu-ibu tidak henti-hentinya memanggil nama saya. Selesai mandi dan berganti baju, keluar dari rumah orang tua angkat Deti (keluarga Jaliyah, murid saya yang merantau ke Malaysia), ‘Dhurung’ sudah ramai dengan ibu-ibu. Saya berjabat tangan dengan mereka satu-persatu. Deti mengajak saya ke undangan (istilah untuk kondangan pernikahan). Tak terbayang bagaimana hebohnya di sana nanti karena hampir semua warga berkumpul di sana.

Dulu, saat bertugas, mereka sempat menyangsikan saya akan datang lagi ke Bawean. Saat saya datang, saya memang bukan satu-satunya orang dari luar yang pernah bertugas sebagai guru di dusun itu. Seperti yang sudah-sudah, biasanya orang-orang yang pernah bertugas di sana tak pernah kembali lagi. Warga merasa mereka dilupakan begitu saja. Tapi lihatlah, saya tak begitu. Nyatanya, saya datang lagi setelah tiga tahun.

Rasanya ingin menangis. Haru.

Baca cerita sebelumnya,
The Right Moment Part 1: Count Mei in #RUBIBawean
The Right Moment Part 2: Plan F, Friendship
The Right Moment Part 3: Say ‘Hi’ to Situbondo!
The Right Moment Part 4: Meet ‘Hikmah’
The Right Moment Part 5: ‘If It is Meant To Be, It Will Be’

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,481 other followers

%d bloggers like this: