Cerita Rumah Kita (2)

Untuk kamu, si penghuni lama.

(Ini cerita kedua. Semoga kamu menghitung.)

Ssttt … tahukah? Orang-orang itu menyukai rumah kita. Apakah ini kabar gembira? Yeay! (Kita harus bersorak).

Entahlah, apa yang membuat orang-orang itu terpesona. Memang rumah kita besar, banyak ruang, tapi … aku tak cukup yakin dengan alasan seperti itu. Masih banyak kok rumah mewah dan, bahkan gedung-gedung yang mengepung kawasan Jakarta Raya ini yang tak kalah bagusnya.

Lalu, apa pendapatmu?

Yeah, rumah kita besar, nir teknologi, sehingga user friendly (kamu tidak boleh tertawa dengan istilahku). Ada saja orang-orang yang datang. Memang sih, semula, kami yang undang. Tapi lihat saja, aku mulai curiga rumah kita terbuat dari ganja. Orang-orang itu selalu saja ketagihan datang.

Ada yang mengatakan padaku kemarin. Betapa senangnya dia datang ke rumah kami, eh kita. Hanya aku jawab dengan senyum (semoga kamu tidak marah dengan sikapku). Katanya lagi, suasana di rumah kita sangat hangat. Ini bukan tentang ada tidaknya perapian di rumah itu. Dia pun, kini, merasa memiliki dan tak sungkan lagi seperti saat pertama ke mari.

Apakah menurutmu ini hanya ketakutanku, tak mau berbagi rumah ini? Possesive? Hmm, percayalah, aku hanya menjaganya. Ini tugasku. Kamu pasti paham. Kami memang mengundang tamu tapi setelah itu … Ya, begitulah.

Pesta, pesta, dan pesta. Apakah kamu dulu juga mengalaminya? Apa yang kamu rasakan? Sebagai penghuni baru, sepertinya aku harus banyak berguru padamu, hei penghuni lama.

Oke. Maafkan aku. Aku tidak membeda-bedakan siapa penghuninya. Lama dan baru hanya masalah waktu. Kita sepakat, kan? Ini rumah kita bersama walau kita berdua tumbuh dalam waktu berbeda. Ya, rumah kita, yang harus kita jaga.

Tentang pesta? Ya, aku suka pesta. Aku suka bertemu orang baru. Tapi akan lain cerita kalau berpesta dari Senin sampai Minggu. Aku lelah dan, tebakanku, begitu juga dengan rumah itu. Sayang, rumah itu tak bisa merintih kesakitan.

Jadi, kini, aku yang menghuni. Kamu, penghuni lama, pasti masih mau juga menjaganya, walau hanya dengan membaca cerita. Will you?

Aku, si penghuni baru.

PS. Aku berbaik hati. Jika kamu ingin membaca kembali Cerita Rumah Kita (1)

#NulisRandom2015

Curhat Si Bungsu

Apakah menjadi kakak itu sulit? Yakin, pertanyaan itu tidak akan terjawab jika ditanyakan pada si bungsu. Dia yang terkecil, tidak pernah tahu rasanya menjadi yang besar (atau agak besar) kalau tidak ada yang lebih kecil darinya.

Sebagai bungsu, dulu, saya kagum dengan kakak saya. Bukan tentang ukuran tubuh atau fisik (jelas saja, badan saya lebih ‘bongsor’ daripada badannya) melainkan dari sisi kepribadian. Bagaimana dia memilih untuk berani jalan-jalan di rak supermarket sendiri daripada berjalan patuh di samping mama atau bahkan bagaimana dia bisa memilih untuk menyukai warna hitam daripada pink. Caranya membuat keputusan itu, saya suka.

Seiring tumbuh dewasa, saya pun sadar. Hal-hal yang dulu saya kagumi dari seorang kakak, bisa saya lakukan kini. Ternyata rumusnya gampang, saya tinggal hidup di usianya, maka saya pun akan melakukan hal yang sama. Jadi, runtuh sudah teori kekaguman bungsu pada si kakak yang saya amini sejak masih bayi.

Oh ya, kalau ditanya cita-cita si bungsu? Saya menjawab ingin menjemput adik di sekolah. Bagi saya, rasanya seperti tugas negara. Memastikan si adik dijemput dengan riang gembira dengan didahului adegan pencarian di abang-abang tukang jajan atau sedang main bola di lapangan. Seru, kan? Sayang, cita-cita itu tidak pernah kesampaian. Bungsu tetaplah adik terkecil.

Beda empat tahun dan hidup dengan kepastian teknologi yang maha labil (baca: dinamis, selalu berganti), membuat para bungsu beruntung. Setidaknya, dia tidak lagi mengalami ‘zaman susah’ si kakak. Semua terjawab dan … selisih usia justru menjadikan mereka teman, rekan, mitra hidup.

Jadi masih ingin menjadi kakak? Hmm, kalau secara biologis tidak tertakdirkan demikian, Tuhan nampaknya masih memberikan saya kesempatan. Di bangku SMP, SMA, dan kuliah, selalu saja saya dipanggil ‘Mbak’ atau ‘Kak’ oleh adik-adik saya. Adik apa?? Adik kelas.

Adik kelas memang bukan sesuatu yang ‘given’ dari yang di atas tapi itu seperti ‘hadiah’. Setiap saya naik kelas, saya punya adik kelas. Tidak hanya satu, tapi banyak. Tergantung, seberapa kenalnya kita. Kalau memang cocok, kita bisa pinjam-pinjaman layaknya kakak-adik biologis. Ya, pinjam buku catatan, pinjam sepatu pantofel untuk baris, pinjam kaos olahraga, semua deh.

Lepas dari bangku sekolah, nyatanya, masih saja saya menjadi kakak bagi mereka yang berusia di bawah saya. Di tempat kerja, misalnya. Yakinlah, ini bukan pekerjaan yang mudah. Tidak hanya urusan pinjam-meminjam saja, tugas bertambah untuk mengajarkan sesuatu agar dilakukan dengan benar. Walaupun demikian, nyatanya, bagi saya, si bungsu, ini tetaplah menyenangkan. Saya selalu tersipu. Tuhan tahu rasanya si bungsu ingin menjadi kakak.

#NulisRandom2015

Panjang Umur, Sist!

17 Juni 2015

Selamat panjang umur, mbak Yen!

Ulang tahun kali pertama sejak dia menikah bulan April lalu. Tambah tua? Pasti. Umurnya bertambah satu. Kebahagiaan? Pasti. Semoga dilipat-gandakan setelah akhirnya dia menikah dan tidak tinggal sendirian lagi di rumah kontrakan itu. Setidaknya, dia juga mengurangi digit kekhawatiran orang tua kami karena sekarang sudah ada yang (dengan setia) mengantar jemput ke tempat kerja. Tidak perlu lagi was-was saat pulang mid night karena ada ‘satpam abadi’ yang menjaganya, bernama suami.

Kalau dulu di usia sekolah kami sering bertengkar, kini tidak lagi. Ajakan-ajakan makan bersama darinya yang tak terduga, menurut saya masuk dalam indikator kebaikan sebagai seorang kakak. Dia menikah lalu, saya kira kasih sayangnya dicuri. Ternyata tidak. Itu hanya prasangka dari Si Bungsu yang tak rela kakaknya pergi. Nyatanya, dia tetap di sini dengan BBM yang tiba-tiba muncul, mengajukan pertanyaan tak terduga, “Het, abis magrib, ada waktu?”

Walau berada dalam satu Jakarta, kami (selalu) berada di tempat yang berbeda. Dia kos di Mampang, saya kos di Permata Hijau. Dia kos di Kramat Jati, saya kos di Setiabudi. Berpindah pun, belum pernah bersama. Jika cita-cita saya di Jakarta adalah tinggal di dekat tempat kerja, dia sebaliknya, ingin tinggal di tempat yang masih ada pepohonan dan antartetangga masih bisa saling menyapa. Yah, demikianlah, kenyataan.

Utang saya pada ulang tahunnya kali ini ada tiga. Kado pernikahan di bulan April, sekaligus kado ulang tahun dan pindah rumah di bulan Juni. Hmm, apa ya? Terbesit, sesuatu yang melebihi barang dan priceless, apakah menjadi adik yang baik saja sudah cukup? :D

Happy Birthday, Sist! Many happy returns.

#NulisRandom2015

Satu Setengah Jam Saja

16 Juni 2015

Jarak Sudirman – Priuk bagai mimpi buruk Senin sore kemarin. Apa sih yang tidak menjadi mimpi buruk di Jakarta selain kemacetan jalan raya? Terlebih perjalanan dari selatan ke utara ini terjadi pada sore hari. Ya, sore hari, di mana orang-orang ‘berlomba’ pulang kerja. Siapa cepat, dia dapat … kursi bus, katanya.

Setidaknya, jarak Sudirman – Priuk masih dekat jika dibandingkan dengan Jakarta – Bawean. Itulah semangat saya satu-satunya. Satu lagi, ada busway yang hanya dengan Rp 3.500,00, kamu bisa sampai di ujung Jakarta. Apa lagi yang dikhawatirkan?

Menurut aplikasi Komutta di handphone saya, untuk mencapai halte Tanjung Priuk (terminal), dari halte Bundaran Senayan, saya harus melewati 56 ‘stops’ alias 56 halte! Welcome to something called reality, darling. Apakah detik berikutnya saya pingsan? Tidak, sepertinya 56 ‘stops’ itu mudah. Hanya tinggal duduk manis kan?

Setelah minta izin ke manager untuk pulang lebih awal, saya bergegas menuju halte busway Bundaran Senayan. Jika dari Sudirman pukul empat sore, saya berharap bisa sampai Priuk sebelum adzan Isya berkumandang. Semoga.

Pukul lima kurang lima belas menit, busway yang saya tumpangi sudah sampai di Stasiun Kota. Cepat? Banget! Walaupun demikian, nampaknya ada ‘kenyataan’ yang belum masuk dalam narasi optimisme saya. Ternyata, waktu perjalanan terlama adalah saat saya, dari halte Stasiun Kota, harus menunggu busway koridor 12, menuju Tanjung Priuk. Ditambah, sore yang mulai menggelap dan jalanan yang mulai padat kendaraan. Lengkap sudah!

Tidak usah dibayangkan, bentukan saya saat berada dalam busway koridor 12, dari Stasiun Kota menuju Tanjung Priuk. Sudah pernah ‘berkeliaran’ di Jakarta Utara dan sekitarnya, khususnya saat petang menuju malam? Yah, begitulah gambarannya.

Bukankah perjuangan menjanjikan hadiah di ujungnya?

Ayu dan Fani, hadiah saya malam itu. Dari perjalanan panjang Sudirman – Priuk, akhirnya, saya berhasil bertemu Ayu dan Fani selama satu setengah jam. Ayu dan Fani, kakak beradik. Mereka berdua tinggal dan bersekolah di Bawean. Sebelum bulan puasa, bersama Ibunya, mereka menyempatkan untuk mengunjungi makam ayahnya di Jakarta.

Ayu dan Fani memang bukan murid saya di sekolah tempat saya mengajar dulu. Tapi karena rumah mereka di dekat pantai dan bersinyal, rumah mereka menjadi transit saya sebelum ‘naik’ ke gunung, menuju desa. Dari situlah, saya kenal, lalu disambung bernyanyi lagu anak-anak bersama, membantu mengerjakan PR, dan kegiatan menyenangkan ala anak-anak lainnya.

Kalau dulu, Ayu masih kelas 5 SD, kini sudah kelas 2 SMP. Fani, yang dulu belum sekolah, kini duduk di kelas 2 SD. Ayu, kini, suka pelajaran Bahasa Inggris, sedangkan Fani (saya tidak sempat bertanya) bertambah tinggi sekian centi. Ayu, kini, tidak pemalu lagi. Sebaliknya, Fani, yang dulu suka menyanyi, menjadi anak yang lebih pendiam. Setelah tiga tahun sekian bulan tidak bertemu mereka, melewatkan pertumbuhan mereka, ternyata, hal yang paling membahagiakan yang terjadi adalah … mereka ingat saya!

Ya, mereka ingat saya! Satu setengah jam bercerita dan saling lempar senyum karena tak menyangka akhirnya bisa bertemu di Jakarta. Maklum, sejak kembali dari penugasan dari Bawean tahun 2012, dari 6 orang yang bertugas di sana, hanya saya satu-satunya yang belum sempat kembali lagi ke sana. Kangen? Banget! Walau hanya satu tahun, Bawean seperti menjadi kampung halaman kedua saya.

Apa yang terjadi pada saya selama tiga tahun? Pindah kos, pindah kantor, pergi ke sana-ke mari, jatuh sakit, acara ini-itu, dan lainnya, anak-anak itu tetap tumbuh. Semua tumbuh dan berubah dengan sendirinya tanpa ada kuasa saya untuk menunda usia mereka. Walaupun demikian, kenyataan yang serba baik itu hanya menyisakan kenyataan bahwa saya pernah menjadi bagian dari masa kecil mereka.

Kenalkan, namanya Ayu. Tak menyangka, sudah besar sekarang. Sudah tidak semalu-malu dulu kalau saya ajak foto. Kemarin, langsung pasang senyum. Cheers, Ayu!

Kenalkan, namanya Ayu. Tak menyangka, sudah besar sekarang. Sudah tidak semalu-malu dulu kalau saya ajak foto. Kemarin, langsung pasang senyum. Cheers, Ayu!

PS.
Tiba-tiba saya merasa bahwa dihantui rasa penasaran untuk melihat anak-anak kita tumbuh besar adalah karma menjadi guru selama satu tahun di suatu daerah :D

#NulisRandom2015

Syukur Untuk Para Periang


Senang melihatmu riang dari sini,

Ada yang harus saya syukuri kali ini. Melihat orang-orang berubah dengan dayanya sendiri. Akhir-akhir ini, orang-orang di sekitar saya ada yang bertambah riang. Lalu, apa konsekuensinya? Ya, setidaknya, saya percaya bahwa riang itu menular. Jika ada beberapa yang riang, harapannya dapat memberikan suasana positif bagi lainnya.

Apa yang membuat mereka riang memang bukan urusan saya. Kalau itu prestasi atau pencapaian mereka, ya itu tetap milik mereka. Jika dengan pencapaian itu mereka bertambah baik, berarti pencapaian itu memang rezeki mereka. Ya, Tuhan sudah menuliskan jalannya demikian.

Saya ikut berbahagia untukmu,” adalah kata-kata yang saya ucapkan kepada para periang itu. Itu bukti rasa syukur saya. Rasa syukur tidak melulu tentang hal baik yang menimpa kita, lebih dari itu, hal baik yang terjadi pada orang lain pun juga. It’s not about us, it’s about them.

Terakhir, sebagai penggenap empat paragraf ini, saya bersyukur melihat orang-orang itu, kini, riang dan membawa perubahan. Bisa jadi ini akibat saya terlalu peka. Sekali lagi, saya syukuri dianugerahi kepekaan ini. Tuhan sedang meminta saya untuk belajar berproses dari orang lain di luar sana.

#NulisRandom2015

Oleh-Oleh Wake Up Call Training

Ada yang spesial di minggu kedua di bulan Juni. Jika semangat mulai turun dan lagi cari-cari inspirasi, boleh lho, sejenak baca tulisan saya kali ini. Saya akan berbagi oleh-oleh setelah mengikuti Wake Up Call Training di Gramedia Matraman kemarin hari Minggu (14/6).

Sesuai namanya, acara ini bisa kalian bayangkan sebagai pelatihan cara membangunkan orang-orang. Eh, tunggu sebentar! Jangan dibayangkan acara ini berakhir dengan penawaran jam wekker oleh si trainer, ya? Jelas, tidak ada hubungannya sama sekali.

Jadi, mengapa ‘wake up call’? ‘Wake up call’ di sini, literally, kata ‘wake up’ dalam bahasa Inggris yang berarti ‘bangun’. Melalui ‘wake up call’, kita diajak untuk bangun dari kebiasaan-kebiasaan ‘standar’ yang selama ini kita lakukan.

Lho, memang ada yang salah, dengan kebiasaan-kebiasaan itu? Tenang, there is nothing wrong with your life. Your life is fine, your life is good, and your life is great.

Tapi tidak menutup mata juga, dalam hidup, ada kalanya kita mengalami up and down moment. Ada masa lalu yang menyimpan cerita kegagalan kita akan sesuatu hal, namun ada juga masa depan yang penuh ketidakpastian. Apakah kegagalan di masa lalu mempengaruhi masa depan kita? Jawabannya, tidak.

Berita baiknya, kegagalan di masa lalu bukanlah penanda mutlak kegagalan di masa depan. Semuanya dimulai dari sekarang. Kita yang menciptakan cerita terbaik kita. Jadi, jelas kan, siapa yang pegang kendali? Yes, you!

Saya tidak tahu apa yang saya suka,” “Saya jenuh dengan pekerjaan ini,” “Saya menyesal … .” Ketiga kalimat itu (dan masih banyak lagi lainnya yang sejenis) harus mulai kita hapus dalam kamus hidup kita. Yakinlah bahwa kita memiliki potensi besar yang ada dalam diri kita. Sehingga, kita harus BANGUN!

Setelah bangun, susun goal atau tujuan kita. Apa yang kita inginkan? Apa impian yang harus segera kita wujudkan? Ingat, goal harus berasal dari diri kita sendiri, tidak boleh ikut-ikutan orang lain. Sehingga, kita bisa totalitas saat berjuang di ‘arena’.

Kalau masih penasaran, baca bukunya aja, ya.

Wake Up Call adalah buku motivasi yang ditulis oleh Indra K. Dewanto (co-writer : Brili Agung). Sumber : http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/88851/Wake-Up-Call"

Wake Up Call adalah buku motivasi yang ditulis oleh Indra K. Dewanto (co-writer : Brili Agung). Sumber : http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/88851/Wake-Up-Call”

Asyik, dapat hadiah buku langsung dari penulisnya.

Asyik, dapat hadiah buku langsung dari penulisnya.

Dalam Wake Up Call Training kemarin, tidak hanya Indra K. Dewanto (@indrakdewanto) saja sebagai pembicara, tetapi ada juga Dayu Rifanto (@PapuaCerdas) dan Brili Agung (@BriliAgung).

Dayu Rifanto
Siapa yang tidak kenal Dayu Rifanto? Inisiator Buku Untuk Papua ini makin aktif dan passionate dalam mengembangkan taman baca dan mendistribusikan buku untuk Papua. Dalam acara kemarin, Dayu Rifanto berbagi cerita tentang motivasinya untuk membentuk komunitas Buku Untuk Papua. Berkat perjuangannya selama ini, siapa sangka Komunitas Buku Untuk Papua semakin besar dan banyak relawan yang bersedia terlibat.

Brili Agung
Ke mana saja ya, saya selama ini? Baru lewat acara kemarin akhirnya dipertemukan dengan Brili Agung, co-writer dari buku Wake Up Call. Dalam acara kemarin, Brili Agung berbagi cerita tentang bagaimana cara menulis buku, mewujudkannya dalam waktu singkat, serta meraih peluang dalam dunia tulis-menulis (Brili Agung menyebutnya dengan istilah ‘writerpreneur’).

Yang unik dan masih saya ingat sampai sekarang adalah saat Brili Agung menjawab pertanyaan saya tentang cara menulis yang baik. Lewat short course dan training menulis yang dibuatnya, Brili Agung ingin mewujudkan jemaah kepenulisan yang berdaya sekaligus menekankan bahwa menulis bukan tentang pemilihan kata yang indah, melainkan konsistensi yang istiqomah :D .

#NulisRandom2015

Saya dan Dinosaurus

Mimpi sederhana saya di peak season kantor Juni ini adalah bisa nonton Jurassic World (dan Insidious 3). Yakin, sederhana??

Tidak pernah sempat jika tidak disempatkan menjadi mantra untuk ‘curi-curi’ waktu di kala badai pekerjaan datang. Mau mengeluh juga bukan sebuah solusi. Jadi, marilah menari di antara deadline yang turun bagai rintik hujan.

Kalian bisa jadi menganggap saya aneh karena meletakkan kebahagiaan di antara deadline pekerjaan dengan hanya menonton Jurrasic World. Sumpah demi apa? Itu hanya sebuah film!

Film tentang dinosaurus-dinosaurusan itu (yeah, itu animasi kan? Izinkan saya menyebutnya demikian) menyimpan kenangan masa kecil saya. Kala itu, papa mengajak saya dan Si Embak ke bioskop untuk menonton film dinosaurus, The Lost World: Jurrasic Park, di bioskop Ratih 21, Jogja (Note: Jangan dicari, sekarang bioskop itu sudah tidak ada).

Ritual jalan bertiga ini adalah cara papa untuk menghibur anak-anaknya yang kangen mama. Di tahun itu, mama sedang menempuh pendidikannya di TVRI Jakarta. Kalau sekarang saya bayangkan, lucu juga. Saya dan Si Embak benar-benar menjadi anak papa.

Jadi, nostalgia dengan film dinosaurus ini yang kamu cari sebagai kebahagiaan, Het?

Bioskop terdekat dari Kemendikbud Fatmawati adalah Blok M Plaza. So, here we go. Satu keinginan tercapai untuk 'mood booster' di antara ke-hectic-an bulan Juni.

Bioskop terdekat dari Kemendikbud Fatmawati adalah Blok M Plaza. So, here we go. Satu keinginan tercapai untuk ‘mood booster’ di antara ke-hectic-an bulan Juni.

Lima menit sebelum film dimulai, tiba-tiba HP saya bergetar. Ada sms masuk dari … PAPA!!

Ass. Baru apa dik?”

(SMS yang khas papa sekali untuk mengecek keberadaan anak perempuannya).

Jadi, beginilah ikatan kuat saya dengan film dinosaurus. Sekarang kalian percaya? :D

Oh ya, walaupun ada label R 13+ (artinya, ‘R’ untuk Remaja, ’13+’ untuk usia tiga belas tahun ke atas) untuk film Jurassic World ini, kemarin yang duduk di samping saya adalah keluarga dengan anak satu berusia pra-TK. Setiap ada adegan dinosaurus yang memangsa manusia, si bapak akan menggendong anaknya dan lari ke belakang stage. Itu dilakukan berulang kali. Sebaliknya, saat ada adegan telur dinosaurus yang menetas, gentian si ibu yang akan menjelaskan kepada anaknya. Hmm, ada-ada saja, ya.

#NulisRandom2015