Namanya mama. Perempuan yang menghadirkan saya di dunia. Bukan sedang Hari Ibu sih tapi saya ingin bercerita tentang mama. Hari ini, Minggu, malam, hujan, kosan. Rasa apa lagi yang mendorong anak perantauan untuk tidak ‘kangen rumah’? Saya di Jakarta, mama di Jogja. Tulisan ini menjadi cara kangen untuk ‘hubungan jarak jauh’ kami berdua.

Lebaran kemarin saya pulang. Jauh-jauh hari sebelum lebaran bahkan. Lumayan, enam hari bisa berpuasa di rumah Jogja. Saya punya kamar sendiri di rumah Jogja tapi setiap pulang, saya lebih suka berdandan nebeng meja rias yang ada di kamar mama.

Yang membuat saya geli adalah saat mama melihat saya berdandan kemarin. Oles make up sana-sini, ikat jilbab ke kanan ke kiri.

Spontan mama berkomentar, ”Sekarang nggak pede ya, Dek, kalau mau ke luar tapi nggak dandan.”

Saya meringis praktis, ”Biar nggak dikira muka bangun tidur, Mam.”

Singkat tapi tiba-tiba saya merasa sedang memutar koleksi kaset lawas. Jadul. Jadul sekali…

Kala itu, saya versi bocah tidak sabar untuk pergi dengan mama. Berulang kali saya merengek minta mama bergegas. Apa daya, meja rias itu seakan menahan mama (meja rias yang sama). Mama masih bertahan di depan meja rias menggunakan pensil alis, bagian make up favoritnya.

Mama, kita lho cuma pergi bentar. Nggak usah dandan juga nggak apa-apa,” rengekan andalan saya.

Pemandangannya kini berbalik. Ah iya, izinkan kaset lawas ini terus berputar dalam kepala saya sekarang. I grow up, Ma, but childhood memories (always) stay.

Katanya ...

Katanya …

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons & InvolveAsia X HB & BB. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher berrybenka dan voucher hijabenka disponsori oleh Berrybenka & Hijabenka.

Lebaran bukan melulu tentang baju baru. Kamu setuju? Tapi, ngomongin baju baru sama lebaran emang nggak ada habisnya. Apalagi tiap masuk Ramadan hari kedua puluh atau hari Lebaran minus sepuluh, toko baju selalu laris manis pembeli. Ya, pasar tradisional, pasar modern, mall, online shop, semuanya full! Nampaknya, baju baru masih jadi hal yang wajib dipunya saat Lebaran tiba.

Nggak sampai di situ aja, jelang lebaran, berbagai model baju pun bermunculan. Ya warna, ya corak, ya potongan, semua berlomba-lomba untuk jadi tren yang kekinian. Baju yang dipakai artis di suatu acara TV bisa langsung muncul di pasaran. Uniknya, nama si artis ikut jadi nama model baju yang dipakainya. Masih ingat kan sama ‘Celana Zaskia’ sampai ‘Jilbab Fatin’ yang terkenal di kalangan penjual beberapa waktu yang lalu? Hihi.

Hmm, bingung juga, ya? Padahal cita-cita pembeli itu sesederhana bisa punya baju modis, plus nggak pake capek, nggak pake ribet, dan bla bla bla bla. Emang bisa?? Bisa!!

Nah, kali ini mampir yuk ke www.hijabenka.com. Tempat beli baju antibingung. Kenapa? Karena semuanya ada di sini. Aku bakal pilih satu motif buat kamu untuk lebaran nanti. Motif ini nggak ada matinya dan terus berputar di kalangan fashion. Motif itu adalah … bunga atau floral!

Eh, tahu nggak? Bulan Desember tahun 2014, The Times of India merilis suatu artikel fashion di laman websitenya. Judul artikelnya, “Flowers are the new fashion motif.” Walaupun sudah terhitung satu setengah tahun, nyatanya, sampai sekarang, motif bunga masih menjadi tren di kalangan fashion. Di Indonesia, misalnya. Berbagai pernak-pernik fashion bermotif bunga masih bisa ditemukan dengan mudah. Misalnya, tas, baju, rok, celana, sampai jilbab.

Atasan Bunga
Organize. (1)

Tunik Cantika Japan Tali: Atasan berbahan katun Jepang ini cocok kamu kenakan untuk padanan hijab chic sehari-hari. Atasan tunik bermotif ini dilengkapi tali belt unik. Kamu bisa padu padan dengan hijab polos warna netral. Penasaran? Cek, di sini.

Balerina Skirt: Rok berbahan jersey ini dilengkapi layer tulle dan lace trim pada bagian hemline. Di bagian pinggang, ada tali pinggang yang elastic dan bisa disesuaikan sesuai ukuran. Ditambah atasan bunga, rok ini ‘sempurna’ jadi tampilan berhijab yang girly. Penasaran? Cek, di sini.

Bawahan Bunga
Shaila Pants (1)

Shaila pants: Celana katun cantik dengan aksen bunga-bunga yang manis ini bisa dipadu padan dengan kemeja polos panjang berwarna netral maupun senada. Penasaran? Cek, di sini.

Deva Tunik: Atasan berbahan chiffon dengan detail asimetris yang unik. Penasaran? Cek, di sini.

Hijab Bunga
Damour 036 Blue

Damour 036 Blue: Hijab instant nuansa biru berbahan chiffon ini bermodel langsung pakai dengan detail pemakaian layer dan corak motif floral. Penasaran? Cek, di sini.

Eaton Jumpsuit Black: My Favorite! Jumpsuit berbahan katun ini mempunyai aksen seperti rompi tanpa lengan. Untuk melengkapi penampilan, kenakan manset berwarna netral. Penasaran? Cek, di sini.

Pengalaman donor darah pertama selalu berkesan.  (foto: dokumentasi pribadi)

Pengalaman donor darah pertama selalu berkesan.
(foto: dokumentasi pribadi)

Sabtu, 11 Juli 2015 menjadi hari dan tanggal yang sakral untuk saya. Walau belum genap satu tahun, masih saja selalu teringat seolah minta untuk dikenang. Pagi itu, tiba-tiba seorang teman mengirimkan pesan di Whatsapp Group yang berisi permintaan urgen sumbangan darah O untuk anak temannya yang sakit di rumah sakit. Darah O yang diminta bukan sembarangan, syaratnya, pendonor bergolongan darah O yang belum pernah mendonorkan darahnya karena masih mengandung suatu zat, saya lupa istilahnya.

Merasa sebagai empunya golongan darah O dan cocok, saya pun nekat menghubungi teman saya dan menyatakan bersedia menjadi pendonor. Ya, nekat karena ini akan menjadi kali pertama saya mendonorkan darah. Bohong kalau saya tidak deg-degan. Saya cemas dan takut ditolak, mengingat bulan sebelumnya, saya sempat ditolak donor darah karena Hemoglobin (Hb) saya tidak mencukupi persyaratan. Pun bulan Juli 2015 kala itu bulan puasa dan saya ingat, dini harinya saya tidak sahur. Apa jadinya nanti ketika saya datang ke kantor Palang Merah Indonesia (PMI)?

Rupanya, keinginan saya untuk memecah rekor donor pertama kali mengalahkan ketakutan saya ditolak karena alasan kesehatan. Saya pasrah saja, kalaupun ditolak saya akan pulang. Setidaknya saya pernah menginjakkan kaki di kantor PMI yang beralamat di jalan Kramat, Jakarta Pusat.

Sesampai di kantor PMI, saya didata dan diminta untuk cek kesehatan. Alangkah terkejutnya, saya dinyatakan lolos tes kesehatan tapi tetap ditolak untuk donor darah. Penasaran, saya pun bertanya pada petugas PMI yang berjaga. Dengan sigap, petugas menjawab golongan darah yang dibutuhkan adalah O, sedangkan golongan darah saya adalah A, tidak ada kecocokan. Sehingga, saya tidak bisa menyumbangkan darah untuk pasien seperti yang dikabarkan teman saya melalui Whatsapp Group.

Seharusnya saya gembira karena dinyatakan lolos tes kesehatan untuk donor darah. Nyatanya, rasa gembira itu tertutupi oleh keterkejutan saya tentang perubahan golongan darah yang saya alami. Sejak kecil, saya sudah diberi tahu oleh orangtua saya bahwa golongan darah saya adalah O. Begitu juga di dokumen-dokumen penting hidup saya, semuanya mencatat saya bergolongan darah O. Mengapa sekarang bisa berubah menjadi A?

Dengan menggebu, saya masih bertahan di meja petugas dan bertanya tentang perubahan golongan darah yang saya alami. Dengan sabar, petugas menjelaskan bahwa golongan darah tidak bisa berubah. Bisa jadi, saat bayi, tes golongan darah yang dilakukan pada saya kurang valid. Si petugas pun memperlihatkan hasil tes saya saat itu, berupa darah saya yang ditetesi zat kimia dan hasilnya menunjukkan reaksi kimia yang merujuk pada golongan darah A. Jika kurang puas, petugas menyarankan saya untuk melakukan tes golongan darah di laboratorium terdekat.

Singkat cerita, akhirnya, saya memang tidak bisa mendonorkan darah untuk anak teman saya yang sakit karena perbedaan golongan darah. Karena sudah dinyatakan lolos tes kesehatan, saya tetap donor darah tapi reguler. Saya mendonorkan darah A saya untuk persediaan darah PMI. Hari itu, saya yang takut jarum suntik dan baru donor pertama kali benar-benar membuktikan kata orang-orang tentang donor darah.

Relawan Donor Darah
Saya yakin saya hanya satu di antara sekian orang yang menyumbangkan darahnya atau disebut relawan donor darah. PMI sendiri mempunyai istilah untuk menyebut aktivitas ini, yaitu Donor Darah Sukarela. Seperti dikutip dari website PMI, www.PMI.or.id, Donor Darah Sukarela adalah orang yang dengan sukarela mendonorkan darahnya. Semakin banyak Donor Darah Sukarela, maka kebutuhan darah PMI di berbagai daerah pun dapat terpenuhi.

Berdasarkan data tahun 2015, PMI memiliki dua juta relawan donor darah. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia di tahun yang sama, yaitu sebesar 254,9 juta jiwa, tentu jumlah itu masih sedikit. Bahkan, menurut World Health Organization (WHO), setiap negara harus memiliki pasokan darah minimal 2% dari jumlah penduduk. PMI juga memiliki standar tersendiri untuk jumlah donor darah di Indonesia, yaitu minimal 4% dari jumlah penduduk suatu daerah. Mengingat, setiap tahun, Indonesia membutuhkan 4,8 juta kantong darah.

Sungguh jumlah yang tidak sedikit bukan? Tidak salah apabila PMI, sebagai lembaga yang mendapatkan mandat dari pemerintah untuk menjalankan pelayanan donor darah, gencar melakukan berbagai aktivitas dan sosialisasi untuk menghimpun relawan yang bersedia mendonorkan darahnya. Selain datang ke kantor PMI, PMI juga membuka berbagai kemudahan untuk melakukan donor darah. Misalnya, donor darah bisa dilakukan di Unit Donor Darah, gerai donor darah, kegiatan donor darah, maupun mobil donor darah.

Pada dasarnya, menjadi relawan donor darah itu mudah. Terlebih, atas dasar solidaritas kemanusiaan. Semakin tinggi tingkat kesadaran dan pendidikan masyarakat tentang donor darah, maka semakin banyak orang yang menjadi relawan dengan cara menyumbangkan darah yang dimilikinya. Beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi relawan donor darah, yaitu: (a) Berusia 17-60 tahun (usia 17 tahun diperbolehkan dengan izin tertulis dari orangtua), (b) Berat badan minimal 45 kilogram, (c) Temperatur tubuh 36,6-37,5 derajat Celcius, (d) Tekanan darah baik, yaitu sistole 110-160 mmHg dan diastole 70-100 mmHg, (e) Denyut nadi teratur yaitu sekitar 50-100 kali/menit, (f) Hemoglobin (Hb), baik laki-laki maupun perempuan, minimal 12,5 gram, (g) Dalam satu tahun, maksimal melakukan donor darah lima kali dengan jarak donor darah tiga bulan (keadaan ini harus disesuaikan dengan keadaan pendonor).

Tak lupa, sebagai bentuk apresiasi terhadap Donor Darah Sukarela, PMI memberikan piagam penghargaan kepada orang yang telah menyumbangkan darahnya sebanyak 15 kali, 30 kali, 50 kali, 75 kali, dan 100 kali. Khusus untuk Donor Darah Sukarela sebanyak 100 kali, PMI bekerja sama dengan Departemen Sosial memberikan penghargaan Satyalancana Kebaktian Sosial yang disematkan langsung oleh Presiden.

Itulah pengalaman saya tentang donor darah. Gara-gara donor darah, tak hanya menyumbang darah, saya juga jadi tahu golongan darah saya yang sebenarnya. Saya pun bisa bercerita kepada teman-teman saya tentang pengalaman pertama donor darah. Memang pengalaman yang menarik karena jauh berbeda dengan cerita yang beredar di masyarakat. Teman-teman saya berulang kali menanyakan rasanya. Sakit? Nyatanya, tidak. Proses donor darah pun relatif cepat dan tidak berasa. Ini hanya pengalaman saya, saya yakin pasti masih banyak cerita dari relawan donor darah lainnya. Kamu berminat untuk membantu sesama dan punya pengalaman donor darah? Yuk, menjadi relawan donor darah!

Referensi:
Anonim, Donor Darah Sukarela (online), 2013, <https://www.pmi.or.id/index.php/kapasitas/sukarelawan/donor-darah-sukarela.html>, diakses pada 12 Juni 2016

Biro Humas PMI Pusat, Hari Donor Darah Sedunia: Berbagi Kehidupan, Donorkan Darah (online), 2016, <http://www.pmi.or.id/index.php/berita-dan-media/peristiwa/item/794-hari-donor-darah-sedunia-berbagi-kehidupan,-donorkan-darah-hdds2016.html>, diakses pada 12 Juni 2016

Blood for Life, Syarat Donor Darah (online), ____, <https://bloodforlife.wordpress.com/syarat-donor-darah/>, diakses pada 12 Juni 2016

Fimdani, Data BPS 2015 Sebut Jumlah Laki-laki di Indonesia Lebih Banyak Dari Perempuan (online), 2015, <http://news.fimadani.com/read/2015/11/21/data-bps-2015-sebut-jumlah-laki-laki-di-indonesia-lebih-banyak-dari-perempuan/>, diakses pada 12 Juni 2016

Wardah, Fathiyah, Indonesia Kekurangan 1 Juta Kantong Darah Per Tahun (online), 2016, <http://www.voaindonesia.com/content/indonesia-kekurangan-1-juta-kantong-darah-per-tahun/1681588.html>, diakses pada 12 Juni 2016

Zulfikar, Achmad, 70 Tahun Berdiri, PMI Miliki 2 Juta Relawan Donor Darah (online), 2015, < http://news.metrotvnews.com/read/2015/09/10/429713/70-tahun-berdiri-pmi-miliki-2-juta-relawan-donor-darah>, diakses pada 12 Juni 2016

Angry Birds yang biasanya hanya ada di games, sekarang ada filmnya, lho!!

Hey, Het, where have you been? Udah lamaaa

Yup! Angry Birds The Movie memang sudah dirilis di Indonesia sejak bulan lalu, tanggal 13 Mei 2016. Tapi, nyatanya, saya baru sempat nonton kemarin. Hiks.

why so angry

Siapa sangka, Sabtu (4/6) kemarin, Angry Birds The Movie hanya tersisa di tiga bioskop di Jakarta. Puri XXI, Gading XXI, dan Bassura XXI. Saya nyaris ketinggalan film ini, padahal saya khatam games Angry Birds dan penasaran filmnya. Sayangnya, tiga tempat itu sama sekali bukan pilihan saya nonton biasanya. Puri? Jakarta Barat. Gading? Jakarta Utara. Bassura? Di mana lagi itu?

Lelah menerka, bukan paman Google yang saya tanya, melainkan paman Gojek. Melalui aplikasi, dari alamat saya ke Bassura XXI ternyata hanya Rp 12.000,00. Bagi saya, Rp 12.000,00 itu menandakan daerahnya tidak jauh dan ‘gojekable’. Yeay!

Ternyata, Bassura XXI adalah bioskop baru, juga mallnya, Bassura City. Bioskop yang namanya singkatan dari alamatnya, Jalan Basuki Rahmat (Bassura), itu dibuka tanggal 26 Mei 2016. Pantas saja harga tiketnya masih terhitung murah, Rp 30.000,00 untuk hari biasa dan Rp 35.000,00 untuk akhir pekan dan hari libur. Saya kaget saat memesan tiket nonton untuk pukul 19.00 WIB. Hampir semua seat penuh padahal saat itu belum jam 18.30 WIB. Olala, ternyata banyak ‘krucil’ (baca: anak-anak) yang menonton dengan orang tuanya.

Angry Birds The Movie dibuka dengan musik pengantar seperti yang ada di games-nya. Yah, ada sedikit aransemen tapi tetap khas Angry Birds. Film ini menampilkan tokoh-tokoh yang sama dengan yang ada di games Angry Birds. Red (Si Burung Merah yang pemarah), Chuck (Si Burung Kuning yang gesit), Bomb (Si Burung Hitam besar yang bisa meledakkan diri), Terence (Si Burung Merah besar yang bisa mental), Matilda (si Burung Putih, guru kelas pengendalian marah), dan masih banyak lagi varian tokoh burung lainnya.

Film ini bercerita tentang seekor burung berwarna merah, bernama Red, yang memiliki masalah dengan rasa marahnya. Jika Red sudah marah, alisnya yang tebal berwarna hitam akan mengerut dan dia bisa berkata-kata tanpa henti. Kondisi ini membuat Red tidak punya teman dan menjadi asosial.

Puncaknya, saat Red disidang karena terlambat membawa kue pesanan untuk anak pelanggannya yang berulang tahun dan memecahkan telur. Red yang tidak punya teman berusaha membela dirinya sendiri. Di awal film memang banyak adegan yang menggambarkan kesialan Red. Bukannya mendapat simpati, Red justru semakin mendapat kecaman, “Don’t make a story, just take a responsibility.” Sebagai hukuman, Red harus mengikuti kelas pengendalian rasa marah. Di kelas inilah, Red bertemu dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Chuck, Bomb, Terence, dan Matilda, Si Ibu Guru.

Apakah film ini hanya akan bercerita tentang persahabatan mereka berempat di kelas pengendalian rasa marah? Tidak sedangkal itu. Cerita masih berlanjut dengan kedatangan babi hijau (Green Piggies) ke pulau burung. Lalu berlanjut dengan cerita tentang usaha Red dan teman-temannya untuk menemui Mighty Eagle, cerita Red yang tidak punya teman di Pulau Burung, dan cerita-cerita burung lainnya yang diselipkan untuk menyempurnakan 1 jam 37 menit.

Sepanjang film berlangsung, jalan ceritanya memang tidak membosankan. Apalagi kita bisa melihat warna-warni burung serial Angry Birds yang memanjakan mata. Namun, saya tidak bisa membayangkan jika jalan cerita ini bukan Angry Birds yang memainkannya. Tentu akan sedikit berat dan ‘tidak mengangkat’. Bisa jadi karena Angry Birds sudah tenar dulu sebagai games dan merchandise, dari seprei sampai kaos. Di sinilah, Angry birds sudah memenangkan hati orang-orang.

Dari segi humor, film ini banyak membuat saya tertawa. Ada saja adegan-adegan lucu yang diciptakan out of the box (namanya juga film animasi, imajinasi). Sayangnya, adegan-adegan lucu itu hanya dimengerti oleh orang dewasa. Dari satu deret seat bioskop, saya nonton sendiri diapit ayah bunda yang membawa anak-anaknya. Dan yang tertawa paling nyaring adalah … saya dan si ayah bunda!! Saya tidak tahu cara anak-anak itu menikmati film Angry Birds. Lagi-lagi, bisa jadi karena Si Anak sudah mempunyai koleksi menchandise Angry Birds sehingga tidak asing dengan para tokoh burung dan bisa menonton film tanpa beban.

Oh ya, sepanjang film, saya selalu menantikan penampilan semua tokoh burung yang ada di games Angry Birds. Saya penasaran dengan peran yang mereka bawakan. Si Burung ini jadi apa, Si Burung itu jadi apa. Dengan tokoh Angry Birds yang banyak variannya itu, si pembuat cerita harus terampil memberikan peran pada masing-masing burung. Bahkan, seperti kejutan, di akhir film pun, si pembuat cerita masih sempat memunculkan trio burung pemecah es yang dari awal belum muncul-muncul. Nice try-lah, Angry Birds The Movie!

Angry Birds The Movie

PS.
Tokoh favorit saya di film ini adalah si burung yang menjadi pantomim (walau sama sekali tidak ada di games-nya). Dia menjadi tokoh yang tidak penting tapi kocak dan sering dimunculkan untuk hiburan.

Makin ke sini, makanan tidak melulu menjadi jawaban saat kita lapar. Makanan bisa menjadi ajang gengsi, sensasi, atau sekedar pemuas rasa penasaran. Minimal, setelah kita makan suatu jenis makanan, kita bisa berbagi cerita ke orang lain tentang makanan itu atau restoran/rumah makan yang menyajikannya. Pokoknya, harus ada ceritanya!

Seperti kali ini, saya dan teman-teman sekantor rela berdesak-desakan di KRL dari Jakarta menuju Depok untuk mencicipi Godzilla Burger. Agak impulsif juga seperti tidak ada tempat hangout di Jakarta sepulang kerja. Tapi seperti yang saya jelaskan di atas, dalam kasus ini, saya dan teman-teman penasaran dengan Godzilla Burger. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, saya melihat liputannya di acara kuliner di salah satu stasiun TV swasta.

Nama tempatnya adalah Dino Steak & Pasta House. Dari nama tempatnya, sudah ketahuan ragam menu yang ditawarkan. Jelas tidak ada kalau kamu mencari ‘pecel lele’ atau ‘pecel ayam’. Lihat saja daftar menunya kalau tidak percaya. Dari semua menu western food yang ditawarkan, yang saya rekomendasikan untuk dicoba adalah Godzilla Burger.

Godzilla Burger adalah salah satu signature menu di sini. Godzilla burger adalah 1 kg beef burger yang disusun tingkat lima dengan patty dan disajikan dengan 200 gram kentang goreng plus onion rings. Tidak perlu khawatir dengan makanan sebanyak itu, si pemilik cukup pengertian dengan menghadirkan tiga saus untuk menambah varian rasa, saos pedas, saos tomat, dan mayones.

Eh, tapi yakin bisa kuat makan burger sebanyak itu? Jika kamu memesan Godzilla Burger, tidak hanya burgernya saja yang harus kamu habiskan, tetapi juga kentang goreng dan onion rings yang memenuhi nampan. HeEh, burgernya disajikan dalam nampan, bukan piring. Catet!

Nah, kalau jawabannya kuat, langsung aja lapor ke pramusaji, kamu ikut Godzilla Burger Challenge. Godzilla Burger Challenge ini seru karena kamu harus menghabiskan burger dan ‘teman-temannya’ dalam waktu tiga puluh menit. Jika kamu berhasil, maka kamu tidak perlu membayar. Sebaliknya, jika gagal, kamu harus membayar sesuai harga yang tercantum di daftar menu. Gimana, tertantang?

Walaupun pulang kerja dari Jakarta langsung ke Depok, saya dan teman-teman masih kalem dan memesan makanan bersama-sama. Kami tidak mengambil tantangan karena ingin menikmati burger dengan khusyuk tanpa tergesa-gesa (pembelaan kami). Nyatanya, satu Godzilla Burger bisa kami habiskan berlima sambil bercerita santai tentang ini dan itu.

Tempatnya seru untuk hangout rame-rame.

Tempatnya seru untuk hangout rame-rame.

Rasa
Oh ya, soal rasa, ini bisa menjadi sangat subjektif. Kalau saya, saya lebih memilih burger dari merk lain. Mungkin karena fokusnya adalah kuantitas dan nama produk, soal cita rasa menjadi kurang ‘nendang’. Selain itu, kentang goreng dan onion rings-nya tidak begitu recommended. Campuran tepung terigunya terlalu banyak sehingga menyebabkan gorengan keras.

Harga
Satu Godzilla Burger dijual dengan harga Rp 86.500,00. Cukup ekonomis, kan? Ajak saja teman-teman untuk memesan bersama, terbayang kamu bisa menghemat berapa? hehe.

Saya yakin, kamu pasti masih penasaran dengan cerita saya? Nggak cukup membaca tulisan ini, kamu harus ke sana dan memesan Godzilla Burger. Cuss! Temukan di Dino Steak & Pasta House di Jalan Margonda Raya no.438 (bisa jalan kaki dari stasiun Pondok Cina).

Selamat satu minggu!

Malam ini adalah malam anniversary dengan kosan baru. Yeah, genap satu minggu menempati kosan di gang satu nomor satu. Hei, ini bukan setting-an! Kata Ibu kos, alamatnya memang begitu.

Satu minggu yang lalu, di saat orang lain berlibur dan pulang kampung, saya justru pindahan. Ada untungnya juga pindahan saat long weekend seperti kemarin. Selain sepi, ada sisa waktu untuk recovery (percayalah, pindahan itu lelah hehe).

Oh ya, ini adalah kali keempat saya pindah. Jadi, kalau ditanya rasa, yaa … begitulah! Saya selalu excited dengan tempat baru. Walaupun begitu, ada juga beberapa orang yang justru mendadak stress saat pindah. Wajar sih, antara susah move on dan banyaknya barang yang harus dikemasi.

Sebagai persembahan malam anniversary dengan kosan yang baru, berikut tips pindahan dari saya yang, yah, siapa tahu berguna bagi anak perantuan di mana pun kalian berada.

Kata teman sekosan, barang-barang saya banyak banget karena hobi saya mengoleksi 'printilan'. Katanya, yang saya butuhkan bukan kosan, tapi rumah. Bakal full furnish, deh! haha.

Kata teman sekosan, barang-barang saya banyak banget karena hobi saya mengoleksi ‘printilan’. Katanya, yang saya butuhkan bukan kosan, tapi rumah. Bakal full furnish, deh! haha.

Pertama
Sediakan kardus atau tas plastik berukuran besar untuk storage barang-barang kita. Pengalaman pindahan empat kali, saya lebih nyaman mengemasi barang-barang dengan tas plastik berukuran besar. Saya membeli tas plastik ini di Pasar Kebayoran Lama bergambar Mickey Mouse dan Teddy Bear (mereka sudah ikut saya pindahan tiga kali, lho! #catet #penting). Sedangkan, kalau kardus, saya selalu bertanya ke Indomaret atau Alfamaret samping kosan. Apakah ada kardus yang bisa diminta gratis atau berbayar.

Kedua
Jangan menceraikan barang-barang. Kamu pernah nonton film Toy’s Story? Kamu percaya bahwa barang-barang bisa berbicara? Kalau saling berpisah, mereka pasti sedih hihi. Enggak, deng. Maksudnya, mengemasi barang-barang kita dalam satu golongan akan memudahkan kita saat akan menata kembali di tempat yang baru. Baju, baju semua. Buku, buku semua.

Ketiga
Seperti ajaran guru Matematika, kerjakan dari hal yang paling mudah. Begitu pula dengan pindahan. Kemasi barang-barang dari barang yang paling sering kita gunakan. Setelah itu, coba lihatlah sekelilingmu. Kalau ada barang (hayo, ngaku!), itulah barang-barang sisa. Bagi saya, pilihannya ada dua. Kalau masih cinta, segera kembali, eh kemasi. Sedangkan, kalau memang sudah biasa saja daripada hanya menambah beban kehidupan, lebih baik berikan ke orang yang membutuhkan atau garage sale sekalian.

Selalu ingat, pindahan itu ribet, jadi jangan ditambah ribet dengan pikiran-pikiran kita sendiri. Percaya atau enggak, empat kali pindahan, selalu saya lakukan sendiri (tidak termasuk transportasi mobil box, ya…). Ada beberapa teman yang menawarkan bantuan tapi bagi saya, pindahan adalah personal moment dengan barang-barang kita. Lebih dari itu, mengingat betapa banyaknya barang-barang saya, pindahan bagai stock opname (emang toko?). Masa untuk mengingat apa saja yang dipunya (dan yakin masih berani merasa kurang?? #Selftalk)

New day has come

Siapa yang enggak kenal Pintu Ajaib?

Pintu ajaib adalah salah satu alat (canggih) milik Doraemon, berupa pintu berwarna pink yang bisa membawa kita ke mana pun sesuai tujuan. Sejak pertama kali menonton film Doraemon, Pintu Ajaib menjadi salah satu alat yang sukses membuat saya iri dan tak berhenti berandai-andai memilikinya. Saking pengennya, Pintu Ajaib selalu mendapat peran saat saya bermain dengan teman-teman. Pokoknya, Pintu Ajaib berhasil membuat saya dan teman-teman berimajinasi dalam setiap permainan kami.

Itu dulu, masa kanak-kanak. Seiring bertambah usia (dan tetap konsisten menjadi penonton setia film Doraemon), pemikiran saya naik satu tingkat. Saya tidak lagi kagum pada Pintu Ajaib milik Doraemon tetapi kagum dengan sang pencipta Doraemon dan Pintu Ajaibnya. Bisa ya, kepikiran membuat sesuatu yang tidak mungkin di dunia nyata tapi justru diiyakan dan menghibur banyak orang di dunia fantasi. Yah, itulah imajinasi.

Lama tak berandai-andai dengan Pintu Ajaib, Sabtu (7/5) lalu, kambuh lagi. Saya tak tega melihat wajah pucat pasi mama melihat jam. 15.25 WIB. Satu jam tiga puluh lima menit lagi, pesawat tujuan Jakarta-Jogja akan berangkat dari bandara Halim Perdanakusuma. Tapi kenyataannya, mama masih berada di rumah. Rumah kakak di daerah Halim memang tidak jauh dari bandara tapi lain cerita kalau tertahan hujan dan petir yang kompak ‘tampil’ sore itu. Sebagai penganut aliran ‘2-3 jam harus berada di bandara/stasiun sebelum jadwal keberangkatan’, ini adalah masalah besar bagi mama.

Saya tak tega. Saya tahu rasanya. Cemas, panik, dan pikiran pasti sudah melambung jauh (baca: asumsi). Saya hanya bisa menenangkan mama dengan satu senyuman dan kata-kata klasik, “Tenang, Ma. Kekejar kok pasti.”

Akhirnya, setelah petir selesai menderu dan masih menyisakan hujan, kakak mengantar mama ke bandara dengan taksi. Saya ditahan menjaga rumah sebentar dan dilarang pulang sebelum hujan reda. Di keheningan rumah dan bunyi hujan, saya teringat Doraemon dan Pintu Ajaibnya. Ah, memang itu hanya khayalan semata, tidak bisa diharapkan untuk benar-benar ada. Walau tak benar-benar ada, berkhayal pada Doraemon dan Pintu Ajaib nyatanya cukup menghibur. Saya hanya ingin berprasangka baik pada cuaca sore itu. Please, jangan ganggu penerbangan mama ke Jogja.

16.40 WIB, bus transjakarta, gerimis
Bip bip, Whatsapp dari mama yang terkirim 16.11 WIB baru terbaca
Dik, hati-hati yo..”

PS.
Menulis cerita ini di penghabisan hari. Hari yang (katanya) tertanggal sebagai mother’s day versi internasional. Cerita ini sebuah persembahan untuk mama. Mama yang selalu mengingatkan untuk tidak mepet-mepet jam dan jangan ngoyo di setiap detik kehidupan saya. Matur sembah nuwun, mama!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,501 other followers

%d bloggers like this: