Keberangkatan ke Johannesburg, Afrika Selatan, bulan lalu masih menyisakan utang cerita di blog. Tahun memang berganti, utang tetap saja membebani kalau tidak dilunasi.
Emang kamu janji sama siapa, Het?”
Sama diri sendiri.”
Sigh!

*

Setelah cerita pertama tentang mudahnya membuat visa Afrika Selatan tanpa bantuan agen, pada urutan kedua kali ini, saya akan bercerita pengalaman di Thailand selama 11 jam.

Thailand? Ya, ‘libur colongan’ 11 jam ini dipersembahkan oleh kepergiaan ke Johannesburg, Afrika Selatan. Dari berbagai pilihan penerbangan, akhirnya, Thailand menjadi tempat transit yang saya pilih dengan berbagai pertimbangan (serta catatan, mumpung dibayarin haha).

Fakta pertama, ini kali pertama saya ke Thailand. Please, jangan tertawa kalau kalian traveller ulung. Setelah Singapura dan Malaysia, Thailand menjadi negara Asia ketiga dalam daftar jelajah saya.

Fakta kedua, saya termasuk orang yang harus melihat sendiri baru kemudian percaya. Selama 3 tahun 11 bulan kuliah di Hubungan Internasional dan mengambil konsentrasi kawasan Asia Tenggara, hubungan saya dengan Thailand hanya sebatas buku-buku literatur. Selama itu, saya banyak meng-‘gibah’ Thailand, mulai dari tata kelola pertanian nasional, pengembangan industri kecil dan menengah, sampai pembangunan pariwisata. Jujur, agak sanksi memang karena saya menjadi sensitif kalau kondisi Thailand lebih baik dari Indonesia dalam bidang yang saya sebutkan di atas. Nyatanya, baru berasa saat saya buktikan sendiri dalam perjalanan kali ini.

Fakta ketiga, skripsi saya mengambil topik pariwisata dan feminisme. Dua hal itu akhirnya melahirkan judul skripsi ‘Sex Tourism di Thailand, Tinjauan Perspektif Feminisme.’ Asoy, bukan? Kala itu, beberapa orang langsung refleks bertanya, “Kamu, ke Thailand, Het?” Saya hanya menggeleng malu sambil nyengir, “Enggak.” So sad but true, saya hanya studi literatur untuk skripsi saya. Siapa sangka, akhirnya, di tahun 2016, saya bisa ke Thailand dan membuktikan sendiri tata kelola pariwisata di Thailand.

Cuss!

Berangkat: Jakarta – Bangkok – Nairobi – Johannesburg

Hello Thailand

Selasa, 29 November 2016, pukul 09.40 WIB, saya berangkat dari Soekarno Hatta International Airport (Jakarta) menuju Suvharnabhumi (Bangkok) dengan maskapai Kenya Airways. Di Indonesia sendiri, Kenya Airways dioperasikan oleh Garuda Indonesia. Sehingga, dari Jakarta menuju Bangkok, saya naik pesawat Garuda Indonesia.

Mengapa Kenya Airways? Deg-degan juga karena ini kali pertama saya naik Kenya Airways. Beberapa orang berbagi cerita di blog tentang pengalaman kurang baik terbang dengan Kenya Airways saat saya browsing di internet. Tapi mau bagaimana lagi? Rute Jakarta – Johannesburg yang transit di Bangkok hanya dilayani oleh Kenya Airways. Jadi, saya bismillah saja. Ingat, ini ‘libur colongan’ jadi saya harus siap dengan kejutan manis, asem, pahitnya.

Selain itu, mengingat ini adalah perjalanan jauh dengan transit yang aduhai, saya sengaja memilih satu maskapai yang langsung bisa mengantarkan bagasi saya sampai tujuan tanpa saya harus memindahkan bagasi saya. Sebutannya, ‘check in through‘. Walau transit di beberapa negara dalam waktu yang tidak sebentar, saya tidak perlu stress memikirkan bagasi, karena bagasi akan tiba di tujuan terakhir, Johannesburg. Jadi, saya bisa jalan-jalan di masa transit dengan riang.

Halo Thailand!

halo Thailand

Masih di hari yang sama, saya tiba di Bangkok pukul 13.00 WIB (tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok). Rasanya campur-campur saat mengintip bandara Suvharnabhumi dari jendela pesawat. Excited bercampur grogi. Thailand perdana, Kenya pedana, dan Afrika perdana. Pun tidak ada yang bisa ditanya karena perbedaan bahasa, masih ada papan-papan petunjuk di setiap bangunan dan jalan yang bisa dibaca. Itulah mantra saya.

Turun dari pesawat dan berdecak kagum – membuktikan sendiri ulasan tentang bandara Suvharnabhumi di blog orang-orang, saya mengikuti rute di dalam bandara menuju bagian imigrasi. Tenang, tidak bakal kesasar karena tinggal mengikuti rombongan yang mayoritas orang asing yang akan berlibur ke Thailand. Tidak lupa, saya mampir toilet dan mengisi botol Tupperware dari keran air minum di bandara. Haus pisan, euy!

Saya baru sadar kali ini sudah masuk hitungan akhir tahun saat melihat hall imigrasi full orang asing (bule). Hubungannya apa? Ini adalah masa liburan bagi orang-orang itu. Saat di negaranya mengalami musim dingin (salju bahkan), mereka memilih untuk ‘bermigrasi sesaat’ di negara tropis, seperti Thailand. Mayoritas turis itu berwisata dengan membawa anak-anaknya yang balita. Terbayang kan, anak balita bule itu seperti apa? Lucu maksimal dan itu adalah hiburan saya satu-satunya di hall imigrasi yang antriannya sudah seperti ular putih. Panjang!

Fiuh! Akhirnya pukul 14.45, saya berhasil melalui bagian imigrasi bandara. Dengan backsound “We are the champion, my friend”, eh, itu hanya di khayalan, saya menuju mushola di bandara yang sudah banyak direview di blog orang-orang. Saya tak canggung karena bentuk dan deskripsi musholanya persis seperti di blog. Usai solat dzuhur dan ashar, saya bergegas turun menuju area stasiun BTS dan Airport Rail Link (ARL).

Mushola di Bandara Suvharnabhumi, Bangkok, Thailand.

Mushola di Bandara Suvharnabhumi, Bangkok, Thailand.

PS. Bandara Suvharnabhumi itu bagus banget. Besar, luas, dan jelas. Walau tidak menguasai bahasa lokal, papan petunjuknya besar-besar, bilingual, dan disertai gambar. Lift dan eskalatornya banyak, sehingga sangat memudahkan kita untuk mobilisasi di setiap lantai.

Rasanya sudah gelisah saja. Saya membaca lagi daftar destinasi yang harus saya kunjungi di Thailand versi saya di transit 11 jam ini. Ada 10 tempat alternatif pilihannya (see, betapa ambisiusnya saya haha). Jujur, saya ingin sekali mampir ke Grand Palace, Wat Arun, atau Wat Pho tapi apa daya jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Candi-candi itu tutup pukul 17.00. Dengan menghitung waktu tempuh dari bandara (serta mungkin ada bagian kesasarnya), jelas tidak cukup waktu.

Akhirnya, pilihan saya jatuh ke … *drum roll*
Platinum Fashion Mall!

Platinum Fashion Mall , Surga Belanja
Platinum Fashion Mall terletak di Jalan Phetchaburi. Jika naik BTS, turun di stasiun Ratchathewi, lalu jalan kaki 15 menit. Tidak jauh kok. Bahkan, kita melewati KBRI Indonesia sebelum sampai di Platinum Fashion Mall.

Harga tiket ARL di Bandara Suvharnabhumi 45 Baht menuju Stasiun Phayathai dan berganti BTS. Dari Stasiun Phayathai menuju stasiun Ratchatewi 15 Baht.

Tiket ARL yang wujudnya koin.

Tiket ARL yang wujudnya koin.

Tiket BTS

Tiket BTS

Tiket BTS ini kalau dibalik, ada informasi urutan stasiun dalam huruf Thailand dan huruf cetak.

Tiket BTS ini kalau dibalik, ada informasi urutan stasiun dalam huruf Thailand dan huruf cetak.

Platinum Fashion Mall buka dari pukul 08.00-20.00. Dari namanya, pasti sudah bisa ditebak menjual apa. Sayur! Huu.. Kalau di Indonesia, Platinum Fashion Mall itu seperti Blok M Square yang menjual baju-baju selengkap koleksi di Tanah Abang atau Thamrin City. Saya sempat berpapasan dengan orang Indonesia yang membawa tas beroda atau semacam kereta dorong (biasanya digunakan untuk mengangkat galon). Nggak mungkin kan hanya membeli satu baju dengan alat bantu seperti itu?

Baju-baju yang dijual di Platinum Fashion Mall lucu-lucu dan sangat up to date. Harga? Bervariasi. Kamu bisa menemukan yang mahal sampai murah. Baju-baju sale ada tandanya. Jadi, enggak perlu capek-capek nawar lagi karena kalau dirupiahkan sudah terjangkau. Coba deh, cek.

Sebagai seorang fashion enthusiast (ciee), saya bisa menemukan 3 baju lucu dalam waktu kurang dari 1 jam! Jeng, jeng.. Padahal kalau di Indonesia, saya bisa lama sekali untuk menentukan baju yang ingin saya beli. Bolak-balik membandingkan harga dan kualitas bahan. Ini yang saya sebut sebagai tanda bahaya. Penanda, saya enggak boleh berlama-lama di Platinum Fashion Mall kalau masih ingin sampai di Johannesburg hehe.

Pukul 18.30, saya meninggalkan Platinum Fashion Mall dan memilih untuk menikmati pemandangan street food yang mulai ramai lapaknya. Di jalan rayanya sendiri, ramai oleh kendaraan bermotor yang lalu-lalang, mirip Jakartalah. Dari semua jajanan, akhirnya, saya membeli mangga yang diberi ketan seharga 60 Baht.

Mangga ketan ini manis dan seger banget. Enak!

Mangga ketan ini manis dan seger banget. Enak!

Dengan rute BTS yang sama, saya akhirnya kembali lagi ke bandara pada pukul 20.00 WIB. Saya mampir untuk solat magrib dan isya, lalu makan dan akhirnya, larut dalam antrian di imigrasi untuk penerbangan selanjutnya menuju Nairobi (Kenya). Walau penerbangan berikutnya pukul 00.00, saya ingat petugas bandara yang berpesan untuk tidak mepet sampai di bandara. Ternyata betul, pukul 22.00, dari check in sampai menuju imigrasi sudah dipenuhi orang-orang. Saya bersyukur sudah bisa sampai di bandaram walau di sisi lain, 11 jam di Thailand kali ini benar-benar kode untuk saya datang lagi.

Oh ya, di Thailand, saya sudah tidak akan naik pesawat Garuda, tapi pesawat Kenya Airways. So, sampai jumpa di Nairobi dan Johannesburg di cerita selanjutnya!

goodbye07gif-107704

Baca cerita sebelumnya:
Pengalaman Mengajukan Visa Afrika Selatan

Akan ada hari di mana mimpimu akan menjadi dekat. Hari apakah itu?

Saya? Bagi saya, hari itu kemarin.

Dalam satu hari, tiba-tiba ada tiga kejadian yang menggelitiki mimpi saya untuk bangun dari nina bobonya di penghujung tahun. Ayo-ayo!

Kejadian Satu
Mantan bos di kantor sebelumnya, tiba-tiba menelepon. Seperti biasa, sapaan hangat dan gaya ‘ngakrab’-nya itu bisa membuat cair pembicaraan kami di telepon dalam hitungan detik. Padahal sudah lama sekali tidak ketemu. Valid kan beliau jadi bos? Sosok yang hangat untuk mengguyubkan sebuah hubungan, termasuk dengan saya, bawahannya versi zaman dahulu kala.

Tak hanya sampai di situ saja, satu hal lagi yang membuat kaget adalah saat beliau menutup pembicaraan kami dengan, “Jangan lupa, lho Het?”
Apa, Pak?” tanya saya polos karena saya memang tak pernah menjanjikan apa-apa sepanjang pertemuan lewat suara ini.
Bikin sekolah, kan? Hahahaha
Deg.

Ya, saya tak pernah menutup-nutupi mimpi saya dengan orang yang mempunyai kutub positif di sekitar saya. Terlebih orang yang mempunyai kemampuan untuk melihat potensi saya dan bersedia menjadi supporter bukan hater. Si bapak bos di atas, misalnya. Beliau tahu saya punya cita-cita mempunyai sekolah suatu saat nanti dan tetiba diingatkan dengan cara seperti kemarin? Hmm, rasanya …

Kejadian Dua
Masih di hari yang sama tiba-tiba seorang teman yang paham betul kalau saya sebenarnya mempunyai jiwa kesasar petualang mengirimkan chat Whhatsapp, “Mana fotomu di Thailand?:)”

Thailand? Ya, Thailand adalah liburan ‘colongan’ saat perjalanan ke Afrika Selatan kemarin (saya janji akan menuliskan cerita perjalanan ini di posting berikutnya, ya). Dia menagih foto karena saya terlanjur berjanji untuk foto di Wat Arun, salah satu destinasi wisata. Nyatanya, saya tidak jadi ke sana karena waktu saya habis di imigrasi bandara. Jadilah, saya ganti dengan mengirimkan foto saat kesasar di stasiun.

Nggak enak ya ternyata jalan-jalan sendiri. Aku sempat salah stasiun, jadi muter gitu.”
Ahaha. Nggak apa-apalah. Yang penting 4 benua udah checked. Next tinggal Ausie. Hety the Exploler.”

Deg. Saya tak menyangka teman saya yang satu ini menghitung kepergian saya selama ini. Ya, memang tinggal satu benua lagi, Australia, yang menurut road map hidup saya akan menjadi negara impian untuk melanjutkan studi S2. Bisa ditebak, percakapan saya selanjutnya, dipenuhi tulisan ‘Amin’.

Kejadian Tiga
Malam kemarin, saya memenuhi undangan untuk hadir dalam acara temu alumni penerima program Australia (mereka menyebutnya dengan tagar #OZAlum di Twitter) dengan Hon Stevem Ciobo, menteri perdagangan, investasi, dan pariwisata Australia. Acara itu diadakan di rumah dinas Duta Besar Australia, Paul Grigson, di kawasan Menteng. Walau tidak lolos seleksi program, pihak Kedubes Australia tetap menganggap kami (yang tidak lolos seleksi) sebagai alumni.

Mimpi ke Australianya belum kesampaian, jadi main ke rumah dinas duta besarnya dulu.

Mimpi ke Australianya belum kesampaian, jadi main ke rumah dinas duta besarnya dulu.

Saya agak grogi juga hadir malam itu tapi mau bagaimana lagi. Motivasi saya datang ke acara kemarin adalah mengetahui siapa saja yang lolos seleksi dan belajar dari mereka. Akhirnya, setelah mingle ke sana ke mari, saya temukan juga orang-orang yang lolos program dan berangkat ke Australia untuk mendapatkan training selama 2 minggu. Bayangkan, mereka training di kampus impian saya untuk melanjutkan S2.

Jika pada kalimat selanjutnya kamu tebak saya akan menuliskan serentetan kalimat iri hati dan ambisius, salah besar. Entah kenapa, mendengar cerita ‘kebahagiaan’ orang-orang yang lolos seleksi itu saja, justru membuat hati saya adem.

Ya Tuhan, saya tertular virus! Malam itu, saya bahagia melihat orang yang bahagia. Walau bukan saya yang terpilih tapi saya tetap bahagia bisa berdiri di antara mereka. Semakin antusias mereka berbagi cerita, semakin kencang saya melafalkan dalam hati, merengek pada Tuhan, “Tuhan-Tuhan, mimpi saya enggak salah, kan?”

Memfasilitasi Forum Keberlanjutan Kapuas Hulu.

Memfasilitasi Forum Keberlanjutan Kapuas Hulu.

IMG_4107

Saya selalu bingung saat ditanya oleh sepupu-sepupu kecil apa pekerjaan saya selama ini. Bagi mereka, saya selalu tampak sibuk, ke sana-ke mari, dan ada saja yang saya kerjakan. Boleh percaya atau tidak, rasa penasaran mereka baru terhenti saat saya membawa oleh-oleh dari suatu tempat, pun hanya sekadar cerita.

Likes’ di akun Instagram dari sepupu-sepupu kecil juga tiada henti saat saya mengunggah foto di mana saya berada saat itu. Saat bertemu, mereka selalu bertanya riang tentang apa yang saya lakukan, bagaimana keadaan daerah di sana, bagaimana rasa makanannya, pokoknya berbagai macam pertanyaan. Mereka antusias untuk mendengarkan cerita saya.

Jadi, apa pekerjaan saya? Pendongeng handal untuk para sepupu kecil?

Walau bidang pekerjaan saya tidak masuk dalam kategori ‘The Most In-Demand Jobs’ versi situs http://www.forbes.com, saya mencintai pekerjaan saya. Ya, sudah hampir empat tahun ini, saya terjun di bidang ‘community development’ (pemberdayaan masyarakat) melalui sebuah organisasi non-profit atau dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan sebutan NGO (Non-Govermental Organization, dalam bahasa Indonesia diartikan juga sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat).

Bidangnya memang hanya satu, yaitu ‘community development’, tapi percaya atau tidak, dalam empat tahun itu, saya sudah mencicipi berbagai profesi di dalamnya. Sebut saja, mulai dari guru di daerah terpencil sekaligus fasilitator masyarakat (education improvement facilitator), staf personalia (Human Resources Officer) yang menangani rekrutmen staf di NGO, staf kemitraan (Partner Engagement Officer) yang mencari dana dan kemitraan untuk suatu program, sampai sekarang yang terakhir saya jalani adalah menjadi staf program dan komunikasi (Program and Communication Officer) di sebuah NGO. How switchable am I, right?

Dengan berbagai profesi semacam itu, jangan ditebak jika saya hanya duduk di belakang meja di sebuah bangunan yang disebut kantor. Tidak! Pekerjaan yang saya tekuni selalu membawa saya untuk bertemu orang-orang baru sekaligus pergi ke tempat-tempat baru. Mulai dari site visit (kunjungan ke daerah), asesmen daerah, maupun mengikuti konferensi. Pokoknya, pas sekali dengan saya, Si Ekstrovert yang suka jalan-jalan dan menulis blog. Walau judulnya bekerja, tetap saja, selalu ada sisi lain yang bisa saya ceritakan di blog, seperti pengalaman bertemu orang baru atau berada di suatu daerah yang baru. Asyik, kan?

Jadi, seperti kata orang, menyenenangkan saat kita bisa bekerja sesuai dengan apa yang kita sukai. Hobi yang dibayar, katanya.

Jodoh Positif

Dengan pekerjaan dan hobi yang hampir menyatu semacam itu, maka bertemu perangkat teknologi bernama Acer Switch Alpha 12 seperti bertemu jodoh. Banyak hal positif yang bisa saya lakukan dengan Acer Switch Alpha 12. Bahkan, membuat saya lebih produktif.

Bayangkan saja, saat saya bertemu dengan sepupu-sepupu kecil yang menagih cerita perjalanan saya, saya bisa dengan mudah bercerita sambil menunjukkan foto-foto melalui Acer Switch Alpha 12. Dengan desain yang ramping, ringan, dan fleksibel, saya bisa mengubahnya menjadi sebuah tablet yang ‘handy’ (mudah untuk dipegang) karena ketebalannya hanya 9,5 mm dan berat 900 gram.

acer-switch-alpha-12_2

Selain itu, dengan layar 12 inci berteknologi IPS (In Plane Switching), QHD (Quarter High Definition), multi-touch, serta resolusi 1.260×1.440 piksel menjadikan area pandang lebih luas. Tentu bercerita dengan visualisasi foto akan menarik dan melengkapi imajinasi para sepupu kecil saya.

Lalu bagaimana dengan bekerja saat di lapangan?

Acer Switch Alpha 12 rupanya juga menjawab kemalasan saya selama ini. Saya sering malas membawa laptop kalau sedang berada di luar karena berat untuk dibawa. Maklum, tempat meeting selalu berpindah-pindah dan tuntutan berkerja tidak selalu di belakang meja, seperti dinas di daerah. Maka dengan Acer Switch Alpha 12 ini, saya bisa membawanya ke mana-mana. Acer Switch Alpha 12 terdiri dari tablet, kickstand, dan keyboard docking. Total keseluruhan hanya 1,25 kg.

acer-switch-alpha-12_1

Jika sedang bekerja di lapangan bersama masyarakat atau berada di daerah yang minim listrik, saya tidak perlu resah jika tidak menemukan colokan listrik. Daya tahan Acer Switch Alpha 12 bisa mencapai 8 jam karena karena dilengkapi baterai berkapasitas 4.870mAh.

Menjelaskan sebuah program kepada klien atau masyarakat juga lebih mudah dengan ilustrasi yang saya buat dengan stylus pen. Stylus pen atau pena digital ini bisa digunakan untuk mencoret-coret layar. Dengan sensitivitas sampai 256 tingkat tekanan, pengalaman menulis digital menjadi lebih rapi dan mudah di layar Acer Switch Alpha 12.

acer-switch-alpha-12_3

Ups, jujur, biasanya karena keasyikan bekerja dan dilanjutkan menulis cerita di blog, laptop harus menyala terus-menerus dan panas (overheating). Eh, tapi tidak dengan Acer Switch Alpha 12. Acer Switch Alpha 12 mengkombinasikan prosesor Intel Core i dan sistem pendingin Liquid Loop, yaitu pendingin yang bisa menstabilkan suhu mesin laptop tanpa kipas. Karena bentuknya berupa cairan pendingin, tidak ada suara bising dari mesin laptop (tidak ada ventilasi di sisi pinggiran laptop). Canggih, ya?

Tidak cuma itu, Acer Switch Alpha 12 juga mempunyai Acer BlueLight Shield, yaitu sebuah teknologi yang mampu melindungi mata dari emisi cahaya biru dari layar penyebab mata lelah dan kering. Jadi, saya bisa tenang dan riang berlama-lama di depan komputer.

Jadi, percaya kan Acer Switch Alpha 12 jodoh saya, eh jodoh positif seorang NGO Officer?

acer-switchable-me-story-competition

Bulan September lalu, saya dinyatakan mendapatkan Travel Grant untuk mengikuti Global Summit on Community Philanthropy di Johannesburg pada 1-2 Desember 2016. Kabar via email itu membuat saya langsung mengetik kata ‘Johannesburg’ di Google dengan ekspresi masih tak percaya. Johannesburg!!

Johannesburg adalah salah satu kota di Afrika Selatan. Itu ‘secuil’ info yang saya tahu saat mengirimkan aplikasi Travel Grant ke penyelenggara tapi bagai mantra motivasi. Soalnya, hanya dengan kalimat itu saja bisa membuat saya semangat ’45 untuk menjawab lima pertanyaan model esai online yang disyaratkan.

I like to move it, move it .. I like to move it, move it .. I like to move it, move it .. You like to move it, move it!!” Suara King Julian di film Madagascar yang super kocak menggema di kepala saya.

Hei nona, Johannesburg! Bukan Madagascar!

Setelah puas melihat peta Johannesburg beberapa hari (see, betapa noraknya saya) dan mendapat email dari penyelenggara terkait hal-hal yang harus disiapkan, saya harus segera mengurus Visa ke Kedutaan Besar (Kedubes) Afrika Selatan di Indonesia (Jakarta). Maka, dari peta Johannesburg, kini beralih ke ‘Visa Afrika Selatan’ di Google. Sayangnya, tidak banyak info yang saya dapatkan dari blog – pengalaman orang, lebih banyak biro wisata yang menawarkan jasa pembuatan Visa. Jadi, saya putuskan untuk membuka langsung website kedubes Afrika Selatan di Indonesia.

Berikut dokumen yang saya siapkan kemarin. Sebenarnya di website juga sudah ada, lho! dan lengkap! Daftar di bawah ini saya sesuaikan dengan kebutuhan saya. Siapa tahu kamu membutuhkan referensi.
1. Formulir Permohonan Visa B1-84 (bisa diunduh di website)
2. Foto 4×6 berwarna dan berlatar putih 2 lembar
3. Flight itinerary atau tiket perjalanan pulang – pergi
4. Hotel confirmation atau bukti pemesanan hotel
5. Surat keterangan bekerja dalam bahasa Inggris
6. Paspor dan fotokopi pasport 1 lembar
7. Rekening koran 3 bulan terakhir (bisa minta di bank)
8. Undangan dari penyelenggara terkait acara bahwa kamu diundang ke Johannesburg
9. Bukti saya adalah penerima Travel Grant dari penyelenggara

Setelah dokumen terkumpul, pada hari kedua di bulan November, saya pun datang ke kantor Kedubes Afrika Selatan di Indonesia di Wisma GKBI. Sebenarnya, pelayanan Visa baru dibuka pukul 08.30 WIB, tapi saya sudah sampai di sana pukul 07.30 WIB. ‘Ambisius’ ya? Hehe. Maklum, saya tipe orang yang selalu memilih datang pagi untuk mengurus dokumen resmi yang berbau kedinasan/keprotokoleran. Misalnya, SIM, BPJS, SKCK, paspor, dan lain-lain. Selain itu, ini adalah antisipasi kalau-kalau mengantri seperti saat mengajukan Visa ke Belanda dan Korea beberapa waktu lalu. Kamu benar-benar akan melihat orang yang berjuang datang pagi untuk mendapatkan layanan yang berbatas jam. Jadilah (bisa ditebak cerita berikutnya) saat saya menuju lantai 7, saya ditolak mentah-mentah oleh Bapak Satpam yang berjaga dan diminta menunggu di lobi lantai dasar. “Fine! Haha, namanya juga usaha,” kata saya dalam hati sambil balik kanan, bubar jalan.

Saya pun turun lagi ke lobi dan duduk menjadi anak manis di salah satu sofa empuk. Tidak banyak pemandangan menarik pagi itu selain lalu-lalang orang-orang yang berdatangan kerja. Setelah bosan bermain HP, saya mengecek lagi dokumen, terutama formulir, kalau-kalau ada yang belum saya isi, serta memastikan kembali senyuman saya di foto 3×4 sudah pas.

Note: Salah satu keuntungan datang pagi untuk mengajukan Visa seperti ini adalah kamu bisa mengecek kembali dokumen-dokumen yang kamu bawa, termasuk membaca lagi formulir yang sudah kamu isi. Sekadar, menyempurnakan huruf ‘i’ yang belum ada titiknya hehe …

Pukul 08.25 WIB, saya putuskan untuk naik lift (lagi) ke lantai 7. Estimasi saya, 5 menit cukup untuk berjalan dari sofa ke lift, proses lift naik, dan berjalan dari lift ke kantor Kedubes Afrika Selatan. Sayangnya, tidak begitu. Tiba di kantor Kedubes Afrika Selatan masih belum pukul 08.30 WIB juga, masih kurang sekian menit. Bapak Satpam yang sama pun menegur saya (lagi), “Belum buka, Mbak!”. Saya pun menunggu di depan pintu. Berdiri tegak. Keki.

Doo be doo be doo … saya seperti anak hilang. Kikuk. Mau mengajak berbicara satpam, sungkan juga karena Si Bapak begitu jaim dan tegas. Untungnya frozen moment itu hanya sebentar. Pukul 08.30 WIB versi jam tangan Bapak Satpam dan jam dinding kantor kedubes, saya pun dipersilakan masuk. “Silakan masuk, Mbak. Silakan langsung mengisi buku tamu di sana, pukul 08.32,” kata Si Bapak Satpam.

Saya pun menulis nama di map folder besar berisi kertas-kertas bergaris.
2 November 2016. 08.32 (sesuai instruksi Bapak Satpam) Hety A. Nurcahyarini. Filantropi Indonesia. No.HP xxx. Mengurus Visa. Tanda tangan.

Saya sempat kaget setelah menunduk mengisi map folder. Ternyata ada laki-laki berperawakan besar yang ada di dalam bilik. Karena tersekat kaca, saya tak bisa memahami jelas suara laki-laki berdarah Arab/Timur Tengah itu, seperti orang kumur-kumur saja. Lalu, di angkatnya map folder yang tadi saya isi, didekatkan ke kedua matanya, dan senyumnya mengembang.

Si Mister ini senang sekali melihat tulisan saya. Katanya, dia belum pernah melihat tulisan tangan yang mirip ‘ketikan komputer’. Setelah puas, dia pun meminta saya bergeser ke bilik sebelah dan duduk persis di kursi yang ada di depan bilik. Hmm, ramah juga orangnya. Saya pun duduk di kursi (mirip kursi tamu yang ada di rumah) dan memandang sekeliling ruangan. Tidak luas dan tidak sempit, cukup saja. Suasananya homy sekali dengan berbagai hiasan ala Afrika Selatan menempel di dinding dan tertata rapi di rak. Beda sekali dengan ruangan tempat mengurus Visa di kantor Kedubes Belanda dan Korea yang cenderung lebih tersekat-sekat dan official sekali. Mungkin karena tidak banyak juga permohonan Visa ke Afrika Selatan sehingga penataan tempatnya dibuat seperti itu.

Tak lama, muncullah ibu-ibu berwajah Eropa yang meminta semua dokumen yang saya bawa. Ini salah satu bagian dalam mengajukan Visa yang membuat saya merasa jiper. Deg-degan. Si Ibu agak menurunkan dagunya dengan kacamata melorot sampai di hidungnya. Dipandanginya saya, tepat di kedua mata saya. Saya pun hanya menganggukkan kepala dan tersenyum dipandangi seperti itu. Tak berdaya.

Sepuluh menit berlalu, setelah pengecekan dokumen selesai, Si Ibu meminta saya melakukan pembayaran Rp 650.000,00 dan membuatkan saya kuitansi (bukti bayar). Saya pun dipersilakan pulang dan kembali lagi dalam 5 sampai 15 hari.

15 hari kemudian …

Kali ini, saya datang pukul 10.00 WIB ke Wisma GKBI. Kali ini bertemu dengan satpam yang berbeda dari saat saya mengajukan permohonan Visa kemarin. Si Bapak Satpam mempersilakan saya masuk dan mengisi map folder besar berisi kertas-kertas bergaris. Wow! Lagi-lagi saya orang nomor satu di daftar.

Bergeser ke bilik di sampingnya, saya bertemu dengan seorang ibu berdarah Indonesia yang langsung menyambut saya dengan, “Oh, pengajuan yang sudah lama itu, ya?” Tebakan saya, tidak banyak orang yang mengajukan permohonan Visa ke Afrika Selatan. Jadi, bisa jadi para officer kedutaan ini hafal dokumen-dokumen pengajuan Visa, termasuk Visa yang tak kunjung diambil empunya.

Saya mengepaskan waktu 15 hari, Bu.”
Oh, itu kan jangka waktunya, 5 sampai 15 hari. 5 hari pun sudah jadi.”
Oh, terima kasih ya, Bu. Boleh saya ambil peta Johannesburg ini?”
Silakan.”
Mbak, jangan lupa kembali, ya. Itu hanya Visa kunjungan.”
Siap, Bu.”

Demikianlah seri ‘petualangan’ mengajukan Visa Afrika Selatan, akhirnya putri dan pangeran hidup bahagia selama-lamanya. Dengan persyaratan yang jelas, pelayanan yang mudah, ada baiknya kamu mengurus Visa Afrika Selatan sendiri tanpa ‘dibimbing’ agen wisata. Itung-itung pemanasan merasakan ambience Afrika Selatan sebelum kamu berkunjung ke negaranya.

Johannesburg, I am coming!

Sa Choom datang kembali ke Jakarta dalam rangkaian Jakarta Performing Arts & Tourism Festival yang diselenggarakan pada 24 – 26 November 2016. (Dokumentasi: KTO Jakarta)

Sa Choom datang kembali ke Jakarta dalam rangkaian Jakarta Performing Arts & Tourism Festival yang diselenggarakan pada 24 – 26 November 2016. (Dokumentasi: KTO Jakarta)

Hari Kamis (24/11) kemarin, saya mendapatkan undangan untuk pertunjukkan Sa Choom di Ice Palace Lotte Shopping Avenue sebagai bagian dari Wow Korea Supporters. Ini pengalaman pertama saya melihat pertunjukkan asal Korea ini, sekaligus pengalaman pertama masuk ke Ice Palace, Lotte Shopping Avenue. Where have u been, Het? Saya surprise di Lantai 4 ada venue untuk pertunjukkan.

Sa Choom atau kependekan dari Saranghamyeon Choom chuora (dalam bahasa Indonesia artinya ‘Jika kamu cinta, menarilah!’) merupakan salah satu pertunjukan tari asal Korea yang menyuguhkan pertunjukan menghibur dengan kemasan cerita yang unik. Bayangkan ya, dalam satu kali pertunjukkan dan satu bingkai cerita, Sa Choom memadukan hip hop, jazz, tekno, break dance, pop dance, sampai gaya tarian kontemporer. Oh ya, Sachoom merupakan pertunjukkan non-verbal. Jadi, semua ditampilkan dalam bentuk visual/tarian, tanpa dialog panjang lebar. Full music!

Ada 6 bagian dalam sebuah pertunjukkan Sa Choom:
1. Life the body
2. Lantern dance
3. Sensuality and temptation
4. Hero
5. Contest
6. Let’s dance – Ini adalah bagian favorit saya karena pengunjung diajak berdiri dan menari bersama =D

Bagi saya yang baru pertama kali menonton, pertunjukkan kemarin sangat menghibur. Unforgetable. Sampai-sampai, saat menulis ini, kepala saya masih bergoyang mengikuti lagu-lagu tadi malam. Sebagai penonton, kita benar-benar dibuat untuk mengikuti hentakan musik serta bersorak “Aaaaaaa, Waaaaa, Woooo …” sepanjang pertunjukkan. Penonton juga dibebaskan untuk ikut menari, memfoto, dan ikut bersuara. Justru, kalau penonton diam saja, tak beraksi apa pun, para pemain Sa Choom turun panggung dan beraksi lucu.

Sebagai penutup pertunjukkan yang manis, semua penonton diajak menari bersama mengikuti koreografi yang sudah disiapkan. Para pemain Sa Choom sangat ramah dan interaktif dengan penonton. Tak lupa, mereka juga menyediakan sesi foto bersama di depan venue.

Sa Choom, we love u!

3 fakta Sa Choom yang harus kamu tahu:
– Slogan Sa Choom adalah ‘Dance is the most honest language’.
– Ternyata, Sa Choom merupakan pertunjukan budaya khas Korea yang paling banyak dicari oleh penonton asing, lho!
– Sachoom menjadi pertunjukan penting dalam berbagai acara besar di dunia termasuk di Festival Fringe Edinburgh di Scotlandia. Keren!

Sa Choom online:
http://www.sachoom.com
http://www.facebook.com/sachoom
http://www.twitter.com/sachoom

Sa Choom di Korea:
Sa Choom Theater, Cine Core 4 F, 386 Samil-daero, Jongno-gu, Seoul, Korea

Sumber: Press release Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta, 25/11/2016
Tentang KTO Jakarta: http://www.visitkorea.or.id/

Catatan kecil hari Minggu yang dibuat di hari Senin.

Ternyata, dari kosan di daerah Salemba lalu lurus ke utara, juga dari kantor di daerah Gunung Sahari, maka akan berjumpa dengan kawasan Jakarta Utara. Beberapa teman menyebutnya, kawasan ‘Transformers’. Kawasan di mana sejauh mata memandang adalah truk dengan muatan yang serba besar dan berat. Serta, bahwa Ancol dan Dufan itu ada di sana, seperti hadiah. Tuhan Maha Adil, kan?

Ancol belok kiri.

Nyatanya, Gojek yang saya naiki melaju lurus. Minggu pagi kali ini, bukan Ancol tujuannya, melainkan Stasiun Tanjung Priuk. Andai bisa bangun lebih pagi, maka busway pilihannya. Sungguh hiburan bisa melihat sesuatu yang sehari-hari tidak dilihat. Ya, truk dengan muatan serba besar, kapal-kapal yang bersandar, dan deretan peti kemas yang tertata mirip kotak sepatu raksasa.

Cilincing, katanya. Saya memang belum sekalipun pernah ke sana. Dari Stasiun Tanjung Priuk (yang ternyata bersebelahan dengan Terminal Tanjung Priuk), bisa naik angkot M 14, begitu instruksi sederhananya. Sedikit tenang karena di Whatsapp Group sudah ada yang berbaik hati share location. Jadi, tinggal dicari saja. Lampu insting petualang ala Dora langsung menyala. Bip bip ..

Nyatanya, share location di Google Map itu hanyalah seperti mantra. Tak selamanya manjur untuk menemukan suatu lokasi. Apalagi di gang-gang dengan batas antar rumah tidak ada satu centi. Mepet!

(dokumentasi foto: Sun)

(dokumentasi foto: Sun)

Tapi inilah sensasi yang saya cari. Jujur. Melihat potret Jakarta lebih dekat setelah sekian hari terjejali oleh berita-berita ala ibukota yang seolah surga. Anak-anak kecil yang berlarian, hilir mudik tukang jualan, ibu-ibu yang sedemikian rupa dengan apa saja yang dikerjakannya, belum lagi motor-motor yang lalu lalang.

Peluh menetes seiring langkah kaki menyusuri gang yang tak kunjung sesuai tujuan. Matahari benar-benar melaksanakan tugasnya dengan baik siang itu. Cerah. Saya bertanya ke sana-ke mari alamat saya akan bertemu dengan malaikat-malaikat kecil ini. Saya baru sadar, di tengah padatnya rumah, orang-orang menjadi benar-benar hafal komunalnya berdasar RT/RW saat ditanya.

Sana, Mbak. Sini. Lurus saja. Lewat saja. Kejauhan. Lewat jembatan. Ujung. Ada gapura. Seberang.

Cilincing benar-benar potret Jakarta ‘sebelah sini’. Saya mencoba memahami. Sungguh, saya tidak sedang mencoba mengkhawatirkan. Toh, jika mereka merasa baik-baik, mengapa kita menjadi terlalu memikirkan? Kita sedang tidak menerapkan standar kebahagiaan yang sama kan?

Ini memang catatan kecil di hari Minggu. Catatan setelah bertemu, lalu keesokan harinya tidak bertemu. Mengganggu di kepala 1×24 jam memang, sehingga harus ‘dituangkan’. Lagi-lagi, ini catatan hari Minggu yang dibuat di hari Senin.

(dokumentasi foto: Sun)

(dokumentasi foto: Sun)

*
Sebuah catatan perjalanan pertama, pemetaan pada sebuah komunitas penerima beasiswa yang sekian tahun diberikan. Anak-anak terus tumbuh dengan beragam motivasi. Sekolah tetap menjadi idola tetapi bagai medan perjuangan. Lingkungan yang akhirnya memberi pilihan.

Cerita sebelumnya, hujan yang tak kunjung reda …

Setelah berapa lama (saya tak tahu jam berapa, sepertinya definisi waktu di hutan hanya terang dan gelap, cerah dan hujan). Para pendaki mulai membubarkan diri dari ‘tempat bernaung bersama’. Ada yang melanjutkan naik, ada yang turun. Hujan memang tidak sama sekali berhenti, tapi badai mereda. Sisanya, rintik. Lumayan untuk melanjutkan perjalanan walau dinginnya makin tak karuan.

Sekarang saya dengan Noel dan Melisa. Teman-teman yang lain, seperti Luluk, Ajeng, Puput, dan Ridwan berjalan dulu agar bisa cepat sampai dan mendirikan tenda di Pos 3. Sedangkan, Mas Teguh dan Mbak Rully masih di belakang. Lagi-lagi, kami memang terpisah, masih di jalan yang sama, hanya jauh berjarak.

Masih tertatih-tatih tak ada beda, saya membelah jalan setapak dengan headlamp. Ini baru pos berapa? Saya bukannya merindu kamar kosan ingin pulang, tapi dingin. Mental breakdown-kah ini? Sama seperti nasehat Puput dan Noel, berulang kali mengingatkan untuk tetap bergerak, satu-satunya cara melawan dingin.

Note: please pakai jaket anti air dan angin yang bisa menyelamatkan tubuhmu dari dingin! Sebaiknya memakai itu baru pakai jas hujanmu.

Jalan, naik, turun, duduk, nanjak, belok, jalan, naik, turun, duduk, nanjak, begitu seterusnya yang saya ingat. Badan ini seperti sudah autopilot.

Oh ya, saya lupa cerita. Malam itu adalah malam satu Suro. Banyak sekali orang-orang (baik orang berpakaian pendaki seperti kami atau masyarakat umum) naik turun. Saya kagum dengan bapak/ibu yang sudah berumur, yang tanpa peralatan naik gunung – bermodal tas plastik berisi makanan dan air mineral, bisa lincah menaiki dan menuruni medan.

Kami saling bertegur sapa, menyemangati walau tak kenal nama. Macam-macam bahasanya, dari bahasa Indonesia sampai bahasa Jawa. Sempat ada yang melihat saya yang kelelahan, seorang Ibu menyemangati saya, “Ayo Mbak, sebentar lagi pos 3. Itu hanya di depan setelah belokan.”

Noel mungkin tak tega melihat saya yang mulai ‘nampak’ kelelahan dan mulai meracau capek mengantuk. Saya mencoba melawan. Saya mengutuki diri saya sendiri yang mulai manja dan mulai refleksi apa tujuan saya naik gunung kalau hanya untuk menyusahkan orang lain. Akhirnya, dengan strong, Noel membawakan carier saya! Duh, malunya!

Setelah beberapa menit berjalan berjalan, mulai terdengar suara-suara berisik dalam kegelapan. Ada yang berkerumun. Ternyata, Si Ibu tidak bohong. Teman-teman yang sudah duluan sampai, nampak mulai mendirikan tenda. Ya, dengan cuaca seperti ini, sepertinya tidak mungkin kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Lebih baik beristirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Hal pertama yang saya lakukan adalah berganti baju dan ‘memerdekakan’ kaki dari sepatu dan kaos kaki basah. Lega! Badan mulai menghangat dengan pakaian yang kering.

Malam itu, kami mulai (bisa) bercanda dan merumuskan rencana untuk keesokan harinya. Bangun jam 5 pagilah, masak-memasaklah, sampai apa yang akan dilakukan di puncak (jajan pecel Mbok Yem yang terkenal itu tuh).

Keesokan harinya. Doo be doo be doo… . Nyatanya, tidak ada yang bergeming dari tenda di jam 05.00 pagi. Semuanya khusyuk di tenda masing-masing. Mengejar sunrise? Hmm, tak ada yang peduli sepertinya. Pukul 06.00, baru ada tanda-tanda kehidupan. Kompor mulai dihidupan, ‘panci-pancian’ mulai diisi air, bahan makanan dan sayuran disatukan. Di antara kehebohan kami memasak, orang-orang berlalu lalang. Nampaknya mereka akan terus melaju sehingga bisa turun dari puncak sebelum siang.

Kami baru siap sekitar pukul 10.00. Di saat pendaki lain yang naik subuh tadi turun, kami baru akan naik ke puncak. Carier kami tinggal di tenda bersama Mbak Rully yang memutuskan untuk beristirahat karena tidak enak badan. Saya baru sadar tempat kami bermalam adalah pos 3, berarti masih akan ada dua pos lagi yang harus kami lalui untuk sampai di puncak. Medannya masih sama, berbatu dan menanjak. Oke, kami siap.

Halo kamu, Adidas Biru, Si Sepatu Lari.  Sepatu yang bikin pengalaman naik gunung pertama jadi manis, asem, asin kepeleset-peleset. (Dokumentasi: Mbak Ruli).

Halo kamu, Adidas Biru, Si Sepatu Lari. Sepatu yang bikin pengalaman naik gunung pertama jadi manis, asem, asin kepeleset-peleset. (Dokumentasi: Mbak Ruli).

Note: jangan pakai sepatu lari buat naik gunung!

Singkat cerita, pos 4, pos 5 (baca: puncak), plus jajan pecel di warung Mbok Yem berhasil kami lalui. Kami tidak berlama-lama, pokoknya asal foto jepret, jepret, jepret, sudah. Targetnya, kami sudah harus sampai Stasiun Madiun pukul 22.00 WIB untuk kembali ke Jakarta. Nyatanya, saat perjalanan turun gunung, hujan kembali menerjang kami. Semula hanya gerimis lalu menderas. Dengan rute jalan yang menurun dan berbatu, saya tertatih-tatih karena terpeleset di antara bebatuan dan tanah yang becek. Dalam hati, saya hanya berjanji pada diri saya sendiri untuk menyelesaikan semua ini. Cobaan hujan badai saat naik kemarin membuat saya lebih struggling menuruni jalanan arah pulang.

Puncak bersama kalian, PM Menggunung! (Gunung Lawu, Hargo Dumilah 3265 mdpl) (Dokumentasi: Melisa)

Puncak bersama kalian, PM Menggunung! (Gunung Lawu, Hargo Dumilah 3265 mdpl) (Dokumentasi: Melisa)

Teman seperjalanan yang menemani naik Gunung Lawu pertama. Thank you! (Dokumentasi: Melisa)

Teman seperjalanan yang menemani naik Gunung Lawu pertama. Thank you! (Dokumentasi: Melisa)

Tetiba saya ini tertawa sendiri sampai di paragraf ini. Bukan berarti saya menggampangkan, lho. Saya bisa menulis seperti ini karena kemarin saya sudah mengalaminya sendiri. Kalau kemarin pas saya mendaki, yaa … semua bagai birthday surprise bagi saya. Ya rutenya, ya jalanannya, ya cuacanya … semua deh!

Note: Naik gunung benar-benar membuat kita tahu limit kita.

Noel, saksi yang menemani saya jatuh bangun, sempat bertanya, “Kapok nggak, Het, naik gunung? Awas ketagihan, lho!” Saya hanya tertawa mengiyakan. Nggak kapok, seruuuu! Sambil menatap ke bawah, melihat sepatu lari saya yang coreng-moreng terkena gesekan batu. Mau naik gunung lagi tapi nggak lagi-lagi deh pakai sepatu lari. Terima kasih Gunung Lawu jadi pengalaman pertama naik gunung.

Ini quote yang pas banget untuk menggambarkan pengalaman pertama naik gunung saya kemarin.

Ini quote yang pas banget untuk menggambarkan pengalaman pertama naik gunung saya kemarin.

Cerita akhirnya Hety naik gunung berakhir di sini 🙂

Baca cerita sebelumnya:
Bagian 1 cerita ini: Kenalan PM Menggunung
Bagian 2 cerita ini: Pendaki Pemula Berbagi Cerita
Bagian 3 cerita ini: Pengalaman Pertama Naik Gunung Lawu (1)

%d bloggers like this: