[Dibuang Sayang] Who Am I?

Edisi #DibuangSayang

Ditulis tanggal 14 Januari 2006 dengan font Papyrus 12. Ditemukan di folder data (D:) tanggal 17 Juli 2015. Setelah saya ingat-ingat, tulisan ini untuk lomba menulis sabun jerawat (kala itu). Terlihat, sejak SMA, betapa randomnya saya haha.

Happy banget zaman SMA. Hayoh, tebak saya yang mana? Paling kiri yang bawa bunga ungu di kepala hehe.

Happy banget zaman SMA. Hayoh, tebak saya yang mana? Paling kiri yang bawa bunga ungu di kepala hehe.

* * *

Namaku Hety, panggil saja begitu. Umurku sekarang 17 tahun. Selama 17 tahun itu, banyak banget yang datang dan pergi. Manis, asem, pahit, sedih, gembira. Wah, pokoknya aku enggak menyesal. Aku justru bersyukur banget dan aku percaya bahwa tiap orang tuh udah dikasih jalan sama kehidupannya masing- masing. Sama satu lagi, kita semua tuh harus berusaha buat mengejar impian atau cita-cita yang kita inginkan. Enggak ada yang jatuh dari langit cuma-cuma, semuanya harus disertai doa dan usaha.

Tanggal 17 Agustus 2004 kemarin, aku menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) kota Yogyakarta. Walaupun aku enggak berhasil lolos seleksi Paskibraka Nasional buat upacara di Jakarta, aku tetep bangga kok. Aku seneng karena diberi kesempatan buat megang dan melihat langsung bendera merah putih pertama yang dikibarin dulu pas Yogyakarta menjadi ibukota Republik Indonesia. Jadi, tahun 2004 kemarin, aku dan teman-teman Paskibraka mengibarkan bendera kedua yang dikirim dari Jakarta. Sejak menjadi Paskibraka, aku jadi tahu dan sadar apa sebenarnya nasionalisme dan patriotisme itu dalam wujud yang nyata. Dulu, pas SD, aku sering mendengar kedua isilah itu dari pelajaran PPKN, tapi dalam wujud bacaan yang abstrak. Sayangnya, sebagai generasi muda, banyak dari kita yang udah terlena dengan kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Dan seakan mereka tuh udah enggak peduli lagi. Perjuangan yang berat para pahlawan dulu, baru terasa ketika aku mengikuti seleksi untuk menjadi Paskibraka. Seleksi fisik dan seleksi mental dari sekian banyak pelajar-pelajar SMA di kota Yogyakarta harus kulalui hanya untuk menjadi Paskibraka, pasukan yang mengibarkan bendera. Di situlah letak keistimewaannya yang kutemukan. Dan lagi-lagi aku sangat bersyukur kepadaTuhan.

Menjadi Paskibraka itu hanya sehari. Hanya tanggal 17 Agustus. Setelah tugas pengibaran selesai, aku menjadi Purna Paskibraka. Organisasi yang menampung para Purna Paskibraka dinamakan Purna Paskibraka Indonesia (PPI). Nah, untuk masuk organisasi PPI, kita, para purna paskibraka, harus setelah lulus SMA. Walaupun blum menjadi anggota PPI, seorang Purna Paskibraka juga dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh PPI.

Aku pernah mengikuti Musyawarah Nasional Pemuda Indonesia tahun 2004 yang dilaksanakan pada tanggal 24-26 Oktober 2004 di Yogyakrta. Sebagai perwakilan dari PPI kota Yogyakarta, utusan dari Yogyakarta, aku bertemu orang-orang dari seluruh Indonesia, baik mahasiswa ataupun pelajar. Aku senang sekali karena melihat langsung perdebatan antara mahasiswa-mahasiswa dan pelajar-pelajar yang menyoroti tentang keadaan Indonesia saat itu. Event-event yang diselenggarakan PPI antara lain Lomba Baris-Berbaris (LBB) kota Yogyakarta dan Invitasi Bola Basket (IBB) antarpelajar SMA se-kota Yogyakarta. Di situ, aku turut serta menjadi panitia.

Hobiku menggambar. Aku belajar menggambar secara otodidak. Orang tuaku lebih suka me-ngeles-kan aku les bahasa Inggris daripada les melukis. Ya, sudah aku menurut saja tanpa pembelaan diri. Awalnya sih kecil- kecilan, lomba menggambar tingkat RT. Tapi lama-lama, pas SMA ini kucoba untuk mengikuti lomba karikatur. Ternyata, tanpa kuduga aku mendapat juara, yaitu juara 3 lomba karikatur teknik sipil Universitas Diponegoro tingkat Jateng-DIY (16 April 2005) dan juara 3 lomba karikatur Olimpiade Lingkungan ASEHI (20 Agustus 2005). Selain itu, aku pernah meraih juara lomba majalah dinding Youth Studi Centre tingkat kota Yogyakarta bersama teman-temanku di kelas 2 IPS, lomba paduan suara bersama teman-teman ekstra paduan suara sekolah, dan lomba baris-berbaris bersama teman-teman peleton inti/tonti sekolahku.

Tips biar PD walaupun lagi jerawatan, biasanya aku kalau lagi jerawatan, sebelum pergi keluar rumah atau sebelum tidur, jerawatnya aku kompres pakai air hangat. Biasanya sih jadi mengecil, walau belum bener- bener ilang. Yah, tapi kan minimal ukurannya jadi mengecil, enggak segede sebelumnya :). Terus biasanya saat beraktivitas di luar rumah kan ketemu orang banyak, aku banyak tersenyum (tebar senyum sekalian tebar pesona hihi…) dan ketawa. Karena menurutku, dengan banyak tersenyum dan ketawa, kita jadi kelihatan tambah manis en enak dilihat. Kalau misal ditanyain temen soal jerawat kita, dijawab asal aja sambil becanda. Bilang aja jerawat kita ini isinya kupon berhadiah. Mesti ntar pada ketawa semua. Kan jadi hepy semua. Prinsipnya pas jerawatan, kesabaran sedng diuji. Tahan tangan kita buat megang-megang jerawat, siapin mental baja yang tahan ledekan teman –teman dan selalu berkeyakinan teguh: ni jerawat bakal hilang. Aku jadi inget kata guruku pas SMP. Guruku itu bilang, remaja tanpa jerawat tuh bagaikan langit malam tanpa bintang. Ckckck, kalau dipikir-pikir bener juga sih kata guruku itu :).

Ideal Dengan Ritual Air Putih

Bagi umat muslim, puasa adalah salah satu ibadah yang dilakukan selama satu bulan penuh berupa tidak makan dan tidak minum dalam waktu yang ditentukan. Dengan demikian, terjadi perubahan pola makan dan minum dari semula yang berlangsung terus menerus sepanjang waktu, menjadi pola makan dan minum dalam waktu-waktu tertentu saja. Sebagai contoh, jika di luar bulan puasa, maka kita biasanya akan makan sebanyak tiga kali sehari atau lebih. Sedangkan sebaliknya, saat berpuasa kita hanya makan dan minum saat dini hari (subuh) dan saat petang sampai kembali ke dini hari, hari berikutnya.

Perubahan pola makan dan minum ini secara langsung berpengaruh pada asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh kita. Semakin terbatas asupan gizinya, maka semakin sedikit pula tubuh kita menerimanya. Sehingga, tidak salah kemudian jika beberapa orang mengalami penurunan berat badan saat berpuasa. Yeah, apakah kamu salah satunya? Atau sebaliknya, jangan-jangan kamu justru orang yang sedang bingung karena justru mengalami kenaikan berat badan di saat bulan puasa.

Penasaran? Yuk, simak lagi tulisan ini.

Bermula dari minuman manis.

Berbukalah dengan yang manis,” kalimat itu menjadi sangat populer saat bulan puasa tiba dan kembali menghilang saat bulan puasa berakhir, lalu muncul kembali saat bulan puasa, begitu seterusnya. Seperti sebuah keyakinan, orang pun berlomba-lomba untuk menghidangkan minuman manis untuk berbuka puasa. Ya, sekilas tampak wajar karena setelah tidak mendapat asupan cairan selama hampir 14 jam, rasanya tubuh ini membutuhkan sesuatu yang manis untuk menaikkan gula darah sehingga bisa mengembalikan tenaga.

Sebut saja minuman manis yang sering kita temui saat jelang waktu berbuka puasa, teh manis, kolak, aneka sirup, dan lain-lain. Mayoritas dari minuman itu sebenarnya tidak baik bagi kesehatan karena mengandung banyak gula. Lho, kamu pasti bertanya-tanya, bukankah di saat kita akan mengembalikan energi yang hilang justru baik untuk minum minuman yang banyak mengandung gula?

Eits, jangan salah, gula merupakan salah satu bentuk karbohidrat sederhana yang mudah dipecah dan dicerna menjadi gula darah. Nah, apabila kita banyak meminum minuman yang banyak mengandung gula secara berlebihan, maka gula darah akan melonjak dengan cepat, sekaligus turun dengan cepat karena sifatnya yang mudah diserap oleh tubuh. Hal ini, pada akhirnya, membuat orang mudah mengantuk, lemas, dan menimbun kalori berupa lemak.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Batasi minuman manis dan perbanyak minum air putih.

Berpuasa bukanlah suatu halangan atau penghambat tubuh sehingga tubuh menjadi kekurangan cairan. Sebaliknya, puasa adalah salah satu sarana untuk mengatur pola makan dan minum kita. Walaupun sedang berpuasa, kita tetap dapat menjaga kesehatan dengan mengoptimalkan ‘ritual’ minum air putih. Mengapa ritual? Karena minum air putih harus menjadi kebiasaan yang harus kita jalankan terus-menerus.

Coba carilah informasi melalui internet tentang air putih. Ada banyak referensi dan kajian yang menyatakan manfaat minum air putih. Air putih memiliki dampak metabolisme yang paling rendah di antara minuman lainnya. Minuman yang mengandung banyak gula atau bahan kimia justru membuat ginjal kita harus berkerja lebih berat dan hal ini tidak baik untuk kesehatan.

Bagaimana caranya agar mengoptimalkan minum air putih saat berpuasa? Mulailah dengan menerapkan pola minum air putih 2+4+2. Pola 2+4+2 ini maksudnya adalah 2 gelas air putih sesudah berbuka, 4 gelas air saat makan malam sampai menjelang tidur, dan 2 gelas air putih pada saat sahur. Dengan demikian, tubuh kita tidak mengalami kekuarangan (cairan) dan tetap terjaga dari konsumsi minuman manis yang berlebihan.

Apakah hanya itu saja? Tentu tidak. Kita harus tetap berolahraga. Ajak tubuh ini untuk bergerak, sekedar jalan kaki atau menaiki tangga. Tidak harus berat, tetapi bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Dengan demikian, kalori yang ada di dalam tubuh bisa dibakar sesuai dengan aktivitas yang kita lakukan.

Hmm, sepertinya mudah, ya? Tapi sekali lagi, memiliki tubuh sehat tetap menjadi impian kalau kita tidak pernah melakukan. Yuk, perbanyak minum air putih dan berolahraga. Berat badan naik? Oh ya, sudah lupa, tuh! :)

Antara A dan O

Antara A dan O. Selain tentang 14 huruf yang memisahkan keduanya, ada 27 tahun hidup saya di sana.

Krisis jati diri (ciee.. ) datang Sabtu kemarin saat tiba-tiba, seorang ibu berkata kepada saya, “Mbak A, bukan O!”

Takjub beberapa detik, saya baru bisa melakukan pembelaan, “Ibu, tapi dari kecil dan di semua dokumen tertulis bahwa golongan darah saya O.”

Nih lho, mbak, kalau nggak percaya,” jawab si ibu sambil menunjukkan dua tetes darah saya yang sudah dicampurkan suatu zat dan membuat warnanya berubah dari semula merah, “Kalau yang seperti ini, golongan darahnya A.” Si ibu dengan sigap, langsung mencoret kolom golongan darah yang saya tulis di formulir isian. Dari O, dicoret tebal dan mantap, A!

Karena darah mbak tidak cocok dengan darah yang dibutuhkan, mbak tidak bisa donor,” lanjut si ibu.

Percuma. Sebagai anak sosial, saya gagal paham saat diterangkan sesuatu yang berbau scientific atau kebiologi-biologian, keobat-obatan, kefisika-fisikaan, apalagi kekimia-kimiaan.

Kok golongan darah bisa ganti, ya, Bu?” sepolos-polosnya saya bertanya. Mengulur waktu agar mendapat penjelasan. Mempertanyakan sebenarnya, khas anak sosial hehe.

Mbak, golongan darah mbak nggak berubah. Kalau mbak tesnya pas bayi, itu kurang valid. Mending mbak tes lagi di lab.” Pernyataan tegas dari si ibu, mengusir saya dari arena. Saya pun beringsut mundur berganti antrean selanjutnya di belakang saya.

Jadi, begitulah kejadian kemarin yang langsung membuat saya galau dan krisis jati diri. Sambil duduk di bangku tunggu antrean, saya mengirim BBM ke mama dan kakak saya yang sangat paham dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (termasuk di dalamnya, trio Biologi, Fisika, dan Kimia).

Kamu anaknya siapa, Het? Bhahahahahaha.” BBM balasan dari si embak justru bukan jawaban dari pertanyaan singkat yang saya ajukan, “Mbak Yen, golongan darah bisa ganti ya?”

Mama O, papa B, aku O. Masak kamu A?” si embak malah mempertanyakan balik.

Bagaimana tidak, ini kali pertama saya melakukan donor darah. Sebelumnya, saya ditolak di PMI – Senayan City karena Hb (Hemoglobin) saya rendah sehingga tidak memenuhi persyaratan. Terkait golongan darah, kala itu, sama sekali tidak disinggung. Jadi, terbayang kan, kalau kemarin, saya langsung divonis bergolongan darah A.

Walaupun tidak jadi donor untuk teman yang anaknya sedang membutuhkan golongan darah O, akhirnya, saya tetap melakukan donor darah. Golongan darah A, tentu saja. Saya sempat deg-degan tidak memenuhi syarat. Selain (kadang-kadang) darah rendah, pagi itu saya melewatkan sahur, kesiangan. Komplet, kan? Tapi Alhamdulillah, berkah Ramadhan, saat dites, dokter menyatakan saya dalam kondisi fit dan siap untuk menjadi donor.

"Hai, semua!" Tenang, ini nyengirnya nyengir hepi. Rasanya, nggak sakit kok. Thanks to bapak di sebelah saya yang udah bersedia motoin. "Pasti baru pertama, ya, Mbak?" Hehe, bapak tahu aja.

“Hai, semua!” Tenang, ini nyengirnya nyengir hepi. Rasanya, nggak sakit kok. Thanks to bapak di sebelah saya yang udah bersedia motoin. “Pasti baru pertama, ya, Mbak?” Hehe, bapak tahu aja.

Lucunya, Minggu malam kemarin, saya menanyakan golongan darah papa saat papa menelepon. Papa lalu menjawab, “A, dek!” Saya pun melongo sekaligus malu. Keluarga kecil, hanya empat orang kepala di dalamnya, tapi saya merasa tidak cukup tahu informasi penting, seperti golongan darah setiap orang. Saya kira papa AB, lalu dari kakak saya, katanya papa B. Sepertinya, kejadian ini membuat saya harus menghapal lagi golongan darah setiap orang layaknya anak Sekolah Dasar yang diminta menghafal perkalian.

Saya mencoba menjawab, ya …
Oh ya, ini donor pertama kali saya, lho! Kalau ditanya, sakit atau tidak? Saya jawab sakit di awal dan di akhir saja. Seberapa sakitnya? Hanya seperti digigit semut. Cekit, sekali saja, sudah (lebih sakit patah hati =p). Percayalah, ini jawaban jujur dari saya yang sebenarnya takut melihat jarum suntik. Sedikit tips, sebaiknya tidak melihat si jarum jika kita takut. Lebih baik melayangkan pandangan ke objek lain di ruangan hehe.

Berapa lama? 10 menit. Sebentar, kan? Dan tidak terasa. Bahkan bisa sambil main HP.

Petugasnya baik? Baik dan ramah. Petugas yang menangani saya, mengajak saya mengobrol untuk mengalihkan perhatian saya saat si jarum suntik beraksi. Saya kayak bocah, ya? Hehe. Di awal, saya jujur kepada si petugas bahwa saya takut dengan jarum suntik.

Setelah donor, efeknya apa? Bahagia, hehe. Bagi saya, akhirnya pecah telor pernah donor darah dan mengalahkan ketakutan saya sendiri selama ini. Apakah pusing dan lier? Katanya, tergantung kondisi kita saat itu. Alhamdulillah, kemarin saya tidak. Bahkan, saya pulang masih bisa naik busway (bayangkan: naik tangga dan melewati jembatan busway yang aduhai itu).

Udah, sampai situ aja? Setelah donor, dapat apa? Selain itu, setelah donor, kita akan mendapatkan goodie bag berlogo PMI berisi makanan dan minuman ringan, sekaligus multivitamin. Kartu donor darahnya juga disimpan baik-baik ya, untuk donor selanjutnya.

Goodie bag dari PMI yang diberikan setelah kita selesai donor.

Goodie bag dari PMI yang diberikan setelah kita selesai donor.

Di mana saya donor? Di PMI Kramat. Menurut saya, sangat accessible. Alamatnya Jl. Kramat Raya No. 47 Jakarta 10450, telepon: (021) 3906666. Kalau naik busway, dari Halte Harmoni, naik ke arah PGC, lalu turun di Halte Pal Putih. Dari Halte Pal Putih, jalan 100 meter, dan sampai deh di gedung PMI Kramat.

Mulusnya Jalan Kebaikan

Namanya, Pak Dian Kelana. Saya mengenalnya begitu. Tidak sebegitu kenal deng. Baru benar-benar kenal mengucap nama dan bersalaman kemarin. Sebenarnya, ini bukan kali pertama saya bertemu beliau. Saya sering bertemu dengan beliau pada beberapa acara blogger/community gathering. Dasarnya saya orang visual, saya hanya kenal muka saja.

Kemarin, saat acara peluncuran Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) V, kami duduk bersebelahan. Merasa kenal muka tidak tahu nama, maka saya manfaatkan kesempatan ini untuk berkenalan. Kami saling menyebut nama, bertukar kartu nama, menambahkan akun twitter, dan ngobrol tentang motivasi menulis.

Saat diskusi berlangsung, saya asyik mencatat. Saya memang lebih senang menulis manual (baca: pegang pulpen dan menulis di kertas) daripada mencatat di HP. Rupanya, sore itu, saya lupa membawa buku kecil saya. Jadilah, saya menulis di atas selembar metaplan yang berisi coretan arahan bos saya saat di kantor (dilarang ketawa, please, lihat betapa kreatifnya saya haha). Terlanjur, saya pun menulis tak beraturan. Vertikal, horizontal, tabrak sana, tabrak sini. Sampai kertas itu penuh.

Nih!” Tanpa saya duga, Pak Dian menyodorkan notes kepada saya, “Ambil.”

Saya speechless. Mungkin, beliau kasihan melihat saya menulis di metaplan yang memang sudah penuh coretan tapi tetap saya paksakan. Terima kasih, Pak Dian. Saya jadi malu *blushing.

Tidak sampai di situ saja, saya jadi ingat kejadian serupa yang dialami teman saya. Dulu, saat bertugas sebagai guru di daerah penempatan, kami sudah diwanti-wanti dengan kalimat ‘Lepaskan baju kota kalian.’ Kalimat ini sebenarnya multitafsir. Jika ditelan bulat-bulat, maknanya seperti nasehat agar kita berpakaian yang sederhana, tidak mencolok, sehingga tidak berjarak dengan masyarakat di sana. Sedangkan jika dilihat lebih dalam lagi, maknanya tidak hanya sekedar baju yang kita pakai (literally), tetapi juga nasehat agar kita pandai beradaptasi dan menempatkan diri di masyarakat. Maklum saja, sebagai angkatan pertama yang di tugaskan di daerah itu, tugas pertama kami adalah membuat keberadaan kami diterima. Mengingat, Indonesia Mengajar, akan berada di daerah itu selama lima tahun dan akan ada lima guru yang dikirimkan setiap tahunnya.

Alkisah, teman saya mengajar di Aceh dan memiliki kemeja yang senantiasa dipakainya pada situasi apapun. Mengajar di kelas, pertemuan wali murid, bahkan sampai menghadiri undangan. Sebenarnya, bukannya tidak punya, tapi sudah menjadi kebiasaan bagi kami, lebih praktis untuk tidak mengeluarkan semua koleksi baju yang kita punya. Sebagai gambaran, untuk satu tahun penugasan, cukup packing baju untuk 2 minggu, sepertinya sudah cukup. Tinggal cuci, kering, pakai saja.

Nah, singkat cerita, saat ibu angkatnya mengajaknya menghadiri undangan, teman saya langsung disodori bungkusan baju baru. Ibu angkatnya memintanya untuk berganti baju. Terbayang, kan, betapa terkejutnya dan terharunya teman saya.

Lagi-lagi ini bukan soal tidak punya. Jangan-jangan ini hanya soal kecepatan. Kecepatan kita untuk mengeluarkan barang pengganti karena barang sebelumnya sudah usang melawan kecepatan niat baik orang-orang (yang tanpa kita sadari) melihat tingkah laku kita. Saya yakin, Tuhan selalu memberikan ‘jalan tol bebas hambatan’ untuk niat baik setiap orang agar cepat diaksikan.

Happy Ramadhan!

Peluncuran Anugerah Jurnalistik Aqua V

Senang sekali, sore kemarin (9/7) saya mendapatkan invitasi untuk hadir dalam peluncuran Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) V, sekaligus buka puasa bersama di The Belly Clan, Jakarta. Agak surprise juga, karena AJA V kali ini mengingatkan saya pada AJA sebelumnya. Pada AJA IV tahun 2014, saya ikut mengirimkan artikel untuk kategori blogger. Sayangnya, saya belum mendapatkan juara.

Pada AJA IV, saya memanfaatkan momentum itu untuk berbagi pengalaman saya saat KKN di Gunung Kidul tentang konservasi air. Bukan rahasia lagi, Gunung Kidul tidak pernah lepas dari masalah kekeringan. Daripada menyimpan kegemasan saya tentang kekeringan di kepala, saya membaginya melalui kompetisi menulis di AJA IV (baca tulisan saya di sini: Pringsurat 7.488 Jam).

Masalah tentang air memang tidak pernah ada habisnya. Mau di desa atau kota sekalipun, masalah tentang air selalu hadir dengan karakteristik yang berbeda. Mau berbagi cerita seperti saya? Yuk! Tahun ini, Aqua kembali lagi menyelenggarakan AJA V dengan mengangkat tema “Kelestarian Air dan Lingkungan Sebagai Tanggung Jawab Bersama”. Syarat dan mekanisme AJA V dapat dilihat melalui Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) V. Yang istimewa pada AJA V kali ini adalah adanya kategori baru yang sebelumnya tidak ada, yaitu kategori radio.

Selain berbagi informasi tentang AJA V, kemarin juga diadakan diskusi dengan tema yang sama. Narasumber yang hadir antara lain Prof. Dr. Emil Salim, tokoh lingkungan hidup Indonesia, Sigit Kusumawijaya, inisiator Indonesia Berkebun, dan Karyanto Wibowo, Sustainable Development Director PT. Tirta Investama (Aqua Group). Diskusi berlangsung seru karena masing-masing narasumber ‘kaya’ pengetahuan pada bidang masing-masing.

Prof. Dr. Emil Salim berulang kali menekankan pada berbagai pihak untuk ikut menjaga kelestarian air, baik melalui water balance maupun water recycling dengan pemanfaatan teknologi.

Prof. Dr. Emil Salim berulang kali menekankan pada berbagai pihak untuk ikut menjaga kelestarian air, baik melalui water balance maupun water recycling dengan pemanfaatan teknologi.

Siklus air yang terjadi secara alami memang membuat volume air di bumi tetap. Walaupun demikian, kita tetap harus memperhatikan water balance, yaitu saat X liter air diambil dari alam, maka kita harus bisa memastikan bahwa kita melakukan konservasi untuk mengembalikan X liter air yang telah kita ambil. Wujud konservasi ini bisa bermacam-macam, mulai dari penananam pohon, pembuatan biopori, pembuatan sumur resapan, pembuatan embung, rehabilitasi saluran irigasi, dan pengembangan pertanian organik. Di sinilah, Aqua, selaku perusahaan yang mengemban Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, berkewajiban untuk melibatkan masyarakat lokal, komunitas, dan LSM dalam melakukan semua usaha konservasi tersebut.

Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) V, batas pengumpulan karya 31 Oktober 2015.

Tulisanmu, Harta Karunmu

Ruang meeting dingin karena AC, sementara di luar sana panas terik
Selasa, 9 Juli 2015

Apa yang bisa menghentikan fokusmu saat meeting berlangsung? Ya menatap slide presentasi, ya ikut menyimak pendapat teman-teman peserta meeting yang ada di situ? Tiba-tiba, BLAM!

Jawaban saya, BBM dari mama!

13.01
Dik mama nangis abis baca semua tulisan pengalaman dik hety umroh

Heh? Bukannya ikut terharu, saya malah nyengir kuda (anak macam apa saya ini? =p). Yeah, lagi-lagi, mama membaca cerita di blog saya. Bukannya apa-apa sih, sejak punya akun email di Gmail, mama selalu mendapat notifikasi saat saya mengunggah tulisan di blog saya melalui Google Plus. Dari sana, tak hanya cerita baru, mama pun akhirnya menjelajah ke ‘koleksi lawas’ yang pernah saya buat.

Lucunya, semakin sering saya mengunggah tulisan di blog, mama semakin sering mengetahui kondisi teraktual saya. Yah, bayangkan saja ini seperti ‘breaking news’. Setelah mengunggah tulisan di blog, biasanya mama akan mengirim BBM atau Whatsapp, “Dik hety lagi gini ya … .” Menanyakan kabar lewat telepon?? Lewaaaat. Mengunggah tulisan di blog lebih cepat.

Semua ini bermula saat saya menulis tentang ulang tahun papa. Saat pulang ke Jogja, mama pun menodong saya dengan pernyataan to the point-nya, “Cie, ulang tahun papa ditulis nih. Masak iya, sih, papa kayak gitu, dek.” (Sepertinya mama pengen ditulis juga =p)

Ada-ada saja sebenarnya. Saya maklum saja. Sejak kenal blog, saya belajar untuk memilah mana tulisan yang bisa dibagikan dan bermanfaat untuk orang lain, mana yang harus disimpan saja untuk kemudian dilupakan. Tulisan yang kita buat di blog memang untuk dibaca oleh orang di luar sana, baik orang yang kita kenal, maupun orang antah berantah yang tidak kita kenal sekalipun. Tidak ada rahasia-rahasiaan. Kalau rahasia, mengapa ditulis di blog? Ya, kan?

Tapi …

Saya jadi ingat seorang teman yang ternyata ‘rajin’ membaca blog saya diam-diam, tanpa meninggalkan jejak (baca: tidak memberi ‘like’ pada tulisan maupun komentar). Suatu hari dia berkata, “Het, tulisanmu yang ini, sampai kutranslate ke bahasa Inggris dan kukasih ke temenku, lho!”

Antara melongo dan terharu, saya tak menyangka teman saya sampai berbuat seperti itu. Menurut saya, dia lebih kaya pengalaman daripada saya. Dia cukup sering bolak balik ke luar negeri untuk ikut pertukaran pemuda atau konferensi.

Ah, apaan sih. Pengalamanmu lebih banyak, tuh. Coba deh tulis, nanti aku gentian baca. Pasti seru bisa jalan-jalan ke tempat-tempat baru.”

Aku tuh kebalik, Het. Kalau orang nulis pengalamannya di blog biar dibaca banyak orang, aku justru nulis rahasia di blog biar enggak banyak orang yang tahu.”

Saya tak berkomentar lagi. Bagi saya, rasanya, cukup tahu saja ada orang seperti itu. Menganggap, jagat dunia maya adalah hutan hujan tropis yang bisa menyembunyikan suatu rahasia. Iya, ada. Ada lho, orang seperti itu! Toh, semua akan kembali pada si penulis. Silakan penulis bertanggung jawab tentang apa yang ditulisnya.

Kalau kamu tipe yang mana?

PS.
Some memories are best forgotten” (Memento)

Cerita Rumah Kita (2)

Untuk kamu, si penghuni lama.

(Ini cerita kedua. Semoga kamu menghitung.)

Ssttt … tahukah? Orang-orang itu menyukai rumah kita. Apakah ini kabar gembira? Yeay! (Kita harus bersorak).

Entahlah, apa yang membuat orang-orang itu terpesona. Memang rumah kita besar, banyak ruang, tapi … aku tak cukup yakin dengan alasan seperti itu. Masih banyak kok rumah mewah dan, bahkan gedung-gedung yang mengepung kawasan Jakarta Raya ini yang tak kalah bagusnya.

Lalu, apa pendapatmu?

Yeah, rumah kita besar, nir teknologi, sehingga user friendly (kamu tidak boleh tertawa dengan istilahku). Ada saja orang-orang yang datang. Memang sih, semula, kami yang undang. Tapi lihat saja, aku mulai curiga rumah kita terbuat dari ganja. Orang-orang itu selalu saja ketagihan datang.

Ada yang mengatakan padaku kemarin. Betapa senangnya dia datang ke rumah kami, eh kita. Hanya aku jawab dengan senyum (semoga kamu tidak marah dengan sikapku). Katanya lagi, suasana di rumah kita sangat hangat. Ini bukan tentang ada tidaknya perapian di rumah itu. Dia pun, kini, merasa memiliki dan tak sungkan lagi seperti saat pertama ke mari.

Apakah menurutmu ini hanya ketakutanku, tak mau berbagi rumah ini? Possesive? Hmm, percayalah, aku hanya menjaganya. Ini tugasku. Kamu pasti paham. Kami memang mengundang tamu tapi setelah itu … Ya, begitulah.

Pesta, pesta, dan pesta. Apakah kamu dulu juga mengalaminya? Apa yang kamu rasakan? Sebagai penghuni baru, sepertinya aku harus banyak berguru padamu, hei penghuni lama.

Oke. Maafkan aku. Aku tidak membeda-bedakan siapa penghuninya. Lama dan baru hanya masalah waktu. Kita sepakat, kan? Ini rumah kita bersama walau kita berdua tumbuh dalam waktu berbeda. Ya, rumah kita, yang harus kita jaga.

Tentang pesta? Ya, aku suka pesta. Aku suka bertemu orang baru. Tapi akan lain cerita kalau berpesta dari Senin sampai Minggu. Aku lelah dan, tebakanku, begitu juga dengan rumah itu. Sayang, rumah itu tak bisa merintih kesakitan.

Jadi, kini, aku yang menghuni. Kamu, penghuni lama, pasti masih mau juga menjaganya, walau hanya dengan membaca cerita. Will you?

Aku, si penghuni baru.

PS. Aku berbaik hati. Jika kamu ingin membaca kembali Cerita Rumah Kita (1)

#NulisRandom2015