Idealnya, setelah platform blog jadi, seorang blogger akan menentukan tema blog apa yang akan diusung. Bisa tentang teknologi-informasi, kecantikan, traveling, kuliner, kesehatan, bahkan life style. Lalu, konsistenlah menulis tentang itu. Konon, menentukan tema mempunyai peranan penting dalam melakukan ‘branding’. Sederhananya, blog kita ingin dikenal orang sebagai apa? Kalau di tahapan ini sudah clear, enggak hanya pengunjung setia, pihak agensi pun akan berdatangan dengan riang.

Demikian ilmu yang saya dapat dari seorang blogger yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Bagaimana tidak, sebagai seorang ‘blogger newbie’, kala itu, blog saya lebih mirip gado-gado daripada nasi padang. Semuanya ada di sini!

Akhirnya, suatu saat, saya memberanikan diri untuk melakukan ‘stock opname’ tulisan-tulisan yang pernah saya buat di blog. Pilihannya, antara di-delete agar tema blog menjadi lebih spesifik atau dibiarkan saja. Nyatanya, saya tak tega menghapus beberapa tulisan yang pernah saya buat di blog. Sebut saja, curhat random, cerpen ala-ala, puisi ala-ala … Semuanya berharga dan punya kenangan. Kalau saya baca sekarang saja, masih suka tertawa sendiri, bahkan!

Jadi, saya putuskan membiarkan tulisan-tulisan lama dan menanggung ‘akibatnya’. Seperti saat ada yang bertanya di sebuah acara blogger gathering.

Halo, nama kamu siapa? Nama blog kamu apa? Tulisannya tentang apa?”

Kalau sudah ditanya begitu, saya akan menjawab, “Saya menulis semuanya, mayoritas cerita perjalanan dan kulinernya.”

Oh, travelling ya?”

Enggak juga sih, biasanya ada sisipin pengalaman pribadinya juga.”

Oh, life style ya?”

Saya jawab dengan tertawa saja saking bingungnya dengan blog sendiri. Baiklah, you named it. Life style!

Orang mungkin bingung kalau blog walking ke blog saya. Tidak ada tema spesifik. Apa yang sedang ingin saya tulis, ya saya tulis saja. Cerita perjalanan, jajan, tips, ulasan acara, atau sekadar refleksi hidup sebagai anak rantau di Jakarta hehe. Toh, saya merasa bahagia saat menuliskannya!

(PS. Dan mulai saya sadari, lima hal itu yang pada akhirnya mendominasi tulisan saya di blog. Favorit! Cerpen dan curhatan ala-ala mulai menghilang dari peredaran :p)

‘Enggak ada ide’ jadi salah satu alasan buat enggak menulis. Teori yang saya pakai, jangan dibatasi tema. Tulis aja dulu, tema blog menyusul kemudian.

Yas, itu dia! Lakukan apa yang membuatmu bahagia. Jika menulis menjadi sebuah terapi yang menyenangkan dan ritual menuangkan isi kepala agar tidak ruwet dan njelimet, ya lakukan. Apapun temanya. Jangan dibatasi tema. Lama-lama, akan ketemu kok tema blog-mu apa.

Yang penting nulis dulu. Berani nulis itu baik.

Ngeblog yuk!

Advertisements

Mengapa ngeblog?” Ini adalah pertanyaan paling dasar untuk mengecek motivasi seseorang menulis blog. Tiap orang punya jawaban sendiri, dari alasan yang paling umum – lumrah, kebanyakan orang melakukannya, sampai alasan yang sangat personal.

Kalau saya apa ya? Haha. Baiklah, saya cerita, ya.

Tiga Tulisan Pertama, Acak Kadut …

Blog saya lahir tanggal 31 Agustus 2008. Kalau dihitung sampai sekarang, siapa sangka sudah sepuluh tahun usianya. Ibarat anak sendiri. Boleh dibilang, sudah sebesar bocah SD yang berlarian ke sana-ke mari 🙂 .

Kalau kamu menebak, sejak blog saya lahir, saya jadi langsung rajin menulis, salah besar! Tulisan pertama adalah tanggal 26 Oktober 2008. Yes, dua bulan kemudian! Kala itu, saya sedang terobsesi untuk menjadi seorang penulis cerpen (cerita pendek). Untuk satu cerpen saja, proses pembuatannya sangat panjang (sungguh, kontras dengan namanya!). Tiap malam, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan MS Word. Setelah selesai, cerpen yang saya buat biasanya hanya teronggok begitu saja di folder komputer. Sesekali saya baca lagi dan tertawa sendiri, edit, ketik lagi, edit, dan begitu seterusnya sampai saya bosan sendiri (See, percayalah, seberapa perfeksionisnya orang, dia akan bosan juga haha).

Judul cerpennya, ‘Mie Ayam Penuh Cerita’, baca ceritanya di sini.

Nah, suatu saat, saya baru ingat saya punya blog yang masih kosong, kecuali tulisan “Hello World”, pembuka dari WordPress. Saya ulangi lagi ya, “Saya baru ingat saya punya blog!!” Dengan semangat, saya unggah cerpen itu di blog. Perdana! Andai kalian tahu rasanya. Rasanya, BAHAGIA! Kala itu, saya tidak peduli ada yang baca atau tidak, ada yang berkomentar atau tidak, yang penting menulis, titik! Sampai-sampai, suatu saat, ada yang meninggalkan komentar begini:

XXX, 1 April 2009
Horee…komen pertama ni!!!
hebat banget, sejak pertengahan 2008 bari ada satu post?
piye je Het..???

Sambil lalu, saya hanya senyum-senyum saja membaca komentar itu. Enam bulan kemudian, 9 Oktober 2009, muncul tulisan kedua. Judulnya, ‘Minuman Coklat Ajaib’, baca ceritanya di sini.

Lagi-lagi, ini tulisan saya tentang minuman enak di Jogja tapi saya ruwet sendiri karena diajak teman saya curhat. Saya ingin mengabadikan kenangan saya dengan si minuman ini lewat tulisan. Semacam diary gitu lah! Setelah puas saya baca sendiri, tertawa sendiri, edit, ketik lagi, edit, dan begitu seterusnya sampai saya bosan sendiri, saya unggah di blog. Muncullah komentar dari orang yang berbeda, begini:

XXX, 9 Oktober 2009
baru posting kedua? :p

Lagi-lagi, saya hanya senyum-senyum saja membaca komentar itu. Sampai akhirnya, 20 Oktober 2009, saya menggunggah tulisan gara-gara menonton tayangan Kick Andy. Kala itu, narasumbernya sangat inspiratif dan membuat saya mengharu biru. Tidak mau mengharu biru sendiri, saya putuskan untuk menuliskannya di blog. Biar lega!

Lalu, muncul komentar dan ajakan untuk blog-walking dari seorang teman:

XXX, 25 November 2009
hai het..tadi pas mau ngirim mesej ke kamu, liat link ini..hehe iya, emang lebih baik bekerja daripada minta belas kasihan orang..apalagi anak HI..kan prinsipnya “between aid and independent”..hakhak tukeran link yuk het..totallybela.wordpress.com

Semuanya Berproses …

Yah, cerita tentang tiga tulisan pertama di blog, saya ambil contoh untuk bernostalgia. Saya akui bahwa ngeblog itu bisa timbul-tenggelam. Ada kalanya rutin menulis – hidup, namun ada kalanya juga hening – mati suri dengan tulisan-tulisan lama.

Motivasi ngeblog bisa sangat dinamis, mulai dari ‘by mood’ (sesuai keinginan) sampai ‘by request’ (dari agensi misalnya, haha). Semuanya butuh proses. Di awal-awal tulisan saya di blog, kalau diperhatikan, semuanya tentang makanan. Jauh sebelum film ‘Tabula Rasa’ atau ‘Aruna dan Lidahnya’, saya sering menghubung-hubungkan kisah hidup saya dengan makanan-makanan. Baru saya sadari kemudian, itu namanya ‘refleksi diri melalui tulisan,’ dan itu banyak di tulisan-tulisan saya di blog. Cek deh!

Dulu …

Dulu, ngakunya punya blog sebagai langkah awal menulis. Sebagai orang yang suka membaca, mau sampai kapan membaca buku orang? Kapan membaca buku sendiri? Nah, MENULIS BLOG adalah hal yang paling BISA DILAKUKAN. Saking idealisnya (yah sebut saja demikian), saya tidak peduli ada yang ‘nge-like’ dan berkomentar atau tidak. Bagi saya, keduanya bukan kenyataan pahit. Toh, itu bukan motivasi saya saat pertama kali membuat blog. Cek cerita saya di tahun 2013, tentang Mengapa Ngeblog? di sini.

Nyatanya …

Seiring waktu berjalan dan menjadi Dora yang suka berpetualang, saya mulai menulis pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam hidup saya. Macam-macam: traveling, jajan, tips. Motivasinya satu: saya ingin BERBAGI dengan orang lain melalui tulisan. Sayang-sayang, kalau semua pengalaman itu hanya berhenti di saya. Saya pun mulai belajar dari bagaimana membuat judul tulisan yang menarik, bagaimana mengutak-atik setting WordPress agar sedap dipandang, bagaimana cara meningkatkan traffic dan visibilitas blog di dunia maya, sampai saya siap menerima pertanyaan dari pembaca dengan menyempilkan akun media sosial yang saya punya (terbukti lho, sejak menulis tentang ‘Bagaimana Mengajukan Visa Afrika Selatan,’ banyak yang kontak saya untuk tanya-tanya).

Enggak cuma di Seoul, di Bonn pun orang beramai-ramai menuliskan nama dan orang yang disayang di gembok, lalu dikunci. Konon, harapannya, biar abadi, dikenang. Kalau kamu mending mana? Ditulis di gembok atau ditulis di blog? Kayaknya ditulis di blog lebih romantis haha.

Jadi …

Jadi, kalau mau menjawab, “Mengapa saya ngeblog?” Jawabannya ada di semua tulisan saya di blog. Bahkan, di paragraf terakhir tulisan ini, saya semakin mengamini perkataan Pram: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Semuanya berulang dengan tulisan. Layaknya tulisan lama saya di 2008 yang kini bisa muncul lagi di 2018.

Ngeblog yuk!

Salam hangat dari Bonn yang dingin

Bad Münstereifel, Jerman (18 Agustus 2018).

Tak pernah lupa. Dulu, di bangku sekolah, guru-guru saya yang sangat ‘njawani’ itu selalu bercanda kalau ‘Jerman’ artinya ‘jejer Kauman’ atau bisa juga ‘jejer Sleman’. ‘Jejer’ adalah Bahasa Jawa yang berarti ‘sebelah’. Jadi, arti selengkapnya, ‘sebelah Kauman’ atau ‘sebelah Sleman’. Kauman dan Sleman merupakan nama-nama daerah yang ada di Yogyakarta.

Guyonan tanpa maksud mem-bully negara Jerman itu merupakan guyonan yang populer. Maklum, kala itu, bisa pergi ke luar negeri merupakan suatu yang ‘wah’ di lingkungan saya. Tak pernah terpikir caranya. Kalau sudah pernah ke luar Indonesia, sepertinya gimana gitu. Jadilah, guyonan itu bersemi, seperti ‘Purwokerto – Purto Rico’, ‘Kroya – Korea’, dan yaa … begitulah. Mungkin di tempat kamu juga ada kan yang begitu??

Lepas dari bangku kuliah dan beranjak dewasa, merantau ke luar Yogyakarta menjadi salah satu babak hidup saya. Entah mengapa, jika sedang diberi kesempatan ke luar negeri, guyonan plesetan nama-nama negara itu bisa bermunculan kembali di kepala saya tanpa diundang. Padahal, kalau saya ingat, dulu, saya termasuk anak yang mahal tertawa alias tidak tertawa sama sekali saat guru-guru saya mulai dengan plesetan nama-nama negara. Di mana lucunya? Tapi entah kenapa, ingatan semacam itu bisa mengendap di kepala. Bahkan, sampai detik ini saya tulis di blog. Apakah ini yang namanya kualat dengan guru-guru saya?? Duh! Sungkem Bapak Ibu Guru, nyuwun pangapunten! (Bapak Ibu Guru, saya minta maaf).

Dan … episode kali ini, ‘Jerman’ alias ‘jejer Kauman’ menggema kembali di kepala saya. “Pak, Bu guru, Hety ke Jerman,” saya mencoba berbicara sendiri dalam hati, meredakan gema ‘jejer Kauman’ di kepala. Ajaib. Baru kali ini, ‘jejer Kauman’ justru membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Saya tahan, hidung saya jadi kembang-kempis. Saya salah tingkah. Kualat kali kedua!

Jujur, bagi saya, Jerman belum pernah jadi rencana. Bahkan, tak pernah. Kalau ditanya dari soal melanjutkan studi sampai jalan-jalan, yang saya sebut adalah cita-cita saya, seperti Australia, Inggris, Disneyland Hongkong, Tokyo Disneyland, Shanghai Disneyland, … Hush!

Kalau nyatanya saya bisa ke Jerman, sungguh, ini seperti keinginan Tuhan. Jalan yang ditunjukkan Tuhan. Saya diminta untuk menjalaninya sebagai bentuk rasa syukur. Alhamdulillah. Saya jadi ingat salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Beliau pernah berkata, “Saat doaku dikabulkan, aku bersyukur karena itulah keinginanku. Saat doaku tidak dikabulkan aku lebih bersyukur karena itulah keinginan Allah.”

Ya, bisa jadi, untuk saat ini, Tuhan belum ingin saya ke Disneyland, Australia, atau Inggris untuk melanjutkan studi, melainkan ke Jerman. Setidaknya, tidak untuk saat ini. Besok, bisa jadi. Tuhan selalu menyelipkan harapan. Itulah yang membuat saya bahagia.

Baiklah. Biarlah kini Jerman seperti sebuah pintu jati kokoh yang terbuka. Pintu yang tak pernah saya ketuk, lirik saja tidak, tapi pintu ini seakan dengan nada yang sangat menyenangkan menyilakan saya untuk masuk, “Selamat berpetualang, Hety!

Ah, Jerman!

Siang tadi (2/6), saya berkunjung ke #NamakuPram di Dia.Lo.Gue Art Space di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Ramai. Untuk ukuran pameran, siang hari, Kemang, bulan puasa, saya acungi jempol. Banyak yang cinta Pram, ternyata, atau jangan-jangan sekadar penasaran gara-gara Iqbal ‘Dilan’ akan menjadi Minke dalam Bumi Manusia.

Oke. Koreksi. Di pameran ini, tidak ada Iqbalnya sama sekali kok hihi.

Saya tidak akan bermaksud sok tahu di sini. Sadar diri, saya baru membaca Bumi Manusia dua tahun lalu. Bumi Manusia adalah satu-satunya buku Pram yang (baru) saya baca, tamat. Beberapa ‘quote’ menarik bahkan sampai saya tweet dengan tagar #BumiManusia, berharap tidak lupa. Saking terkesannya.

#NamakuPram benar-benar menuntun saya untuk berkenalan dengan Pram. Saya sempat membatin dalam hati, “Maaf ya Pak Pram, saya baru membaca satu bukumu.” Selain tampilan rekam jejak, buku-buku, foto-foto, dan berbagai dokumen, menurut saya, bagaimana seorang Pram berjibaku dengan tulisan-tulisannya, juga digambarkan dalam sebuah diorama yang berisi ‘setting’ ruang kerja Pram. Dikatakan di keterangan, ada tiga mesin ketik di dalam ruang kerjanya. Jika salah satu tulisan macet, buntu, maka Pram akan berganti ke mesin ketik yang lain dan melanjutkan cerita lainnya. Sepertinya, tak ada kata berhenti bagi Pram.

Namaku Pram 2

Namun dari semua yang dipamerkan, bagian terfavorit saya di #NamakuPram adalah membaca berbagai kartu pos yang dikirimkan anak-anaknya untuk Pram saat diasingkan di Pulau Buru. Kartu posnya sudah menguning dimakan usia tapi rindu seorang anak pada ayahnya masih berasa. Sungguh! Saya haru melihat tulisan tangan anak-anak Pram beraneka rupa dengan celoteh khas anak-anak yang bercerita tentang kesehariannya di rumah dan sekolah.

Ini dulu catatan dari perjalanan hari ini. Saya masih terkenang-kenang, sekaligus dihantui. Sebelum pergi ke #NamakuPram secara sadar saya putuskan untuk membuang buku harian yang sudah saya tulis sejak SD. Akibatnya, sepulang dari #NamakuPram, saya seperti ‘dimarahi’ Pram. Bukankah menulis adalah sebuah pekerjaan untuk keabadian? Akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Selamat menyambut Minggu.

28 April 2018
Duh, gimana ya cara jelasin LSM ke adik-adik nanti? LSM adalah aktor selain pemerintah dan perusahaan profit di kehidupan kita sehari-hari. Hmm, kok aneh sih? Hmm … apa ya yang gampang? Lembaga yang memberikan bantuan kepada masyarakat, eh enggak juga sih. Duh, apa ya? Masak sih udah bertahun-tahun kerja enggak bisa jelasin ke anak-anak? Pakai bahasa yang sederhana gitu. Apa yaaa? Gimana sih, Het? Zzz.

Bertanya sendiri dan dijawab sendiri. Akhirnya, kesal dengan diri sendiri. Begitulah hari-hari saya jelang Kelas Inspirasi Goes to LPKA Tengerang. Tidak mau menyerah begitu saja, saya mencoba mencari cara lain. Aha! Termakan iklan ‘Tanya Google Aja’ saya pun memutuskan untuk membuka browser di Handphone. Tik tik tik tik … Jempol saya menari cepat di layar.

‘C a r a m e n g e n a l k a n L S M k e p a d a a n a k – a n a k’.

Loading pepersekian detik lalu muncul:

‘Mungkin maksud Anda adalah: cara mengenalkan ALAM kepada anak-anak’

Gedubrak! Enggak ada referensinya sama sekali. Saya tersenyum getir. Keki. Belum adakah orang yang berbagi cara di internet untuk menjelaskan LSM kepada anak-anak? Atau nampaknya Tuhan tidak membiarkan saya ‘mencontek’ begitu saja dari Google.

Baiklah, kita cari cara lain (lagi). Saya pun memutuskan ‘cara sosial’ yaitu membuka interaksi dan bertanya kepada sahabat saya yang juga bergelut dengan dunia development slash pemberdayaan masyarakat.

Oke, saya minta maaf kalau kalian mulai kesal dengan saya yang tidak kreatif ini. Eits, tunggu dulu. Saya adalah orang yang percaya bahwa keilmuan dapat dipertajam dengan diskusi dengan teman. Fatal kalau hanya kita sendiri yang jumawa mengklaim sebuah keilmuan.

Terdengar suara sumbang dari ujung sana, “Aish, Het, kamu cuma ngeles aja.”

*

Oke, tulisan di atas adalah teaser betapa deg-degannya saya untuk Kelas Inspirasi!! Iya, Kelas Inspirasi! Kegiatan selama satu hari di mana para relawan atau profesional akan datang ke SD (Sekolah Dasar) untuk mengenalkan profesi mereka kepada anak-anak di sekolah itu.

Lhoh, bukannya kamu pernah ikut ya, Het? Coba baca di sini

Iya, beda. Dulu, saya hanya orang di balik layar. Sekarang, saya mencoba untuk menjadi salah satu inspirator atau pengajar. Ciee …

Hei, masih grogi juga??

HeEh!! Ini beda. Kelas Inspirasi kali ini bukan di SD seperti biasanya, melainkan di LPKA di Tangerang. Adik-adik di sini istimewa!

Pantes, dari tadi ribut sendiri, eh.

30 April 2018
Hari Inspirasi. Hari yang dinantikan tiba. Pukul 6.00 tepat, saya sudah menginjakkan kaki di stasiun Tanah Abang. Jujur, saya takut terlambat. Lalu lintas di Jakarta itu tidak bisa ditebak. Sesuai jadwal, para relawan sepakat untuk berkumpul di depan Gedung LPKA Tangerang pukul 8.00. Saya memutuskan untuk nail KRL dengan rute dari Stasiun Tanah Abang, transit di Stasiun Duri, lalu ambil ke arah Tangerang, dan berhenti di Stasiun Tanah Tinggi, stasiun terdekat dari LPKA Tangerang.

Akhirnya, saya tiba pukul 7.00 lebih sedikit. Siapa sangka bisa secepat ini. Karena masih ada waktu, saya memutuskan untuk mencari sarapan. Percayalah mengajar itu butuh energi, Komandan! Dan … Maklum anak kos. Semakin pagi berangkat, semakin bisa ditebak kalau yang bersangkutan enggak sarapan hehe.

Pukul 07.30, ternyata, teman-teman relawan sudah berkumpul. Dari tas yang dibawa, mereka sudah siap dengan amunisinya (baca: laptop, kertas manila, alat pewarna, ular tangga, dadu, …). Kami tinggal menunggu instruksi saja dari petugas berseragam untuk masuk ke gedung LPKA. Walau semula di jadwal tertulis mengajar pukul 09.00, nyatanya pukul 09.30 kami baru bisa masuk ke LPKA. Katanya, ada beberapa adik yang sedang menjalani ujian. Sehingga, kami harus menunggu beberapa saat.

Dokumentasi: Relawan Fotografer

Oh ya, untuk masuk LPKA, beberapa barang harus dititipkan. Mungkin gambarannya seperti yang ada di film-film. Di pintu masuk, ada banyak petugas berseragam serta loker tempat penitipan barang. Karena kami tidak boleh memotret selama acara berlangsung, handphone kami pun diminta untuk dititipkan. Jadi, di Kelas Inspirasi kali ini, pendokumentasian kegiatan hanya dilakukan oleh tiga relawan fotografer yang sudah ditunjuk sebelumnya.

Kejutan pertama yang kami terima pagi itu adalah kelompok yang berubah. Semula, kami dibagi berdasarkan kelas (SD, SMP, SMA, SMK). Nyatanya, pagi itu, 91 adik-adik yang berkumpul di aula diminta berhitung untuk membuat tujuh kelompok baru dan tad-daa … jadilah kelompok adik-adik baru yang akan menerima kehadiran 23 kakak-kakak inspirator yang mukanya mulai pucat pasi karena berarti skenario di kelas juga akan berubah.

Penasaran Dengan Kelompok Saya?
Kelompok saya terdiri dari tiga kakak inspirator (termasuk saya), sebelas atau dua belas adik, serta satu fasilitator. Sesuai pembagian, kami menempati ruang kelas SMK di LPKA. Letak ruang kelasnya agak di belakang. Sehingga, bisa membuat kelompok saya ‘jalan-jalan’ di lingkungan gedung LPKA. Oh ya, sepanjang berjalan di koridor, nampak bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam, pegawai LPKA, sedang asyik di ruangan. Kalau boleh dibandingkan, suasananya enggak jauh berbeda dengan kantor-kantor pemerintahan pada umumnya.

Tak banyak yang bisa saya jelaskan tentang ruang-ruang yang ada di LPKA, selain di pintu dan jendela yang ‘dilengkapi’ jeruji. Ruang-ruang kelas yang berlangit-langit tinggi di LPKA menandakan bangunan itu adalah bangunan tua peninggalan Belanda, sedangkan di sisi gedung LPKA yang lain, bangunan yang lebih modern juga berdiri. Di tengah bangunan LPKA, ada taman-taman sekaligus lahan sempit untuk bertani. Saya tebak, di sanalah praktik tanam-menanam diajarkan. Di sini, adik-adik memang diajarkan beraneka ketrampilan yang harapannya bisa dipraktikkan secara mandiri kelak, misal bertani, bengkel, sablon, cukur rambut, dan lain-lain.

Oke, balik ke kelas, ya. Inspirator pertama di kelompok saya adalah Kak Razie. Kak Razie menularkan ‘virus’ pengusaha ke adik-adik. Semuanya asyik menyimak karena saat ditanya ternyata ada beberapa orangtua mereka yang berprofesi sebagai pedagang. Adik-adik pun ada yang ingin menjadi pengusaha. Mereka tak malu-malu untuk mengaku, “Itu lho Kak, saya ingin jual kue-kue, seperti risol,” atau ada juga yang begini, “Saya ingin jadi tukang cukur, Kak. Lihat tuh, gaya rambut teman-teman. Saya buat keren semua,” yang sontak disambut tawa oleh seisi kelas.

Inspirator kedua adalah Kak Windy. Sebagai seorang perancang busana, Kak Windy mengajarkan adik-adik teknik membuat kain shibori dan tie dye. Adik-adik antusias. Katanya, mereka tak menyangka bisa segampang itu membuatnya. “Ini kan yang dijual di distro-distro. Besok saya buat sendiri, ah!”

Giliran saya tiba, inspirator terakhir. Semua yang saya siapkan buyar. Bye kertas manila! Suasana kelas sudah panas, adik-adik yang diujung mana suaranya seakan-akan menantikan apa yang saya bawa.

Halo, saya Hety, pekerjaan saya adalah staf LSM.”

Dokumentasi: Pak HH

Hening.

Staf LSM adalah … Coba kalian pandang sekeliling kalian, masalah sosial apa saja yang kalian temukan … bla bla bla … .” Siapa sangka, saat saya bercerita, terlebih, saat memberikan contoh bidang kesehatan, ada yang tiba-tiba mengangkat tangan mencari perhatian dan berkomentar, “Kak, ibu saya juga staf LSM. Dia bantu-bantu di Posyandu.”

Krak! Kebekuan pecah. Saya mendapat momentum. Ternyata mereka familiar juga. Saya pun melanjutkan cerita dengan lebih lancar lagi. Hidung saya kembang-kempis saking bersemangatnya.

Sesi di kelas kami ditutup dengan memberikan kesempatan pada adik-adik untuk bertanya pada kami bertiga. Mereka boleh memilih. Saya terharu karena ada pertanyaan yang ditujukan kepada saya, yaitu kapan saya memutuskan untuk bekerja di LSM dan tentang Kelas Inspirasi.

Jika ada kesempatan, saya bersedia untuk ‘hadir’ di antara adik-adik itu lagi. Kemarin belum cukup. Walau hanya beberapa jam di sana, saya menyaksikan sendiri adik-adik itu mempunyai keinginan yang ingin mereka wujudkan. Keinginan, mimpi, cita-cita, normal, kan? Perkara bagaimana caranya itu urusan nanti. Buktinya mereka bersedia (dan berani) mengutarakannya pada kami, para relawan pengajar. Harapan itu ternyata masih ada. Jika saat ini mereka sedang berada di jalan yang lain, jalan yang tidak biasa, bukan berarti mereka tidak punya kesempatan. Saya percaya mimpi-mimpi merekalah yang akan menuntun mereka untuk kembali.

Sampai jumpa lagi, hai adik!

Cerita sebelumnya : Jalan-jalan ke Rammang-Rammang. Bisa baca di sini.

Pukul lima sore, saya sudah diantar kembali sampai di Pod House. Rasanya riang gembira karena enggak nyangka bisa seseru ini walau jalan-jalan sendiri (sekali lagi makasih banyak teman-teman di Makassar).

Berhubung besok sore saya sudah pulang ke Jakarta, saya mulai mengabsen apa yang belum saya lakukan di Makassar.

Check List:
Kenyang perut Mie Titi
Kenyang perut Pallubasa Serigala
Kenyang mata dan batin pemandangan Rammang-Rammang
Kenyang perut Konro Karebosi, Es Pisang Ijo, dan Jalangkote

Apa ya yang belum?

Saya ingat, mama pesan untuk dicarikan oleh-oleh Makassar. Bukan yang cruchy-crunchy melainkan yang lucu-lucu (pemirsa, kode ini artinya mama minta dibelikan sesuatu yang khas, bukan camilan, kain misalnya). Jadilah, malam itu, saya memutuskan untuk berjalan kaki ke Pusat Oleh-Oleh Unggul (toko) yang letaknya tidak jauh dari Pod House (tidak jauh versi saya ya, kalau dicek di Google Map jaraknya 800 m).

Dari Pod House yang ada di Jalan Penghibur, saya belok kanan mengarah ke Jalan Somba Opu. Kalau dibayangkan, Jalan Somba Opu ini merupakan jalan yang terletak di belakang Jalan Penghibur. Di Jalan Somba Opu, banyak juga toko oleh-oleh khas Makassar, sebenarnya. Tapi atas rekomendasi teman saya, yang paling lengkap adalah Toko Unggul yang ada di Jalan Pattimura, ujung Jalan Somba Opu. Jadilah, saya jalan kaki ke sana (kebayang kan pemirsa jalannya? Dia semacam pertigaan gitu).

Khusyuk memilih kain untuk mama, saya tidak sempat memotret kenampakan Toko Unggul. Seperti layaknya toko oleh-oleh versi komplet sih. Dari aksesoris sampai camilan, semuanya ada. Kalau tanya, camilan apa yang khas dari Makassar? Maka, jawabannya adalah Kacang Disko. Tapi lagi-lagi kata teman saya (orang Jawa Timur yang dinas di Makassar), Kacang Disko ini rasanya seperti kacang pada umumnya. Hanya namanya saja yang berbeda. Jadilah, saya membeli kue kering rasa nanas dan kopi (mirip kue lebaran) untuk teman-teman kantor dan kain khas untuk mama.

Pisang Epek
Pulang dari membeli oleh-oleh, saya jalan kaki lagi melalui rute yang sama, Jalan Pattimura – Jalan Somba Opu – Jalan Penghibur. Tidak perlu takut karena kamu akan berjumpa dengan orang-orang dan pedagang di pinggir trotoar. Apalagi kalau sudah sampai di Jalan Penghibur. Di malam hari, Jalan Penghibur menjadi ramai dengan lapak-lapak pedagang. Yang dijual hampir sama semua, Pisang Epek dan minuman dari kelapa (santan).

p_20170920_201747.jpg

Pisang Epek ini merupakan jajanan khas di Pantai Losari. Kalau dilihat, bentuknya mirip pisang bakar yang diberi gula merah cair. Manis!

Malam itu, saya sengaja mampir ke salah satu lapak di pinggir Jalan Penghibur. Agak sulit mencari tempat yang kosong karena rata-rata datang dalam rombongan. Setelah mendapat dua kursi (satu untuk saya, satu untuk tas belanjaan ciee.. ), saya pun memesan Pisang Epek original (enggak pakai tambahan keju, coklat, dan selai).

Sembari makan, para pengamen datang silih berganti dengan lagu yang sama, Akad – Payung Teduh. Ya, saat saya ke Makassar, lagu itu sedang naik daun di Jakarta dan ternyata di Makassar juga sama. Jadi, malam itu saya tutup dengan mengucapkan selamat kepada Payung Teduh, lagunya nge-hits :).

Benteng Fort Rotterdam

Museum Benteng Fort Rotterdam

Patung di depan pintu masuk Museum Benteng Fort Rotterdam.

Keesokan harinya, bangun tidur, saya langsung sadar ini hari terakhir di Makassar. Ada dua destinasi yang belum saya kunjungi, yaitu Benteng Fort Rotterdam dan Masjid Apung Amirul Mukminin. Dua destinasi ini sayang untuk dilewatkan karena keduanya sama-sama terletak di Jalan Penghibur, hanya letaknya ujung ke ujung.

Setelah packing dan sarapan, saya jalan kaki ke Benteng Fort Roterdam melalui Jalan Penghibur. Mengapa jalan kaki? Bagi saya, saat ada kesempatan berkunjung ke luar kota, saya selalu menyempatkan berjalan kaki untuk melihat keadaan kotanya lebih dekat. Saya ingin merasakan suasana kotanya. Selain itu, jarak Pod House ke Benteng Fort Roterdam cukup dekat (versi saya ya, kalau dicek di Google Map jaraknya 1 km). Dengan udara pagi pukul 10.00-an rasanya masih layaklah, ya. Enggak panas-panas banget.

Kompleks bangunan Museum Benteng Fort Rotterdam mengingatkan saya pada Benteng Vrederburg di Jogja serta sebuah museum yang ada di Malaka, Malaysia (saya lupa namanya). Hanya saja, kompleksnya lebih besar dan lebih luas. Saya berkeliling ke setiap kompleks museum. Ada yang gratis dan berbayar. Tenang, pun berbayar, masih masuk dalam kategori murah kok.

Area bangunan Benteng Fort Rotterdam di Makassar.

Bangunannya khas sekali ya!

Tampak belakang.

Ada guide yang menerangkan sejarah museum kepada pengunjung.

Sebenarnya, museum punya potensi besar untuk jadi arena belajar sejarah yang menyenangkan. Sayangnya, saya sering sedih jika datang ke museum. Bukan karena terkenang-kenang perjuangan pahlawan, namun melihat kondisi museum. Ruangan tempat memajang benda-benda sejarah ‘seakan’ dibiarkan gelap dan pengap. Selain itu, beberapa aksi vandalisme cuka nampak. Tembok-tembok bangunan museum penuh corat-coret. Untung saja kemarin, Museum Benteng Fort Rotterdam sedang ramai. Banyak rombongan anak sekolah bersama gurunya yang datang. Saya pun bersemangat untuk berkeliling dan tidak berasa ‘spooky’ hiii …

Suasana di dalam museum.

Corat-coret di dinding bangunan museum ini merusak keindahan museum.

Masjid Apung Amirul Mukminin

Masjid Apung Amirul Mukminin.

Oh ya, setelah puas berjalan kaki dari Benteng Fort Rotterdam, saya menyisakan sore di masjid terapung untuk solat ashar. Masjid terapung ini namanya Amirul Mukminin. Mengapa harus masjid ini? Yaa .. karena masjid ini masih berada di Jalan Penghibur (Pantai Losari). Jadi, sekalian saja disinggahi. Selain itu, masjid ini juga direkomendasikan oleh beberapa Bapak Gojek yang mengantar-jemput saya selama di Makassar.

Akhirnya, pukul empat sore, saya jalan kaki kembali ke Pod House dan memesan mobil via aplikasi online untuk ke bandara. Jalan kaki ini sambil membakar kalori kuliner Makassar yang sukses saya santap kemarin ya hehe. So, bye bye Makassar! Dengan senang hati kalau ‘diminta’ kembali 🙂

Yeay or Nay?
Overall, yang saya sukai dari perjalanan singkat ke Makassar ini adalah …
Kawasan Pantai Losari yang sepertinya didesain untuk menjadi pusat pariwisata. Di sepanjang jalan Pantai Losari, kita dapat menjumpai hotel (hostel), tempat makan, supermarket mini, serta kawasan pedesrian yang nyaman untuk jalan kaki, bercengkrama, lari-lari, duduk-duduk ditemani semilir angin pantai. Misal kamu ingin liburan selama tiga harian, kawasan Pantai Losari ini paslah untuk kamu pilih.

Oh ya, menutup seri cerita jalan-jalan ke Makassar, ada yang bertanya, mengapa judulnya Makassar Dengan Dua ‘S’. Alasannya, satu, gara-gara dinas ke Makassar, saya baru ngeh kalau menulis ‘Makassar’ itu dengan dua huruf ‘s’. Kedua, ada dua es yang terkenal di Makassar, yaitu Es Pallu Butung dan Es Pisang Ijo. Keduanya favorit saya. Dhoeng! Eh, gimana?? Enggak nyambung ya?? Heu. Judulnya demikian karena benar-benar merepresentasikan pengalaman personal saya saat berkunjung pertama kali ke Makassar.

Jadi, apa pengalamanmu saat jalan-jalan ke Makassar?? Bagi di kolom komentar ya! :).

Bye bye Makassar!

Baca cerita sebelumnya di sini:
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 1
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 2
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 3

Hari ketiga di Makassar berarti hari pertama full-day liburan. Yeay!

Kok tiba-tiba saat saya menulis ‘full-day liburan’ rasanya gimana gitu ya? Semoga Pak Bos enggak baca hihi.

Dari awal saya sudah mencoret Toraja dalam daftar liburan saya di Makassar kali ini. Di samping jauh, sepertinya biayanya akan semakin besar, apalagi saya solo travelling. Kalau jalannya rame-rame kan ongkosnya bisa dibagi-bagi. Jadilah, ada beberapa opsi lain yang bisa dijadikan pilihan, antara lain: Rammang-Rammang, Taman Nasional Bantimurung, Taman Laut Taka Bonerate, dan Maliono.

Setelah berdiskusi dengan teman saya, akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke Rammang-Rammang (see, betapa random-nya saya, bisa jalan-jalan tanpa perencanaan sebelumnya). Rammang-Rammang merupakan salah satu destinasi wisata alam populer di Makassar. Pemandangan alamnya, katanya, tidak ada duanya. Coba deh browsing. Saya yakin akan banyak referensi tentangnya.

Oh ya, saya tahu Rammang-Rammang sekitar dua tahun lalu. Kalau itu, teman saya (seorang travel blogger) menceritakan tentang destinasi ini saat kami bertemu di blogger gathering Potret Mahakarya Indonesia. Siapa sangka baru kesampaian di tahun 2017 ini dan teman saya sudah meninggal. Al-fatihah untuk beliau (suwun ya Mas, ceritanya).

Untuk mencapai Rammang-Rammang, jalurnya cukup mudah dan terjangkau. Saya cukup terbantu, teman saya yang orang Makassar bersedia mengantar saya dengan mobil. Sehingga saya tidak kesulitan karena dia hapal jalannya. Jika tidak ada mobil pribadi, kamu bisa menggunakan Go-Car atau Grab-Car. Saya ingat, saat di Pod House, sempat ada bule yang ingin ke Rammang-Rammang. Mereka pun memesan mobil lewat aplikasi online. Mungkin, salah satu faktor yang yang bisa dipertimbangkan adalah saat kamu mencari kendaraan untuk kembali, dari Rammang-Rammang ke Makassar (kota). Saat kembali akan lebih sulit mencari kendaraan daripada saat kamu datang dari Makassar (kota) ke Rammang-Rammang.

Hari itu, saya bersyukur cuaca di Makassar sangat bersahabat. Panas yes tapi asal tidak hujan saja yang bisa menghalangi kami jalan-jalan. Ada payung sih, tapi … Ya, gitulah.

Dari parkiran mobil berupa tanah lapang berumput, kami menuju dermaga kecil, tempat beberapa perahu bersandar. Hah? Perahu? Untuk apa? Bagi kamu yang belum tahu, Rammang-Rammang menawarkan kenampakkan alam sungai/danau yang ‘dikepung’ bebatuan tua. Kita harus naik perahu untuk menikmati keindahannya. Ada beberapa objek yang ditawarkan selama kita berlayar. Kita bisa meminta bapak kapal (nahkoda) untuk singgah sejenak di setiap tempat.

Dora, The Explorer, edisi Rammang-Rammang.

Pemangangan yang dapat dinikmati dari atas kapal.

Selamat datang di Rammang-Rammang. Kali pertama melihat pemandangan ini, rasanya pengen nyanyi Mahadewi-nya Padi, “Hamparan langit maha sempurna …”

Kemarin, kami singgah di Kampung Berua, yang terdiri dari Situs Pasaung, Padang Ammarrung, dan Gua Kelelawar. Di sana merupakan persawahan luas yang dikelilingi oleh perbukitan. Begitu turun dari kapal, bawaannya langsung pengen jalan-jalan mengeksplorasi padang rumput dan persawahan yang luas ini. Di beberapa sisi, ada bukit batu atau tebing yang harus kamu lalui dengan sabar (tidak disarankan pakai heels di sini ya, Ladies!).

Dari kenampakkan alamnya, wisata Rammang-Rammang sangat cocok untuk dikunjungi di pagi atau sore hari. Kalaupun siang hari, teriknya matahari akan sangat berasa walau udaranya cukup sejuk. Konon katanya, saking indahnya, kawasan ini sering dijadikan sebagai lokasi syuting film. Hayuk tebak film apa?

Setelah kapal menepi, sempatkan singgah. Kamu akan menemukan pemandangan seperti ini.

Setengah hari jalan-jalan di Rammang-Rammang ternyata cukup menguras energi dan membuat naga-naga di perut berdansa dengan irama krucuk-krucuk. Apalagi saya dan teman-teman juga memasuki gua yang menguji ketrampilan kami memanjat. Lepas dari kawasan Rammang-Rammang, kami langsung kembali lagi ke tengah kota untuk makan siang. Tujuan kami tetap kuliner khas Makassar dan terpilihlah … jreng!!

Konro Karebosi!!

Konro Karebosi yang kami singgahi terletak di Jalan G. Lompobattang No.41 Makassar. Lokasi ini cukup terkenal dan selalu direkomendasikan.

Konro Karebosi adalah makanan khas Makassar yang menggunakan daging sapi sebagai olahan utamanya. Ada dua jenis Konro, yaitu Konro bakar dan konro biasa atau konro kuah. Rasanya mantap hehe. Maksudnya, Konro bakar merupakan daging sapi empuk yang berlumur bumbu. Penampakkannya sih seperti bumbu kacang sate Madura. Rasanya cenderung manis. Sedangkan, konro biasa atau konro kuah, lebih gurih karena seperti daging sapi empuk dengan sup rempah. Dua-duanya juara, kamu harus coba semua.

Konro Karebosi yang berkuah. Kuahnya seger banget. Pemirsa harus coba ya!

Kontro Karebosi versi bakar. Bumbu kacangnya mirip bumbu sate. Rasa manis – gurihnya bikin nagih!

Harga
Satu porsi konro harganya 50.000-an. Harga yang cukup logis untuk sajian daging sapi nan empuk dan rasa rempahnya yang yummy.

Es Pisang Ijo dan Es Palu Butung Muda Mudi

Kamu masih kuat makan, Het?”
Iyaaaa, kan aku belum ketemu kesukaanku, es pisang ijo hehe.”

Jadilah, kami meluncur ke Muda-Mudi di Jalan Rusa No. 45 A. Di sana, kami memesan satu porsi Pisang Ijo, satu porsi Pallu Butung, dan dua Jalangkote. Pisang Ijo yes, Pallu Butung yes, Jalangkote?? Jalangkote itu seperti kue pastel tapi ukurannya lebih besar. Di Muda-Mudi, Es Pisang Ijo dan Es Pallu Butung disajikan dingin (yaiyyalah!) dan Jalangkote disajikan hangat-hangat (layaknya abis digoreng). Yummy semua!

Sebelah kiri yang ada ijo-ijonya itu namanya Es Pisang Ijo. Sedangkan, di samping kanan adalah Es Pallu Butung.

Harga
Oh ya, satu porsi es harganya 22.000. Tapi semuanya worth it, kok.

Over all, Yeay or Nay?
Konro Karebosi harus dicoba. Es Pisang Ijo, Es Pallu Butung harus dicoba juga karena …
e n a k b a n g e t.

Eits, ini belum edisi final. Masih ada satu cerita lagi tentang Makassar. Tunggu yaa …

Catet alamatnya, nih:
Konro Karebosi
Jalan G. Lompobattang No.41 Makassar

Es Pisang Ijo & Es Pallu Butung
Muda-Mudi di Jalan Rusa No. 45 A Makassar

Baca cerita sebelumnya di sini:
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 1
Makassar Dengan Dua ‘S’ Edisi 2

%d bloggers like this: