Hari ini. Berita duka datang jelang makan siang. Lewat akun Instagramnya, seorang teman mengabarkan Ibu Indira Abidin meninggal.

Saya kelu.

Setelah sekian detik merasa mampu, saya mengarahkan ‘cursor‘ saya ke tanda ‘+’ Google Chrome. Saya ketik berita duka cita ini di Google dan … benar saja, muncul berita duka dari berbagai media.

Mungkin, Ibu Indira tidak mengenal saya. Saya kenal beliau dari jauh, dari kursi notetaker dan dari linimasa Twitter.

Tiga tahun lalu, seminggu setelah resmi menjadi staf di kantor saya sekarang, kami mengundang Ibu Indira untuk menjadi salah satu narasumber ‘Philanthropy Learning Forum ‘ bulan April yang mengangkat tema filantropi dan perempuan. Selain Ibu Indira, kami juga mengundang beberapa pegiat filantropi perempuan di Indonesia, seperti Mbak Anik dari Pundi Perempuan, Mbak Icha dari Samahita, dan Mbak Anantya dari Girls in Tech Indonesia. Saking istimewanya, Ibu Erna Witoelar mengapresiasi kehadiran mereka dengan mengatakan, “Para perempuan yang menjadi narasumber kali ini adalah empat dari sekian perempuan yang berjuang di jalannya masing-masing, terkait isu-isu perempuan.”

Kala itu, sebagai notetaker yang duduk manis sambil mengetik tak jauh dari narasumber, saya terpapar sejadi-jadinya dengan berbagai informasi yang mereka bagikan. Hujan inspirasi. Tak jarang, saya langsung stalking media sosialnya dan yang kemudian saya follow adalah akun Twitter Ibu Indira.

Bisa ditebak, selanjutnya, selain teh manis hangat, pagi saya selalu ditemani salah satu tweet dari akun Ibu Indira yang berisi blog update (beberapa kali juga, saya baca blog beliau). Maklum, sebagai communication officer, setiba di kantor dan menyalakan komputer, yang harus segera dibuka adalah akun media sosial.

Hari ini, Ibu Indira berpulang. Saya merasa kehilangan. Hari ini juga, saya jadi belajar bahwa: Tak kenal pun, ketika yang dilakukan adalah kebaikan, rasa baiknya masih bisa dirasakan dari jauh.

Selamat jalan Ibu Indira.
Innalilahi wa innailaihi rojiun
Allahummaghfir lahaa warham-haa wa ‘aafihaa wa’fu anhaa

Oh ya, teman-teman juga bisa membaca tulisan terakhir Ibu Indira di blognya, ‘Semua Hanya Pinjaman‘. Dalam sekali untuk menjadi sebuah perenungan bersama.

*

Lewat tulisan ini, saya membagikan apa yang sempat saya catat kala itu. Yang kemudian membuat saya jatuh hati (dari jauh) pada ibu Indira dan apa yang dilakukan oleh para perempuan demi kebaikan para perempuan. Semoga bermanfaat ya untuk teman-teman pegiat sosial, insyaallah masih relevan.

* *

‘Campaign for Women’ menjadi judul materi presentasi dari Ibu Indira. Dalam presentasinya, Ibu Indira menampilkan 3 (tiga) video kampanye sosial yang menurut beliau sarat inspirasi.

‘No Child Bride’ – India

(Sumber: Youtube)

Ada sebuah NGO yang ingin melakukan awareness dan advokasi agar ada action dari pemerintah dan dunia untuk melakukan sesuatu tentang pernikahan dini di India. Pada umumnya, di India, perempuan yang sudah menikah menggunakan bindi berwarna merah. Sebagai sindiran halus, kampanye yang menentang pernikahan dini ini menggunakan bindi berwarna putih. Akhirnya, kampanye ini mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat, media massa, dan artis. ‘White Bindi’ juga menjadi bagian dari fashion dan akhirnya berhasil menggalang kesadaran publik terkait pernikahan dini di India.

‘Dear Future Mom’ – Italia

(Sumber: Youtube)

Ada seseorang yang mengirimkan surat kepada sebuah NGO yang bergerak di bidang difabel tentang ketakutannya memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Akhirnya, NGO tersebut membuat sebuah video yang akhirnya bisa viral tersebar di seluruh dunia, bahkan perdana menterinya turut mendukung kampanye ini.

‘The Ungiven Gifts’

(Sumber: Youtube)

The ungiven gifts adalah kampanye tentang hadiah natal yang tidak tersampaikan. Hadiah-hadiah ini tidak tersampaikan karena yang bersangkutan meninggal, menjadi korban kecelakaan di jalan Victoria, New Zealand. Kampanye ini bertujuan untuk mengurangi angka kecelakaan di Jalan Victoria dan mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan berhati-hati (change of behaviour).

Setelah menonton bersama, Ibu Indira mengajak para peserta untuk menarik lesson learnt dalam strategi kampanye sosial, yaitu:
1. Salah satu cara untuk mengajak orang peduli dan ‘do something’ dalam rangka memobilisasi dukungan adalah dengan membuat video kampenye sosial yang ‘touchy‘ (menyentuh sisi-sisi humanisme).
2. Video yang sangat ‘touchy’ bisa membuat orang yang menonton tergerak hatinya dan bersedia untuk berdonasi, bahkan melakukan sesuatu (misalnya: mengubah cara pandang, mengubah perilaku)
3. Membuat video kampanye sosial tidak melulu harus berbiaya mahal.
4. Video kampanye sosial harus dibuat penuh kreativitas agar tidak monoton.

Advertisements

LPKA, enggak ada yang bikin saya ragu untuk kembali ke sini. Saya selalu semangat. Dan, tau enggak sih? Sttt, Tuhan benar-benar mengabulkan doa saya. Cek di postingan saya satu tahun yang lalu di paragraf terakhir (ini kuis yak, sila dicari :p). Tuhan Maha Baik. Saya diizinkan kembali. 🙂

Dokumentasi Inspirasa Juli 2019

Mendadak Jadi Anak Tang-Sel

Setahun itu waktu yang lama bagi yang menunggu tapi waktu yang cepat bagi yang punya rencana. Pasca Kelas Inspirasi Tangsel Goes to LPKA setahun yang lalu, masih aja ada relawan yang ‘protes’ enggak terima, “Udah nih, segini aja?”

Bagi kami kala itu, agak berat juga mengakhiri sesi Kelas Inspirasi dan ber-sayonara-sampai-berjumpa-pulang dengan adik-adik di LPKA. Sungguh, ini ada potensinya. Ini bisa dibuat sedemikian rupa sehingga bisa lebih berfaedah. Mumpung kita punya ini-itu, bisa dioptimalkan. Yash, sedemikian pedenya klaim kami walau baru s-a-t-u-h-a-r-i berada di LPKA dan bertemu adik-adik binaan.

OOT nomor 1. Di sinilah kemudian saya berteori, benar adanya jadi relawan itu harus pede. Pede kalau dirinya berkontribusi heu *kidding :p

Singkat cerita, dari kesekian kali temu-kumpul-diskusi, kami sepakat untuk kembali lagi ke LPKA Kelas I Tangerang dengan ‘baju baru’: ‘Inspirasa’. Slogannya, ‘Dengan Inspirasi Membangun Asa’. Yang kami yakini bersama, berbagai sumber daya yang ada, mampu menjadi inspirasi yang membangun asa dan harapan, baik bagi kakak-kakak relawan atau adik-adik di LPKA.

Noted. Biar sekalian, pembaca yang budiman bisa cek Instagramnya di @Inspirasa.id huy huy

OOT nomor 2. Tapi beneran lho, apalah arti sebuah nama, sudah berganti nama pun (semula Kelas Inspirasi, kini Inspirasa), petugas LPKA tetap selalu menyebut kami ‘Kakak-kakak dari Kelas Inspirasi’. Hmm … Baeklah.

Dibanding Kelas Inspirasi, kegiatan Inspirasa lebih jangka panjang. Inspirasa juga punya kurikulum atau tema belajar sendiri. Pertemuan dengan adik-adik di LPKA dibuat dengan tiga tema besar: Self Awareness‘, ‘Willingness to Learn‘, dan Growth Mindset. Satu tema dipelajari bersama selama satu bulan dalam tiga sampai empat kali pertemuan, setiap hari Sabtu.

Saya yang berdomisili di Jakarta Pusat ini pun mendadak jadi ‘anak TangSel’ saat ‘meramaikan’ Tim Inspirasa. Tugas saya? Saya masuk jadi Tim Rekrutmen di pre-event dengan jobdesc merekrut relawan yang nantinya menjadi mentor buat adik-adik, dan satu jobdesc tambahan: ‘stand by‘ jadi mentor yang menggantikan relawan mentor yang berhalangan hadir saat hari-H (baca: pemain cadangan). Cadangan pun, pada akhirnya, saya tetap kebagian ngobrol dengan adik-adik di LPKA (kebetulan ada relawan mentor yang dinas kantor dan berhalangan hadir).

Sesi Perdana

Bulan Juli jadi sesi perdana Inspirasa dengan tema belajar ‘Self-Awareness‘ di LPKA. Kakak mentor dan adik akan berdiskusi membahas potensi diri. Sesuai rencana, kami akan beraktivitas di aula, namun siapa sangka, tiga kali pertemuan berturut-turut selalu ada acara. Jadilah kami berada di ruang kelas atau ruang perpustakaan yang lebih lebar.

Dokumentasi Inspirasa Juli 2019

Sebenarnya, yang seperti ini, sungguh baru buat kami. Adik-adiknya (sepertinya) juga mayoritas baru. Ya wajar sih, adik-adik yang di sana berganti. Saat masa binaan mereka di LPKA sudah habis, mereka akan bebas dan melanjutkan kehidupan di luar LPKA.

Beberapa relawan mentor mengaku grogi karena ini kali pertama masuk ke LPKA dan berinteraksi langsung dengan adik-adik. Pun yang sudah pernah ke LPKA, juga mengaku grogi karena belum pernah langsung mendampingi adik-adik dalam kelompok kecil dan ada materinya pula. Haish, piye iki?

Tapi siapa sangka? Semua tak berasa, malah jadi rutinitas. Satu bulan, tiga kali pertemuan setiap Sabtu dengan uraian sebagai berikut –> kumpul di depan LPKA pukul 8.00 WIB, (dan kami baru diizinkan masuk oleh petugas Lapas pukul 9.00 WIB), bubaran pukul 12.00 WIB, evaluasi relawan, dan pukul 14.00 WIB (biasanya) udah di KRL – kembali ke Jakarta (bagi yang anak Jakarta kayak saya :p).

Sampai di paragraf ini, jadi kebayang, tiga hari Sabtu di bulan Juli yang udah dilalui kemarin. Klise kan: berasa ‘berat’ di awal dan ternyata, secepat itu tiga sesi itu berlalu. Saking enjoy-nya. Kurang. Saking happy-nya!

Dibalik Kegiatan LPKA …

Tapi, semua ini bukan berarti ‘lurus-lurus’ aja tanpa cerita. Sesederhana, adda-ajja Bapak Ojol yang selalu menanyai saya saat akan meluncur dari rumah ke Stasiun Tanah Abang. Maklum …

S-a-b-t-u, jam 6.00 p-a-g-i.

Enggak libur, Neng,” begitulah obrolan ini selalu berawal.
Enggak Pak, ngajar,” jawab saya singkat, berharap jawaban ini sudah cukup menjelaskan, dan menghindarkan saya dari terminologi ‘relawan’ yang akan membuat si Bapak tambah penasaran. Nyatanya, saya keliru.
Di mana emang ngajarnya? Ko harus ke Stasiun Tanah Abang?”
Tangerang, Pak.”
Walah jauhnyaa, di sekolah mana?”
LPKA.”
Wah, Neng, kalau anak-anak itu mah …

Tak perlu saya tuliskan ya. Saya cuma bisa ha-he ha-he saja dibalik helm kaca. Si Bapak saya tebak sudah beranak juga tapi saya tetap enggak bisa men-judge beliau. Itu pendapatnya sebagai orang tua. Saya? Biarlah. Mungkin karena saya belum pernah ngerasain jadi orang tua yaa (soon). Dan, percayalah. Anak-anak itu unik ko. Beda sih … tapi buktinya, saya dan teman-teman relawan bersedia mendonasikan setengah hari Sabtu kami untuk mereka. See? Betapa istimewanya! 🙂

Enggak sampai di situ aja, pernah juga ada moment ngobrol dengan seorang Ibu dari seorang adik yang lagi menjalani masa pembinaan di LPKA. Ya, hari Sabtu memang jadi hari kunjungan LPKA. Jadi, jangan heran kalau kegiatan Inspirasa bebarengan dengan kunjungan keluarga. Saya yang sedang duduk sarapan bubur ayam tetiba disapa dan ditanya dari mana.

Mbak, kunjungan juga? Jam berapa sih dibuka gerbangnya?”
Enggak Bu, saya ada kegiatan sama adik-adik. Biasanya sih jam 9, Bu. Sebentar lagi mungkin.”
Wah, kegiatan sama anak-anak ya, Mbak. Saya orang tuanya … (sensor),” tanpa ditanya, Si Ibu sudah mengenalkan nama anaknya yang sedang menjalani masa binaan di LPKA.
Oh ya? Bu,” spontan reaksi saya.
Yaa Mbak, saya anggap ini sebagai ujian saya. Yaa lagi ada halangan. Saya terima ….”

Berasumsi, saya tahu ke mana arah pembicaraan ini. Kebetulan, Si Ibu berkunjung dengan membawa anak perempuan usia ABG (mungkin anaknya yang lain). Si anak perempuan ini menunggu dengan riang tapi tidak dengan Si Ibu. Matanya mulai memandang ke depan, menerawang, dan berusaha rela. Melihat itu, saya jadi enggak tega, “Eh, ee … Bu, saya ngembaliin mangkok bubur ayam dulu ya.”

Beuh, sejahat-jahatnya saya, si ekstrovert yang senang mengobrol tapi terpaksa undur diri dari ‘forum’. Please, saya enggak tega (PS. saya doakan, semoga Ibu selalu diberi kekuatan, amin).

Dan … Yaaa, Begitulah

Satu bulan tiga kali kunjungan ke LPKA membawa pengalaman tersendiri bagi saya. Ada saja ceritanya. Cerita yang kemudian selalu membuat saya berpikir karena saya duduk di dalam KRL Tangerang-Manggarai dan menghadap jendela. Bukan hal mudah hidup di antara pandangan negatif, bukan? But those kids, they have to survive. I would say, this is the real definition of a long journey. Day by day, month by month, year by year, and … sometimes, times change but not experiences. They are always there. Exist. Sigh.

Dokumentasi Inspirasa 2019

Kadang, di antara obrolan dengan adik-adik, ada juga kegelisahan yang saya temukan namun hebatnya, berhasil terbungkus rasa penerimaan. “Mau gimana lagi ya Kak? Dijalani aja.” Tetiba terlintas, seusia mereka, saya masih sibuk haha hihi membahas lagu-lagu boyband kesukaan bersama teman, tak pernah meresapi hidup sedalam itu.

Sedih, Het? Iya.

Tapi saya justru salah kalau saya sedih. Seketika berubah bangga melihat mereka dengan semangat berujar di hadapan saya, “Keluar dari sini Kak, aku mau bikin salon. Kakak mampir yaa besok ke salonku.”

Ya, sejatinya, tiap orang berhak untuk bercita-cita. Mau seperti apa masa lalunya, baik dan buruk itu bukan nilai akhir. Itu hanya akan jadi pengalaman, modal, bahkan amunisi dalam bercita-cita. Dan, kabar baiknya, semua anak di LPKA punya modal besar, hanya jalannya ‘lain’ memang 🙂

Saya sering ‘kesetrum’ sendiri pas moment seperti ini. Bisa berjumpa dengan adik-adik LPKA adalah kesempatan melihat mimpi orang yang lagi kelap-kelip-nya. Indah, kan? Tak padam tapi nyalanya ada. Oke, saya buat ini sederhana. Analoginya, jika mimpi adalah bintang, maka mimpi justru terlihat terang saat berada di kegelapan. Tinggal tugas adik-adik untuk menjaga mimpinya agar tetap menyala 🙂

Jadi, sampai jumpa di bulan September ya dengan tema belajar yang kedua!

* *

Cek tulisan saya sebelumnya di sini:
LPKA, Kelas Inspirasi Pertama Saya

Izinkan saya mengenang singkat gempa Jumat (2/8) malam lalu, toh Sabtu (3/8) pagi kemarin, beberapa Ibu di pasar masih heboh menceritakan kisah di rumah masing-masing.

… masak ya Bu, saya udah enggak kepikiran apa-apa. Saya teriakin suami saya … bla bla bla …

Jumat malam memang ada gempa, tepat saat saya berada di lantai 5 sebuah mall di kawasan Senayan. Dengan kekuatan 7,4, silakan dibayangkan sendiri guncangannya.

Banyak orang berlarian menuju eskalator, yang malam itu, menjadi jalan keluar satu-satunya. Banyak yang gandengan, tergopoh-gopoh, tak ingin terpisah bersama kesayangannya, barang belanjaannya, pun baby stroller! Seketika, eskalator full mirip eskalator di Stasiun KRL Tanah Abang saat akhir pekan atau rush hours (ehem, pernah coba??). Orang berbaris di anak tangga, berhimpit, berharap cepat sampai tapi eskalator melaju sesuai temponya.

Sisanya? Yang masih di lantai 5 tak bergeming. Ada yang berpelukan, ada yang langsung menundukkan kepala sibuk dengan HP-nya, ada yang masih linglung mau turun lewat mana (karena eskalator banyak orang), dan rupa-rupalah. Gestur panik saja yang saya lihat kala itu. Mungkin karena kejadiannya mendadak dan tak banyak yang bisa dilakukan.

Gempa memang mendadak kan ya? Tak terprediksi.

Lhah, kamu di mana Het? Ngapain Het?

Temukan saya di depan sebuah gerai makan sedang berdiri membaca menu dan bernego dengan teman saya apakah batita yang sedang berada di gendongannya bisa makan dengan menu semacam itu.

Mungkin saking fokusnya, kami (bertiga), justru asyik membaca menu dan mengabaikan orang-orang yang berlarian saat guncangan terjadi. Padahal eskalator tak jauh dari kami.

Het-het, apaan nih?” kata teman saya saat melihat fenonema orang-orang berlarian.

Mungkin ada artis.” Jawab saya lirih, singkat, dan masih tak mengerti. Aneh juga batin saya, guncangan orang berlarian mengejar artis sampai sebegitunya. Maklum, terakhir saya berada di gerai makan ini, ada seorang artis yang mengadakan ‘meet and greet’ dan membuat orang-orang mengular sekian meter.

Bukan, Het. Gempa ternyata. Kok nggak ada security warning atau halo-halo ya. Turun aja yuk! Tapi kita nanya security dulu ya!” kata teman saya dengan santainya seiring guncangan sudah mereda.

Sambil mengetik ini, saya masih tertawa mengingat percakapan (absurd) antara saya dan teman saya. Manajemen kepanikan macam apa? Kami memang benar-benar dalam kondisi sadar (bisa melihat, mendengar, bergerak, membaca) tapi gagal mengidentifikasi bahwa yang terjadi sebenarnya adalah …

g e m p a t u j u h k o m a e m p a t

dan kami sedang berada di …

l a n t a i l i m a

Sepulang dari sana, di dalam bus Transjakarta, saya sempatkan mengecek media sosial. Apa kabar saudara-saudara yang berada dekat area gempa? Prihatin.

Goncangan yang begitu kencang tapi saya bisa sebegitu wolesnya, “Het, are u ok?” Sejak gempa Jogja beberapa tahun silam, saya menjadi orang yang paling tanggap saat ada guncangan di sebuah bangunan. Saya bisa menjadi orang yang paling cepat berlari menuju pintu depan sebelum teman saya menoleh dan mengkonfirmasi, “Gempa ya?”, saya sudah tidak di desk saya, saya berada di pintu keluar kantor. Nyatanya, kini?

Agaknya, kepanikan atau level tanggap (ya, sebut saja begitu) sedang berada di angka 0. Saya memang merasakan guncangannya tapi pikiran saya malam itu tak sampai mengartikan bahwa itu adalah gempa. Tumben untuk seorang saya!

Malam itu, di perjalanan pulang, jadi berasa sekali. Ketidaktahuan justru seketika menjadi rahmat karena tak merasa kepanikan, kecemasan. Justru menang di situ bukan? Terselip rasa syukur di sana.

*

Hello August! New beginnings 🙂

Kak, nanti uang saya tinggal berapa?” Itulah pertanyaan Rachmat sedari tadi saya membantunya memilih baju. Dari hanger ke hanger saya geser mencari ukuran yang pas untuk badan kecilnya.

Masih cukup kok,” jawab saya santai tanpa menoleh sambil terus memilih baju bak fashion stylist.

Sesekali juga, saya mengajarkan Rachmat penjumlahan. Dia bertanya. Ternyata, ada nada-nada kecemasan di sana. Satu baju sekian, uangnya sisa sekian. Dua baju sekian, sisa sekian. Saya hanya ingin meredam kekhawatirannya. Tak butuh waktu lama, mantap, dua baju sudah ada di tangannya. Saya tawarkan lagi jika Rachmat mau melihat-lihat yang lain tapi ditolaknya.

Uangnya mau buat sekolah, Kak,” Rachmat berkata polos. Uang ini memang miliknya sekarang, sejak beberapa menit yang lalu. Saya tak kuasa memaksa walau mandatnya, uang 200.000 rupiah harus dihabiskan untuk membeli apa yang mereka suka malam itu. Saya? Menemani saja.

Sebenarnya, kalau mau buka kartu, saya seorang pendamping shopping yang baik. Ehem. Mau jalan ke mana hayuk, mau bandingkan harga antartoko oke. Sayangnya, itu hanya berlaku jika partner belanja saya perempuan. Selebihnya, yang laki-laki, selalu menolak. Ya, Rachmat salah satunya. Entah kenapa, sampai detik ini, saya selalu impress dengan kaum adam yang cepat sekali kalau belanja. Tak gemar mereka berputar-putar.

Ini uangnya, dibayarkan di kasir sendiri ya. Selebihnya, bisa disimpan. Buat kamu. Sini amplopnya kakak bantu buka.”

Kak, ini tadi diskon ya?” Rachmat abai dengan kalimat saya. Dia lebih berbinar bahwa akan ada uang sisa di tangannya.

Sedangkan Rachman, anak yang saya temani belanja lainnya, tak banyak bicara. Dia memang lebih dewasa. Saat mencoba celana pertama di fitting room, saya antar. Celana kedua, saya biarkan. Dia tampak lebih pede. “Kami tunggu di sini ya? Kamu tahu jalannya kan?”

Tak lama Rachman kembali. Wajahnya sumringah dengan tangan menggenggam celana warna coklat. “Saya mau ini Kak. Saya suka. Pas.”

Sambil menunggu keduanya antri di kasir, saya merasa lucu ada di belakang mereka. Merasa lucu bertanya apa yang mereka suka, merasa lucu bertanya mereka mau beli apa, merasa lucu saat mengantarkan ke fitting room, merasa lucu saat menjelaskan beli 1 diskon 30%, beli 2 bonus 1, merasa lucu menjelaskan ukuran baju.

9-10, kamu kekecilan, 13-14 kamu kebesaran, jadi ukuran kamu 11-12, tapi habis. Mau coba model lain? Ini yang merah bagus?”

Walau rekomendasi saya sukses ditolak Rachmat, saya bangga juga Rachmat akhirnya yakin dengan pilihannya. Ternyata, dia lebih suka warna baju hitam dan abu daripada warna-warna cerah yang saya pilihkan.

Belanja dengan mereka ternyata singkat. Enggak sampai tiga puluh menit, Sist! Ekspektasi saya salah semua. Mereka tahu yang mereka mau, bahkan mungkin yang dimimpikan selama ini. Tapi jujur, surprise juga saat masih ada rasa sungkan untuk habis-habisan dengan uang yang diberikan. Seperti Rachmat yang ingat biaya sekolahnya. Bahkan, dari cerita teman yang mengantarkan belanja anak lain, ada juga yang ingin uangnya disimpan saja. Dia ingin uangnya untuk membelikan adiknya mainan.

Huhu, tetiba teringat seringnya jemari ini begitu terampil mengendalikan mouse memindahkan barang ke keranjang belanja dan klik ‘check out‘, transfer, tanpa pertimbangan apapun. Impulsive buyer? Totally, yes.

Sebisa-bisanya saya berprasangka saja. Apa ya yang dilihat anak-anak ini di keseharian ya? Apakah hanya lembaran rupiah yang mampu menjelaskan? Saya tak yakin. Mungkin ini hanya kacamata orang dewasa dan saya pernah kok menjadi anak-anak seusia mereka. Banyak memang hal-hal yang tak bisa dijelaskan.

Seperti dulu, saat belajar Corel Draw otodidak, saya mendesain pin, dan menjualnya di toko buku dekat rumah. Minggu berikutnya, si penjaga toko menitipkan pesan ke ayah saya kalau saya sudah bisa mengambil uang hasil penjualan pin. Sampai di rumah, bukan pujian berhasil menjalankan bisnis, namun perkataan penuh sayang seorang ayah kepada anak perempuannya. “Dek, kamu kalau butuh uang, ngomong dong sama papa. Kamu butuh uang berapa kok sampai jualan?” Benar adanya kan, tak semua hal bisa dijelaskan. Hanya perlu diterima dan didoakan saja.

Dokumentasi Bunga Ramadhan 2019 – Hijab Motion

Lewat tulisan ini, saya ingin terus terkenang-kenang belanja bersama Rachmat dan Rachman. Saya belajar di sini. Kenal sekian menit, belanja sekian menit tapi berhasil meninggalkan makna. Sederhana ya tapi bisa jadi pengingat bagi saya si tukang belanja. Saya bahkan lupa belajar belanja sejak kapan? Sejak mulai mengeja a-b-c-kah? Atau ini benar-benar naluri seorang perempuan? ‘Given‘? Saya yang sering lupa bersyukur ini dan kadang tak berpikir yang di sana-sana hanya bisa berdoa, semoga keduanya senantiasa sehat dan berada dalam kebaikan.

Malam itu, sebelum berpisah, keduanya mengajak saya bersalaman. Bahagianya tak bisa disembunyikan. Saya pun. Malu-malu mereka bilang, “Makasih ya Kak Hety.”

Kemang Village, Ramadan 1440 H/2019

Ada film yang udah saya tonton beberapa waktu lalu tapi belum sempat saya tulis. Berhubung saya emang suka-sukanya, lebih baik saya tulis walau filmnya udah bye-bye dari 21. Yang belum nonton, enggak boleh nyesel ya ..

(Sumber: IMDb.com)

The Mule, begitu judulnya. Film yang konon based on true story itu (the New York Times Magazine “The Sinaloa Cartel’s 90-Year Old Drug Mule”), bagi saya menyimpan kejutan. Siapa sangka ya, cerita tentang kurir narkoba – yang biasanya angle-nya melulu action: tembak-tembakan, justru menjadi kisah manis tentang keluarga. Yass, masih dalam rangka ‘Harga yang Paling Berharga di Tahun 2019’ (seperti cerita blog saya sebelumnya), mari kita refleksikan di sini. Aish!

Cerita berkisah tentang seorang laki-laki tua (sebut saja Si Kakek) yang suka bunga dan punya usaha kebun bunga. Walau sudah renta, Si Kakek nampak baik-baik. Apalagi, di lingkungan sosialnya. Si Kakek adalah sosok ‘flamboyan’ yang selalu hadir di acara ‘kumpul-kumpul’ dan memenangkan sejumlah kontes tanaman. Sayangnya, usaha yang dikelola secara tradisional itu, tiba-tiba bangkrut karena kalah saing dengan toko bunga yang dipasarkan secara online.

Bangkrutnya usaha Si Kakek bertepatan dengan hari pertunangan cucu perempuan satu-satunya. Saat Si Kakek hadir ke acara itu, muncul adegan drama antara Si Kakek dengan istri dan anak perempuannya. Mereka saling beradu mulut di depan para tamu undangan. Di sinilah penonton mulai bisa menilai bahwa ternyata kehidupan Si Kakek yang dikenal sebagai ‘social butterfly‘ di pergaulannya, tidak baik-baik saja.

Buntu dan merasa tidak berharga di mata keluarganya, Si Kakek kemudian meng-iya-kan random tawaran pekerjaan untuk menjadi kurir alias juru antar paket. Itu menjadi satu-satunya pilihan karena hanya kemampuannya menyupir-tanpa-pernah-kena-tilang-seumur-hidup dan mobil pick up tua yang tersisa sebagai modal. Pun syaratnya juga mudah, harga mati Si Kakek tidak boleh membuka benda yang diantarkannya.

Layaknya film bergenre adventure, cerita selanjutnya menggambarkan perjalanan Si Kakek setiap mengantarkan paket. Unik sih atau sekadar agar penonton tidak jemu dengan adegan Si Kakek yang berada di balik kemudi. Ada saja yang dijumpai Si Kakek dalam perjalanannya, termasuk kebaikannya menawarkan pertolongan pada pengendara yang mobil bannya kempes, bertegur sapa dengan polisi, bernyanyi riang di dalam mobil, dan mampir di tempat makan terkenal di tiap kota. Contoh di atas cukup lumrah untuk menunjukkan kepribadian Si Kakek yang hangat. Sayanngnya, hal itu tetap menjadi poin kontra tersendiri ketika kita teringat konflik yang terjadi di tengah keluarganya.

Di bulan kesekian, akhirnya Si Kakek sadar benda apa yang selama ini diantarnya. Bukannya insyaf, Si Kakek yang veteran perang Korea dan konservatif bin nasionalis ini justru ketagihan. Bagaimana tidak, dengan hanya bermodal kepiawaiannya di jalan raya, Si Kakek mampu menghasilkan banyak uang dan membeli apa yang diinginkannya, termasuk (membantu) membeli bar milik sahabatnya yang nyaris tutup karena kehabisan modal.

See, betapa baik hatinya Si Kakek memberikan kebahagiaan untuk orang walau tetap salah sih kalau lihat uangnya dari mana 😦

Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu jatuh juga. Entah ada berapa macam peribahasa Bahasa Indonesia semacam itu. Banyak kan ya? Intinya, perbuatan yang tidak baik pasti akan ketahuan juga. Di saat polisi mulai meningkatkan pengawasannya, mafia kartel narkoba yang makin temperamen, serta makin banyaknya ‘barang’ yang harus diangkut, Si Kakek mendapatkan kabar bahwa istrinya (sebut saja Si Nenek) sakit keras. Si Kakek yang punya track record buruk tidak pernah menghadiri acara keluarga sekalipun ini (kecuali acara cucunya), tetiba hadir dan berada di sisi Si Nenek yang sekarat. Keluarga terkejut dan menilai bahwa Si Kakek mulai berubah.

Oh ya, walau musuhan sama istri dan anaknya, Si Kakek ini deket banget sama cucunya.

Di detik-detik jelang kematiannya, Si Nenek akhirnya buka suara. Setelah beromantis ria mengatakan bahwa Si Kakek adalah cinta sejatinya, Si Nenek mengakui bahwa Si Kakek adalah orang yang baik. Sayangnya, kebaikan Si Kakek hanya mampu dirasakan oleh orang-orang di luar sana, sedangkan di keluarganya sendiri, semua tidak dapat merasakan hal yang sama. Nyess! Enggak sampai di situ aja, Si Nenek juga menambahkan bahwa, “Untuk dekat dengan kami (keluarga), kami tidak perlu hartamu, hanya kamu.”

Huhuhu. Jleb banget yak! Ini macam sindiran bagi para pekerja yang bekerja keras bagai kuda di kantor tapi lupa sama keluarganya di rumah. Waktu kebersamaan yang hilang enggak pernah bisa tergantikan dengan uang 😦 #selfnote

Harta yang paling berharga adalah … A. Keluarga B. Uang (sumber gambar: IMDb.com)

Selain sarat nilai-nilai keluarga, menurut saya, film ini juga dengan terampil menyindir masyarakat yang kini lebih asyik sendiri dengan ponselnya daripada saling bertegur sapa dengan orang. Si Kakek yang diceritakan gagap teknologi (gaptek) seolah menjadi korban perubahan zaman. Si Kakek yang polos sempat mengutuk toko bunga online yang membuat usahanya bangkrut, serta Si Kakek yang tidak bisa menggunakan ponsel layar sentuh sehingga harus diajari pelan-pelan oleh anak buah Si Mafia. Juga, Si Kakek yang kolot kerap memprotes tingkah anak ‘zaman now‘ yang tidak tahu cara menjalani kehidupan. Tapi balik lagi, bisa apa ya Si Kakek? Perubahan adalah suatu keniscayaan.

Terus-terus gimana dong nasib Si Kakek selanjutnya? Gimana nasib polisi-polisi yang selama ini ‘nguber’ Si Kakek? Ketemu enggak? Gimana nasib kartel narkobanya? Gimana kehidupan keluarganya? Apakah mereka berubah pikiran dan menerima Si Kakek? dan halo, apa kabar hukum dan Undang-Undang peradilan?

Stop! Saya enggak mau mendapat gelar Miss Spoiler dengan menuliskan semua jalan ceritanya di sini, termasuk ending-nya!! #Sikap Yang jelas, Si Nenek akhirnya meninggal karena emang udah sekarat. Ya kali sinetron Indonesia, dari sekarat langsung segar bugar :p

Jadi, happy ending? Sad ending? Hmm, hanya penonton yang udah nonton yang tahu hihi. Walau selama film berlangsung ada rasa getir dan kasihan-kasihan gimana gitu melihat Si Kakek yang sudah tua berikut dinamika masalahnya (angkat topi untuk Clint Eastwood), ada Om Bradley Cooper yang menjadi vitamin A, me-refresh suasana. Don’t worry :p

Yang jelas, setelah filmnya selesai, saya jadi mikir dan makin meng-iyakan. Benar adanya, sebuah perjalanan justru membuat kita belajar. Bisa jadi kita lebih open-minded, bisa jadi lebih bijak, atau justru sebaliknya. Semuanya pilihan! Dan, sekali lagi, ini semua bukan tentang tujuan akhir yang ingin kita tuju, melainkan tentang perjalanan itu sendiri. Proses!

*

So, here we go. Lewat tulisan ini, officially, ‘The Mule’, bakal jadi film yang akan saya kenang-kenang dalam pikiran sepanjang masa. Layaknya, film ‘The Shawshank Redemption’ (1994) yang bikin saya takjub walau dirilis 25 tahun yang lalu.

Tapi entah kenapa ya, walau menurut saya dua film ini sama-sama unik dan bagus, standard netizen ternyata beda. ‘The Shawshank Redemption’ (1994) mendapatkan skor 9,3/10 bintang, sedangkan ‘The Mule’ (2019) hanya 7,2/10, pertulisan ini diunggah.

Tapi biarlah, perbedaan selera itu wajar. Cek aja di mamang-mamang nasi goreng, ada yang minta cabe dua, ada yang minta cabe enam. Ya kan?? #ApaSihHet

Sampai jumpa di film berikutnya ya! 🙂

Nampaknya, tak ada kesan yang cukup mendalam dari Jakarta selain macetnya. Ya, ini bukan hanya pendapat saya pribadi lho, melainkan jawaban dari teman-teman dari negara lain yang sempat ‘main’ ke Jakarta selama beberapa bulan. Semuanya shock dan agak stress karena yang selama ini cuma dilihat di berita, benar-benar nyata, melihat dengan mata kepala sendiri.

Dari tiga orang yang sengaja saya tanyai, semua kompak menjawab naik motor menjadi cara paling tepat di Jakarta agar bisa cepat sampai ke daerah tujuan menembus kemacetan. Walau, sesungguhnya, dibalik jawab mereka, naik motor juga bukan pilihan yang ‘baik’ versi mereka selama tinggal di Jakarta. Para bule itu sempat dilarang naik motor di Jakarta oleh lembaganya karena dianggap membahayakan. Sssttt, walau ada juga yang curi-curi kesempatan dan tetap riang naik motor di Jakarta karena berasa sedang berpetualang. Heu …

Saya senyum-senyum saja mendengar cerita teman-teman bule saya itu yang datang ke Jakarta dalam periode waktu yang berbeda. Yah, dibandingkan dengan negara asal Si Bule, Jakarta memang lebih ‘meriah’ untuk urusan moda transportasi. Pun baru pertama kali naik motor, mereka meng-iya-kan bahwa pilihan naik motor di Jakarta cukup beralasan jika jalanan macet dan beberapa petimbangan lain terkait fasilitas bagi si pengguna transportasi publik yang katanya masih kurang.

Edisi Nostalgia

Sejak merantau di Jakarta tahun 2012, saya akrab betul dengan bus kota dan Terminal Blok M. Kala itu, ke mana pun arah perginya, asal bisa turun di Terminal Blok M, saya sudah bisa paham menemukan jalan pulang. Maklum, Terminal Blok M adalah salah satu sentral terminal bus di Jakarta. Mengapa saya pilih bus? Jawabannya, tak ada pilihan. Sebagai perantau yang tak punya kendaraan pribadi, bus kota adalah satu-satunya kendaraan umum yang bisa dipilih, selain angkot. Tentang bajaj dan ojek (motor) pangkalan, BYE! Saya menyerah beradu tawar soal harga, belum lagi, saya yang belum hafal jalan ini bisa kesasar.

Bayangkan! Dengan bus, saya tinggal cek di Google alamat tujuan, lalu menyamakan dengan rute dan angka bus yang biasanya terpampang di kaca depan dan belakang. Belum lagi, tarif bus yang tergolong murah dan bisa berhenti di mana saja sesuai lambaian tangan, serta tentang macet: (kadang) supirnya bisa segarang itu untuk ‘membuka jalan’. Menarik bukan? Bonus: ‘interaksi sosial’ dengan kondektur dan supir memudahkan saya untuk menemukan suatu alamat.

Turun sini aja ya Mbak, hati-hati, kaki kiri dulu. Nanti Mbak tinggal jalan sedikit. Busnya belok soalnya,” salah satu perkataan supir Kopaja yang masih melekat saat saya bingung mencari alamat di bilangan Pasar Minggu beberapa tahun lalu.

Sungguh pun demikian, di dalam bus konvensional (izinkan saya menyebutnya demikian) itu getir juga. Penumpang yang tak saling kenal, sesekali saling berkeluh-kesah, beradu dengan suara klakson kendaraan. Salah satunya, ya tentang kemacetan Jakarta. Kapan semua ini berakhir, katanya. Ada yang menerima tabah, ada juga yang kritis tak sabar menanti perubahan.

‘Drama-drama’ Kopaja atau Metromini yang saya alami masih banyak sebenarnya dan itu tidak membuat saya kapok menggunakan trasportasi publik di Jakarta. Terbukti, seiring berganti waktu, berpindah rumah, dan berganti tempat kerja, saya tetap menjadi ‘Jakartan’ (sebutan untuk penduduk Jakarta) yang menggunakan transportasi publik. Namun, karena letak halte yang dekat, jumlah koridor yang berkembang banyak, dan peningkatan kenyamanan bus, pelan-pelan saya beralih menggunakan bus Transjakarta. Saya tepat meninggalkan Kopaja dan Metromini saat tarifnya Rp 4000, sedangkan Transjakarta Rp 3.500 (eh, sampai sekarang kan ya?). Bukan, ini bukan melulu soal harga yang terpaut Rp 500, lebih dari itu, tiga hal yang sudah saya sebutkan di atas membuat saya saya tidak lagi menggunakan bus Kopaja dan Metromini, yang sempat menjadi ‘idola’ pada masanya.

Lantas, apakah dengan hadirnya Bus Transjakarta (dengan segala fasilitas yang lebih baik dari sebelumnya), masalah transportasi publik dan kemacetan di Jakarta selesai? Nyatanya, …

Blam!!

Saya bisa terkenang-kenang sedemikian rupa saat menjelajah tunnel alias terowongan, jalur MRT bawah tanah di Stasiun Dukuh Atas. Semua memori suka duka naik transportasi publik di Jakarta seolah kembali. Hari itu (17/2), saya dan beberapa content creator mendapat kesempatan untuk masuk ke tunnel MRT Jakarta dari Stasiun Dukuh Atas.

Didampingi dua petugas, selama satu setengah jam, kami berjalan kaki dan berbincang tentang pembangunan MRT di Jakarta. Kami berjalan kaki bersama dari Stasiun Dukuh Atas sampai ke Bundaran Hotel Indonesia (HI) kurang lebih sejauh 850 m (dan PP lho! Dikali dua sama dengan olahraga, tuk wak tuk wak!)

Dokumentasi: Ijoeel

Gimana rasanya? Campur aduk!!

Bagi teman-teman yang ketinggalan hiruk-pikuk MRT Jakarta, MRT Jakarta yang teman-teman lihat saat ini merupakan hasil pembangunan fase I (nantinya akan menjadi koridor 1). Jalurnya membentang sepanjang 16 km dari Bundaran HI sampai Lebak Bulus. Jalur tersebut meliputi 10 km jalur layang (elevated) dan 6 km jalur bawah tanah (underground).

Pada pembangunan fase I ini, ada tiga ragam stasiun:
– 7 stasiun layang : Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja
– 1 depo : Lebak Bulus
– 6 stasiun bawah : Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia

Pembangunan Fase I MRT Jakarta

Buat teman-teman calon pengguna MRT, sila dihafal ya. Walau biasanya kalau udah sering naik, bakal hafal sendiri.

Konstruksi Bawah Tanah (Underground)

Kemarin, kami mengunjungi salah satu stasiun bawah tanah yang ada di kawasan Sudirman, yaitu Stasiun MRT Dukuh Atas, melalui pintu lima yang terletak tidak jauh dari stasiun BNI City. Jika dihitung, ada 6 pintu stasiun untuk menuju stasiun bawah tanah Dukuh Atas.

Begitu sampai di pintu, kita akan menjumpai anak tangga yang menuntun kita turun ke bawah. Berapa jumlahnya? Hmm … Bocorannya, bisa buat Jakartans olahraga hehe. Tapi tenang, nantinya, akan disediakan juga eskalator sehingga orang-orang lebih nyaman untuk turun.

Setelah melewati beberapa anak tangga, pemandangan selanjutnya adalah deretan mesin untuk tapping tiket. Sepintas, pemandangannya seperti di stasiun KRL pada umumnya. Ada satu bagian dari deretan mesin tapping tiket yang jaraknya dibuat lebih lebar dan dikhususkan untuk teman-teman yang berkebutuhan khusus (menggunakan kursi roda).

… dan taddaa … . Kita sudah berada di sebuah ruangan atau hall yang kanan-kirinya adalah pintu yang membuka dan menutup otomatis sesuai datangnya kereta. Tak lupa juga, ada papan informasi tentang jalur kereta. Pokoknya, mirip di luar negeri! Hmm …

Setelah puas melihat ‘badan’ stasiun, akhirnya, kami dibawa menuju terowongan tempat kereta-kereta MRT lewat. Salah satu peserta ada yang spontan bertanya, “Ini pas enggak ada kereta lewat kan ya Pak?” Tentu saja ini langsung disambut gelak tawa oleh peserta lain.

Tenang, sudah diatur kok, Mas. Bukan jamnya,” jawab salah satu petugas sambil tersenyum.

Layaknya terowongan bawah tanah jalur kereta kebanyakan, sebenarnya tak ada yang istimewa. Pemandangannya boleh dibilang seperti di film-film luar negeri, saat penjahat mencoba kabur dari kejaran polisi dan bersembunyi di terowongan bawah tanah jalur kereta (eh, apa sih). Selain rel (tentu saja), ada pipa-pipa instalasi, pola dinding terowongan yang terlihat jelas, dan jalan kecil berpagar untuk patroli petugas.

Berdasarkan informasi yang kami dapat, metode pengerjaan konstruksi bawah tanah ini menggunakan Tunnel Boring Machine (TBM) tipe Earth Pressure Balance (EPB) Machine, dengan pembagian koridor paket pengerjaan menjadi tiga yaitu CP 104, CP 105, dan CP 106.

Walau, sekali lagi, pemandangannya mirip di film-film yang saya lihat di TV, di sela-sela penjelasan Bapak petugas kemarin, saya tak bisa berhenti berdecak kagum. Berulang kali, saya berguman dalam hati, “Akhirnya!”

Ya, Akhirnya!

Saya salut dengan hasil pembangunan yang saya lihat kemarin. Sebagai salah satu content creator yang diundang, saya benar-benar menyaksikan sendiri semuanya. Berkiblat teknologi dan kolaborasi dengan perusahaan Jepang, semuanya sempurna, bagi saya. Serta, kerja keras bangsa Indonesia. Keamanan dan kenyamanan bangunan tunnel dan keseluruhan stasiun MRT ini terasa betul-betul dipertimbangkan. Dari pemasangan badan atau rangka tunnel, struktur dan konstruksi rel, sampai pipa-pipa yang diatur sedemikian rupa. Terlebih stasiun Dukuh Atas ini terletak dalam, di bawah sungai.

Tiba-tiba, saya kembali terbayang keluh-kesah pengguna jalan raya Thamrin, Sudirman, sampai Blok M yang selama ini terusik oleh pembangunan MRT. Macet dan padat merayap menjadi pemandangan sehari-hari. Jalan yang semula lebar, menyempit pelan-pelan dan harus berbagi lagi dengan jalur busway, dan tersekat oleh papan-papan pembatas proyek. Tapi dengan hasil pembangunan MRT yang mendekati selesai ini, semuanya terbayar sudah!

Jujur, sampai tulisan ini dibuat, saya masih deg-degan, tak sabar mencoba MRT Jakarta. Walau minggu lalu, sudah dilakukan uji coba oleh beberapa pihak dan semuanya puas.

Ya, kami tak sabar menjadi pengguna MRT Jakarta. MRT yang katanya menjadi sebuah terobosan transportasi publik untuk mengatasi kemacetan Jakarta. Mengajak ‘Jakartans’ beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Pelan-pelan, semuanya berbenah, dari penataan Bus Rapid Transit (BRT, yaitu Bus Transjakarta), MRT, kawasan pedestrian untuk pejalan kaki, serta perilaku berkendara dan menggunakan transportasi publik itu sendiri.

MRT Untuk Jakarta Yang Lebih Happy 7

Dokumentasi: Ade

Kebayang nggak sih? Bahagianya kamu ketika bisa on-time ke kantor dengan MRT, bahagianya kamu ketika enggak kena macet di jalan dan uring-uringan sendiri, bahagianya kamu ketika baju tetep rapi walau naik kereta berdiri, bahagianya kamu ketika bisa bertegur sapa dengan penumpang lain yang sebelumnya enggak saling kenal. Yes, MRT! Semuanya untuk Jakarta yang lebih happy!

*

Untuk semua itu, rasanya, bertepuk tangan dan angkat topi atas kerja keras semua pihak enggaklah cukup. Menjaga dan merawat MRT dan segala fasilitasnya justru menjadi cara tertinggi mengapresiasi segala capaian pembangunan ini.

Bersuka cita menyambut MRT di Jakarta. TIGA HARI LAGI! Yuk, hitung mundur!

Jangan lupa, update terus perkembangan MRT Jakarta lewat akun Instagram @mrtjkt #MRTJakarta #UbahJakarta

*

Tentang MRT
MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta adalah kereta perkotaan otomatis bawah tanah pertama di Indonesia yang hadir tidak hanya sebagai angkutan umum massal, tapi juga sebagai katalis perubahan gaya hidup dan mobilitas masyarakat dengan mengedepankan aspek penataan kawasan yang ramah pejalan kaki, mendorong integrasi antarmoda, serta pengurangan penggunaan kendaraan pribadi.

*

Referensi:
Brosur MRT Jakarta di Information Center MRT, Stasiun Dukuh Atas
Website resmi MRT Jakarta https://www.jakartamrt.co.id

Salah satu efek abis nonton adalah menulis. Ini tentang film Keluarga Cemara dan (sedikit) nostalgia cerita keluarga saya.

*

Sebagai generasi 90-an, televisi (TV) adalah sahabat saya. Apalagi hari Minggu. Kala itu, banyak sekali tayangan (terutama kartun!) yang bikin betah berlama-lama di depan TV, sampai jadi musuh mandi. Eh gimana maksudnya? Iya, pasti dapet komplain dari mama, “Hayoh, sana mandi dulu, jangan nonton TV terus!”

Pun jadi musuh mandi, ada kalanya juga, mama dan papa justru merekomendasikan beberapa acara TV yang ‘mendidik’. Eng, ‘mendidik’ versi mereka yaa… Sebut aja, sinetron ‘Si Doel Anak Sekolahan’ atau ‘Keluarga Cemara’. Hum hum, dua acara itu adalah acara favorit orang tua saya yang sebisa-bisanya mereka selalu mengajak saya dan Mbak nonton bareng.

Papa dan mama memang penggemar acara-acara TV ‘non-hedon’ alias ‘yang tidak menjual kemewahan’. Berulang kali, kalau ada kalimat atau ucapan pemain dari dua sinetron itu yang menurut mereka inspiring, kompak mereka berkata pada saya dan Mbak, “Tuh, dengerin!”. Saya sih manggut-manggut saja kala itu, tak banyak mengerti sebenarnya hehe.

Daaaaan … siapa sangka, setelah ‘Si Doel Anak Sekolahan’ (saya skip enggak nonton), giliran ‘Keluarga Cemara’ yang diangkat ke layar lebar tahun 2019 ini. Yeah, sejak tahun 2018, penonton udah diajak tak sabar menantikan lewat cuplikan video atau gambar nostalgia. Yes, cerita Keluarga Cemara memang hits pada masanya. Jadi, hanya lewat sepenggal lirik “Harta yang paling berharga adalah … ” saja orang sudah tahu pasti KELUARGA CEMARA!

Jalan cerita Keluarga Cemara versi bioskop kali ini enggak jauh beda sama di TV (cerita sebelumnya). Walau ada beberapa penyesuaian agar nampak ‘kekinian’ slash relevan dengan zaman sekarang. Misal, dari Abah yang tukang becak menjadi driver Gojek. Pun demikian, keluarga Cemara masih berusaha menggambarkan potret keluarga miskin yang bahagia, mampu hidup apa adanya, menerima cobaan dengan tabah, kreatif dengan keterbatasan, ikatan antaranggota keluarga yang kuat …, pokoknya yang serba positif, menurut saya. ‘Sempurna’!

Pas nonton di bioskop kemarin, sebenarnya, saya telat masuk studio sekian menit. Saat duduk, adegan sudah tentang Abah yang membagi-bagikan pesangon kepada para pekerjanya. Walau enggak mengikuti dari awal bagaimana Abah jatuh miskin, kalimat seorang pekerja, “Abah kan sedang ada masalah, kenapa masih ngasih uang ke kami?” cukup memberikan gambaran bahwa hidup Abah sedang berubah drastis dari semula kaya menjadi miskin.

Oh ya, dulu, saat saya kecil, yang saya tangkap dari cerita Keluarga Cemara adalah potret kemiskinan sebuah keluarga tukang becak yang dihadapi dengan riang. Semua sikap yang ditunjukkan keluarga Abah mirip dengan pelajaran PPKN yang diajarkan Ibu Guru di sekolah. Penuh keteladanan. Sekarang, setelah saya dewasa, di film, saya lebih melihat ke pentingnya pola asuh anak dalam sebuah keluarga. Bagi saya, konflik antara Abah dan Euis yang ditampilkan di (hampir) sepanjang film lebih kental daripada masalah kemiskinan yang harus mereka hadapi itu sendiri. Ibarat, dengan pola asuh yang benar, anak dapat tumbuh dengan baik dan ‘tahan banting’ dengan kondisi apapun. Enggak salah jika #KembalikeKeluarga jadi tagar promosi film ini di media sosial. Ya, keluarga memang penting, keluarga adalah pondasi utama, tempat berpulang juga.

Sayangnya, walau enggak secara substansi drastis mempengaruhi jalannya cerita, ada beberapa hal yang mengganggu saya sepanjang film. Setelah gambaran kondisi miskin yang telaten dibangun sejak awal film (ditipulah, jobless, makan dengan lauk seadanya, dll), keluarga Abah tetap digambarkan punya akses internet. Walau sempat diinfokan bahwa rumah Abah tidak bersinyal sehingga telepon harus diletakkan di atas pohon (detailnya: rumah pohon dan bahkan HP-nya dimasukkan dalam plastik), tetap saja agak janggal bagi saya.

Gambaran ini mengingatkan saya saat bertugas di sebuah pulau yang sama sekali tidak ada sinyal. Untuk mendapatkan sinyal, HP harus digantung di tempat dan ketinggian tertentu. Pun nanti ada sinyal (satu atau dua bar/strip) tetap saja tidak kuat untuk internetan, hanya sinyal telpon-sms saja. Jadi, visualisasi saya masih campur aduk saat melihat Euis bisa bebas mengakses internet di atas rumah pohon.

Yaaa sebenarnya, enggak salah juga sih miskin tapi bisa punya akses internet. Positive thinking. Bisa jadi di suatu negara, saking terjangkaunya internet, semua lapisan masyarakat dari level ekonomi manapun bisa mengakses. Selain itu, saya jadi ingat cerita teman saya, seorang peneliti, yang berkeliling Indonesia untuk kepentingan risetnya. Temuannya, bahwa semiskin-miskinnya orang Indonesia yang dia wawancarai, pasti punya HP. Serta, seorang teman yang bekerja di UNHCR, lembaga PBB khusus pengungsi, menyebutkan bahwa kebutuhan vital pengungsi di kamp pengungsi selain sandang, pangan, papan, juga akses internet! Tujuannya agar mereka bisa tetap mendapat akses informasi dan berkomunikasi.

Ah, maafkan kalau saya jadi terlalu detail. Saya hanya menyampaikan beberapa hal yang janggal membuat kening saya berkerut sesaat selama film berlangsung. Menarik ya, ada pergeseran sosial ekonomi, di mana ternyata akses internet atau pulsa sudah menjadi kebutuhan pokok saat ini. Lagian, dalam cerita, Si Abah kan jadi driver Gojek? Gimana ceritanya, driver Gojek tanpa akses internet? Heu heu.

Oh ya, nyinyir terakhir, soal soundtrack atau lagu yang diputar sesekali selama film. Lagu-lagunya menarik, sejenis lagu di film Petualangan Sherina (2000) yang mampu menambah kesan dramatis dan mengharu biru adegan. Sayangnya, menurut saya, karakter lagunya enggak begitu kuat dan kurang greget kalau mau disandingkan dengan lagu-lagu ‘Sahabat Kecil’-nya Ipang dan ‘Ku Bahagia’-nya Sherina di film Laskar Pelangi (2008). Padahal saya baru sadar, BCL yang menyanyikan salah satu lagunya.

Jadiiii … terlepas dari semua itu, menurut saya, tetep nontonlah! Nice to see yaaa jika kamu masuk generasi penonton sinetron Keluarga Cemara di TV. Itung-itung nostalgia dengan jalan cerita yang adem. Pun, film ini baru buat kamu, enggak apa-apa juga, ajak seluruh anggota keluarga untuk duduk manis dan menonton film ini bersama.

So, happy watching! Mumpung masih anget di bioskop.

*

Keluarga Cemara
Tanggal rilis: 3 Januari 2019 (Indonesia)
Skor IMDB: 8,2/10

%d bloggers like this: