Berfoto, Bergaya, Berbagi, Bisa!

Saya terpana saja saat tiba-tiba Cinderella dan Little Red Riding Hood (Gadis Berkerudung Merah) menjadi bagian dalam cerita ponsel pintar ZTE saat acara blogger gathering kemarin (6/5) di Penang Bistro, Jakarta. Detik berikutnya, saya hanya tertawa. Olala, ada-ada saja … Ada apa dengan Cinderella dan Gadis Berkerudung Merah?

Dunia gadget di Indonesia kembali dimeriahkan dengan kehadiran ponsel pintar berkekuatan Snapdragon Octacore 64-bit. Ponsel yang diproduksi ZTE itu adalah Blade S6. Sebagai pemain lama di pasar telekomunikasi, ZTE cukup jeli dalam melihat peluang di Indonesia. Tanpa menunggu waktu lama, akhirnya, tanggal 5 Mei 2015, ZTE Blade S6 resmi diluncurkan di Indonesia.

Orang Indonesia Suka Berfoto
Faktanya, orang Indonesia memang suka berfoto. Mereka suka mengabadikan momen lewat foto saat berkumpul bersama keluarga atau kerabat. Walaupun foto bukan ditemukan oleh orang Indonesia, ini adalah kebiasaan yang muncul seiring dengan kemajuan teknologi di dunia. Ponsel dengan layar lebar, ponsel dengan kamera beresolusi tinggi, bahkan sampai selfie stick (tongkat narsis atau tongsis), semuanya mendukung kebiasaan berfoto ini.

Dokumentasi Lazada.com

Dokumentasi Lazada.com

Dokumentasi Lazada.com

Dokumentasi Lazada.com

ZTE Blade S6 menggunakan sensor IMX 214 dengan resolusi kamera depan sebesar 13 megapiksel, yang tersusun dari lensa 5 elemen-aspherical dan blue glass infrared. Sehingga, hasil foto yang dihasilkan menjadi lebih terang dan tajam, walaupun dalam kondisi pencahayaan yang minim. Selain itu, dengan kamera depan sebesar 5 MP dan tombol foto di seluruh layar, selfie menjadi lebih mudah. Tak hanya selfie, kamera depan ZTE bisa digunakan untuk wefie (selfie dengan banyak orang) karena didukung dengan sudut pandang lensa 88 derajat.

Dijamin, dengan teknologi ponsel seperti ini, kita akan semakin sering berfoto bersama dan mengabadikan setiap momen di sekitar kita.

Orang Indonesia Suka Bergaya
Dari lip sync di Youtube, tren tongsis, sampai tren batu akik baru-baru ini, membuktikan bahwa orang Indonesia adalah orang yang suka hal-hal unik, mengikuti tren dan penuh gaya. Jika ada hal baru yang lain daripada yang lain, kecenderungan yang terjadi adalah mengikuti tren itu agar tidak ketinggalan zaman.

Nah, ada yang unik dari ZTE Blade S6 yang pastinya disukai oleh orang-orang Indonesia. Ponsel ZTE Blade S6 dilengkapi dengan berbagai fitur pengaturan gerakan yang memudahkan kita saat beraktivitas. Tidak semua ponsel memiliki fitur ini, lho. Silakan cek, deh!

Mirror launch: tekan tombol volume untuk mengaktifkan aplikasi cermin
Auto Call: cari kontak yang akan dihubungi dari daftar kontak, dekatkan ke telinga untuk memulai menelepon, dan langsung terhubung otomatis
Cover Mute: letakkan tangan di depan layar untuk mematikan nada panggilan yang tidak diinginkan
Flip Mute: Balikkan badan ponsel untuk mematikan suara
Camera Launch: tahan ponsel pada posisi mendatar, lalu tekan tombol volume dan kamera akan segera aktif secara otomatis
Pocket Mode: Layar akan segera otomatis terkunci saat dimasukkan ke dalam saku atau tas

Dokumentasi Lazada.com

Dokumentasi Lazada.com

Hanya itu saja? Gaya apa lagi? Tenang, masih ada 20 gesture smart sense yang bisa dengan mudah kita pilih karena sudah berada dalam aplikasi ponsel ZTE Blade S6.

Orang Indonesia Suka Berbagi
Selain suka tersenyum, orang Indonesia juga dikenal suka berbagi. Mulai dari makanan untuk para tetangga, sampai berbagi musik, gambar, dan video di ponsel. Sayangnya, untuk berbagi file dan aplikasi melalui ponsel, kita masih bergantung pada teknologi bluetooth.

Dokumentasi Lazada.com

Dokumentasi Lazada.com

Nah, tidak demikian di ponsel ZTE Blade S6. Kita bisa berbagi dengan teknologi AliveShare. AliveShare adalah teknologi yang membantu proses transfer data supercepat antarponsel tanpa perlu menggunakan jaringan atau koneksi Wi-Fi (Sttt.. kecepatannya bisa 40 kali lebih cepat dari Bluetooth). Berbagi foto, musik, dan video menjadi lebih mudah. Bahkan, kita bisa berkompetisi bermain games dengan orang lain.

Masih penasaran dengan apa yang terjadi dengan Cinderella dan Gadis Berkerudung Merah?

Diceritakan, apa jadinya jika seorang Cinderella mempunyai ZTE Blade S6? Pasti, Cinderella masih ‘sempat’ berlatih dansa dengan teknologi smart gesture untuk menyalakan pemutar musik di sela-sela kesibukannya menyapu, mencuci, bahkan mengepel lantai tanpa harus menyentuh ponselnya. Lalu, apa jadinya jika Gadis Berkerudung Merah mempunyai ZTE Blade S6? Pasti dia tidak tertipu dengan serigala yang menyamar sebagai nenek karena hanya dengan menggoyangkan ponsel dua kali, senter bisa menyala.

So, what excites u more?
Because fun never waits! :)

Spesifikasi:
Dimensi: 144 x 70.7 x 7.7 mm ; Layar: IPS LCD capacitive touch screen, 16 M colors, 720 x 1280 pixels, 5.0 inches (-294 ppi pixel density), In-Cell Technology, multitouch (MI Favor 3.0 Launcher) ; Memori: Internal 16 GB, 2 GB RAM, microSD up to 64 GB ; Internet dan Konektifitas: DSDA (Dual SIM Dual Active) ; LTE ; GSM (850/900/1800/1900), Wi-Fi 802, 11 b/g/n/ac, dual-band, Wi-Fi Direct, Hotspot, Bluetooth v4.0, A2DP, GPS with A-GPS, FM radio, microUSB v2.0 ; OS: Android OS, 5.0 (Lollipop) ; Prosesor: Qualcomm SnapdragonTM 615 Octa-core 1.7 GHz, 64-bit, GPU Adreno 405@ 550 MHz ; Kamera dan Video: Sony IMX 214 ; 13MP, 4128 x 3096 pixels, autofocus, LED Flash, Geo-tagging, touch focus, face detection, Secondary camera 5 MP video 1080p@30 fps ; Baterai: Non-removable Li-Ion 2400 mAh ; Fitur Unggulan: Smart sense ; Aliveshare ; MiFavorTM 3.0

ZTE Blade S6, ponsel super slim dengan desain melingkar di keempat ujungnya, nyaman digenggam.

ZTE Blade S6, ponsel super slim dengan desain melingkar di keempat ujungnya, nyaman digenggam.

Para blogger diberi kesempatan untuk utak-atik ZTE Blade S6.

Para blogger diberi kesempatan untuk utak-atik ZTE Blade S6.

Heboh testing fitur Gesture Smart Sense dari ZTE Blade S6. Belum pernah ada di HP lain, sih.

Heboh testing fitur Gesture Smart Sense dari ZTE Blade S6. Belum pernah ada di HP lain, sih.

Motion Smart Sense - Fitur keren dari ZTE Blade S6.

Motion Smart Sense – Fitur keren dari ZTE Blade S6.

Gesture Smart Sense - Fitur yang keren dari ZTE Blade S6.

Gesture Smart Sense – Fitur yang keren dari ZTE Blade S6.

PS.
Thanks to ZTE Indonesia for inviting me to this event #BincangSoreZTE :)

Bukan Liburan Biasa

Masih ingat tentang Medha? Lupa? Baiklah, cek di sini. Kami saling menemukan di Pelatihan Intensif Pengajar Muda angkatan II Indonesia Mengajar. Nah, ingat kan? Sip.

Pada episode kehidupan kali ini, ceritanya Medha menikah. Tepat satu minggu yang lalu, 2 Mei. Eh, beneran menikah. Menikah dengan laki-laki pujaan hati. Singkatnya, mereka saling berkenalan, saling memuja, saling takut kehilangan, dan akhirnya berkomitmen untuk hidup bersama (kalimat ini karangan saya semata =b).

The bridesmaids (foto: Asti).

The bridesmaids (foto: Asti).

Sesuai rencana, Medha menikah di Madiun. Jauh-jauh hari,saya sudah bawel bin rewel meminta tanggal. Akhirnya, sebelum undangan disebar, saya sudah mengantongi tanggal pernikahan Medha (privilege seorang sahabat =b).

Cek kalender. Tanggal 1 Mei, tepat di hari Jumat, adalah hari buruh, Mayday, tanggal merah, hari libur. Itu tandanya, ada long weekend di awal bulan. Sebagai penyuka jalan-jalan dan liburan, saya pun berasa menemukan jodoh juga.

Tweet tanda cinta liburan akhir pekan nan panjang.

Tweet tanda cinta liburan akhir pekan nan panjang.

Long weekend kali ini tidak saya manfaatkan dengan fancy traveling ke destinasi terkenal. Mencoba antimainstream dari yang lain, saya memilih untuk berkunjung ke rumah sahabat. Skenarionya, setelah kondangan, saya akan ikut Asti pulang ke Kediri dan tinggal beberapa hari di sana. Toh, bagi saya, ke mana pun jalan-jalannya, akan tetap menyenangkan jika topiknya pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi.

(Oh ya, perkenalkan nama kedua dalam cerita ini, Asti. Saya, Medha, dan Asti sama-sama pernah menjadi Pengajar Muda walau berbeda angkatan. Kami bertiga baru saling menemukan saat sama-sama bekerja di komik sains anak-anak, Kuark).

Rute ditentukan, Madiun (kondangan Medha) – Kediri (rumah Asti) – Jakarta (pulang). Tiket kereta juga sudah dipesan. Asti, sebagai partner perjalanan, sudah kompak

Sahabat Versi di Balik Layar
Apa serunya liburan dan ‘numpang’ tinggal di rumah sahabat? Beberapa orang justru menghindari dengan alasan ‘takut merepotkan.’ Padahal, jika kita mengaku sahabat, tak ada yang salah untuk mengenal keluarganya. Yeah, minimal, kita bisa memperkenalkan diri sambil membantu sahabat kita untuk meyakinkan keluarganya bahwa di perantauan, anaknya dikelilingi orang-orang baik =b.

Piknik asyik bersama keluarga Asti di Kediri (foto: Asti).

Piknik asyik bersama keluarga Asti di Kediri (foto: Asti).

Berhasil bertemu keluarga Medha dan Asti, serta bisa berkunjung ke rumahnya seakan melengkapi imajinasi saya jika mereka berdua sedang bercerita. Saya tak perlu lagi menebak-nebak. Kini, saya bisa membayangkannya. Selain itu, dengan melihat lebih dekat, membuat hal lain yang luput dari perhatian kita terungkap. Latar belakang keluarga, lingkungan, bahkan kebiasaan ‘usil’ di rumah dari sahabat kita, bisa kita ketahui.

Ada yang bilang “Dalamnya persahabatan tak bergantung pada lamanya perkenalan.” Durasi pertemanan saya dengan Medha dan Asti memang masih bisa dihitung dengan jari. Kesamaan nasib sebagai perantauan ibu kota, alumni Pengajar Muda, teman kos, bahkan, teman belanja menjadi faktor utama. Jadi, wajar jika ini seperti sulap, dekat dalam waktu cepat!

Menjenguk Muara Enim

Di Indonesia Mengajar, tempat saya bekerja, ada istilah ‘site visit’. Kalau dari arti perkatanya, kalian pasti sudah tahu. ‘Site’ berarti tempat atau lokasi dan ‘visit’ yang berarti mengunjungi.

Site visit merupakan salah satu bentuk pendampingan yang diberikan kepada Pengajar Muda yang ditempatkan di kabupaten di seluruh Indonesia selama satu tahun penugasan. Site visit biasanya dilakukan pada bulan kelima sampai keenam Pengajar Muda berada di daerah penempatan.

Oh ya, dalam site visit, tidak melulu hanya agenda kunjungan ke desa dan sekolah penempatan Pengajar Muda saja lho, ada juga agenda lain seperti silaturahmi dengan pemangku kepentingan (stakeholder) daerah, refleksi, dan evaluasi. Semua terbungkus rapi dalam agenda site visit selama satu minggu penuh.

Menginjakkan kaki di Muara Enim untuk site visit perdana sebagai officer Indonesia Mengajar.

Menginjakkan kaki di Muara Enim untuk site visit perdana sebagai officer Indonesia Mengajar.

Site visit perdana saya sebagai officer Indonesia Mengajar adalah bulan Januari lalu. Saya berkesempatan untuk site visit ke Muara Enim, salah daerah penempatan Pengajar Muda angkatan VIII. Muara Enim adalah sebuah kabupaten yang secara administratif, masuk dalam propinsi Sumatera Selatan (beribukota di Palembang).

Perjalanan dari Jakarta ke Palembang via udara memang tidak lama, hanya 45 menit saja. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Palembang. Sesampai di Palembang, bukan berarti ini adalah akhir dari perjalanan. Saya masih harus melanjutkan perjalanan via darat untuk mencapai desa penempatan Pengajar Muda di Muara Enim yang terbagi dalam beberapa kecamatan.

Perjalanan menuju desa dan sekolah Pengajar Muda di Kecamatan Lubai (dokumentasi Pengajar Muda Muara Enim).

Perjalanan menuju desa dan sekolah Pengajar Muda di Kecamatan Lubai (dokumentasi Pengajar Muda Muara Enim).

Yang ‘awet’ dalam ingatan saya saat site visit ke Muara Enim beberapa bulan lalu adalah hangatnya sambutan yang diberikan oleh Pengajar yang ditempatkan di sana. Walaupun di angkatan saya (by the way, saya Pengajar Muda angkatan II =b) belum ada mekanisme pendampingan seperti site visit, saya bisa ikut terlarut dalam antusiasme mereka saat mendapat kunjungan dari officer di Jakarta.

Cheers! Murid-murid SD N 31 Lubai dan site visitor, sama-sama antusias.

Cheers! Murid-murid SD N 31 Lubai dan site visitor, sama-sama antusias.

'Welcoming picture' ala murid-murid SD N 10 Rambang.

‘Welcoming picture’ ala murid-murid SD N 10 Rambang.

Tak ada mic, toa pun jadi. Saya tidak sedang berorasi lho, ini sedang memberikan sambutan dan ucapan terima kasih di hadapan kepala sekolah, guru, serta orang tua siswa.

Tak ada mic, toa pun jadi. Saya tidak sedang berorasi lho, ini sedang memberikan sambutan dan ucapan terima kasih di hadapan kepala sekolah, guru, serta orang tua siswa.

Sowan. Bertemu dan bersilaturahmi dengan kepala sekolah dan guru-guru di SD N 9 Semende Darat Tengah.

Sowan. Bertemu dan bersilaturahmi dengan kepala sekolah dan guru-guru di SD N 9 Semende Darat Tengah.

Main, yuk! Berkumpul di lapangan dan berkenalan dengan murid-murid SD N 9 Semende Darat Ulu.

Main, yuk! Berkumpul di lapangan dan berkenalan dengan murid-murid SD N 9 Semende Darat Ulu.

Mengakhiri kunjungan dengan berfoto bersama guru, hostfam, Pengajar Muda, dan murid-murid SD N 30 Lubai (dokumentasi Pengajar Muda Muara Enim).

Mengakhiri kunjungan dengan berfoto bersama guru, hostfam, Pengajar Muda, dan murid-murid SD N 30 Lubai (dokumentasi Pengajar Muda Muara Enim).

Bayangkan proses panjang yang sudah dilalui oleh Pengajar Muda ini, mulai dari tahapan seleksi online dan Direct Assessment, pelatihan intensif di camp selama dua bulan, sampai penempatan di sepuluh kabupaten secara berkelompok selama satu tahun. Kini, setelah beberapa bulan hidup di daerah penempatan sebagai guru Sekolah Dasar dan fasilitator masyarakat, para Pengajar Muda itu berubah.

Daerah penempatan bukan hanya tempat Pengajar Muda hidup selama satu tahun sebagai guru, melainkan juga tempat pembelajaran kepemimpinan (di Indonesia Mengajar, kami menyebutnya sebagai ‘School of Leadership’). Warna kulit dan berat badan boleh saja berubah, lebih dari itu, penguasaan bahasa daerah sampai ke perubahan sikap/pandangan menambah kebahagiaan saat bertemu dengan Pengajar Muda di daerah penempatan. Bagi saya, itu adalah salah satu bukti nyata bahwa mereka ‘benar-benar’ hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan masyarakat setempat, tanpa membuat jarak.

Site visit membuat saya begitu dekat dan nyata dengan apa yang terjadi di daerah penempatan Pengajar Muda. Tanpa menjual kesedihan dan keterpencilan suatu daerah, ternyata daerah bisa mandiri dengan inisiatifnya sendiri. Jarak yang jauh atau dekat, sinyal atau tidak bersinyal, daerah hutan atau pegunungan, iklim panas atau dingin, jalan rusak atau jalan mulus, semuanya sudah tidak menjadi soal. Nyatanya, banyak penggerak daerah bermunculan dan menunjukkan kepedulian dengan cara membuat terobosan di bidang pendidikan untuk maju, dengan berkolaborasi dengan Pengajar Muda.

Jadi, kondisi daerah penempatan bukanlah alasan untuk tidak bahagia dalam penugasan site visit. Justru, semakin saya temui kondisi teresktreem sekalipun saat site visit, digit kecintaan saya pada Indonesia bertambah satu.

Focus on the journey, not the destination. Joy is found not in finishing an activity but in doing it (Greg Anderson).

Focus on the journey, not the destination. Joy is found not in finishing an activity but in doing it (Greg Anderson).

Sampai jumpa di site visit berikutnya :).

#MyLifeAsAnOfficer

Tentang Pengajar Muda – Indonesia Mengajar.

Satu Tahun di Kapal

Selamat tanggal 21 April! Eits, jangan beranjak dulu. Saya tidak akan bercerita tentang Hari Kartini, bagaimana baju kebaya dan konde saya hari ini, bagaimana emansipasi wanita, atau bahkan perjuangan wanita secara kekinian. Semua hal itu sudah terlalu mainstream untuk tanggal 21 April. Saya punya hal lain yang ingin saya rayakan.

Temukan saya di Human Resources - Internal Engagement Division.

Temukan saya di Human Resources – Internal Engagement Division.

Hari ini tepat satu tahun saya bekerja di ‘kapal,’ sebagai officer slash karyawan slash pegawai. Kalau ditanya, bagaimana rasanya kerja di ‘kapal’? Saya pasti akan menjawab, “Nano-Nano!”. Yeah, seperti tagline perman Nano-Nano, ‘manis, asem, asin, rame rasanya,’ bagi saya, seperti itulah gambaran bekerja di ‘kapal’ (baca: mabok lautnya ada, bagian pening-mualnya ada, bagian bersemangat mengarungi samudera ada, plus bagian menikmati keindahan lautan selama kapal berlayar juga adaaaa… Komplet!).

Mulanya, saya bergabung di ‘kapal’ tahun 2011 sebagai Pengajar Muda angkatan II. Walau hanya terikat kontrak selama satu tahun, ada pengalaman tersendiri yang membuat saya ‘nyaman’. Ya, bisa jadi karena di ‘kapal’ saya bertemu kembali dengan teman-teman lama dan tentang program ‘kapal’ sendiri yang kala itu ‘lain daripada yang lain’.

Sekembali dari daerah penempatan tahun 2012, saya sempat ‘icip-icip’ dunia korporat yang bergerak di bidang penerbitan komik sains untuk anak-anak. Niatnya sih, ingin konsisten berkecimpung di dunia pendidikan namun dengan menggunakan kacamata yang lain, yaitu bisnis. Naluri Dora saya untuk terus bereksplorasi memacu saya untuk terus belajar dan memperkaya diri.

Tahun 2014, ‘kapal’ membuka lowongan untuk program Officer Development Program (ODP) batch 3. ODP adalah salah satu sistem perekrutan karyawan di ‘kapal’. Ini seperti CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali). Ada rasa kangen dan ingin kembali berkontribusi dalam ‘perlayaran’ #tsah. Jadilah, setelah melalui tahapan proses seleksi, saya diterima di ‘kapal’ sebagai ODP. Ya, di tanggal yang sama seperti hari ini, tepat satu tahun yang lalu.

Apa bedanya dulu jadi Pengajar Muda dan sekarang officer? Saat menjadi Pengajar Muda, arena bermain saya adalah buritan dan geladak utama. Kini, menjadi officer, saya bisa bermain di semua bagian kapal (bahkan) sampai di dapurnya. Sttt… Tidak hanya ikut makan hasil masakan, tetapi juga turut merencanakan apa menu esok hari untuk awak kapal lainnya hehe :D.

Dan akhirnya, selamat satu tahun di ‘kapal’! Destinasi baru siap dijelajahi. ‘Kapal’ akan memasuki lima tahun perlayarannya. Bersiap!!

Mengapa ‘Kapal’?
Istilah ‘kapal’ muncul, berawal dari kutipan ‘Membangun kapal sambil berlayar.’ Kutipan yang diucapkan pembuat ‘kapal’ itu menjadi nafas kami setiap hari. Memang sih, tak pernah ditegaskan ‘kapal’ itu adalah Indonesia Mengajar, tapi setelah lima tahun perlayaran, para awak makin ‘terampil’ membaca dan bahkan (berani) mengusulkan kutipan itu berganti menjadi ‘Membangun kapal sambil berlabuh’ hehe :D.

Menjadi 27

Menjadi dewasa dalam soal angka (baca: ulang tahun) terjadi di hari ke sembilan bulan ini. Tahun 2015, ‘giliran’ angka 27. Halo 27?

Setiap tahun, sering kali, saya tidak bisa berkata-kata lagi. Apa harapan yang saya inginkan dalam satu tahun ke depan? Entahlah. Menurut saya, semua menjadi begitu sederhana saat dewasa. Kesehatan, jodoh, karir, umur panjang, apa lagi?

Saya bingung ingin meminta apa. Bukannya sombong merasa berkecukupan sehingga saya tidak perlu (lagi) meminta pada-Nya. Saya justru malu. Saya malu, saya sudah diberikan umur sampai sekian tapi (setiap tahun) saya selalu menambahkannya dengan permintaan ini itu, yang kadang, justru merumitkan hidup saya sendiri.

Aji mumpung, saya nebeng ucapan ulang tahun yang disampaikan teman-teman. Itu semua doa juga, kan? Saya tinggal mengamini saja. Sebut saja, konsep minimalis dari sebuah birthday wishes. Saya yakin Tuhan tidak keberatan dengan apa yang saya lakukan.

Uniknya, dari sekian ucapan, ada yang ‘iseng’ saya jawab, “Saya bertambah tua satu tahun nih.”

Dengan bijak dan di luar dugaan, si pengirim pesan menjawab, “No dearest, kamu bertambah terbuka kemungkinan untuk melakukan banyak hal baru di dunia ini.”

Jawaban yang membuat hati saya ‘adem’ dan mantap berkata, ‘Amin.’

So, have fun with your 27, Hecy!

Surprise! Buku yang dari dulu saya mimpikan. Sayangnya, sudah ada dua teman baik yang punya. Jadi, daripada membeli, saya putuskan untuk antri meminjam sejak umur 26 sampai, kini, saya menjadi 27 (persistence tingkat dewa hehe). Nyatanya, teman baik saya yang lain memberikan ini ‘cuma-cuma’ sebagai kado umur 27.

Surprise! Buku yang dari dulu saya mimpikan. Sayangnya, sudah ada dua teman baik yang punya. Jadi, daripada membeli, saya putuskan untuk antri meminjam sejak umur 26 sampai, kini, saya menjadi 27 (persistence tingkat dewa hehe). Nyatanya, teman baik saya yang lain memberikan ini ‘cuma-cuma’ sebagai kado umur 27.

Note:
Klasmen ucapan dan doa ulang tahun ke-27 dari teman-teman:
1. Jodoh
2. Sehat
3. Jalan-jalan

Blogger Unjuk Gigi, Hiii !

(Walau blogger modalnya nulis pake tangan tapi tetep dong kesehatan gigi dijaga. Senyum blogger Indonesiaaa hiiii :D )

Aku gigi, mulut rumahku.
Agar sehat dan kuat, aku harus disikat, setiap hari.
Sehabis makan dan sebelum tidur, dengan pasta gigi berflouride.
Makan-makanan bergizi, dan periksa ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali
Sehat selalu, senang rasanya
.

Lagu yang cukup fenomenal di masa kecil saya itu tidak lagi terdengar di Pepsodent Dental Expert Care, Gandaria City kemarin Sabtu (4/4). Sebagai gantinya, ada lagu baru yang tidak kalah easy listening sehingga mengajak kita yang ada di situ untuk manggut-manggut mengikuti irama. Ada yang sudah tahu? Ini nih, contekannya.

Senyumlah Indonesia, ayo senyum
Senyum yang datang dari hatimu
Yang tercermin dengan kilau gigi sehat
Senyum Indonesia senyum Pepsodent

Senyumlah Indonesia, ayo senyum
Buat hari harimu ceria
Dengan mulut gigi dan gusi yang sehat
Senyum Indonesia senyum Pepsodent

Berbeda dengan lagu terdahulu yang liriknya sarat dengan cara merawat gigi, kini, Pepsodent mengajak kita untuk tersenyum sekaligus pamer gigi. Coba pembaca praktek sama saya. Katakan, “Hiiii:D.

Nah, ketahuan! Ompong! Ada yang bolong! Ada sisa sayur yang nyelip! Ada noda kuning gara-gara minum kopi! Gigis kebanyakan makan permen! Duh, malunya!

Gara-gara senyum, gigi kita kelihatan semua. Akkkkk… Segera sembunyikaaaaaaaan. Houp, langsung mingkem hihi. Tenang, jika semua itu terjadi pada kamu, yuk, segera ke dokter gigi. Dokter gigi sekarang ada di mana-mana, lho. Selain di rumah sakit dan klinik, ada juga di puskemas.

Fiuh, untung ketahuan, ya, karena letaknya di depan. Jadi bisa langsung diperiksa di dokter gigi. Tapi bagaimana ceritanya kalau letaknya di belakang? Walau letaknya di belakang, bukan berarti harus disembunyikan, lho! Gigi belakang juga bisa eksis. Misalnya, kalau kamu lagi ketawa ngakak dan mangap lebar. Wuiw.. Gigi belakang juga bakal kelihatan.

Coba praktek sekali lagi. Katakan, “Hahaha:D

Nah, ketahuan kan!! Banyak yang bolong! Ada sisa sayur yang nyelip! Giginya hitam-hitam! Duh, malunya!

Kenali Gigi Belakangmu
Menurut British Dental Journal tahun 2000, 85% gigi berlubang ditemukan di gigi bagian belakang. Mengapa bisa demikian? Gigi berlubang banyak ditemukan di gigi bagian belakang karena letaknya yang sulit dijangkau oleh sikat gigi. Selain karena letaknya, gigi bagian belakang juga memiliki alur dan celah yang sulit dibersihkan oleh sikat gigi.

Setelah makan, jika tidak segera dibersihkan (dengan menggosok gigi), sisa-sisa makanan yang ada di gigi kita akan membusuk. Sisa-sisa makanan yang masih ‘fresh‘ disebut plak. Sedangkan yang sudah mengeras dan mengalami mineralisasi disebut dengan karang gigi (karies). Plak sendiri merupakan makanan bagi bakteri yang ada di rongga mulut kita.

Sebenarnya, plak akan hilang jika kita menggosok gigi. Selain menggosok gigi, air ludah yang berkualitas yang terdapat di dalam rongga mulut juga dapat membantu melindungi gigi kita sebagai mekanisme pertahanan diri alami dari serangan bakteri.

Sayangnya, sudah menggosok gigi pun, misalnya, ada bagian gigi yang belum bersih secara maksimal karena belum terjangkau oleh sikat gigi. Itulah yang sering dialami oleh gigi bagian belakang sehingga rawan gigi berlubang. Ayo, selamatkan gigi bagian belakangmu, sekarang!

Pilih Sikat Gigimu
Jawabannya jelas. Untuk menyelamatkan gigi bagian belakang dari ancaman gigi berlubang atau karies, dibutuhkan sikat gigi yang mampu menjangkau gigi bagian belakang dan sesuai dengan bentuk rongga mulut kita. Nah, apakah sikat gigi kita selama ini sudah sesuai? Yuk, kita cek!

Selain menjaga kebersihan gigi, ternyata pemilihan bentuk sikat gigi juga berpengaruh pada kesehatan gigi kita, lho! Pertama, Sikat gigi dengan bentuk leher tiga sudut terbukti lebih efektif membersihkan plak daripada sikat gigi lurus biasa. Sikat gigi dengan leher tiga sudut mampu membersihkan gigi dari bagian depan sampai belakang serta menyesuaikan dengan bentuk rongga mulut kita yang melengkung setengah lingkaran, seperti tapal kuda.

Ilustrasi tangkai sikat gigi lurus dan tangkai sikat gigi yang sesuai dengan bentuk rongga mulut kita.

Ilustrasi tangkai sikat gigi lurus dan tangkai sikat gigi yang sesuai dengan bentuk rongga mulut kita.

Kedua, bulu sikat juga berperan tak kalah penting dalam membersihkan gigi. Bulu sikat inilah yang nantinya akan ‘memeluk’ gigi saat kita menggosok gigi. Bulu sikat yang mampu membersihkan sampai ke sela-sela gigi sampai menyeluruh adalah bulu sikat yang berbentuk V.

Selain dua hal itu, ada tiga hal lain yang masuk dalam pertimbangan pemilihan sikat gigi, antara lain adanya pembersih lidah dengan karet lunak di bagian belakang kepala sikat, tiga titik genggaman serta triangle grip agar tidak mudah meleset (slip) saat tangan kita menggenggam tangkai sikat.

Hmm, sudah kebayang sikat gigi macam apa itu? Temukan semua ‘fitur‘ itu di sikat gigi Pepsodent Deep and Clean.

Tips Merawat Sikat Gigi
– Ganti sikat gigi setiap tiga bulan sekali atau bila bulu sikat gigi sudah mengembang.
– Letakkan sikat gigi dalam gelas atau tempat sikat gigi dengan posisi saling membelakangi dengan sikat gigi lainnya. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi transfer kuman.
– Sebaiknya kepala sikat tidak tertutup rapat (ada ‘helm’-nya). Kalau pun kepala sikat dilindungi oleh ‘helm’, pastikan ada lubang kecil untuk sirkulasi udara.
– Saat mengajarkan anak menyikat giginya, sebaiknya dengan instruksi dari merah (gusi) ke putih (gigi) daripada dengan instruksi dari bawah ke atas atau atas ke bawah. Hal ini untuk memudahkan anak memahami cara menyikat gigi.

*
Blogger gathering di Pepsodent Dental Expert Care, Gandaria City lantai UG, Sabtu, 4 April 2015. Narasumber: Dr. Ratna Meidyawati drg. SpKG (K), Drg. Ratu Mirah Afifah GCClinDent., MDSc, dan Nando Kusmanto.

Narasumber pun antusias berbagi cerita tentang gigi bersama blogger yang hadir.

Narasumber pun antusias berbagi cerita tentang gigi bersama blogger yang hadir.

Roleplay 1, sikat gigi dengan tangkai sikat lurus.

Roleplay 1, sikat gigi dengan tangkai sikat lurus.

Roleplay 2, dengan tangkai sikat yang sesuai dengan bentuk rongga gigi (Pepsodent Deep & Clean)

Roleplay 2, dengan tangkai sikat yang sesuai dengan bentuk rongga gigi (Pepsodent Deep & Clean)

Cerita Panjang Umur

Papa panjang umur. Usianya yang sudah puluhan itu, bertambah satu satuan. Satu satuan sama dengan satu tahun kehidupan. Tidak ada trik sulap di sini. Semuanya adalah kehidupan yang nyata-nyata dijalani selama 365 hari.

Papa tidak pernah mengeluhkan umurnya. Walaupun demikian, di setiap nasihatnya, selalu saja ada kalimat, “Papa kan sudah tua, kamu segera bla bla bla … .” Apakah itu termasuk kategori mengeluh? Tidak, kan? Kalau papa sudah begitu, tandanya, saya harus lebih kalem, lebih ngerem dan mengurangi digit keambiusan untuk mendapatkan ini itu.

Papa ulang tahun. Walaupun namanya ulang tahun, percayalah, tidak ada yang namanya pengulangan tahun. Pengulangan hidup, apalagi? Yang ada hanyalah bertambah tua, bertambah dewasa, dan bertambah besar. Itulah sebabnya, saya lebih senang menyebutnya panjang umur. Umur yang memanjang satu tahun, bertambah satu tahun.

***

Papa masih muda? Yup! Masih terbayang jelas, papa memarahi saya karena mencuci piring sendiri setelah makan. Bukan bermaksud untuk memanjakan tapi ini menyangkut persedian piring kaca di rumah. Saya selalu memecahkan piring kaca saat mencucinya. Jemari saya, yang saat itu masih usia TK, belum mampu memegang piring kaca yang super licin berlumuran sabun cuci.

Ditegur papa sedemikian rupa, saya hanya menunduk diam. Sesi bermain air berakhir. Kala itu, pikiran polos saya menganggap papa sudah dewasa sehingga bisa memegang piring dengan baik. Suatu saat kalau sudah dewasa, saya pasti juga bisa memegang piring dengan baik dan tak ada lagi piring yang pecah. Saya lupa rumus hidup bahwa seiring saya dewasa, papa pun juga bertambah umurnya.

***

Sejak lulus kuliah, momen-momen ulang tahun papa menjadi sering terlewat. Biasanya, si bungsu yang lebih lama tinggal di rumah, akan menjadi saksi bertambah ‘dewasanya’ orang tua mereka. Si bungsu jugalah yang akhirnya menjadi ‘otak’ untuk memberikan kejutan-kejutan yang belum pernah dialami orang tuanya. Nyatanya, tidak lagi kini.

Dosa saya, untuk memastikan hari ini hari ulang tahun papa, saya harus mengeceknya di soft copy Kartu Keluarga di laptop. Tanggal ulang tahun papa yang dulu saya hapal di luar kepala, kalah dengan ingatan tanggal cuti liburan.

Jadi, ritual apa yang harus saya lakukan untuk menebus dosa ini?

Papa, selamat ulang tahun!”
Iya, Dek. Makasih, ya. Baru pulang kamu? Ini papa lagi masukin undangan ke plastik. Banyak banget ini.”

Ratusan undangan itu ternyata mengalihkan perhatian papa. Lega! Seperempat mengeluh, tigaperempat riang, saya yakin papa riang kok. Pernikahannya anak pertamanya akan berlangsung akhir April nanti. Baginya, itu sudah cukup menjadi kado ulang tahunnya tahun ini.

Selamat panjang umur, Papa!
16 Maret 2015

PS. Soal nikah-menikah ini akan ada di cerita selanjutnya, ya =b