Di sebuah kesempatan chattingan dengan seorang teman, dia cerita kalau AC di kamarnya mulai bertingkah tidak biasa. Alih-alih hawa dingin, si AC justru nampak tak bergeming dan malah meneteskan air. Di masa-masa Work from Home seperti ini, kamar yang nyaman adalah koentji. Sayangnya, AC di kamarnya malah tak mendukung sama sekali. Sebagai partner chatting yang baik (hmm), saya menyarankan untuk segera memanggil tukang service AC.

Iya, nanti. Pokoknya, setelah semua berakhir, aku pasti manggil tukang AC!” Pesan yang dia kirim diakhiri emoticon tersenyum lebar yang mengekspos gigi 😀

((( setelah semua berakhir )))

Entah kenapa, menjawab pesannya, saya justru membuat efek gema dengan tanda kurung buka, kurung tutup yang banyak. Saya ngakak. Oh, sebegitunya kah kondisi saat ini sehingga teman saya langsung mengeluarkan frase kalimat yang, bagi saya, enggak biasa?

*Tertanda, 13 April 2020. Tiga hari setelah PSBB diberlakukan di DKI Jakarta

Sejak chattingan itu, saya jadi sering ledek-ledekan dengan dia, dengan frase ‘setelah semua berakhir’. “Iya, setelah semua berakhir, aku nonton kamu latihan, ya”, “Setelah semua berakhir, kita makan bareng lagi, ya”. Ajaib, kita berderai tawa. Beginilah, humor yang mampu dipersembahkan di masa pandemi COVID-19.

Sungguh, bukan bermaksud menertawai kenyataan, kami hanya benar-benar tidak tahu. No clues. Sehingga, wajar kan frase itu terdengar begitu lucu. Mungkin kita sedang berharap dengan cara merencanakan sesuatu tanpa keterangan waktu. Yah, 11:12 dengan fenomena ‘Tahu Bulat’: kalau direncanakan gagal, dadakan justru kesampaian.

Hoping is not a strategy
Di tulisan sebelumnya, saya pernah menulis yang intinya bilang terlalu kepo dan kurang informasi sama-sama enggak menguntungkan di masa-masa seperti ini. Mungkin insting manusia ya, ketika diberi ketidakpastian, refleks mencari tau demi bisa tenang (tapi biasanya malah kebanyakan ehe). Atau sebaliknya, tidak tau apa-apa adalah hal terbaik (cuek is the best). Lalu, muncullah, ‘setelah semua berakhir’ alias berharap (hope).

Dengan berharap, kamu enggak perlu melakukan sesuatu. Tentu ini bukan jadi strategi bertahan hidup di era pandemi seperti ini di mana semua serba enggak pasti. Berharap sehat tapi kamu enggak cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir? Berharap sembuh tapi kamu enggak pernah minum obat dan patuh sama anjuran dokter? Berharap bahagia tapi kamu overthinking akut? Ternyata, berharap harus disertai dengan melakukan sesuatu biar bisa jadi sebuah strategi. Ya ya ya?

Jadi maunya apa?
Sampai tulisan ini dibuat saya gamang lhoh. Saya kepengen setelah semua berakhir, saya bisa kerja di kantor lagi kayak sebelumnya. Saya kangen ketemu orang-orang. Tapi, saya juga jadi sadar diri kalau pulang kantor bablas mampir-mampir dan pulang larut itu enggak baik. Bandingkan sekarang dengan duduk manis depan laptop dan menyimak keheningan sampai jam 2 dini hari, bisa produktif nulis blog.

Saya kepengen beli ini-itu yang lucu-lucu biar bisa memotivasi hidup lebih produktif lagi. Lhah wong selama di rumah aja, kamu bisa kok tanpa menggantungkan motivasi pada pihak eksternal. At least, tiap bangun pagi, walau monoton karena enggak bisa ke mana-mana, kamu tetap bisa bersemangat buka laptop dan tenggelam di dunia ngetik-ngetik.

Saya kepengen kayak si ‘itu’. Keren, euy! Bisa ke mana-mana kerjaannya dan pinter gitu. Saya jadi semangat buat ikutan les atau pindah kerjaan sekalian ya? Hush! You are enough, darling! Masa-masa di rumah aja selama ini, beneran kamu hanya sama dirimu dan kamu bisa bertahan hidup dari hari ke hari dengan segala keterbatasan yang ada. Masih belum cukup?

Kok jadi kepengen tapi bersyarat ya? Mungkin ini akibat hampir dua bulan di rumah aja. Penanda bijak? Eh, wait, ini si semakin menguatkan teori saya di tulisan sebelumnya* bahwa korona itu beneran tool seleksi. Hwaaaaa …

*Tulisan saya yang mana si? Penasaran? Baca di sini.

Anyway, setelah semua berakhir, saya kepengen lari. Saya kangen bisa lari-lari di taman, di jalan ..

 

Masker jadi hal menarik yang bisa diobrolin dan jadi balada di masa pandemi. Sebelum kasus COVID-19 mencapai angka yang tidak bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki, seorang rekan kerja memutuskan untuk membeli masker di sebuah market place berwarna hijau. Selama beberapa hari, kami selalu diberitahu perkembangan pesanannya dari aplikasi. Ya, dari hari ke hari. 

Enggak, jangan curiga dulu. Saya yakin dia enggak bermaksud sombong kok. Dia hanya mengingatkan kami dalam ‘bentuk lain’ untuk turut juga menggunakan/membeli masker sesuai dengan yang dilakukannya.

Kami ya, ya, ya saja. Kala itu, berita memang agak membingungkan. Virus memang belum semasif sekarang tapi antara anjuran pakai masker atau tidak belum menjadi suatu kewajiban. Saya ingat betul, ada beberapa ‘orang’ pemerintahan yang saya lihat di TV mengatakan bahwa masker hanya digunakan oleh si sakit, bukan si sehat. Jadilah, kami yang sehat-sehat ini (amin, semoga sehat selalu ya) bersantai-santai saja.

Oh ya, selain itu, mengapa sikap kami biasa saja dengan seorang rekan kerja yang membeli masker karena itu sudah jadi kebiasaannya sejak dulu. Sebagai pengguna transportasi publik serta ojek daring, dia selalu memakai masker. Katanya, untuk menghindari polusi dan panas Jakarta. Maklum, jarak dari rumah ke kantor lumayan jauh. Jadilah memakai masker adalah hal terbaik yang bisa diupayakan.

Kami pun juga sepakat sih. Gaji belum tentu naik tapi kebutuhan skin care ada terus. Ya yang produk melembabkan, yang menutrisi, yang menyamarkan noda hitam, yang memutihkan (industri skin care emang sejago itu, btw). Sementara, walau kerja back office, kami juga masih berisiko terkena polusi udara dan sinar matahari yang jahat sama kulit saat naik transportasi publik, terutama muka. Jadilah, motivasi utama kami menggunakan masker adalah menghindari panas yang bisa menggosongkan kulit. Heu ..

Seminggu pertama lewat. Hampir seminggu kedua.

Saat rapat koordinasi hari terakhir di kantor karena perkembangan virus meningkat, tak sengaja kami bertanya terkait pesanan maskernya. Harga masker sudah gila-gilaan saat itu. Kami kepo saja, apakah dia berhasil mendapatkan harga miring sebelum pandemi. 

Kecewa, ternyata pesanan maskernya dibatalkan mendadak oleh si penjual. Dia diberi kompensasi refund. Kami geleng-geleng kepala. Dikira dengan kesigapannya, dia berhasil mendapatkan masker idaman, ternyata kalah dengan ambisi penjual yang pengen katrol harga.

Hari ke-54 di rumah aja

Tadi saat buka puasa, saya nonton berita. Isinya soal harga masker medis yang mendadak turun seiring permintaan yang turun juga. Sejak pemerintah menggalakkan penggunaan masker kain ke semua orang (ya si sehat, ya si sakit), masyarakat pun pindah perhatian dan membeli masker kain. Masker kain yang berganti laris, ceritanya. 

Balada masker nyatanya nggak cuma menyisakan cerita penjual yang kemarin menimbun sekarang insaf dan sale abis-abisan, tapi juga sumpah serapah netizen yang mengutuki tindakan mereka di masa lalu. Olala, ada-ada aja ya. Dari cuma masker aja bisa jadi sebuah cerita sisi manusia. 

PS. 

Teman-teman yang baik, tetap pakai masker, ya! Kata Pak Yuri, masker dipercaya bisa menekan angka penularan sampai 5%.

 

Ini bukan kali pertama ada prosedur enggak boleh deket-deket sama orang sakit atau kita yang sakit sadar diri buat menjauh dulu. Dulu, zaman SD, beneran enggak masuk sekolah sebulan karena kena cacar. Udah gedean, pas ada temen yang flu (bersin/batuk) di kantor, izin jaga jarak atau tindakan yang lebih ‘perhatian’ nyuruh dia istirahat di rumah dulu sebelum ‘korban’ lain berjatuhan.

Saat ini, korona juga begitu. Bahkan, ada istilahnya, ‘social distancing’. Enggak main-main, jaga jaraknya sampai 1-2 meter. Bahkan, kita diminta tetap ada di rumah, enggak pergi-pergi, dan enggak ketemu orang dulu (berkerumun). Harapannya, untuk menghindari risiko penularan virus COVID-19. Wajar ya, penularan virus ini sangat masif lewat droplets yang (kadang) kasat mata ada di berbagai permukaan barang. Semua ketentuan ini udah diatur oleh WHO, badan kesehatan dunia, dan diterapkan di banyak negara. 

Nyatanya, beberapa saat setelah kebijakan ini dilakukan, muncul masalah baru. Di Indonesia, misalnya. Dari hiruk-pikuk media, ada beberapa orang yang kelaparan di rumahnya, bahkan sampai meninggal tanpa diketahui. Urutan kejadiannya, pekerjaan berhenti sementara – enggak ada pemasukan – enggak bisa beli makan – kelaparan/meninggal. Sedih? Iya. 

Ada juga PDP COVID-19 yang diminta beristirahat di rumah (karantina mandiri) tapi justru terasing dan enggak dapet support kebutuhan hariannya. Akibatnya, antara tambah parah bahkan meninggal. Prihatin? Iya.

Selain dua contoh di atas, contoh lainnya adalah kebosanan karena stuck di rumah yang mengakibatkan berbagai tindakan ‘ajaib’ dan mengasah kreativitas. Di negara mana ya aku lupa, ada orang main piano di balkonnya dan diikuti oleh para tetangga di sisi balkon yang lain dengan meniup terompet, bermain gitar, dan lain-lain. Atau pemerintah setempat yang menyediakan giant screen di depan apartemen sehingga para penghuni bisa nonton film dari balkon. Sounds so fancy yaaa! Sayangnya, bukan di Indonesia ehehe. 

Enggak lama, kebijakan social distancing diubah. Mungkin karena dapet masukan dan melihat penerapan di lapangan. Semula, yang tujuannya untuk jaga jarak justru dimaknai sebagai jarak sosial yang berujung pada isolasi sosial. Padahal dari awal, penekanannya adalah untuk tetap berada di rumah, enggak ke mana-mana. Semacam jebakan istilah atau frase kata.

And, next, per-20 Maret, lahir istilah ‘physical distancing’ yang mengajak orang untuk literally jaga jarak secara fisik tanpa memutuskan kontak dengan orang lain (kehidupan sosial masih berjalan). Ya, itu tadi yang sejauh 1-2 meter. 

Tool seleksi

Terlepas mau memaki-maki si korona ini karena membuat kita serba terbatas, khususnya physical distancing: hilang akses/mobilitas untuk berpindah tempat, jujur, ada hal lain yang masih bisa disyukuri juga. Misalnya, yang dulunya enggak pernah kepikiran, sekarang jadi dipikirin. Yang dulunya enggak peduli, sekarang jadi lebih care. Dan berlaku juga sebaliknya. Yang dianggap enggak penting, justru semakin keliatan enggak penting dan harus ditinggalin. Seakan korona ini adalah tool seleksi. 

Banyak AHA Moment – Wah, bener juga, ya? Bener juga ya, kalau mau makan, emang harus cuci tangan pake sabun. Kalau dari luar, ya emang harus langsung bebersih, mandi bahkan. Kalau tangan kotor, enggak boleh pegang-pegang bagian muka nanti jerawatan. Seakan menyindir perilaku menggampangkan ala-ala seperti: abis makan ayam KFC, tangan dilap pake tisu AJA lalu ditempelin di gelas coke yang dingin biar ada efek airnya. Ah, hiyaks!  

Mungkin selama ini, hidup saya terlalu sarat. Pernah ngerasain naik bus Transjakarta koridor 1 (Blok M- Kota) pas jam pulang kerja? Atau oke deh, biar enggak dicap Sudirman sentris, cobain koridor 5 (Ancol-Kampung Melayu) di saat jam berangkat kantor. Saya bisa bilang, dari yang enggak kenal (stranger) bisa secara enggak sadar ikrib sama sebelahnya gara-gara kompak mengutuki mobil-motor yang masuk jalur bus dan bikin bus Transjakarta melambat.

Iya, kayak hidup. Banyak yang berdatangan di kehidupan ini, ya orang, ya suasana, ya materi, ya informasi. Semua punya ‘sirkuit’ yang saking cepetnya berasa ‘simsalabim’ tau-tau udah di depan mata. Tinggal kunyah aja gitu. Terlebih di era kemajuan teknologi kayak sekarang. Saya sendiri suka enggak bisa nolak. 

Masa-masa ‘physical distancing’, yang bikin saya di rumah aja, mau enggak mau bikin saya melambat dan jeda. Enggak berhenti total kok. Banyak kesempatan yang kemudian membuat saya seperti mengevaluasi gerak-gerak saya selama ini. Serba lawan kata sama kondisi sebelum COVID-19, but I think this is the beauty of other side. Thinking, comparing, and considering.

Back to basic: syukur

Evaluasi kehidupan bukan soal target yang udah dicapai atau yang belum. Bukan. Bukan mencari-cari apa yang belum didapat seperti itu melainkan mencari-cari nikmat yang belum disyukuri. Enggak melulu benda, keadaan juga bisa. Maksudnya? Iya, dengan tetap di rumah aja, enggak bisa kumpul-kumpul, dan sepi juga butuh disyukuri. Kayak kata Om Tulus, “Kita tetap butuh ruang sendiri-sendiri untuk tetap menghargai rasanya sepi”. Eh, wait, jangan-jangan saya belum pernah mensyukuri rasanya sepi ya? 

Tulisan ini dibuat paska seorang rekan kerja curhat gagal pulang ke Medan karena bandara resmi ditutup. Belum lagi urusan tiket dan per-refund-an. Juga, tiba-tiba mama share berita Jogja jadi zona merah. Serius, anak rantau, no mudik-mudik club tahun ini.

Sehari setelah Senin, 16 Maret 2020, kehidupan saya mulai berubah. Hari ke hari dihabiskan di rumah aja, enggak perlu berangkat ke kantor. Urusan kerjaan sama koordinasi tim intens dibagi via online. Whatsapp Groups dengan ‘judul’ baru bermunculan. Serta … tetiba merapat sama berbagai aplikasi conference call/webinar, kayak Zoom, Meet, BlueJeans.

Jadi inget, dulu, sebelum COVID-19, seorang teman yang kerja di perusahaan start up berkomentar melihat saya keseringan rapat ‘membelah’ Jakarta. Saya di pusat harus bertemu dengan mitra di pinggiran Jakarta. “Emang di tempatmu nggak ada kesepakatan buat virtual meeting ya sama klien? Sayang juga kalau waktunya cuma abis di jalan. Pasti kan macet,” katanya kala itu. Nyatanya, sekarang, semua serba virtual. Emang bener, butuh momentum dulu untuk mengubah kebiasaan. Hee …

Balik lagi ke masa pandemi. Mau enggak mau, rutinitas saya serba baru. Toh, kerja nggak harus mandi berangkat naik bus Transjakarta dulu. Ngerjain laporan bisa sambil maskeran. Koordinasi via Whatsapp Group bisa sambil rebahan. Eh, gimana? Hahaha.

Itu-Lagi-Itu-Lagi

Seminggu, dua minggu, perpanjangan, dua minggu kedua, sebulan, sebulan lebih, …

Nyatanya, aktivitas yang hanya melibatkan ruang terbatas bikin saya Itu-Lagi-Itu-Lagi. Emang si judulnya rutinitas baru yang berbeda dari sebelumnya tapi cek deh, enggak sampai seminggu, polanya udah kebaca. 

Pagi, kerja. Saat break siang (indikator: adzan zuhur), nonton berita siang sampai jam 01.00 WIB. Selesai, lanjut kerja atau rapat. Sore (indikator: adzan ashar), udah stand by nonton konferensi pers COVID-19 dan bablas berita petang. Malemnya, sebelum tidur, masih sempat scrolling medsos soal perkembangan COVID-19. Enggak sampe di situ aja, kakak saya yang kerja di rumah sakit plus teman kos yang kerja di rumah sakit, enggak ketinggalan kasih update soal perkembangan COVID-19 di luar sana (heEh, pandemi gini, mereka tetep nugas di rumah sakit).

Efeknya? Semula, saya ngerasa enggak ada yang aneh. Semua baik-baik. Day by day, saya mensugesti diri kalau ini adalah sebuah kondisi yang harus dilewati dan pasti akan segera berakhir, entah gimana caranya. Jadi, alih-alih sedih, kala itu, saya justru selalu penasaran dan cari-cari sumber informasi atas nama menambah khazanah per-COVID-an. Tsah!

Kejutan!

Suatu malam, jelang tidur, pas lagi baca buku dengan posisi bersila di depan meja, jantung saya mendadak berdetak cepat. Napas saya jadi pendek-pendek. I have no clue at all karena seharian saya merasa sehat. Saya langsung minum segelas air yang ada di samping saya. Karena nggak ilang juga, saya mengoles minyak kayu putih di kaki dan tangan, kayak pake body lotion. Jari-jari saya pijit kuat untuk memastikan kesadaran.

Lucu, enggak sampe 10 atau 15 menit, semua normal lagi. Alhamdulillah, mungkin ada yang lagi ‘ngingetin’ saya. Karena udah ilang, saya cuek dan lanjut baca, dan … deg! enggak sampe 10 menit, kejutan kedua dateng. Saya langsung panik (lebih panik, bahkan) karena kalau sampai berulang, pasti ada apa-apa. Saya ciumi minyak kayu putih biar enggak pingsan dan langsung menghambur keluar kamar menuju kamar teman saya, seorang dokter. 

Aku kenapa yaa?”

Saya ditenangkan. Saya dikasi pertanyaan tapi enggak langsung ke penyebab. Entah gimana caranya, temen saya jago juga. Tapi kemudian, saya hanya berujar, bolehnya saya memeluknya. Tumpah tangis saya. 

Siapa saya di masa krisis

Sejak kejadian ajaib malam itu, saya mulai mendefinisikan ulang diri saya. Edit: diri saya di era krisis. Mungkin, ada sesuatu di sana yang enggak terekspresikan. Takut? Khawatir? Penat? Rasa apa lagi coba di era krisis seperti ini.

Untitled design

Canva.com

Pelan-pelan, saya mulai ngurangin tontonan tentang COVID-19, ya di TV, di Whatsapp Group, di medsos. Saya puasa. Saya justru mulai rajin bertanya pada diri saya, “Hello, are u fine?” Sebagai gantinya, saya ikutan kelas online yang sesuai sama minat saya.

Bahwa aktivitas yang hanya melibatkan ruang terbatas bikin saya itu-lagi-itu-lagi itu benar adanya. #dirumahaja #workfromhome #belajardirumah seolah membuat saya berdiam diri di rumah, enggak keluar ke mana-mana. Padahal sesungguhnya, gantian pikiran saya yang ke mana-mana. Jangan-jangan, pikiran saya udah terlalu ramai kayak pasar malam.

Mungkin habits, ya. Yang biasanya berangkat pagi, ke kantor, mampir-mampir, pulang malam, sekarang harus all day duduk manis di rumah aja. Iya, mungkin saya bergerak: cuci baju, cuci piring, nyetrika, berjemur, tapi enggak semasif sebelum ada COVID-19. Sekarang, temponya melambat, ditambah kondisi-kondisi kayak pandemi virus yang belum ketemu vaksinnya, pemberitaan yang cenderung negatif-menakutkan, dan larangan keluar rumah yang enggak ngerti sampai kapan.

Pertanyaannya, bisakah saya menjinakkan pikiran saya sendiri? Karena konon, hal yang enggak baik itu lebih mudah dikenang daripada hal baik.

Hmm …

Di luar sana, pemerintah enggak pernah lelah menghimbau warganya untuk memakai masker, melakukan social/physical distancing, mencuci tangan, untuk menghindari penyebaran virus korona. Tapi yang enggak kalah penting, menjaga hati dari kecemasan dan kepanikan berlebih. Mungkin, malam itu, kecemasan saya udah sampe ambang batas. Karena gagal saya identifikasi, dia muncul sendiri dalam bentuk lain sebagai alarm diri. Gila si, malam itu saya berpikir ini adalah akhir dari hidup saya di dunia. 

So, lewat tulisan ini, saya kepengen berefleksi. Enggak baik terlalu banyak bertempur dengan pikiran sendiri. Diakui saja semua di luar kendali. Mungkin, ini adalah jeda dari yang Maha Segala untuk lebih nrimo. Atau bisa juga waktu untuk sekadar berpikir what can I do better for the next chapter kehidupan. Maha Baik kan dikasih extra time?

Yuk, banyak-banyak latihan bahagia dalam ketidakpastian. Ikhlasin semua, menjalani masa pandemi.

Suatu hari di masa pandemi (sebelum bulan puasa!), saya keluar rumah mencari makan siang dan camilan. Kepepet tapi percayalah, memutuskan keluar rumah di saat seperti ini bukan perkara mudah. Berasa mau berangkat perang! Deg-degan, was-was, takut, jadi satu. Itu baru secara mental, ya. Secara fisik pun harus lebih ‘tabah’. Mau bagaimana lagi, akses ke jalan besar di samping rumah ditutup. Jadilah, harus jalan berputar dan lebih jauh dari biasa. Sip!

Bermodal masker dan baju panjang, akhirnya, saya berjalan menuju warung nasi padang langganan. Plus, mampir di warung jus di depan pasar. Bagai beruang yang baru keluar sarang pasca hibernasi, saya terlalu excited untuk melihat penampakan orang-orang di pasar. Hiburan!

Ini baru jam makan siang. Biasanya, ramai. Nyatanya, sekarang sepi sejak ada kebijakan pasar diminta tutup jam 12.00. Siang itu hanya menyisakan beberapa pedagang dan orang-orang yang masih stand by mencari rezeki.

mynameishety.wordpress.salamdarirumah2

Inget pasar, inget sayuran.

Tiba-tiba, ada seorang bapak dengan pulpen dan kertas putih (mirip karcis) membaur di suasana. Gelagatnya mengabsen dan memastikan setiap nama tertulis di kertasnya, “Siapa sini, siapa sini. Kamu udah belum?” sambil memandang berkeliling, tak sabar. Saya tak mendengar jelas bagaimana Si Bapak ini menyebut nama, hanya kode melambai ke orang-orang di sekitarnya sampai ke supir-supir bajaj di seberang. Sontak, orang-orang berhamburan mendekat ke halaman pasar.

Seperti kamera yang memutar angle, saya berganti memandang  salah satu supir bajaj yang merapat dari seberang. Sumringah! Mukanya bahagia tak terkira seperti diundang ke surga.

Dalam hitungan detik, tiba-tiba, ada mobil polisi berwarna pekat merapat. Deg!

“Pak, ada apa ini, Pak?” saya sudah panik-berprasangka bakal ada pembubaran kerumunan massa seperti yang saya lihat di berita.
“Oh, itu bagi-bagi nasi ehehe,” kata bapak jus santai.

Benar saja. Salah satu pintu mobil terbuka. Si Bapak yang berpulpen dan berkarcis tadi memerintah orang-orang untuk mendekat ke mobil. Bagi-bagi nasi.

Melihat Lebih Dekat
Saya tak meminta teman-teman keluar rumah, ya, di saat-saat seperti ini. Entah ini efek kebanyakan nonton berita atau apa, memutuskan keluar rumah seperti membuat saya melanggar hukum dan berdosa. Tapi percayalah, setelah keluar rumah, saya langsung cuci kaki dan tangan dengan air mengalir (bahkan mandi), lalu langsung ganti baju.

Beberapa kali ke luar rumah, membuat saya bisa melihat kondisi dunia luar lebih dekat. Seakan memastikan, apakah berita-berita yang ada di TV itu benar atau hanya dibumbui. Maklum, dalam satu bulan, kini, frekuensi ke luar rumah bisa dihitung dengan jari.

Covid-19 memang ngeri. Tak hanya membuat sakit, meninggal, yang hidup pun dibuat merana. Kondisi ekonomi, misalnya, jadi kembang kempis, menambah daftar orang-orang tak berpunya. Orang-orang berada pun juga jadi tak tenang hidupnya. Wabah virus ini tak mengenal kelas.

Di saat-saat seperti ini, di saat semua orang khawatir dengan hidupnya masing-masing berbagi adalah obat. At least, menyadarkan orang-orang kalau mereka enggak sendiri. Solidaritas.

Di hampir semua Whatsapp Group yang saya ikuti, misal, isinya tiada hari tanpa broadcast informasi tentang bantuan dampak Covid-19. Bentuknya macam-macam. Ada yang ajakan berdonasi, ajakan menjahit masker untuk dibagikan, ajakan diskusi online (belajar) secara cuma-cuma, ajakan belanja di warung tetangga, ajakan membeli barang usaha bisnis teman, ajakan berbagi nasi, sampai yang sekadar ajakan mengabarkan yang positif biar enggak menambah kepanikan tentang Covid-19. Di Twitter juga. Banyak orang yang bantu me-retweet pedagang yang kiosnya ditutup sehingga beralih ke layanan pesan-antar. Mungkin, hampir di semua media sosial ya?

Fenomena saling bantu seperti ini tentu bukan sekali ini saja. Masih ingat tsunami di Aceh beberapa tahun silam? Ada yang mengatakan bahwa tsunami di Aceh jadi momentum individu atau organisasi untuk saling bantu dan mengirimkan bantuan kepada yang membutuhkan. Kini, seolah kembali lagi dengan bentuk berbeda. Organisasi jaringan lokal berubah jadi organisasi humanitarian. Jika ketemu offline sementara dilarang, media sosial akhirnya jadi tempat berkumpul orang untuk berbagi bantuan. Mereka riuh secara virtual. Benar ya, ternyata, menjadi baik itu nggak bisa sendiri. Bahagianya yang dibagikan, bukan masalahnya.

Semoga badai lekas berlalu.

Ini hari kesekian buat saya berada di rumah, enggak ke kantor (I know, maybe, almost all of us). Rute yang biasanya rumah – kantor – plus mampir-mampir, jadi sepanjang hari dihabiskan di rumah, rumah Jakarta. Walau sebenarnya, di awal tagar #dirumahaja muncul di media sosial, orang tua di Jogja udah memberikan komando untuk segera pulang ke Jogja, “Daripada kamu di situ sendirian, mengkhawatirkan, mending pulang aja“.

Seperti biasa, ‘panggung pikiran’ ala mereka adalah bahwa di Jakarta sedang terjadi sesuatu yang di daerah lain enggak ada. So, pulang ke Jogja adalah ide brilian, menurutnya. Enggak lama, salah. Ternyata, enggak hanya di Jakarta, daerah lain menyusul. Orang-orang, kemudian, diminta enggak mudik untuk menghindari persebaran Covid-19. Tetap stay di sarangnya, rumahnya. Termasuk saya yang kali ini harus tetap di ibukota.

Ini bukan rumah saya, btw. Di Jakarta, saya tinggal di lantai dua di sebuah rumah sepasang suami istri dengan dua anak yang lucu (indikator lucu adalah anak yang terkecil suka nyanyi dan itu kedengeran sampai lantai 2! Terakhir yang saya denger adalah lagu ‘pelangi-pelangi’). Di lantai dua ini, memang ada beberapa kamar yang dihuni oleh beberapa teman. Jadi, walau hanya tinggal di ‘sebuah’ ruangan, saya tetap merasa menjadi bagian dari sebuah rumah dan tentu saja, … keluarga!

Oh ya, ada lagi! Suara  anak-anak tetangga dari luar pagar rumah juga turut memberi warna #dirumahaja. Ada aja riuhnya, dari  main bola, badminton, atau kejar-kejaran. Nampaknya, mereka benar-benar sedang menunaikan haknya, bermain. Ah, iri!

Work from Home 
Saya enggak pernah menyangka jadi begini. Ini beneran tanggal bersejarah, Senin, 16 Maret 2020. Satu bulan enam hari yang lalu saya masih berangkat ke kantor. Walau sejak hari Minggu, media udah rame soal pembatasan jumlah bus Transjakarta, pak bos tetap meminta kami semua, sekantor, masuk.

Saya juga masih ingat niat saya pagi itu. Sebagai orang melankolis, saya kepengen berangkat ke kantor naik bus Transjakarta seperti biasanya, pamitan. Yah, siapa tau itu yang terakhir. Sayangnya, langsung buyar saat tau ternyata pembatasan bus justru bikin antrian di halte. Enggak jadi ah! Ganti rencana, ojek online. See, studi kasus orang melankolis seketika jadi realistis.

Sampai di kantor, kantor ramai. Entah kenapa teman-teman berwajah was-was bahagia. Kalau boleh cerita, hawanya seperti hari terakhir masuk kantor jelang libur Idul Fitri. Kebayang kan? Kami masih sempat bercanda, juga bergosip dan berekspektasi tentang apa yang akan terjadi hari itu. Walau lagi-lagi, rasa cemas tentang virus masih ada dan rasanya ingin pulang cepat-cepat saja. Sampai akhirnya, jelang makan siang, pak bos mengajak kami semua rapat untuk membahas skema kerja dari rumah.

Oh, ini beneran serius.

Work from home bukan mainan baru. Ini bukan kali pertama skema kerja dari rumah berlaku di kantor. Dulu-dulu, pak bos juga sudah membolehkan kami semua untuk kerja dari rumah jika ada alasan yang masuk akal (bahkan kerja di warung kopi atau kafe boleh juga). Silakan. Syaratnya cuma harus jawab kalau ditanya via Whatsapp. Ya, ditanya soal kerjaan, maksudnya.

Sebagai orang yang diberi tanggung jawab untuk menyampaikan soal kebijakan kantor ini di media, kala itu, seolah mudah saja: working from home, mengikuti instruksi pemerintah, 17 – 27 Maret 2020. Nyatanya, jeng-jeng … 30 Maret – 19 April 2020, dan konon, untuk yang kali ini, sampai Mei 2020. Hiii …

Di rumah, hari-hari udah absurd saja. Saya enggak kenal kalender. Tau tanggalnya, lupa harinya. Tau harinya, lupa tanggalnya. Yang biasanya excited tiap hari Jumat karena mau weekend sekarang enggak ada. Ya, Senin sampai Minggu, itu-itu aja. Parahnya, saya lupa tanggal merah dan tetap aktif mengetik dokumen online proyek keroyokan kantor sambil menggerutu, “Temen-temen pada ke mana sih ini?”

Adaptasi
Ada yang bilang, perubahan itu dimulai dari status quo.  Lalu, ada sesuatu yang membawa kita pada perubahan (change introduction). Emang enggak selalu mulus kayak jalan tol, terlebih kayak sekarang, saat semua enggak pasti karena wabah virus. Pasti ada aja penolakannya, ada resistensinya, ada chaos. Tenang, perlahan akan ada kemauan untuk beradaptasi, lalu dinikmati, dan nggak berasa sampai di kondisi yang lebih baik (zone of better performance/new status quo).

Hmm, nampak mudah ya? Iya, nampak (doang) haha.

Saya sedikit-sedikit mulai bikin pola. Biar tetep kenal hari, mulai Jumat malam sampai Minggu, enggak mau buka laptop dulu atau ngurusin kerjaan, kecuali emergency (baca: di-WA pak bos dengan sandi, “Maaf mengganggu akhir pekannya,” haha). Biar tetap berasa weekend, Sabtu-Minggu beberes atau olahraga. Tetap aktif partisipatif di grup Whatsapp kantor biar berasa Senin-Jumat itu kerja seperti biasa, ini bukan periode liburan panjang. Bonus, ada ekstra waktu dan privilese untuk belajar/training online gratisan. Huy!

Enggak sampai di situ aja, saya juga enggak mau egois memvonis diri yang paling menderita (iya sih, ngerti-ngerti: anak kos, perantauan, jomblo lagi haha). Pencapaian-pencapaian kecil mulai diselebrasi di level diri sendiri. Termasuk, sampai malam ini, 22 April 2020, bisa duduk manis nulis blog sambil ketawa sendiri.

Iya, saya sadar kita semua sama-sama enggak tau sampai kapan semua ini berakhir dan back to normal. Jadilah, saya tulis di post it warna-warni:

16 Maret 2020: hari terakhir masuk kantor
10 April 2020: Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Today!

Hikmahnya, biar bersyukur, masih diberi sehat dan hidup oleh yang Maha Segala, sekaligus bukti banyak yang sudah dilewati sampai hari ini. Jadi inget, suatu saat, di Twitter, ada tweet yang nanya soal perkembangan diri, “Skill apa aja yang udah kamu pelajari selama periode karantina ini?” Teman saya dengan pede me-retweet with commentSkill bertahan hidup.” Saya auto ngakak. Ner uga!

Jadi, salam dari rumah. Jaga kesehatan, diri, hati!

Ini memang belum di penghujung tahun, bahkan setengah perjalanan, tapi jika ada pertanyaan ‘Sebutkan satu kata tentang 2020’, berani jamin, banyak orang yang akan menjawab ‘korona’, ‘virus corona’ atau ‘COVID-19’. Ya, ‘korona’ bakal tercatat di sejarah umat manusia.

Banyak orang yang akan terkenang-kenang dengan ‘korona’. Saat ini, sesuatu yang diidentifikasi sebagai virus itu menjadi tantangan besar bagi seluruh manusia walau ini bukan wabah virus pertama yang terjadi di dunia. Menurut sebuah artikel yang pernah saya baca, ada wabah virus lain sebelumnya, seperti flu burung, Ebola, SARS, MERS, Rabies, dan Cacar. Mengapa korona? Ya, karena sampai saat ini belum ada obatnya. Ya, karena menelan banyak korban jiwa. Ya, karena saking cepatnya penularannya. Ya, karena sudah menyebar ke seluruh dunia, bahkan diklaim sebagai kondisi darurat global.

1

Di Indonesia sendiri, pemerintah sudah membuat website khusus yang berisi informasi tentang korona. Semua informasinya bersumber dari WHO, badan kesehatan dunia, serta temuan yang terjadi di Indonesia. Websitenya bisa diakses di www.covid19.go.id. Di sana, disebutkan bahwa virus corona baru atau novel coronavirus (nCoV) adalah jenis virus corona baru yang menimbulkan penyakit yang bernama COVID-19. Sebelum dikenal sebagai COVID-19, penyakitnya dikenal sebagai virus corona baru 2019 atau 2019-nCoV. Virus corona baru adalah virus baru tapi mirip dengan keluarga virus yang menyebabkan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan sejumlah influenza biasa.

Virus korona dapat menular antarmanusia melalui kontak langsung, yaitu ‘droplet’ atau cairan/butiran/tetesan saat batuk/bersin. Jika terpapar virus ini, selama 1-14 hari, akan muncul gejala seperti demam, rasa lelah, dan batuk kering. Walau sekilas nampak seperti gejala ringan, pada kelompok rentan, seperti lansia atau orang dengan sakit tertentu, bisa berakibat lebih serius. Sehingga, diperlukan tes khusus yang dapat membuktikan apakah orang tersebut terkena virus korona.

Walau sampai sekarang belum ditemukan obatnya, katanya, daya tahan tubuh yang baik bisa mencegah kita dari virus ini. Banyak pasien virus korona yang dilaporkan sembuh. Cek deh di beberapa pemberitaan media.

**

Saya yakin keberadaan virus korona menjadi periode yang sulit bagi siapa pun saat ini. Sebagai orang yang panikan, saya juga sempat ‘panas-dingin’ dengan virus ini. Terlalu kepo dan kurang informasi sama-sama enggak menguntungkan. Bahkan, nulis blog malam ini pun saya (masih) deg-degan dan harus tarik-tahan nafas beberapa kali. Mau bagaimana lagi ya. Mungkin menulis sesuatu yang bikin panik, pelan-pelan, bisa jadi terapi. Blogging therapy.

Ya, dengan kondisi yang serba enggak pasti kayak gini, respons orang bisa beda-beda. Orang enggak melulu bisa sakit secara fisik, mental juga. Jadi, mau nggak mau kita sendiri yang pegang kemudinya. Yuk, kita tetap positif bekali diri dengan ilmu dan kesadaran. Jangan lupa jaga kesehatan ya!

*
Ini adalah tulisan pertama saya tentang Covid-19, grogi. Jangan bosan baca ya, masih bakal ada 29 cerita nantinya untuk BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge, sekaligus ajang terapi menulis buat saya di tengah pandemi.

%d bloggers like this: