Sri Erni Assri, namanya. Tapi percayalah, jika kamu mencoba mencari beliau di perkampungan padat di Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur dengan ‘Ibu Sri’ – nama depannya, tak akan ketemu. Saya sudah membuktikannya. Menyebut ‘Ibu Sri’ kepada penduduk sekitar, ternyata cukup membuat kening mereka berkerut beberapa saat. Ya, di kawasan itu, rupanya beliau lebih populer dipanggil ‘Ibu Assri’.

Rumah Ibu Assri ada di sana, Mbak, belok kiri, pagar hitam,” akhirnya ada seorang ibu yang memberi saya petunjuk setelah menyadari bahwa ‘Ibu Sri’ yang saya cari adalah ‘Ibu Assri’, penggagas Kelompok Belajar Anak (KBA) Rumah Asri. Bonus, ibu itu ‘menitahkan’ seorang anak untuk menemani saya menuju rumah Ibu Assri. Mungkin, melihat gelagat saya, Si Ibu khawatir saya akan hilang arah.

Itu Kak, yang pagar hitam. Kakak masuk aja,” anak itu memang tak mengantarkan saya persis di depan rumah. Dia hanya menunjuk rumah berpagar hitam lalu berlalu begitu saja, seolah yakin, saya tak akan tersesat saking dekatnya.

Semakin mendekat ke rumah berpagar hitam, keyakinan saya langsung bulat seratus persen tak salah rumah. Riuhnya sudah berasa. Ada suara orang yang sedang mengajar dan diikuti oleh suara anak-anak, bersahutan. Khas sekali.

Halo, Ibu?” sapa saya kepada perempuan yang perawakannya mirip dengan mama saya di Jogja.

Mbak Hety ya?” jawabnya ramah, menyambut kedatangan saya siang itu.

Rupanya, Ibu Assri sudah menunggu saya di ruang tamunya. Ruang tamunya memang tak bersekat, jadi saya bisa melihat langsung kegiatan bermain dan belajar yang sedang berlangsung di ruangan sebelahnya.

Ya, begini Mbak kalau hari Sabtu,” jelas Ibu Assri memberi pemakluman tanpa saya minta. Ibu Assri sempat mengajak saya ke teras yang lebih sepi, tapi saya tolak. Wawancara dengan ‘backsound’ riuhnya suara anak-anak belajar adalah sebuah ‘privilege‘ atau hak istimewa, bukan gangguan. Sungguh, saya menikmatinya.

Ibu Assri tertawa saja saat mendengar cerita saya ‘tersesat’, “Mbak tadi memang dari arah mana? Naik apa? Lha, namanya aja KBA Rumah Asri yaa, bukan KBA Rumah Sri?

Saya jadi ikut terkekeh. Balada nama depan menjadi ajang keakraban kami berdua. Tak lupa, saya juga dikenalkan dengan Sarla, anak Ibu Assri yang sekaligus menjadi pengajar di KBA Rumah Asri.

Ibu Assri pun mulai bercerita. KBA Rumah Asri berdiri pada 19 Agustus 2015. Semua berawal dari keprihatinannya melihat anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya yang bermain sendiri tanpa pendamping. Tak hanya siang sepulang sekolah, malam pun mereka hanya berkeliaran di jalan tanpa kegiatan yang berarti.

Melihat hal itu, Ibu Assri tergerak hatinya untuk mengundang anak-anak itu ke rumahnya. Daripada bermain di jalanan, lebih baik bermain dan belajar di garasi rumah Ibu Assri yang relatif luas. Ibu Assri menyediakan buku, mainan, bahkan internet yang dapat dimanfaatkan anak-anak. Selain itu, keluarga Ibu Assri juga bersedia memberikan les Matematika dan Bahasa Inggris secara cuma-cuma. Kegiatan bermain dan belajar diatur satu minggu sekali, setiap hari Sabtu. Namun hari Minggu pun, anak-anak tetap bisa datang berkunjung.

Di hari pertama KBA Rumah Asri dibuka, banyak anak-anak yang datang ke rumah Ibu Assri. Semuanya antusias. Namun ternyata, itu bukan menjadi sebuah kejutan. Ibu Assri justru kaget melihat tingkah laku dan tutur kata anak-anak dengan sebayanya saat kegiatan bermain dan belajar berlangsung. Ibu Assri tak menyangka anak-anak itu bercakap-cakap layaknya orang dewasa dengan kosakata yang kurang tepat dan cenderung kasar. Melihat itu semua, Ibu Assri tidak putus asa. Beliau justru semakin yakin, KBA Rumah Asri akan menjadi jawaban atas kegelisahannya selama ini.

Selain mengundang anak-anak PAUD sampai SMA untuk belajar di rumahnya, Ibu Assri yang terlanjur gemas dengan apa yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya juga berusaha untuk melakukan pendekatan kepada para orang tua. Sesekali, orang tua anak-anak itu dikumpulkan. Ibu Assri bersedia berbagi ilmu parenting yang didapatkannya dari PKK, mulai dari ilmu tentang pola pengasuhan sampai pengetahuan tentang sepuluh hak anak.

Saya hanya meneruskan ilmu yang pernah saya dapat, salah satunya bagaimana cara mendidik anak. Harapannya sederhana, orang tua menjadi terinspirasi dan mau melakukan,” kata Ibu Assri bijak.

Oh ya, satu hal yang istimewa dari KBA Rumah Asri adalah tenaga pengajar yang berasal dari keluarga Ibu Assri. Tak hanya dua anaknya dan Ibu Assri sendiri, tetapi juga suaminya yang jago menghibur anak-anak dengan permainan sulap sederhana. Ini menjadi sebuah keteladanan yang patut dicontoh dari Ibu Assri, yaitu membangun kepedulian dari lingkungan terkecil, keluarga. Walaupun ke depan, Ibu Assri tetap berharap banyak anak muda di lingkungannya tempat tinggalnya yang mau terlibat mengajar adik-adik.

Kini, tidak terasa, genap empat tahun usia KBA Rumah Asri. Segala dinamika yang terjadi selama ini seakan menjadi cambuk bagi Ibu Assri untuk terus menghidupkan KBA Rumah Asri. Perubahan tingkah laku anak-anak menjadi suntikan semangat. Sesederhana, empati antaranak sudah terbangun, mereka bisa saling pinjam alat tulis tanpa ‘drama’.

Mimpi Ibu Assri tidak terhenti di sini. Saat ditanya sampai kapan Ibu Assri melakukan ini? Ibu Assri hanya menjawab sampai masyarakat mau terlibat. Ibu Assri selalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Ibu Assri merasa tidak dirugikan sama sekali dengan keberadaan KBA Rumah Asri ini. Rumahnya pun milik sendiri tidak ngontrak, katanya sambil bercanda.

Sampai di sini, saya jadi teringat sebuah peribahasa dari Afrika, ‘It Takes a Village to Raise a Child’. Perlu keterlibatan berbagai pihak untuk membesarkan seorang anak, termasuk pendidikan anak. Dalam masyarakat, pendidikan anak menjadi tanggung jawab bersama dan harus diupayakan bersama. Tidak hanya tugas guru di sekolah, orang tua di rumah, juga lingkungan. Sudah sejauh apa kita turut berkontribusi?

Nah, Ibu Assri adalah salah satu sosok ibu di ibukota Jakarta yang penuh inspirasi. Nampaknya, Jakarta tidak hanya membutuhkan sosok Ibu Assri seorang yang peduli pada pendidikan, tetapi juga Ibu Assri-Ibu Assri yang lain yang nantinya bisa turut membersamai anak-anak ini tumbuh, berkembang, dan bahagia di ibukotanya.

*
Ibu Assri yang selalu bersemangat menghadapi hari Sabtu karena tak sabar untuk bertemu anak-anak berhasil menghadirkan suasana lingkungan sekitar yang humanis dan harmonis di kawasan Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur. Temukan sosok lainnya dan ikuti cerita #AksiHidupBaik lainnya di akun Youtube dan Instagram @Ibu.Ibukota”

Source: IMDB

Enggak butuh sekian menit, Abominable (2019) bikin saya senyum-senyum sendiri. Banyak yang bikin saya senyum-senyum sendiri di sini. Nih film ko gue di masa lalu banget yak! Pengen pergi.

Enggak pernah ada yang salah sama keluarga saya. Rumah, papa, mama, kakak, dan saya. Kami berempat tinggal bersama, papa yang paling ganteng. Jarak antara saya dan kakak empat tahun aja. Ini bikin mama enggak pernah pusing soal sekolah kami. Buku pelajaran kakak akan diwariskan ke saya. Begitu juga dengan baju pramuka, selendang untuk pelajaran seni tari, pianika untuk pelajaran seni musik, … dan appa ajja yang bisa dibalik nama. Dan baru saya sadari jauh sebelum praktik 3R (Reduce, Reuse, Recycle) marak dikampanyekan kayak sekarang, mama sudah mempeloporinya di rumah kami: memperpanjang usia barang dengan mewariskan barang kakak ke adik #SebuahTips for millennial parents di luar sana

Nyatanya, kondisi serba ‘cukup’ seperti ini yang justru bikin saya gelisah. Apa ya? Mulailah saya pergi-pergi sendiri, memisahkan diri dari rombongan, dan hanya (selalu) berujung ucapan mama, “Jangan jauh-jauh, nanti kalau kamu ilang gimana?” Tapi bibit-bibit nekat itu udah ada di sana, percayalah :p

Enggak berhenti. Seiring saya dewasa, saya mulai suka pergi-pergi (lagi). Prinsipnya, daripada bilang nantinya enggak boleh, saya akan tetap pergi tanpa ketahuan. Orang tua menyebut ini ‘bandel’, saya menyebut ini ‘petualangan’. OOT: trik ini yang kemudian baru disadari mama-papa beberapa tahun kemudian. Kalau mereka ngobrol tentang suatu tempat yang jauh dan saya bisa nimbrung, mereka langsung mengintrogasi saya “Kamu pernah ke sana, Dek, hayo?” Saya hanya mampu nyengir mohon pengampunan.

Iya, ini jelek. Saya sadar. Jangan ditiru ya. Izin orang tua itu utama.

Again, saya ketagihan. Lanjut kuliah, cita-cita saya: ngekos! (boleh ketawa lho). Saya sudah merancang ini sejak SMA. Saya akan kuliah di UI – Jakarta! Mama hanya terkekeh saja, “Lha wong yang lain jauh-jauh, susah-susah tes, mau kuliah di UGM, ko kamu yang orang Jogja malah mau kuliah di luar Jogja.”

Hmm …

Bus, simbol petualangan.

Bagi orang tua saya, saya hanya mendamba kebebasan semata. ABG-lah, lagi tidak mau diatur, masa pertumbuhan (heh?), dan masa pencarian jati diri. Padahal, rasa saya, lebih dari itu. Saya punya misi, saya ingin ada tantangan tapi tetap sadar diri, jadi ‘main aman’. Pernah, suatu kali saya pergi dan pulang larut. Saya hendak izin mama nginep di kos teman, mama langsung balas SMS (heEh, kala itu masih SMS, pemirsa!), “Dek, kamu itu masih punya rumah. Pulang!”

Kebayang ko. Mungkin ini prosedur mama dalam mengasuh dan melindungi putri keduanya dari serba-serbi kenakalan remaja. ((( kenakalan remaja ))).

Oh ya, singkat cerita, sekarang, saya beneran merantau lho! Papa masih suka meledek saya, “Gimana kabarnya anak kos? Cita-cita, kan?

HeEh, nostalgia-nostalgia semacam itu yang sering ‘pop-up’ – muncul di kepala saya pas saya nonton film. Enggak cuma Abominable (2019) aja di mana Yi sangat mendamba ingin jalan-jalan ke luar Shanghai. Masih ingat Wonderpark (2019), Bumblebee (2018), dan apa ya? Mungkin kamu bisa bantu sebut film juga?

Anak – Orang Tua, Mau Dibawa ke Mana Hubungan Kita?
Ada pola yang saya temukan di sini. Ketika maunya orang tua dan maunya anak beda, komunikasi mandek, ‘fight or flight’ selalu jadi opsi. Eh, wait, semoga saya enggak ekstreem ya pakai terminologi ini? Sesederhana, tahu mimpinya anak, pengen jadi apa, maunya apa. Kadang anak ‘merasa’ capek menjelaskan, sebaliknya, kadang orang tua ‘merasa’ lelah udah ngasih kesempatan. Di beberapa film animasi atau film anak yang saya tonton, alur-alur semacam ini semakin sering ditemuin.

Jadilah, anak menciptakan petualangannya (saya artikan ini sebagai ‘flight’). Kadang sendiri – berlari bersama mimpinya, kadang bersama teman baiknya, bahkan bersama orang/makhluk yang baru ditemuinya. Tenang, berhubung ini bukan cerita kriminal slash horor, petualangan anak enggak akan berakhir tragis. Ngepol kehilangan sesuatu dan mendapatkan yang baru (sama aja dong Kak!)

Kabar baiknya, anak justru semakin kenal dirinya saat menjalani petualangannya sendiri. Gimana sih bersemangat itu? Gimana rasanya berada di saat sulit? Ini mustahil atau bisa dilakukan? Sampai akhirnya mereka akan paham esensi “No matter how hard the journey gets, never give up.” Pun rasa syukur. Dari semula, modal nekat pergi, sikap gegabah, lalu inget keluarga, dan menyadari betapa banyak hal berharga yang selama ini dilewatkannya. That’s such a cliche but it happens in real life! Yo koyo aku mbiyen hehe. Kamu juga ta?

Thanks to Film Bocah
Alih-alih nonton yang tembak-tembakan, pukul-pukulan, sadis, berantem, horor apalagi, saya justru ketagihan film-film anak seperti ini. Saya jadi belajar sedikit-sedikit. Masuk bioskop pengennya rekreasi, malah refleksi haha.

Melatih imajinasi juga deng. Kan ada yang bilang, “The creative adult is the child who survived” 😀

source: @theblacksheepsurvives

Mind blowing aja. Film anak-anak itu kan yang bikin orang dewasa ya? Kalau saya yang nonton aja sampai bisa seperti ini, yang bikin film apalagi? Mungkin mereka semua sudah berefleksi atas masa kecilnya, pola asuh keluarga, dan … (mungkin) berusaha men-syiarkan praktik baik hubungan orang tua dan anak. Yha, bagus kan? Sebaliknya, beberapa kali nonton film anak di bioskop pas weekend di mana studio full sama anak-anak dan mimi-pipinya, mereka tertawa lepas pas adegan lucu di film yang memang genre mereka. Ya, ketawa aja. Namanya juga anak-anak. Mungkin ini yang disebut paradigma. Mau nonton apa, mau memaknainya gimana.

Jadi, sampai di sini, ‘I just want to escape’ ini nggak melulu negatif, ya? Sepakat kan? Ini bukan semacam ‘pengennya kabur dari rumah’ (baca: minggat) tanpa makna. Lebih dari itu. Coba deh duduk sama bocah dan terlibat arus imajinasi mereka. Tanggepin aja! ‘I just want to escape’ is a sentence but it means a lot buat orang-orang seperti saya, Yi, dan anak-anak di luar sana pendamba tantangan dan pencapaian misi. Saya 31, btw hwkwkwkwkw.

The adventure is out there. U just have to choose. U can stay or move.
(Hety, 2019)

*

Abominable (2019)
IMDB score: 7,2
Rotten Tomatoes: 82%
Bagian yang paling suka:
– Yi kerja part time dan ngumpulin uang demi jalan-jalan, di saat temen-temannya jajan-jajan
– Sindiran alus pisan: kita kebanyakan hidup di medsos, kurang main di dunia ‘nyata’
– Tetiba ada lagu Coldplay di tengah-tengah, jadi nyanyi :’)
– … Het, please, jangan tulis semua di sini! #spoileralert

Dari sekian banyak metode belajar yang diajarkan bapak/ibu guru di sekolah, ada satu hal yang selalu saya ingat, “Kerjakan sesuatu dari yang paling mudah.” Dulu, saya pikir, ini hanya berlaku saat ujian saja. Tak boleh spaneng atau kekeuh di satu soal Matematika. Tiga menit hitung pakai rumus enggak ketemu, sudah tinggalkan dan beralih ke nomor selanjutnya. Carilah yang mudah. Ya, begitu katanya.

Saya salah. Metode itu ternyata tak hanya berlaku untuk ujian sekolah, ujian kehidupan pun. Hehe, saya mulai terkekeh. Menertawai diri dan tulisan ini!

Bedanya, kalau di soal ujian, saya bisa memilih. Nomor satu tak bisa, pindah ke nomor dua, nomor tiga, begitu seterusnya. Atau, tinggal di-screening aja, mana yang paling mudah, bisa langsung dijawab. Yakin! Tidak semua nomor itu menyusahkan siswa. Ada bobot di setiap soal. Silakan endus saja :3 *hidung, mana hidung?

Di ujian kehidupan, tak ada yang bisa dipilih selain langsung dihadapi. Ya kali milih! Tentu saja, saya akan selalu memilih yang mudah-mudah saja bukan? Ya, hidup memang bukan sekadar soal Matematika. Belajar rumus, lalu diuji dengan soal ujian. Hidup? Kebalikan. Diuji dulu baru menemukan rumus alias makna pembelajaran.

Begitulah, isi kepala ini kemudian beretorika. Bis-sa saj-ja.

Saatnya belajar melihat diri sendiri pakai cermin, bukan melihat orang lain pakai etalase. Membandingkan itu, enggak akan ada habisnya.

Alkisah, untuk pekerjaan kantor, saya tak bisa saya memilih untuk bertemu dengan orang yang ‘mudah-mudah’. Walau, sekali lagi inginnya begitu. Ketemu yang klik, yang ngomongnya nyambung, yang asyik, yang terbuka, yang support ide kita, yang sopan, yang enggak telat, yang …, yang …, yang … . Justru, yang saya temui, yang pesimis, yang ‘ngetes’, yang intimidatif, yang superior, yang sinis, yang dijelasin malah nyolot, yang …, yang …, yang …, yang bikin emosi.

Kalau sudah begitu, saya yang tipe orang kepikiran ini, bisa kepikiran berhari-hari. Kenapa ya orang-orang itu? Sebagai pembaca buku Filosofi Teras tapi belum khatam, seharusnya saya lepaskan saja perasaan-perasaan semacam itu. Toh, sikap orang lain itu di luar kendali/kontrol saya, begitu kata bukunya.

Ya, karena belum khatam baca buku Filosofi Teras itu tadi (mungkin), dan namanya juga manusia, saya suka kebawa emosi. Ngedumel. Saya lupa, gagal mengidentifikasi bahwa saat-saat sulit itu justru sebenarnya peluang besar untuk saya belajar.

Saya memang tak pernah tahu, mengapa saya bisa betemu dengan orang-orang ‘sulit’. Tapi, bagaimana kalau ini adalah momentum ujian untuk menemukan alasan mengapa saya bertemu dengan orang-orang ‘sulit’?

Bukankah mantranya adalah ‘Kerjakan dulu dari hal yang paling mudah’? Dan untuk perkara hidup, yang paling mudah adalah di-ha-da-pi.

Oh, gini to, ketemu orang yang ‘sulit’? Saya mungkin yang kurang sabar, saya buru-buru negative thinking, atau saya sudah kasih presentasi yang terbaik dari saya, saya juga udah berupaya menjawab. Mungkin bapaknya lelah, ibunya banyak kerjaan, mbaknya bawaannya begitu dan pemakluman lain yang bikin saya tetap rileks dan enggak stress sendiri. Baiklah.

Di paragraf ini, saya terkekeh lagi sendiri.

Teringat, saya yang tipe ekstrovert ini justru kelu, mengkeret, saat kesasar di bandara Schipol sendirian beberapa tahun silam. Pintunya banyak, papan penunjuknya banyak, bisa kelap-kelip pula. Tapi, nyatanya, hanya mau cari satu orang saja, saya panik bukan main. Di situ saya berbisik pada diri saya sendiri, “Ayo, ayo, ketemu kok pasti.”

Atau saat saya ketinggalan kereta, bukan, kereta yang mengalami perubahan jadwal dan saya ketinggalan, dan saya ada di ‘kampung tetangga’ – Essen. Tengah malam, sendirian, tak kenal siapa-siapa, batere HP dan powerbank sekarat, pulsa internet habis. Duduk di peron, saya mau nangis. “Sabar, sabar, pulang kok,” saya menenangkan diri menatap jadwal kereta yang saya sendiri enggak yakin mau naik yang mana.

Nyatanya, semua terlewati. Setelah itu, saya justru jadi orang yang lebih prepare. Kalau mau pergi ke tempat-tempat yang ‘enggak tahu sebelumnya’, ya, modal googling dulu. Kalau mau pergi, pastikan handphone, powerbank full, kabel charger aman di tas. Serta, pikiran yang lebih positif – pasti ada jalan, entah gimana caranya.

Saya yang tukang percaya sama yang ajaib-ajaib (‘There can be miracles, when u believe’ – When U Believe-nya Mariah Carey dan Whitney Houston) jadi punya paradigma lain: bahwa peluang, kesempatan, keajaiban, itu enggak cukup dipercaya datangnya, tapi harus dipersiapkan. Orang yang ‘siap’ bisa jadi lebih tanggap untuk merespons apa yang datang. Mau hal negatif atau positif, saya percaya, saya akan memberikan respons terbaik.

Lagi-lagi dan balik lagi, ‘Kerjakan sesuatu dari yang paling mudah’. Dalam urusan hidup, ya dihadapi. Tenang, si pembuat soal udah paham ko siapa kita dan punya kuasa buat menentukan kadar bobotnya. Mau ragu di bagian mana lagi? Belajar, belajar!

Believe Allah in every situation cause Allah is the best planner of our life.” (QS. At-Thalaq:3)

Hari ini. Berita duka datang jelang makan siang. Lewat akun Instagramnya, seorang teman mengabarkan Ibu Indira Abidin meninggal.

Saya kelu.

Setelah sekian detik merasa mampu, saya mengarahkan ‘cursor‘ saya ke tanda ‘+’ Google Chrome. Saya ketik berita duka cita ini di Google dan … benar saja, muncul berita duka dari berbagai media.

Mungkin, Ibu Indira tidak mengenal saya. Saya kenal beliau dari jauh, dari kursi notetaker dan dari linimasa Twitter.

Tiga tahun lalu, seminggu setelah resmi menjadi staf di kantor saya sekarang, kami mengundang Ibu Indira untuk menjadi salah satu narasumber ‘Philanthropy Learning Forum ‘ bulan April yang mengangkat tema filantropi dan perempuan. Selain Ibu Indira, kami juga mengundang beberapa pegiat filantropi perempuan di Indonesia, seperti Mbak Anik dari Pundi Perempuan, Mbak Icha dari Samahita, dan Mbak Anantya dari Girls in Tech Indonesia. Saking istimewanya, Ibu Erna Witoelar mengapresiasi kehadiran mereka dengan mengatakan, “Para perempuan yang menjadi narasumber kali ini adalah empat dari sekian perempuan yang berjuang di jalannya masing-masing, terkait isu-isu perempuan.”

Kala itu, sebagai notetaker yang duduk manis sambil mengetik tak jauh dari narasumber, saya terpapar sejadi-jadinya dengan berbagai informasi yang mereka bagikan. Hujan inspirasi. Tak jarang, saya langsung stalking media sosialnya dan yang kemudian saya follow adalah akun Twitter Ibu Indira.

Bisa ditebak, selanjutnya, selain teh manis hangat, pagi saya selalu ditemani salah satu tweet dari akun Ibu Indira yang berisi blog update (beberapa kali juga, saya baca blog beliau). Maklum, sebagai communication officer, setiba di kantor dan menyalakan komputer, yang harus segera dibuka adalah akun media sosial.

Hari ini, Ibu Indira berpulang. Saya merasa kehilangan. Hari ini juga, saya jadi belajar bahwa: Tak kenal pun, ketika yang dilakukan adalah kebaikan, rasa baiknya masih bisa dirasakan dari jauh.

Selamat jalan Ibu Indira.
Innalilahi wa innailaihi rojiun
Allahummaghfir lahaa warham-haa wa ‘aafihaa wa’fu anhaa

Oh ya, teman-teman juga bisa membaca tulisan terakhir Ibu Indira di blognya, ‘Semua Hanya Pinjaman‘. Dalam sekali untuk menjadi sebuah perenungan bersama.

*

Lewat tulisan ini, saya membagikan apa yang sempat saya catat kala itu. Yang kemudian membuat saya jatuh hati (dari jauh) pada ibu Indira dan apa yang dilakukan oleh para perempuan demi kebaikan para perempuan. Semoga bermanfaat ya untuk teman-teman pegiat sosial, insyaallah masih relevan.

* *

‘Campaign for Women’ menjadi judul materi presentasi dari Ibu Indira. Dalam presentasinya, Ibu Indira menampilkan 3 (tiga) video kampanye sosial yang menurut beliau sarat inspirasi.

‘No Child Bride’ – India

(Sumber: Youtube)

Ada sebuah NGO yang ingin melakukan awareness dan advokasi agar ada action dari pemerintah dan dunia untuk melakukan sesuatu tentang pernikahan dini di India. Pada umumnya, di India, perempuan yang sudah menikah menggunakan bindi berwarna merah. Sebagai sindiran halus, kampanye yang menentang pernikahan dini ini menggunakan bindi berwarna putih. Akhirnya, kampanye ini mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat, media massa, dan artis. ‘White Bindi’ juga menjadi bagian dari fashion dan akhirnya berhasil menggalang kesadaran publik terkait pernikahan dini di India.

‘Dear Future Mom’ – Italia

(Sumber: Youtube)

Ada seseorang yang mengirimkan surat kepada sebuah NGO yang bergerak di bidang difabel tentang ketakutannya memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Akhirnya, NGO tersebut membuat sebuah video yang akhirnya bisa viral tersebar di seluruh dunia, bahkan perdana menterinya turut mendukung kampanye ini.

‘The Ungiven Gifts’

(Sumber: Youtube)

The ungiven gifts adalah kampanye tentang hadiah natal yang tidak tersampaikan. Hadiah-hadiah ini tidak tersampaikan karena yang bersangkutan meninggal, menjadi korban kecelakaan di jalan Victoria, New Zealand. Kampanye ini bertujuan untuk mengurangi angka kecelakaan di Jalan Victoria dan mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan berhati-hati (change of behaviour).

Setelah menonton bersama, Ibu Indira mengajak para peserta untuk menarik lesson learnt dalam strategi kampanye sosial, yaitu:
1. Salah satu cara untuk mengajak orang peduli dan ‘do something’ dalam rangka memobilisasi dukungan adalah dengan membuat video kampenye sosial yang ‘touchy‘ (menyentuh sisi-sisi humanisme).
2. Video yang sangat ‘touchy’ bisa membuat orang yang menonton tergerak hatinya dan bersedia untuk berdonasi, bahkan melakukan sesuatu (misalnya: mengubah cara pandang, mengubah perilaku)
3. Membuat video kampanye sosial tidak melulu harus berbiaya mahal.
4. Video kampanye sosial harus dibuat penuh kreativitas agar tidak monoton.

LPKA, enggak ada yang bikin saya ragu untuk kembali ke sini. Saya selalu semangat. Dan, tau enggak sih? Sttt, Tuhan benar-benar mengabulkan doa saya. Cek di postingan saya satu tahun yang lalu di paragraf terakhir (ini kuis yak, sila dicari :p). Tuhan Maha Baik. Saya diizinkan kembali. 🙂

Dokumentasi Inspirasa Juli 2019

Mendadak Jadi Anak Tang-Sel

Setahun itu waktu yang lama bagi yang menunggu tapi waktu yang cepat bagi yang punya rencana. Pasca Kelas Inspirasi Tangsel Goes to LPKA setahun yang lalu, masih aja ada relawan yang ‘protes’ enggak terima, “Udah nih, segini aja?”

Bagi kami kala itu, agak berat juga mengakhiri sesi Kelas Inspirasi dan ber-sayonara-sampai-berjumpa-pulang dengan adik-adik di LPKA. Sungguh, ini ada potensinya. Ini bisa dibuat sedemikian rupa sehingga bisa lebih berfaedah. Mumpung kita punya ini-itu, bisa dioptimalkan. Yash, sedemikian pedenya klaim kami walau baru s-a-t-u-h-a-r-i berada di LPKA dan bertemu adik-adik binaan.

OOT nomor 1. Di sinilah kemudian saya berteori, benar adanya jadi relawan itu harus pede. Pede kalau dirinya berkontribusi heu *kidding :p

Singkat cerita, dari kesekian kali temu-kumpul-diskusi, kami sepakat untuk kembali lagi ke LPKA Kelas I Tangerang dengan ‘baju baru’: ‘Inspirasa’. Slogannya, ‘Dengan Inspirasi Membangun Asa’. Yang kami yakini bersama, berbagai sumber daya yang ada, mampu menjadi inspirasi yang membangun asa dan harapan, baik bagi kakak-kakak relawan atau adik-adik di LPKA.

Noted. Biar sekalian, pembaca yang budiman bisa cek Instagramnya di @Inspirasa.id huy huy

OOT nomor 2. Tapi beneran lho, apalah arti sebuah nama, sudah berganti nama pun (semula Kelas Inspirasi, kini Inspirasa), petugas LPKA tetap selalu menyebut kami ‘Kakak-kakak dari Kelas Inspirasi’. Hmm … Baeklah.

Dibanding Kelas Inspirasi, kegiatan Inspirasa lebih jangka panjang. Inspirasa juga punya kurikulum atau tema belajar sendiri. Pertemuan dengan adik-adik di LPKA dibuat dengan tiga tema besar: Self Awareness‘, ‘Willingness to Learn‘, dan Growth Mindset. Satu tema dipelajari bersama selama satu bulan dalam tiga sampai empat kali pertemuan, setiap hari Sabtu.

Saya yang berdomisili di Jakarta Pusat ini pun mendadak jadi ‘anak TangSel’ saat ‘meramaikan’ Tim Inspirasa. Tugas saya? Saya masuk jadi Tim Rekrutmen di pre-event dengan jobdesc merekrut relawan yang nantinya menjadi mentor buat adik-adik, dan satu jobdesc tambahan: ‘stand by‘ jadi mentor yang menggantikan relawan mentor yang berhalangan hadir saat hari-H (baca: pemain cadangan). Cadangan pun, pada akhirnya, saya tetap kebagian ngobrol dengan adik-adik di LPKA (kebetulan ada relawan mentor yang dinas kantor dan berhalangan hadir).

Sesi Perdana

Bulan Juli jadi sesi perdana Inspirasa dengan tema belajar ‘Self-Awareness‘ di LPKA. Kakak mentor dan adik akan berdiskusi membahas potensi diri. Sesuai rencana, kami akan beraktivitas di aula, namun siapa sangka, tiga kali pertemuan berturut-turut selalu ada acara. Jadilah kami berada di ruang kelas atau ruang perpustakaan yang lebih lebar.

Dokumentasi Inspirasa Juli 2019

Sebenarnya, yang seperti ini, sungguh baru buat kami. Adik-adiknya (sepertinya) juga mayoritas baru. Ya wajar sih, adik-adik yang di sana berganti. Saat masa binaan mereka di LPKA sudah habis, mereka akan bebas dan melanjutkan kehidupan di luar LPKA.

Beberapa relawan mentor mengaku grogi karena ini kali pertama masuk ke LPKA dan berinteraksi langsung dengan adik-adik. Pun yang sudah pernah ke LPKA, juga mengaku grogi karena belum pernah langsung mendampingi adik-adik dalam kelompok kecil dan ada materinya pula. Haish, piye iki?

Tapi siapa sangka? Semua tak berasa, malah jadi rutinitas. Satu bulan, tiga kali pertemuan setiap Sabtu dengan uraian sebagai berikut –> kumpul di depan LPKA pukul 8.00 WIB, (dan kami baru diizinkan masuk oleh petugas Lapas pukul 9.00 WIB), bubaran pukul 12.00 WIB, evaluasi relawan, dan pukul 14.00 WIB (biasanya) udah di KRL – kembali ke Jakarta (bagi yang anak Jakarta kayak saya :p).

Sampai di paragraf ini, jadi kebayang, tiga hari Sabtu di bulan Juli yang udah dilalui kemarin. Klise kan: berasa ‘berat’ di awal dan ternyata, secepat itu tiga sesi itu berlalu. Saking enjoy-nya. Kurang. Saking happy-nya!

Dibalik Kegiatan LPKA …

Tapi, semua ini bukan berarti ‘lurus-lurus’ aja tanpa cerita. Sesederhana, adda-ajja Bapak Ojol yang selalu menanyai saya saat akan meluncur dari rumah ke Stasiun Tanah Abang. Maklum …

S-a-b-t-u, jam 6.00 p-a-g-i.

Enggak libur, Neng,” begitulah obrolan ini selalu berawal.
Enggak Pak, ngajar,” jawab saya singkat, berharap jawaban ini sudah cukup menjelaskan, dan menghindarkan saya dari terminologi ‘relawan’ yang akan membuat si Bapak tambah penasaran. Nyatanya, saya keliru.
Di mana emang ngajarnya? Ko harus ke Stasiun Tanah Abang?”
Tangerang, Pak.”
Walah jauhnyaa, di sekolah mana?”
LPKA.”
Wah, Neng, kalau anak-anak itu mah …

Tak perlu saya tuliskan ya. Saya cuma bisa ha-he ha-he saja dibalik helm kaca. Si Bapak saya tebak sudah beranak juga tapi saya tetap enggak bisa men-judge beliau. Itu pendapatnya sebagai orang tua. Saya? Biarlah. Mungkin karena saya belum pernah ngerasain jadi orang tua yaa (soon). Dan, percayalah. Anak-anak itu unik ko. Beda sih … tapi buktinya, saya dan teman-teman relawan bersedia mendonasikan setengah hari Sabtu kami untuk mereka. See? Betapa istimewanya! 🙂

Enggak sampai di situ aja, pernah juga ada moment ngobrol dengan seorang Ibu dari seorang adik yang lagi menjalani masa pembinaan di LPKA. Ya, hari Sabtu memang jadi hari kunjungan LPKA. Jadi, jangan heran kalau kegiatan Inspirasa bebarengan dengan kunjungan keluarga. Saya yang sedang duduk sarapan bubur ayam tetiba disapa dan ditanya dari mana.

Mbak, kunjungan juga? Jam berapa sih dibuka gerbangnya?”
Enggak Bu, saya ada kegiatan sama adik-adik. Biasanya sih jam 9, Bu. Sebentar lagi mungkin.”
Wah, kegiatan sama anak-anak ya, Mbak. Saya orang tuanya … (sensor),” tanpa ditanya, Si Ibu sudah mengenalkan nama anaknya yang sedang menjalani masa binaan di LPKA.
Oh ya? Bu,” spontan reaksi saya.
Yaa Mbak, saya anggap ini sebagai ujian saya. Yaa lagi ada halangan. Saya terima ….”

Berasumsi, saya tahu ke mana arah pembicaraan ini. Kebetulan, Si Ibu berkunjung dengan membawa anak perempuan usia ABG (mungkin anaknya yang lain). Si anak perempuan ini menunggu dengan riang tapi tidak dengan Si Ibu. Matanya mulai memandang ke depan, menerawang, dan berusaha rela. Melihat itu, saya jadi enggak tega, “Eh, ee … Bu, saya ngembaliin mangkok bubur ayam dulu ya.”

Beuh, sejahat-jahatnya saya, si ekstrovert yang senang mengobrol tapi terpaksa undur diri dari ‘forum’. Please, saya enggak tega (PS. saya doakan, semoga Ibu selalu diberi kekuatan, amin).

Dan … Yaaa, Begitulah

Satu bulan tiga kali kunjungan ke LPKA membawa pengalaman tersendiri bagi saya. Ada saja ceritanya. Cerita yang kemudian selalu membuat saya berpikir karena saya duduk di dalam KRL Tangerang-Manggarai dan menghadap jendela. Bukan hal mudah hidup di antara pandangan negatif, bukan? But those kids, they have to survive. I would say, this is the real definition of a long journey. Day by day, month by month, year by year, and … sometimes, times change but not experiences. They are always there. Exist. Sigh.

Dokumentasi Inspirasa 2019

Kadang, di antara obrolan dengan adik-adik, ada juga kegelisahan yang saya temukan namun hebatnya, berhasil terbungkus rasa penerimaan. “Mau gimana lagi ya Kak? Dijalani aja.” Tetiba terlintas, seusia mereka, saya masih sibuk haha hihi membahas lagu-lagu boyband kesukaan bersama teman, tak pernah meresapi hidup sedalam itu.

Sedih, Het? Iya.

Tapi saya justru salah kalau saya sedih. Seketika berubah bangga melihat mereka dengan semangat berujar di hadapan saya, “Keluar dari sini Kak, aku mau bikin salon. Kakak mampir yaa besok ke salonku.”

Ya, sejatinya, tiap orang berhak untuk bercita-cita. Mau seperti apa masa lalunya, baik dan buruk itu bukan nilai akhir. Itu hanya akan jadi pengalaman, modal, bahkan amunisi dalam bercita-cita. Dan, kabar baiknya, semua anak di LPKA punya modal besar, hanya jalannya ‘lain’ memang 🙂

Saya sering ‘kesetrum’ sendiri pas moment seperti ini. Bisa berjumpa dengan adik-adik LPKA adalah kesempatan melihat mimpi orang yang lagi kelap-kelip-nya. Indah, kan? Tak padam tapi nyalanya ada. Oke, saya buat ini sederhana. Analoginya, jika mimpi adalah bintang, maka mimpi justru terlihat terang saat berada di kegelapan. Tinggal tugas adik-adik untuk menjaga mimpinya agar tetap menyala 🙂

Jadi, sampai jumpa di bulan September ya dengan tema belajar yang kedua!

* *

Cek tulisan saya sebelumnya di sini:
LPKA, Kelas Inspirasi Pertama Saya

Izinkan saya mengenang singkat gempa Jumat (2/8) malam lalu, toh Sabtu (3/8) pagi kemarin, beberapa Ibu di pasar masih heboh menceritakan kisah di rumah masing-masing.

… masak ya Bu, saya udah enggak kepikiran apa-apa. Saya teriakin suami saya … bla bla bla …

Jumat malam memang ada gempa, tepat saat saya berada di lantai 5 sebuah mall di kawasan Senayan. Dengan kekuatan 7,4, silakan dibayangkan sendiri guncangannya.

Banyak orang berlarian menuju eskalator, yang malam itu, menjadi jalan keluar satu-satunya. Banyak yang gandengan, tergopoh-gopoh, tak ingin terpisah bersama kesayangannya, barang belanjaannya, pun baby stroller! Seketika, eskalator full mirip eskalator di Stasiun KRL Tanah Abang saat akhir pekan atau rush hours (ehem, pernah coba??). Orang berbaris di anak tangga, berhimpit, berharap cepat sampai tapi eskalator melaju sesuai temponya.

Sisanya? Yang masih di lantai 5 tak bergeming. Ada yang berpelukan, ada yang langsung menundukkan kepala sibuk dengan HP-nya, ada yang masih linglung mau turun lewat mana (karena eskalator banyak orang), dan rupa-rupalah. Gestur panik saja yang saya lihat kala itu. Mungkin karena kejadiannya mendadak dan tak banyak yang bisa dilakukan.

Gempa memang mendadak kan ya? Tak terprediksi.

Lhah, kamu di mana Het? Ngapain Het?

Temukan saya di depan sebuah gerai makan sedang berdiri membaca menu dan bernego dengan teman saya apakah batita yang sedang berada di gendongannya bisa makan dengan menu semacam itu.

Mungkin saking fokusnya, kami (bertiga), justru asyik membaca menu dan mengabaikan orang-orang yang berlarian saat guncangan terjadi. Padahal eskalator tak jauh dari kami.

Het-het, apaan nih?” kata teman saya saat melihat fenonema orang-orang berlarian.

Mungkin ada artis.” Jawab saya lirih, singkat, dan masih tak mengerti. Aneh juga batin saya, guncangan orang berlarian mengejar artis sampai sebegitunya. Maklum, terakhir saya berada di gerai makan ini, ada seorang artis yang mengadakan ‘meet and greet’ dan membuat orang-orang mengular sekian meter.

Bukan, Het. Gempa ternyata. Kok nggak ada security warning atau halo-halo ya. Turun aja yuk! Tapi kita nanya security dulu ya!” kata teman saya dengan santainya seiring guncangan sudah mereda.

Sambil mengetik ini, saya masih tertawa mengingat percakapan (absurd) antara saya dan teman saya. Manajemen kepanikan macam apa? Kami memang benar-benar dalam kondisi sadar (bisa melihat, mendengar, bergerak, membaca) tapi gagal mengidentifikasi bahwa yang terjadi sebenarnya adalah …

g e m p a t u j u h k o m a e m p a t

dan kami sedang berada di …

l a n t a i l i m a

Sepulang dari sana, di dalam bus Transjakarta, saya sempatkan mengecek media sosial. Apa kabar saudara-saudara yang berada dekat area gempa? Prihatin.

Goncangan yang begitu kencang tapi saya bisa sebegitu wolesnya, “Het, are u ok?” Sejak gempa Jogja beberapa tahun silam, saya menjadi orang yang paling tanggap saat ada guncangan di sebuah bangunan. Saya bisa menjadi orang yang paling cepat berlari menuju pintu depan sebelum teman saya menoleh dan mengkonfirmasi, “Gempa ya?”, saya sudah tidak di desk saya, saya berada di pintu keluar kantor. Nyatanya, kini?

Agaknya, kepanikan atau level tanggap (ya, sebut saja begitu) sedang berada di angka 0. Saya memang merasakan guncangannya tapi pikiran saya malam itu tak sampai mengartikan bahwa itu adalah gempa. Tumben untuk seorang saya!

Malam itu, di perjalanan pulang, jadi berasa sekali. Ketidaktahuan justru seketika menjadi rahmat karena tak merasa kepanikan, kecemasan. Justru menang di situ bukan? Terselip rasa syukur di sana.

*

Hello August! New beginnings 🙂

Kak, nanti uang saya tinggal berapa?” Itulah pertanyaan Rachmat sedari tadi saya membantunya memilih baju. Dari hanger ke hanger saya geser mencari ukuran yang pas untuk badan kecilnya.

Masih cukup kok,” jawab saya santai tanpa menoleh sambil terus memilih baju bak fashion stylist.

Sesekali juga, saya mengajarkan Rachmat penjumlahan. Dia bertanya. Ternyata, ada nada-nada kecemasan di sana. Satu baju sekian, uangnya sisa sekian. Dua baju sekian, sisa sekian. Saya hanya ingin meredam kekhawatirannya. Tak butuh waktu lama, mantap, dua baju sudah ada di tangannya. Saya tawarkan lagi jika Rachmat mau melihat-lihat yang lain tapi ditolaknya.

Uangnya mau buat sekolah, Kak,” Rachmat berkata polos. Uang ini memang miliknya sekarang, sejak beberapa menit yang lalu. Saya tak kuasa memaksa walau mandatnya, uang 200.000 rupiah harus dihabiskan untuk membeli apa yang mereka suka malam itu. Saya? Menemani saja.

Sebenarnya, kalau mau buka kartu, saya seorang pendamping shopping yang baik. Ehem. Mau jalan ke mana hayuk, mau bandingkan harga antartoko oke. Sayangnya, itu hanya berlaku jika partner belanja saya perempuan. Selebihnya, yang laki-laki, selalu menolak. Ya, Rachmat salah satunya. Entah kenapa, sampai detik ini, saya selalu impress dengan kaum adam yang cepat sekali kalau belanja. Tak gemar mereka berputar-putar.

Ini uangnya, dibayarkan di kasir sendiri ya. Selebihnya, bisa disimpan. Buat kamu. Sini amplopnya kakak bantu buka.”

Kak, ini tadi diskon ya?” Rachmat abai dengan kalimat saya. Dia lebih berbinar bahwa akan ada uang sisa di tangannya.

Sedangkan Rachman, anak yang saya temani belanja lainnya, tak banyak bicara. Dia memang lebih dewasa. Saat mencoba celana pertama di fitting room, saya antar. Celana kedua, saya biarkan. Dia tampak lebih pede. “Kami tunggu di sini ya? Kamu tahu jalannya kan?”

Tak lama Rachman kembali. Wajahnya sumringah dengan tangan menggenggam celana warna coklat. “Saya mau ini Kak. Saya suka. Pas.”

Sambil menunggu keduanya antri di kasir, saya merasa lucu ada di belakang mereka. Merasa lucu bertanya apa yang mereka suka, merasa lucu bertanya mereka mau beli apa, merasa lucu saat mengantarkan ke fitting room, merasa lucu saat menjelaskan beli 1 diskon 30%, beli 2 bonus 1, merasa lucu menjelaskan ukuran baju.

9-10, kamu kekecilan, 13-14 kamu kebesaran, jadi ukuran kamu 11-12, tapi habis. Mau coba model lain? Ini yang merah bagus?”

Walau rekomendasi saya sukses ditolak Rachmat, saya bangga juga Rachmat akhirnya yakin dengan pilihannya. Ternyata, dia lebih suka warna baju hitam dan abu daripada warna-warna cerah yang saya pilihkan.

Belanja dengan mereka ternyata singkat. Enggak sampai tiga puluh menit, Sist! Ekspektasi saya salah semua. Mereka tahu yang mereka mau, bahkan mungkin yang dimimpikan selama ini. Tapi jujur, surprise juga saat masih ada rasa sungkan untuk habis-habisan dengan uang yang diberikan. Seperti Rachmat yang ingat biaya sekolahnya. Bahkan, dari cerita teman yang mengantarkan belanja anak lain, ada juga yang ingin uangnya disimpan saja. Dia ingin uangnya untuk membelikan adiknya mainan.

Huhu, tetiba teringat seringnya jemari ini begitu terampil mengendalikan mouse memindahkan barang ke keranjang belanja dan klik ‘check out‘, transfer, tanpa pertimbangan apapun. Impulsive buyer? Totally, yes.

Sebisa-bisanya saya berprasangka saja. Apa ya yang dilihat anak-anak ini di keseharian ya? Apakah hanya lembaran rupiah yang mampu menjelaskan? Saya tak yakin. Mungkin ini hanya kacamata orang dewasa dan saya pernah kok menjadi anak-anak seusia mereka. Banyak memang hal-hal yang tak bisa dijelaskan.

Seperti dulu, saat belajar Corel Draw otodidak, saya mendesain pin, dan menjualnya di toko buku dekat rumah. Minggu berikutnya, si penjaga toko menitipkan pesan ke ayah saya kalau saya sudah bisa mengambil uang hasil penjualan pin. Sampai di rumah, bukan pujian berhasil menjalankan bisnis, namun perkataan penuh sayang seorang ayah kepada anak perempuannya. “Dek, kamu kalau butuh uang, ngomong dong sama papa. Kamu butuh uang berapa kok sampai jualan?” Benar adanya kan, tak semua hal bisa dijelaskan. Hanya perlu diterima dan didoakan saja.

Dokumentasi Bunga Ramadhan 2019 – Hijab Motion

Lewat tulisan ini, saya ingin terus terkenang-kenang belanja bersama Rachmat dan Rachman. Saya belajar di sini. Kenal sekian menit, belanja sekian menit tapi berhasil meninggalkan makna. Sederhana ya tapi bisa jadi pengingat bagi saya si tukang belanja. Saya bahkan lupa belajar belanja sejak kapan? Sejak mulai mengeja a-b-c-kah? Atau ini benar-benar naluri seorang perempuan? ‘Given‘? Saya yang sering lupa bersyukur ini dan kadang tak berpikir yang di sana-sana hanya bisa berdoa, semoga keduanya senantiasa sehat dan berada dalam kebaikan.

Malam itu, sebelum berpisah, keduanya mengajak saya bersalaman. Bahagianya tak bisa disembunyikan. Saya pun. Malu-malu mereka bilang, “Makasih ya Kak Hety.”

Kemang Village, Ramadan 1440 H/2019

%d bloggers like this: