Jujur adalah salah satu sikap terpuji dan sifat baik. Setiap orang, bahkan warga negara, diharapkan mempunyai sifat jujur. Saking mulianya, jujur menjadi satu bab tersendiri dalam buku pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran). Buku berwarna merah-putih dan bergambar Pancasila itu, menjelaskan bab jujur dengan cerita dan gambar yang sangat jelas untuk dipahami anak usia Sekolah Dasar.

Kamu pernah meliat buku itu? Buku itu kudapat dari perpustakaan dan tidak diperjual-belikan bebas. Kami semua hanya dipinjami.

Yah, itulah pendapatku kalau ditanya tentang Jujur. Hal itu menjadi begitu berkesan untuk dikenang sampai sekarang padahal saat itu aku baru duduk di bangku Sekolah Dasar. Bisa jadi karena cerita dan gambar yang ada di buku pelajaran itu. Mudah sekali untuk dihafal. Terlebih kalau muncul di soal ujian rowami dua (II) bagian mengisi titik-titik. Aku dan teman-teman bisa dengan mudah mengisikannya.

Sayangnya, itu hanya ‘pemandangan’ di sekolah. Itu hanya di kelas, sebuah ruangan berukuran 4×6 m. Itu hanya saat pelajaran PPKn yang berdurasi 2 x 45 menit, di mana dalam seminggu hanya dua kali pelajaran PPKn. Selebihnya?

Saat ulangan Matematika, beberapa teman tampak gelisah. Gerak-gerik yang ganjil bisa terbaca mulai dari bola mata yang melirik ke kanan dan ke kiri, posisi tangan yang ada di bawah meja dan berusaha meraih sesuatu yang ada di laci, sampai memelototkan bola mata sedemikian rupa memandangi meja kayu karena di sanalah rumus-rumus (baca: contekan) tertulis secara acak bagai sandi – hanya penulisnya yang bisa membaca.

Aku bisa detail betul menjelaskan karena aku hanya bisu melihat ‘parodi’ yang terjadi saat ulangan Matematika di kelas. Tidak sampai satu jam padahal. Sebagai anak, sebenarnya kami semua ketakutan mendapatkan nilai jelek. Ibu guru hobi sekali meminta kami untuk meminta tanda tangan orang tua di setiap hasil ulangan kami. Kalau sampai nilai jelek bersanding dengan tanda tangan orang tua, fiuh, bisa terbayangkan apa yang terjadi selanjutnya?

Oke, aku adil kok. Berikutnya, giliran pengakuan dosaku. Ruang kelas bukan ‘arenaku’. Sebagai anak yang mudah panik, gelagat anehku saat mencontek akan dengan mudah diketahui Ibu Guru. Aku hanya akan jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas. Jadi, aku lebih memilih belajar mati-matian semalaman untuk berjuang mendapatkan nilai di atas 5. Nilai 6 untuk ulangan Matematika dan bonus dimarahi orang tua, sudah menjadi sebuah anugerah bagiku.

Di swalayan, saat menemani mama belanja, aku merengek habis-habisan. Aku melihat kepala kelinci berwarna pink di deretan rak permen – coklat dan ingin membelinya. Apa daya mama melarang. Bagi mama, kepala kelinci itu tidak ada artinya. Sebenarnya, aku juga mengakuinya. Kepala kelinci itu seperti bagian dari wadah permen tapi sudah lepas. Jadi, dibeli dengan uang pun akan sangat mubazir. Diam-diam, kukantongi kepala kelinci tak bertuan itu ke saku celana.

Sesampai di rumah, kepala kelinci itu menjadi bagian dari permainan bongkar pasang yang aku mainkan sehari tiga kali. Kepala kelinci itu menjadi sangat menggemaskan bertemu dengan mainanku yang lain. Dia tak nampak kesepian sekarang, seperti saat di rak permen – coklat swalayan. Menyenangkan untuk dipandang, tapi tidak untuk dikenang. Aku tidak jujur pada mama, pada petugas swalayan, dan pada diriku sendiri. Aku mengambil barang diam-diam. Pun, atas nama mainan tak bertuan di rak swalayan atau rasa kasihanku yang terlalu besar pada mainan kepala kelinci.

Kini, setelah belasan tahun dan aku tumbuh besar, kenangan itu benar-benar tidak bisa hilang. Antara sedih dengan sikapku kala itu, juga pembelajaran yang aku refleksikan. Jujur ternyata bukan sekadar cerita yang ada di buku PPKn. Jujur ternyata bukan sesuatu untuk dihafalkan. Jujur juga bukan normatif, buku teks, melainkan sesuatu yang harus dilakukan dan dikatakan karena adanya hati nurani.

Lagi. Jujur bukan berasal dari buku PPKn, melainkan hati nurani. Hati nurani membuat kita bersaksi pada diri sendiri tentang kondisi yang sebenarnya. Ya, ini sederhana tapi banyak yang mengerdilkannya. Mereka mengerdilkan suara hati dan justru membesarkan volume ego untuk berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani (baca: tidak jujur).

Bagiku, jujur pada diri sendiri adalah latihan kejujuran yang paling dasar tapi penting dan selamanya. Sejak kecil sampai sekarang (sampai kapan pun bahkan), aku masih berproses berlatih. Saat kecil (pasca kejadian mainan kepala kelinci), aku mulai berlatih untuk jujur pada mama tentang pendapatku walaupun aku termasuk anak penurut dan mengiyakan semua pilihan mama. Misal, bahwa aku lebih suka buku gambar daripada boneka.

Pun, saat ini, setelah dewasa, aku tetap berlatih jujur pada diri sendiri, setiap hari. Aku akan menyampaikan pendapat sesuai dengan apa yang aku rasakan. Tak perlu takut, selama hati nurani mendampingi. Dengan dimulai dari diri sendiri, aku merasakan kenyaman yang tiada tara untuk tindakan jujur berikutnya.

Jadi, katakan, “Ya, aku berani dengarkan hati nurani. Aku anak jujur.”

Aku bisa, aku kuat, aku anak baik.

Aku bisa, aku kuat, aku anak baik.

Tulisan diikutsertakan dalam rangka Lomba Menulis Blog Tentang Kejujuran oleh KPK RI.

Saya tidak tahu mengapa Tahu Bulat bisa sefenomenal ini. Jingle (lagunya)? Oke. Konsepnya? Oke. Lalu apa lagi yang membuat Tahu Bulat menjadi populer di antara makanan lainnya?

Beberapa waktu yang lalu, saat kemunculan Tahu Bulat dan orang-orang ramai membicarakannya? Saya hanya melongo. Jauh sebelumnya, saat masih kos di daerah Setiabudi, saya pernah memesan dua plastik Tahu Bulat untuk potluck di sebuah acara. Cantik memang bentuknya saat digoreng dengan minyak panas. Belum lagi, semerbak aroma yang tercium.

Singkat cerita, sesampai di tempat acara, tahu itu menjadi asimetris. Ibarat ban, dia kempes. Antara kaget dan malu, yang penting niatan baik saya untuk kontribusi di potluck sudah tercatat oleh malaikat. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak ‘berhubungan’ dengan Tahu Bulat lagi. Bagi saya, Tahu Bulat hanya menyenangkan dipandang saat digoreng, tidak untuk dibawa pulang.

Maka kagetlah saya saat tiba-tiba Tahu Bulat menjadi mainstream dengan tampilan barunya, pick up (mobil bak terbuka), padahal sebelumnya hanya gerobak biasa.

Belum lagi kisah ini. Saat menjadi asesor untuk relawan sebuah yayasan, orang yang saya wawancarai dengan sigap mengait-ngaitkan sifatnya dengan keberadaan Tahu Bulat. Kosa kata kekinian, sepertinya.

Mbak, aku tuh orangnya harus terencana, sistematis.”
Oh ya?”
Iya, nggak bisa mendadak kayak tahu bulat yang digoreng dadakan..”
Oh!”

Saking lamanya tak bersua dengan Tahu Bulat, ada seorang teman yang kaget saat saya mengaku belum pernah makan Tahu Bulat. Sesungguhnya, saya menjawab ‘belum pernah’ hanya karena sudah lupa rasanya seperti apa. Saya pernah makan Tahu Bulat versi gerobak tapi belum pernah makan Tahu Bulat versi pick up.

Setelah percakapan itu, jadilah malam ini, saat bertemu dengan pick up Tahu Bulat yang ngetem di pinggir jalan, saya membeli enam buah Tahu Bulat dalam plastik (1 buah Tahu Bulat Rp 500,00). Seperti ajaran teman saya kala itu, saya memesan versi original (tanpa bumbu). Hangat-hangat, saya masukkan Tahu Bulat ke dalam tas dan bergegas pulang. Sesampai di kos, bentuk tahu itu sudah asimetris. Saat saya makan, saya seperti bernostalgia dengan tahu yang dulu saya beli di pasar di daerah Setiabudi. Rasanya? Jeng-jeng … Sama!!

Dibalik Tahu Bulat, sebuah self-talk:
Tidak semua hal yang mainstream itu wajib diikuti. Pun sekedar menggugurkan kata ‘belum pernah’. Menjadi diri sendiri yang original itu wajib. Keyakinanmu yang akan dihargai orang, bukan apa yang sudah kamu lakukan seperti yang kebanyakan orang lakukan.

Bolehkah membuat setiap orang bahagia? Bisakah membuat setiap orang bahagia?

Semua ini berawal saat sebuah akun populer di Instagram memposting gambar pizza dengan tulisan “You can’t make everyone happy, you are not pizza!”. Pernah kamu nemu yang seperti itu? Kala itu, saya hanya manggut-manggut tanda setuju, mengklik gambar love, sambil lanjut scrolling down lini masa Instagram tanpa berprasangka apa-apa.

Lama berselang, tiba-tiba, pada suatu pagi, saat berangkat ke kantor, kalimat itu muncul lagi di kepala saya. “I want to be a pizza!” Mungkin ini salah satu akibat terlalu bersemangat menyambut pagi dan berangkat ke kantor (sebentar, atau efek sepatu baru? hehe).

Curiga. Saya langsung menginvestigasi kepala saya sendiri, “Hayo ngaku, siapa tadi yang bilang?”

Pikiran ini langsung tertuju pada sebuah gambar di Instagram yang saya love beberapa waktu lalu. Dalam pikiran saya, langsung ada dua kubu yang berdialog seru.

Apa enaknya jadi pizza sampai ingin begitu?”
Jobdesc-nya tunggal, bikin orang lain happy.”
Is it good?”
Yes. Single jobdesc.”
Yakin?”
Let’s compare with your jobdesc, eh…”.

Memang, ada benarnya kita nggak bisa membuat senang setiap orang. Ada saja yang harus dikorbankan. Seorang pemimpin menurut saya, adalah orang yang paling lihai dalam urusan ini. Dia yang membuat keputusan. Mau bikin orang senang atau justru menyusahkan, ya apa mau dikata. Beberapa kali, saya berinteraksi dengan bos model seperti ini. Setelah membuat keputusan dan cenderung kontroversial, beliau akan berguman, “Ya, kita emang nggak bisa bikin happy setiap orang!”

Kalau sudah begitu, biasanya saya tak berkomentar. Bagi saya yang tipe ‘enggak enakan’, I will try everything to make everyone happy. Saat jadi koordinator misalnya, saya memastikan setiap kepentingan anggota terakomodasi. Istilahnya, tidak ada yang ‘terluka’ dari setiap keputusan rapat. Enggak sehat juga sebenarnya. Beberapa teman sudah memberi feedback, “Coba jadi orang yang tegaan dikit, Het! Mereka baik-baik saja tanpa kamu bela-belain.”

Anyway, saya jadi ingat Santa Clause. Terlepas dari ada-tidaknya Santa Clause, coba, siapa yang ingin jadi Santa Clause? Santa Clause digambarkan sebagai sosok yang happy karena selalu berbagi. Di dongeng-dongeng, Santa selalu sibuk dengan daftar hadiah untuk anak-anak yang memohon padanya. Pun kerepotan membawa berkarung-karung hadiah, Santa selalu tampak easy going, datang dari satu rumah ke rumah lainnya. Bahkan bukan lewat pintu, melainkan lewat cerobong asap yang tak lazim dan cenderung menyusahkan diri. Tapi siapa peduli? Jobdesc Santa hanya satu, bagi-bagi hadiah dan itu membuatnya happy.

Praktiknya, pernah juga saya menegaskan, kita bukan pizza yang bisa menyenangkan hati setiap orang. Saya sudah tak tahan dan gemes sendiri. Saat diskusi alot reuni sekolah dengan tim, saya mengucapkan ‘mantra’, “Hei, we are not pizza, we can’t make everyone happy” untuk menanggapi seorang teman yang ketakutan memesan makanan untuk reuni tapi tak mempertimbangkan dana yang tersedia. Takut menunya kuranglah, menunya kurang bervariasilah, dan pertanyaan lainnya yang merepotkan diri sendiri (sepertinya, teman saya ini sedang ingin menjadi Santa). Mendengar mantra itu, beberapa teman lainnya justru berenspon, “Kok apik, Het, kata-katane?”

Lho, apakah mereka selama ini enggak sadar? Apakah menyenangkan hati setiap orang itu sudah mengakar? Digit mental melayaninya sepertinya tinggi. Sesungguhnya, kata-kata itu memang bukan buatan saya tapi Istragram punya. Andai mereka tahu (tapi sepertinya mereka tak perlu tahu), kata-kata itu bukan kata-kata biasa. Saya berefleksi dengan gambar pizza di Instagram. Tak ada yang melarang untuk menyenangkan hati setiap orang, tapi ada kalanya kita harus lebih peka dengan kondisi di mana tanpa perlu kita ambilkan tangga, orang sudah bisa memetik buah kesenangan untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau menyediakan tangga itu di luar kemampuan kita (baca: memaksakan diri). Yah, dalam kasus ini, saya mengamini feedback dari teman tadi, serta bos saya. Jadi, mau jadi pizza atau jadi Santa? Atau Nutella?

Enggak cuma pizza ternyata, Nutella juga hihi (sumber gambar: Pinterest)

Enggak cuma pizza ternyata, Nutella juga hihi (sumber gambar: Pinterest)

Namanya mama. Perempuan yang menghadirkan saya di dunia. Bukan sedang Hari Ibu sih tapi saya ingin bercerita tentang mama. Hari ini, Minggu, malam, hujan, kosan. Rasa apa lagi yang mendorong anak perantauan untuk tidak ‘kangen rumah’? Saya di Jakarta, mama di Jogja. Tulisan ini menjadi cara kangen untuk ‘hubungan jarak jauh’ kami berdua.

Lebaran kemarin saya pulang. Jauh-jauh hari sebelum lebaran bahkan. Lumayan, enam hari bisa berpuasa di rumah Jogja. Saya punya kamar sendiri di rumah Jogja tapi setiap pulang, saya lebih suka berdandan nebeng meja rias yang ada di kamar mama.

Yang membuat saya geli adalah saat mama melihat saya berdandan kemarin. Oles make up sana-sini, ikat jilbab ke kanan ke kiri.

Spontan mama berkomentar, ”Sekarang nggak pede ya, Dek, kalau mau ke luar tapi nggak dandan.”

Saya meringis praktis, ”Biar nggak dikira muka bangun tidur, Mam.”

Singkat tapi tiba-tiba saya merasa sedang memutar koleksi kaset lawas. Jadul. Jadul sekali…

Kala itu, saya versi bocah tidak sabar untuk pergi dengan mama. Berulang kali saya merengek minta mama bergegas. Apa daya, meja rias itu seakan menahan mama (meja rias yang sama). Mama masih bertahan di depan meja rias menggunakan pensil alis, bagian make up favoritnya.

Mama, kita lho cuma pergi bentar. Nggak usah dandan juga nggak apa-apa,” rengekan andalan saya.

Pemandangannya kini berbalik. Ah iya, izinkan kaset lawas ini terus berputar dalam kepala saya sekarang. I grow up, Ma, but childhood memories (always) stay.

Katanya ...

Katanya …

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons & InvolveAsia X HB & BB. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher berrybenka dan voucher hijabenka disponsori oleh Berrybenka & Hijabenka.

Lebaran bukan melulu tentang baju baru. Kamu setuju? Tapi, ngomongin baju baru sama lebaran emang nggak ada habisnya. Apalagi tiap masuk Ramadan hari kedua puluh atau hari Lebaran minus sepuluh, toko baju selalu laris manis pembeli. Ya, pasar tradisional, pasar modern, mall, online shop, semuanya full! Nampaknya, baju baru masih jadi hal yang wajib dipunya saat Lebaran tiba.

Nggak sampai di situ aja, jelang lebaran, berbagai model baju pun bermunculan. Ya warna, ya corak, ya potongan, semua berlomba-lomba untuk jadi tren yang kekinian. Baju yang dipakai artis di suatu acara TV bisa langsung muncul di pasaran. Uniknya, nama si artis ikut jadi nama model baju yang dipakainya. Masih ingat kan sama ‘Celana Zaskia’ sampai ‘Jilbab Fatin’ yang terkenal di kalangan penjual beberapa waktu yang lalu? Hihi.

Hmm, bingung juga, ya? Padahal cita-cita pembeli itu sesederhana bisa punya baju modis, plus nggak pake capek, nggak pake ribet, dan bla bla bla bla. Emang bisa?? Bisa!!

Nah, kali ini mampir yuk ke www.hijabenka.com. Tempat beli baju antibingung. Kenapa? Karena semuanya ada di sini. Aku bakal pilih satu motif buat kamu untuk lebaran nanti. Motif ini nggak ada matinya dan terus berputar di kalangan fashion. Motif itu adalah … bunga atau floral!

Eh, tahu nggak? Bulan Desember tahun 2014, The Times of India merilis suatu artikel fashion di laman websitenya. Judul artikelnya, “Flowers are the new fashion motif.” Walaupun sudah terhitung satu setengah tahun, nyatanya, sampai sekarang, motif bunga masih menjadi tren di kalangan fashion. Di Indonesia, misalnya. Berbagai pernak-pernik fashion bermotif bunga masih bisa ditemukan dengan mudah. Misalnya, tas, baju, rok, celana, sampai jilbab.

Atasan Bunga
Organize. (1)

Tunik Cantika Japan Tali: Atasan berbahan katun Jepang ini cocok kamu kenakan untuk padanan hijab chic sehari-hari. Atasan tunik bermotif ini dilengkapi tali belt unik. Kamu bisa padu padan dengan hijab polos warna netral. Penasaran? Cek, di sini.

Balerina Skirt: Rok berbahan jersey ini dilengkapi layer tulle dan lace trim pada bagian hemline. Di bagian pinggang, ada tali pinggang yang elastic dan bisa disesuaikan sesuai ukuran. Ditambah atasan bunga, rok ini ‘sempurna’ jadi tampilan berhijab yang girly. Penasaran? Cek, di sini.

Bawahan Bunga
Shaila Pants (1)

Shaila pants: Celana katun cantik dengan aksen bunga-bunga yang manis ini bisa dipadu padan dengan kemeja polos panjang berwarna netral maupun senada. Penasaran? Cek, di sini.

Deva Tunik: Atasan berbahan chiffon dengan detail asimetris yang unik. Penasaran? Cek, di sini.

Hijab Bunga
Damour 036 Blue

Damour 036 Blue: Hijab instant nuansa biru berbahan chiffon ini bermodel langsung pakai dengan detail pemakaian layer dan corak motif floral. Penasaran? Cek, di sini.

Eaton Jumpsuit Black: My Favorite! Jumpsuit berbahan katun ini mempunyai aksen seperti rompi tanpa lengan. Untuk melengkapi penampilan, kenakan manset berwarna netral. Penasaran? Cek, di sini.

Pengalaman donor darah pertama selalu berkesan.  (foto: dokumentasi pribadi)

Pengalaman donor darah pertama selalu berkesan.
(foto: dokumentasi pribadi)

Sabtu, 11 Juli 2015 menjadi hari dan tanggal yang sakral untuk saya. Walau belum genap satu tahun, masih saja selalu teringat seolah minta untuk dikenang. Pagi itu, tiba-tiba seorang teman mengirimkan pesan di Whatsapp Group yang berisi permintaan urgen sumbangan darah O untuk anak temannya yang sakit di rumah sakit. Darah O yang diminta bukan sembarangan, syaratnya, pendonor bergolongan darah O yang belum pernah mendonorkan darahnya karena masih mengandung suatu zat, saya lupa istilahnya.

Merasa sebagai empunya golongan darah O dan cocok, saya pun nekat menghubungi teman saya dan menyatakan bersedia menjadi pendonor. Ya, nekat karena ini akan menjadi kali pertama saya mendonorkan darah. Bohong kalau saya tidak deg-degan. Saya cemas dan takut ditolak, mengingat bulan sebelumnya, saya sempat ditolak donor darah karena Hemoglobin (Hb) saya tidak mencukupi persyaratan. Pun bulan Juli 2015 kala itu bulan puasa dan saya ingat, dini harinya saya tidak sahur. Apa jadinya nanti ketika saya datang ke kantor Palang Merah Indonesia (PMI)?

Rupanya, keinginan saya untuk memecah rekor donor pertama kali mengalahkan ketakutan saya ditolak karena alasan kesehatan. Saya pasrah saja, kalaupun ditolak saya akan pulang. Setidaknya saya pernah menginjakkan kaki di kantor PMI yang beralamat di jalan Kramat, Jakarta Pusat.

Sesampai di kantor PMI, saya didata dan diminta untuk cek kesehatan. Alangkah terkejutnya, saya dinyatakan lolos tes kesehatan tapi tetap ditolak untuk donor darah. Penasaran, saya pun bertanya pada petugas PMI yang berjaga. Dengan sigap, petugas menjawab golongan darah yang dibutuhkan adalah O, sedangkan golongan darah saya adalah A, tidak ada kecocokan. Sehingga, saya tidak bisa menyumbangkan darah untuk pasien seperti yang dikabarkan teman saya melalui Whatsapp Group.

Seharusnya saya gembira karena dinyatakan lolos tes kesehatan untuk donor darah. Nyatanya, rasa gembira itu tertutupi oleh keterkejutan saya tentang perubahan golongan darah yang saya alami. Sejak kecil, saya sudah diberi tahu oleh orangtua saya bahwa golongan darah saya adalah O. Begitu juga di dokumen-dokumen penting hidup saya, semuanya mencatat saya bergolongan darah O. Mengapa sekarang bisa berubah menjadi A?

Dengan menggebu, saya masih bertahan di meja petugas dan bertanya tentang perubahan golongan darah yang saya alami. Dengan sabar, petugas menjelaskan bahwa golongan darah tidak bisa berubah. Bisa jadi, saat bayi, tes golongan darah yang dilakukan pada saya kurang valid. Si petugas pun memperlihatkan hasil tes saya saat itu, berupa darah saya yang ditetesi zat kimia dan hasilnya menunjukkan reaksi kimia yang merujuk pada golongan darah A. Jika kurang puas, petugas menyarankan saya untuk melakukan tes golongan darah di laboratorium terdekat.

Singkat cerita, akhirnya, saya memang tidak bisa mendonorkan darah untuk anak teman saya yang sakit karena perbedaan golongan darah. Karena sudah dinyatakan lolos tes kesehatan, saya tetap donor darah tapi reguler. Saya mendonorkan darah A saya untuk persediaan darah PMI. Hari itu, saya yang takut jarum suntik dan baru donor pertama kali benar-benar membuktikan kata orang-orang tentang donor darah.

Relawan Donor Darah
Saya yakin saya hanya satu di antara sekian orang yang menyumbangkan darahnya atau disebut relawan donor darah. PMI sendiri mempunyai istilah untuk menyebut aktivitas ini, yaitu Donor Darah Sukarela. Seperti dikutip dari website PMI, www.PMI.or.id, Donor Darah Sukarela adalah orang yang dengan sukarela mendonorkan darahnya. Semakin banyak Donor Darah Sukarela, maka kebutuhan darah PMI di berbagai daerah pun dapat terpenuhi.

Berdasarkan data tahun 2015, PMI memiliki dua juta relawan donor darah. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia di tahun yang sama, yaitu sebesar 254,9 juta jiwa, tentu jumlah itu masih sedikit. Bahkan, menurut World Health Organization (WHO), setiap negara harus memiliki pasokan darah minimal 2% dari jumlah penduduk. PMI juga memiliki standar tersendiri untuk jumlah donor darah di Indonesia, yaitu minimal 4% dari jumlah penduduk suatu daerah. Mengingat, setiap tahun, Indonesia membutuhkan 4,8 juta kantong darah.

Sungguh jumlah yang tidak sedikit bukan? Tidak salah apabila PMI, sebagai lembaga yang mendapatkan mandat dari pemerintah untuk menjalankan pelayanan donor darah, gencar melakukan berbagai aktivitas dan sosialisasi untuk menghimpun relawan yang bersedia mendonorkan darahnya. Selain datang ke kantor PMI, PMI juga membuka berbagai kemudahan untuk melakukan donor darah. Misalnya, donor darah bisa dilakukan di Unit Donor Darah, gerai donor darah, kegiatan donor darah, maupun mobil donor darah.

Pada dasarnya, menjadi relawan donor darah itu mudah. Terlebih, atas dasar solidaritas kemanusiaan. Semakin tinggi tingkat kesadaran dan pendidikan masyarakat tentang donor darah, maka semakin banyak orang yang menjadi relawan dengan cara menyumbangkan darah yang dimilikinya. Beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi relawan donor darah, yaitu: (a) Berusia 17-60 tahun (usia 17 tahun diperbolehkan dengan izin tertulis dari orangtua), (b) Berat badan minimal 45 kilogram, (c) Temperatur tubuh 36,6-37,5 derajat Celcius, (d) Tekanan darah baik, yaitu sistole 110-160 mmHg dan diastole 70-100 mmHg, (e) Denyut nadi teratur yaitu sekitar 50-100 kali/menit, (f) Hemoglobin (Hb), baik laki-laki maupun perempuan, minimal 12,5 gram, (g) Dalam satu tahun, maksimal melakukan donor darah lima kali dengan jarak donor darah tiga bulan (keadaan ini harus disesuaikan dengan keadaan pendonor).

Tak lupa, sebagai bentuk apresiasi terhadap Donor Darah Sukarela, PMI memberikan piagam penghargaan kepada orang yang telah menyumbangkan darahnya sebanyak 15 kali, 30 kali, 50 kali, 75 kali, dan 100 kali. Khusus untuk Donor Darah Sukarela sebanyak 100 kali, PMI bekerja sama dengan Departemen Sosial memberikan penghargaan Satyalancana Kebaktian Sosial yang disematkan langsung oleh Presiden.

Itulah pengalaman saya tentang donor darah. Gara-gara donor darah, tak hanya menyumbang darah, saya juga jadi tahu golongan darah saya yang sebenarnya. Saya pun bisa bercerita kepada teman-teman saya tentang pengalaman pertama donor darah. Memang pengalaman yang menarik karena jauh berbeda dengan cerita yang beredar di masyarakat. Teman-teman saya berulang kali menanyakan rasanya. Sakit? Nyatanya, tidak. Proses donor darah pun relatif cepat dan tidak berasa. Ini hanya pengalaman saya, saya yakin pasti masih banyak cerita dari relawan donor darah lainnya. Kamu berminat untuk membantu sesama dan punya pengalaman donor darah? Yuk, menjadi relawan donor darah!

Referensi:
Anonim, Donor Darah Sukarela (online), 2013, <https://www.pmi.or.id/index.php/kapasitas/sukarelawan/donor-darah-sukarela.html>, diakses pada 12 Juni 2016

Biro Humas PMI Pusat, Hari Donor Darah Sedunia: Berbagi Kehidupan, Donorkan Darah (online), 2016, <http://www.pmi.or.id/index.php/berita-dan-media/peristiwa/item/794-hari-donor-darah-sedunia-berbagi-kehidupan,-donorkan-darah-hdds2016.html>, diakses pada 12 Juni 2016

Blood for Life, Syarat Donor Darah (online), ____, <https://bloodforlife.wordpress.com/syarat-donor-darah/>, diakses pada 12 Juni 2016

Fimdani, Data BPS 2015 Sebut Jumlah Laki-laki di Indonesia Lebih Banyak Dari Perempuan (online), 2015, <http://news.fimadani.com/read/2015/11/21/data-bps-2015-sebut-jumlah-laki-laki-di-indonesia-lebih-banyak-dari-perempuan/>, diakses pada 12 Juni 2016

Wardah, Fathiyah, Indonesia Kekurangan 1 Juta Kantong Darah Per Tahun (online), 2016, <http://www.voaindonesia.com/content/indonesia-kekurangan-1-juta-kantong-darah-per-tahun/1681588.html>, diakses pada 12 Juni 2016

Zulfikar, Achmad, 70 Tahun Berdiri, PMI Miliki 2 Juta Relawan Donor Darah (online), 2015, < http://news.metrotvnews.com/read/2015/09/10/429713/70-tahun-berdiri-pmi-miliki-2-juta-relawan-donor-darah>, diakses pada 12 Juni 2016

Angry Birds yang biasanya hanya ada di games, sekarang ada filmnya, lho!!

Hey, Het, where have you been? Udah lamaaa

Yup! Angry Birds The Movie memang sudah dirilis di Indonesia sejak bulan lalu, tanggal 13 Mei 2016. Tapi, nyatanya, saya baru sempat nonton kemarin. Hiks.

why so angry

Siapa sangka, Sabtu (4/6) kemarin, Angry Birds The Movie hanya tersisa di tiga bioskop di Jakarta. Puri XXI, Gading XXI, dan Bassura XXI. Saya nyaris ketinggalan film ini, padahal saya khatam games Angry Birds dan penasaran filmnya. Sayangnya, tiga tempat itu sama sekali bukan pilihan saya nonton biasanya. Puri? Jakarta Barat. Gading? Jakarta Utara. Bassura? Di mana lagi itu?

Lelah menerka, bukan paman Google yang saya tanya, melainkan paman Gojek. Melalui aplikasi, dari alamat saya ke Bassura XXI ternyata hanya Rp 12.000,00. Bagi saya, Rp 12.000,00 itu menandakan daerahnya tidak jauh dan ‘gojekable’. Yeay!

Ternyata, Bassura XXI adalah bioskop baru, juga mallnya, Bassura City. Bioskop yang namanya singkatan dari alamatnya, Jalan Basuki Rahmat (Bassura), itu dibuka tanggal 26 Mei 2016. Pantas saja harga tiketnya masih terhitung murah, Rp 30.000,00 untuk hari biasa dan Rp 35.000,00 untuk akhir pekan dan hari libur. Saya kaget saat memesan tiket nonton untuk pukul 19.00 WIB. Hampir semua seat penuh padahal saat itu belum jam 18.30 WIB. Olala, ternyata banyak ‘krucil’ (baca: anak-anak) yang menonton dengan orang tuanya.

Angry Birds The Movie dibuka dengan musik pengantar seperti yang ada di games-nya. Yah, ada sedikit aransemen tapi tetap khas Angry Birds. Film ini menampilkan tokoh-tokoh yang sama dengan yang ada di games Angry Birds. Red (Si Burung Merah yang pemarah), Chuck (Si Burung Kuning yang gesit), Bomb (Si Burung Hitam besar yang bisa meledakkan diri), Terence (Si Burung Merah besar yang bisa mental), Matilda (si Burung Putih, guru kelas pengendalian marah), dan masih banyak lagi varian tokoh burung lainnya.

Film ini bercerita tentang seekor burung berwarna merah, bernama Red, yang memiliki masalah dengan rasa marahnya. Jika Red sudah marah, alisnya yang tebal berwarna hitam akan mengerut dan dia bisa berkata-kata tanpa henti. Kondisi ini membuat Red tidak punya teman dan menjadi asosial.

Puncaknya, saat Red disidang karena terlambat membawa kue pesanan untuk anak pelanggannya yang berulang tahun dan memecahkan telur. Red yang tidak punya teman berusaha membela dirinya sendiri. Di awal film memang banyak adegan yang menggambarkan kesialan Red. Bukannya mendapat simpati, Red justru semakin mendapat kecaman, “Don’t make a story, just take a responsibility.” Sebagai hukuman, Red harus mengikuti kelas pengendalian rasa marah. Di kelas inilah, Red bertemu dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Chuck, Bomb, Terence, dan Matilda, Si Ibu Guru.

Apakah film ini hanya akan bercerita tentang persahabatan mereka berempat di kelas pengendalian rasa marah? Tidak sedangkal itu. Cerita masih berlanjut dengan kedatangan babi hijau (Green Piggies) ke pulau burung. Lalu berlanjut dengan cerita tentang usaha Red dan teman-temannya untuk menemui Mighty Eagle, cerita Red yang tidak punya teman di Pulau Burung, dan cerita-cerita burung lainnya yang diselipkan untuk menyempurnakan 1 jam 37 menit.

Sepanjang film berlangsung, jalan ceritanya memang tidak membosankan. Apalagi kita bisa melihat warna-warni burung serial Angry Birds yang memanjakan mata. Namun, saya tidak bisa membayangkan jika jalan cerita ini bukan Angry Birds yang memainkannya. Tentu akan sedikit berat dan ‘tidak mengangkat’. Bisa jadi karena Angry Birds sudah tenar dulu sebagai games dan merchandise, dari seprei sampai kaos. Di sinilah, Angry birds sudah memenangkan hati orang-orang.

Dari segi humor, film ini banyak membuat saya tertawa. Ada saja adegan-adegan lucu yang diciptakan out of the box (namanya juga film animasi, imajinasi). Sayangnya, adegan-adegan lucu itu hanya dimengerti oleh orang dewasa. Dari satu deret seat bioskop, saya nonton sendiri diapit ayah bunda yang membawa anak-anaknya. Dan yang tertawa paling nyaring adalah … saya dan si ayah bunda!! Saya tidak tahu cara anak-anak itu menikmati film Angry Birds. Lagi-lagi, bisa jadi karena Si Anak sudah mempunyai koleksi menchandise Angry Birds sehingga tidak asing dengan para tokoh burung dan bisa menonton film tanpa beban.

Oh ya, sepanjang film, saya selalu menantikan penampilan semua tokoh burung yang ada di games Angry Birds. Saya penasaran dengan peran yang mereka bawakan. Si Burung ini jadi apa, Si Burung itu jadi apa. Dengan tokoh Angry Birds yang banyak variannya itu, si pembuat cerita harus terampil memberikan peran pada masing-masing burung. Bahkan, seperti kejutan, di akhir film pun, si pembuat cerita masih sempat memunculkan trio burung pemecah es yang dari awal belum muncul-muncul. Nice try-lah, Angry Birds The Movie!

Angry Birds The Movie

PS.
Tokoh favorit saya di film ini adalah si burung yang menjadi pantomim (walau sama sekali tidak ada di games-nya). Dia menjadi tokoh yang tidak penting tapi kocak dan sering dimunculkan untuk hiburan.

%d bloggers like this: