Ini bukan dua – tiga hari saya baru mem-follow akun Twitter @JKTgoodguide. Sudah lama saya ngiler melihat cuitan jadwal jalan-jalan mereka di akun Twitter. Jalan-jalan di sini literally ‘jalan’ ya alias ‘jalan kaki’. Sebagai orang yang hobi jalan-jalan, saya selalu penasaran dengan destinasi yang mereka tuju: Menteng, Jatinegara, Kota Tua, China Town, Pasar Baru, Cikini, Cilincing, dan sebagainya. Aneh?? Enggak juga. Justru rute-rute ‘tak terduga’ seperti ini yang sering kita lewatkan sebagai penduduk Jakarta (baik pribumi maupun pendatang hehe). Ya kan??!!

Akhirnya, cita-cita saya jalan-jalan bareng @JKTgoodguide tercapai hari Sabtu (28/1) kemarin. Yang istimewa, pada kesempatan kali ini mereka lagi punya gawe dengan @ITDPIndonesia dan @PT_Transjakarta dalam acara yang bernama ‘Site Visit Busway – Passer Baroe’. Acara ini sebenarnya merupakan kombinasi antara walking tour dan sosialisasi tentang Bus Rapid Transit (BRT). Yuk, baca ulasannya dalam tulisan ini!

‘Site Visit Busway – Passer Baroe’.

‘Site Visit Busway – Passer Baroe’.

ITDP (Institute for Transportation and Development Policy) yang saya sebut di atas merupakan sebuah lembaga non-profit (Non-Governmental Organization/NGO) yang bergerak di isu sistem transportasi, baik inovasi maupun advokasi kebijakan. ITDP berkerja sama dengan United Nations Environment Programme (UNEP) untuk memberikan pendampingan teknis kepada pemerintah DKI Jakarta terkait pengoperasian Bus TransJakarta melalui sebuah proyek yang bernama ‘Bus Rapid Transit and Pedestrian Improvements in Jakarta’.

Salah satu program yang rutin dilaksanakan setiap bulan adalah ‘Site Visit Busway’. Mulanya, program ini hanya ditujukan untuk anak-anak saja dalam mengenalkan moda transportasi Transjakarta yang bisa mereka naiki saat ke sekolah nanti. Kemudian, muncullah ide untuk berkolaborasi dengan @JKTgoodguide, berupa walking tour yang diselingi dengan sosialisasi tentang BRT. Agar lebih soulful dalam mengenal BRT di Jakarta, ada kesempatan untuk naik Bus Transjakarta Vintage Series. Asyik!

Ngapain aja sih acaranya??
Pukul 07.30 WIB, para peserta sudah berkumpul di Halte Bundaran Senayan. Setelah briefing dari penyelenggara acara, kami dipersilakan untuk menaiki Bus Transjakarta – Vintage Series dengan riang gembira. Selama perjalanan menuju Halte Monas, kami diberikan informasi terkait keberadaan Bus Transjakarta plus sesi tanya jawab. Suasananya seru karena banyak fakta menarik yang terungkap yang sebelumnya tidak kami ketahui. Serta, keberadaan ornamen di dalam bus yang membuat kami sibuk sendiri dengan kamera masing-masing. Kapan lagi bisa naik Bus Transjakarta yang sampai saat ini masih limited edition alias baru ada dua armada.

Djaoeh - Dekat Rp 3500

Djaoeh – Dekat Rp 3500

Poster jadul yang bakal banyak kamu temui di dalam Bus Transjakarta - Vintage Series.

Poster jadul yang bakal banyak kamu temui di dalam Bus Transjakarta – Vintage Series.

Selain poster jadul, ada juga tempelan koran jadul di dalam Bus Transjakarta - Vintage Series.

Selain poster jadul, ada juga tempelan koran jadul di dalam Bus Transjakarta – Vintage Series.

Berhubung sampai sekarang baru ada dua armada, grab them fast kalau ketemu di jalan hihi.

Berhubung sampai sekarang baru ada dua armada, grab them fast kalau ketemu di jalan hihi.

Sesampai di Halte Juanda, kami turun dan bersiap memulai walking tour. Walau cuaca mulai mendung, kami tetap bersemangat. Dengan rute yang sama, rombongan dibagi menjadi dua. Masing-masing dipandu oleh guide dari @JKTgoodguide yang akan bercerita tentang sejarah atau bangunan yang kita lewati. Rutenya adalah Masjid Istiqlal – Gereja Katedral – Pintu Air – Santa Ursula – Gedung Filateli – Gedung Kesenian Jakarta – Gedung Foto Antara – Toko Kompak – Vihara Sin Tek Bio – Gereja Pniel – Halte Pasar Baru.

Tour guide dari @JKTgoodguide ini tahu banget cara cerita Jakarta dari sisi yang asyik.

Tour guide dari @JKTgoodguide ini tahu banget cara cerita Jakarta dari sisi yang asyik.

Saat tiba di Gereja Katedral, hujan menderas. Untungnya, kami semua sudah diminta membawa payung atau jas hujan. Kami sempat berteduh di Gedung Filateli dan Gedung Kesenian Jakarta. Nyatanya, hujan tak membuat semangat kami menurun untuk tetap melanjutkan perjalanan. Hampir dua setengah jam kami melahap habis rute itu. Serta, diselingi dengan makan bersama di Bakmi Gang Kelinci. Di akhir acara, kami naik Bus City Tour ‘Mpok Siti’ untuk diantar kembali ke Halte Bundaran Senayan.

Ooo, Ternyata …
– Bus Transjakarta yg beroperasi di Jakarta (Indonesia) termasuk dalam kategori Bus Rapid Transit (BRT).
– Jakarta merupakan kota dengan koridor busway terpanjang di dunia, yaitu 12 koridor dan saat ini sedang berlangsung pembangunan untuk koridor 13.
– ‘Busway’ merupakan jalur/jalan/lintasan bus. Sedangkan ‘Transjakarta’ merupakan bus. Banyak orang yang tertukar istilahnya.
– Bus Transjakarta di Indonesia diinisiasi sejak tahun 2004 saat periode Gubernur Sutiyoso.
– Sampai saat ini, Bus Transjakarta terus berkembang dengan memperluas jangkauannya sebagai salah satu moda transportasi massal. Tercatat, ada 12 koridor dan 232 halte di Jakarta.

Tulisan ini memang sengaja dibuat singkat biar kalian penasaran dan membuktikan sendiri hehe. So, pengen ikutan juga dengan acara serupa? Stand by terus di akun media sosial @JKTgoodguide atau @ITDPIndonesia Pasti ada rute baru yang nggak kalah serunya…

PS.
Saya nulis ‘Tanjung Priok’ di feedback form yang dibagikan. Seru juga kan, bisa kenal lebih jauh kawasan yang mirip area film Transformers ini, di mana sejauh mata memandang truk tronton! Moga-moga dikabulkan ya. Amin.

Halo, saya Hety.”
“…”
Hello Kitty.”
Hahaha.”

Begitulah cara saya untuk mengatasi keheningan atau ‘membuat’ sedikit gaduh akibat cueknya orang-orang saat sesi perkenalan di suatu forum. Begitu menyebut ‘Hello Kitty’, entah kenapa, mereka tergelak. Ini seperti mantra saja. Saya hanya melempar senyum, misi mencairkan suasana berhasil dengan menyebut tokoh kartun berwujud kucing itu.

Mengapa Hello Kitty? Saya ngarang saja. Sebuah kebetulan nama saya bisa dipanjangkan menjadi HEllo KitTY. Nenek (ibu papa) yang memberikan nama ‘Hety’ sudah meninggal sebelum saya menanyakan artinya. Nenek saya penggemar Hello Kitty? Wallahualam.

… dan akhirnya, setelah sekian lama, saya bisa pulang kampung.

He? Ke mana? Jogja?”
Hello Kitty Café!”
“…”

Rasanya senang sekali bisa menginjakkan kaki di sebuah tempat di mana sejauh mata memandang adalah Hello Kitty. Vitamin mata! Hello Kitty di sini tidak sekadar furniture kafe saja lho, tetapi juga makanan dan minuman. Ada berbagai kreasi makanan dan minuman yang ditambahkan unsur Hello Kitty-nya. Penasaran kan, seperti apa??

hello kitty cafe

Hello Kitty Cafe yang saya kunjungi ini terletak di kawasan ruko Pantai Indah Kapuk. Jika kamu berjalan di kawasan ini, kamu akan menemukan deretan kafe dan tempat makan unik. Mirip di luar negeri deh! Tempat parkirnya juga dibuat sedemikian rupa, sehingga pengunjung bisa berjalanan kaki dengan nyaman.

Tampak depan, sekilas, Hello Kitty Cafe ini mirip dengan yang ada di Korea. Nuansa pink dan tulisan ‘Hello Kitty Cafe’-nya khas sekali. Sayangnya, saat ke Korea dulu, saya tidak sempat mampir masuk. Jadi, tidak banyak hal yang bisa saya bandingkan.

Hello Kitty Cafe di Hongdae, Korea.

Hello Kitty Cafe di Hongdae, Korea.

Hello Kitty Cafe yang ada di Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Indonesia.

Hello Kitty Cafe yang ada di Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Indonesia.

Saat saya mampir kemarin, suasanya tidak begitu ramai. Pengunjung cenderung memilih tempat duduk di dekat hiasan-hiasan Hello Kitty. Saya amati, pengunjung yang datang memang bukan untuk hal-hal yang serius. Meeting, misalnya. Mereka sekadar bercengkrama, bersantai sejenak, dan tentu saja berfoto! Dengan nuansa ruangan yang ‘cute’ seperti ini, menurut saya ini lebih mirip studio foto daripada kafe, tempat makan haha.

mynameishety-wordpress-com

Hello Kitty Cafe - mynameishety

Makanan
Walau hampir memasuki jam makan siang, saya tak berniat untuk makan siang di Hello Kitty Cafe. Kafe ini hanya menyajikan makanan dan minuman ringan saja, seperti cupcakes, pizza, sandwich, spaghetti, donat, hotdog, burger, yang semuanya berbentuk Hello Kitty. Kebayang?? Sedangkan, untuk minuman, mayoritas berbahan dasar susu dan kopi yang di-garnish sedemikian rupa dengan rupa-rupa Hello Kitty.

Kemarin, saya memesan ‘Kitty Regal’, sejenis minuman berbahan dasar roti marie yang diblender bersama susu, serta disajikan dengan whipped cream, mesis warna-warni, potekan roti marie, serta Hello Kitty dari coklat putih. Sehingga, rasanya sangat susu sekali. Slurp!

Sedangkan, Tasha, teman saya, memesan ‘Spanish Coffee’. Dari namanya saya bisa ketahuan kalau bahan dasarnya memang kopi. Yang seru, penyajian kopi ini dilengkapi dengan ice cream vanila dan cone berisi strawberry cream dan mesis warna-warni sebagai topping. Yummy!

Kitty Regal (kiri), Spanish Coffee (kanan).

Kitty Regal (kiri), Spanish Coffee (kanan).

Harga
Kitty Regal yang saya pesan harganya Rp 58.000,00. Sedangkan, Spanish Coffee harganya Rp 36.000,00. Jika terdengar mahal, menurut saya, ini sebanding dengan usaha mereka untuk meng-garnish setiap makanan dan minuman dengan rupa-rupa Hello Kitty. Banyak sentuhan kreativitas dalam penyajian makanan dan minumannya di sini. Cek deh di akun Instagram mereka di @hellokittycafejkt

Kreativitas tanpa batas. Daftar menunya dibuat seperti jendela kayu yang bisa dibuka-tutup.

Kreativitas tanpa batas. Daftar menunya dibuat seperti jendela kayu yang bisa dibuka-tutup.

Nah, kamu ngaku penggemar Hety, eh Hello Kitty?? Nggak usah jauh-jauh ke Korea, cuss aja ke Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Walau jauh, nggak rugi kok. Banyak tempat makan menarik lainnya yang bisa kamu kunjungi saat mampir ke sini. Catat alamatnya:

Hello Kitty Cafe
Ruko Crown Golf No.30 Pantai Indah Kapuk Jakarta
(021) 22512383
Jam buka: Minggu – Kamis 11.00 – 22.00 WIB, Jumat – Sabtu 11.00 – 23.00 WIB

Ada yang unik di bandara internasional Incheon, Korea. Dari sekian banyak flyer atau brosur pariwisata, ada kertas berwarna orange yang berbentuk seperti handphone. Lucu!

the-stationer-1

Tertulis, “No Language Barier in Korea.”

Usut punya usut, ternyata kertas itu merupakan panduan bahasa bagi orang asing yang berkunjung ke Korea. Bandara internasional Incheon bekerja sama dengan ‘bbb’ Korea mencoba mengatasi kendala bahasa yang sering dialami oleh orang-orang non-Korea, khususnya di bandara. Cara kerjanya sederhana. Kita hanya perlu berbicara sesuai bahasa ibu kita kepada relawan ‘bbb’ untuk diterjemahkan secara gratis, baik melalui telepon atau aplikasi ‘bbb’ (bisa didownload gratis melalui Android dan IOS). ‘bbb’ mampu melayani 19 bahasa selama 24 jam/7 hari, termasuk Bahasa Indonesia, lho!

Wow, keren, ya! Jadi, kita tidak perlu takut kesasar karena gagal paham dengan huruf Korea yang meliuk-liuk itu. Kalau sudah begitu, siapa yang tidak ingin jalan-jalan ke Korea??!! Coba angkat tangan!!

Hmm …

Nyatanya, masih ada saja yang angkat tangan tuh. Katanya, satu kendala yang dihadapi saat jalan-jalan ke Korea adalah ‘makanan’. Ya, karena bukan termasuk negara muslim, sulit untuk menemukan makanan halal di Korea. Ah, apa iya??!!

Nyatanya, di tahun 2016, ada 300.000 wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea. Sedangkan, di tahun sebelumnya, tercatat ada 198.000 wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea. Jika keduanya dibandingkan, jumlah ini meningkat hampir 53,2%. Dengan jumlah itu, wisatawan Indonesia menduduki peringkat ke-8 dari 9 negara asal wisatawan yang mengunjungi Korea. Bahkan, diprediksi, dalam sepuluh tahun ke depan, Indonesia bisa menduduki peringkat ke-3 atau ke-4 negara asal wisatawan yang mengunjungi Korea. Demikian data yang disampaikan oleh OH Hyonjae selaku Direktur Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta berberapa waktu yang lalu.

Meningkatnya jumlah wisatawan Indonesia ke Korea ternyata diikuti juga dengan meningkatnya jumlah wisatawan muslim. Dilemanya, sulit untuk menemukan makanan halal di Korea tetapi di sisi lain wisatawan Indonesia merupakan pasar potensial bagi Korea. Ternyata, kondisi ini sudah diantisipasi oleh pemerintah Korea, melalui KTO, mengingat Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia.

ByunChu-seok, Direktur KTO, menerbitkan buku ‘Muslim-Friendly Restaurants in Korea’ untuk memudahkan wisatawan muslim menemukan makanan halal di Korea. Buku ini memperkenalkan sekitar 118 restoran di Korea yang tidak hanya menjual makanan muslim, tetapi juga makanan Korea yang dapat dikonsumsi oleh wisatawan muslim. Restoran-restoran itu dibagi dalam 5 kategori, yaitu restoran halal-certified, restoran self-certified, restoran Muslim-friendly, restoran Muslim-welcome, dan restoran pork-free.

www-mynameishety-wordpress-com

Selain itu, buku ‘Muslim-Friendly Restaurants in Korea’ ini juga mengelompokkan 36 menu makanan Korea yang terkenal dalam 4 kategori, yaitu sayuran saja, makanan berbahan seafood, makanan berbahan sayur dan seafood, dan makanan berbahan daging tetapi bukan babi. Hal ini bertujuan agar wisatawan muslim tetap dapat menikmati makanan Korea dan tidak mengalami kesulitan dalam menemukan makanan halal di Korea.

Nah, keren kan support dari pemerintah Korea kepada wisatawan muslim yang berkunjung ke Korea? Kalau gitu, gimana dengan di Indonesia, ya?

Di Indonesia sendiri, ada yang dikenal dengan nama ‘wisata halal’ (halal tour). Wisata halal merupakan perjalanan wisata dengan menu halal serta aktivitas muslim, seperti ibadah solat, kunjungan ke masjid, kunjungan ke pusat budaya muslim, dan lain-lain. Walaupun namanya wisata halal, wisata ini tetap dapat mengunjungi daerah nonmuslim, seperti negara-negara di kawasan Eropa, Cina, Jepang, Hongkong, Australia, maupun Korea. Serta, pesertanya pun tidak terbatas pada muslim saja, nonmuslim bisa ikut. Salah satu, biro perjalanan yang menawarkan wisata halal di Indonesia adalah Cheria Travel.

Hmm, jadi penasaran, kalau wisata halal ke Korea ala Cheria Travel seperti apa yaaa …

Nonton lagi, lagi, lagi …

Ooo … Setelah menjelajah Cheria Travel, ada empat pilihan Paket Tour Wisata Halal Korea. Pilihannya lengkap lho, mulai dari 5 hari, 6 hari, sampai 7 hari.

Paket Tour Facinating Winter Korea Muslim – 5 Hari 3 Malam
paket-tour-facinating-winter-korea-muslim-5d3n

Paket Tour Beautiful Winter Korea Muslim – 6 Hari 5 Malam
paket-tour-beautiful-winter-korea-muslim-6d5n

Paket Tour Korea Jeju Winter Muslim – 7 Hari 6 Malam
paket-tour-korea-jeju-muslim-holiday-7d6n

Paket Tour Korea Jeju Muslim Holiday – 7 Hari 6 Malam
paket-tour-korea-jeju-winter-muslim-7d6n

Semua destinasi di Paket Tour Wisata Halal Korea di atas ada di ‘10 Objek Wisata Korea Paling Populer’ versi KTO.

Penasaran, kan??!! Yuk, kita intip ulasannya …

Gyeongbukgung Palace

Foto: Gyeonghoeru Pavilion (atas) / Geunjeongjeon Hall, ruang takhta di Dinasti Joseon (kiri bawah) / Upacara Pergantian Penjaga Istana (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326

Foto: Gyeonghoeru Pavilion (atas) / Geunjeongjeon Hall, ruang takhta di Dinasti Joseon (kiri bawah) / Upacara Pergantian Penjaga Istana (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326

Gyeongbukgung Palace merupakan sebuah istana yang terletak di sebelah utara kota Seoul (Northern Palace). Istana ini merupakan istana terbesar yang dibangun oleh Dinasti Joseon. Selain berjalan-jalan menikmati arsitektur bangunan istana dan berfoto, kamu juga bisa melihat atraksi ‘Royal Guard Changing Ceremony‘ pada jam-jam tertentu.

Agar jalan-jalanmu ke Korea lebih menghayati, jangan lupa juga untuk mengunjungi National Folk Museum of Korea. Kamu bisa menyaksikkan sendiri sejarah Korea. Lokasinya berada di dalam istana, sayang kalau dilewatkan.

Nami Island

Foto: Pine Nut Tree Path dekat pintu masuk ke Pulau Namiseom (atas) / Situs dari ciuman pertama karakter utama 'dalam drama "Winter Sonata (2002" (kiri bawah) / Wisatawan menikmati Pulau Namiseom (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326

Foto: Pine Nut Tree Path dekat pintu masuk ke Pulau Namiseom (atas) / Situs dari ciuman pertama karakter utama ‘dalam drama “Winter Sonata (2002” (kiri bawah) / Wisatawan menikmati Pulau Namiseom (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326

Nami Island merupakan destinasi wisata populer di Korea. Keindahan alam di pulau ini menarik wisatawan dari berbagai negara untuk datang. Apalagi sejak pulau ini dijadikan tempat syuting film Winter Sonata. Oh! Selama kunjungan ke Nami Island, kamu bisa menghabiskan waktu dengan berjalan mengelilingi pulau. Nggak bakal bosan, deh! Ada saja tempat menarik yang cocok digunakan untuk foto.

Mount Sorak

Seoraksan National Park. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Seoraksan National Park. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Mount Sorak merupakan daerah pegunungan di Korea. Selain itu, kawasan ini juga merupakan taman nasional. Pengunjung dapat berjalan menikmati pemandangan dengan rute jalan menanjak atau bisa juga naik cable car. Adapun yang dapat disaksikan di sini antara lain Shinheungsa Temple, Gwongeumseong Fortress, atau Great Bronze Buddha.

Itaewon

Itaewon merupakan kawasan yang unik di Korea. Di sini kamu dapat berjumpa dengan orang-orang dari berbagai negara (kebangsaan). Itaewon juga dikenal sebagai pusat belanja ‘jalanan’ di Korea. Kamu dapat menemukan makanan dari berbagai negara, serta tas, pakaian, sepatu, perhiasan, aksesoris, kerajinan, dan lain-lain.

Sebagai sebuah pemukiman, Itaewon juga mempertemukan berbagai adat istiadat dan budaya, termasuk agama. Kamu dapat mengunjungi masjid di Itaewon, Seoul Central Mosque. Ini adalah destinasi yang wajib dikunjungi bagi wisata halal. Tak hanya wisatawan muslim, wisatawan nonmuslim pun banyak yang datang untuk mengagumi keindahan arsitektur masjid yang berdiri tahun 1976 ini. Terlebih, Islam bukan merupakan agaman maoritas di Korea sehingga banyak pengunjung yang penasaran.

Dongdaemun

Dongdaemun sering disebut sebagai ‘street of passion for passion and art‘. Dongdaemun merupakan pusat perbelanjaan utama di Korea. Suasana yang akan kamu rasakan di sini adalah perpaduan antara sejarah, budaya, dan modernitas Korea melalui berbagai bangunannya.

Myeong-dong

Foto: Deretan toko ternama di Myeong-dong (atas) / toko kosmetik (kiri bawah) / Turis sedang melihat pakain dari luar jendela (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326.

Foto: Deretan toko ternama di Myeong-dong (atas) / toko kosmetik (kiri bawah) / Turis sedang melihat pakain dari luar jendela (kanan bawah). Sumber: http://www.visitkorea.or.id/bbs/board.php?bo_table=informasi_wisata&wr_id=1326.

Myeong-dong juga dikenal sebagai ‘Beauty Road’ atau jalan kecantikan karena banyaknya toko kosmetik yang berjajar di suatu area. Sebagai pusat bisnis dan belanja di Korea, jalan sepanjang 1 Km ini dipenuhi dengan mall, toko bebas bea, dan berbagai toko bermerek. Pun kamu tidak suka berbelanja, kamu masih bisa menikmati Myeong-dong dengan mencoba jajanan (street food) dan restoran terkenal di daerah ini. Oh ya, bagi para K-Pop mania, daerah Myeong-dong bagaikan surga.

Gimana??!! Seru kan??!!
Itu tadi hanya beberapa ulasan, lho! Masih banyak destinasi wisata Korea lainnya di wisata halal. Kalau kamu ikut Paket Tour Wisata Halal Korea, dijamin, semua itinerary alias rencana perjalanan akan ditata apik dan tidak ada destinasi menarik yang terlewat.

Yang spesial lagi, biar Paket Tour Wisata Halal Korea masuk jadi wishlist liburanmu di tahun 2017, ada video Enjoy your Creative Korea nih. Biar nambah semangat ke Korea, eh.

Ada bocoran nih. Video berdurasi tepat 60 detik ini merupakan official TVC KTO yang dirilis Agustus 2016 lalu. Video itu dibintangi oleh bintang Korean wave, Song Joong Ki, yang terkenal lewat drama ‘Descendants of the Sun‘.

Akkk … Mau nyusul Song Joong Ki??!!

Tunggu apa lagi? Cuss ke ‘Cheria Wisata Tour Travel Halal Terlengkap di Indonesia’ dan pesan paket wisatamu sekarang!!

cheria-travel-wisata-halal-korea

Cheria Travel bisa dijumpai di Gedung Twink Lantai 3, Jalan Kapten P. Tendean No. 82 Mampang Prapatan Jakarta 12790. Telepon: (021) 7900201 (Hunting). Email: info@cheria-travel.com

Keberangkatan ke Johannesburg, Afrika Selatan, bulan lalu masih menyisakan utang cerita di blog. Tahun memang berganti, utang tetap saja membebani kalau tidak dilunasi.
Emang kamu janji sama siapa, Het?”
Sama diri sendiri.”
Sigh!

*

Setelah cerita pertama tentang mudahnya membuat visa Afrika Selatan tanpa bantuan agen, pada urutan kedua kali ini, saya akan bercerita pengalaman di Thailand selama 11 jam.

Thailand? Ya, ‘libur colongan’ 11 jam ini dipersembahkan oleh kepergiaan ke Johannesburg, Afrika Selatan. Dari berbagai pilihan penerbangan, akhirnya, Thailand menjadi tempat transit yang saya pilih dengan berbagai pertimbangan (serta catatan, mumpung dibayarin haha).

Fakta pertama, ini kali pertama saya ke Thailand. Please, jangan tertawa kalau kalian traveller ulung. Setelah Singapura dan Malaysia, Thailand menjadi negara Asia ketiga dalam daftar jelajah saya.

Fakta kedua, saya termasuk orang yang harus melihat sendiri baru kemudian percaya. Selama 3 tahun 11 bulan kuliah di Hubungan Internasional dan mengambil konsentrasi kawasan Asia Tenggara, hubungan saya dengan Thailand hanya sebatas buku-buku literatur. Selama itu, saya banyak meng-‘gibah’ Thailand, mulai dari tata kelola pertanian nasional, pengembangan industri kecil dan menengah, sampai pembangunan pariwisata. Jujur, agak sanksi memang karena saya menjadi sensitif kalau kondisi Thailand lebih baik dari Indonesia dalam bidang yang saya sebutkan di atas. Nyatanya, baru berasa saat saya buktikan sendiri dalam perjalanan kali ini.

Fakta ketiga, skripsi saya mengambil topik pariwisata dan feminisme. Dua hal itu akhirnya melahirkan judul skripsi ‘Sex Tourism di Thailand, Tinjauan Perspektif Feminisme.’ Asoy, bukan? Kala itu, beberapa orang langsung refleks bertanya, “Kamu, ke Thailand, Het?” Saya hanya menggeleng malu sambil nyengir, “Enggak.” So sad but true, saya hanya studi literatur untuk skripsi saya. Siapa sangka, akhirnya, di tahun 2016, saya bisa ke Thailand dan membuktikan sendiri tata kelola pariwisata di Thailand.

Cuss!

Berangkat: Jakarta – Bangkok – Nairobi – Johannesburg

Hello Thailand

Selasa, 29 November 2016, pukul 09.40 WIB, saya berangkat dari Soekarno Hatta International Airport (Jakarta) menuju Suvharnabhumi (Bangkok) dengan maskapai Kenya Airways. Di Indonesia sendiri, Kenya Airways dioperasikan oleh Garuda Indonesia. Sehingga, dari Jakarta menuju Bangkok, saya naik pesawat Garuda Indonesia.

Mengapa Kenya Airways? Deg-degan juga karena ini kali pertama saya naik Kenya Airways. Beberapa orang berbagi cerita di blog tentang pengalaman kurang baik terbang dengan Kenya Airways saat saya browsing di internet. Tapi mau bagaimana lagi? Rute Jakarta – Johannesburg yang transit di Bangkok hanya dilayani oleh Kenya Airways. Jadi, saya bismillah saja. Ingat, ini ‘libur colongan’ jadi saya harus siap dengan kejutan manis, asem, pahitnya.

Selain itu, mengingat ini adalah perjalanan jauh dengan transit yang aduhai, saya sengaja memilih satu maskapai yang langsung bisa mengantarkan bagasi saya sampai tujuan tanpa saya harus memindahkan bagasi saya. Sebutannya, ‘check in through‘. Walau transit di beberapa negara dalam waktu yang tidak sebentar, saya tidak perlu stress memikirkan bagasi, karena bagasi akan tiba di tujuan terakhir, Johannesburg. Jadi, saya bisa jalan-jalan di masa transit dengan riang.

Halo Thailand!

halo Thailand

Masih di hari yang sama, saya tiba di Bangkok pukul 13.00 WIB (tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok). Rasanya campur-campur saat mengintip bandara Suvharnabhumi dari jendela pesawat. Excited bercampur grogi. Thailand perdana, Kenya pedana, dan Afrika perdana. Pun tidak ada yang bisa ditanya karena perbedaan bahasa, masih ada papan-papan petunjuk di setiap bangunan dan jalan yang bisa dibaca. Itulah mantra saya.

Turun dari pesawat dan berdecak kagum – membuktikan sendiri ulasan tentang bandara Suvharnabhumi di blog orang-orang, saya mengikuti rute di dalam bandara menuju bagian imigrasi. Tenang, tidak bakal kesasar karena tinggal mengikuti rombongan yang mayoritas orang asing yang akan berlibur ke Thailand. Tidak lupa, saya mampir toilet dan mengisi botol Tupperware dari keran air minum di bandara. Haus pisan, euy!

Saya baru sadar kali ini sudah masuk hitungan akhir tahun saat melihat hall imigrasi full orang asing (bule). Hubungannya apa? Ini adalah masa liburan bagi orang-orang itu. Saat di negaranya mengalami musim dingin (salju bahkan), mereka memilih untuk ‘bermigrasi sesaat’ di negara tropis, seperti Thailand. Mayoritas turis itu berwisata dengan membawa anak-anaknya yang balita. Terbayang kan, anak balita bule itu seperti apa? Lucu maksimal dan itu adalah hiburan saya satu-satunya di hall imigrasi yang antriannya sudah seperti ular putih. Panjang!

Fiuh! Akhirnya pukul 14.45, saya berhasil melalui bagian imigrasi bandara. Dengan backsound “We are the champion, my friend”, eh, itu hanya di khayalan, saya menuju mushola di bandara yang sudah banyak direview di blog orang-orang. Saya tak canggung karena bentuk dan deskripsi musholanya persis seperti di blog. Usai solat dzuhur dan ashar, saya bergegas turun menuju area stasiun BTS dan Airport Rail Link (ARL).

Mushola di Bandara Suvharnabhumi, Bangkok, Thailand.

Mushola di Bandara Suvharnabhumi, Bangkok, Thailand.

PS. Bandara Suvharnabhumi itu bagus banget. Besar, luas, dan jelas. Walau tidak menguasai bahasa lokal, papan petunjuknya besar-besar, bilingual, dan disertai gambar. Lift dan eskalatornya banyak, sehingga sangat memudahkan kita untuk mobilisasi di setiap lantai.

Rasanya sudah gelisah saja. Saya membaca lagi daftar destinasi yang harus saya kunjungi di Thailand versi saya di transit 11 jam ini. Ada 10 tempat alternatif pilihannya (see, betapa ambisiusnya saya haha). Jujur, saya ingin sekali mampir ke Grand Palace, Wat Arun, atau Wat Pho tapi apa daya jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Candi-candi itu tutup pukul 17.00. Dengan menghitung waktu tempuh dari bandara (serta mungkin ada bagian kesasarnya), jelas tidak cukup waktu.

Akhirnya, pilihan saya jatuh ke … *drum roll*
Platinum Fashion Mall!

Platinum Fashion Mall , Surga Belanja
Platinum Fashion Mall terletak di Jalan Phetchaburi. Jika naik BTS, turun di stasiun Ratchathewi, lalu jalan kaki 15 menit. Tidak jauh kok. Bahkan, kita melewati KBRI Indonesia sebelum sampai di Platinum Fashion Mall.

Harga tiket ARL di Bandara Suvharnabhumi 45 Baht menuju Stasiun Phayathai dan berganti BTS. Dari Stasiun Phayathai menuju stasiun Ratchatewi 15 Baht.

Tiket ARL yang wujudnya koin.

Tiket ARL yang wujudnya koin.

Tiket BTS

Tiket BTS

Tiket BTS ini kalau dibalik, ada informasi urutan stasiun dalam huruf Thailand dan huruf cetak.

Tiket BTS ini kalau dibalik, ada informasi urutan stasiun dalam huruf Thailand dan huruf cetak.

Platinum Fashion Mall buka dari pukul 08.00-20.00. Dari namanya, pasti sudah bisa ditebak menjual apa. Sayur! Huu.. Kalau di Indonesia, Platinum Fashion Mall itu seperti Blok M Square yang menjual baju-baju selengkap koleksi di Tanah Abang atau Thamrin City. Saya sempat berpapasan dengan orang Indonesia yang membawa tas beroda atau semacam kereta dorong (biasanya digunakan untuk mengangkat galon). Nggak mungkin kan hanya membeli satu baju dengan alat bantu seperti itu?

Baju-baju yang dijual di Platinum Fashion Mall lucu-lucu dan sangat up to date. Harga? Bervariasi. Kamu bisa menemukan yang mahal sampai murah. Baju-baju sale ada tandanya. Jadi, enggak perlu capek-capek nawar lagi karena kalau dirupiahkan sudah terjangkau. Coba deh, cek.

Sebagai seorang fashion enthusiast (ciee), saya bisa menemukan 3 baju lucu dalam waktu kurang dari 1 jam! Jeng, jeng.. Padahal kalau di Indonesia, saya bisa lama sekali untuk menentukan baju yang ingin saya beli. Bolak-balik membandingkan harga dan kualitas bahan. Ini yang saya sebut sebagai tanda bahaya. Penanda, saya enggak boleh berlama-lama di Platinum Fashion Mall kalau masih ingin sampai di Johannesburg hehe.

Pukul 18.30, saya meninggalkan Platinum Fashion Mall dan memilih untuk menikmati pemandangan street food yang mulai ramai lapaknya. Di jalan rayanya sendiri, ramai oleh kendaraan bermotor yang lalu-lalang, mirip Jakartalah. Dari semua jajanan, akhirnya, saya membeli mangga yang diberi ketan seharga 60 Baht.

Mangga ketan ini manis dan seger banget. Enak!

Mangga ketan ini manis dan seger banget. Enak!

Dengan rute BTS yang sama, saya akhirnya kembali lagi ke bandara pada pukul 20.00 WIB. Saya mampir untuk solat magrib dan isya, lalu makan dan akhirnya, larut dalam antrian di imigrasi untuk penerbangan selanjutnya menuju Nairobi (Kenya). Walau penerbangan berikutnya pukul 00.00, saya ingat petugas bandara yang berpesan untuk tidak mepet sampai di bandara. Ternyata betul, pukul 22.00, dari check in sampai menuju imigrasi sudah dipenuhi orang-orang. Saya bersyukur sudah bisa sampai di bandaram walau di sisi lain, 11 jam di Thailand kali ini benar-benar kode untuk saya datang lagi.

Oh ya, di Thailand, saya sudah tidak akan naik pesawat Garuda, tapi pesawat Kenya Airways. So, sampai jumpa di Nairobi dan Johannesburg di cerita selanjutnya!

goodbye07gif-107704

Baca cerita sebelumnya:
Pengalaman Mengajukan Visa Afrika Selatan

Akan ada hari di mana mimpimu akan menjadi dekat. Hari apakah itu?

Saya? Bagi saya, hari itu kemarin.

Dalam satu hari, tiba-tiba ada tiga kejadian yang menggelitiki mimpi saya untuk bangun dari nina bobonya di penghujung tahun. Ayo-ayo!

Kejadian Satu
Mantan bos di kantor sebelumnya, tiba-tiba menelepon. Seperti biasa, sapaan hangat dan gaya ‘ngakrab’-nya itu bisa membuat cair pembicaraan kami di telepon dalam hitungan detik. Padahal sudah lama sekali tidak ketemu. Valid kan beliau jadi bos? Sosok yang hangat untuk mengguyubkan sebuah hubungan, termasuk dengan saya, bawahannya versi zaman dahulu kala.

Tak hanya sampai di situ saja, satu hal lagi yang membuat kaget adalah saat beliau menutup pembicaraan kami dengan, “Jangan lupa, lho Het?”
Apa, Pak?” tanya saya polos karena saya memang tak pernah menjanjikan apa-apa sepanjang pertemuan lewat suara ini.
Bikin sekolah, kan? Hahahaha
Deg.

Ya, saya tak pernah menutup-nutupi mimpi saya dengan orang yang mempunyai kutub positif di sekitar saya. Terlebih orang yang mempunyai kemampuan untuk melihat potensi saya dan bersedia menjadi supporter bukan hater. Si bapak bos di atas, misalnya. Beliau tahu saya punya cita-cita mempunyai sekolah suatu saat nanti dan tetiba diingatkan dengan cara seperti kemarin? Hmm, rasanya …

Kejadian Dua
Masih di hari yang sama tiba-tiba seorang teman yang paham betul kalau saya sebenarnya mempunyai jiwa kesasar petualang mengirimkan chat Whhatsapp, “Mana fotomu di Thailand?:)”

Thailand? Ya, Thailand adalah liburan ‘colongan’ saat perjalanan ke Afrika Selatan kemarin (saya janji akan menuliskan cerita perjalanan ini di posting berikutnya, ya). Dia menagih foto karena saya terlanjur berjanji untuk foto di Wat Arun, salah satu destinasi wisata. Nyatanya, saya tidak jadi ke sana karena waktu saya habis di imigrasi bandara. Jadilah, saya ganti dengan mengirimkan foto saat kesasar di stasiun.

Nggak enak ya ternyata jalan-jalan sendiri. Aku sempat salah stasiun, jadi muter gitu.”
Ahaha. Nggak apa-apalah. Yang penting 4 benua udah checked. Next tinggal Ausie. Hety the Exploler.”

Deg. Saya tak menyangka teman saya yang satu ini menghitung kepergian saya selama ini. Ya, memang tinggal satu benua lagi, Australia, yang menurut road map hidup saya akan menjadi negara impian untuk melanjutkan studi S2. Bisa ditebak, percakapan saya selanjutnya, dipenuhi tulisan ‘Amin’.

Kejadian Tiga
Malam kemarin, saya memenuhi undangan untuk hadir dalam acara temu alumni penerima program Australia (mereka menyebutnya dengan tagar #OZAlum di Twitter) dengan Hon Stevem Ciobo, menteri perdagangan, investasi, dan pariwisata Australia. Acara itu diadakan di rumah dinas Duta Besar Australia, Paul Grigson, di kawasan Menteng. Walau tidak lolos seleksi program, pihak Kedubes Australia tetap menganggap kami (yang tidak lolos seleksi) sebagai alumni.

Mimpi ke Australianya belum kesampaian, jadi main ke rumah dinas duta besarnya dulu.

Mimpi ke Australianya belum kesampaian, jadi main ke rumah dinas duta besarnya dulu.

Saya agak grogi juga hadir malam itu tapi mau bagaimana lagi. Motivasi saya datang ke acara kemarin adalah mengetahui siapa saja yang lolos seleksi dan belajar dari mereka. Akhirnya, setelah mingle ke sana ke mari, saya temukan juga orang-orang yang lolos program dan berangkat ke Australia untuk mendapatkan training selama 2 minggu. Bayangkan, mereka training di kampus impian saya untuk melanjutkan S2.

Jika pada kalimat selanjutnya kamu tebak saya akan menuliskan serentetan kalimat iri hati dan ambisius, salah besar. Entah kenapa, mendengar cerita ‘kebahagiaan’ orang-orang yang lolos seleksi itu saja, justru membuat hati saya adem.

Ya Tuhan, saya tertular virus! Malam itu, saya bahagia melihat orang yang bahagia. Walau bukan saya yang terpilih tapi saya tetap bahagia bisa berdiri di antara mereka. Semakin antusias mereka berbagi cerita, semakin kencang saya melafalkan dalam hati, merengek pada Tuhan, “Tuhan-Tuhan, mimpi saya enggak salah, kan?”

Memfasilitasi Forum Keberlanjutan Kapuas Hulu.

Memfasilitasi Forum Keberlanjutan Kapuas Hulu.

IMG_4107

Saya selalu bingung saat ditanya oleh sepupu-sepupu kecil apa pekerjaan saya selama ini. Bagi mereka, saya selalu tampak sibuk, ke sana-ke mari, dan ada saja yang saya kerjakan. Boleh percaya atau tidak, rasa penasaran mereka baru terhenti saat saya membawa oleh-oleh dari suatu tempat, pun hanya sekadar cerita.

Likes’ di akun Instagram dari sepupu-sepupu kecil juga tiada henti saat saya mengunggah foto di mana saya berada saat itu. Saat bertemu, mereka selalu bertanya riang tentang apa yang saya lakukan, bagaimana keadaan daerah di sana, bagaimana rasa makanannya, pokoknya berbagai macam pertanyaan. Mereka antusias untuk mendengarkan cerita saya.

Jadi, apa pekerjaan saya? Pendongeng handal untuk para sepupu kecil?

Walau bidang pekerjaan saya tidak masuk dalam kategori ‘The Most In-Demand Jobs’ versi situs http://www.forbes.com, saya mencintai pekerjaan saya. Ya, sudah hampir empat tahun ini, saya terjun di bidang ‘community development’ (pemberdayaan masyarakat) melalui sebuah organisasi non-profit atau dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan sebutan NGO (Non-Govermental Organization, dalam bahasa Indonesia diartikan juga sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat).

Bidangnya memang hanya satu, yaitu ‘community development’, tapi percaya atau tidak, dalam empat tahun itu, saya sudah mencicipi berbagai profesi di dalamnya. Sebut saja, mulai dari guru di daerah terpencil sekaligus fasilitator masyarakat (education improvement facilitator), staf personalia (Human Resources Officer) yang menangani rekrutmen staf di NGO, staf kemitraan (Partner Engagement Officer) yang mencari dana dan kemitraan untuk suatu program, sampai sekarang yang terakhir saya jalani adalah menjadi staf program dan komunikasi (Program and Communication Officer) di sebuah NGO. How switchable am I, right?

Dengan berbagai profesi semacam itu, jangan ditebak jika saya hanya duduk di belakang meja di sebuah bangunan yang disebut kantor. Tidak! Pekerjaan yang saya tekuni selalu membawa saya untuk bertemu orang-orang baru sekaligus pergi ke tempat-tempat baru. Mulai dari site visit (kunjungan ke daerah), asesmen daerah, maupun mengikuti konferensi. Pokoknya, pas sekali dengan saya, Si Ekstrovert yang suka jalan-jalan dan menulis blog. Walau judulnya bekerja, tetap saja, selalu ada sisi lain yang bisa saya ceritakan di blog, seperti pengalaman bertemu orang baru atau berada di suatu daerah yang baru. Asyik, kan?

Jadi, seperti kata orang, menyenenangkan saat kita bisa bekerja sesuai dengan apa yang kita sukai. Hobi yang dibayar, katanya.

Jodoh Positif

Dengan pekerjaan dan hobi yang hampir menyatu semacam itu, maka bertemu perangkat teknologi bernama Acer Switch Alpha 12 seperti bertemu jodoh. Banyak hal positif yang bisa saya lakukan dengan Acer Switch Alpha 12. Bahkan, membuat saya lebih produktif.

Bayangkan saja, saat saya bertemu dengan sepupu-sepupu kecil yang menagih cerita perjalanan saya, saya bisa dengan mudah bercerita sambil menunjukkan foto-foto melalui Acer Switch Alpha 12. Dengan desain yang ramping, ringan, dan fleksibel, saya bisa mengubahnya menjadi sebuah tablet yang ‘handy’ (mudah untuk dipegang) karena ketebalannya hanya 9,5 mm dan berat 900 gram.

acer-switch-alpha-12_2

Selain itu, dengan layar 12 inci berteknologi IPS (In Plane Switching), QHD (Quarter High Definition), multi-touch, serta resolusi 1.260×1.440 piksel menjadikan area pandang lebih luas. Tentu bercerita dengan visualisasi foto akan menarik dan melengkapi imajinasi para sepupu kecil saya.

Lalu bagaimana dengan bekerja saat di lapangan?

Acer Switch Alpha 12 rupanya juga menjawab kemalasan saya selama ini. Saya sering malas membawa laptop kalau sedang berada di luar karena berat untuk dibawa. Maklum, tempat meeting selalu berpindah-pindah dan tuntutan berkerja tidak selalu di belakang meja, seperti dinas di daerah. Maka dengan Acer Switch Alpha 12 ini, saya bisa membawanya ke mana-mana. Acer Switch Alpha 12 terdiri dari tablet, kickstand, dan keyboard docking. Total keseluruhan hanya 1,25 kg.

acer-switch-alpha-12_1

Jika sedang bekerja di lapangan bersama masyarakat atau berada di daerah yang minim listrik, saya tidak perlu resah jika tidak menemukan colokan listrik. Daya tahan Acer Switch Alpha 12 bisa mencapai 8 jam karena karena dilengkapi baterai berkapasitas 4.870mAh.

Menjelaskan sebuah program kepada klien atau masyarakat juga lebih mudah dengan ilustrasi yang saya buat dengan stylus pen. Stylus pen atau pena digital ini bisa digunakan untuk mencoret-coret layar. Dengan sensitivitas sampai 256 tingkat tekanan, pengalaman menulis digital menjadi lebih rapi dan mudah di layar Acer Switch Alpha 12.

acer-switch-alpha-12_3

Ups, jujur, biasanya karena keasyikan bekerja dan dilanjutkan menulis cerita di blog, laptop harus menyala terus-menerus dan panas (overheating). Eh, tapi tidak dengan Acer Switch Alpha 12. Acer Switch Alpha 12 mengkombinasikan prosesor Intel Core i dan sistem pendingin Liquid Loop, yaitu pendingin yang bisa menstabilkan suhu mesin laptop tanpa kipas. Karena bentuknya berupa cairan pendingin, tidak ada suara bising dari mesin laptop (tidak ada ventilasi di sisi pinggiran laptop). Canggih, ya?

Tidak cuma itu, Acer Switch Alpha 12 juga mempunyai Acer BlueLight Shield, yaitu sebuah teknologi yang mampu melindungi mata dari emisi cahaya biru dari layar penyebab mata lelah dan kering. Jadi, saya bisa tenang dan riang berlama-lama di depan komputer.

Jadi, percaya kan Acer Switch Alpha 12 jodoh saya, eh jodoh positif seorang NGO Officer?

acer-switchable-me-story-competition

Bulan September lalu, saya dinyatakan mendapatkan Travel Grant untuk mengikuti Global Summit on Community Philanthropy di Johannesburg pada 1-2 Desember 2016. Kabar via email itu membuat saya langsung mengetik kata ‘Johannesburg’ di Google dengan ekspresi masih tak percaya. Johannesburg!!

Johannesburg adalah salah satu kota di Afrika Selatan. Itu ‘secuil’ info yang saya tahu saat mengirimkan aplikasi Travel Grant ke penyelenggara tapi bagai mantra motivasi. Soalnya, hanya dengan kalimat itu saja bisa membuat saya semangat ’45 untuk menjawab lima pertanyaan model esai online yang disyaratkan.

I like to move it, move it .. I like to move it, move it .. I like to move it, move it .. You like to move it, move it!!” Suara King Julian di film Madagascar yang super kocak menggema di kepala saya.

Hei nona, Johannesburg! Bukan Madagascar!

Setelah puas melihat peta Johannesburg beberapa hari (see, betapa noraknya saya) dan mendapat email dari penyelenggara terkait hal-hal yang harus disiapkan, saya harus segera mengurus Visa ke Kedutaan Besar (Kedubes) Afrika Selatan di Indonesia (Jakarta). Maka, dari peta Johannesburg, kini beralih ke ‘Visa Afrika Selatan’ di Google. Sayangnya, tidak banyak info yang saya dapatkan dari blog – pengalaman orang, lebih banyak biro wisata yang menawarkan jasa pembuatan Visa. Jadi, saya putuskan untuk membuka langsung website kedubes Afrika Selatan di Indonesia.

Berikut dokumen yang saya siapkan kemarin. Sebenarnya di website juga sudah ada, lho! dan lengkap! Daftar di bawah ini saya sesuaikan dengan kebutuhan saya. Siapa tahu kamu membutuhkan referensi.
1. Formulir Permohonan Visa B1-84 (bisa diunduh di website)
2. Foto 4×6 berwarna dan berlatar putih 2 lembar
3. Flight itinerary atau tiket perjalanan pulang – pergi
4. Hotel confirmation atau bukti pemesanan hotel
5. Surat keterangan bekerja dalam bahasa Inggris
6. Paspor dan fotokopi pasport 1 lembar
7. Rekening koran 3 bulan terakhir (bisa minta di bank)
8. Undangan dari penyelenggara terkait acara bahwa kamu diundang ke Johannesburg
9. Bukti saya adalah penerima Travel Grant dari penyelenggara

Setelah dokumen terkumpul, pada hari kedua di bulan November, saya pun datang ke kantor Kedubes Afrika Selatan di Indonesia di Wisma GKBI. Sebenarnya, pelayanan Visa baru dibuka pukul 08.30 WIB, tapi saya sudah sampai di sana pukul 07.30 WIB. ‘Ambisius’ ya? Hehe. Maklum, saya tipe orang yang selalu memilih datang pagi untuk mengurus dokumen resmi yang berbau kedinasan/keprotokoleran. Misalnya, SIM, BPJS, SKCK, paspor, dan lain-lain. Selain itu, ini adalah antisipasi kalau-kalau mengantri seperti saat mengajukan Visa ke Belanda dan Korea beberapa waktu lalu. Kamu benar-benar akan melihat orang yang berjuang datang pagi untuk mendapatkan layanan yang berbatas jam. Jadilah (bisa ditebak cerita berikutnya) saat saya menuju lantai 7, saya ditolak mentah-mentah oleh Bapak Satpam yang berjaga dan diminta menunggu di lobi lantai dasar. “Fine! Haha, namanya juga usaha,” kata saya dalam hati sambil balik kanan, bubar jalan.

Saya pun turun lagi ke lobi dan duduk menjadi anak manis di salah satu sofa empuk. Tidak banyak pemandangan menarik pagi itu selain lalu-lalang orang-orang yang berdatangan kerja. Setelah bosan bermain HP, saya mengecek lagi dokumen, terutama formulir, kalau-kalau ada yang belum saya isi, serta memastikan kembali senyuman saya di foto 3×4 sudah pas.

Note: Salah satu keuntungan datang pagi untuk mengajukan Visa seperti ini adalah kamu bisa mengecek kembali dokumen-dokumen yang kamu bawa, termasuk membaca lagi formulir yang sudah kamu isi. Sekadar, menyempurnakan huruf ‘i’ yang belum ada titiknya hehe …

Pukul 08.25 WIB, saya putuskan untuk naik lift (lagi) ke lantai 7. Estimasi saya, 5 menit cukup untuk berjalan dari sofa ke lift, proses lift naik, dan berjalan dari lift ke kantor Kedubes Afrika Selatan. Sayangnya, tidak begitu. Tiba di kantor Kedubes Afrika Selatan masih belum pukul 08.30 WIB juga, masih kurang sekian menit. Bapak Satpam yang sama pun menegur saya (lagi), “Belum buka, Mbak!”. Saya pun menunggu di depan pintu. Berdiri tegak. Keki.

Doo be doo be doo … saya seperti anak hilang. Kikuk. Mau mengajak berbicara satpam, sungkan juga karena Si Bapak begitu jaim dan tegas. Untungnya frozen moment itu hanya sebentar. Pukul 08.30 WIB versi jam tangan Bapak Satpam dan jam dinding kantor kedubes, saya pun dipersilakan masuk. “Silakan masuk, Mbak. Silakan langsung mengisi buku tamu di sana, pukul 08.32,” kata Si Bapak Satpam.

Saya pun menulis nama di map folder besar berisi kertas-kertas bergaris.
2 November 2016. 08.32 (sesuai instruksi Bapak Satpam) Hety A. Nurcahyarini. Filantropi Indonesia. No.HP xxx. Mengurus Visa. Tanda tangan.

Saya sempat kaget setelah menunduk mengisi map folder. Ternyata ada laki-laki berperawakan besar yang ada di dalam bilik. Karena tersekat kaca, saya tak bisa memahami jelas suara laki-laki berdarah Arab/Timur Tengah itu, seperti orang kumur-kumur saja. Lalu, di angkatnya map folder yang tadi saya isi, didekatkan ke kedua matanya, dan senyumnya mengembang.

Si Mister ini senang sekali melihat tulisan saya. Katanya, dia belum pernah melihat tulisan tangan yang mirip ‘ketikan komputer’. Setelah puas, dia pun meminta saya bergeser ke bilik sebelah dan duduk persis di kursi yang ada di depan bilik. Hmm, ramah juga orangnya. Saya pun duduk di kursi (mirip kursi tamu yang ada di rumah) dan memandang sekeliling ruangan. Tidak luas dan tidak sempit, cukup saja. Suasananya homy sekali dengan berbagai hiasan ala Afrika Selatan menempel di dinding dan tertata rapi di rak. Beda sekali dengan ruangan tempat mengurus Visa di kantor Kedubes Belanda dan Korea yang cenderung lebih tersekat-sekat dan official sekali. Mungkin karena tidak banyak juga permohonan Visa ke Afrika Selatan sehingga penataan tempatnya dibuat seperti itu.

Tak lama, muncullah ibu-ibu berwajah Eropa yang meminta semua dokumen yang saya bawa. Ini salah satu bagian dalam mengajukan Visa yang membuat saya merasa jiper. Deg-degan. Si Ibu agak menurunkan dagunya dengan kacamata melorot sampai di hidungnya. Dipandanginya saya, tepat di kedua mata saya. Saya pun hanya menganggukkan kepala dan tersenyum dipandangi seperti itu. Tak berdaya.

Sepuluh menit berlalu, setelah pengecekan dokumen selesai, Si Ibu meminta saya melakukan pembayaran Rp 650.000,00 dan membuatkan saya kuitansi (bukti bayar). Saya pun dipersilakan pulang dan kembali lagi dalam 5 sampai 15 hari.

15 hari kemudian …

Kali ini, saya datang pukul 10.00 WIB ke Wisma GKBI. Kali ini bertemu dengan satpam yang berbeda dari saat saya mengajukan permohonan Visa kemarin. Si Bapak Satpam mempersilakan saya masuk dan mengisi map folder besar berisi kertas-kertas bergaris. Wow! Lagi-lagi saya orang nomor satu di daftar.

Bergeser ke bilik di sampingnya, saya bertemu dengan seorang ibu berdarah Indonesia yang langsung menyambut saya dengan, “Oh, pengajuan yang sudah lama itu, ya?” Tebakan saya, tidak banyak orang yang mengajukan permohonan Visa ke Afrika Selatan. Jadi, bisa jadi para officer kedutaan ini hafal dokumen-dokumen pengajuan Visa, termasuk Visa yang tak kunjung diambil empunya.

Saya mengepaskan waktu 15 hari, Bu.”
Oh, itu kan jangka waktunya, 5 sampai 15 hari. 5 hari pun sudah jadi.”
Oh, terima kasih ya, Bu. Boleh saya ambil peta Johannesburg ini?”
Silakan.”
Mbak, jangan lupa kembali, ya. Itu hanya Visa kunjungan.”
Siap, Bu.”

Demikianlah seri ‘petualangan’ mengajukan Visa Afrika Selatan, akhirnya putri dan pangeran hidup bahagia selama-lamanya. Dengan persyaratan yang jelas, pelayanan yang mudah, ada baiknya kamu mengurus Visa Afrika Selatan sendiri tanpa ‘dibimbing’ agen wisata. Itung-itung pemanasan merasakan ambience Afrika Selatan sebelum kamu berkunjung ke negaranya.

Johannesburg, I am coming!

%d bloggers like this: