Memfasilitasi Forum Keberlanjutan Kapuas Hulu.

Memfasilitasi Forum Keberlanjutan Kapuas Hulu.

IMG_4107

Saya selalu bingung saat ditanya oleh sepupu-sepupu kecil apa pekerjaan saya selama ini. Bagi mereka, saya selalu tampak sibuk, ke sana-ke mari, dan ada saja yang saya kerjakan. Boleh percaya atau tidak, rasa penasaran mereka baru terhenti saat saya membawa oleh-oleh dari suatu tempat, pun hanya sekadar cerita.

Likes’ di akun Instagram dari sepupu-sepupu kecil juga tiada henti saat saya mengunggah foto di mana saya berada saat itu. Saat bertemu, mereka selalu bertanya riang tentang apa yang saya lakukan, bagaimana keadaan daerah di sana, bagaimana rasa makanannya, pokoknya berbagai macam pertanyaan. Mereka antusias untuk mendengarkan cerita saya.

Jadi, apa pekerjaan saya? Pendongeng handal untuk para sepupu kecil?

Walau bidang pekerjaan saya tidak masuk dalam kategori ‘The Most In-Demand Jobs’ versi situs http://www.forbes.com, saya mencintai pekerjaan saya. Ya, sudah hampir empat tahun ini, saya terjun di bidang ‘community development’ (pemberdayaan masyarakat) melalui sebuah organisasi non-profit atau dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan sebutan NGO (Non-Govermental Organization, dalam bahasa Indonesia diartikan juga sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat).

Bidangnya memang hanya satu, yaitu ‘community development’, tapi percaya atau tidak, dalam empat tahun itu, saya sudah mencicipi berbagai profesi di dalamnya. Sebut saja, mulai dari guru di daerah terpencil sekaligus fasilitator masyarakat (education improvement facilitator), staf personalia (Human Resources Officer) yang menangani rekrutmen staf di NGO, staf kemitraan (Partner Engagement Officer) yang mencari dana dan kemitraan untuk suatu program, sampai sekarang yang terakhir saya jalani adalah menjadi staf program dan komunikasi (Program and Communication Officer) di sebuah NGO. How switchable am I, right?

Dengan berbagai profesi semacam itu, jangan ditebak jika saya hanya duduk di belakang meja di sebuah bangunan yang disebut kantor. Tidak! Pekerjaan yang saya tekuni selalu membawa saya untuk bertemu orang-orang baru sekaligus pergi ke tempat-tempat baru. Mulai dari site visit (kunjungan ke daerah), asesmen daerah, maupun mengikuti konferensi. Pokoknya, pas sekali dengan saya, Si Ekstrovert yang suka jalan-jalan dan menulis blog. Walau judulnya bekerja, tetap saja, selalu ada sisi lain yang bisa saya ceritakan di blog, seperti pengalaman bertemu orang baru atau berada di suatu daerah yang baru. Asyik, kan?

Jadi, seperti kata orang, menyenenangkan saat kita bisa bekerja sesuai dengan apa yang kita sukai. Hobi yang dibayar, katanya.

Jodoh Positif

Dengan pekerjaan dan hobi yang hampir menyatu semacam itu, maka bertemu perangkat teknologi bernama Acer Switch Alpha 12 seperti bertemu jodoh. Banyak hal positif yang bisa saya lakukan dengan Acer Switch Alpha 12. Bahkan, membuat saya lebih produktif.

Bayangkan saja, saat saya bertemu dengan sepupu-sepupu kecil yang menagih cerita perjalanan saya, saya bisa dengan mudah bercerita sambil menunjukkan foto-foto melalui Acer Switch Alpha 12. Dengan desain yang ramping, ringan, dan fleksibel, saya bisa mengubahnya menjadi sebuah tablet yang ‘handy’ (mudah untuk dipegang) karena ketebalannya hanya 9,5 mm dan berat 900 gram.

acer-switch-alpha-12_2

Selain itu, dengan layar 12 inci berteknologi IPS (In Plane Switching), QHD (Quarter High Definition), multi-touch, serta resolusi 1.260×1.440 piksel menjadikan area pandang lebih luas. Tentu bercerita dengan visualisasi foto akan menarik dan melengkapi imajinasi para sepupu kecil saya.

Lalu bagaimana dengan bekerja saat di lapangan?

Acer Switch Alpha 12 rupanya juga menjawab kemalasan saya selama ini. Saya sering malas membawa laptop kalau sedang berada di luar karena berat untuk dibawa. Maklum, tempat meeting selalu berpindah-pindah dan tuntutan berkerja tidak selalu di belakang meja, seperti dinas di daerah. Maka dengan Acer Switch Alpha 12 ini, saya bisa membawanya ke mana-mana. Acer Switch Alpha 12 terdiri dari tablet, kickstand, dan keyboard docking. Total keseluruhan hanya 1,25 kg.

acer-switch-alpha-12_1

Jika sedang bekerja di lapangan bersama masyarakat atau berada di daerah yang minim listrik, saya tidak perlu resah jika tidak menemukan colokan listrik. Daya tahan Acer Switch Alpha 12 bisa mencapai 8 jam karena karena dilengkapi baterai berkapasitas 4.870mAh.

Menjelaskan sebuah program kepada klien atau masyarakat juga lebih mudah dengan ilustrasi yang saya buat dengan stylus pen. Stylus pen atau pena digital ini bisa digunakan untuk mencoret-coret layar. Dengan sensitivitas sampai 256 tingkat tekanan, pengalaman menulis digital menjadi lebih rapi dan mudah di layar Acer Switch Alpha 12.

acer-switch-alpha-12_3

Ups, jujur, biasanya karena keasyikan bekerja dan dilanjutkan menulis cerita di blog, laptop harus menyala terus-menerus dan panas (overheating). Eh, tapi tidak dengan Acer Switch Alpha 12. Acer Switch Alpha 12 mengkombinasikan prosesor Intel Core i dan sistem pendingin Liquid Loop, yaitu pendingin yang bisa menstabilkan suhu mesin laptop tanpa kipas. Karena bentuknya berupa cairan pendingin, tidak ada suara bising dari mesin laptop (tidak ada ventilasi di sisi pinggiran laptop). Canggih, ya?

Tidak cuma itu, Acer Switch Alpha 12 juga mempunyai Acer BlueLight Shield, yaitu sebuah teknologi yang mampu melindungi mata dari emisi cahaya biru dari layar penyebab mata lelah dan kering. Jadi, saya bisa tenang dan riang berlama-lama di depan komputer.

Jadi, percaya kan Acer Switch Alpha 12 jodoh saya, eh jodoh positif seorang NGO Officer?

acer-switchable-me-story-competition

Bulan September lalu, saya dinyatakan mendapatkan Travel Grant untuk mengikuti Global Summit on Community Philanthropy di Johannesburg pada 1-2 Desember 2016. Kabar via email itu membuat saya langsung mengetik kata ‘Johannesburg’ di Google dengan ekspresi masih tak percaya. Johannesburg!!

Johannesburg adalah salah satu kota di Afrika Selatan. Itu ‘secuil’ info yang saya tahu saat mengirimkan aplikasi Travel Grant ke penyelenggara tapi bagai mantra motivasi. Soalnya, hanya dengan kalimat itu saja bisa membuat saya semangat ’45 untuk menjawab lima pertanyaan model esai online yang disyaratkan.

I like to move it, move it .. I like to move it, move it .. I like to move it, move it .. You like to move it, move it!!” Suara King Julian di film Madagascar yang super kocak menggema di kepala saya.

Hei nona, Johannesburg! Bukan Madagascar!

Setelah puas melihat peta Johannesburg beberapa hari (see, betapa noraknya saya) dan mendapat email dari penyelenggara terkait hal-hal yang harus disiapkan, saya harus segera mengurus Visa ke Kedutaan Besar (Kedubes) Afrika Selatan di Indonesia (Jakarta). Maka, dari peta Johannesburg, kini beralih ke ‘Visa Afrika Selatan’ di Google. Sayangnya, tidak banyak info yang saya dapatkan dari blog – pengalaman orang, lebih banyak biro wisata yang menawarkan jasa pembuatan Visa. Jadi, saya putuskan untuk membuka langsung website kedubes Afrika Selatan di Indonesia.

Berikut dokumen yang saya siapkan kemarin. Sebenarnya di website juga sudah ada, lho! dan lengkap! Daftar di bawah ini saya sesuaikan dengan kebutuhan saya. Siapa tahu kamu membutuhkan referensi.
1. Formulir Permohonan Visa B1-84 (bisa diunduh di website)
2. Foto 4×6 berwarna dan berlatar putih 2 lembar
3. Flight itinerary atau tiket perjalanan pulang – pergi
4. Hotel confirmation atau bukti pemesanan hotel
5. Surat keterangan bekerja dalam bahasa Inggris
6. Paspor dan fotokopi pasport 1 lembar
7. Rekening koran 3 bulan terakhir (bisa minta di bank)
8. Undangan dari penyelenggara terkait acara bahwa kamu diundang ke Johannesburg
9. Bukti saya adalah penerima Travel Grant dari penyelenggara

Setelah dokumen terkumpul, pada hari kedua di bulan November, saya pun datang ke kantor Kedubes Afrika Selatan di Indonesia di Wisma GKBI. Sebenarnya, pelayanan Visa baru dibuka pukul 08.30 WIB, tapi saya sudah sampai di sana pukul 07.30 WIB. ‘Ambisius’ ya? Hehe. Maklum, saya tipe orang yang selalu memilih datang pagi untuk mengurus dokumen resmi yang berbau kedinasan/keprotokoleran. Misalnya, SIM, BPJS, SKCK, paspor, dan lain-lain. Selain itu, ini adalah antisipasi kalau-kalau mengantri seperti saat mengajukan Visa ke Belanda dan Korea beberapa waktu lalu. Kamu benar-benar akan melihat orang yang berjuang datang pagi untuk mendapatkan layanan yang berbatas jam. Jadilah (bisa ditebak cerita berikutnya) saat saya menuju lantai 7, saya ditolak mentah-mentah oleh Bapak Satpam yang berjaga dan diminta menunggu di lobi lantai dasar. “Fine! Haha, namanya juga usaha,” kata saya dalam hati sambil balik kanan, bubar jalan.

Saya pun turun lagi ke lobi dan duduk menjadi anak manis di salah satu sofa empuk. Tidak banyak pemandangan menarik pagi itu selain lalu-lalang orang-orang yang berdatangan kerja. Setelah bosan bermain HP, saya mengecek lagi dokumen, terutama formulir, kalau-kalau ada yang belum saya isi, serta memastikan kembali senyuman saya di foto 3×4 sudah pas.

Note: Salah satu keuntungan datang pagi untuk mengajukan Visa seperti ini adalah kamu bisa mengecek kembali dokumen-dokumen yang kamu bawa, termasuk membaca lagi formulir yang sudah kamu isi. Sekadar, menyempurnakan huruf ‘i’ yang belum ada titiknya hehe …

Pukul 08.25 WIB, saya putuskan untuk naik lift (lagi) ke lantai 7. Estimasi saya, 5 menit cukup untuk berjalan dari sofa ke lift, proses lift naik, dan berjalan dari lift ke kantor Kedubes Afrika Selatan. Sayangnya, tidak begitu. Tiba di kantor Kedubes Afrika Selatan masih belum pukul 08.30 WIB juga, masih kurang sekian menit. Bapak Satpam yang sama pun menegur saya (lagi), “Belum buka, Mbak!”. Saya pun menunggu di depan pintu. Berdiri tegak. Keki.

Doo be doo be doo … saya seperti anak hilang. Kikuk. Mau mengajak berbicara satpam, sungkan juga karena Si Bapak begitu jaim dan tegas. Untungnya frozen moment itu hanya sebentar. Pukul 08.30 WIB versi jam tangan Bapak Satpam dan jam dinding kantor kedubes, saya pun dipersilakan masuk. “Silakan masuk, Mbak. Silakan langsung mengisi buku tamu di sana, pukul 08.32,” kata Si Bapak Satpam.

Saya pun menulis nama di map folder besar berisi kertas-kertas bergaris.
2 November 2016. 08.32 (sesuai instruksi Bapak Satpam) Hety A. Nurcahyarini. Filantropi Indonesia. No.HP xxx. Mengurus Visa. Tanda tangan.

Saya sempat kaget setelah menunduk mengisi map folder. Ternyata ada laki-laki berperawakan besar yang ada di dalam bilik. Karena tersekat kaca, saya tak bisa memahami jelas suara laki-laki berdarah Arab/Timur Tengah itu, seperti orang kumur-kumur saja. Lalu, di angkatnya map folder yang tadi saya isi, didekatkan ke kedua matanya, dan senyumnya mengembang.

Si Mister ini senang sekali melihat tulisan saya. Katanya, dia belum pernah melihat tulisan tangan yang mirip ‘ketikan komputer’. Setelah puas, dia pun meminta saya bergeser ke bilik sebelah dan duduk persis di kursi yang ada di depan bilik. Hmm, ramah juga orangnya. Saya pun duduk di kursi (mirip kursi tamu yang ada di rumah) dan memandang sekeliling ruangan. Tidak luas dan tidak sempit, cukup saja. Suasananya homy sekali dengan berbagai hiasan ala Afrika Selatan menempel di dinding dan tertata rapi di rak. Beda sekali dengan ruangan tempat mengurus Visa di kantor Kedubes Belanda dan Korea yang cenderung lebih tersekat-sekat dan official sekali. Mungkin karena tidak banyak juga permohonan Visa ke Afrika Selatan sehingga penataan tempatnya dibuat seperti itu.

Tak lama, muncullah ibu-ibu berwajah Eropa yang meminta semua dokumen yang saya bawa. Ini salah satu bagian dalam mengajukan Visa yang membuat saya merasa jiper. Deg-degan. Si Ibu agak menurunkan dagunya dengan kacamata melorot sampai di hidungnya. Dipandanginya saya, tepat di kedua mata saya. Saya pun hanya menganggukkan kepala dan tersenyum dipandangi seperti itu. Tak berdaya.

Sepuluh menit berlalu, setelah pengecekan dokumen selesai, Si Ibu meminta saya melakukan pembayaran Rp 650.000,00 dan membuatkan saya kuitansi (bukti bayar). Saya pun dipersilakan pulang dan kembali lagi dalam 5 sampai 15 hari.

15 hari kemudian …

Kali ini, saya datang pukul 10.00 WIB ke Wisma GKBI. Kali ini bertemu dengan satpam yang berbeda dari saat saya mengajukan permohonan Visa kemarin. Si Bapak Satpam mempersilakan saya masuk dan mengisi map folder besar berisi kertas-kertas bergaris. Wow! Lagi-lagi saya orang nomor satu di daftar.

Bergeser ke bilik di sampingnya, saya bertemu dengan seorang ibu berdarah Indonesia yang langsung menyambut saya dengan, “Oh, pengajuan yang sudah lama itu, ya?” Tebakan saya, tidak banyak orang yang mengajukan permohonan Visa ke Afrika Selatan. Jadi, bisa jadi para officer kedutaan ini hafal dokumen-dokumen pengajuan Visa, termasuk Visa yang tak kunjung diambil empunya.

Saya mengepaskan waktu 15 hari, Bu.”
Oh, itu kan jangka waktunya, 5 sampai 15 hari. 5 hari pun sudah jadi.”
Oh, terima kasih ya, Bu. Boleh saya ambil peta Johannesburg ini?”
Silakan.”
Mbak, jangan lupa kembali, ya. Itu hanya Visa kunjungan.”
Siap, Bu.”

Demikianlah seri ‘petualangan’ mengajukan Visa Afrika Selatan, akhirnya putri dan pangeran hidup bahagia selama-lamanya. Dengan persyaratan yang jelas, pelayanan yang mudah, ada baiknya kamu mengurus Visa Afrika Selatan sendiri tanpa ‘dibimbing’ agen wisata. Itung-itung pemanasan merasakan ambience Afrika Selatan sebelum kamu berkunjung ke negaranya.

Johannesburg, I am coming!

Sa Choom datang kembali ke Jakarta dalam rangkaian Jakarta Performing Arts & Tourism Festival yang diselenggarakan pada 24 – 26 November 2016. (Dokumentasi: KTO Jakarta)

Sa Choom datang kembali ke Jakarta dalam rangkaian Jakarta Performing Arts & Tourism Festival yang diselenggarakan pada 24 – 26 November 2016. (Dokumentasi: KTO Jakarta)

Hari Kamis (24/11) kemarin, saya mendapatkan undangan untuk pertunjukkan Sa Choom di Ice Palace Lotte Shopping Avenue sebagai bagian dari Wow Korea Supporters. Ini pengalaman pertama saya melihat pertunjukkan asal Korea ini, sekaligus pengalaman pertama masuk ke Ice Palace, Lotte Shopping Avenue. Where have u been, Het? Saya surprise di Lantai 4 ada venue untuk pertunjukkan.

Sa Choom atau kependekan dari Saranghamyeon Choom chuora (dalam bahasa Indonesia artinya ‘Jika kamu cinta, menarilah!’) merupakan salah satu pertunjukan tari asal Korea yang menyuguhkan pertunjukan menghibur dengan kemasan cerita yang unik. Bayangkan ya, dalam satu kali pertunjukkan dan satu bingkai cerita, Sa Choom memadukan hip hop, jazz, tekno, break dance, pop dance, sampai gaya tarian kontemporer. Oh ya, Sachoom merupakan pertunjukkan non-verbal. Jadi, semua ditampilkan dalam bentuk visual/tarian, tanpa dialog panjang lebar. Full music!

Ada 6 bagian dalam sebuah pertunjukkan Sa Choom:
1. Life the body
2. Lantern dance
3. Sensuality and temptation
4. Hero
5. Contest
6. Let’s dance – Ini adalah bagian favorit saya karena pengunjung diajak berdiri dan menari bersama =D

Bagi saya yang baru pertama kali menonton, pertunjukkan kemarin sangat menghibur. Unforgetable. Sampai-sampai, saat menulis ini, kepala saya masih bergoyang mengikuti lagu-lagu tadi malam. Sebagai penonton, kita benar-benar dibuat untuk mengikuti hentakan musik serta bersorak “Aaaaaaa, Waaaaa, Woooo …” sepanjang pertunjukkan. Penonton juga dibebaskan untuk ikut menari, memfoto, dan ikut bersuara. Justru, kalau penonton diam saja, tak beraksi apa pun, para pemain Sa Choom turun panggung dan beraksi lucu.

Sebagai penutup pertunjukkan yang manis, semua penonton diajak menari bersama mengikuti koreografi yang sudah disiapkan. Para pemain Sa Choom sangat ramah dan interaktif dengan penonton. Tak lupa, mereka juga menyediakan sesi foto bersama di depan venue.

Sa Choom, we love u!

3 fakta Sa Choom yang harus kamu tahu:
– Slogan Sa Choom adalah ‘Dance is the most honest language’.
– Ternyata, Sa Choom merupakan pertunjukan budaya khas Korea yang paling banyak dicari oleh penonton asing, lho!
– Sachoom menjadi pertunjukan penting dalam berbagai acara besar di dunia termasuk di Festival Fringe Edinburgh di Scotlandia. Keren!

Sa Choom online:
http://www.sachoom.com
http://www.facebook.com/sachoom
http://www.twitter.com/sachoom

Sa Choom di Korea:
Sa Choom Theater, Cine Core 4 F, 386 Samil-daero, Jongno-gu, Seoul, Korea

Sumber: Press release Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta, 25/11/2016
Tentang KTO Jakarta: http://www.visitkorea.or.id/

Catatan kecil hari Minggu yang dibuat di hari Senin.

Ternyata, dari kosan di daerah Salemba lalu lurus ke utara, juga dari kantor di daerah Gunung Sahari, maka akan berjumpa dengan kawasan Jakarta Utara. Beberapa teman menyebutnya, kawasan ‘Transformers’. Kawasan di mana sejauh mata memandang adalah truk dengan muatan yang serba besar dan berat. Serta, bahwa Ancol dan Dufan itu ada di sana, seperti hadiah. Tuhan Maha Adil, kan?

Ancol belok kiri.

Nyatanya, Gojek yang saya naiki melaju lurus. Minggu pagi kali ini, bukan Ancol tujuannya, melainkan Stasiun Tanjung Priuk. Andai bisa bangun lebih pagi, maka busway pilihannya. Sungguh hiburan bisa melihat sesuatu yang sehari-hari tidak dilihat. Ya, truk dengan muatan serba besar, kapal-kapal yang bersandar, dan deretan peti kemas yang tertata mirip kotak sepatu raksasa.

Cilincing, katanya. Saya memang belum sekalipun pernah ke sana. Dari Stasiun Tanjung Priuk (yang ternyata bersebelahan dengan Terminal Tanjung Priuk), bisa naik angkot M 14, begitu instruksi sederhananya. Sedikit tenang karena di Whatsapp Group sudah ada yang berbaik hati share location. Jadi, tinggal dicari saja. Lampu insting petualang ala Dora langsung menyala. Bip bip ..

Nyatanya, share location di Google Map itu hanyalah seperti mantra. Tak selamanya manjur untuk menemukan suatu lokasi. Apalagi di gang-gang dengan batas antar rumah tidak ada satu centi. Mepet!

(dokumentasi foto: Sun)

(dokumentasi foto: Sun)

Tapi inilah sensasi yang saya cari. Jujur. Melihat potret Jakarta lebih dekat setelah sekian hari terjejali oleh berita-berita ala ibukota yang seolah surga. Anak-anak kecil yang berlarian, hilir mudik tukang jualan, ibu-ibu yang sedemikian rupa dengan apa saja yang dikerjakannya, belum lagi motor-motor yang lalu lalang.

Peluh menetes seiring langkah kaki menyusuri gang yang tak kunjung sesuai tujuan. Matahari benar-benar melaksanakan tugasnya dengan baik siang itu. Cerah. Saya bertanya ke sana-ke mari alamat saya akan bertemu dengan malaikat-malaikat kecil ini. Saya baru sadar, di tengah padatnya rumah, orang-orang menjadi benar-benar hafal komunalnya berdasar RT/RW saat ditanya.

Sana, Mbak. Sini. Lurus saja. Lewat saja. Kejauhan. Lewat jembatan. Ujung. Ada gapura. Seberang.

Cilincing benar-benar potret Jakarta ‘sebelah sini’. Saya mencoba memahami. Sungguh, saya tidak sedang mencoba mengkhawatirkan. Toh, jika mereka merasa baik-baik, mengapa kita menjadi terlalu memikirkan? Kita sedang tidak menerapkan standar kebahagiaan yang sama kan?

Ini memang catatan kecil di hari Minggu. Catatan setelah bertemu, lalu keesokan harinya tidak bertemu. Mengganggu di kepala 1×24 jam memang, sehingga harus ‘dituangkan’. Lagi-lagi, ini catatan hari Minggu yang dibuat di hari Senin.

(dokumentasi foto: Sun)

(dokumentasi foto: Sun)

*
Sebuah catatan perjalanan pertama, pemetaan pada sebuah komunitas penerima beasiswa yang sekian tahun diberikan. Anak-anak terus tumbuh dengan beragam motivasi. Sekolah tetap menjadi idola tetapi bagai medan perjuangan. Lingkungan yang akhirnya memberi pilihan.

Cerita sebelumnya, hujan yang tak kunjung reda …

Setelah berapa lama (saya tak tahu jam berapa, sepertinya definisi waktu di hutan hanya terang dan gelap, cerah dan hujan). Para pendaki mulai membubarkan diri dari ‘tempat bernaung bersama’. Ada yang melanjutkan naik, ada yang turun. Hujan memang tidak sama sekali berhenti, tapi badai mereda. Sisanya, rintik. Lumayan untuk melanjutkan perjalanan walau dinginnya makin tak karuan.

Sekarang saya dengan Noel dan Melisa. Teman-teman yang lain, seperti Luluk, Ajeng, Puput, dan Ridwan berjalan dulu agar bisa cepat sampai dan mendirikan tenda di Pos 3. Sedangkan, Mas Teguh dan Mbak Rully masih di belakang. Lagi-lagi, kami memang terpisah, masih di jalan yang sama, hanya jauh berjarak.

Masih tertatih-tatih tak ada beda, saya membelah jalan setapak dengan headlamp. Ini baru pos berapa? Saya bukannya merindu kamar kosan ingin pulang, tapi dingin. Mental breakdown-kah ini? Sama seperti nasehat Puput dan Noel, berulang kali mengingatkan untuk tetap bergerak, satu-satunya cara melawan dingin.

Note: please pakai jaket anti air dan angin yang bisa menyelamatkan tubuhmu dari dingin! Sebaiknya memakai itu baru pakai jas hujanmu.

Jalan, naik, turun, duduk, nanjak, belok, jalan, naik, turun, duduk, nanjak, begitu seterusnya yang saya ingat. Badan ini seperti sudah autopilot.

Oh ya, saya lupa cerita. Malam itu adalah malam satu Suro. Banyak sekali orang-orang (baik orang berpakaian pendaki seperti kami atau masyarakat umum) naik turun. Saya kagum dengan bapak/ibu yang sudah berumur, yang tanpa peralatan naik gunung – bermodal tas plastik berisi makanan dan air mineral, bisa lincah menaiki dan menuruni medan.

Kami saling bertegur sapa, menyemangati walau tak kenal nama. Macam-macam bahasanya, dari bahasa Indonesia sampai bahasa Jawa. Sempat ada yang melihat saya yang kelelahan, seorang Ibu menyemangati saya, “Ayo Mbak, sebentar lagi pos 3. Itu hanya di depan setelah belokan.”

Noel mungkin tak tega melihat saya yang mulai ‘nampak’ kelelahan dan mulai meracau capek mengantuk. Saya mencoba melawan. Saya mengutuki diri saya sendiri yang mulai manja dan mulai refleksi apa tujuan saya naik gunung kalau hanya untuk menyusahkan orang lain. Akhirnya, dengan strong, Noel membawakan carier saya! Duh, malunya!

Setelah beberapa menit berjalan berjalan, mulai terdengar suara-suara berisik dalam kegelapan. Ada yang berkerumun. Ternyata, Si Ibu tidak bohong. Teman-teman yang sudah duluan sampai, nampak mulai mendirikan tenda. Ya, dengan cuaca seperti ini, sepertinya tidak mungkin kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Lebih baik beristirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Hal pertama yang saya lakukan adalah berganti baju dan ‘memerdekakan’ kaki dari sepatu dan kaos kaki basah. Lega! Badan mulai menghangat dengan pakaian yang kering.

Malam itu, kami mulai (bisa) bercanda dan merumuskan rencana untuk keesokan harinya. Bangun jam 5 pagilah, masak-memasaklah, sampai apa yang akan dilakukan di puncak (jajan pecel Mbok Yem yang terkenal itu tuh).

Keesokan harinya. Doo be doo be doo… . Nyatanya, tidak ada yang bergeming dari tenda di jam 05.00 pagi. Semuanya khusyuk di tenda masing-masing. Mengejar sunrise? Hmm, tak ada yang peduli sepertinya. Pukul 06.00, baru ada tanda-tanda kehidupan. Kompor mulai dihidupan, ‘panci-pancian’ mulai diisi air, bahan makanan dan sayuran disatukan. Di antara kehebohan kami memasak, orang-orang berlalu lalang. Nampaknya mereka akan terus melaju sehingga bisa turun dari puncak sebelum siang.

Kami baru siap sekitar pukul 10.00. Di saat pendaki lain yang naik subuh tadi turun, kami baru akan naik ke puncak. Carier kami tinggal di tenda bersama Mbak Rully yang memutuskan untuk beristirahat karena tidak enak badan. Saya baru sadar tempat kami bermalam adalah pos 3, berarti masih akan ada dua pos lagi yang harus kami lalui untuk sampai di puncak. Medannya masih sama, berbatu dan menanjak. Oke, kami siap.

Halo kamu, Adidas Biru, Si Sepatu Lari.  Sepatu yang bikin pengalaman naik gunung pertama jadi manis, asem, asin kepeleset-peleset. (Dokumentasi: Mbak Ruli).

Halo kamu, Adidas Biru, Si Sepatu Lari. Sepatu yang bikin pengalaman naik gunung pertama jadi manis, asem, asin kepeleset-peleset. (Dokumentasi: Mbak Ruli).

Note: jangan pakai sepatu lari buat naik gunung!

Singkat cerita, pos 4, pos 5 (baca: puncak), plus jajan pecel di warung Mbok Yem berhasil kami lalui. Kami tidak berlama-lama, pokoknya asal foto jepret, jepret, jepret, sudah. Targetnya, kami sudah harus sampai Stasiun Madiun pukul 22.00 WIB untuk kembali ke Jakarta. Nyatanya, saat perjalanan turun gunung, hujan kembali menerjang kami. Semula hanya gerimis lalu menderas. Dengan rute jalan yang menurun dan berbatu, saya tertatih-tatih karena terpeleset di antara bebatuan dan tanah yang becek. Dalam hati, saya hanya berjanji pada diri saya sendiri untuk menyelesaikan semua ini. Cobaan hujan badai saat naik kemarin membuat saya lebih struggling menuruni jalanan arah pulang.

Puncak bersama kalian, PM Menggunung! (Gunung Lawu, Hargo Dumilah 3265 mdpl) (Dokumentasi: Melisa)

Puncak bersama kalian, PM Menggunung! (Gunung Lawu, Hargo Dumilah 3265 mdpl) (Dokumentasi: Melisa)

Teman seperjalanan yang menemani naik Gunung Lawu pertama. Thank you! (Dokumentasi: Melisa)

Teman seperjalanan yang menemani naik Gunung Lawu pertama. Thank you! (Dokumentasi: Melisa)

Tetiba saya ini tertawa sendiri sampai di paragraf ini. Bukan berarti saya menggampangkan, lho. Saya bisa menulis seperti ini karena kemarin saya sudah mengalaminya sendiri. Kalau kemarin pas saya mendaki, yaa … semua bagai birthday surprise bagi saya. Ya rutenya, ya jalanannya, ya cuacanya … semua deh!

Note: Naik gunung benar-benar membuat kita tahu limit kita.

Noel, saksi yang menemani saya jatuh bangun, sempat bertanya, “Kapok nggak, Het, naik gunung? Awas ketagihan, lho!” Saya hanya tertawa mengiyakan. Nggak kapok, seruuuu! Sambil menatap ke bawah, melihat sepatu lari saya yang coreng-moreng terkena gesekan batu. Mau naik gunung lagi tapi nggak lagi-lagi deh pakai sepatu lari. Terima kasih Gunung Lawu jadi pengalaman pertama naik gunung.

Ini quote yang pas banget untuk menggambarkan pengalaman pertama naik gunung saya kemarin.

Ini quote yang pas banget untuk menggambarkan pengalaman pertama naik gunung saya kemarin.

Cerita akhirnya Hety naik gunung berakhir di sini 🙂

Baca cerita sebelumnya:
Bagian 1 cerita ini: Kenalan PM Menggunung
Bagian 2 cerita ini: Pendaki Pemula Berbagi Cerita
Bagian 3 cerita ini: Pengalaman Pertama Naik Gunung Lawu (1)

Ada yang istimewa di Hari Blogger Nasional yang jatuh hari Kamis (27/10) kemarin. Tidak janjian, padahal. Di saat linimasa Twitter dihujani dengan tagar #HariBloggerNasional, kami yang ada di Kampus Binus, FX Sudirman juga tidak kalah meriah.

the-power-of-content

‘The Power of Content’, begitu namanya. Semacam blogger gathering tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai kelas belajar bersama karena banyak sekali ‘oleh-oleh’ ilmu yang didapat. Belum lagi, acara ini diselenggarakan pada pagi hari dan di kampus pula. Lengkap sudah, ini benar-benar sesi belajar bersama.

‘The Power of Content’ diselenggarakan oleh Serempak (Seputar Perempuan dan Anak), sebuah inisiasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama IWITA (Indonesian Women IT Awareness). Di dunia online, serempak.id merupakan sebuah portal informasi, komunikasi, serta wadah dukungan terhadap topik terkait perempuan dan anak.

‘The Power of Content’ dipilih sebagai judul acara karena berkaitan dengan kampanye ‘3 ends’. Melalui topik ‘The Power of Content’, penyelenggara acara ingin mengajak para blogger agar mulai membuat konten-konten yang bermanfaat untuk perempuan dan anak, salah satunya ‘3 ends’.

Apa itu ‘3 ends’? ‘3 ends’ adalah sebuah kampanye terkait program untuk: (1) mengakhiri kekerasan pada anak dan perempuan (termasuk kejahatan seksual), (2) mengakhiri perdagangan manusia (termasuk anak dan perempuan), dan (3) mengakhiri kesenjangan akses ekonomi bagi perempuan. Wajar jika ‘3 ends’ mulai giat disosialisasikan, mengingat saat ini, kasus-kasus terkait kekerasan/kejahatan terhadap anak dan perempuan makin meningkat tajam.

Blogger yang hadir diberikan ilmu terkait pembuatan personal branding blogger sampai pada penulisan konten yang bermanfaat. Harapannya, ilmu yang didapat dapat langsung diaplikasikan untuk turut membuat konten-konten yang bermanfaat terkait anak dan perempuan di blog pribadi maupun serempak.id.

Yuk, ikut menulis di Serempak.id, klik di sini. Baca juga cara menjadi kontributor tetap serempak.id di sini.
untitled-design

Saya punya kebiasaan aneh. Kalau mau pergi jauh (bukan Jakarta – Bekasi, ya), saya sulit tidur atau gelisah sepanjang waktu. Untuk menenangkan, orangtua saya selalu menyarankan untuk melakukan persiapan jauh-jauh hari dan pengecekan barang yang dibawa jelang keberangkatan. Klasik, sih. Walau ada benarnya juga, tetap saja, sampai saya dewasa pun masih sering kambuh.

Terakhir, saya tidak tidur sama sekali saat akan berangkat ke Kapuas Hulu dan Natuna. Keduanya penerbangan dini hari, jelang subuh. Apa sih yang sebenarnya yang saya khawatirkan? Entah!

Ini terjadi lagi saat saya akan berangkat ke Madiun – pendakian perdana ke Gunung Lawu. Dari Stasiun Pasar Senen, kereta api saya akan berangkat pukul 15.15 WIB. Artinya, saya harus izin pulang kantor lebih cepat dan langsung menuju Stasiun Pasar Senen. Pun, malamnya, saya tidak bisa tidur. Saya tidur larut dan berulang kali mengecek isi carier. Grogi sepertinya.

Tadda, hasil packing semalam pakai grogi: carier asimetris.

Tadda, hasil packing semalam pakai grogi: carier asimetris.

Dengan outfit sporty dan membawa carier yang tingginya melebihi tinggi badan beberapa centi, saya sampai di Stasiun Pasar Senen. Bukan pemandangan aneh, saya enggak sendiri. Saya berjumpa juga dengan rombongan mas-mas dan mbak-mbak berpakaian sporty dan membawa carier berwarna-warni menjulang tinggi. Hari Jumat, weekend, musim pendakian, begitu gambarannya.

Saya yang berangkat sendiri, tanpa rombongan (karena belum berjumpa dengan Ridwan dan Noel) sempat ditanya petugas pengecekan tiket, “Enggak bawa gas, kan?”

Note: Pengetahuan pertama, membawa gas dalam kereta api tidak boleh. Sama seperti membawa jerigen minyak dalam kapal.

Oke, ternyata penampilan saya kali ini sudah cukup sporty dan adventure enough saat dilihat. Terbukti sukses sampai membuat si petugas bertanya. Maklum pendakian perdana. Malu kalau saya sampai salah kostum.

Note: Step pertama, enggak salah kostum, centang. Haha

Di dalam kereta, beberapa menit setelah kereta meninggalkan Stasiun Pasar Senen, saya kaget saat ada yang menepuk pundak saya. Saat menoleh, “Noel! Ridwan! Dan …, oh! Ketinggalan! Huwaa … .” Saya heboh.

Drama pertama dimulai! Kehebohan saya bukan karena akhirnya bertemu Ridwan dan Noel di kereta, tapi saya baru ingat matras saya ketinggalan di kosan begitu melihat carier Ridwan yang menggembung karena matras. Jeng-jeng!

Matrasku ketinggalan!” kata saya dengan wajah memelas.

Udah, Het. Tenang, tenang. Enggak apa-apa. Kabarin aja di grup. Siapa tahu masih bisa disewain di Madiun,” Ridwan dan Noel berusaha menenangkan.

Malu! Failed. Fix, pendakian perdana tapi matras ketinggalan akan tercatat dalam buku sejarah. Masih jelas di ingatan saya, si gulungan matras berdiri di pojokan kamar. Si matras tidak terbawa karena saya sibuk dengan tas ‘printilan’ dan buru-buru karena abang Gojek sudah menanti. Duh!

Note: Jangan lupa bawa matras!!

Singkat cerita, pukul 02.16 WIB, dini hari, kami bertiga sampai di Madiun. Kami dijemput Luluk dan Mbak Rully menuju rumah Luluk yang jaraknya tidak jauh dari Stasiun Madiun.

Pukul 08.00 WIB, kami bersembilan sudah rapi, wangi, dan kenyang sarapan, siap berangkat menuju Cemoro Sewu. Perjalanan kurang lebih dua jam dari Madiun. Sepanjang perjalanan, saya memilih tidur (membayar utang tidur sebelumnya). Saya hanya ingat di Madiun, mobil yang kami naiki berhenti di pom bensin lalu melewati perusaan kereta api, pabrik gula, jalan yang mirip ring road di Jogja, dan Zzz … . Het, het, sengantuk itukah kamu, Nduk?

Pukul 10.00 lebih, akhirnya, kami sampai di Cemoro Sewu. Hawanya sejuk mirip di puncak atau di Kaliurang. Setelah menurunkan carier, salah satu dari kami melapor di pos dan mengisi formulir yang diberikan. Saat formulir diserahkan ke petugas, kami harus menyerahkan satu KTP/SIM/tanda pengenal lain yang akan dikembalikan saat kami turun gunung.

Sebelum naik, kami sempat membeli nasi bungkus di warung untuk makan siang di atas. Tanggung karena dalam dua jam ke depan sudah masuk jam makan siang. Enggak sulit kok mencari warung nasi karena di sekitar gapura masuk Cemoro Sewu banyak warung nasi. Tinggal pilih saja. Satu nasi bungkus dengan dua macam sayur dan telur dihargai Rp 10.000,00.

So, here we come. The journey begins

Kalau kamu mendaki Gunung Lawu dari Cemoro Sewu, kamu akan melewati lima pos untuk sampai di puncak yang bernama Hargo Dumilah (3.265 mdpl). Kata teman-teman, rute Cemoro Sewu lebih landai karena terdiri dari batu-batu yang yang membentuk jalannya sendiri, mirip jalan setapak. Sehingga, rutenya relatif mudah jika dibandingkan dengan Cemoro Kandang. Seakan sedang menaiki tangga batu.

Full team! (dokumentasi: Mel @ratucumi)

Full team! (dokumentasi: Mel @ratucumi)

Pukul 10.00 WIB lebih kemarin seperti waktu yang tepat untuk naik. Matahari belum begitu terik. Sehingga, hawanya sejuk. Cenderung agak dingin, malah. Saya dan Ajeng terlena untuk memakai jaket sampai seorang teman mengingatkan kalau dalam beberapa menit ke depan, kami berdua pasti keringatan karena berjalan hehe. Jadi, sebaiknya, tidak perlu memakai jaket. Toh, kapan lagi menikmati hawa yang jarang kita rasakan di Jakarta seperti ini?

Sekali lagi, kamu tidak perlu khawatir kalau naik Gunung Lawu itu seperti kamu berada di tengah hutan dan harus ‘babat alas’. Sudah ada jalan setapak yang tinggal kita lalui aja. Sejauh mata memandang memang pepohonan yang menjulang tinggi, serta sisa-sisa pohon rubuh dan sisa-sisa kebakaran hutan yang melanda Gunung Lawu beberapa waktu yang lalu. Sedih memang. Tak jarang, di setiap jalan yang dilalui, pasti ada papan peringatan untuk tidak membuat api unggun di sembarang tempat.

Langit biru, awan putih, terbentang indah, lukisan kuasa. Selalu pengen nyanyi lagunya Sherina.

Langit biru, awan putih, terbentang indah, lukisan kuasa. Selalu pengen nyanyi lagunya Sherina.

Satu hal favorit saat berada di alam, yang tidak akan saya lewatkan, adalah mendongak ke atas. Saya senang sekali masih bisa melihat putihnya awan dan birunya langit. Belum lagi, beberapa pohon yang menjulang tinggi ke atas. Sungguh pemandangan yang indah, bagai vitamin A untuk kedua mata saya.

Tuk, wak, tuk, wak.

Tuk, wak, tuk, wak.

Hmm … udah capek belum jalan kakinya? Sebagai orang yang baru pertama kali mendaki, saya senang sekali dipertemukan dengan orang-orang ini. Mereka tidak ambisius untuk jalan cepat-cepat dan saling meninggalkan. Justru nasehatnya, jalan kaki pelan, pasti, asal tidak banyak berhenti. Sesekali, kami berfoto bersama saat melewati spot yang menarik. Dari gaya boy band sampai gaya sok akrab, semua dicoba (saya sampai bingung, foto mana yang mau di-upload di blog)

Hosh, hosh!

Hosh, hosh!

Doo be doo be doo … Cuacanya cerah sampai kami melewati pos 2. Masih cerah sih, tapi sesekali tetesan air jatuh. Ini embun, bukan hujan, katanya. Maklum, jalan sudah mulai naik turun, berkelok, dan semakin berbatu. Galau antara pakai jas hujan atau tidak. Lepas, pakai, lepas, pakai begitu seterusnya sampai bress … hujan menderas.

Kami bersembilan mulai terpisah. Bukan kesasar sih karena jalannya hanya satu. Hanya saja, jarak antara kami berjauhan. Di awal, kami memang sudah menerapkan sistem ‘buddy‘. Satu laki-laki akan mendampingi satu atau dua perempuan untuk berjalan.

Hujan. Berjas hujan plastik. Jalan kaki menggendong carier. Sepatu basah. Apalagi? Saya sudah menyiapkan mental untuk keadaan ini, sebenarnya. Pasti terjadi. Sebelumnya, saya sudah bertanya pada teman saya, the worst thing that happened to her in Lawu. Dia bercerita saat naik Gunung Lawu, dia kehujanan, jalan menanjak, dan malam hari. Oke, berarti paling tidak saya bersyukur ini masih sore walau menggelap karena hujan deras.

Saya kedinginan sehingga memperlambat laju langkah kaki saya. Puput yang berada di belakang, setia menemani. Sepatu basah, berkaos – tanpa jaket, dan langsung memakai jas hujan plastik sepuluh ribuan berwarna hijau. Hawa dingin dengan cepat menjalar dan membekukan tubuh saya. “Het, tetep bergerak ya, jangan diam,” kata Puput.

Saya kelu. Hangat di pikiran, teringat di dalam carier ada jaket. Pun saya pakai sekarang, justru akan basah, dingin, dan beban lagi untuk tubuh saya. Kalau sampai basah, nanti tidak ada jaket lagi. Sarung tangan? Jemari saya beku. Pun saya pakai sekarang, justru akan basah dan dingin. Tak ada pilihan, kecuali tetap berjalan, berdoa dalam hati, berpikiran positif di tengah hujan atau ini sudah badai sepertinya, karena angin sudah ikut ‘tampil’ dalam kegelapan hutan dan derasnya hujan.

Akhirnya, kami sampai di pos … entah. Bentuknya bangunan utuh dengan tembok setengah di tiap sisinya. Dan, Wow! Semua pendaki berteduh di sana. Carier ditumpuk di depan. Kami masuk dan saling merapat dengan pendaki lain, berharap tempat masih muat. Ada yang duduk, ada yang berdiri. Semuanya seperti dalam formasi saling menghangatkan tanpa janjian. Kami berbagi makanan yang ada. Bau semerbak minyak gosok beradu dengan bau hujan. Semua pasrah. Gusti, semoga hujannya lekas berhenti!

Bersambung ke …
Bagian 4 cerita ini: Pengalaman Pertama Naik Gunung Lawu (2)

Baca cerita sebelumnya:
Bagian 1 cerita ini: Kenalan PM Menggunung
Bagian 2 cerita ini: Pendaki Pemula Berbagi Cerita

%d bloggers like this: