Kak, nanti uang saya tinggal berapa?” Itulah pertanyaan Rachmat sedari tadi saya membantunya memilih baju. Dari hanger ke hanger saya geser mencari ukuran yang pas untuk badan kecilnya.

Masih cukup kok,” jawab saya santai tanpa menoleh sambil terus memilih baju bak fashion stylist.

Sesekali juga, saya mengajarkan Rachmat penjumlahan. Dia bertanya. Ternyata, ada nada-nada kecemasan di sana. Satu baju sekian, uangnya sisa sekian. Dua baju sekian, sisa sekian. Saya hanya ingin meredam kekhawatirannya. Tak butuh waktu lama, mantap, dua baju sudah ada di tangannya. Saya tawarkan lagi jika Rachmat mau melihat-lihat yang lain tapi ditolaknya.

Uangnya mau buat sekolah, Kak,” Rachmat berkata polos. Uang ini memang miliknya sekarang, sejak beberapa menit yang lalu. Saya tak kuasa memaksa walau mandatnya, uang 200.000 rupiah harus dihabiskan untuk membeli apa yang mereka suka malam itu. Saya? Menemani saja.

Sebenarnya, kalau mau buka kartu, saya seorang pendamping shopping yang baik. Ehem. Mau jalan ke mana hayuk, mau bandingkan harga antartoko oke. Sayangnya, itu hanya berlaku jika partner belanja saya perempuan. Selebihnya, yang laki-laki, selalu menolak. Ya, Rachmat salah satunya. Entah kenapa, sampai detik ini, saya selalu impress dengan kaum adam yang cepat sekali kalau belanja. Tak gemar mereka berputar-putar.

Ini uangnya, dibayarkan di kasir sendiri ya. Selebihnya, bisa disimpan. Buat kamu. Sini amplopnya kakak bantu buka.”

Kak, ini tadi diskon ya?” Rachmat abai dengan kalimat saya. Dia lebih berbinar bahwa akan ada uang sisa di tangannya.

Sedangkan Rachman, anak yang saya temani belanja lainnya, tak banyak bicara. Dia memang lebih dewasa. Saat mencoba celana pertama di fitting room, saya antar. Celana kedua, saya biarkan. Dia tampak lebih pede. “Kami tunggu di sini ya? Kamu tahu jalannya kan?”

Tak lama Rachman kembali. Wajahnya sumringah dengan tangan menggenggam celana warna coklat. “Saya mau ini Kak. Saya suka. Pas.”

Sambil menunggu keduanya antri di kasir, saya merasa lucu ada di belakang mereka. Merasa lucu bertanya apa yang mereka suka, merasa lucu bertanya mereka mau beli apa, merasa lucu saat mengantarkan ke fitting room, merasa lucu saat menjelaskan beli 1 diskon 30%, beli 2 bonus 1, merasa lucu menjelaskan ukuran baju.

9-10, kamu kekecilan, 13-14 kamu kebesaran, jadi ukuran kamu 11-12, tapi habis. Mau coba model lain? Ini yang merah bagus?”

Walau rekomendasi saya sukses ditolak Rachmat, saya bangga juga Rachmat akhirnya yakin dengan pilihannya. Ternyata, dia lebih suka warna baju hitam dan abu daripada warna-warna cerah yang saya pilihkan.

Belanja dengan mereka ternyata singkat. Enggak sampai tiga puluh menit, Sist! Ekspektasi saya salah semua. Mereka tahu yang mereka mau, bahkan mungkin yang dimimpikan selama ini. Tapi jujur, surprise juga saat masih ada rasa sungkan untuk habis-habisan dengan uang yang diberikan. Seperti Rachmat yang ingat biaya sekolahnya. Bahkan, dari cerita teman yang mengantarkan belanja anak lain, ada juga yang ingin uangnya disimpan saja. Dia ingin uangnya untuk membelikan adiknya mainan.

Huhu, tetiba teringat seringnya jemari ini begitu terampil mengendalikan mouse memindahkan barang ke keranjang belanja dan klik ‘check out‘, transfer, tanpa pertimbangan apapun. Impulsive buyer? Totally, yes.

Sebisa-bisanya saya berprasangka saja. Apa ya yang dilihat anak-anak ini di keseharian ya? Apakah hanya lembaran rupiah yang mampu menjelaskan? Saya tak yakin. Mungkin ini hanya kacamata orang dewasa dan saya pernah kok menjadi anak-anak seusia mereka. Banyak memang hal-hal yang tak bisa dijelaskan.

Seperti dulu, saat belajar Corel Draw otodidak, saya mendesain pin, dan menjualnya di toko buku dekat rumah. Minggu berikutnya, si penjaga toko menitipkan pesan ke ayah saya kalau saya sudah bisa mengambil uang hasil penjualan pin. Sampai di rumah, bukan pujian berhasil menjalankan bisnis, namun perkataan penuh sayang seorang ayah kepada anak perempuannya. “Dek, kamu kalau butuh uang, ngomong dong sama papa. Kamu butuh uang berapa kok sampai jualan?” Benar adanya kan, tak semua hal bisa dijelaskan. Hanya perlu diterima dan didoakan saja.

Dokumentasi Bunga Ramadhan 2019 – Hijab Motion

Lewat tulisan ini, saya ingin terus terkenang-kenang belanja bersama Rachmat dan Rachman. Saya belajar di sini. Kenal sekian menit, belanja sekian menit tapi berhasil meninggalkan makna. Sederhana ya tapi bisa jadi pengingat bagi saya si tukang belanja. Saya bahkan lupa belajar belanja sejak kapan? Sejak mulai mengeja a-b-c-kah? Atau ini benar-benar naluri seorang perempuan? ‘Given‘? Saya yang sering lupa bersyukur ini dan kadang tak berpikir yang di sana-sana hanya bisa berdoa, semoga keduanya senantiasa sehat dan berada dalam kebaikan.

Malam itu, sebelum berpisah, keduanya mengajak saya bersalaman. Bahagianya tak bisa disembunyikan. Saya pun. Malu-malu mereka bilang, “Makasih ya Kak Hety.”

Kemang Village, Ramadan 1440 H/2019

Advertisements

Ada film yang udah saya tonton beberapa waktu lalu tapi belum sempat saya tulis. Berhubung saya emang suka-sukanya, lebih baik saya tulis walau filmnya udah bye-bye dari 21. Yang belum nonton, enggak boleh nyesel ya ..

(Sumber: IMDb.com)

The Mule, begitu judulnya. Film yang konon based on true story itu (the New York Times Magazine “The Sinaloa Cartel’s 90-Year Old Drug Mule”), bagi saya menyimpan kejutan. Siapa sangka ya, cerita tentang kurir narkoba – yang biasanya angle-nya melulu action: tembak-tembakan, justru menjadi kisah manis tentang keluarga. Yass, masih dalam rangka ‘Harga yang Paling Berharga di Tahun 2019’ (seperti cerita blog saya sebelumnya), mari kita refleksikan di sini. Aish!

Cerita berkisah tentang seorang laki-laki tua (sebut saja Si Kakek) yang suka bunga dan punya usaha kebun bunga. Walau sudah renta, Si Kakek nampak baik-baik. Apalagi, di lingkungan sosialnya. Si Kakek adalah sosok ‘flamboyan’ yang selalu hadir di acara ‘kumpul-kumpul’ dan memenangkan sejumlah kontes tanaman. Sayangnya, usaha yang dikelola secara tradisional itu, tiba-tiba bangkrut karena kalah saing dengan toko bunga yang dipasarkan secara online.

Bangkrutnya usaha Si Kakek bertepatan dengan hari pertunangan cucu perempuan satu-satunya. Saat Si Kakek hadir ke acara itu, muncul adegan drama antara Si Kakek dengan istri dan anak perempuannya. Mereka saling beradu mulut di depan para tamu undangan. Di sinilah penonton mulai bisa menilai bahwa ternyata kehidupan Si Kakek yang dikenal sebagai ‘social butterfly‘ di pergaulannya, tidak baik-baik saja.

Buntu dan merasa tidak berharga di mata keluarganya, Si Kakek kemudian meng-iya-kan random tawaran pekerjaan untuk menjadi kurir alias juru antar paket. Itu menjadi satu-satunya pilihan karena hanya kemampuannya menyupir-tanpa-pernah-kena-tilang-seumur-hidup dan mobil pick up tua yang tersisa sebagai modal. Pun syaratnya juga mudah, harga mati Si Kakek tidak boleh membuka benda yang diantarkannya.

Layaknya film bergenre adventure, cerita selanjutnya menggambarkan perjalanan Si Kakek setiap mengantarkan paket. Unik sih atau sekadar agar penonton tidak jemu dengan adegan Si Kakek yang berada di balik kemudi. Ada saja yang dijumpai Si Kakek dalam perjalanannya, termasuk kebaikannya menawarkan pertolongan pada pengendara yang mobil bannya kempes, bertegur sapa dengan polisi, bernyanyi riang di dalam mobil, dan mampir di tempat makan terkenal di tiap kota. Contoh di atas cukup lumrah untuk menunjukkan kepribadian Si Kakek yang hangat. Sayanngnya, hal itu tetap menjadi poin kontra tersendiri ketika kita teringat konflik yang terjadi di tengah keluarganya.

Di bulan kesekian, akhirnya Si Kakek sadar benda apa yang selama ini diantarnya. Bukannya insyaf, Si Kakek yang veteran perang Korea dan konservatif bin nasionalis ini justru ketagihan. Bagaimana tidak, dengan hanya bermodal kepiawaiannya di jalan raya, Si Kakek mampu menghasilkan banyak uang dan membeli apa yang diinginkannya, termasuk (membantu) membeli bar milik sahabatnya yang nyaris tutup karena kehabisan modal.

See, betapa baik hatinya Si Kakek memberikan kebahagiaan untuk orang walau tetap salah sih kalau lihat uangnya dari mana 😦

Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu jatuh juga. Entah ada berapa macam peribahasa Bahasa Indonesia semacam itu. Banyak kan ya? Intinya, perbuatan yang tidak baik pasti akan ketahuan juga. Di saat polisi mulai meningkatkan pengawasannya, mafia kartel narkoba yang makin temperamen, serta makin banyaknya ‘barang’ yang harus diangkut, Si Kakek mendapatkan kabar bahwa istrinya (sebut saja Si Nenek) sakit keras. Si Kakek yang punya track record buruk tidak pernah menghadiri acara keluarga sekalipun ini (kecuali acara cucunya), tetiba hadir dan berada di sisi Si Nenek yang sekarat. Keluarga terkejut dan menilai bahwa Si Kakek mulai berubah.

Oh ya, walau musuhan sama istri dan anaknya, Si Kakek ini deket banget sama cucunya.

Di detik-detik jelang kematiannya, Si Nenek akhirnya buka suara. Setelah beromantis ria mengatakan bahwa Si Kakek adalah cinta sejatinya, Si Nenek mengakui bahwa Si Kakek adalah orang yang baik. Sayangnya, kebaikan Si Kakek hanya mampu dirasakan oleh orang-orang di luar sana, sedangkan di keluarganya sendiri, semua tidak dapat merasakan hal yang sama. Nyess! Enggak sampai di situ aja, Si Nenek juga menambahkan bahwa, “Untuk dekat dengan kami (keluarga), kami tidak perlu hartamu, hanya kamu.”

Huhuhu. Jleb banget yak! Ini macam sindiran bagi para pekerja yang bekerja keras bagai kuda di kantor tapi lupa sama keluarganya di rumah. Waktu kebersamaan yang hilang enggak pernah bisa tergantikan dengan uang 😦 #selfnote

Harta yang paling berharga adalah … A. Keluarga B. Uang (sumber gambar: IMDb.com)

Selain sarat nilai-nilai keluarga, menurut saya, film ini juga dengan terampil menyindir masyarakat yang kini lebih asyik sendiri dengan ponselnya daripada saling bertegur sapa dengan orang. Si Kakek yang diceritakan gagap teknologi (gaptek) seolah menjadi korban perubahan zaman. Si Kakek yang polos sempat mengutuk toko bunga online yang membuat usahanya bangkrut, serta Si Kakek yang tidak bisa menggunakan ponsel layar sentuh sehingga harus diajari pelan-pelan oleh anak buah Si Mafia. Juga, Si Kakek yang kolot kerap memprotes tingkah anak ‘zaman now‘ yang tidak tahu cara menjalani kehidupan. Tapi balik lagi, bisa apa ya Si Kakek? Perubahan adalah suatu keniscayaan.

Terus-terus gimana dong nasib Si Kakek selanjutnya? Gimana nasib polisi-polisi yang selama ini ‘nguber’ Si Kakek? Ketemu enggak? Gimana nasib kartel narkobanya? Gimana kehidupan keluarganya? Apakah mereka berubah pikiran dan menerima Si Kakek? dan halo, apa kabar hukum dan Undang-Undang peradilan?

Stop! Saya enggak mau mendapat gelar Miss Spoiler dengan menuliskan semua jalan ceritanya di sini, termasuk ending-nya!! #Sikap Yang jelas, Si Nenek akhirnya meninggal karena emang udah sekarat. Ya kali sinetron Indonesia, dari sekarat langsung segar bugar :p

Jadi, happy ending? Sad ending? Hmm, hanya penonton yang udah nonton yang tahu hihi. Walau selama film berlangsung ada rasa getir dan kasihan-kasihan gimana gitu melihat Si Kakek yang sudah tua berikut dinamika masalahnya (angkat topi untuk Clint Eastwood), ada Om Bradley Cooper yang menjadi vitamin A, me-refresh suasana. Don’t worry :p

Yang jelas, setelah filmnya selesai, saya jadi mikir dan makin meng-iyakan. Benar adanya, sebuah perjalanan justru membuat kita belajar. Bisa jadi kita lebih open-minded, bisa jadi lebih bijak, atau justru sebaliknya. Semuanya pilihan! Dan, sekali lagi, ini semua bukan tentang tujuan akhir yang ingin kita tuju, melainkan tentang perjalanan itu sendiri. Proses!

*

So, here we go. Lewat tulisan ini, officially, ‘The Mule’, bakal jadi film yang akan saya kenang-kenang dalam pikiran sepanjang masa. Layaknya, film ‘The Shawshank Redemption’ (1994) yang bikin saya takjub walau dirilis 25 tahun yang lalu.

Tapi entah kenapa ya, walau menurut saya dua film ini sama-sama unik dan bagus, standard netizen ternyata beda. ‘The Shawshank Redemption’ (1994) mendapatkan skor 9,3/10 bintang, sedangkan ‘The Mule’ (2019) hanya 7,2/10, pertulisan ini diunggah.

Tapi biarlah, perbedaan selera itu wajar. Cek aja di mamang-mamang nasi goreng, ada yang minta cabe dua, ada yang minta cabe enam. Ya kan?? #ApaSihHet

Sampai jumpa di film berikutnya ya! 🙂

Nampaknya, tak ada kesan yang cukup mendalam dari Jakarta selain macetnya. Ya, ini bukan hanya pendapat saya pribadi lho, melainkan jawaban dari teman-teman dari negara lain yang sempat ‘main’ ke Jakarta selama beberapa bulan. Semuanya shock dan agak stress karena yang selama ini cuma dilihat di berita, benar-benar nyata, melihat dengan mata kepala sendiri.

Dari tiga orang yang sengaja saya tanyai, semua kompak menjawab naik motor menjadi cara paling tepat di Jakarta agar bisa cepat sampai ke daerah tujuan menembus kemacetan. Walau, sesungguhnya, dibalik jawab mereka, naik motor juga bukan pilihan yang ‘baik’ versi mereka selama tinggal di Jakarta. Para bule itu sempat dilarang naik motor di Jakarta oleh lembaganya karena dianggap membahayakan. Sssttt, walau ada juga yang curi-curi kesempatan dan tetap riang naik motor di Jakarta karena berasa sedang berpetualang. Heu …

Saya senyum-senyum saja mendengar cerita teman-teman bule saya itu yang datang ke Jakarta dalam periode waktu yang berbeda. Yah, dibandingkan dengan negara asal Si Bule, Jakarta memang lebih ‘meriah’ untuk urusan moda transportasi. Pun baru pertama kali naik motor, mereka meng-iya-kan bahwa pilihan naik motor di Jakarta cukup beralasan jika jalanan macet dan beberapa petimbangan lain terkait fasilitas bagi si pengguna transportasi publik yang katanya masih kurang.

Edisi Nostalgia

Sejak merantau di Jakarta tahun 2012, saya akrab betul dengan bus kota dan Terminal Blok M. Kala itu, ke mana pun arah perginya, asal bisa turun di Terminal Blok M, saya sudah bisa paham menemukan jalan pulang. Maklum, Terminal Blok M adalah salah satu sentral terminal bus di Jakarta. Mengapa saya pilih bus? Jawabannya, tak ada pilihan. Sebagai perantau yang tak punya kendaraan pribadi, bus kota adalah satu-satunya kendaraan umum yang bisa dipilih, selain angkot. Tentang bajaj dan ojek (motor) pangkalan, BYE! Saya menyerah beradu tawar soal harga, belum lagi, saya yang belum hafal jalan ini bisa kesasar.

Bayangkan! Dengan bus, saya tinggal cek di Google alamat tujuan, lalu menyamakan dengan rute dan angka bus yang biasanya terpampang di kaca depan dan belakang. Belum lagi, tarif bus yang tergolong murah dan bisa berhenti di mana saja sesuai lambaian tangan, serta tentang macet: (kadang) supirnya bisa segarang itu untuk ‘membuka jalan’. Menarik bukan? Bonus: ‘interaksi sosial’ dengan kondektur dan supir memudahkan saya untuk menemukan suatu alamat.

Turun sini aja ya Mbak, hati-hati, kaki kiri dulu. Nanti Mbak tinggal jalan sedikit. Busnya belok soalnya,” salah satu perkataan supir Kopaja yang masih melekat saat saya bingung mencari alamat di bilangan Pasar Minggu beberapa tahun lalu.

Sungguh pun demikian, di dalam bus konvensional (izinkan saya menyebutnya demikian) itu getir juga. Penumpang yang tak saling kenal, sesekali saling berkeluh-kesah, beradu dengan suara klakson kendaraan. Salah satunya, ya tentang kemacetan Jakarta. Kapan semua ini berakhir, katanya. Ada yang menerima tabah, ada juga yang kritis tak sabar menanti perubahan.

‘Drama-drama’ Kopaja atau Metromini yang saya alami masih banyak sebenarnya dan itu tidak membuat saya kapok menggunakan trasportasi publik di Jakarta. Terbukti, seiring berganti waktu, berpindah rumah, dan berganti tempat kerja, saya tetap menjadi ‘Jakartan’ (sebutan untuk penduduk Jakarta) yang menggunakan transportasi publik. Namun, karena letak halte yang dekat, jumlah koridor yang berkembang banyak, dan peningkatan kenyamanan bus, pelan-pelan saya beralih menggunakan bus Transjakarta. Saya tepat meninggalkan Kopaja dan Metromini saat tarifnya Rp 4000, sedangkan Transjakarta Rp 3.500 (eh, sampai sekarang kan ya?). Bukan, ini bukan melulu soal harga yang terpaut Rp 500, lebih dari itu, tiga hal yang sudah saya sebutkan di atas membuat saya saya tidak lagi menggunakan bus Kopaja dan Metromini, yang sempat menjadi ‘idola’ pada masanya.

Lantas, apakah dengan hadirnya Bus Transjakarta (dengan segala fasilitas yang lebih baik dari sebelumnya), masalah transportasi publik dan kemacetan di Jakarta selesai? Nyatanya, …

Blam!!

Saya bisa terkenang-kenang sedemikian rupa saat menjelajah tunnel alias terowongan, jalur MRT bawah tanah di Stasiun Dukuh Atas. Semua memori suka duka naik transportasi publik di Jakarta seolah kembali. Hari itu (17/2), saya dan beberapa content creator mendapat kesempatan untuk masuk ke tunnel MRT Jakarta dari Stasiun Dukuh Atas.

Didampingi dua petugas, selama satu setengah jam, kami berjalan kaki dan berbincang tentang pembangunan MRT di Jakarta. Kami berjalan kaki bersama dari Stasiun Dukuh Atas sampai ke Bundaran Hotel Indonesia (HI) kurang lebih sejauh 850 m (dan PP lho! Dikali dua sama dengan olahraga, tuk wak tuk wak!)

Dokumentasi: Ijoeel

Gimana rasanya? Campur aduk!!

Bagi teman-teman yang ketinggalan hiruk-pikuk MRT Jakarta, MRT Jakarta yang teman-teman lihat saat ini merupakan hasil pembangunan fase I (nantinya akan menjadi koridor 1). Jalurnya membentang sepanjang 16 km dari Bundaran HI sampai Lebak Bulus. Jalur tersebut meliputi 10 km jalur layang (elevated) dan 6 km jalur bawah tanah (underground).

Pada pembangunan fase I ini, ada tiga ragam stasiun:
– 7 stasiun layang : Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja
– 1 depo : Lebak Bulus
– 6 stasiun bawah : Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia

Pembangunan Fase I MRT Jakarta

Buat teman-teman calon pengguna MRT, sila dihafal ya. Walau biasanya kalau udah sering naik, bakal hafal sendiri.

Konstruksi Bawah Tanah (Underground)

Kemarin, kami mengunjungi salah satu stasiun bawah tanah yang ada di kawasan Sudirman, yaitu Stasiun MRT Dukuh Atas, melalui pintu lima yang terletak tidak jauh dari stasiun BNI City. Jika dihitung, ada 6 pintu stasiun untuk menuju stasiun bawah tanah Dukuh Atas.

Begitu sampai di pintu, kita akan menjumpai anak tangga yang menuntun kita turun ke bawah. Berapa jumlahnya? Hmm … Bocorannya, bisa buat Jakartans olahraga hehe. Tapi tenang, nantinya, akan disediakan juga eskalator sehingga orang-orang lebih nyaman untuk turun.

Setelah melewati beberapa anak tangga, pemandangan selanjutnya adalah deretan mesin untuk tapping tiket. Sepintas, pemandangannya seperti di stasiun KRL pada umumnya. Ada satu bagian dari deretan mesin tapping tiket yang jaraknya dibuat lebih lebar dan dikhususkan untuk teman-teman yang berkebutuhan khusus (menggunakan kursi roda).

… dan taddaa … . Kita sudah berada di sebuah ruangan atau hall yang kanan-kirinya adalah pintu yang membuka dan menutup otomatis sesuai datangnya kereta. Tak lupa juga, ada papan informasi tentang jalur kereta. Pokoknya, mirip di luar negeri! Hmm …

Setelah puas melihat ‘badan’ stasiun, akhirnya, kami dibawa menuju terowongan tempat kereta-kereta MRT lewat. Salah satu peserta ada yang spontan bertanya, “Ini pas enggak ada kereta lewat kan ya Pak?” Tentu saja ini langsung disambut gelak tawa oleh peserta lain.

Tenang, sudah diatur kok, Mas. Bukan jamnya,” jawab salah satu petugas sambil tersenyum.

Layaknya terowongan bawah tanah jalur kereta kebanyakan, sebenarnya tak ada yang istimewa. Pemandangannya boleh dibilang seperti di film-film luar negeri, saat penjahat mencoba kabur dari kejaran polisi dan bersembunyi di terowongan bawah tanah jalur kereta (eh, apa sih). Selain rel (tentu saja), ada pipa-pipa instalasi, pola dinding terowongan yang terlihat jelas, dan jalan kecil berpagar untuk patroli petugas.

Berdasarkan informasi yang kami dapat, metode pengerjaan konstruksi bawah tanah ini menggunakan Tunnel Boring Machine (TBM) tipe Earth Pressure Balance (EPB) Machine, dengan pembagian koridor paket pengerjaan menjadi tiga yaitu CP 104, CP 105, dan CP 106.

Walau, sekali lagi, pemandangannya mirip di film-film yang saya lihat di TV, di sela-sela penjelasan Bapak petugas kemarin, saya tak bisa berhenti berdecak kagum. Berulang kali, saya berguman dalam hati, “Akhirnya!”

Ya, Akhirnya!

Saya salut dengan hasil pembangunan yang saya lihat kemarin. Sebagai salah satu content creator yang diundang, saya benar-benar menyaksikan sendiri semuanya. Berkiblat teknologi dan kolaborasi dengan perusahaan Jepang, semuanya sempurna, bagi saya. Serta, kerja keras bangsa Indonesia. Keamanan dan kenyamanan bangunan tunnel dan keseluruhan stasiun MRT ini terasa betul-betul dipertimbangkan. Dari pemasangan badan atau rangka tunnel, struktur dan konstruksi rel, sampai pipa-pipa yang diatur sedemikian rupa. Terlebih stasiun Dukuh Atas ini terletak dalam, di bawah sungai.

Tiba-tiba, saya kembali terbayang keluh-kesah pengguna jalan raya Thamrin, Sudirman, sampai Blok M yang selama ini terusik oleh pembangunan MRT. Macet dan padat merayap menjadi pemandangan sehari-hari. Jalan yang semula lebar, menyempit pelan-pelan dan harus berbagi lagi dengan jalur busway, dan tersekat oleh papan-papan pembatas proyek. Tapi dengan hasil pembangunan MRT yang mendekati selesai ini, semuanya terbayar sudah!

Jujur, sampai tulisan ini dibuat, saya masih deg-degan, tak sabar mencoba MRT Jakarta. Walau minggu lalu, sudah dilakukan uji coba oleh beberapa pihak dan semuanya puas.

Ya, kami tak sabar menjadi pengguna MRT Jakarta. MRT yang katanya menjadi sebuah terobosan transportasi publik untuk mengatasi kemacetan Jakarta. Mengajak ‘Jakartans’ beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Pelan-pelan, semuanya berbenah, dari penataan Bus Rapid Transit (BRT, yaitu Bus Transjakarta), MRT, kawasan pedestrian untuk pejalan kaki, serta perilaku berkendara dan menggunakan transportasi publik itu sendiri.

MRT Untuk Jakarta Yang Lebih Happy 7

Dokumentasi: Ade

Kebayang nggak sih? Bahagianya kamu ketika bisa on-time ke kantor dengan MRT, bahagianya kamu ketika enggak kena macet di jalan dan uring-uringan sendiri, bahagianya kamu ketika baju tetep rapi walau naik kereta berdiri, bahagianya kamu ketika bisa bertegur sapa dengan penumpang lain yang sebelumnya enggak saling kenal. Yes, MRT! Semuanya untuk Jakarta yang lebih happy!

*

Untuk semua itu, rasanya, bertepuk tangan dan angkat topi atas kerja keras semua pihak enggaklah cukup. Menjaga dan merawat MRT dan segala fasilitasnya justru menjadi cara tertinggi mengapresiasi segala capaian pembangunan ini.

Bersuka cita menyambut MRT di Jakarta. TIGA HARI LAGI! Yuk, hitung mundur!

Jangan lupa, update terus perkembangan MRT Jakarta lewat akun Instagram @mrtjkt #MRTJakarta #UbahJakarta

*

Tentang MRT
MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta adalah kereta perkotaan otomatis bawah tanah pertama di Indonesia yang hadir tidak hanya sebagai angkutan umum massal, tapi juga sebagai katalis perubahan gaya hidup dan mobilitas masyarakat dengan mengedepankan aspek penataan kawasan yang ramah pejalan kaki, mendorong integrasi antarmoda, serta pengurangan penggunaan kendaraan pribadi.

*

Referensi:
Brosur MRT Jakarta di Information Center MRT, Stasiun Dukuh Atas
Website resmi MRT Jakarta https://www.jakartamrt.co.id

Salah satu efek abis nonton adalah menulis. Ini tentang film Keluarga Cemara dan (sedikit) nostalgia cerita keluarga saya.

*

Sebagai generasi 90-an, televisi (TV) adalah sahabat saya. Apalagi hari Minggu. Kala itu, banyak sekali tayangan (terutama kartun!) yang bikin betah berlama-lama di depan TV, sampai jadi musuh mandi. Eh gimana maksudnya? Iya, pasti dapet komplain dari mama, “Hayoh, sana mandi dulu, jangan nonton TV terus!”

Pun jadi musuh mandi, ada kalanya juga, mama dan papa justru merekomendasikan beberapa acara TV yang ‘mendidik’. Eng, ‘mendidik’ versi mereka yaa… Sebut aja, sinetron ‘Si Doel Anak Sekolahan’ atau ‘Keluarga Cemara’. Hum hum, dua acara itu adalah acara favorit orang tua saya yang sebisa-bisanya mereka selalu mengajak saya dan Mbak nonton bareng.

Papa dan mama memang penggemar acara-acara TV ‘non-hedon’ alias ‘yang tidak menjual kemewahan’. Berulang kali, kalau ada kalimat atau ucapan pemain dari dua sinetron itu yang menurut mereka inspiring, kompak mereka berkata pada saya dan Mbak, “Tuh, dengerin!”. Saya sih manggut-manggut saja kala itu, tak banyak mengerti sebenarnya hehe.

Daaaaan … siapa sangka, setelah ‘Si Doel Anak Sekolahan’ (saya skip enggak nonton), giliran ‘Keluarga Cemara’ yang diangkat ke layar lebar tahun 2019 ini. Yeah, sejak tahun 2018, penonton udah diajak tak sabar menantikan lewat cuplikan video atau gambar nostalgia. Yes, cerita Keluarga Cemara memang hits pada masanya. Jadi, hanya lewat sepenggal lirik “Harta yang paling berharga adalah … ” saja orang sudah tahu pasti KELUARGA CEMARA!

Jalan cerita Keluarga Cemara versi bioskop kali ini enggak jauh beda sama di TV (cerita sebelumnya). Walau ada beberapa penyesuaian agar nampak ‘kekinian’ slash relevan dengan zaman sekarang. Misal, dari Abah yang tukang becak menjadi driver Gojek. Pun demikian, keluarga Cemara masih berusaha menggambarkan potret keluarga miskin yang bahagia, mampu hidup apa adanya, menerima cobaan dengan tabah, kreatif dengan keterbatasan, ikatan antaranggota keluarga yang kuat …, pokoknya yang serba positif, menurut saya. ‘Sempurna’!

Pas nonton di bioskop kemarin, sebenarnya, saya telat masuk studio sekian menit. Saat duduk, adegan sudah tentang Abah yang membagi-bagikan pesangon kepada para pekerjanya. Walau enggak mengikuti dari awal bagaimana Abah jatuh miskin, kalimat seorang pekerja, “Abah kan sedang ada masalah, kenapa masih ngasih uang ke kami?” cukup memberikan gambaran bahwa hidup Abah sedang berubah drastis dari semula kaya menjadi miskin.

Oh ya, dulu, saat saya kecil, yang saya tangkap dari cerita Keluarga Cemara adalah potret kemiskinan sebuah keluarga tukang becak yang dihadapi dengan riang. Semua sikap yang ditunjukkan keluarga Abah mirip dengan pelajaran PPKN yang diajarkan Ibu Guru di sekolah. Penuh keteladanan. Sekarang, setelah saya dewasa, di film, saya lebih melihat ke pentingnya pola asuh anak dalam sebuah keluarga. Bagi saya, konflik antara Abah dan Euis yang ditampilkan di (hampir) sepanjang film lebih kental daripada masalah kemiskinan yang harus mereka hadapi itu sendiri. Ibarat, dengan pola asuh yang benar, anak dapat tumbuh dengan baik dan ‘tahan banting’ dengan kondisi apapun. Enggak salah jika #KembalikeKeluarga jadi tagar promosi film ini di media sosial. Ya, keluarga memang penting, keluarga adalah pondasi utama, tempat berpulang juga.

Sayangnya, walau enggak secara substansi drastis mempengaruhi jalannya cerita, ada beberapa hal yang mengganggu saya sepanjang film. Setelah gambaran kondisi miskin yang telaten dibangun sejak awal film (ditipulah, jobless, makan dengan lauk seadanya, dll), keluarga Abah tetap digambarkan punya akses internet. Walau sempat diinfokan bahwa rumah Abah tidak bersinyal sehingga telepon harus diletakkan di atas pohon (detailnya: rumah pohon dan bahkan HP-nya dimasukkan dalam plastik), tetap saja agak janggal bagi saya.

Gambaran ini mengingatkan saya saat bertugas di sebuah pulau yang sama sekali tidak ada sinyal. Untuk mendapatkan sinyal, HP harus digantung di tempat dan ketinggian tertentu. Pun nanti ada sinyal (satu atau dua bar/strip) tetap saja tidak kuat untuk internetan, hanya sinyal telpon-sms saja. Jadi, visualisasi saya masih campur aduk saat melihat Euis bisa bebas mengakses internet di atas rumah pohon.

Yaaa sebenarnya, enggak salah juga sih miskin tapi bisa punya akses internet. Positive thinking. Bisa jadi di suatu negara, saking terjangkaunya internet, semua lapisan masyarakat dari level ekonomi manapun bisa mengakses. Selain itu, saya jadi ingat cerita teman saya, seorang peneliti, yang berkeliling Indonesia untuk kepentingan risetnya. Temuannya, bahwa semiskin-miskinnya orang Indonesia yang dia wawancarai, pasti punya HP. Serta, seorang teman yang bekerja di UNHCR, lembaga PBB khusus pengungsi, menyebutkan bahwa kebutuhan vital pengungsi di kamp pengungsi selain sandang, pangan, papan, juga akses internet! Tujuannya agar mereka bisa tetap mendapat akses informasi dan berkomunikasi.

Ah, maafkan kalau saya jadi terlalu detail. Saya hanya menyampaikan beberapa hal yang janggal membuat kening saya berkerut sesaat selama film berlangsung. Menarik ya, ada pergeseran sosial ekonomi, di mana ternyata akses internet atau pulsa sudah menjadi kebutuhan pokok saat ini. Lagian, dalam cerita, Si Abah kan jadi driver Gojek? Gimana ceritanya, driver Gojek tanpa akses internet? Heu heu.

Oh ya, nyinyir terakhir, soal soundtrack atau lagu yang diputar sesekali selama film. Lagu-lagunya menarik, sejenis lagu di film Petualangan Sherina (2000) yang mampu menambah kesan dramatis dan mengharu biru adegan. Sayangnya, menurut saya, karakter lagunya enggak begitu kuat dan kurang greget kalau mau disandingkan dengan lagu-lagu ‘Sahabat Kecil’-nya Ipang dan ‘Ku Bahagia’-nya Sherina di film Laskar Pelangi (2008). Padahal saya baru sadar, BCL yang menyanyikan salah satu lagunya.

Jadiiii … terlepas dari semua itu, menurut saya, tetep nontonlah! Nice to see yaaa jika kamu masuk generasi penonton sinetron Keluarga Cemara di TV. Itung-itung nostalgia dengan jalan cerita yang adem. Pun, film ini baru buat kamu, enggak apa-apa juga, ajak seluruh anggota keluarga untuk duduk manis dan menonton film ini bersama.

So, happy watching! Mumpung masih anget di bioskop.

*

Keluarga Cemara
Tanggal rilis: 3 Januari 2019 (Indonesia)
Skor IMDB: 8,2/10

‘Bumblebee’ adalah film bioskop pertama yang saya tonton setelah ‘puasa nonton’ empat bulan lamanya. Untungnya, saya enggak asing lagi dengan karakter robotnya karena pernah menemani sepupu-sepupu kecil saya nonton di TV kabel beberapa tahun lalu. Entah itu film ‘Transformers’ seri ke berapa.

Oh ya lupa, bagi yang belum tahu, ‘Bumblebee’ atau ‘B-127’ itu robot berwarna kuning yang merupakan bagian dari Autobot, di mana Autobot adalah bagian dari ‘keluarga besar’ Transformers yang dikisahkan hidup di planet Saibertron. Ada dua kelompok besar yang tinggal di planet itu yaitu Autobot (dipimpin oleh Optimus Prime) dan Decepticons (dipimpin oleh Megatron).

Maaf ya, di bagian ini saya mulai menyerah menjelaskan karena ada berbagai jenis robot Transformers yang bisa berubah menjadi mobil. Sepertinya, saya lebih hafal silsilah keluarga Mickey Mouse daripada nama-nama robot Transformers ini.

Dibuka dengan kondisi chaos akibat perang antarrobot, banyak efek yang membuat saya kaget dan menutup mata (yes, pemirsa, saya orangnya kagetan). Saya enggak siap dengan adegan pembuka yang seperti itu. Film mulai berjalan smooth ketika masuk adegan di bumi yang menampilkan kehidupan seorang remaja perempuan di California dan tentara Amerika yang lagi latihan perang di hutan tahun 1987. Jadul-jadul gimana gitu.

Kehidupan si remaja perempuan yang digambarkan tidak bahagia menjadi bumbu dalam film. Betapa dia sangat tersiksa dan belum bisa berdamai dengan keluarga barunya, setelah ayahnya meninggal. Rebellion, khas anak muda. Kondisi ini diperparah dengan teman-temannya yang rajin mem-bully sepanjang waktu karena kondisinya yang ‘berbeda’ dari pergaulan anak kebanyakan. Tidak punya mobil, kerja paruh waktu, dan asyik sendiri dengan kegiatan permontiran yang maskulin.

Jujur, 114 menit film ‘Bumblebee’ ini justru mengingatkan saya pada film Lindsay Lohan berjudul ‘Herby Fully Loaded’ (2005) dan film animasi ‘Baymax’ a.k.a ‘Big Hero 6’ (2014). Jika kamu pernah nonton dua film itu, berasa juga kan? Mirip-mirip! Menurut saya, banyak adegan yang wajar, maksudnya ya kalau ketemu robot ya memang seperti itu. Apalagi adegan ‘klasik’ saat tokoh utama di ujung rasa frustasinya justru menemukan mobil bekas di tumpukan rongsokan yang akhirnya menjadi …, eh no spoiler deng! :p

‘Kalau robot bisa ngomong’ memang bukan topik andalan yang dibahas di film robot kebanyakan. Maklumlah, ya. Karena di film-film robot, robot memang sudah diatur sedemikian rupa untuk bisa ngomong dan berinteraksi dengan manusia. Justru, yang menarik adalah bagaimana hubungan manusia dengan robot-robot itu menjadi sedemikian emosionalnya. Sadar nggak sih? Mau dibuat bagaimanapun alur cerita film robot-manusia, mereka enggak pernah mengingkari adanya perasaan. Ya, sebut aja film ‘Bicentennial Man’ (1999) dan ‘Wall-E’ (2008).

Kalau kamu punya contoh film lain, boleh …

Dari saling menemukan, asing enggak kenal, pelan-pelan mulai berkomunikasi, berpetualang bersama, saling berkorban, bonding yang kuat, dan tiba saatnya berpisah. Manusia yang tercipta dengan ‘rasa’ mampu mengekspresikan semuanya: sedih, marah, kecewa, bahagia. Robot? Walau terdiri dari mesin dan kabel, nyatanya robot juga bisa mengenali ‘perasaan’ yang ‘dibawa’ manusia. Ini seperti menepis anggapan bahwa di era digitaliasasi, di mana robot dan Artificial Intelligence (AI) mendominasi, dunia semakin bermental mesin dan ‘enggak ramah’. Topik ini pernah menjadi bahasan di kelas saya saat membahas Digitalisasi dan Demokrasi beberapa waktu lalu.

Selain hubungan manusia-robot, film ini juga sarat nilai keluarga. Saya geli sendiri dengan ‘drama’ antara ibu-anak yang mirip saya di masa lalu. Ibu yang enggak sabar mendengar apa maunya anak, dan anak yang cenderung ingin maunya dituruti. Belum lagi, ayah tiri yang berusaha menarik perhatian anak-anaknya demi keharmonisan keluarga. Terlepas dari ‘drama’ antara ibu-anak yang sengit dan seakan enggak berujung, ada kejadian manis di mana saat si anak lari dari rumah diam-diam, si anak tetap teringat pesan sang Ibu untuk selalu menomorsatukan keamanan saat berkendara dengan mengggunakan helm 🙂

Bagi saya, ‘Bublebee’ adalah film keluarga dengan pendekatan sci-fic, action, sekaligus adventure yang menarik. Walau bukan penggemar Transformers, film ini lumayan menghibur dengan cuplikan-cuplikan musik, dari up beat sampai slow, terutama saat Bumblebee mencoba berkomunikasi.

So, happy watching!

*

Bumblebee
Tanggal rilis: 19 Desember 2018 (Indonesia)
Skor IMDB:7,4/10
Rotten Tomatoes: 94%

Target Blogging tahun 2019. Kalau ada efek blink-blink, pengen deh saya tambahin, biar lebih dramatis haha.

Setelah cukup ambisius melewati tantangan 30 hari ngeblog bareng Blogger Perempuan, saya rasanya kayak abis race 12 kilometer. Ngos-ngosan haha! Maksudnya, saya jadi lebih gercep ngetik dari sebelumnya. Urusan alur dan struktur yang berantakan, saya tinggal, bisa di-edit kemudian, pas tulisannya udah jadi dan siap tayang.

Soal cerita yang mau dipilih juga. Walau kadang masih stuck enggak ada ide, sekarang jadi lebih aware sama apa yang terjadi sama diri saya. Bahwa semuanya bisa ditulis lho, mau cerita yang udah lalu atau sekadar berkhayal. Dan lagi-lagi, ngeblog jadi semacam healing buat saya. Saya bisa duduk, buka laptop, dan diam sesaat, menstrukturkan apa yang sudah dan sedang terjadi pada diri saya. Itu saya lakukan perhari. Rasa-rasanya, sebelumnya, saya tenggelam dalam rutinitas, kerja – main – pulang – tidur – dan tetiba udah kerja lagi. Bayangkan! Ini jadi semacam ‘me time‘ dan ajang refleksi diri lewat tulisan.

Kalau ada yang lucu, saya bisa tertawa sendiri. Kalau ada yang nekat, saya meng-gila-gilakan diri saya dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Kalau soal masa depan, saya jadi lebih tahu diri. Maksudnya, khayalan saya jadi SMART: Specific, Measureable, Attainable, Relevant, Time. Hahaha, udah kayak aturan main bikin goal setting yang diajarin para coach/fasilitator.

Good Luck!

Enggak banyak ba bi bu deh. Target blogging tahun 2019 saya adalah … JENG-JENG!
Nulis pengalaman traveling atau program yang pernah saya ikuti.”

Jujur, ada beberapa tuh yang belum sempat saya tulis dan saya suka menyesal karena belum sempat saya tulis. Misal, ke Kamboja, Paris, Austria, Hambrug, Jerman, Malaysia, hmmm … baik soal traveling atau program beasiswa/fellowship/youth exchange yang saya ikuti. Dengan apa yang saya dapatkan selama ini, saya pengen mewujudkan rasa syukur saya dengan menulis di blog. Harapannya, sharing pengalaman saya lewat blog bisa bermanfaat untuk orang lain.

Foto-foto yang ada di handphone atau laptop tuh banyak. Kalau lagi selow dan lihat-lihat, bisa terkenang-kenang sendiri. Bisa sih sebenarnya diunggah di Instagram, tapi apalah arti foto dan Instagram ya? Nulis di sana terbatas untuk caption semata. Toh, mayoritas orang juga lebih suka lihat gambar daripada baca caption. So, selagi saya masih mengamini kalimatnya Pram: “Menulis adalah pekerjaan keabadian“, saya akan bulatkan tekad untuk di blog.

Duar, duar, duar *efek kembang api.

Sah? Sah!!

Kalau pas buka Safari, biasanya langsung muncul dashboard dan ‘Frequently Visitedsection. Bisa jadi, kalau ada orang yang nebeng browsing bisa langsung mendeteksi apa aja situs yang sering kita buka. Kok berasa jadi aib ya? Hahaha. Tenang aja, selama yang kita browsing enggak neko-neko *kedip genit.

Pernah tuh suatu kali, ada temen nebeng browsing. Pas dia buka Safari. Klik. Muncullah logo-logo situs toko yang sering saya buka. Kebetulan, saya lagi cari suatu model baju. Sebelum dia komentar, saya udah nyengir duluan. Maksud kode, harap maklum dan enggak usah banyak protes :p.

Tapi enggak cuma laptop pribadi juga deng. Komputer atau laptop di kantor juga demikian. Saking banyaknya file online di GDrive, yang muncul di dashboard adalah logo-logo file yang selama ini kita pakai. Bukannya aib, kalau ini mah malah memudahkan karena jadi gampang diakses.

Sumber: Canva

Buat full time officer dan part time blogger kayak saya, berikut lima situs yang rajin saya kunjungi:

Gmail.com
Berhubung email kantor dan email pribadi ada di Gmail, jadilah Gmail adalah situs yang saya kunjungi setiap hari. Wajarlah ya, email kantor isinya kerjaan, email pribadi isinya kerjaan juga email dari teman atau kolega.

Yahoo.com
Sejarahnya, dulu, bikin email Yahoo karena bisa chatting-an pakai Yahoo Messenger (YM). Duh, ketahuan banget kan saya generasi tahun berapa? Walau YM kini udah punah, saya tetep setia pakai fasilitas emailnya. Sayang-sayang euy, saya ada beberapa grup di Yahoo Groups. Selain itu, saya pakai email di Yahoo untuk sesuatu yang nonpersonal dan cenderung ke langganan Newsletter.

Youtube.com
Berhubung saya adalah anak kos, Youtube adalah teman setia ahaha. Saya ada sih TV, tapi malas betul merangkainya, belum bonus kesetrum pasang antene. Kalau lagi pengen nonton TV, biasanya saya streaming aja. Tapi lagi-lagi ya, Youtube ini menawarkan segala. Termasuk, kalau saya mau cari film kartun/animasi. Nggak perlu deh nongkrongin jam tayang kayak nonton TV. Tinggal ketik video apa yang ingin kita tonton.

Merriam-Webster.com
Seperti yang tertulis di deskripsinya, situs ini adalah American’s most-trusted online dictionary. Kalau lagi mau cari penjelasan suatu kata, saya tinggal ketik dan pilih mau dijelaskan secara harfiah (dictionary/kamus) atau padanan katanya (Thesaurus). Ini membantu banget kalau kita lagi mau nulis bahasa Inggris.

dan yang terakhir … tadda … Canva!
hahaha. Sebagai orang yang awam tentang dunia perdesainan, Canva ini membantu banget untuk bikin desain. Tinggal pilih dah, mau desain apa, ukuran berapa. Hasil akhirnya selalu memuaskan! Itu bagi saya ya. Buat temen-teman yang jago desain, mereka berkomentar miring, “Pakai Canva, ya?” Disindir begitu, saya hanya mampu tersipu malu ehehe.

Apa situs yang sering kamu kunjungi? Tulis di kolom komentar ya!

Happy browsing!

%d bloggers like this: