Archive for the 'Resensi' Category

Nonton Doraemon, Yuk!

StandByMe-Doraemon-poster

Walau sudah ditayangkan di bioskop sejak tanggal 10 Desember, saya bukanlah tipikal orang kebanyakan yang rela berjubel mengantri untuk bisa menonton film Doraemon terbaru, Stand by Me. Baru semalam, akhirnya, saya menonton di Cinemaxx FX Sudirman versi 2 Dimensi. Dengan Rp 45.000,00, ingatan saya kembali lagi ke masa kecil selama hampir satu setengah jam.

Ternyata, dugaan saya salah. Berharap sepi setelah sebelas hari dari jadwal rilis, film Doraemon Stand by Me masih menjadi primadona. Seat bioskop Doraemon, Stand by Me untuk jam 19.00 lumayan penuh. Tidak sekedar anak muda saja yang menonton, tetapi juga keluarga yang membawa anak-anaknya. Terbayang, kan, betapa riuhnya?

Tidak ada yang berubah drastis dari Doraemon, toh, hanya jenis animasinya saja yang sedikit berbeda. Dalam film Doraemon, Stand by Me, tokohnya, settingnya, semuanya sama dengan film kartun Doraemon yang ditayangkan di televisi setiap hari Minggu. Jadi, tidak dibutuhkan adaptasi ekstra untuk menonton filmnya.

Seperti film Doraemon biasanya, adegan demi adegan berjalan tanpa Nobita tidak minta tolong dengan Doraemon. Hihi, selalu begitu, kan, ya? Minta ini, minta itu, semuanya. Terlebih saat Nobita tahu, di masa depan, ia akan menikah dengan Jaiko, adik Big G. Saking shock-nya, Nobita berusaha mengubah takdirnya dan menjadi menikah dengan Shizuka.

Di sinilah, kemudian, cerita berkembang. Diceritakan bagaimana Nobita jatuh bangun berusaha agar di masa depan menikah dengan Shizuka. Saya tidak menyangka cerita Doraemon akan menjadi seperti ini. Bagi saya, kehidupan Sekolah Dasar ala Nobita terlalu pelik untuk memikirkan soal pernikahan. Masa-masa yang seharusnya dihabiskan dengan belajar dan bermain bersama teman-teman yang menyenangkan menjadi sedemikian kompleks ketika dihadapkan pada pernikahan di masa depan.

Untungnya, kekecewaan saya segera terobati. Selain soal pernikahan Nobita di masa depan, film Doraemon Stand by Me juga dihiasi oleh manisnya persahabatan antara Doraemon dan Nobita. Persahabatan Doraemon dan Nobita ditandai dengan mudahnya mereka akrab saat pertama kali berkenalan. Nah, inilah bagian favorit saya (\^^/).

Persahabatan Doraemon dan Nobita semakin mengharu biru saat akhirnya mereka harus berpisah. Kehadiran Doraemon memang diprogramkan hanya untuk membantu Nobita dan ketika Nobita bisa bahagia, Doraemon harus kembali. Hmm, lucu, ya? Karena pada dasarnya, sahabat akan ada di saat suka dan duka.

Apakah Doraemon akan kembali ke masa depan dan meninggalkan Nobita? Apakah Nobita bisa menjalani hari-harinya tanpa kehadiran Doraemon? Silakan disimpan rasa penasarannya. Tonton sendiri, ya! Hihi…

La la la, aku sayang sekali… Doraemon!

Catatan tambahan:
– Untuk orang tua: jika menonton dengan anak-anak, sebaiknya didampingi. Selain itu, ajak anak untuk menceritakan kembali film Doraemon yang ditontonnya.
– Untuk anak muda: enggak ada salahnya nostalgia nonton Doraemon =p.

Gambar poster film Doraemon, Stand by Me

*Closing credit, thanks to Ade.

Kasih Ibu Dalam Buku

Ibuk

Judul : Ibuk, Sebuah Novel

Pengarang : Iwan Setyawan

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun : Juni 2012 (cetakan I)

Tebal : 312 halaman

 

Kasih ibu, kepada beta,

Tak terhingga, sepanjang masa,

Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai sang surya, menyinari dunia…

(Kasih Ibu, karya S.M. Mochtar.)

 
Lirik di atas diambil dari lagu ‘Kasih Ibu’ karya S.M. Mochtar. Lagu itu pertama kali diajarkan guru TK saya saat saya TK. Kalau diingat-ingat, selain ijazah TK, guru TK saya juga mewariskan berbagai lagu anak  yang sarat nilai-nilai kehidupan. Mulai dari masuk kelas sampai kelas berakhir, semua ada lagunya. Sayangnya, lagu-lagu itu mulai terlupa seiring saya dewasa. Kini, hanya beberapa lagu saja yang masih nyantol dalam ingatan saya. Salah satunya lagu ‘Kasih Ibu’ yang liriknya saya tulis di atas.

Lagu itu tiba-tiba hadir kembali dalam memori saya setelah sore ini saya berhasil menyelesaikan satu buku karya Iwan Setyawan berjudul, ‘Ibuk’.

Novel setebal 312 halaman itu berhasil saya baca dalam waktu satu bulan. Sungguh, bagi seorang yang hobi membaca, satu bulan untuk menyelesaikan sebuah novel bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan. Bagi saya, membaca novel ’Ibuk,’ membutuhkan kekuatan yang luar biasa karena novel ini menceritakan seorang perempuan yang luar biasa pula. Butuh suasana hati yang sedemikian rupa sehingga kita tak hanya akan sekedar membaca kalimat demi kalimat, tetapi juga berhasil hanyut dalam kesabaran dan ketabahan seorang perempuan. Di situlah, pembaca akan mendapatkan ‘rasa’-nya tersendiri, bahwa kekuatan seorang perempuan terletak pada kesabaran dan ketabahannya dalam menghadapi situasi-situasi yang sulit bagi dirinya.

Uniknya, tak ada satupun teori feminisme yang muncul dalam novel ini. Tapi, kuatnya kekuatan seorang perempuan bisa dirasakan lewat kodratnya bahwa hakikatnya mereka adalah ibu. Iwan Setyawan berhasil menyuguhkannya tanpa didramatisir. Semuanya mengalir melalui cerita demi cerita. Saya yakin,hal itu hanya bisa dilakukan karena kecintaan seorang anak pada ibunya. Ya, betapa cintanya Iwan Setyawan terhadap ibunya.

Sosok ibu dalam novel ‘Ibuk’ adalah seorang perempuan yang sangat percaya bahwa sekolah dan menjadi anak pandai adalah jalan untuk keluar dari kemiskinan yang membelenggu keluarganya. Ibuk merelakan dirinya tidak ‘penuh’ di bangku pendidikan tetapi ia tidak rela dan akan melakukan segala cara agar anaknya bisa tetap bersekolah. Bagi ibuk, kemiskinan bukan alasan. Beranak banyak pun semuanya harus tetap sekolah.

Terharu saya dibuatnya dengan cerita-cerita tentang bagaimana ibuk harus menyisihkan uang belanja yang tak seberapa, menjadi koki handal di dapur dengan bahan makanan seadanya, mengatur porsi makan seadil mungkin untuk keluarganya, melakukan pekerjaan rumah tangga dengan sangat rapi, menjadi pendengar yang baik untuk suaminya, menenangkan rengekan lima anaknya setiap tahun ajaran baru sekolah dimulai, menjadi negosiator ulung ketika berhadapan tukang sayur, tukang kredit, dan guru sekolah. Entah, predikat apa yang pantas kita berikan kepada ibuk. Ibuk berhasil menjalankan perannya dengan sangat sempurna.

Uripmu cek gak soro koyok aku, Nduk! Aku gak lulus SD. Gak iso opo-opo, mek iso masak tok. Ojo koyok aku yo, Nduk! Cukup aku ae sing gak sekolah. (Ibuk, hal. 73)

Saya perempuan dan belum menikah. Semula, saya memutuskan untuk membaca novel ‘Ibuk’ karena saya kangen mama saya yang ada di Yogyakarta. Sedikit terobati memang dengan membaca novel ‘Ibuk.’ Selain itu, novel ini berhasil menginspirasi saya untuk menjadi seorang ibu yang terbaik untuk anak-anak saya kelak. Memang, tak ada standar yang bisa diukur untuk menentukan bagaimana ibu yang terbaik itu. Tetapi saya yakin, setiap perempuan, pasti punya ‘timbangan’ yang bisa mengukurnya dalam hatinya masing-masing.

 

Gambar diambil dari Goodreads : http://www.goodreads.com/book/show/14624906-ibuk


My blog!

"Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, sambunglah dengan tulisan..."
(Pramoedya Ananta Toer)

My name is Hety!

Follow mynameishety on WordPress.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,938 other followers

%d bloggers like this: