Rem

Bahwa rem itu diciptakan untuk menahan sesuatu. Sudah dari sananya, manusia dikaruniai rem seumur hidupnya. Layaknya sesuatu yang beroda, agar tetap pada jalurnya. Bahkan, untuk mimpinya pun, manusia bisa menggunakan remnya. Sesuatu yang sangat diinginkan bisa dalam sekejap dilepaskan… Rem??

Ceritanya, saya pernah naksir sepatu. Open toe, warna kalem yang pastinya masuk dalam daftar ‘must have item’ fashionista penggemar sepatu. Bagi kamu yang belum paham dunia persepatuan, let me explain. Open toe itu adalah salah satu jenis sepatu di mana bagian depannya terbuka. Beberapa jemari kaki akan terlihat di bagian itu. Selain memang lagi nge-hits, open toe warna kalem dapat dipadu-padankan dengan busana apa saja, celana-rok, formal-casual, all. Nah, saking istimewanya, yang harus kamu lakukan kemudian adalah… memilikinya!

Yes! Sounds so simple, right? Tapi bukan hidup namanya kalau nggak ada cobaannya…

Saya belum berjodoh dengan open toe itu. Padahal sudah ‘love at the first sight‘ saat saya jalan-jalan ke sebuah mall. Sebenarnya, mimpi saya untuk memiliki sepatu itu tercapai kalau saja si mas-mas SPG tidak berkata demikian, “Untuk warna krem-nya, ukuran 39 habis. Tinggal 40!”

Kretek-kretek, mirip suara gelas kaca retak. Broken heart.

Jangan ditanya, apakah saya menyerah?

Setiap gerai sepatu yang saya kunjungi, saya selalu mencari sepatu dengan kriteria itu, open toe warna kalem, dan size 39. Sayangnya, belum ada yang pas dengan berbagai alasan dan tidak sesuai dengan open toe yang saya impikan. Ya, heels yang terlalu tinggi, warna mencolok, harga yang berlipat dari harga sepatu yang saya impikan semula, pokoknya ada saja alasan. Bagi saya, semua ini adalah ujian kesetiaan terhadap si sepatu. Godaannya juga ada. Misal, saat akan solat di sebuah musholla di mall, sepatu itu berdiri cantik di rak sepatu di samping tempat berwudu. Sumpah, hati saya bergetar, tidak untuk mencuri (buseet, nggak segitunya, ye!) atau bahkan hendak diam-diam mencoba. Tidak! Tidak ada sama sekali niatan seperti itu dalam hati saya. Saya justru semakin yakin sepatu itu memang bagus dan harus segera dimiliki karena terbukti banyak yang punya.

Singkat cerita, di ‘kunjungan’ ke gerai sepatu yang kesekian kalinya, sepatu itu ada! Ya, ada! Open toe warna krem size 39 idaman. Dengan semangat 45, saya mencoba sepatu itu dan pas! Tapi …

Oh, kelingking saya, oh! Kelingking saya nampak tidak ‘cantik’ di open toe itu. Agak terdesak, iya. Saat saya mencoba berjalan pun, telapak kaki bagian depan mengindikasikan ketidaknyamanan. Oh, jadi, inikah hasil perjuangan dan kesetiaan saya pada si sepatu. “Maaf, tidak jadi. Ternyata nggak nyaman di kaki saya.

Berjalan ke luar dari gerai sepatu, saya hanya melongo sambil bermonolog dengan diri saya sendiri. Separuh mempertanyakan, separuh membela habis-habisan. Walaupun saya seorang shopper, saya tipikal tidak mau ‘menggadaikan’ kenyamanan dengan tampilan atas nama fashionista. Kalau memang dari awal saya tidak nyaman dengan sebuah produk, saya tidak akan ‘mata buta’ membelinya. Fiuh, akhirnya saya lega, sepatu itu memang bukan untuk saya.

Perjuangan dan kesetiaan selama ini memang saya nikmati, tapi kalau memang pada akhirnya, tidak, ya memang tidak … Bukan begitu??

Lain Sepatu, Lain Beasiswa, Hikmah Sama!

Saya seorang oportunis. Eits, tunggu sebentar! Oportunis yang bagaimana dulu nih? Saya suka dengan kesempatan, terutama kesempatan untuk mengikuti suatu program beasiswa. Prinsip saya (khususnya saat umur 25 kemarin, ternyata banyak program yang batas umurnya 25 tahun. Halo, apa kabar 26? Hiks), selagi umur masuk, resume ada, syarat sesuai, kenapa kita tidak manfaatkan kesempatan yang ada? Tinggal kemauan saja, kok! Bahkan saya punya ‘teori’ saya sendiri tentang ini, “Kadang, saat berhadapan dengan kesempatan, sebenarnya bukan diri kita yang bermasalah dengan persyaratan yang diberikan, melainkan kemauan kita untuk mengusahakan semuanya.” Zalam zuper, hihihi

Ya, kemarin saya ‘sempat’ mengikuti seleksi suatu program pertukaran. Bayangkan ya, saya sudah mengincar program itu sejak saya masih mahasiswa, ingiiiiiiin sekali. Saya menginginkannya. Saya memimpikannya. Saya ngidam!

Akhirnya, saya mendaftarkan diri, saya lengkapi berkas, dan mengisi aplikasi. Semuanya lengkap. Suatu kebetulan saat itu adalah libur pemilu, jadi saya bisa mengantarkan berkas sendiri ke Jogja sesuai persyaratan. Beberapa hari kemudian, saat sudah kembali ke Jakarta, saya dinyatakan lolos untuk seleksi berkas. Tahap lanjutan yang harus saya lalui adalah interview. Jika semula saya terselamatkan dengan libur nasional pemilu, maka kali ini, untuk tahap interview di Jogja, saya kehabisan tiket untuk ke Jogja. Ya, saya ulangi lagi, saya kehabisan tiket.

Halo, apa kabar mimpi?

Seketika, dua hari jelang interview, tepat setelah pengumuman via online, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Skenario semula, saya booking tiket dan saya mengikuti seleksi interview di Jogja. Tapi nyatanya?? Apakah ada yang ‘tidak beres’ dengan mimpi saya??

Saya bimbung (bimbang dan bingung). Apa lagi yang harus saya korbankan?

Seorang teman yang cukup ‘mengerti’ bahwa saya adalah orang yang tidak bisa diam dengan yang namanya kesempatan, mencoba memberi saran via whatsapp:
Gini deh. Sambil makan siang, coba lu bikin kopi atau teh anget.
Sambil disruput dikit-dikit, ambil kertas sama pensil terus bikin 12 kotak.
Di usia yang baru ini, dalam setahun ke depan kegiatanku apa aja ya? Atau yang ingin kulakuin
Misal: Juni bikin SabangMerauke
Agustus, semangat JAI, dst
Nah, coba lu isi setiap kotaknya. Nanti lu bakal tau alur kegiatan lu dan apakah lu bener-bener menginginkannya atau cuma sekedar iseng aja.
Insha Allah, dalam setahun ke depan, semua keinginan lu bisa terwujud
Thats my wish
:D”

Ada yang tidak beres dengan mimpi saya. Apa lagi yang harus saya korbankan??

Hari itu, saya memang tidak membuat kotak seperti saran teman saya. Tangan saya kaku, mungkin wujud perlawanan terhadap saran teman saya yang memang benar. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya saya memilih mengalah. Saya memilih mengalah di saat saya menginginkan suatu hal yang memang ingin saya upayakan. Adakah yang salah? Pada akhirnya diri saya mencoba bermonolog.

Saya tidak merengek melepas mimpi saya, saya bahagia melepas mimpi saya, saya lega. Lucu, ya?

Mimpi ini saya lepas ke atas,
Saya serahkan kepada yang punya segala,
Ini hanyalah proses serah terima,
Di atas sana, Tuhan sedang menukar mimpi saya,
Tunggu ya, tanggal mainnya, begitu kata-Nya…

Rem
Si Sepatu dan Si Beasiswa, saya tidak pernah tahu mereka berkenalan di mana. Numpang bilang ‘permisi’ sama saya saja nggak. Uniknya, mereka mencoba memberikan pelajaran yang sama. Pelajaran untuk menjadi rem. Pelajaran untuk ‘mereda’. Pelajaran untuk tidak terlalu ngotot. Pelajaran untuk fokus dan tidak multitasking seperti badut atraksi bola sambil main sepeda. Bisa jadi, kemarin, saya ‘sedang’ tidak mempan diingatkan manusia, sesama yang hidup. Akhirnya, saya diingatkan melalui benda mati kesukaan saya. Ya, itu tadi, Si Sepatu dan Si Beasiswa.

Sudah ah, semoga yang membaca (kalau ada) tersenyum juga seperti saat saya mengakhiri cerita ini. Senyum bijak, senyum lebar.

Sembilan April

Cerita kali ini disponsori oleh ulang tahun saya yang jatuh tepat saat pemilu legislatif beberapa hari yang lalu. Ucapan selamat panjang umur dan WYATB datang dalam berbagai versi dari teman-teman yang menyadari hari itu adalah ulang tahun saya (Ya, iyyalah, kalau mereka nggak sadar, mana mungkin mereka mau repot-repot ngucapin hee…)

Birthday = Holiday
Banyak hal yang saya syukuri pada ulang tahun saya ke-26 kali ini. Diberi umur panjang dan masih bisa bernapas sehat itu tak terkira. Dikeliling keluarga dan teman-teman hebat, karir, pengalaman, pencapaian, keberanian, kenekatan… semuanya istimewa. Dua puluh enam tahun hidup di dunia, sampai sekarang, … oh, God! (Ups! Okey, sesi curhat will be on the other story)

Selain itu, bersyukurnya kali ini adalah ulang tahun saya bertepatan dengan hari pemilu legislatif, di mana disepakati sebagai hari libur nasional atau tanggal merah. Yeay! (Girang banget!) Berbekal izin dari kantor untuk ‘meliburkan diri’ lebih awal di hari Selasa, jadilah saya mengantongi dua hari untuk pulang ke Jogja, Selasa dan Rabu. Yes, Lumayan!

Awalnya Terasa Aneh
Saat di media marak diberitakan bahwa banyak pendatang di ibukota yang akan golput karena tidak bisa mencoblos di Jakarta, saya justru menjadi orang yang ‘melenggang kangkung’ pulang ke Jogja.

Hei, serius, kamu pulang hanya untuk mencoblos pemilu? Hanya untuk mencoblos??

Okey, agar tidak terlalu aneh, anggap saja itu bakti perdana saya pada Republik ini di usia ke-26, menjadi warga negara yang baik. Apakah masih terasa aneh? Okey, alasan kedua kepulangan, saya ingin berulang tahun di Jogja. Maaf, dilarang iri, ya, berulang tahun saat pemilu, saat libur nasional.

Tiga Belas Kali Dua
Ulang tahun ke-26 berkesan mendalam. Saya masih ingat, di ulang tahun ke-25 tahun lalu, saya masih ‘sempat’ ditanya oleh kedua orang tua saya, “Mau kado apa?” Kalau sekarang?? (Hening)

Tidak ada black forest, tidak ada confetti. Balon, apalagi. Saya tidak protes. Di Jogja, hanya ada papa dan mama. Tapi please, jangan bayangkan saya anak tunggal yang hari itu dikelilingi puluhan kado warna-warni, “Pilih yang kamu suka, sayang?”

Tidak, tidak, bukan seperti itu.

Ucapan selamat ulang tahun dan doa dari kedua orang tua memang tak tergantikan tapi kalau selanjutnya ditodong pertanyaan yang menjurus pada lima kata berawal ‘N’ dan berakhir huruf ‘H’, saya tak kuasa.

Saya mirip anak SD yang baru kemarin belajar angka dan tiba-tiba keesokan harinya mencongak perkalian.

Adek segera tentukan target, ya? Mau kapan? 27, 28, 29? Pokoknya sebelum 30!”

Glek! Saya menelan ludah. Sama sekali tak mengobati rasa haus, meredakan rasa kaget, mungkin iya.

Tidak ada black forest, tidak ada confetti. Balon, apalagi. Saya tidak protes. Di antara diam saya, saya merasa angka dua puluh enam raksasa sedang menertawakan saya. Puassss sekali, di ujung sana…

Age is only important if u are a cheese.
And if u are a cheese, u will be very expensive by today!”
(said my colleague)

So, happy birthday to u, dear Hety Apriliastuti Nurcahyarini! :D

Saya nggak ngiklan JNE. Ini kejutan dari jauh, eh dari sahabat saya di Bali yang sukses mendarat di meja kantor pada 10 April.

Saya nggak ngiklan JNE. Ini kejutan dari jauh, eh dari sahabat saya di Bali yang sukses mendarat di meja kantor pada 10 April.

Just Do It

Mari kita berbicara tentang kesempatan. Kesempatan yang baik untuk membuat kita melakukan hal positif yang bermanfaat bagi orang lain.

Bagaimana kalimat saya di atas?

Sayangnya, hidup kita tidak semudah saat kita mengucapkan kalimat di atas. Hidup kita dipenuhi oleh pilihan-pilihan. Kita tidak tahu apa ‘ujung’ dari pilihan-pilihan itu. Sampai kapan kita hidup pun, kita tidak tahu.

Lalu??

Mari belajar pada kesempatan.

Menulis ini pun saya belajar pada kesempatan. Merasa iri dengan beberapa orang yang berhasil dengan ‘one day one article‘-nya, saya hanya berpikir, kalau saya tidak memaksa jari-jari ini menari di keyboards laptop, mau kapan mulai menulis? Hanya stuck di ‘iri’? Big no!

Saya pun memanfaatkan kesempatan malam ini, mumpung belum mengantuk, untuk menulis :D

Lakukan apa yang kita bisa lakukan sekarang. Semuanya berasal dari diri kita sendiri. Menakhlukkan rasa malas memang seperti menakhlukkan hewan buas. Siapa rasa malasnya? Diri kita sendiri. Siapa hewan buasnya? Diri kita sendiri. Siapa pawangnya? Diri kita sendiri. Jadi, mari kita berdamai dengan rasa malas kita.

Oh ya, saya berhasil menemukan beberapa alasan mengapa kita harus segera melakukan. Kata orang, kesempatan itu seperti angin. Kita tidak tahu/sadar datangnya kapan. Tiba-tiba, wuuush.. sudah pergi begitu saja.

Tak Ada yang Salah untuk Melakukan

Old people say : Mumpung Masih Muda (3M)
Prinsip 3 M ini bisa menjadi sebuah alasan, tapi juga bisa menjadi sebuah pembenaran, hati-hati. Mumpung masih muda, cobalah kesempatan untuk mengikuti organisasi/komunitas dan berkenalan dengan banyak orang. Bukan, mumpung masih muda, yuk kita habiskan uang tanpa ada jatah untuk tabungan.

Done better than perfect
Saya tidak ingat di mana saya menemukan kalimat ini tapi kala itu, saking tertohoknya (jleb!) saya ingat terus sampai sekarang. Ini peringatan halus untuk diri saya sendiri, sebenarnya hehe. Bagi beberapa orang yang mengenal dekat saya, pasti tahu jika saya adalah sosok perfeksionis, pecinta dan pemerhati hal detail.

Saya diingatkan oleh mentor saya. Jangan sampai hal-hal yang bersifat detail, operasional, dan rutin menjadi penghalang kita untuk tidak segera melakukan sesuatu, yang bisa ditebak, ujung-ujungnya gagal.

Jadi, kesimpulannya, kerjakan segera, sekarang, sesuai kemampuan kita. Sederhana, mudah, tidak apa-apa. Toh, sejak SD saja, kita selalu diminta untuk mengerjakan soal ujian dari yang mudah dahulu, bukan? hehe

Back to basic doesn’t mean u re failed of something, it means u have to start something smarter than before
Jangan takut mundur sejenak, kembali ke dasar, kembali ke awal. Terkadang, ketika kita sudah melangkah dan ‘tersesat’ untuk langkah selanjutnya, kita cenderung untuk berhenti dan menyerah. Seolah berhenti dan menyerah adalah solusi. Padahal, kita bisa kembali ke awal saat kita melangkah. Siapa tahu kan, ada kesempatan yang membuat kita ‘melesat’ lebih jauh..

Now or never
Now or never mirip album Nick Carter tahun 2000-an. Saya yakin, saat itu, pilihan bagi Nick Carter adalah mencoba bersolo karir dan mengeluarkan album sekarang atau tidak mencoba sama sekali dan hanya berkiprah di Back Street Boys.

Now or never. Hampir sama dengan kasus kita. Lakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang atau tidak sama sekali dan akan menjadi beban tugas yang menumpuk.

Ok, setelah membaca tulisan ini, yuk kita mulai membuat Things To Do List dan lakukan sekarang, ya, lakukan!
1. ….
2. ….
3. ….

‘K’ untuk kesempatan, ‘L’ untuk lakukan, ‘S’ untuk sekarang :D

Diary, Si Wadah Emosi

Marah dan mengeluh itu beda tipis. Saat kita marah, yang keluar dari mulut kita adalah beban yang selama ini kita pendam (baca: keluhan). Ini, itu, dia, mereka, semuanya. Bahkan, kita juga sering marah atas diri kita sendiri.

Secara lisan, kemarahan dan keluhan itu bisa seperti konferensi pers 30 menit tanpa henti. Apalagi kalau bertemu dengan seorang teman yang bergelar ‘tempat curhat ternyaman,’ percaya deh, 30 menit tak akan cukup.

Marah memang tidak dianjurkan dalam agama. Saat marah, kita diminta untuk meredamnya dengan berwudlu sampai mandi. Intinya, agar kemarahan, yang sering dilambangkan di animasi dengan api, petir, mendung, dan asap, bisa padam seketika.

Walaupun demikian, tidak berarti kita semua tidak boleh marah sama sekali. Marah tidak dianjurkan karena marah mengandung energi yang biasanya berujung pada hal yang negatif. Hal ini bisa terjadi karena kontrol emosi yang lemah.

Lalu, bagaimana caranya untuk marah tapi tetap ‘elegan’? Cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan menyingkir sejenak dari tempat atau suasana yang membuat kita marah untuk mengambil napas dan mengalihkan perhatian. Ujung-ujungnya, marah itu mirip sampah, jangan dibuang sembarangan, buanglah di tempatnya =b.

Seorang senior saya mengaku, saat meeting, terjadi adu argumen dan marah, beliau langsung pergi ke toilet dan melampiaskan kemarahannya di sana. Dari mulai ngomel sendiri di depan kaca sampai cuci muka berulang kali. Baru setelah lega, beliau kembali lagi ke ruang meeting dengan cool-nya, seolah tidak terjadi apa-apa. Unik, ya?

Anyway

Saya yakin, ini bukan penemuan baru. Saya bukan seorang psikolog juga. Saya mengalaminya sendiri dan menarik untuk dibagikan.

Ketika kita marah, menulislah. Menulislah apa yang ada di kepala. Tuangkan semuanya. Keluhan, kekecewaan, semuanya boleh. Menulis dengan apa pun tak masalah, kertas dan pensil atau laptop/komputer.

Marah yang sarat energi dan tak terkendali itu, pelan-pelan kita salurkan energinya untuk menggerakkan pensil atau mengetik di keyboard laptop/komputer. Percayalah, ini sangat efektif. Syaratnya hanya satu, tidak boleh ditahan. Tuangkan semua yang ada di kepala. Mudah, bukan? Lalu, angkat dan tiriskan (eh, jadi acara masak! =b).

Beberapa hari yang lalu, saya bernostalgia dengan diary saya saat SD yang bergambar Hello Kitty. Jangan tanya kenapa saya masih awet menyimpannya. Bukan berarti saya belum move on, lho! Bagi saya, diary ‘jadul’ itu ajaib. Di setiap lembar yang saya baca, saya bisa tertawa. Oh, my god! How stupid I am! Pipi saya memerah mirip kue nastar lebaran yang sudah matang dari panggangan.

Si Diary, Hello Kitty

Si Diary, Hello Kitty

Sensasinya ajaib. Peristiwa yang saya tuliskan memang sudah berlangsung lama (bayangkan, SD!!) tapi saya masih bisa merasakan emosi yang saya rasakan saat itu. Walau tentunya, nggak 100% emosi yang sama. Suasana itu bisa terbangun karena saya membaca tulisan tangan saya sendiri. Ada yang rapi, ada yang lurus, ada yang miring-miring (pasti ditulis sambil tiduran, kenang saya), ada yang hurufnya seperti cacing disko dengan bekas bercak air (kalau ini lagi sedih berat pasti, hiks), dan ada pula yang besar-besar, lancip-lancip karena saat menuliskannya saya sedang marah.

Jadi, sekali lagi, tak ada ruginya saat marah kamu menulis. Kalau tidak, emosi apapun, deh! Senang, sedih, galau, marah, kecewa, salurkan dengan menulis. Selain sebagai media penyaluran emosi seperti yang saya ceritakan di atas, hasil tulisan yang kamu buat bisa menjadi ‘The Funniest Book of The Year‘ hihi

Fun Facts about Hety’s Diary!
1. Pernah dibaca mama!
Sekali lagi saya ulangi, pernah dibaca mama! Jangan ditanya rasanya. Berhubung saya tipikal anak yang ‘jarang curhat’ ke orang tua, duh, ampun-ampun rasanya. Kala itu, saya protes ke papa. Gara-gara itu, untuk kali pertama, saya bicara tentang ‘privasi’ kepada orang tua, yang biasanya kata itu hanya saya dengar di infotainment saja.

2. Punya berbagai jenis diary
Tanya deh, dari Diary imut bergambar Hello Kitty, buku tulis biasa yang diberi sampul kertas kado dan saya ikrarkan sebagai diary, organizer mini, binder yang berisi loose leaf, … dan lain-lain

3. Bakat gambar terasah
Kalau sudah capek menulis menggambarkan suasana (i love detail, actually), biasanya saya langsung menggambar. Yah, diary-nya jadi mirip sketsa reka ulang kejadian atau komik strip. Oh ya, biasanya, kalau menggambar, saya paling takut membuat goresan dengan pulpen/spidol langsung. Alasannya sepele, takut tidak bisa dihapus. Nah, di diary ini, entah kenapa saya bisa lancar sekali menggambar dengan pulpen. Magic!

Mahakarya, si Hety versi SMA (belum pakai hijab)

Mahakarya, si Hety versi SMA (belum pakai hijab)

Eng, the last but not least, jangan bilang, setelah ini, kamu jadi pengen baca diary saya, ya! Kabuuuuuuuuurrrr… ~~~~~~~~~~~~~~~\(’0′)/

God’s Plan On My Long Weekend

Kalender meja sebuah bank swasta tiga huruf nangkring manis di meja kerja saya. Manisnya bertambah karena di bulan Januari, ada satu Jumat yang merah. Ya, merah! Radar saya memang kuat sekali mendeteksi tanggal merah. Di penghujung bulan Desember, saat menerima kalender meja itu, radar saya langsung berbunyi “beep, beep, beep …”

Yes, call me Hety, si weekend lover. Long weekend apalagi.

Mencintai akhir pekan (re: weekend lover), apalagi akhir pekan yang panjang, itu bukan karena saya punya sejuta rencana, berlibur apalagi. Saya suka saja, tanpa syarat. Sama seperti kalau kamu menyukai seseorang dan bingung harus menjawab apa ketika ditanya, “Mengapa kamu bisa suka dia?”. Nah, sama saja kan? Kamu suka dia, saya suka akhir pekan.

Bagi yang berlibur, tiket long weekend itu susah didapatkan. Mahal pula. Butuh perjuangan untuk memesan. Paling tidak, harus satu bulan sebelumnya. Apalagi ke destinasi-destinasi favorit. Khusus, penggemar kereta, tiket kereta api bisa didapatkan H-90 dari waktu keberangkatan. Jadi, kebayang kan, H-90 memesan tiket demi keberangkatan saat long weekend. Eh, kenapa saya jadi banyak bicara soal liburan, ya??

Makanya, saya takjub dengan mama yang bisa mendapatkan tiket untuk berangkat ke Jakarta Kamis dan kembali lagi ke Jogja hari Senin. Tebakan saya, itu kepergian terencana. Ya, terencana.Bagaimana tidak terencana kalau dua anak gadisnya sudah tidak pulang ke Jogja sejak lebaran? Haha, itu rencana semula.

Tapi, pertengahan Januari kemarin, saat Tante saya meninggal di Jogja, saya dan kakak saya langsung pulang ke Jogja tanpa babibu lagi. Saat itu, mama hanya bertanya, “Tiket mama ke Jakarta, apa dibatalin saja? Kalian toh ke Jogja?” Benar, kan? Mama sudah merencanakannya.

Singkat cerita, mama tetap ke Jakarta. Kamis sore, sekitar pukul lima, tiba di Jakarta. Sesaat bingung, mama menginap di tempat saya, atau tempat kakak saya. Sama-sama Jakarta Selatan sih, tapi tahu sama tahu Jakarta itu seperti apa. Dekat pun terasa jauh, waktu habis ‘dimakan’ macet yang selalu dikutuki orang-orang.

Sepertinya, ini skenario Tuhan. Sudah diatur sedemikian rupa, mama saya akhirnya menginap di tempat kakak saya dan saya pun menginap di sana juga. Kami sempat makan nasi padang bersama. Moment yang langka sekali, kami bertiga bisa candle light dinner walau hanya di rumah makan padang dengan hiasan lilin untuk mengusir lalat. So sweet, kan?

Lagi-lagi, ini skenario Tuhan. Malam-malam, kakak saya mengadu sakit perut luar biasa. Sampai subuh tiba pun kondisinya masih sama. Akhirnya, saya dan mama membawa kakak ke tempat kerjanya, Siloam. Ya, kakak saya memang bekerja di rumah sakit. Jadi, tak perlu ambil pusing mau dibawa ke rumah sakit mana.

Kakak saya harus menginap. Kakak saya harus operasi. Deg!

Lagi-lagi, dan lagi ini skenario Tuhan. Operasi kemarin Sabtu berjalan lancar. Kakak saya masih rawat inap. Mama dan saya berjaga bergantian.

Inilah cerita saya long weekend kali ini. Saya tak punya rencana, tapi ternyata Tuhan sudah merencanakan cara saya menghabiskan long weekend, yaitu di rumah sakit bersama mama dan kakak.

Apa cerita long weekend kamu?

Selamat Senin. Semoga harimu menyenangkan.
(*Tidak merasa terlambat kan untuk mengucapkan ini di jam 3 sore?)

PS.
Catatan penting long weekend yang akan mengubah hidup saya:
1. Saya akan pindah. Saya dan kakak akan tinggal bersama. Salah satu dari kami harus mengalah. Kalimat yang tidak bisa terbantahkan lagi adalah “Kalau nanti ada apa-apa, gimana?”
2. Walau saya sudah bertemu ombak ganas Laut Jawa, terombang ambing sekian jam tanpa sinyal di Laut Jawa, naik kendaraan dengan medan daratan yang ekstreem, terjebak di kegelapan hutan, naik metromini yang supirnya ngebut gila, dan sebagainya, tetap saja saya masih seorang gadis kecil di hadapan orang tua saya.
3. Ternyata mama masih ‘gemes’ tidak diberitahu saat saya sakit tipus di Bogor (saat training 2 bulan Indonesia Mengajar). Saya akui, saya memang yang bandel. Dalih saya, saya tidak mau membuat cemas orang tua. Bersyukur sekali, saya dikelilingi teman-teman yang baik yang setia merawat saya. Ini hanya sedikit pembuktiaan, “Mama, Hety’ll be oke.” *nyengir kuda*
4. Entah, masih saya pikirkan.

Freshgrad Version

Halo? Jumat sore selalu terasa ‘menjanjikan’ bagi seorang karyawan dengan predikat 5 hari kerja. Merdeka! Mau pergi kemana, jam berapa, sama siapa, sejuta rencana walau sesungguhnya tetap saja hari Jumat itu 24 jam dan baru berasa merdeka selepas pulang kerja.

Oke, sudah cukup curcol-nya. Itu bukan arah saya bercerita =b.

Pagi ini, penghuni kos Haji Shidiq bertambah satu. Actually, it was not big news. Biasa aja. Teman-teman saya yang lain juga sudah biasa membawa temannya untuk menginap. Syaratnya cuma satu, kamu perempuan karena kos saya adalah kos perempuan.

Dengan modal muka bantal, setelah membuka pintu kamar, ada seorang perempuan asing yang duduk di ruang tamu menghadap TV yang tak dinyalakan.

Adiknya Dita, mbak. Udah kenalan belum, mbak? Dia mau kerja di Jakarta. Kenalan dulu sana?” kata teman kos saya yang saat itu sedang menyetrika baju.

Isyarat kenalan itu berarti saya harus mendekat dan mengajak berjabat tangan seraya menyebutkan nama. Sungguh kontras. Saya yang masih muka bantal dengan perut keroncongan bersalaman dengan perempuan yang sudah cuci muka dan nampak kenyang sarapan.

Hety,” kata saya sambil berjabat tangan.

Saya jadi ingat Hety versi fresh graduate beberapa tahun yang lalu. Datang ke Jakarta, dalam rangka tes kerja. Saat itu, kos kakak saya di daerah Kebon Jeruk menjadi tempat berteduh saya selama beberapa hari berada di Jakarta.

Di rumah itu, saya tidak hanya berdua dengan kakak saya saja. Kakak saya mengontrak rumah dengan dua orang temannya. Berada di sana, saya berasa sedang menjalani orientasi pra-kerja. Living skill, istilah kerennya. Ilmu itu tidak diajarkan di sekolah, apalagi kampus. Saya yang masih ‘bau’ kampus, melihat kehidupan kakak saya dan temannya sebagai pekerja di Jakarta dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Oh, begitu ya, rasanya kerja di Jakarta, “ guman saya, selalu.

Hidup di Jakarta sebagai pekerja tidak melulu bahagia tapi juga tidak melulu merana. Lhoh?? Rindu kampung halaman dan orang tua itu pasti tapi belajar survive di ibukota dan menikmati hasil keringat sendiri itu juga suatu anugerah. Dua-duanya tak ada yang salah.

Seorang teman, setelah lulus, memutuskan kembali ke kampung halamannya. “Mengabdi,” begitu katanya. Lagi-lagi tak ada yang salah. Itu juga sah.

Saya percaya, saya bukan satu-satunya orang yang merasakan hal ini. Jakarta kota urban. Pusatnya orang datang dan pergi, pulang dan kembali. Padatnya Jakarta tak akan pernah teratasi kalau kebutuhan tenaga kerja perusahaan-perusahaan itu masih ada. Itu kesimpulan sederhana saya.

Jakarta juga masih menjadi kota idola bagi fresh graduate. Bekerja di pusat pemerintahan, pusat kota, pusat segalanya, siapa yang tak bangga? (freshgrad version =b)

Ah, tenanglah. Nanti mereka akan mengerti sendiri. Kebahagiaan tidak melulu di mana kamu bekerja, tapi saat yang kamu kerjakan bisa bermanfaat untuk orang lain (oldgrad version =b)

Yuk ah, udah. Pulang, ya!

Have a nice Friday Night!

Mengajar Itu Soal Rasa

Seberapa smart kamu, buktikan dengan mengajar. Berani terima tantangan? Coba saja buktikan! Faktanya, mengajar itu tidak melulu perkara kamu lebih pintar atau lebih jago dalam suatu bidang daripada orang lain, kok! Sama sekali tidak. Mengajar itu soal rasa.

Mengajar itu soal rasa? Ya. Kok bisa?

Bagi saya, mengajar adalah salah satu bukti kalau kamu mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain. Mengajar itu bukan berarti kamu sok pintar atau sok ahli kemudian berujung pada membanggakan diri. Sebaliknya, kamu akan menjadi pribadi yang rendah hati karena pada dasarnya ilmu pengetahuan itu tanpa batas. Mengajar bisa menjadi alat untuk mengukur kemampuanmu apakah kamu peka dengan kebutuhan orang lain atau tidak. Jika kamu mampu merasakan dan memahami bagaimana kondisi orang lain, tentu kamu dapat memberikan apa yang orang itu butuhkan. Smart, kan?

Antara Mengajar dan Belajar
Antara mengajar dan belajar itu bagai lirik lagu jadul 70-an, “Sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan” hehe.. Maksudnya, keduanya berkaitan erat. Disadari atau tidak, ketika kita mengajar, kita belajar juga, lho! Belajar apa? Belajar merasakan dan memahami orang lain, apalagi! Ya, ya, semuanya memang kembali lagi pada hal yang saya jelaskan di atas.

Ketika kita mengajarkan sesuatu pada orang lain, kita belajar untuk memahami apa yang orang lain butuhkan. Misalnya, saat kita mengajarkan matematika tentang penjumlahan bilangan. Maka, hal pertama yang kita lakukan adalah memahami si orang itu terlebih dahulu. Apakah dia sudah mengerti bilangan-bilangan yang ada di matematika, apakah dia sudah mengerti bahwa bilangan-bilangan itu bisa dijumlahkan, atau bahkan sampai apakah dia nyaman dengan cara kita mengajar. Kalau semua sudah, maka proses belajar akan berjalan dengan lancar. Hmm, kompleks, juga ya!

Tidak! Sederhana saja kok. Ini hanyalah cara untuk mengetahui seberapa smart kamu, yaitu seberapa mampu kamu memahami orang lain. Gimana? Sudah berani mencoba membuktikan? Mengajar yuk!

Sokola Rimba dan Kenangan Saya

Salah satu 'scene' film Sokola Rimba

Salah satu ‘scene’ film Sokola Rimba

Jujur, saya bernostalgia saat menonton film ‘Sokola Rimba’ beberapa waktu lalu di bioskop. Film itu berhasil membawa saya mengenang kembali masa-masa bertugas sebagai guru di Pulau Bawean. Sekolah, anak-anak, bukit, semuanya! Terlebih, saat menonton di bioskop, di samping saya adalah anak kecil yang diajak orang tuanya menonton. Lucunya, sepanjang film, si anak justru sibuk mengomentari film karena ada istilah asing yang didengarnya. Berhubung saya suka anak-anak, saya sama sekali tidak merasa terganggu. Sungguh ‘ambience’ yang sempurna, bukan?

Kenangan itu kembali lagi di ingatan saya bagai setrum, yaitu saat sosok Butet Manurung, yang diperankan oleh Prisia Nasution, mengajari anak-anak Suku Anak Dalam di hutan Bukit Duabelas, Jambi, membaca dan berhitung. Ya, saya melakukannya juga.

Bedanya, saya tidak mengajari anak-anak itu di rumah panggung di tengah hutan. Di Pulau Bawean tidak dikenal rumah panggung. Anak-anak itu menantikan saya di ruang tamu tempat saya tinggal. Mereka tahu jam pulang saya mengajar SD. Dengan sabar, mereka menantikan saya melahap makan siang, kemudian siap menyambut saya dengan senyum manis polos yang khas anak-anak sekali ketika saya menyibakkan tirai pembatas ruang tamu.

Halo, kanak-kanak?” sapa saya ramah.
(Halo, anak-anak?)
Hee, abelajar, Bu,” jawab salah satu anak ceria.
(Hee, belajar, Bu.)

Sosok Butet Manurung di film ‘Sokola Rimba’ itu smart. Dia mengajar. Ya, mengajar! Smart, kan? Ini bukan tentang Butet Manurung yang lebih tahu membca dan berhitung daripada anak-anak Suku Anak Dalam, lho! Diceritakan bahwa dia mengajari anak-anak belajar membaca dan berhitung dengan suka cita. Sama sekali tidak tergambar bahwa dia kelelahan atau kewalahan menghadapi tingkah polah anak-anak Suku Anak Dalam itu. Walaupun kelelahan naik turun bukit untuk mencapai kawasan Suku Anak Dalam, dia tetap riang mengajar. Lagi-lagi, ini soal rasa. Ya, mengajar itu memang soal rasa.

Bagian yang mengharukan adalah saat Butet Manurung dengan fasih berbahasa setempat agar lebih mudah dimengerti anak-anak Suku Anak Dalam. Di masyarakat, belajar bahasa setempat merupakan salah satu cara agar kita bisa lebih mudah diterima di suatu kelompok. Ini cara yang smart! Sosok Butet Manurung tidak serta merta mengajari anak-anak itu belajar. Dia pun belajar. Dia belajar memahami anak-anak itu bahwa mereka spesial. Mereka membutuhkan suasana belajar yang memang sesuai dengan latar belakangnya, termasuk penggunaan bahasa. Dengan bahasa setempat, anak-anak suku anak dalam itu lebih mudah mengerti ilmu yang disampaikan Butet. Butet Manurung memahami ini dan dia smart.

Saya pun bernostalgia. Saat mengajari anak-anak itu membaca, saya juga menggunakan bahasa Bawean. Anak-anak itu sesungguhnya juga mengajari saya, gurunya, berbahasa Bawean. Ibarat belajar bahasa Inggris, mereka melatih saya conversation langsung. Haha, mereka suka tertawa ketika saya berbahasa Bawean. Katanya, logat saya tidak pas. Ah, biarlah! Saking berkesannya, conversation saya, eh percakapan saya dengan anak-anak, masih terekam awet dalam memori saya sampai saat ini.

321012_10150295895263389_543837_n

Arapa mae baca ‘Ba’? Lakona, huruf ‘B’ ketemu huruf ‘A’!”
(Mengapa dibaca ‘Ba’? Karena huruf ‘B’ bertemu huruf ‘A’!)

Yuk, Mengajar!
Saat ini, banyak sekali komunitas yang mengikrarkan dirinya bergerak di bidang pendidikan. Hampir di setiap daerah ada, terlebih Jakarta, bak jamur di musim penghujan. Tak peduli usia, tua muda, beramai-ramai terjun ke lapangan langsung untuk melakukan kegiatan belajar. Saya melihat itu kegiatan mengajar massal. Massal? Ya, karena hampir setiap orang melakukannya.

Hal ini merupakan bukti bahwa banyak orang yang mulai peduli dengan sesamanya. Mereka mengajar. Mereka mencoba untuk peka dengan kebutuhan orang lain yang diajarinya. Hehe, jadi ingat salah satu tagline di sebuah program acara TV swasta, “Bahwa mencintai negeri ini adalah merayakan kemerdekaan dengan mengajar.” So, be smart dengan mengajar! Ya, ya, ya …

PS.

Hmm, ngomong-ngomong, tab 8 inchi ini memang hadir sebagai Si Smart yang memahami kebutuhan orang-orang di era high tech, lho! Cek saja fiturnya. Benar-benar smart memahami, kan?

Nah, kali ini gantian, ya! Coba, dewan juri hitung berapa kata ‘smart’ dalam postingan ini? Sesuai total bonus Si Smart 8 inchi ini, kan? Hihi *kedip genit*

banner lomba

“Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Ultah Blog Emak Gaoel”

Sumber foto:

Suara Anak-anak Suku Pedalaman di Sokola Rimba, artikel di Antara News


My blog!

"Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, sambunglah dengan tulisan..."
(Pramoedya Ananta Toer)

"Sebuah perjalanan selalu punya arti dan menceritakannya kembali kepada banyak orang adalah bagian dari sejarah hidup..."
(Maradhika Malawa)

“If u want to be a writer, u must do two things above all others: read a lot and write a lot...”
(Stephen King)

Click and follow me. Lets share our story! It's EASY!

Join 2,669 other followers

My Tweets


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,669 other followers

%d bloggers like this: