Bala Bawean

Leave a comment

Bala Bawean

Manisnya bisa seribu kali gula
Pahitnya tak seberapa, sungguh!
Ini tentang persahabatan
Saling bersatu, saling bertukar perasaan
Saling membantu, saling pengertian
Di Bawean, semua itu berawal
Ini bukan sekedar program rekaan
Hari-hari yang menyatukan kami berenam
Menjadi sahabat sekaligus keluarga
Hebat bukan?
Curhat, canda, kritik, saran adalah isi toples persahabatan
Sudah sebelas bulan berjalan
Kami makin akrab, kian dekat
Tak terbayang ke depan
jika waktunya perpisahan,habis masa pengabdian
kami harus kembali lagi ke peraduan
merajut kembali kehidupan, melanjutkan cita-cita dan impian
Tidak, tidak, tidak!
Belum terpikirkan sampai ke situ
Bahkan tak ada nyali
Walau kini, ternyata tinggal satu bulan lagi
Bisa sih dihitung dengan jari
Tapi lagi-lagi tak ada nyali, aku tak berani

Kami dekat, kami akrab, kami keluarga
Pengajar muda angkatan 2 penempatan pulau Bawean
2 laki-laki, 4 perempuan, itulah kami,
Kami, bala bawean
Semuanya akan menjadi kenangan
Kami yang gemar mention-mention-an
Kami yang suka main komunikata
Kami yang jago makan sambal dan karaokean
Kami yang hobi jalan-jalan
Kami yang bercanda kocak membully orang
Kami yang suka berfoto
Kami, kami, kami ….

Ah, tulisan ini berakhir dengan twit komplit mention berenam:
Dear @putri_putcha @ichamaisya @lastianihantoro @tidarrachmadi @wintanghk nggak kebayang rasanya kalau besok perpisahan bala2. There is gudbye in every hello, yea? #balabawean

Kebun Binatang Kehidupan

Leave a comment

Selamat datang di kebun binatang kehidupan. Selama hampir setahun ini, banyak hal yang terjadi. Selama setahun ini juga, banyak hal yang bisa dipelajari, seperti ‘berdamai’ dengan binatang-binatang yang ditakuti. Habis mau bagaimana lagi? Hidup sendiri sama dengan harus bisa menghadapi hal-hal yang tidak disukai. Sebagai orang yang takut kucing, takut anjing, dan keluarga besar ayam (ayam jago, ayam betina, dan anak ayam), saya mempunyai kisah tersendiri.

>> Anjing
Berangkat ke sekolah, dihadang anjing? Sering. Sampai-sampai, saya harus berputar arah untuk sampai ke sekolah. Dikejar anjing? Pernah! Walaupun beragama Islam, penduduk Bawean ada yang memelihara anjing. Tujuannya, untuk mengusir babi hutan yang sering merusak lahan pertanian. Anak-anak di sekolah sampai memberikan tips kepada saya agar tidak dikejar anjing. “Bu Hety pura-pura membawa batu. Bu Hety jangan lari. Bu Hety jongkok. Bu Hety diam jadi patung,” begitu nasihat anak-anak saya ketika tahu gurunya dikejar anjing ketika berangkat ke sekolah.

>>Anga Putih Leher Panjang
Bagi saya, angsa putih leher panjang sangat ganas. Walaupun demikian, banyak penduduk yang memeliharanya. Beberapa kali, saya sempat mengalami tragedi dengan si angsa putih leher panjang. Saya selalu nyaris dicium angsa. Ya, selalu. Selain itu, saya juga pernah dihadang sekawanan angsa yang mengincar kaki saya? Yup! Sudah langganan, saya sampai hapal. Pokoknya, ketika leher si angsa sudah menjulur ke depan, mereka pasti sudah siap untuk mengejar saya. Herannya, orang-orang hanya berkata, “Ambil batu, Bu. Lempar!”. Bagaimana saya bisa mengambil batu jika saya sudah panic to the max gara-gara dikerjar angsa???

>>Ayam
Dikagetin ayam? Ya. Ini bagian yang tidak saya suka. Sering sekali ayam melintas di jalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Saya yang sedang naik motor terpaksa harus mengerem mendadak untuk memberi kesempatan pada si ayam.

Selain itu, ayam di sini adalah ayam yang agresif dan tak pantang menyerah. Ketika sedang mencuci piring di luar, tanpa ba-bi-bu, si ayam langsung menyerbu memperebutkan sisa-sisa makanan. Tinggal saya, yang takut ayam, jejeritan. “Hush, hush ayam!” begitu usir saya. Tapi dasar ayam agresif dan tak pantang menyerah, si ayam justru semakin tertantang untuk mendekati saya. Huwaaa. Akhirnya, langkah terakhir yang saya tempuh adalah mengusir ayam dengan air. Ibu asuh saya hanya geleng-geleng kepala, “Airnya habis, Het. Kamu nanti tidak jadi cuci piring!”

>>Kucing
Kucing yang tak takut air? Saya bisa menemukannya di sini. Bagi yang sudah kenal saya, pasti tahu kalau saya sangat anti dengan hewan yang satu ini. Di daerah penempatan, saya harus bisa survive dengan keberadaan kucing. Beraneka cara sudah saya coba ketika kucing mulai mendekat mengharap belas kasihan saya. Cara yang paling ekstreem, saya siram air (kabarnya, kucing takut air). Sialnya, si kucing justru semakin intens mendekati saya. Huwaaa!

Satu kisah lagi tentang binatang yang namanya berawalan huruf ‘K’ ini. Dulu, di awal penempatan, kamar saya belum ada pintunya. Hanya sehelai korden sebagai penutupnya. Suatu pagi,saat bangun tidur, saya jantungan setengah mati. Ketika membuka mata, di samping saya sudah ada kucing abu-abu yang dengan anggun nangkring di sisi saya. Kontan, saya terlonjak kaget. Si kucing merespon kekagetan saya hanya dengan mengeong tanpa dosa dan langsung melompat turun tempat tidur. @@$%^%&**((!

>>Tikus
Kamar kemasukan tikus? Jujur, saya tak pernah berhadapan dengan hewan ini. Di Jogja, ketika ada tikus masuk ke rumah, saya langsung mengandalkan mama dan kakak saya untuk mengusirnya. Di daerah penempatan? Jangan tanya! Hewan ini berhasil membangunkan saya pukul 2 dini hari. Cit, cit, cit, begitu bunyinya. Terpaksa, dengan mata setengah terpejam saya mem-packing semua barang saya dan menaikkannya ke atas lemari. Lantai kamar bersih. Silakan pak tikus berlarian ke sana-ke mari, saya tak peduli. Saya ber-positive thinking, si tikus tak akan naik ke tempat tidur. Zzz…

>>Tokek
Kamar kemasukan tokek? Selama ini, saya kira saya hidup sendiri di kamar yang berukuran 2 x 2,5 m ini. Ternyata, saya salah besar. Ada seorang makhluk yang ditakdirkan Tuhan untuk menemani hari-hari saya. Dialah Tokek. Hewan yang mempunyai bakat menyanyi, “…Ckckck, tokek, ckckck, tokek…” ini hidup nyaman, tentram, damai di belakang almari baju saya, tanpa saya pungut uang sewa. Catat!

>>Kadal
Ada kadal nyebrang jalan? Saya kadang masih bertanya-tanya dalam hati. Di manakah sebenarnya saya ditempatkan selama setahun ini, di Baweankah atau di taman safari? Bagaimana tidak, ketika naik motor menembus hutan, pasti saya berpapasan dengan kadal kecil. Orang Bawean menyebutnya ‘barekai’. Ketika saya bercerita kepada orang-orang, mereka malah berkata santai,” Bu Hety belum ketemu yang besar sih?”. Heh? Saya hanya melongo.

>>Monyet
Selain kadal, ada juga monyet. Tetangga saya banyak yang memelihara monyet. Sebenarnya, kasihan juga saya. Kandangnya sangat tidak berperikehewanan. Bayangkan, rumahnya hanya terbuat dari kayu seukuran kaleng roti. Di siang hari, mereka hanya dibiarkan bergelantungan ke sana-ke mari dengan rantai yang selalu setia mengikat lehernya.

Ada certia lucu. Di samping sekolah, ada rumah yang memelihara monyet. Setiap pagi berangkat ke sekolah, si monyet selalu keluar dari kandangnya dan hanya menatap saya yang melintas di depan kandangnya. Saya selalu iseng berkata kepada si monyet, “Selamat pagi, Nyet!” Hehe.

Hampir sama dengan kadal. 75% wilayah Pulau Bawean adalah hutan. Hutan yang masih sangat alami. Layaknya ada gula ada semut, maka tak salah jika, ada pohon ada monyet. Kadang-kadang, ketika melintasi hutan, pasti ada monyet yang melintas. Kadang-kadang sendirian, kadang-kadang bersama-sama layaknya keluarga monyet yang hendak tamasya.

>>Tongo
Sebenarnya, masih ada. Masih ada serangga aneh yang setia masuk kamar tanpa permisi? Kecoa, capung, nyamuk, semut, dan Tongo. Oh, ya, Tongo. Belum lengkap jika tidak saya perkenalkan. Bagi saya, Tongo ada UFA alias Unidentified Animal. Tidak tahu pasti bagaimana wujud si Tongo. Dia hanya meninggalkan gigitan ganas yang membekas di kulit. Warnanya hitam, seperti tahi lalat.

Dulu, di Jogja, saya mengenal hewan yang serupa. Namanya Tengu. Hewan kecil kasat mata. Jika sudah menggigit di kulit, hanya meninggalkan bekas kemerahan yang bermata. Baik Tongo dan Tengu, sama-sama menghasilkan gatal yang luar biasa.

Minyak kayu putih, balsam, minyak kampak, bedak gatal, lotion gatal, salep, tak ada yang mempan. Saya sampai berprasangka, mungkin si Tongo hanya dilawan dengan kesabaran. Kesabaran orang yang digigitnya untuk tidak menggaruk.

Demikian, kebun binatang kehidupan pengajar muda. Satu tahun mengajar, berbagai hewan telah menginspirasi kehidupan saya di daerah penempatan.

‘Caca Marica, Hey-hey’ untuk Vira

Leave a comment

Vira dan Saya

Vira, itu namanya. Bagi saya, anak itu istimewa. Pertama kali melihat dan akhirnya dapat berkenalan, saya simpulkan, saya jatuh cinta padanya.

Vira berkulit putih dan berambut hitam legam sebahu. Anaknya imut dan lucu. Dengan ciri seperti itu, dapat dipastikan Vira bukan seperti anak kebanyakan. Ya, ayah dan ibunya memang bukan asli dusun yang saya tinggali sekarang tapi asal perantauan.

Sejak ayah dan ibunya berpisah, Vira tinggal bersama nenek dan bibinya. Ayah dan ibunya, masing-masing, telah menikah lagi dengan orang lain. Sedih memang. Tapi semua itu tak terpancar dari paras ayunya. Tak ada yang menduga. Vira tetap ceria menjalani hidup dan bermain bersama teman-temannya.

Tiap melihat Vira, saya selalu bertekad agar dapat membuatnya tersenyum. Lebih-lebih, kalau Vira bisa tertawa, berbunga-bunga hati saya melihatnya. Setiap pagi, saat berpapasan di jalan, saya pasti selalu mengajak Vira untuk ber-high five. “Pagi Vira? Bagaimana kabar hari ini?” goda saya. Kalau sudah saya goda seperti itu, Vira pun langsung mengobral senyum, “Pagi, Buuuuu, baik, Buuuuu!”

Pernah suatu siang, sepulang sekolah, Vira datang ke rumah. Setelah memilih buku yang akan dipinjamnya, saya tahan Vira agar tinggal sebentar di rumah. Iseng saya membacakan cerita untuknya. Vira pun senang sekali. Usai membacakan cerita, Vira yang ganti bercerita kepada saya. Mulai dari kelinci dan kucing peliharaannya sampai kisahnya sehari-hari. Saya ikut senang bisa mendengarkan sebagian kisah hidup Vira.

Beberapa hari ini, setiap malam, Vira selalu mengantar Titin ke rumah. Bukan tanpa alasan. Lomba menyanyi tingkat kecamatan sebentar lagi tiba. Titin akan mengikuti lomba itu mewakili SD tempat saya mengajar. Sebagai teman dekatnya, Vira pun rajin mengantar Titin. Sebenarnya tidak hanya Titin, ada juga anak-anak lain, seperti Zulaikha dan Mahmudah yang main ke rumah. Mereka senang sekali main ke rumah karena dapat membaca buku cerita di ‘perpustakaan mini’ saya. Malam itu, keisengan saya lagi-lagi muncul. Saya iseng mengajari anak-anak itu salah satu lagu daerah berjudul ‘Anak Kambing Saya’. Saya buka buku lagu-lagu wajib nasional dan mengajari anak-anak itu bernyanyi.

Baru beberapa kali menyanyi, anak-anak itu langsung mengerti. Ya, lirik dan lagunya memang mudah untuk diikuti. Apalagi, ketika bagian “… Caca marica, hey-hey…” . Coba tanya anak-anak seantero Indonesia, siapa yang tidak hapal? Begitu pula dengan Vira, Zulaikha, dan Mahmudah. Mereka dengan cepat hapal. Bahkan, Vira tak henti-hentinya menyanyikan lagu itu di depan Zulaikha dan Mahmudah yang berhenti menyanyi karena kecapekan.

“Lebur laguna reak,” kata Vira tiba-tiba, tanpa ditanya, sambil menunjuk sebuah halaman dari buku lagu-lagu wajib nasional yang sudah agak menguning termakan usia. Artinya, enak ini lagunya. Ada nada bangga dalam perkataannya. Mungkin, Vira bangga dapat menguasai lagu itu dalam hitungan menit. Senyum Vira mengembang. Dia tak henti-hentinya berdendang, apalagi bagian, “… Caca marica, hey-hey…”. Dia bersemangat sekali. Saya tertawa melihatnya. Setidaknya, malam ini saya berhasil membuat Vira bahagia dengan “…Caca marica, hey-hey”-nya.


Moral value of the story:

Malam itu, menjelang tidur, saya teringat Vira. Ternyata, kebahagiaan tidak melulu uang atau barang-barang yang dapat dibeli oleh uang itu sendiri. Kebahagiaan bisa datang dari hal terkecil sekalipun. Seperti angin, kebahagiaan datang tiba-tiba dan menyisakan rasa tersendiri untuk kita kenang. Ah, bahagia! Zzz…

Tentang Ulang Tahun Papa Maret Lalu

Leave a comment

Tentang ulang tahun papa Maret lalu…

Ini kali kedua, saya memberikan kejutan untuk papa di hari ulang tahunnya. Saya dan kakak bersekongkol mengirimkan kue ulang tahun secara sembunyi-sembunyi ke kantor papa. Hasilnya? Tetap sama! Walaupun kejutan kue rahasia ini sudah terjadi untuk kedua kalinya (berturut-turut, 2011 dan 2012), papa tetap mengucap terima kasih tiada tara pada saya dan kakak. Yah, bagi saya dan kakak, apalah arti semua itu dibanding melihat senyum bahagia papa di tengah teman-temannya di kantor. Priceless!

Kejutan kue rahasia itu semoga bisa menjadi pengganti kehadiran saya dan kakak. Kakak di Jakarta, tak bisa pulang ke Jogja. Sedang saya, masih dalam masa penugasan yang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Sejadi-jadinya, ulang tahun papa di bulan Maret hanya bisa menjadi momen perenungan saya tentang papa.

Bagi saya, papa adalah laki-laki istimewa. Entah, di mana dulu mama bisa menemukan papa. Kata mama, itu adalah suatu kebetulan. Kebetulan yang kemudian saya artikan sebagai perjodohan ala Siti Nurbaya. Wow, hebatnya orang-orang terdahulu, ya. Atas nama kepercayaan dan kebetulan mereka bisa hidup bersama dalam waktu yang lama, sampai saat ini.

“Perjodohan itu cinta ya, Ma?”, “Kebetulan itu cinta ya, Ma?”. Dua pertanyaan bodoh yang tak akan pernah saya ajukan pada mama. Tak berani saya, sumpah! Tapi, saya sudah berjanji pada diri saya untuk menemukan jawabannya sendiri seiring perjalanan hidup saya.

Kembali lagi pada papa. Papa itu apa adanya. Ya, papa memang bukan makhluk sempurna. Ada juga kesalahan dan kekurangan. Tapi tetap saja, bagi saya, papa segalanya. Hey,ini bukan sekedar gara-gara karena papa saya bisa terlahir di dunia lho. Ini juga bukan sekedar perintah agama untuk menghormati orang tua. Namun, secara sadar, saya benar-benar mengagumi sosok papa.

Semua hal ini saya temukan secara proses, dari saya lahir ke dunia ini sampai saya 24 tahun. Perjalanan yang begitu panjang sampai saya bisa merangkai satu demi satu jawaban. Jawaban-jawaban ini seperti puzzle yang harus saya satukan. Dan sampai saya menulis ini pun, saya masih merangkai puzzle.

Ya, puzzle kehidupan tentang seorang papa. Papa, maafkan atas segala kebohongan-kebohongan. Maafkan atas segala pembrontakan-pembrontakan ‘kecil’ itu. Maafkan atas segala keras kepala, keegoisan, dan semuanya. Terima kasih atas segala kisah-kisah itu. Walau baru kali ini, saya benar-benar memahami setiap detil artinya. Sungguh, yang papa lakukan pada anak perempuanmu nomor dua ini sangat berarti.

Papa, waktu terus berjalan, tak tahu sampai kapan.Usia terus berubah. Saya bahkan kini bukan gadis kecilmu yang biasa kamu gendong untuk membuatnya tertidur. Untuk waktu yang tersisa kini, saya berjanji untuk terus membahagiakanmu pada setiap kesempatan.

Terakhir yang papa lakukan adalah, membiarkan anak perempuanmu memilih apa yang dia yakini. Walaupun saya tahu, papa agak kecewa. Tapi sungguh, papa benar-benar berjiwa besar untuk akhirnya melepaskan anak perempuanmu ini. Kalau bukan karena papa, anak perempuanmu tidak bisa melihat dan merasakan hal-hal luar biasa di sini. Sekali lagi, terima kasih pa.

Selamat Ulang Tahun Papa.
Jumat, 16 Maret 2012

Kehilangan

Leave a comment

“… There is a goodbye in every hello…”

Officially, saya belum pulang dari ‘tugas’ memenuhi janji kemerdekaan (PS. Memenuhi janji kemerdekaan, my favorite quote, kata yang tak pernah bosan dikatakan oleh Pak Anies). Tapiiii… orang-orang di desa sudah hiruk pikuk menanyakan kepulangan saya. Ya, siapa yang bisa merasa? Sebentar lagi genap satu tahun masa bakti saya di desa ini berakhir.

“Bu Hety, sebelum pulang, nginep di sini, ya!” kata seorang tokoh masyarakat di desa sebelah. Kebetulan beliau adalah alumni UGM yang menempuh jalan yang ‘berbeda’ untuk kembali ke daerahnya dan membangun bidang pendidikan. Kami disatukan atas nama Kagama (Keluarga Alumni Gadjah Mada).

Nanda. Balita itu semakin hari, makin lengket saja dengan saya. Saat nonton televisi, ada saja tingkahnya untuk mencuri perhatian saya. Mulai dari memeluk, mencium, menyuapi saya, merengek-rengek minta gendong, memegangi tangan saya, menirukan ucapan saya, sampai pipis di pangkuan saya pun sudah tidak sungkan.

Ibu angkat saya (hostfam) yang tiba-tiba berkata, “Het, kamu kok mirip yang ada di tivi itu ya? Entah. Mirip aja. Apanya gitu. Yah, besok kalau Hety pulang, saya kangen. Saya liat TV aja!” Sumpah, saya tergelak mendengarnya. Tahukah siapa yang dimaksud ibu angkat saya? Jesica Iskandar!! (God! Sejak kapan seorang Hety Apriliastuti Nurcahyarini bisa mirip artis Jesica Iskandar? Memang ya, orang yang sedang dilanda rasa takut kehilangan memang suka mengada-ada *grin*).

Selain keluarga, virus kehilangan ini juga sudah menyebar ke murid-murid saya. Sore itu, saat Inul, Tika, Lina, dan Sohib main ke rumah, mereka hanya bisa memandang nanar keberadaan dua kardus yang sudah berisolasi rapi, siap kirim. Melihat momen itu, kejahilan saya pun muncul. ”Ibu beneran sudah mau pulang nih!” goda saya, memancing suasana. Bukannya menjawab kejahilan saya, Tika justru berkata polos, “Bu, Saya, Inul, Lina, dan Sohib, masuk ke kardus ini ya. Kita mau ikut ibu ke Jogja.” Duh! Rupanya virus kehilangan sukses membuat murid-murid saya mengharu biru.

Biarkan Crayon Itu Menari di Kertasmu

1 Comment

“Bu, anak-anak TK, tolong diajari menggambar, ya! Menempel atau mewarnai. Pokoknya begitulah!” kata Kak Lia suatu hari kepada saya. Dan siang ini, tiba-tiba sudah ada Faiza, 5 tahun, yang diantar Jussana, kakaknya, muncul di depan pintu rumah saya. “Disuru belajar menggambar ke Bu Hety,” katanya singkat.

Belajar menggambar? Les menggambar? Jed-der!! Tiba-tiba saya merasa menjadi korban salah tembak sekelompok mafia.

Kumpul bocah, mari les gambar di rumah Bu Hety

Ketika dimintai tolong memberikan les menggambar, saya merasa ‘aneh’ sejadi-jadinya. Sumpah, saya tak pernah mencicipi bangku les menggambar sekalipun sewaktu kecil. Jadi, bagaimana bisa? Kata teman-teman, saya jago menggambar, ini katanya lho. Tapi… Ah, tidak! Saya tidak bisa menggambar. Menurut saya, ini hanya hobi karena belajar sendiri, otodidak. Tanpa les, tanpa guru. Validitas hobi menggambar saya bisa-bisa dipertanyakan. Walaupun demikian, kenyataannya sekarang, sudah ada seorang anak yang diantar kakaknya, minta diajari menggambar.

Faiza, anak kecil itu, lebih banyak diam. Kata kakaknya, dia pemalu. Jadi serba salah saya. Bagaimana bisa mengajari menggambar, sedangkan diam seribu bahasa? Faiza menyodori saya pensil dan kertas HVS berukuran folio.

“Mau belajar menggambar apa, Faiza?” tanya saya.
“Bunga,” jawabnya lirih, lirih sekali sambil menundukkan muka. Saking pemalunya, mungkin.

Saya jadi ingat Pak Raden. Sewaktu saya kecil, Pak Raden pernah mengisi acara di salah satu stasiun TV. Pada acara itu, Pak Raden bercerita kepada anak-anak sambil menggambar tokoh-tokoh dalam cerita itu. Haruskah saya seperti itu? Sekali lagi, saya tak pernah les menggambar!

Satu bunga, dua bunga, tiga bunga, empat bunga, dan seterusnya. Saya menggambar satu bunga dan Faiza meniru bunga yang saya gambar sampai kertas HVS itu penuh bunga. Satu kupu-kupu, dua kupu-kupu, tiga kupu-kupu, dan seterusnya. Satu lebah, dua lebah, tiga lebah, dan seterusnya.

Kini, Faiza mulai mewarnai kertas HVS yang sudah penuh gambar bunga, kupu-kupu, dan lebah itu.
“Eh, bunganya jangan biru!” kata Jussana, kakak Faiza.
Faiza yang sedang asyik menggerak-gerakkan crayon birunya tiba-tiba berhenti dan memandang penuh rasa bersalah kepada kakaknya.
“Tak apa, Kak. Biarkan Faiza yang memilih warnanya. Lama-kelamaan dia nanti akan mengerti perpaduan warnanya sendiri,” kata saya, seorang yang pernah mewarnai kelinci dengan warna merah menyala di TK.

Jadilah, hari berganti hari, anak-anak datang dan pergi ke rumah saya untuk diajari menggambar. Bahkan, seorang guru TK meminta saya untuk menggambar dan difoto kopi agar bisa diwarnai oleh murid-muridnya. Senang sekali rasanya melihat crayon-crayon itu menari di atas kertas

Celoteh Bocah: Bau Kamus, Bau Ibu Guru

Leave a comment

“Bu, itu apa?” tanya seorang anak saat jam istirahat sambil mendekati dan menunjuk sebuah buku kecil tebal yang tergeletak di meja guru. “Oh, ini namanya kamus. Kamus bahasa Inggris. Kalau ada kata-kata dalam bahasa Inggris yang tidak tahu artinya bisa dilihat di sini,” jawab saya menjelaskan. Dari raut wajahnya, si anak tampaknya belum puas dengan jawaban saya. Jadi, saya berikan kamus itu kepadanya agar bisa dibukanya, “Ini, silakan kalau mau pinjam. Boleh dilihat-lihat kok!” “Makasih, ya Bu!” jawab si anak sambil tersenyum kegirangan. Bukannya dibaca atau dilihat-lihat perhalamannya, kamus itu malah diciumnya. Saya pun kaget, “Eee, kenapa diciumi?”. “Habis kamusnya bau ibu guru sih,” jawab anak itu polos. Heh??

Twenty ‘Oh’ Four!

1 Comment

"menjadi 24 bersama teman-teman seperjuangan"

April! #senggol @hetyhety

Itu adalah tweet pertama yang masuk ke timeline saya di bulan April. Si pengirim, tidak lain tidak bukan adalah Dayang, sahabat saya yang bekerja di ujung barat Indonesia. Bagi kami berdua, bulan April adalah bulan spesial. Bulan di mana kami akan meratapi, eh, merayakan pertambahan umur kami. Saking spesialnya, nenek moyang kami pun sampai repot-repot menambahkan ‘April’ pada nama kami berdua. Kalau Dayang ‘Aprilia Suci’ sedangkan saya ‘Apriliastuti’. Mirip bukan?

Menulis resolusi, target, pencapaian adalah ‘ritual’ tahunan saya ketika menginjak bulan April. Sebuah scrap book buatan sendiri telah siap menampung sejuta unek-unek saya. Saya pun melakukannya dengan senang hati, tak ada keberatan atau kebosanan sedikit pun. Inilah saat-saat terjujur dalam diri saya. Saya berdamai dengan kekurangan diri dan berjuang meraih target hidup dengan apa yang saya punya.

April 2011, Yogyakarta
Setahun yang lalu, saya masih harap-harap cemas. Mendaftar Indonesia Mengajar adalah langkah besar dalam hidup saya. Kala itu, saya hanya mengharap sebuah kado terindah untuk ulang tahun saya ke-23, yaitu saya diterima sebagai Pengajar Muda Indonesia Mengajar. Alhamdulillah, hal itu menjadi kenyataan. 25 April 2011, tekad saya sudah bulat, akan meninggalkan Jogja dalam waktu yang lama.

April 2012, Sebuah Pulau di Laut Jawa
Membaca tweet Dayang, membuat pikiran saya melayang. Ah, April, Tuhan! Kejutan apa yang akan kau berikan kepada duo April, Aprilia Suci dan Apriliastuti?

Tak akan pernah ada kejutan kalau kamu tak berjuang, hety darling! Okay, thanks, hati nurani atas masukannya (tiba-tiba hati nurani saya ikut ‘nimbrung’). Hidup (memang) adalah perjuangan. Ahmad Dhani saja bilang, “hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti, usah kau menangisi hari kemarin, ouoo…”. Emm, wait! Apakah saya terlihat so desperado fernando alfredo fulgoso dengan twenty ‘oh’ four ini? No, no, no! Big no!

Daripada galau, mending saya isi dengan bersyukur kepada Allah atas segala karunianya memanjangkan umur saya. Tandanya, Allah masih memberikan kesempatan saya untuk memetik mimpi-mimpi yang masih tergantung di angkasa. Tinggal saya cari saja tangga-tangga yang harus saya naiki. Oh, yeah! Twenty ‘oh’ four. Im so alive!

Selamat ulang tahun Hety Apriliastuti Nurcahyarini!

P.S. Tak lupa mengucap:
1. Selamat menempuh hidup baru sebagai mimi-pipi, mas Yazid dan mbak Anis, 7 April kemarin. Maaf, tidak bisa hadir karena masih menjalankan tugas di sini.
2. Turut berduka cita untuk ayah dari anakku Islahiyatul Masrurah. Hari Minggu, 8 April, ayah Isla berpulang ke Rahmatullah karena sakit liver. Semoga Isla tabah ya.
3. Selamat belajar anak-anakku di kelas 6. Senin, 9 April sampai Jumat, 13 April adalah minggu-minggu UAS (Ujian Akhir Sekolah). Hadiahi ibu guru nilai-nilai yang baik, ya!
4. Happy April, everyone! GBU.

Sabar Selalu Menang

Leave a comment

Saya pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Lebih tidak mengenakkan lagi karena saat itu saya bersama papa. Saya bukan lagi gadis kecil papa yang jago menangis dan merajuk. Saya juga tidak bisa lagi berlindung di balik punggung papa ketika ada yang tidak saya suka. Lebih dari itu, saya sudah menjadi anak papa yang dewasa. Tidak hanya usia, tetapi juga dewasa dalam menghadapi segala suasana. Benar-benar, siapa sangka hari itu menjadi ujian kedewasaan saya dihadapan papa.

Ceritanya, saya sedang menemani papa membeli handphone di sebuah outlet resmi sebuah merk handphone terkemuka. Kedatangan kami disambut baik oleh dua mbak-mbak pramuniaga. Mereka melayani saya dan papa sesuai SOP yang berlaku di outlet itu. Semua tampak berjalan lancar sampai tiba-tiba datang laki-laki berjaket hitam selegam kulit dan frame kacamatanya. Tanpa ba bi bu, si laki-laki serba hitam langsung ‘nimbrung’ ketika kami sedang bertransaksi jual beli.

Tak ada yang salah, jika si laki-laki serba hitam tadi adalah supervisor atau orang yang dituakan untuk mengawasi para pramuniaga. Tak ada yang salah juga, jika si laki-laki serba hitam tadi turut campur dalam transaksi. Hanya satu hal yang mengganggu saya dan papa. Gaya bicara si laki-laki hitam sangat cepat dan terkesan menggurui. Dia sangat mendominasi. Terbukti, akhirnya, kedua mbak-mbak pramuniaga pun memilih diam dan menyingkir pelan. Takut, mungkin.

Pertama, saya abaikan saja. Tapi lama-kelamaan saya sebal juga melihat papa diperlakukan seperti itu oleh laki-laki serba hitam. Bagaimana bisa ya seorang orang tua dilayani dengan gaya bicara yang cepat dan terkesan menggurui? Tidak ada sopan santun sedikitpun terhadap pembeli. Hey, katanya, pembeli adalah raja atau di outlet ini sudah berganti, penjual adalah raja semena-mena yang menindas pembelinya? Ah, saya tebak si laki-laki serba hitam mangkir dari training ketika ada kelas ‘bagaimana melayani pembeli’.

Saya pun berusaha keras menetralkan suasana. Saya tanyakan hal-hal remeh temeh soal aplikasi handphone kepada si laki-laki serba hitam. Sekedar mengalihkan suasana saja agar dia tidak terus mengintimidasi papa. Reaksinya pun tetap sama. Dengan gaya bicara cepat dan menggurui, si laki-laki serba hitam menjawab pertanyaan saya. Saya hanya bisa melempar senyum kepadanya.

Okay, batin saya. Ini bukan perang mulut. Tak ada guna mulut dibalas mulut, kata dibalas kata. Si laki-laki serba hitam memang harus diberi pelajaran. Sore ini, dihadapan papa, akan saya ajarkan pelajaran kesabaran dan senyuman. Ayo, siapa tahan?

Setiap si laki-laki serba hitam mengeluarkan kata-kata yang menggurui dan mengintimidasi, saya hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan berkata “Oh, ya?”. Seperti api yang dikipasi, si laki-laki serba hitam makin menjadi. Dan lagi-lagi jurus senyuman dan ‘Oh, ya?’ saya lemparkan bertubu-tubi kepadanya.

Sudah saya bilang kan? Saya sebut ini permainan ‘Ayo, siapa tahan?’ Si laki-laki serba hitam akhirnya diam. Dia meminta kedua mbak-mbak pramuniaga untuk ‘finishing’ transaksi. Saya bersyukur dapat membuat laki-laki itu pergi. Setidaknya pergi dari hadapan saya dan papa. Fiuh, di mana pun, sabar akan selalu menang.

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 372 other followers