Kereta Api Sahabat Keluarga

#UntukKeretaku Kereta Api Sahabat Keluarga*

Kalau ditanya, alat transportasi apa yang merekatkan hubungan keluarga,
saya akan menjawab mantap, kereta api!

Kereta api sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga saya sejak saya masih kecil. Ini bukan karena ayah saya seorang masinis atau ibu saya bekerja sebagai karyawan PT. KAI, lho! Melainkan banyak peristiwa yang melibatkan saya dan keluarga dengan kereta api.

Sejak kecil, setiap sore, pengasuh saya selalu mengantar saya ke rel kereta api dekat rumah untuk melihat kereta api yang lewat. Ini seperti ‘ritual’ sore hari. Sambil menyuapi saya, kami berdua rela menunggu kereta api lewat sejak sore hingga petang menjelang.

Kini, setelah dewasa, jika kebetulan lewat di daerah rel kereta api pada sore hari, saya selalu tertawa sendiri. Ternyata, banyak juga orang tua yang mengajak anaknya untuk melihat kereta api lewat di sore hari. Kalau tidak percaya, coba tengok di daerah stasiun Lempuyangan, dekat Baciro, Yogyakarta. Saking banyaknya orang yang menonton kereta api lewat, bermunculan pedagang makanan dan mainan yang mencoba memanfaatkan kempatan ini untuk mencari rejeki.

Tidak sampai di situ saja, kereta api juga menjadi alat transportasi dramatis yang kadang sampai membuat menangis. Dulu, seorang pengantar bisa ikut mengantarkan penumpang sampai masuk di gerbong kereta api. Terbayang, banyak adegan dramatis yang terjadi di dalam gerbong, mulai dari berpelukan melepas kepergian sampai menangis. Hal itulah yang terjadi pada saya.

Selama beberapa bulan, saya sempat berpisah dengan ibu saya karena beliau harus menyelesaikan pendidikan Diploma kepenyiarannya di Jakarta. Setiap beberapa minggu sekali, beliau akan menyempatkan waktu untuk pulang ke Yogyakarta dan kembali lagi ke Jakarta, begitu seterusnya sampai masa studi habis. Saya yang masih kecil selalu berat hati mengantarkan ibu saya ke stasiun, bahkan tak jarang saya menangis dan tidak mau turun dari gerbong, ingin ikut ke Jakarta.

Lucunya, saat akhir masa studi ibu, ada kejadian yang membuat saya dan keluarga selalu terkenang dengan kereta api. Mungkin bisa jadi ini adalah kenang-kenangan dari kereta api kepada keluarga saya. Kejadiannya terjadi di stasiun Gambir, Jakarta.

Saat akhir masa studi Diploma ibu di Jakarta, kami sekeluarga memutuskan untuk menyusul ke Jakarta. Kebetulan, saat itu ada saudara yang menikah dan mengundang kami sekeluarga ke Jakarta. Saat akan kembali ke Jogja, ibu turut membawa pulang kardus-kardus berisi buku-buku saat kuliah serta koper-koper. Ayah, ibu, kakak, dan saya bekerja sama membawa semua barang itu naik ke kereta api.

Mengingat banyaknya barang, ayah dan kakak saya memutuskan untuk naik dahulu ke kereta api sambil membawa beberapa barang. Sebagian barang yang tersisa masih ada di peron bersama ibu dan saya. Selanjutnya, ayah akan turun kembali menjemput ibu, saya, dan barang-barang yang tersisa sementara kakak saya sudah menunggu di dalam gerbong.

Di dalam gerbong, ternyata kakak saya waswas. Saat itu kereta sudah berjalan pelan akan meninggalkan stasiun Gambir menuju Yogyakarta. Padahal ayah, ibu, dan saya belum muncul-muncul juga.

Atas inisiatifnya sendiri, kakak saya segera berlari dan meloncat kembali ke stasiun menghubungi petugas bahwa ayah, ibu, dan saya ketinggalan kereta. Sementara, di waktu yang sama, ayah, ibu, dan saya sudah sampai di tempat duduk dan mencari keberadaan kakak saya. Sepanjang gerbong dan toilet kami cek, tapi hasilnya nihil. Kakak saya tidak ditemukan.

Ayah dan ibu mulai panik tapi apa daya, kereta api sudah berjalan cepat meninggalkan stasiun Gambir. Kereta api juga tidak bisa berhenti sampai tiba di stasiun berikutnya. Saya yang masih kecil hanya diam saja berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Setelah berkonsultasi dengan petugas di dalam gerbong, kami bertiga disarankan untuk berhenti di stasiun Jatinegara. Petugas kereta pun berjanji segera memberitahukan kepada pihak stasiun Gambir bahwa ada laporan kehilangan anak.

Sesampai di stasiun Jatinegara, kami bertiga diminta untuk menunggu di ruangan kantor. Ibu tak bisa menahan tangisnya, sementara ayah berusaha tegar dan tetap tenang berbicara dengan petugas kereta. Beberapa jam menunggu, ternyata, memang benar ada anak di Stasiun Gambir yang mengaku hilang kepada petugas kereta api. Mendengar itu, kedua orang tua saya lega sekali. Ayahpun menjeput kakak saya di stasiun Gambir. Ibu dan saya menunggu di stasiun Jatinegara.

Setelah kembali ke Yogyakarta, ayah pun sampai menulis surat pembaca di koran sebagai wujud apresiasi kepada PT. KAI yang sigap membantu menemukan kakak saya. Ayah juga menyampaikan ucapan terima kasih karena barang-barang yang tertinggal di kereta ternyata diamankan oleh petugas. Sungguh, itu adalah kejadian yang tak terlupakan untuk saya dan keluarga.

Kini setelah dewasa dan bekerja di Jakarta, saya selalu melakukan perjalanan pulang ke Yogyakarta dengan kereta api. Walaupun jika dibandingkan dengan waktu tempuh pesawat, pesawat tentu yang lebih singkat, saya tetap mengidolakan kereta api. Alasannya sederhana, dengan kereta api, saya bisa mengenang kembali masa kecil saya.

Terima kasih, PT.KAI.

* Peringkat V dalam Lomba Menulis Cerita Pengalaman Menarik Naik Kereta, 69 Tahun HUT PT KAI #UntukKeretaku

#UntukKeretaku

#UntukKeretaku

Belajar Seru di #SundaySharing

Kalau saya bilang, “Belajar paling seru, ya, di #SundaySharing!” bakalan dicap sombong nggak, ya? Mengaku-ngaku, padahal baru kali pertama saya datang ke #SundaySharing =b.

Semuanya bermula saat saya menjelajah lini masa. Ada satu tweet menarik tentang #SundaySharing yang digagas oleh @Blogdetik. Karena penasaran, saya langsung menuju TKP dan sampailah saya di tautan #SundaySharing 9 : Tips Menulis Agar Dilirik Penerbit.

da35665562b1aa7aa579846b18f061b0_eposter-sundaysharing-9

Tanpa babibu lagi, saya langsung mendaftarkan diri via email karena takut tidak kebagian seat (yang gratis, topiknya hits, biasanya laris =b). Email terkirim. Yes! Langsung tandai kalender: “28 September #SundaySharing @11AM”.

Belajar Bebas, Bebas Belajar
Jaman memang berubah. Belajar tidak melulu di sekolah dengan posisi duduk manis dan tangan dilipat di atas meja. Itu kuno bin konvensional, katanya. Kini, belajar tidak lagi terikat ruang dan waktu. Jauh dan dekat tetap tiga ribu tidak menjadi kendala berarti bagi si pengajar dan si pembelajar.

Mitos belajar itu harus membayar pelan-pelan juga terpatahkan. Buktinya, ada kelas-kelas belajar yang memang diperuntukkan sebagai ajang belajar bersama sambil beraksi sosial (berbagi ilmu). Semuanya gratis. Nggak percaya?

Tak hanya #SundaySharing sebenarnya, sebut saja Akademi Berbagi yang ada di berbagai kota di Indonesia. Dengan topik-topik menarik dan kekinian, mengajak semua untuk belajar bersama. Pengajarnya pun juga orang–orang yang berpengalaman di bidangnya. Jadi, terbayang, kan, betapa serunya.

#SundaySharing 9
#SundaySharing kemarin Minggu (28 September) adalah #SundaySharing ke-9 yang diadakan. #SundaySharing selalu diadakan di kantor Detik, di daerah Warung Buncit. Pesertanya bebas, asal mendaftarkan diri dahulu melalui email. Uniknya, di setiap #SundaySharing, dipilih ketua kelas dan wakilnya yang akan mengatur acara dan menentukan tema serta narasumber di pertemuan berikutnya. Sehingga, dengan demikian, semuanya bisa aktif berperan.

Sebagai pendatang baru #SundaySharing, pertemuan kemarin Minggu sangat berkesan. Mulanya saya malu-malu tapi tak lama, setelah berkenalan dengan beberapa peserta yang hadir, saya justru semakin bersemangat untuk belajar. Ternyata hampir semua yang datang berasal dari komunitas blog maupun penulis-penulis yang telah memiliki beberapa buku. Walaupun telah menulis beberapa buku, mereka tetap humble dan bersedia berbagi tips dengan peserta lainnya (bahkan berbagi info lomba menulis juga, lho!). Jadilah dalam #SundaySharing 9 kemarin, pembicara dan peserta saling berbagi dan melengkapi.

Jadi, berminat untuk ikut #SundaySharing berikutnya? Nantikan, ya! Siapa tahu kita ketemu =b.

#SundaySharing - Foto di salah satu 'spot' unik di kantor Detik

#SundaySharing – Foto di salah satu ‘spot’ unik di kantor Detik

Catatan #SundaySharing 9
Cara Asyik Agar Naskah Dilirik Penerbit oleh Mbak Nunik Utami
Kalau ada pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang, maka dalam dunia penerbitan pun bisa jadi demikian, tak kenal maka tak diterbitkan. Walaupun menggunakan kata-kata yang sedikit berbeda, pepatah tersebut memiliki maksud yang hampir sama. Siapa sih kita sehingga buku kita ‘layak’ untuk diterbitkan. Siapa sih kita sehingga tulisan hasil karya kita ‘wajib’ dibaca orang. Nah, untuk membantu kita mengidentifikasi hal-hal itu, Mbak Nunik memberikan beberapa tips yang bisa kita ‘amalkan’ dalam kehidupan sehari-hari.

Lomba, lomba, lomba
Ikuti lomba menulis, terutama yang diselenggarakan oleh penerbit. Selain mengasah bakat menulis yang kita punya, lomba menulis juga bisa menjadi cara agar tulisan kita bisa ‘eksis’ di dunia kepenulisan.

Jadi teman
Tidak dapat dipungkiri, jaman sekarang, networking memiliki peran penting dalam pencapaian karir/tujuan. Jika kita ingin menjadi penulis, tidak ada salahnya berteman dengan orang-orang yang bekerja di penerbitan, seperti editor atau penulis. Selain bakal lebih update informasi, kita pasti punya kesempatan untuk menimba ilmu dari mereka.

It’s time for jaim (jaga image)
Kalau sudah berusaha ikut lomba menulis ini-itu dan berteman dengan beberapa editor yang bekerja di penerbitan, jangan lupa jaga sikap, ya! Jangan terlalu mengejar. Menyapa atau bertanya sih sah-sah saja, tapi jangan sampai terkesan meneror mereka. Selain itu, jaga sikap di social media. Tampakkan citra baik tentang diri kita.

Wajib kepo
Cari tahu itu wajib hukumnya. Jadilah seorang penulis yang aktif. Ya aktif menulis, ya aktif mencari informasi. Tidak hanya informasi soal lomba saja, tetapi juga informasi lain terkait penerbit yang kita incar. Misal, maunya penerbit X itu tulisan yang seperti apa, sih? Nah, dengan kepo, kamu bisa lebih peka dan tahu apa yang dimaui penerbit.

Ayo serbu
Punya tulisan-tulisan yang hanya ‘mendekam’ di folder komputer? Ayo, saatnya menunjukkan pesona tulisanmu kepada penerbit. Jangan takut ditolak. Anggap saja penolakan adalah sumber kekuatan. Jika tulisanmu ditolak oleh suatu penerbit, kamu masih bisa mengirimkannya kepada penerbit lain.

Awas diserbu balik
Kata Mbak Nunik, kalau kita sudah punya ‘nama’, terkadang orang-orang yang bekerja di penerbitan yang memburu kita. Kita diminta untuk menulis atau mengelurkan koleksi-koleksi tulisan kita yang siap untuk diterbitkan. Bisa juga kita menjadi penulis orderan yang diminta untuk menulis sesuai tema yang ditentukan oleh pihak penerbit.

Lets Move On and Do Something

Mari kita bicara tentang move on dan kesempatan. Tak banyak yang tahu, ternyata, dalam move on, terkandung banyak kesempatan baik. Kesempatan baik dapat membuat kita melakukan hal positif dan bermanfaat bagi orang lain.”

Ya, ya, sayangnya, hidup kita tidak semudah saat kita mengucapkan kalimat di atas. Hidup kita dipenuhi oleh pilihan-pilihan. Kita tidak tahu apa ‘ujung’ dari pilihan-pilihan itu. Sampai kapan kita hidup pun, kita tidak tahu.

Lalu?

Mari belajar pada kesempatan. Saat menulis ini pun saya belajar pada kesempatan. Merasa iri dengan beberapa orang yang berhasil dengan ‘one day one article‘-nya, saya hanya berpikir, kalau saya tidak memaksa jari-jari ini menari di keyboards laptop, mau mulai kapan menulis? Hanya berdiam diri dan mengurung hati dengan dengan ‘iri’?

Lets move on and do something.

Lakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang. Percayalah, semuanya berasal dari diri kita sendiri. Menakhlukkan rasa malas memang seperti menakhlukkan hewan buas. Siapa rasa malasnya? Diri kita sendiri. Siapa hewan buasnya? Diri kita sendiri. Siapa pawangnya? Diri kita sendiri. Mari kita berdamai dengan rasa malas kita.

Mengapa kita harus segera move on and do something?

Old people say: Mumpung Masih Muda alias 3 M
Prinsip 3 M ini bisa menjadi sebuah alasan, tapi juga bisa menjadi sebuah pembenaran, hati-hati. Mumpung masih muda, cobalah kesempatan untuk mengikuti organisasi/komunitas dan berkenalan dengan banyak orang. Bukan, mumpung masih muda, yuk kita habiskan uang tanpa ada jatah untuk tabungan.

Done better than perfect
Saya diingatkan oleh mentor saya, jangan sampai hal-hal yang bersifat detail, operasional, dan rutin menjadi penghalang kita untuk tidak segera melakukan sesuatu, yang bisa ditebak, ujung-ujungnya gagal.

Now or never
Now or never adalah judul album Nick Carter pada tahun 2000-an. Saya yakin, saat itu, pilihan bagi Nick Carter adalah mencoba bersolo karir dan mengeluarkan album sekarang atau tidak mencoba sama sekali dan hanya berkiprah di Back Street Boys. Now or never. Hampir sama dengan kasus kita. Lakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang atau tidak sama sekali dan akan menjadi beban tugas yang menumpuk.

Jadi, kesimpulannya, lets move on and do something. Kerjakan segera, sekarang, sesuai kemampuan kita. Sederhana, mudah, tidak apa-apa. Toh, sejak SD saja, kita selalu diminta untuk mengerjakan soal ujian dari yang mudah dahulu, bukan?

Inspirasi Lets Move On and Do Something dari sini

* * *

#AWGantiBaju29
#AWGantiBaju29
#AWGantiBaju29

#AWGantiBaju29 adalah sebuah perayaan ‘kecil’ nan meriah dalam rangka pergantian tampilan baru website AndrieWongso.com pada tanggal 29 Agustus 2014. Sungguh meriah karena kami diajak serta beramai-ramai untuk membuat video quote dan artikel tentang ‘Apa Pentingnya Move On’.

10628159_10152611648318389_5410145023058392001_n

Ini perayaan seru. Website AndrieWongso.com pun move on dengan tampilan baru dengan berbagai konten yang lebih ‘pas’ dan manis disajikan untuk semua. Yuk, jangan sampai terlewat satupun artikelnya. Kunjungi saja andriewongso.com :)

* Tulisan diikutsertakan dalam kompetisi menulis ‘Apa Pentingnya Move On’ – Andrie Wongso

Travel Blogger, Generasi Muda Dalam Pariwisata Indonesia

Bulan Agustus ditutup manis dengan penyelenggaraan Indonesia Tourism & Craft Economy Fair (ITCEF) 2014 di Jakarta Convention Center (JCC) pada tanggal 29-31 Agustus 2014. Dalam pameran yang diselenggarakan selama tiga hari tersebut, menampilkan ragam pariwisata Indonesia beserta produk-produk kreatif yang dihasilkan berbagai daerah.

Tidak dapat dipungkiri, pengembangan pariwisata selalu menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bersama. Hal ini disebabkan karena pariwisata berpotensi besar untuk menjadi tumpuan perekonomian Indonesia. Kita tidak dapat menutup mata begitu saja dengan keanekaragaaman kekayaan alam Indonesia. Walaupun demikian, mengandalkan kekayaan alam untuk memajukan pariwisata Indonesia tidaklah cukup. Diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) handal yang nantinya akan menggarap pariwisata dalam bingkai ekonomi kreatif.

Lalu siapa saja yang dimaksud dengan SDM handal yang akan menggarap pariwisata Indonesia? Jawabannya tentu saja seluruh masyarakat Indonesia. Semua orang Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam upaya pengembangan pariwisata Indonesia. Terlebih, para generasi muda dengan caranya yang ‘kekinian’ dan dinamis mampu membuat sebuah terobosan dalam bidang pariwisata.

Munculnya para travel blogger dengan ulasan-ulasan tentang destinasi pariwisata Indonesia merupakan salah satu cara anak muda Indonesia berkontribusi memajukan pariwisata Indonesia dengan kreatif. Tengok saja laman mesin pencari Google. Jika kita ingin berwisata ke suatu daerah dan mencari informasi tentang daerah tersebut melalui mesin pencari Google, maka beberapa yang muncul adalah ulasan-ulasan yang dibuat para travel blogger melalui blog pribadinya.

Ini menarik dan harus diapresiasi karena dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, seluruh dunia dapat mengakses informasi tentang daerah destinasi wisata di Indonesia. Sebut saja Ramang-ramang, di Makasar yang menjadi populer karena ulasan-ulasan para travel blogger yang pernah berkunjung ke sana.

Wonderful Indonesia!

* Tulisan diikutsertakan dalam Gagasan Pariwisata Indonesia – Bapak Sapta Nirwandar (periode 28 Agustus – 1 September 2014)

10620559_1466227750328292_901513266569482419_n

Pringsurat 7.488 Jam*

Sekarang sumber air su dekat. Beta sonde pernah terlambat lagi. Lebih mudah bantu mama ambil air untuk mandi adik. Karena mudah ambil air katong bisa hidup sehat.

Dengan logat ketimuran yang khas seorang anak Nusa Tenggara Timur (NTT) berseru mengungkapkan kegembiraan tentang mudahnya, kini, mengambil air dari rumahnya.

Cuplikan pariwara di atas merupakan gambaran dari program ‘1 Liter Aqua untuk 10 Liter Air Bersih’ atau dikenal dengan nama ‘Satu untuk Sepuluh’. Program yang digagas oleh Aqua tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat luas tentang cara hidup sehat melalui penyediaan akses air bersih serta pendidikan tentang kesehatan. Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT dipilih sebagai sasaran program karena pada saat itu sebagian besar wilayahnya sedang mengalami kelangkaan air bersih. Selain itu, jauhnya sumber air dari pemukiman, membuat masyarakat setempat kesulitan dalam mengakses air bersih.

Rupanya, masalah kelangkaan air bukan hanya milik kabupaten Timor Tengah Selatan saja. Berbagai daerah di Indonesia juga mengalami masalah kelangkaan air karena struktur tanah yang tidak mudah menyerap air serta curah hujan yang rendah. Salah satu daerah yang mengalami masalah serupa adalah kabupaten Gunung Kidul yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sudah bukan rahasia lagi, Kabupaten Gunung Kidul sering dilanda kekeringan sepanjang tahun. Selain disebabkan oleh faktor curah hujan yang rendah, struktur tanah kapur yang mendominasi wilayah kabupaten Gunung Kidul membuatnya sulit menjadi daerah resapan air. Hal itulah yang terjadi di Dusun Pringsurat. Pringsurat adalah sebuah dusun yang menjadi bagian dari Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DIY.

Bencana kekeringan sering melanda Dusun Pringsurat. Masyarakat di Dusun Pringsurat membutuhkan sumber mata air baru yang lebih layak karena sumber air yang sudah ada memiliki nilai debit yang relatif kecil. Sehingga, air yang dihasilkan belum dapat memenuhi semua kebutuhan masyarakat.

Sebenarnya, beberapa sumber mata air dapat kita temukan di Dusun Pringsurat, terutama di daerah hutan rakyat. Walaupun demikian, beberapa sumber mata air tersebut belum dikelola oleh masyarakat setempat. Hal tersebut disebabkan karena letak sumber mata air yang jauh dari pemukiman serta akses jalan menuju sumber mata air yang relatif sulit. Selain itu, belum adanya teknologi yang dapat digunakan masyarakat dalam pemanfaatan sumber mata air. Masyarakat masih bergantung pada sistem tradisional untuk mendapatkan air dari sumber mata air.

KKN PPM UGM
Berbekal fakta tersebut, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM menginisiasi sebuah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk melakukan konservasi dan pengembangan sumber mata air di dusun Pringsurat. Sekelompok mahasiswa tersebut melihat bahwa potensi masalah tentang kelangkaan air yang sudah berhasil dipetakan dapat segera diatasi dengan mengajak masyarakat setempat untuk mengoptimalisasikan sumber mata air baru.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk meyakinkan masyarakat, yang diwakili para tokoh masyarakat, untuk segera terjun ke lapangan. Mereka sama-sama meyakini bahwa air merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat ditawar lagi. Mereka berharap keberadaan sumber mata air baru dapat meningkatkan taraf hidup mereka menjadi lebih baik.

Sebagai langkah awal, dilakukan pengukuran debit dan pengambilan sampel air dari beberapa sumber mata air yang ada di dusun Pringsurat. Dari sumber-sumber mata air tersebut, ditentukan debit standar yang mampu digunakan untuk mencukupi kebutuhan air masyarakat setempat. Pengambilan sampel air pun dilakukan untuk mengetahui zat-zat yang terkandung serta tingkat keamanan jika kelak air dari sumber air tersebut dikonsumsi.

Jangan ditanya, berapa kali masing-masing anggota kelompok KKN-PPM tersebut mandi. Mungkin, bisa dihitung dengan jari. Walaupun selama program KKN-PPM berlangsung, berhubungan dengan air, masing-masing orang paham betul mereka sedang berada di daerah yang ‘defisit’ air. Semuanya dilewati dengan suka cita, terlebih saat bisa berinteraksi dengan masyarakat melalui beberapa program bertema sosial yang nantinya mendukung kesiapan masyarakat dengan adanya sumber mata air baru.

Pelibatan Masyarakat
Dalam melakukan tahapan-tahapan program, kelompok mahasiswa KKN tidak berjalan sendiri. Masyarakat juga berperan aktif dalam mewujudkan rencana pengangkatan sumber mata air baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pelibatan masyarakat secara intensif dimulai dari kerja bakti dan gotong royong dalam pembuatan akses jalan menuju sumber mata air yang berada di tengah hutan rakyat.

Pringsurat - Gotong royong pembuatan akses jalan menuju sumber mata air.

Pringsurat – Gotong royong pembuatan akses jalan menuju sumber mata air.

Setelah pembuatan akses jalan menuju sumber mata air selesai, masyarakat diajak dalam pembuatan instalasi penampungan air. Dalam pembuatan instalasi penampungan air, ada kolaborasi antara dosen pembimbing mahasiswa KKN, mahasiswa KKN, dan masyarakat. Pelibatan masyarakat dimaksudkan agar masyarakat memiliki rasa kepemilikan terhadap apa yang sudah dikerjakan bersama demi kebermanfaatan bersama.

Pringsurat - Kolaborasi antara dosen pembimbing mahasiswa KKN, mahasiswa KKN, dan masyarakat.

Pringsurat – Kolaborasi antara dosen pembimbing mahasiswa KKN, mahasiswa KKN, dan masyarakat.

Pringsurat - Pemasangan instalasi pengangkatan air.

Pringsurat – Pemasangan instalasi pengangkatan air.

Pringsurat - Hidran umum, tempat penampungan air dari sumber mata air.

Pringsurat – Hidran umum, tempat penampungan air dari sumber mata air.

Hal-hal yang bersifat teknis tersebut juga diimbangi dengan hal-hal yang bersifat sosial. Mahasiswa KKN menggerakkan masyarakat untuk ikut serta dalam usaha pemeliharaan dan pengelolaan air. Dari situlah, maka, dibentuk Kelompok Pengelola Air (KPA). KPA bertugas untuk mengenalkan masyarakat setempat tentang SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) sederhana dan pengelolaan air sederhana.

Paska Pengangkatan Air
Dalam rentang waktu dua bulan, instalasi pengangkatan air dari sumber mata air ke hidran umum berhasil dilakukan. Masyarakat menyambut suka cita karena mimpi adanya sumber air yang lebih dekat dengan pemukiman menjadi kenyataan. Optimisme masyarakat akan kehidupan yang lebih baik pun bertambah seiring dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang kini dilakukan.

Para ibu yang biasanya harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengambil air dari sumber mata air, bisa memanfaatkan waktunya untuk menemani anaknya ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan aktif di pengembangan diri dan keluarga melalui Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Para bapak pun rajin bergotong royong menjaga instalasi dan hidran umum demi sumber air yang bersih untuk semua.

Keberadaan sumber air yang dekat dengan pemukiman berpengaruh juga pada pola konsumsi air bersih dan Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK) masyarakat. Masyarakat beramai-ramai mengantri mengambil air bersih untuk keperluan konsumsi dan MCK di rumah. Jika semula hanya mengandalkan air dari sungai dan air hujan dari bak penampung air hujan, maka masyarakat mempunyai pola baru dengan memfungsikan kembali kamar mandi yang kini bisa teraliri air bersih. Hal ini menarik karena keberadaan air bersih berdampak signifikan pada kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Perjuangan KKN-PPM belum habis sampai di situ saja. Semangat keberlanjutan masih tetap menyala saat diadakan kembali KKN-PPM di Dusun Pringsurat sebagai KKN-PPM tahap 2. Rencana jangka panjang sudah disiapkan. Jika pada tahap pertama meliputi kegiatan konservasi sumber mata air, pembukaan akses jalan dan pemetaan, pembuatan penampungan dan distribusi air, maka di tahap selanjutnya adalah program pendistribusian air ke rumah-rumah warga dan tempat umum lainnya seperti masjid.

Kini, setelah sekian tahun berlalu, masyarakat Dusun Pringsurat sudah bisa tersenyum lebar. Masalah kelangkaan air dapat teratasi. Sebagai sebuah kebutuhan dasar, adanya sumber air yang dekat dengan pemukiman membuat masyarakat setempat mempunyai pola kehidupan baru yang semuanya mengarah pada peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan.

*Catatan :
Angka 7.488 diambil dari volume kerja kelompok KKN Tematik. Berdasarkan ketentuan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), masing-masing mahasiswa memikul Jam Kerja Efektif Mahasiswa (JKEM) sebesar 288 jam. Dengan jumlah kelompok KKN Tematik sebanyak 26 orang, maka total JKEM KKN adalah 288 x 26 = 7.488 jam JKEM KKN.

Referensi bacaan :
Oehela: Sekarang Sumber Air Su Dekat diakses pada 21 Agustus 2014
Satu untuk Sepuluh AQUA Bikin Hidup Lebih Berkualitas diakses pada 21 Agustus 2014
Air Untuk Pringsurat diakses pada 21 Agustus 2014
Proposal KKN-PPM Pemberdayaan Masyarakat Melalui Konservasi dan Pengembangan Sumber Mata Air di Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta – dokumentasi pribadi

Referensi foto :
Diunggah oleh anakkamera melalui Air Untuk Pringsurat diakses pada 21 Agustus 2014

Tulisan ini diikutsertakan dalam Anugerah Jurnalistik Aqua IV Kategori Blogger ‘Air dan Kehidupan, Untuk Indonesia yang Lebih Sehat’, kerjasama Aqua dengan BLOGdetik.

628e24d0b6756573c6c7005ff002e71b_lomba-blog-aqua-aja

Manisnya Kebaikan

Manisnya permen berawal dari kandungan gula di dalamnya.

Manisnya permen berawal dari kandungan gula di dalamnya.

Tenang, membaca blog ini, saya tidak akan berbicara tentang harga gula, yang pasti melangit, jelang lebaran tiba.

16.37 WIB.
Menantikan waktu berbuka puasa. Cocok kan, untuk berbicara tentang yang manis-manis. Ya, misalnya, gula.

Ide ini muncul tiba-tiba saat pagi tadi, saya memutuskan untuk membuat teh manis hangat untuk menemani saya di kantor yang masih sepi (Hihi, maafkan, saya sedang tidak berpuasa).

Saya mengambil gula dari toples gula, di lemari pantry yang tingginya kira-kira tepat sejidat saya. Gulanya habis ternyata. Hanya sisa-sisa yang menempel lengket di dinding dan dasar toples kaca.

Saya tak putus asa.

Sambil mengambil gula dengan gigih (baca: mengoreti), saya berpikir. Hebat juga ya, jika menjadi gula. Sesuatu yang manis ketika dirasakan dan tentu saja dicari banyak orang. Eh, semut doyan juga, ding. Pokoknya, satu kata. Membahagiakan!

Sore ini, beberapa jam yang lalu, saya mendapatkan telpon. Telpon itu adalah tawaran photo session untuk anak-anak di komunitas yang saat ini programnya sedang berlangsung di Jakarta oleh para profesional yang pastinya jago memegang kamera. Tidak sampai di situ saja, bahkan ada tawaran untuk berbuka puasa bersama juga. Wow!

Antara bahagia dan pusing juga mengatur jadwal yang sebelumnya sudah rapi tertata. Gila! Kebaikan itu mengalir. Deras. Sampai terkadang, kita dibuat tidak bisa berkata-kata.

Saya jadi berpikir tentang kejadian saat membuat teh manis tadi pagi. Bagi saya, kebaikan itu gula. Gula itu kebaikan. Manis dirasakan, dicari banyak orang, dan tentu saja menular. Sekalinya menaruh gula dalam suatu makanan atau minuman, manis seketika. Begitu pula dengan kebaikan. Tidak perlu menanyakan kapan, saya yakin, menular.

Gambar dari sini.

Tersenyum Untuk Masa Pensiun

Tomorrow is promised to no one

― (Clint Eastwood)

Pensiun? Akkkk … seakan menjerit tak percaya. Pensiun cukup abstrak untuk dibayangkan karena menyangkut masa depan. Banyak yang berpendapat bahwa masa depan itu nanti, serba tak pasti. Jadi, dibayangkan sekarang pun tidak akan ada artinya. Belum lagi, jargon ‘kita hidup untuk hari ini’, menambah daftar alasan untuk tidak berpikir tentang masa depan, termasuk masa pensiun itu tadi.

Nyatanya, yang tidak pernah dibayangkan sesungguhnya justru akan menimbulkan ketakutan tersendiri. Saya mengalaminya. Beberapa tahun mendekati masa pensiun, papa berulang kali mengingatkan saya dan kakak saya untuk segera mencari pekerjaan tetap. Alasannya cukup jelas. Memasuki masa pensiun, maka papa tidak bisa lagi membiayai semua pengeluaran saya dan kakak karena salah satu sumber pemasukan keluarga, yaitu gaji papa bekerja, akan hilang. Fasilitas-fasilitas dari kantor papa yang selama ini diterima pun akan ditarik kembali. Jadi, mau tidak mau, semua anggota keluarga harus bersiap.

Saat itu, saya tidak terlalu memikirkannya. Bagi saya, nanti itu nanti, bisa dipikirkan kemudian. Tak berselang lama (yeah, karena waktu memang terus berjalan), papa mengumumkan kepada kami semua bahwa beliau mulai tidak aktif bekerja, memasuki masa pensiun. Penawaran dari kantor untuk bertugas kembali pun ditolak dengan alasan ingin beristirahat di rumah.

Pensiun? Akkkk … Saya panik, papa tertawa. Saya tak menyangka waktu cepat sekali berjalan. Papa hanya mengiyakan. Papa tertawa melihat saya yang masih belia dan bekerja justru panik ketakutan dengan pensiun. Ada apa dengan pensiun?

Di kepala saya, saya membayangkan papa yang dahulu aktif bekerja, beraktivitas ini dan itu menjadi seorang yang pendiam dan pasif. Papa kesepian di rumah, sendiri, dan bla-bla-bla … Lagi-lagi papa justru menertawakan ketakutan saya.

Ternyata, saya salah besar. Pensiun bukan hantu atau sesuatu yang harus ditakuti dan dihindari. Masa depan itu memang serba tidak pasti, tapi bisa kita hadapi dengan segala perencanaan sebagai modal keberanian.

Di masa pensiun, papa memilih untuk berwirausaha di rumah dengan memanfaatkan tabungan dan simpanan yang sudah dipersiapkannya selama bekerja. Daripada mengambil kesempatan untuk ditugaskan kembali di kantor, papa memilih untuk membuka bisnisnya sendiri di rumah. Menyalurkan passion yang selama ini tertunda, katanya.

Papa 'menyulap' rumah menjadi oranye sesuai dengan warna jasa ekspedisi yang menjadi bisnisnya.

Papa ‘menyulap’ rumah menjadi oranye sesuai dengan warna jasa ekspedisi yang menjadi bisnisnya.

Saya malu ternyata pensiun bukan hantu.

Sekarang, saya mengerti ketika saya memakai baju yang belum pernah dilihat mama, mama hanya berkomentar singkat, “Baju baru? Lagi?” Mama paham betul saya orang yang cukup loyal dalam membeli baju. Mama bahkan memberikan saya gelar, “Si Tukang Baju.” Almari baju saya saksinya.

Itu belum selesai, mama juga akan menambahkan komentar, “Kamu nabung, kan?” Mmm … Komentar yang wajar sebenarnya karena sepertinya mama lebih sering melihat saya berbelanja daripada saya menabung.

Fakta bahwa saya suka berbelanja juga dikuatkan dengan intensitas saya berpindah tempat kerja. Papa dan mama sangat kritis dengan kondisi saya. Mereka selalu mengingatkan saya tentang masa depan dan masa pensiun. Apa yang akan terjadi nanti jika saya masih suka berbelanja dan sering berganti-ganti pekerjaan tanpa meyisihkan uang yang banyak? Pensiun macam apa?

It is not about counting the numbers, it is about willingness

― (Anonymous)

Saya percaya setiap generasi mempunyai masanya sendiri-sendiri. Cara hidup generasi tua, para pendahulu, tentu akan berbeda dengan generasi muda, sekarang. Keduanya tidak dapat disamakan. Perbedaan cara hidup itulah yang juga berpengaruh pada perbedaan cara dalam mengatur uang. Saya dan kedua orang tua saya, misalnya.

Papa dan mama saya memilih untuk menyisihkan uangnya setiap bulan untuk mengumpulkan dana pensiun selama periode waktu tertentu. Bagaimana dengan saya? Saya pun juga melakukan hal yang sama, menabung, tetapi tidak ‘sekencang’ papa dan mama. Mengalokasikan hampir 50% untuk tabungan pensiun adalah hal yang mustahil bagi saya, terlebih di masa sekarang. Saya yakin, saya tidak sendirian. Di luar saya banyak perempuan single, 26 tahun, dan berpenghasilan rutin setiap bulan, mengalami hal yang sama.

Zaman sekarang, di mana arus informasi dan teknologi lebih maju, manusia berlomba-lomba untuk mencari kemudahan dalam segala aspek kehidupannya. Hidup dibuat sedemikian rupa agar lebih mudah dan lebih cepat sesuai dengan kebutuhan. Kemajuan ini pun termasuk dalam cara mengatur uang. Selain tabungan, muncul berbagai produk perbankan yang ditawarkan, seperti deposito, reksadana, dan investasi emas. Nantinya, semuanya sama-sama dapat menjadi simpanan dan dimanfaatkan di masa pensiun.

Lagi-lagi, sebelum melangkah lebih jauh dan menentukan produk perbankan, kita harus melakukan perencanaan keuangan (financial planning). Cukup sederhana, kok. Pertama, kita harus memahami kondisi keuangan kita (Yes, u have to be honest with your self). Kedua, menentukan tujuan. Misalnya, dalam kasus ini adalah mempersiapkan dana pensiun. Ketiga, membuat perencanaan keuangan. Ketiga langkah itu bisa dimulai dari sekarang dan tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Mumpung kita masih sadar tentang betapa pentingnya mempersiapkan dana pensiun.

Saya dalam tahap itu. Selain menabung, saya mulai melirik produk-produk perbankan lainnya yang tentunya sesuai dengan kebutuhan saya. Saya sadar, ternyata, menabung saja tidaklah cukup. Misalnya, dalam kasus mempersiapkan dana pensiun. Orang tua saya, bisa saja, hanya mengandalkan tabungan pensiun kala itu. Tetapi seiring berjalannya waktu, besarnya uang yang harus disisihkan setiap bulan, menjadi sangat besar jika dikonversikan dengan masa kini. Banyak hal lain yang juga harus dipertimbangkan, seperti lama menabung, besar uang yang harus ditabung sekarang, suku bunga, target pensiun, target uang saat pensiun, dan uang yang sudah ditabung saat ini.

usia sekarang, usia pensiun, hingga nanti usia yang menjadi rahasia Tuhan. Sampai di mana kita?

usia sekarang, usia pensiun, hingga nanti usia yang menjadi rahasia Tuhan. Sampai di mana kita?

Belajar dari pengalaman papa, saya jadi ingat akan sesuatu hal. Pensiun bukanlah sebuah titik. Sesungguhnya, pensiun adalah waktu yang lebih panjang jika dibandingkan dengan kita saat ini menuju masa pensiun. Masa depan memang tidak pasti. Alangkah baiknya jika selagi muda, di waktu yang terbatas, kita bisa mempersiapkan masa pensiun kita dengan sebaik-baiknya. So, are u ready??

BP_simponi-blogger-2

* Cerita ini diikutkan dalam BNI Simponi Blogging Competition http://bit.ly/BNI_Simponi


My blog!

"Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, sambunglah dengan tulisan..."
(Pramoedya Ananta Toer)

Berbagi cerita.

Join 2,869 other followers

My Tweets


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,869 other followers

%d bloggers like this: