Korea Part 1 : Korea Nekat

Suka jalan-jalan? Iya.
Ke mana? Mana aja.
Kapan? Lihat jadwal dulu, ya.

Krik.

Tiga pertanyaan sakral itu milik saya (dan bisa milik kamu juga kalau kamu bernasib sama dengan saya. Ihik, kita sama!). Ya, bagaimana mungkin, status sebagai pekerja yang dilengkapi dengan ‘seperangkat cuti’ tidak mengizinkan untuk ‘berlenggang kangkung’ bepergian sesuka hati menyalurkan hobi jalan-jalan. Kalender 12 bulan dan jatah cuti tahunan menjadi sahabat karib bin ikrib.

Memang tidak bisa dipungkiri, godaan tiket murah sering datang bersliweran dari maskapai-maskapai penerbangan. Apapun namanya, ya, festival tiket murah, ya travel fair, ya promo penerbangan, semuanya… gencar dilakukan di akhir tahun untuk penerbangan tahun depan.

Tergoda? Sangat!

Itulah yang terjadi pada saya. Semua itu berawal dari sini.

TKP: sebuah ruangan di perkantoran kawasan Permata Hijau
Waktu: suatu hari di 2013, di sela-sela istirahat makan siang

Het, jadi ikut nggak?” kata seorang teman tanpa menoleh dari layar PC-nya.
Apaan?” tanya saya balik tanpa menoleh juga dari layar PC saya. Sungguh, ini percakapan yang egois karena sama-sama tidak mau bertatap muka.
Korea, 4 juta pp, sini deh,” jawab teman saya girang.
Wow!” saya pun bangkit dari singgasana (kursi kantor, maksudnya :p) dan mendekati meja kerja teman saya.
Mau??” tanya teman saya. Percayalah, antara menawari dan menggoda itu beda tipis.
Boleh” jawab saya cepat, tanpa babibu, dan .. impulsif.

Click. Booking.

Judulnya, Korea Nekat.

*Bersambung ke episode berikutnya …
(Alias next posting. Sabar, ya, pemirsa!)

Korea Part 1: Korea Nekat - Korea, here we go!

Korea Part 1: Korea Nekat – Korea, here we go!

Catatan:
Paska booking tiket ke Korea (setelah sadar diri, lebih tepatnya), yang harus disiapkan dalam 1 tahun ke depan (kencangkan ikat pinggang, tahan napas, ikat kepala):
1. Seperangkat keberanian (untuk mengajukan cuti, untuk merancang biaya yang dibutuhkan, untuk membela diri bahwa ya, saya ingin liburan, serta untuk mengadakan perjalanan ke negeri orang)
2. Uang (rumus: bekerja giat + hemat + cari side job untuk tambahan)
3. Informasi tentang destinasi yang dituju, baik online maupun offline (dari nanya-nanya orang yang pernah ke sana, baca buku sampai baca blog orang)
4. Siap mental untuk berangkat (packing syndrome, antara barang yang dibawa vs berat bagasi)
5. Hati yang siap diisi kebahagiaan. Yes, free time, baby! Yihaaaa …!

Sahabat KAI Gathering, Berkumpulnya Para Pecinta dan Pelanggan Setia Kereta

(Nostalgia penulis: Walaupun kalender sudah berganti November, ada yang tak bisa lupa dari Oktober).

* * *

Pergi dibayar bisa jadi mimpi setiap orang. Duduk manis, gratis, tanpa memikirkan akomodasi perjalanan, dan bisa santai ‘kipas-kipas’ sampai di destinasi tujuan. Siapa yang menolak?

Sahabat KAI Gathering - Teman baru (*dokumentasi teman)

Sahabat KAI Gathering – Teman baru (*dokumentasi teman)

Mimpi yang menjadi kenyataan itu milik kami, para pelanggan setia KAI, Oktober kemarin (10-12/10). KAI memberikan kejutan tiga hari dua malam, melewatkan akhir pekan di Semarang (ada 1 malam yang dilewatkan di kereta, dari kota masing-masing menuju stasiun Tawang, Semarang). Acaranya dikemas dengan nama Sahabat KAI Gathering.

Sahabat KAI Gathering diadakan dalam rangka perayaan ulang tahun KAI ke-69. Sebagai bagian dari acara gathering itu, KAI mengajak pelanggan setianya untuk bertatap muka dan berwisata bersama ke beberapa objek wisata di Semarang, seperti Sam Pho Kong, Kampung Banaran, Lawang Sewu, dan Museum Kereta Api Ambawara. Semarang dipilih sebagai destinasi tujuan karena dianggap sebagai bagian dari sejarah peradaban kereta api. Tidak jauh dari Semarang, kita bisa bernostalgia dengan kereta uap di kota Ambarawa.

Sahabat KAI Gathering - Sam Pho Kong, Semarang

Sahabat KAI Gathering – Sam Pho Kong, Semarang

Sahabat KAI Gathering - Kampung Kopi Banaran, Semarang

Sahabat KAI Gathering – Kampung Kopi Banaran, Semarang

Sahabat KAI Gathering - Lawang Sewu, Semarang

Sahabat KAI Gathering – Lawang Sewu, Semarang

Sahabat KAI Gathering - Museum Kereta Ambarawa

Sahabat KAI Gathering – Museum Kereta Ambarawa

Selama perjalanan, pelanggan bisa berinteraksi langsung dengan KAI dan menyampaikan segala aspirasinya kepada perusahaan kereta api negara itu. Isinya macam-macam, boleh keluh kesah, cerita pengalaman berkesan, sampai masukan yang bisa dijadikan perbaikan KAI ke depan.

Pelanggan yang diundang dalam Sahabat KAI Gathering tidak hanya berasal dari wilayah Jabodetabek saja, tetapi juga wilayah lain seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta, bahkan Surabaya. Bagi KAI, katanya, kami istimewa sehingga kami sengaja didatangkan dari berbagai kota. Kami adalah pelanggan yang (katanya lagi) perhatian dengan KAI.

Sesama pelanggan pun jadi penasaran. Mengapa kami bisa diundang? Semuanya serba kejutan. Saat saling ‘curhat,’ kami sepakat, kami pecinta kereta. Tapi selebihnya? Akhirnya, rasa penasaran kami terjawab saat gala dinner di Balemong Resto, Ungaran, Semarang.

Jika saya dan sembilan teman adalah pemenang lomba menulis KAI, Untuk Keretaku, maka ada beberapa teman lain yang lebih unik. Di antaranya, orang yang masuk dalam kategori sering menggunakan kereta api atau pelanggan setia KAI. Bayangkan, dalam satu minggu bisa satu sampai dua kali pulang pergi Jakarta – Surabaya atau Jakarta – Purwokerto dengan menggunakan kereta api eksekutif.

Selain itu, ada juga best couple pelanggan KAI. Mereka adalah pasangan suami istri yang sering bepergian bersama menggunakan kereta api sebagai sarana transportasi ke luar kota. Saat dipanggil ke depan panggung dan bercerita, tiga pasangan suami istri itu nampak bahagia berbagi kisah manis perjalanan mereka.

Tidak sampai di situ saja, kategori selanjutnya yaitu pelanggan peduli. Ada seorang pelanggan yang sering mengirimkan testimoninya melalui email setelah melakukan perjalanan dengan kereta api. “Pengalaman baik pada hari itu saya ceritakan, pengalaman buruk dengan kereta api yang saya alami pun saya ceritakan juga,” kata seorang Bapak mantap dan disambut tawa oleh peserta gala dinner yang memenuhi aula. Selain itu, ada juga pelanggan kereta api yang setiap waktu mengirimkan foto-foto kereta api melalui twitter (twit pic) dan me-mention akun KAI. Walupun terlihat iseng dan sederhana, ternyata hal itu dilakukan karena kecintaannya terhadap kereta. Wow!

Saya berdecak kagum mendengar dan menyaksikkan sendiri kesaksiaan teman-teman, sesama pelanggan kereta api. Ternyata, setiap pelanggan punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari hal-hal sederhana tapi rutin dan berhasil menunjukkan kecintaan seorang pelanggan pada kereta api. Sebagai pelanggan kereta api rute Jakarta – Yogyakarta, dan rute sebaliknya, saya menilai bahwa di balik perusahaan yang besar, ternyata ada peran pelanggan yang ‘perhatian’. Pelanggan itulah yang nantinya memberikan penilaian terhadap pelayanan yang diberikan perusahaan.

Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, kereta api terus menuliskan sejarahnya sendiri. Dari kereta uap berbahan bakar kayu sampai kereta yang bisa kita nikmati seperti saat ini. Dari kelas bangsawan yang hanya boleh menikmati jasa kereta pada masa kolonial, sampai sekarang, kereta bisa dinikmati oleh semua kalangan. PT KAI terus berbenah, pelayanan kereta api terus berubah.

Selamat ulang tahun PT KAI.
Kereta api, 69 tahun melayani.
Sampai jumpa di gathering selanjutnya :).

Baca juga, cerita seru saya tentang kereta api di sini, Untuk Keretaku.

Ha Untuk Hujan

Bukannya saya membenci hujan, sungguh. Sebab, saat kecil, hujan adalah suasana terbaik untuk tidur, apalagi tidur siang. Tidur siang yang sudah mirip ritual disuruh mama itu menjadi begitu mudahnya. Tinggal memejamkan mata. Bayangkan, jika tidak ada hujan dan tubuh ini masih belum bisa diajak kompromi untuk diam, susah sekali tidur siang, mirip ulangan mencongak Matematika yang saya tidak sukai karena hanya membuat jantung berdetak lebih kencang.

Bukannya saya membenci hujan, sungguh. Entah mengapa, saya dewasa kini, saya sering tak beruntung saat hujan. Janji-janji ketemuan dengan teman batal hanya karena ada guyuran air besar dari langit. Tak singkat memang, bisa satu sampai dua jam. Sudahlah, saya mengalah dengan hujan. Saya anggap itu sebagai cara hujan untuk mengingatkan saya agar kembali ke rumah lebih cepat. Lebih cepat mengistirahatkan badan.

Bukannya saya membenci hujan, sungguh. Hujan, ah hujan. Hujan menjadi susah ditebak hadirnya. Di pagi yang cerah dan siang yang panas, matahari menjanjikan hari yang terang, tak ada hujan. Tapi nyatanya, kini, lihat saja jendela, rasakan saja dinginnya. Hujan, oke, kamu tak menipu. Aku yang salah memperkirakan. Seperti hari ini, aku memakai celana panjang warna terang dan di sore saat bersiap pulang, tiba-tiba hujan. Uh! Tau sendiri kan, memakai celana warna terang, melewati genangan air adalah tantangan.

Bukannya saya membenci hujan tapi saya tetap harus pulang. Kita bertarung? Oke. Tak ada payung. Dari kering, hujan hanya menjadi basah. Apa yang harus dikhawatirkan?

Hujan, kuputuskan, kamu yang mengantarku pulang.

Ha untuk Hujan, bukannya saya membenci hujan.
Ditulis, dari hujan ke hujan

vOffice, Senyum Para Pengusaha Bertambah Manis

Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya manusia (man power). Dengan dominasi penduduk usia muda yang besar, Indonesia berpeluang untuk menjadi sebuah negara yang dinamis dan produktif sebagai wirausaha. Wirausaha selalu diidentikkan dengan kreativitasnya dalam mengembangkan dan mengolah segala sesuatu menjadi berdaya guna. Dengan demikian, yang diolah wirausaha menjanjikan kemajuan bagi sebuah negara.

Bagi beberapa orang, paragraf di atas seperti sebuah wacana. Percayalah, sesungguhnya, hal itu bukan isapan jempol semata. Berdasarkan data yang diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wirausaha pada Februari 2014 mencapai 44,20 juta orang dari 118,17 juta orang penduduk Indonesia yang bekerja. Jika dibandingkan dengan data pada Februari 2013 yang jumlahnya hanya 44,01 juta orang, maka jumlah tersebut menunjukkan peningkatan. Sungguh merupakan kabar gembira, bukan?

Munculnya wirausaha dengan segala kreativitasnya memicu kebutuhan-kebutuhan lain yang dapat mengakomodasi kepentingan mereka. Seiring perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, kebutuhan wirausaha masa kini dengan generasi sebelumnya tentu berbeda, tidak bisa disamakan. Misalnya, kebutuhan akan tempat bekerja. Jika generasi sebelumnya, tidak terlalu ambil pusing dengan tempat bekerja, maka, kini, lebih mempertimbangkan tempat bekerja yang tidak hanya nyaman, tetapi juga dapat menyesuaian pergerakkan mereka yang dinamis.

Contoh nyata, ketika sekelompok anak muda lulusan teknik sipil dan arsitektur yang baru pertama bekerja (first jobber) memutuskan untuk berhenti (resign) dan mendirikan sebuah lembaga konsultan milik mereka sendiri. Tantangan utama yang dihadapi adalah keberadaan kantor konsultan yang nantinya juga menjadi salah satu aspek ‘daya jual’ konsultan tersebut kepada klien yang akan menggunakan jasanya. Dengan modal terbatas, menyewa kantor yang berlokasi di titik strategis bukanlah hal yang mudah.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Berhenti mewujudkan mimpi untuk mempunyai lembaga konsultan sendiri atau tetap maju terus dengan merelakan digit angka persewaan gedung yang tinggi?

Sungguh, dua pilihan yang dilematis.

Tenang, pertanyaan di atas dapat terjawab dengan mudah. Kini, tidak ada istilah bagi wirausaha atau para pelaku usaha (pengusaha dan pebisnis) untuk tersenyum pahit dalam mewujudkan mimpi memiliki kantor sendiri di wilayah yang strategis dengan berkompromi dengan biaya persewaan gedung yang tinggi. vOffice akan membuat senyum para pengusaha bertambah manis.

vOffice adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa persewaan kantor di wilayah yang strategis. Dari sejarahnya, tahun 2013, vOffice berdiri dari gagasan para pengusaha dari berbagai negara yang mencoba merumuskan dan menjawab tantangan yang dihadari para pengusaha yang berkaitan dengan tempat usaha. Para pengusaha tersebut antara lain Albert Goh (Malaysia), ALbert Mac (Australia), Sean Lim (Hongkong), dan Sean Tham (Singapura).

Dari Australia, vOffice mulai diperkenalkan di Malaysia, kemudian disusul Filipina. Sedangkan di Indonesia sendiri, vOffice baru masuk pada tahun 2012. Pada saat itu, Sean Tham dan ALbert Mac menggandeng Erwin Soerjadi sebagai local partner di Indonesia. vOffice pertama di Indonesia beralamat di Menara Rajawali, Mega Kuningan, Jakarta.

Hingga saat ini, vOffice di Indonesia terus berkembang dan melebarkan sayapnya. Di Jakarta, ada 6 kantor yang telah dibuka, antara lain The City Tower – Thamrin, Office 8 – SCBD, Kencana Tower – Kebon Jeruk , Grand Slipi Tower – Slipi, serta The CEO Building. Tidak hanya di Jakarta saja, vOffice juga berkembang di Surabaya, seperti Bumi Mandiri Tower, Intiland Tower, serta Spazio. Di luar Pulau Jawa, vOffice juga akan merambah kawasan Sumatra, yaitu Medan dan kawasan Bali.

Adapun jasa persewaan kantor yang ditawarkan vOffice ada dua, yaitu virtual office (kantor virtual) dan serviced office (persewaan kantor). Sesuai namanya, vOffice menawarkan virtual office atau kantor virtual kepada siapa saja yang membutuhkan, terutama para pengusaha yang dituntut untuk mempunyai kantor di wilayah yang strategis.

Apakah vitual office atau kantor vitual itu?

Bagi sebagian orang, virtual office atau kantor virtual nampak masih menjadi istilah yang asing di telinga. Kantor virtual adalah sebuah kantor dengan layanan perkantoran dalam format virtual. Disebut virtual karena pemilik bisnis dan karyawannya dapat bekerja dari lokasi yang berbeda, tidak ‘melulu’ dari kantor tersebut. Walaupun bekerja dari lokasi yang berbeda, mereka masih tetap memiliki sebuah kantor yang memiliki kedudukan dan alamat yang jelas. Sebagai bukti, walaupun berkonsep virtual, kantor tersebut masih dapat memiliki ruang kerja, ruang meeting, nomor telepon, nomor fax, resepsionis, serta kelengkapan kantor lainnya.

Lalu, apa yang membedakan dengan kantor konvensional pada umumnya?

Jika kantor konvensional menuntut keberadaan karyawan untuk bekerja di dalamnya, maka tidak demikian dengan kantor virtual. Kartor virtual sebatas pada keberadaan dan alamat sebuah kantor yang nantinya juga bisa dilengkapi dengan kelengkapan kantor, seperti kantor konvensional pada umumnya. Selain itu, perizinan legalitasnya pun jelas. vOffice mengurus izin legalitas alamat perusahaan yang bersangkutan. Jadi, jangan dibayangkan kantor virtual adalah kantor ‘abal-abal’ atau beralamat palsu.

Mengapa harus vOffice?

Gagasan tentang vOffice muncul, bermula dari para pengusaha yang mencoba menjawab tantangan pengusaha. Para pengusaha tersebut mengerti bahwa lokasi yang strategis merupakan sebuah kebutuhaan dasar yang harus dipenuhi namun sering terkendala dengan permasalahan biaya. Perusahaan penyedia jasa kantor virtual memang banyak, tapi sekali lagi, yang istimewa, vOffice menyuguhkan kawasan kantor yang berlokasi di titik strategis di sebuah wilayah. vOffice tidak menyediakan kantor virtual yang berada di kawasan perumahan, ruko, atau gedung yang kurang representatif sebagai alamat kantor.

Yang istimewa dari kantor virtual…

Kebutuhan akan kantor yang strategis adalah mutlak bagi para pengusaha. Dengan pergerakan yang dinamis dan mobilitas yang tinggi, kantor virtual dapat mengakomodasi kebutuhan para pengusaha. Dengan adanya kantor virtual, para pengusaha dapat bekerja dari dan di mana saja. Biaya sewa gedung yang semula menjadi kendala, juga teratasi dengan kantor virtual. Selain itu, keberadaan kantor yang strategis menambah posisi tawar serta citra positif bagi perusahaan.

Seperti yang diungkapkan Dini Desfaty, Senior Consultant vOffice, pemakaian kantor virtual bisa menghemat biaya hingga 95% lebih murah jika dibandingkan dengan kantor konvensional. Kantor virtual sangat cocok bagi perusahaan yang baru berdiri dan ingin menempati lokasi yang strategis dengan efisiensi biaya. Selain cocok bagi perusahaan baru, penggunaan kantor virtual juga sangat bagus bagi perusahaan yang akan melakukan ekspansi atau membuka cabang. Pemilihan lokasi kantor virtual yang tepat akan memberikan manfaat serta keuntungan tersendiri bagi pengusaha dalam mengembangkan bisnis.

Jadi, para pengusaha tunggu apa lagi?

Baca selengkapnya di sini http://surabayavirtualoffice.com/

virtual office

Nabung ‘Iya’, Belanja ‘Iya’, Yuk, Pintar Membuat Perencanaan Keuangan!

Kaum perempuan dan belanja adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Terlebih ketika belanja menjadi salah satu kegiatan yang digemari sampai menjadi hobi. Mayoritas kaum perempuan suka berbelanja walaupun dalam kehidupan nyata di sekeliling kita, ada juga sebagian perempuan yang tidak suka belanja dengan alasan yang beragam. Sebut saja nama-nama yang sudah tidak asing di telinga, seperti Rebecca Bloomwood dalam Confession of a Shopaholic, Carrie Bradshaw dalam Sex and The City, dan Miss Jinjing. Beberapa figur perempuan yang hadir, baik sebagai sosok dalam film, buku, atau kehidupan nyata, sangat diidentikkan dengan belanja.

Nabung Iya, Belanja Iya, Yuk, Pintar Membuat Perencanaan Keuangan

Apakah kamu juga perempuan yang suka berbelanja?

Pada dasarnya, dalam kajian ekonomi, belanja merupakan salah satu kegiatan konsumsi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Manusia sebagai makhluk ekonomi (homo economicus) memiliki sikap yang rasional atas pilihan-pilihan yang ada dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara efisien.

Secara budaya, Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut sistem patrilineal, menempatkan perempuan sebagai sosok pengelola keuangan dalam keluarga (domestik). Perempuan, secara alamiah, dinilai mampu mengatur hal-hal yang berkaitan dengan kerumahtanggaan, termasuk di dalamnya adalah pengaturan uang. Uang yang dikelola perempuan berasal dari laki-laki yang ditempatkan sebagai orang yang mencari uang. Pengelolaan uang yang dilakukan oleh perempuan, nantinya digunakan untuk kegiatan konsumsi kerumahtanggaan.

Seiring perkembangan zaman, peran perempuan dalam kegiatan perekonomian semakin luas. Perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama besar dalam kegiatan perekonomian. Perempuan yang semula hanya terlibat dalam kegiatan konsumsi atau membelanjakan uang di ranah domestik, menjadi terlibat dalam kegiatan ekonomi yang lain, seperti produksi dan distribusi dalam ranah publik. Dengan keterlibatan yang semakin luas, perempuan mampu menghasilkan dan mengelola uangnya sendiri tanpa harus bergantung pada laki-laki.

Di kota-kota besar dengan kehidupan yang serba modern, perempuan tampil sebagai salah satu aktor penting penggerak perekonomian. Perempuan muncul sebagai pengusaha, pebisnis, maupun pekerja di sektor publik dan privat. Dari kemampuannya tersebut, muncullah istilah, perempuan yang mandiri secara ekonomi. Dengan memiliki uangnya sendiri, perempuan mampu untuk melakukan kegiatan konsumsi, misalnya berbelanja.

Di sisi lain, keberdayaan perempuan dalam ranah ekonomi dipandang sebagai sebuah pasar yang potensial oleh para pelaku bisnis. Perempuan dijadikan sebagai sasaran pemasaran produk-produk mereka. Hal ini disebabkan karena selain populasi perempuan yang cukup besar, perempuan juga dianggap memiliki pengaruh yang kuat dalam menentukan selera pasar. Misalnya, perkembangan dunia fashion yang pesat, didukung oleh selera perempuan, sebagai konsumen, yang dinamis.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan berbelanja. Jika belanja dilakukan dengan porsi yang wajar dan benar tidak akan menjadi sebuah persoalan. Masalah yang banyak terjadi adalah perempuan yang berbelanja tanpa memperhatikan kemampuannya, sehingga melebihi pendapatannya. Gempuran pasar yang kuat menjadikan perempuan konsumtif dalam berbelanja. Harus diakui, godaan kartu kredit, diskon, serta kemudahan dalam berbelanja selalu menjadi ‘iming-iming’ dari penjual kepada perempuan.

Lalu, apa yang harus dilakukan kaum perempuan?

Yuk, Buat Perencanaan Keuangan
Perencanaan keuangan (financial planning) bukan ‘melulu’ berbicara tentang menghitung jumlah uang yang dimiliki, melainkan bagaimana kaum perempuan, secara sadar diri, mampu mengatur pemasukan dan pengeluarannya sesuai dengan tujuan di masa depan. Perempuan harus menyadari bahwa pendapatan yang diperolehnya tidak harus habis untuk kegiatan konsumsi semata. Perempuan dapat membuat perencanaan keuangan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di masa depan yang umumnya tidak dapat diperhitungkan.

Apa saja langkah-langkahnya?

Pertama
Perempuan harus memahami kondisi keuangannya dengan jujur. Berapa pendapatan yang diterima setiap bulan, berapa biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan, seperti biaya membeli kebutuhan sehari-hari, listrik, transportasi, pulsa, dan biaya lainnya. Semuanya dapat dilakukan dengan melakukan pencatatan secara sistematis. Dengan pencatatan keuangan, perempuan dapat melihat kondisi keuangan yang sebenarnya.

Kedua
Perempuan harus menentukan tujuan saat membuat perencanaan keuangan. Misalnya, ingin melanjutkan studi ke luar negeri, ingin berlibur, atau ingin membeli sepatu impian. Dengan tujuan yang jelas, maka dapat disususn berapa uang yang harus dikumpulkan untuk mencapai tujuan yang direncanakan.

Ketiga
Setelah memahami kondisi keuangan dan menentukan tujuan, perempuan dapat segera membuat perencanaan keuangannya. Contoh yang sederhana, ingin membeli sepatu impian sehingga harus menabung selama sekian waktu. Dengan demikian, sebagai konsekuensinya, akan ada sebagian uang yang harus ditabung atau disisihkan dan tidak semua habis digunakan untuk berbelanja. Pada masa sekarang, dengan dukungan kemajuan teknologi, cara pengaturan uang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga lebih mudah dan cepat sesuai dengan kebutuhan. Selain tabungan, ada juga berbagai produk perbankan, seperti deposito, reksadana, dan investasi emas. Semuanya dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan.

Nah, ternyata membuat perencanaan keuangan tidak sesulit yang dibayangkan. Kaum perempuan dapat dengan mudah melakukannya. Dengan perencanaan keuangan yang matang, belanja pun tidak akan dipenuhi rasa bersalah. Kaum perempuan dapat membuat perencanaan keuangannya, sekaligus berbelanja barang kesukaan. Belanja? Siapa takut? :)

Sumber foto:
Funding daily: go shopping for vintage clothes and Russian furniture, 16 Mei 2012, <http://venturebeat.com/2012/05/16/funding-daily-may-16-2012/>, diakses tanggal 25 Oktober 2014

* Tulisan ini diikutsertakan dalam Sun Anugerah Caraka Kompetisi Menulis Blog 2014

Kereta Api Sahabat Keluarga

#UntukKeretaku Kereta Api Sahabat Keluarga*

Kalau ditanya, alat transportasi apa yang merekatkan hubungan keluarga,
saya akan menjawab mantap, kereta api!

Kereta api sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga saya sejak saya masih kecil. Ini bukan karena ayah saya seorang masinis atau ibu saya bekerja sebagai karyawan PT. KAI, lho! Melainkan banyak peristiwa yang melibatkan saya dan keluarga dengan kereta api.

Sejak kecil, setiap sore, pengasuh saya selalu mengantar saya ke rel kereta api dekat rumah untuk melihat kereta api yang lewat. Ini seperti ‘ritual’ sore hari. Sambil menyuapi saya, kami berdua rela menunggu kereta api lewat sejak sore hingga petang menjelang.

Kini, setelah dewasa, jika kebetulan lewat di daerah rel kereta api pada sore hari, saya selalu tertawa sendiri. Ternyata, banyak juga orang tua yang mengajak anaknya untuk melihat kereta api lewat di sore hari. Kalau tidak percaya, coba tengok di daerah stasiun Lempuyangan, dekat Baciro, Yogyakarta. Saking banyaknya orang yang menonton kereta api lewat, bermunculan pedagang makanan dan mainan yang mencoba memanfaatkan kempatan ini untuk mencari rejeki.

Tidak sampai di situ saja, kereta api juga menjadi alat transportasi dramatis yang kadang sampai membuat menangis. Dulu, seorang pengantar bisa ikut mengantarkan penumpang sampai masuk di gerbong kereta api. Terbayang, banyak adegan dramatis yang terjadi di dalam gerbong, mulai dari berpelukan melepas kepergian sampai menangis. Hal itulah yang terjadi pada saya.

Selama beberapa bulan, saya sempat berpisah dengan ibu saya karena beliau harus menyelesaikan pendidikan Diploma kepenyiarannya di Jakarta. Setiap beberapa minggu sekali, beliau akan menyempatkan waktu untuk pulang ke Yogyakarta dan kembali lagi ke Jakarta, begitu seterusnya sampai masa studi habis. Saya yang masih kecil selalu berat hati mengantarkan ibu saya ke stasiun, bahkan tak jarang saya menangis dan tidak mau turun dari gerbong, ingin ikut ke Jakarta.

Lucunya, saat akhir masa studi ibu, ada kejadian yang membuat saya dan keluarga selalu terkenang dengan kereta api. Mungkin bisa jadi ini adalah kenang-kenangan dari kereta api kepada keluarga saya. Kejadiannya terjadi di stasiun Gambir, Jakarta.

Saat akhir masa studi Diploma ibu di Jakarta, kami sekeluarga memutuskan untuk menyusul ke Jakarta. Kebetulan, saat itu ada saudara yang menikah dan mengundang kami sekeluarga ke Jakarta. Saat akan kembali ke Jogja, ibu turut membawa pulang kardus-kardus berisi buku-buku saat kuliah serta koper-koper. Ayah, ibu, kakak, dan saya bekerja sama membawa semua barang itu naik ke kereta api.

Mengingat banyaknya barang, ayah dan kakak saya memutuskan untuk naik dahulu ke kereta api sambil membawa beberapa barang. Sebagian barang yang tersisa masih ada di peron bersama ibu dan saya. Selanjutnya, ayah akan turun kembali menjemput ibu, saya, dan barang-barang yang tersisa sementara kakak saya sudah menunggu di dalam gerbong.

Di dalam gerbong, ternyata kakak saya waswas. Saat itu kereta sudah berjalan pelan akan meninggalkan stasiun Gambir menuju Yogyakarta. Padahal ayah, ibu, dan saya belum muncul-muncul juga.

Atas inisiatifnya sendiri, kakak saya segera berlari dan meloncat kembali ke stasiun menghubungi petugas bahwa ayah, ibu, dan saya ketinggalan kereta. Sementara, di waktu yang sama, ayah, ibu, dan saya sudah sampai di tempat duduk dan mencari keberadaan kakak saya. Sepanjang gerbong dan toilet kami cek, tapi hasilnya nihil. Kakak saya tidak ditemukan.

Ayah dan ibu mulai panik tapi apa daya, kereta api sudah berjalan cepat meninggalkan stasiun Gambir. Kereta api juga tidak bisa berhenti sampai tiba di stasiun berikutnya. Saya yang masih kecil hanya diam saja berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Setelah berkonsultasi dengan petugas di dalam gerbong, kami bertiga disarankan untuk berhenti di stasiun Jatinegara. Petugas kereta pun berjanji segera memberitahukan kepada pihak stasiun Gambir bahwa ada laporan kehilangan anak.

Sesampai di stasiun Jatinegara, kami bertiga diminta untuk menunggu di ruangan kantor. Ibu tak bisa menahan tangisnya, sementara ayah berusaha tegar dan tetap tenang berbicara dengan petugas kereta. Beberapa jam menunggu, ternyata, memang benar ada anak di Stasiun Gambir yang mengaku hilang kepada petugas kereta api. Mendengar itu, kedua orang tua saya lega sekali. Ayahpun menjeput kakak saya di stasiun Gambir. Ibu dan saya menunggu di stasiun Jatinegara.

Setelah kembali ke Yogyakarta, ayah pun sampai menulis surat pembaca di koran sebagai wujud apresiasi kepada PT. KAI yang sigap membantu menemukan kakak saya. Ayah juga menyampaikan ucapan terima kasih karena barang-barang yang tertinggal di kereta ternyata diamankan oleh petugas. Sungguh, itu adalah kejadian yang tak terlupakan untuk saya dan keluarga.

Kini setelah dewasa dan bekerja di Jakarta, saya selalu melakukan perjalanan pulang ke Yogyakarta dengan kereta api. Walaupun jika dibandingkan dengan waktu tempuh pesawat, pesawat tentu yang lebih singkat, saya tetap mengidolakan kereta api. Alasannya sederhana, dengan kereta api, saya bisa mengenang kembali masa kecil saya.

Terima kasih, PT.KAI.

* Peringkat V dalam Lomba Menulis Cerita Pengalaman Menarik Naik Kereta, 69 Tahun HUT PT KAI #UntukKeretaku

#UntukKeretaku

#UntukKeretaku

Belajar Seru di #SundaySharing

Kalau saya bilang, “Belajar paling seru, ya, di #SundaySharing!” bakalan dicap sombong nggak, ya? Mengaku-ngaku, padahal baru kali pertama saya datang ke #SundaySharing =b.

Semuanya bermula saat saya menjelajah lini masa. Ada satu tweet menarik tentang #SundaySharing yang digagas oleh @Blogdetik. Karena penasaran, saya langsung menuju TKP dan sampailah saya di tautan #SundaySharing 9 : Tips Menulis Agar Dilirik Penerbit.

da35665562b1aa7aa579846b18f061b0_eposter-sundaysharing-9

Tanpa babibu lagi, saya langsung mendaftarkan diri via email karena takut tidak kebagian seat (yang gratis, topiknya hits, biasanya laris =b). Email terkirim. Yes! Langsung tandai kalender: “28 September #SundaySharing @11AM”.

Belajar Bebas, Bebas Belajar
Jaman memang berubah. Belajar tidak melulu di sekolah dengan posisi duduk manis dan tangan dilipat di atas meja. Itu kuno bin konvensional, katanya. Kini, belajar tidak lagi terikat ruang dan waktu. Jauh dan dekat tetap tiga ribu tidak menjadi kendala berarti bagi si pengajar dan si pembelajar.

Mitos belajar itu harus membayar pelan-pelan juga terpatahkan. Buktinya, ada kelas-kelas belajar yang memang diperuntukkan sebagai ajang belajar bersama sambil beraksi sosial (berbagi ilmu). Semuanya gratis. Nggak percaya?

Tak hanya #SundaySharing sebenarnya, sebut saja Akademi Berbagi yang ada di berbagai kota di Indonesia. Dengan topik-topik menarik dan kekinian, mengajak semua untuk belajar bersama. Pengajarnya pun juga orang–orang yang berpengalaman di bidangnya. Jadi, terbayang, kan, betapa serunya.

#SundaySharing 9
#SundaySharing kemarin Minggu (28 September) adalah #SundaySharing ke-9 yang diadakan. #SundaySharing selalu diadakan di kantor Detik, di daerah Warung Buncit. Pesertanya bebas, asal mendaftarkan diri dahulu melalui email. Uniknya, di setiap #SundaySharing, dipilih ketua kelas dan wakilnya yang akan mengatur acara dan menentukan tema serta narasumber di pertemuan berikutnya. Sehingga, dengan demikian, semuanya bisa aktif berperan.

Sebagai pendatang baru #SundaySharing, pertemuan kemarin Minggu sangat berkesan. Mulanya saya malu-malu tapi tak lama, setelah berkenalan dengan beberapa peserta yang hadir, saya justru semakin bersemangat untuk belajar. Ternyata hampir semua yang datang berasal dari komunitas blog maupun penulis-penulis yang telah memiliki beberapa buku. Walaupun telah menulis beberapa buku, mereka tetap humble dan bersedia berbagi tips dengan peserta lainnya (bahkan berbagi info lomba menulis juga, lho!). Jadilah dalam #SundaySharing 9 kemarin, pembicara dan peserta saling berbagi dan melengkapi.

Jadi, berminat untuk ikut #SundaySharing berikutnya? Nantikan, ya! Siapa tahu kita ketemu =b.

#SundaySharing - Foto di salah satu 'spot' unik di kantor Detik

#SundaySharing – Foto di salah satu ‘spot’ unik di kantor Detik

Catatan #SundaySharing 9
Cara Asyik Agar Naskah Dilirik Penerbit oleh Mbak Nunik Utami
Kalau ada pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang, maka dalam dunia penerbitan pun bisa jadi demikian, tak kenal maka tak diterbitkan. Walaupun menggunakan kata-kata yang sedikit berbeda, pepatah tersebut memiliki maksud yang hampir sama. Siapa sih kita sehingga buku kita ‘layak’ untuk diterbitkan. Siapa sih kita sehingga tulisan hasil karya kita ‘wajib’ dibaca orang. Nah, untuk membantu kita mengidentifikasi hal-hal itu, Mbak Nunik memberikan beberapa tips yang bisa kita ‘amalkan’ dalam kehidupan sehari-hari.

Lomba, lomba, lomba
Ikuti lomba menulis, terutama yang diselenggarakan oleh penerbit. Selain mengasah bakat menulis yang kita punya, lomba menulis juga bisa menjadi cara agar tulisan kita bisa ‘eksis’ di dunia kepenulisan.

Jadi teman
Tidak dapat dipungkiri, jaman sekarang, networking memiliki peran penting dalam pencapaian karir/tujuan. Jika kita ingin menjadi penulis, tidak ada salahnya berteman dengan orang-orang yang bekerja di penerbitan, seperti editor atau penulis. Selain bakal lebih update informasi, kita pasti punya kesempatan untuk menimba ilmu dari mereka.

It’s time for jaim (jaga image)
Kalau sudah berusaha ikut lomba menulis ini-itu dan berteman dengan beberapa editor yang bekerja di penerbitan, jangan lupa jaga sikap, ya! Jangan terlalu mengejar. Menyapa atau bertanya sih sah-sah saja, tapi jangan sampai terkesan meneror mereka. Selain itu, jaga sikap di social media. Tampakkan citra baik tentang diri kita.

Wajib kepo
Cari tahu itu wajib hukumnya. Jadilah seorang penulis yang aktif. Ya aktif menulis, ya aktif mencari informasi. Tidak hanya informasi soal lomba saja, tetapi juga informasi lain terkait penerbit yang kita incar. Misal, maunya penerbit X itu tulisan yang seperti apa, sih? Nah, dengan kepo, kamu bisa lebih peka dan tahu apa yang dimaui penerbit.

Ayo serbu
Punya tulisan-tulisan yang hanya ‘mendekam’ di folder komputer? Ayo, saatnya menunjukkan pesona tulisanmu kepada penerbit. Jangan takut ditolak. Anggap saja penolakan adalah sumber kekuatan. Jika tulisanmu ditolak oleh suatu penerbit, kamu masih bisa mengirimkannya kepada penerbit lain.

Awas diserbu balik
Kata Mbak Nunik, kalau kita sudah punya ‘nama’, terkadang orang-orang yang bekerja di penerbitan yang memburu kita. Kita diminta untuk menulis atau mengelurkan koleksi-koleksi tulisan kita yang siap untuk diterbitkan. Bisa juga kita menjadi penulis orderan yang diminta untuk menulis sesuai tema yang ditentukan oleh pihak penerbit.


My blog!

"Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, sambunglah dengan tulisan..."
(Pramoedya Ananta Toer)

Meet The Chef

Berbagi cerita.

Join 2,907 other followers

My Tweets


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,907 other followers

%d bloggers like this: