Manisnya Kebaikan

Manisnya permen berawal dari kandungan gula di dalamnya.

Manisnya permen berawal dari kandungan gula di dalamnya.

Tenang, membaca blog ini, saya tidak akan berbicara tentang harga gula, yang pasti melangit, jelang lebaran tiba.

16.37 WIB.
Menantikan waktu berbuka puasa. Cocok kan, untuk berbicara tentang yang manis-manis. Ya, misalnya, gula.

Ide ini muncul tiba-tiba saat pagi tadi, saya memutuskan untuk membuat teh manis hangat untuk menemani saya di kantor yang masih sepi (Hihi, maafkan, saya sedang tidak berpuasa).

Saya mengambil gula dari toples gula, di lemari pantry yang tingginya kira-kira tepat sejidat saya. Gulanya habis ternyata. Hanya sisa-sisa yang menempel lengket di dinding dan dasar toples kaca.

Saya tak putus asa.

Sambil mengambil gula dengan gigih (baca: mengoreti), saya berpikir. Hebat juga ya, jika menjadi gula. Sesuatu yang manis ketika dirasakan dan tentu saja dicari banyak orang. Eh, semut doyan juga, ding. Pokoknya, satu kata. Membahagiakan!

Sore ini, beberapa jam yang lalu, saya mendapatkan telpon. Telpon itu adalah tawaran photo session untuk anak-anak di komunitas yang saat ini programnya sedang berlangsung di Jakarta oleh para profesional yang pastinya jago memegang kamera. Tidak sampai di situ saja, bahkan ada tawaran untuk berbuka puasa bersama juga. Wow!

Antara bahagia dan pusing juga mengatur jadwal yang sebelumnya sudah rapi tertata. Gila! Kebaikan itu mengalir. Deras. Sampai terkadang, kita dibuat tidak bisa berkata-kata.

Saya jadi berpikir tentang kejadian saat membuat teh manis tadi pagi. Bagi saya, kebaikan itu gula. Gula itu kebaikan. Manis dirasakan, dicari banyak orang, dan tentu saja menular. Sekalinya menaruh gula dalam suatu makanan atau minuman, manis seketika. Begitu pula dengan kebaikan. Tidak perlu menanyakan kapan, saya yakin, menular.

Gambar dari sini.

Tersenyum Untuk Masa Pensiun

Tomorrow is promised to no one

― (Clint Eastwood)

Pensiun? Akkkk … seakan menjerit tak percaya. Pensiun cukup abstrak untuk dibayangkan karena menyangkut masa depan. Banyak yang berpendapat bahwa masa depan itu nanti, serba tak pasti. Jadi, dibayangkan sekarang pun tidak akan ada artinya. Belum lagi, jargon ‘kita hidup untuk hari ini’, menambah daftar alasan untuk tidak berpikir tentang masa depan, termasuk masa pensiun itu tadi.

Nyatanya, yang tidak pernah dibayangkan sesungguhnya justru akan menimbulkan ketakutan tersendiri. Saya mengalaminya. Beberapa tahun mendekati masa pensiun, papa berulang kali mengingatkan saya dan kakak saya untuk segera mencari pekerjaan tetap. Alasannya cukup jelas. Memasuki masa pensiun, maka papa tidak bisa lagi membiayai semua pengeluaran saya dan kakak karena salah satu sumber pemasukan keluarga, yaitu gaji papa bekerja, akan hilang. Fasilitas-fasilitas dari kantor papa yang selama ini diterima pun akan ditarik kembali. Jadi, mau tidak mau, semua anggota keluarga harus bersiap.

Saat itu, saya tidak terlalu memikirkannya. Bagi saya, nanti itu nanti, bisa dipikirkan kemudian. Tak berselang lama (yeah, karena waktu memang terus berjalan), papa mengumumkan kepada kami semua bahwa beliau mulai tidak aktif bekerja, memasuki masa pensiun. Penawaran dari kantor untuk bertugas kembali pun ditolak dengan alasan ingin beristirahat di rumah.

Pensiun? Akkkk … Saya panik, papa tertawa. Saya tak menyangka waktu cepat sekali berjalan. Papa hanya mengiyakan. Papa tertawa melihat saya yang masih belia dan bekerja justru panik ketakutan dengan pensiun. Ada apa dengan pensiun?

Di kepala saya, saya membayangkan papa yang dahulu aktif bekerja, beraktivitas ini dan itu menjadi seorang yang pendiam dan pasif. Papa kesepian di rumah, sendiri, dan bla-bla-bla … Lagi-lagi papa justru menertawakan ketakutan saya.

Ternyata, saya salah besar. Pensiun bukan hantu atau sesuatu yang harus ditakuti dan dihindari. Masa depan itu memang serba tidak pasti, tapi bisa kita hadapi dengan segala perencanaan sebagai modal keberanian.

Di masa pensiun, papa memilih untuk berwirausaha di rumah dengan memanfaatkan tabungan dan simpanan yang sudah dipersiapkannya selama bekerja. Daripada mengambil kesempatan untuk ditugaskan kembali di kantor, papa memilih untuk membuka bisnisnya sendiri di rumah. Menyalurkan passion yang selama ini tertunda, katanya.

Papa 'menyulap' rumah menjadi oranye sesuai dengan warna jasa ekspedisi yang menjadi bisnisnya.

Papa ‘menyulap’ rumah menjadi oranye sesuai dengan warna jasa ekspedisi yang menjadi bisnisnya.

Saya malu ternyata pensiun bukan hantu.

Sekarang, saya mengerti ketika saya memakai baju yang belum pernah dilihat mama, mama hanya berkomentar singkat, “Baju baru? Lagi?” Mama paham betul saya orang yang cukup loyal dalam membeli baju. Mama bahkan memberikan saya gelar, “Si Tukang Baju.” Almari baju saya saksinya.

Itu belum selesai, mama juga akan menambahkan komentar, “Kamu nabung, kan?” Mmm … Komentar yang wajar sebenarnya karena sepertinya mama lebih sering melihat saya berbelanja daripada saya menabung.

Fakta bahwa saya suka berbelanja juga dikuatkan dengan intensitas saya berpindah tempat kerja. Papa dan mama sangat kritis dengan kondisi saya. Mereka selalu mengingatkan saya tentang masa depan dan masa pensiun. Apa yang akan terjadi nanti jika saya masih suka berbelanja dan sering berganti-ganti pekerjaan tanpa meyisihkan uang yang banyak? Pensiun macam apa?

It is not about counting the numbers, it is about willingness

― (Anonymous)

Saya percaya setiap generasi mempunyai masanya sendiri-sendiri. Cara hidup generasi tua, para pendahulu, tentu akan berbeda dengan generasi muda, sekarang. Keduanya tidak dapat disamakan. Perbedaan cara hidup itulah yang juga berpengaruh pada perbedaan cara dalam mengatur uang. Saya dan kedua orang tua saya, misalnya.

Papa dan mama saya memilih untuk menyisihkan uangnya setiap bulan untuk mengumpulkan dana pensiun selama periode waktu tertentu. Bagaimana dengan saya? Saya pun juga melakukan hal yang sama, menabung, tetapi tidak ‘sekencang’ papa dan mama. Mengalokasikan hampir 50% untuk tabungan pensiun adalah hal yang mustahil bagi saya, terlebih di masa sekarang. Saya yakin, saya tidak sendirian. Di luar saya banyak perempuan single, 26 tahun, dan berpenghasilan rutin setiap bulan, mengalami hal yang sama.

Zaman sekarang, di mana arus informasi dan teknologi lebih maju, manusia berlomba-lomba untuk mencari kemudahan dalam segala aspek kehidupannya. Hidup dibuat sedemikian rupa agar lebih mudah dan lebih cepat sesuai dengan kebutuhan. Kemajuan ini pun termasuk dalam cara mengatur uang. Selain tabungan, muncul berbagai produk perbankan yang ditawarkan, seperti deposito, reksadana, dan investasi emas. Nantinya, semuanya sama-sama dapat menjadi simpanan dan dimanfaatkan di masa pensiun.

Lagi-lagi, sebelum melangkah lebih jauh dan menentukan produk perbankan, kita harus melakukan perencanaan keuangan (financial planning). Cukup sederhana, kok. Pertama, kita harus memahami kondisi keuangan kita (Yes, u have to be honest with your self). Kedua, menentukan tujuan. Misalnya, dalam kasus ini adalah mempersiapkan dana pensiun. Ketiga, membuat perencanaan keuangan. Ketiga langkah itu bisa dimulai dari sekarang dan tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Mumpung kita masih sadar tentang betapa pentingnya mempersiapkan dana pensiun.

Saya dalam tahap itu. Selain menabung, saya mulai melirik produk-produk perbankan lainnya yang tentunya sesuai dengan kebutuhan saya. Saya sadar, ternyata, menabung saja tidaklah cukup. Misalnya, dalam kasus mempersiapkan dana pensiun. Orang tua saya, bisa saja, hanya mengandalkan tabungan pensiun kala itu. Tetapi seiring berjalannya waktu, besarnya uang yang harus disisihkan setiap bulan, menjadi sangat besar jika dikonversikan dengan masa kini. Banyak hal lain yang juga harus dipertimbangkan, seperti lama menabung, besar uang yang harus ditabung sekarang, suku bunga, target pensiun, target uang saat pensiun, dan uang yang sudah ditabung saat ini.

usia sekarang, usia pensiun, hingga nanti usia yang menjadi rahasia Tuhan. Sampai di mana kita?

usia sekarang, usia pensiun, hingga nanti usia yang menjadi rahasia Tuhan. Sampai di mana kita?

Belajar dari pengalaman papa, saya jadi ingat akan sesuatu hal. Pensiun bukanlah sebuah titik. Sesungguhnya, pensiun adalah waktu yang lebih panjang jika dibandingkan dengan kita saat ini menuju masa pensiun. Masa depan memang tidak pasti. Alangkah baiknya jika selagi muda, di waktu yang terbatas, kita bisa mempersiapkan masa pensiun kita dengan sebaik-baiknya. So, are u ready??

BP_simponi-blogger-2

* Cerita ini diikutkan dalam BNI Simponi Blogging Competition http://bit.ly/BNI_Simponi

Volunteering Day: Cerita Bumi di Harinya

Acara ini memang sudah ‘agak’ lama berlalu, tapi saya merasa bersalah jika tidak membagi ceritanya. Ini istimewa. Pertama, melihat draft, tempat coretan ‘sementara’ yang terlalu setia menunggu saya untuk sekedar mengedit, mengetik, men-delete dan la la la. Kedua, membuat kamera biru saya tersenyum, alhamdulillah, fotonya berguna, katanya, daripada ‘membeku’ di folder. Ketiga, mengabadikan semangat anak-anak itu agar terekam sepanjang masa. Sayangnya, foto tak bisa bicara, tulisan yang bisa.

Lagi, lagi, dan lagi. Teman seperjalanan pulang kantor pasti bosan mendengar saya. Sebaliknya, saya tak pernah bosan menulis ini. Saya selalu salut dengan sekolah atau anak-anak, bahkan guru-guru, yang mampu bertahan menyelenggarakan kegiatan ajar-mengajar di antara kepungan gedung-gedung perkantoran Jakarta. Ya, saya salut. Salut sekali.

Ngomong-ngomong soal penyelenggaraan pendidikan, soal ruang publik, soal bangunan sekolah ideal nggak bakal ada habisnya. Saya besar dalam generasi sekolah lebar memanjang, berhalaman luas. Beberapa bangunannya adalah peninggalan Belanda yang sengaja tidak diruntuhkan. Yang paling membuat saya jatuh cinta adalah pintu dan jendela besar-besar, khas Belanda sekali. Saya dan teman-teman tak pernah defisit semilir angin. Lingkungannya (pada zaman itu) juga tidak bersinggungan langsung dengan jalan raya. Tidak bising. Lalu lalang kendaraan bermotor juga jarang. Pokoknya, 6 tahun sekolah di sana, saya merasa aman dan nyaman.

Dari masa Sekolah Dasar sampai kini, saya besar, saya jadi banyak bersyukur dan belajar. Terlebih, kemarin, setelah ‘mencicipi’ menjadi guru Sekolah Dasar, wali kelas 6. Betapa, ya betapa lingkungan sekolah yang kondusif akan berpengaruh juga pada proses penyelenggaraan Kegiatan Belajar Mengajar di sekolah. Guru, kepala sekolah, komite sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat di sekitar sekolah memegang peranan penting dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas untuk anak-anak.

Nah, bagi saya, bedanya, melihat Sekolah Dasar di daerah dengan fasilitas terbatas tetapi dikepung dengan lingkungan alam yang eksotis adalah biasa, bahkan search picture di Google pun bisa mudah ditemukan. Sebaliknya, bagi saya, pemandangan Sekolah Dasar menjadi begitu istimewanya justru ketika berada di antara gedung-gedung perkantoran, khas Jakarta.

Hari Bumi - SDN Karet Tengsin 01 Pagi Jakarta

Hari Bumi – SDN Karet Tengsin 01 Pagi Jakarta

Hmm… terbayang nggak sih, bagaimana si sekolah beserta segala isinya harus bertahan di antara dinamika perkantoran Jakarta yang.. yah semrawut. Bukan rahasia lagi, kan?? Gedungnya memang indah, bisa saja anak-anak itu belajar dan termotivasi untuk menjadi arsitek handal. Orang-orang di dalam gedungnya pun hadir dengan berbagai profesi. Guru-guru dapat mengenalkan keanekaragaman profesi yang ada di gedung itu, mulai dari staff keamanan, sopir, sekretaris, accounting, public relations, marketing communication, dan lain-lain. Tapi di sisi lain, kita juga tidak menutup mata akan kenyataan bahwa lingkungan sekolah menjadi ‘lebih’ menantang dalam penyelenggaraan Kegiatan Belajar Mengajar. Sekali lagi, guru, kepala sekolah, komite sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat punya andil besar untuk mewujudkan lingkungan belajar yang ramah anak.

Sabtu beberapa minggu yang lalu (26/4), saat ada kesempatan untuk merayakan Hari Bumi bersama volunteer dari Indonesia Berkibar, Cargill, Rotaract Semanggi, serta Jakarta Berkebun di SD N 01 Karet Tengsin, saya tak melewatkan kesempatan itu. SD N 01 Karet Tengsin adalah sekolah yang terletak di jalan Karet Pasar Baru Timur. Arahnya, dari halte busway Dukuh atas, berjalan ke arah hotel Shangrila atau wisma BNI. Sekolah Dasar itu berada dihimpitan gedung-gedung perkantoran Jakarta. Sekolah itu termasuk sekolah yang ‘langganan’ banjir. Jika banjir datang, Kegiatan Belajar Mengajar pun terpaksa ditiadakan. Saya bersemangat untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak dan bertemu guru-guru di sekolah yang bagi saya istimewa.

Earth Day atau Hari Bumi memang jatuh tepat di hari Selasa, 22 April 2014. Tapi untuk merayakannya, tidak harus di hari Selasa, kapan pun bisa. Bahkan, Hari Bumi bisa dirayakan setiap hari dengan membudayakan perilaku hidup bersih dan cinta lingkungan. Ya, kan?

Hari Bumi - Earth day every day

Hari Bumi – Earth day every day

Hari itu, senang sekali melihat semangat anak-anak untuk mengikuti rangkaian acara Hari Bumi yang sudah dirancang oleh panitia. Acaranya pun beragam, mulai dari bermain bersama dipandu Kakak dari Pramuka, ‘operasi Semut’ di halaman sekolah, penyuluhan Reduce, Reuse, Recycle (3R) oleh Kakak dari Cargill (kreatif dan lucu banget dengan metode Lenong), praktek mengolah kembali barang bekas (seperti, botol minuman plastik menjadi hiasan dinding), dan berkebun bersama Kakak dari Jakarta Berkebun. Dari semua acara, bagi saya, yang paling menarik adalah saat beberapa anak kelas 5 dan 6 diajari dan praktek langsung berkebun di halaman belakang sekolah. Mereka diperkenalkan menanam bibit yang nantinya bisa bermanfaat untuk dikonsumsi, seperti kemangi dan cabai.

Hari Bumi - Plan today for a better tomorrow

Hari Bumi – Plan today for a better tomorrow

Hari Bumi - Kakak dari @JktBerkebun sedang menjelaskan cara berkebun 'sederhana' di halaman belakang sekolah

Hari Bumi – Kakak dari @JktBerkebun sedang menjelaskan cara berkebun ‘sederhana’ di halaman belakang sekolah

Berkebun memang seru dan mengasyikkan. Di sekolah, saat pelajaran, mereka memang sudah tahu bahwa reboisasi adalah penanaman kembali hutan yang gundul. Hutan tidak boleh ditebang karena mengakibatkan banjir. Tapi, nyatanya, di lingkungan mereka, tanah sudah menjadi conblock, saluran air menjadi tempat berkumpulnya sampah. Lalu, ke mana larinya air jika musim hujan? Dari sini, nampaknya berkebun, memanfaatkan lahan kosong, menjadi suatu aktivitas yang bisa membuka pemahaman anak-anak itu tentang pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Mereka menjadi lebih tahu karena bisa praktek langsung untuk menanamnya. Kakak dari Jakarta Berkebun pun dengan senang hati berbagi ilmu menanam. Ada satu anak yang saat itu antusias bertanya, “Kak, kalau menyiram, sebaiknya dari atas terkena daunnya langsung atau langsung ke tanahnya aja?”

Hari Bumi - Berkebun di sekolah itu mudah dan menyenangkan. Asyik!

Hari Bumi – Berkebun di sekolah itu mudah dan menyenangkan. Asyik!

Tak sabar rasanya punya kesempatan lagi untuk ‘menengok’ tanaman yang ditanam anak-anak itu. Tak hanya orang dewasa, berkebun pun ternyata menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk anak-anak. Jadi, kapan kita menanam lagi? Sampai jumpa di Volunteering Day berikutnya!

(cc: @IDBerkibar @racsemanggi @Cargill @JktBerkebun )

Yuk, baca juga: Memperingati Hari Bumi Dengan Kegiatan Volunteering

Terinspirasi di Kelas Inspirasi

Ada yang berbeda Rabu (23/4) kemarin. Pagi-pagi pukul 07.30, saya sudah berada di Kompleks SD N Guntur yang terletak di kecamatan Setiabudi (Lokasinya, di daerah halte busway Halimun). Ya, Hari Inspirasi berhasil membawa saya ke SD N Guntur 01 dan 08 dalam rangkaian kegiatan Kelas Inspirasi Jakarta #3 (maksudnya, tahun ini adalah Kelas Inspirasi batch 3).

Kelas Inspirasi - "Bangun Mimpi Anak Indonesia" hadir di SD N Guntur

Kelas Inspirasi – “Bangun Mimpi Anak Indonesia” hadir di SD N Guntur

Selalu saja. Sama seperti Kelas Inspirasi tahun sebelumnya, saya selalu menyangsikan diri saya sendiri untuk berada di sebuah Sekolah Dasar yang belum pernah saya kunjungi sama sekali.

Kalau nggak gara-gara Kelas Inspirasi, mana mungkin saya bisa sampai di sekolah ini!”

Ooh, ada ya, sekolah di sini?”

Pernyataan atau gumanan saya cukup berasalan, apalagi hari Rabu kemarin. Di balik gedung-gedung pencakar langit dan kompleks pemukiman menengah atas, ada sebuah bangunan berlantai tiga tak kalah kokoh bernama sekolah. Ya, itulah SD N Guntur.

Entah karena alasan efektivitas lahan atau memang begitu adanya, gedung tiga lantai itu terdiri dari tiga Sekolah Dasar yang berbeda, yaitu SD N Guntur 01, 08, dan 09.

Ini dia, sekolah surga. Sekolah, langit biru, awan putih, apalagi?

Ini dia, sekolah surga. Sekolah, langit biru, awan putih, apalagi?

Seperti sekolah di surga. Menjulang ke atas dengan view gedung perkantoran Jakarta, bonus langit biru kalau sedang cerah. Itu komentar naif saya sebagai generasi yang terlahir dari sekolah-sekolah berhalaman luas, melebar. Saya pun kagum. Anak-anak kelas satu yang sepertinya baru kemarin ‘berkenalan’ dengan angka,  sudah lincah naik ke lantai tiga dengan tangga.

Kelas Inspirasi Jakarta #3

Kehadiran para profesional muda (dari berbagai kalangan dan profesi) ke SD N Guntur dengan ‘merelakan’ cuti sehari di Hari Inspirasi disambut suka cita oleh para guru dan kepala sekolah di sekolah itu. Ternyata, tak hanya murid-murid yang antusias, bapak dan ibu guru juga. Bapak dan Ibu guru berharap murid-muridnya dapat terinspirasi dengan berbagai profesi yang dikenalkan serta memotivasi mereka untuk rajin belajar mewujudkan cita-cita.

Jangan salah ya, Mbak. Mereka bukan berasal dari kompleks ini. Mereka datang dari jauh. Dititipkan oleh bapak dan ibunya karena sekolah ini gratis. Itu tantangan kami setiap hari. Bagaimana anak-anak bisa terus sekolah, jangan sampai ‘turun’ ke jalanan. Selalu saya panggil dan nasehati kalau saya ketemu mereka di jalanan, ” cerita ibu kepala salah satu sekolah.

Saya hanya tersenyum mendengar semangat Ibu kepala sekolah bercerita tentang sekolahnya. Hari ini, semua bersemangat. Para inspirator (sebutan untuk para profesional muda yang pada hari itu mengajar) juga bersemangat. Mereka nampak tak peduli dengan detak jantung ‘kegrogian’ mengajar anak Sekolah Dasar untuk pertama kalinya.

Ya, inilah Kelas Inspirasi. Ajang bertemunya para profesional muda dari berbagai kalangan dan profesi untuk sama-sama bergandeng tangan berkontribusi positif di lingkungan mereka. Cuti satu hari, meninggalkan berkas-berkas kantor, tak menjadi masalah. Pengorbanan memang harus ada untuk menghargai apa yang diusahakan.

Tak hanya di Jakarta saja, Kelas Inspirasi biasanya serentak diadakan bersama-sama di Hari Inspirasi. Kelas Inspirasi hadir di berbagai kota besar di Indonesia, seperti Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Padang, Pekanbaru, Aceh, Samarinda, dan masih banyak lagi. Semua tumbuh bersemi seperti jamur di musim hujan oleh para relawan Kelas Inspirasi. Sekali lagi, para relawan Kelas Inspirasi, tak dibayar, tak berbayar. Free! Keren, kan?

Oh ya, ini oleh-oleh saya di Hari Inspirasi kemarin. Yuk, simak!

Kelas Inspirasi - Seorang reporter salah satu televisi swasta sedang menjelaskan profesinya ketika melakukan reportase di suatu daerah

Kelas Inspirasi – Seorang reporter salah satu televisi swasta sedang menjelaskan profesinya ketika melakukan reportase di suatu daerah

Kelas Inspirasi - Apa itu engineer? Kalau insinyur? Apa itu material? Lho, kok diterangin pakai tokoh super hero segala? Apa hubungannya?

Kelas Inspirasi – Apa itu engineer? Kalau insinyur? Apa itu material? Lho, kok diterangin pakai tokoh super hero segala? Apa hubungannya?

Kelas Inspirasi - Menerangkan apa itu investasi melalui gambar. Segala daya upaya, supaya anak-anak paham. Hmm..

Kelas Inspirasi – Menerangkan apa itu investasi melalui gambar. Segala daya upaya, supaya anak-anak paham. Hmm..

Kelas Inspirasi - Menyenangkan juga dapat perhatian dari anak-anak

Kelas Inspirasi – Menyenangkan juga dapat perhatian dari anak-anak

Seru, kan? Masih penasaran? Untuk informasi lebih lanjut tentang Kelas Inspirasi, silakan klik http://kelasinspirasi.org/

“Kelas Inspirasi, Bangun Mimpi Anak Indonesia” :)

Rem

Bahwa rem itu diciptakan untuk menahan sesuatu. Sudah dari sananya, manusia dikaruniai rem seumur hidupnya. Layaknya sesuatu yang beroda, agar tetap pada jalurnya. Bahkan, untuk mimpinya pun, manusia bisa menggunakan remnya. Sesuatu yang sangat diinginkan bisa dalam sekejap dilepaskan… Rem??

Ceritanya, saya pernah naksir sepatu. Open toe, warna kalem yang pastinya masuk dalam daftar ‘must have item’ fashionista penggemar sepatu. Bagi kamu yang belum paham dunia persepatuan, let me explain. Open toe itu adalah salah satu jenis sepatu di mana bagian depannya terbuka. Beberapa jemari kaki akan terlihat di bagian itu. Selain memang lagi nge-hits, open toe warna kalem dapat dipadu-padankan dengan busana apa saja, celana-rok, formal-casual, all. Nah, saking istimewanya, yang harus kamu lakukan kemudian adalah… memilikinya!

Yes! Sounds so simple, right? Tapi bukan hidup namanya kalau nggak ada cobaannya…

Saya belum berjodoh dengan open toe itu. Padahal sudah ‘love at the first sight‘ saat saya jalan-jalan ke sebuah mall. Sebenarnya, mimpi saya untuk memiliki sepatu itu tercapai kalau saja si mas-mas SPG tidak berkata demikian, “Untuk warna krem-nya, ukuran 39 habis. Tinggal 40!”

Kretek-kretek, mirip suara gelas kaca retak. Broken heart.

Jangan ditanya, apakah saya menyerah?

Setiap gerai sepatu yang saya kunjungi, saya selalu mencari sepatu dengan kriteria itu, open toe warna kalem, dan size 39. Sayangnya, belum ada yang pas dengan berbagai alasan dan tidak sesuai dengan open toe yang saya impikan. Ya, heels yang terlalu tinggi, warna mencolok, harga yang berlipat dari harga sepatu yang saya impikan semula, pokoknya ada saja alasan. Bagi saya, semua ini adalah ujian kesetiaan terhadap si sepatu. Godaannya juga ada. Misal, saat akan solat di sebuah musholla di mall, sepatu itu berdiri cantik di rak sepatu di samping tempat berwudu. Sumpah, hati saya bergetar, tidak untuk mencuri (buseet, nggak segitunya, ye!) atau bahkan hendak diam-diam mencoba. Tidak! Tidak ada sama sekali niatan seperti itu dalam hati saya. Saya justru semakin yakin sepatu itu memang bagus dan harus segera dimiliki karena terbukti banyak yang punya.

Singkat cerita, di ‘kunjungan’ ke gerai sepatu yang kesekian kalinya, sepatu itu ada! Ya, ada! Open toe warna krem size 39 idaman. Dengan semangat 45, saya mencoba sepatu itu dan pas! Tapi …

Oh, kelingking saya, oh! Kelingking saya nampak tidak ‘cantik’ di open toe itu. Agak terdesak, iya. Saat saya mencoba berjalan pun, telapak kaki bagian depan mengindikasikan ketidaknyamanan. Oh, jadi, inikah hasil perjuangan dan kesetiaan saya pada si sepatu. “Maaf, tidak jadi. Ternyata nggak nyaman di kaki saya.

Berjalan ke luar dari gerai sepatu, saya hanya melongo sambil bermonolog dengan diri saya sendiri. Separuh mempertanyakan, separuh membela habis-habisan. Walaupun saya seorang shopper, saya tipikal tidak mau ‘menggadaikan’ kenyamanan dengan tampilan atas nama fashionista. Kalau memang dari awal saya tidak nyaman dengan sebuah produk, saya tidak akan ‘mata buta’ membelinya. Fiuh, akhirnya saya lega, sepatu itu memang bukan untuk saya.

Perjuangan dan kesetiaan selama ini memang saya nikmati, tapi kalau memang pada akhirnya, tidak, ya memang tidak … Bukan begitu??

Lain Sepatu, Lain Beasiswa, Hikmah Sama!

Saya seorang oportunis. Eits, tunggu sebentar! Oportunis yang bagaimana dulu nih? Saya suka dengan kesempatan, terutama kesempatan untuk mengikuti suatu program beasiswa. Prinsip saya (khususnya saat umur 25 kemarin, ternyata banyak program yang batas umurnya 25 tahun. Halo, apa kabar 26? Hiks), selagi umur masuk, resume ada, syarat sesuai, kenapa kita tidak manfaatkan kesempatan yang ada? Tinggal kemauan saja, kok! Bahkan saya punya ‘teori’ saya sendiri tentang ini, “Kadang, saat berhadapan dengan kesempatan, sebenarnya bukan diri kita yang bermasalah dengan persyaratan yang diberikan, melainkan kemauan kita untuk mengusahakan semuanya.” Zalam zuper, hihihi

Ya, kemarin saya ‘sempat’ mengikuti seleksi suatu program pertukaran. Bayangkan ya, saya sudah mengincar program itu sejak saya masih mahasiswa, ingiiiiiiin sekali. Saya menginginkannya. Saya memimpikannya. Saya ngidam!

Akhirnya, saya mendaftarkan diri, saya lengkapi berkas, dan mengisi aplikasi. Semuanya lengkap. Suatu kebetulan saat itu adalah libur pemilu, jadi saya bisa mengantarkan berkas sendiri ke Jogja sesuai persyaratan. Beberapa hari kemudian, saat sudah kembali ke Jakarta, saya dinyatakan lolos untuk seleksi berkas. Tahap lanjutan yang harus saya lalui adalah interview. Jika semula saya terselamatkan dengan libur nasional pemilu, maka kali ini, untuk tahap interview di Jogja, saya kehabisan tiket untuk ke Jogja. Ya, saya ulangi lagi, saya kehabisan tiket.

Halo, apa kabar mimpi?

Seketika, dua hari jelang interview, tepat setelah pengumuman via online, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Skenario semula, saya booking tiket dan saya mengikuti seleksi interview di Jogja. Tapi nyatanya?? Apakah ada yang ‘tidak beres’ dengan mimpi saya??

Saya bimbung (bimbang dan bingung). Apa lagi yang harus saya korbankan?

Seorang teman yang cukup ‘mengerti’ bahwa saya adalah orang yang tidak bisa diam dengan yang namanya kesempatan, mencoba memberi saran via whatsapp:
Gini deh. Sambil makan siang, coba lu bikin kopi atau teh anget.
Sambil disruput dikit-dikit, ambil kertas sama pensil terus bikin 12 kotak.
Di usia yang baru ini, dalam setahun ke depan kegiatanku apa aja ya? Atau yang ingin kulakuin
Misal: Juni bikin SabangMerauke
Agustus, semangat JAI, dst
Nah, coba lu isi setiap kotaknya. Nanti lu bakal tau alur kegiatan lu dan apakah lu bener-bener menginginkannya atau cuma sekedar iseng aja.
Insha Allah, dalam setahun ke depan, semua keinginan lu bisa terwujud
Thats my wish
:D”

Ada yang tidak beres dengan mimpi saya. Apa lagi yang harus saya korbankan??

Hari itu, saya memang tidak membuat kotak seperti saran teman saya. Tangan saya kaku, mungkin wujud perlawanan terhadap saran teman saya yang memang benar. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya saya memilih mengalah. Saya memilih mengalah di saat saya menginginkan suatu hal yang memang ingin saya upayakan. Adakah yang salah? Pada akhirnya diri saya mencoba bermonolog.

Saya tidak merengek melepas mimpi saya, saya bahagia melepas mimpi saya, saya lega. Lucu, ya?

Mimpi ini saya lepas ke atas,
Saya serahkan kepada yang punya segala,
Ini hanyalah proses serah terima,
Di atas sana, Tuhan sedang menukar mimpi saya,
Tunggu ya, tanggal mainnya, begitu kata-Nya…

Rem
Si Sepatu dan Si Beasiswa, saya tidak pernah tahu mereka berkenalan di mana. Numpang bilang ‘permisi’ sama saya saja nggak. Uniknya, mereka mencoba memberikan pelajaran yang sama. Pelajaran untuk menjadi rem. Pelajaran untuk ‘mereda’. Pelajaran untuk tidak terlalu ngotot. Pelajaran untuk fokus dan tidak multitasking seperti badut atraksi bola sambil main sepeda. Bisa jadi, kemarin, saya ‘sedang’ tidak mempan diingatkan manusia, sesama yang hidup. Akhirnya, saya diingatkan melalui benda mati kesukaan saya. Ya, itu tadi, Si Sepatu dan Si Beasiswa.

Sudah ah, semoga yang membaca (kalau ada) tersenyum juga seperti saat saya mengakhiri cerita ini. Senyum bijak, senyum lebar.

Sembilan April

Cerita kali ini disponsori oleh ulang tahun saya yang jatuh tepat saat pemilu legislatif beberapa hari yang lalu. Ucapan selamat panjang umur dan WYATB datang dalam berbagai versi dari teman-teman yang menyadari hari itu adalah ulang tahun saya (Ya, iyyalah, kalau mereka nggak sadar, mana mungkin mereka mau repot-repot ngucapin hee…)

Birthday = Holiday
Banyak hal yang saya syukuri pada ulang tahun saya ke-26 kali ini. Diberi umur panjang dan masih bisa bernapas sehat itu tak terkira. Dikeliling keluarga dan teman-teman hebat, karir, pengalaman, pencapaian, keberanian, kenekatan… semuanya istimewa. Dua puluh enam tahun hidup di dunia, sampai sekarang, … oh, God! (Ups! Okey, sesi curhat will be on the other story)

Selain itu, bersyukurnya kali ini adalah ulang tahun saya bertepatan dengan hari pemilu legislatif, di mana disepakati sebagai hari libur nasional atau tanggal merah. Yeay! (Girang banget!) Berbekal izin dari kantor untuk ‘meliburkan diri’ lebih awal di hari Selasa, jadilah saya mengantongi dua hari untuk pulang ke Jogja, Selasa dan Rabu. Yes, Lumayan!

Awalnya Terasa Aneh
Saat di media marak diberitakan bahwa banyak pendatang di ibukota yang akan golput karena tidak bisa mencoblos di Jakarta, saya justru menjadi orang yang ‘melenggang kangkung’ pulang ke Jogja.

Hei, serius, kamu pulang hanya untuk mencoblos pemilu? Hanya untuk mencoblos??

Okey, agar tidak terlalu aneh, anggap saja itu bakti perdana saya pada Republik ini di usia ke-26, menjadi warga negara yang baik. Apakah masih terasa aneh? Okey, alasan kedua kepulangan, saya ingin berulang tahun di Jogja. Maaf, dilarang iri, ya, berulang tahun saat pemilu, saat libur nasional.

Tiga Belas Kali Dua
Ulang tahun ke-26 berkesan mendalam. Saya masih ingat, di ulang tahun ke-25 tahun lalu, saya masih ‘sempat’ ditanya oleh kedua orang tua saya, “Mau kado apa?” Kalau sekarang?? (Hening)

Tidak ada black forest, tidak ada confetti. Balon, apalagi. Saya tidak protes. Di Jogja, hanya ada papa dan mama. Tapi please, jangan bayangkan saya anak tunggal yang hari itu dikelilingi puluhan kado warna-warni, “Pilih yang kamu suka, sayang?”

Tidak, tidak, bukan seperti itu.

Ucapan selamat ulang tahun dan doa dari kedua orang tua memang tak tergantikan tapi kalau selanjutnya ditodong pertanyaan yang menjurus pada lima kata berawal ‘N’ dan berakhir huruf ‘H’, saya tak kuasa.

Saya mirip anak SD yang baru kemarin belajar angka dan tiba-tiba keesokan harinya mencongak perkalian.

Adek segera tentukan target, ya? Mau kapan? 27, 28, 29? Pokoknya sebelum 30!”

Glek! Saya menelan ludah. Sama sekali tak mengobati rasa haus, meredakan rasa kaget, mungkin iya.

Tidak ada black forest, tidak ada confetti. Balon, apalagi. Saya tidak protes. Di antara diam saya, saya merasa angka dua puluh enam raksasa sedang menertawakan saya. Puassss sekali, di ujung sana…

Age is only important if u are a cheese.
And if u are a cheese, u will be very expensive by today!”
(said my colleague)

So, happy birthday to u, dear Hety Apriliastuti Nurcahyarini! :D

Saya nggak ngiklan JNE. Ini kejutan dari jauh, eh dari sahabat saya di Bali yang sukses mendarat di meja kantor pada 10 April.

Saya nggak ngiklan JNE. Ini kejutan dari jauh, eh dari sahabat saya di Bali yang sukses mendarat di meja kantor pada 10 April.

Just Do It

Mari kita berbicara tentang kesempatan. Kesempatan yang baik untuk membuat kita melakukan hal positif yang bermanfaat bagi orang lain.

Bagaimana kalimat saya di atas?

Sayangnya, hidup kita tidak semudah saat kita mengucapkan kalimat di atas. Hidup kita dipenuhi oleh pilihan-pilihan. Kita tidak tahu apa ‘ujung’ dari pilihan-pilihan itu. Sampai kapan kita hidup pun, kita tidak tahu.

Lalu??

Mari belajar pada kesempatan.

Menulis ini pun saya belajar pada kesempatan. Merasa iri dengan beberapa orang yang berhasil dengan ‘one day one article‘-nya, saya hanya berpikir, kalau saya tidak memaksa jari-jari ini menari di keyboards laptop, mau kapan mulai menulis? Hanya stuck di ‘iri’? Big no!

Saya pun memanfaatkan kesempatan malam ini, mumpung belum mengantuk, untuk menulis :D

Lakukan apa yang kita bisa lakukan sekarang. Semuanya berasal dari diri kita sendiri. Menakhlukkan rasa malas memang seperti menakhlukkan hewan buas. Siapa rasa malasnya? Diri kita sendiri. Siapa hewan buasnya? Diri kita sendiri. Siapa pawangnya? Diri kita sendiri. Jadi, mari kita berdamai dengan rasa malas kita.

Oh ya, saya berhasil menemukan beberapa alasan mengapa kita harus segera melakukan. Kata orang, kesempatan itu seperti angin. Kita tidak tahu/sadar datangnya kapan. Tiba-tiba, wuuush.. sudah pergi begitu saja.

Tak Ada yang Salah untuk Melakukan

Old people say : Mumpung Masih Muda (3M)
Prinsip 3 M ini bisa menjadi sebuah alasan, tapi juga bisa menjadi sebuah pembenaran, hati-hati. Mumpung masih muda, cobalah kesempatan untuk mengikuti organisasi/komunitas dan berkenalan dengan banyak orang. Bukan, mumpung masih muda, yuk kita habiskan uang tanpa ada jatah untuk tabungan.

Done better than perfect
Saya tidak ingat di mana saya menemukan kalimat ini tapi kala itu, saking tertohoknya (jleb!) saya ingat terus sampai sekarang. Ini peringatan halus untuk diri saya sendiri, sebenarnya hehe. Bagi beberapa orang yang mengenal dekat saya, pasti tahu jika saya adalah sosok perfeksionis, pecinta dan pemerhati hal detail.

Saya diingatkan oleh mentor saya. Jangan sampai hal-hal yang bersifat detail, operasional, dan rutin menjadi penghalang kita untuk tidak segera melakukan sesuatu, yang bisa ditebak, ujung-ujungnya gagal.

Jadi, kesimpulannya, kerjakan segera, sekarang, sesuai kemampuan kita. Sederhana, mudah, tidak apa-apa. Toh, sejak SD saja, kita selalu diminta untuk mengerjakan soal ujian dari yang mudah dahulu, bukan? hehe

Back to basic doesn’t mean u re failed of something, it means u have to start something smarter than before
Jangan takut mundur sejenak, kembali ke dasar, kembali ke awal. Terkadang, ketika kita sudah melangkah dan ‘tersesat’ untuk langkah selanjutnya, kita cenderung untuk berhenti dan menyerah. Seolah berhenti dan menyerah adalah solusi. Padahal, kita bisa kembali ke awal saat kita melangkah. Siapa tahu kan, ada kesempatan yang membuat kita ‘melesat’ lebih jauh..

Now or never
Now or never mirip album Nick Carter tahun 2000-an. Saya yakin, saat itu, pilihan bagi Nick Carter adalah mencoba bersolo karir dan mengeluarkan album sekarang atau tidak mencoba sama sekali dan hanya berkiprah di Back Street Boys.

Now or never. Hampir sama dengan kasus kita. Lakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang atau tidak sama sekali dan akan menjadi beban tugas yang menumpuk.

Ok, setelah membaca tulisan ini, yuk kita mulai membuat Things To Do List dan lakukan sekarang, ya, lakukan!
1. ….
2. ….
3. ….

‘K’ untuk kesempatan, ‘L’ untuk lakukan, ‘S’ untuk sekarang :D


My blog!

"Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, sambunglah dengan tulisan..."
(Pramoedya Ananta Toer)

"Sebuah perjalanan selalu punya arti dan menceritakannya kembali kepada banyak orang adalah bagian dari sejarah hidup..."
(Maradhika Malawa)

“If u want to be a writer, u must do two things above all others: read a lot and write a lot...”
(Stephen King)

Meet The Chef

Click and follow me. Lets share our story! It's EASY!

Join 2,725 other followers

My Tweets


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,725 other followers

%d bloggers like this: